Chocolate


Chocolate. Itulah yang menyatukan mereka. Enam orang gadis yang berbeda suku dan agama. Ada Mala, si manis berdarah Aceh-Padang. Lyanda, gadis katolik ini adalah putri dari seorang milyader pemilik sebuah mall. Kemudian Yanti, gadis Jawa yang imut-imut berkaca mata minus 5. Chacha, cewek cantik bermata sipit keturunan China. Dilla, si cantik ini adalah seorang model yang sedang naik daun. Dan yang terakhir ada Zha, si manis yang sederhana.

Awalnya mereka tidak saling mengenal, karena mereka berasal dari sekolah yang berbeda, rumah mereka pun berjauhan. Yang menyatukan mereka adalah Chocolate. Kegemaran pada cemilan manis ini membuat mereka berkenalan dan akhirnya akrab. Yach, hanya chocolate!

Persahabatan mereka terus terjalin meski mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Berhubung karena mereka duduk pada kelas yang sama, yaitu kelas 3 SMA maka mereka pun sering belajar bersama-sama membahas pelajaran yang tidak mereka pahami. Apalagi ada Yanti dan Lyanda yang selalu ranking 1 di kelasnya.

“Zha, nanti sepulang sekolah temani aku ke kantor papiku ya. Bisa?” Tanya Dilla.

“Bukannya hari ini kamu ada pemotretan?” Zha balik Tanya.

“Pemotretannya diundur minggu depan. Jadi gimana? Mau?”

Zha pun mengangguk. Dilla tersenyum.

“Kamu udah baikan dengan mamimu Dil?” Tanya Chacha ingin tau.

Dilla mengangkat bahu. “Gak tau! Kayaknya gak penting deh baikan dengan si Mami.” Jawabnya ketus.

“Kenapa? Kamu gak boleh seperti itu Dil, gak baek lhoh bertengkar dengan orang tua…” Kata Mala menasehati.

Dilla manyun. “Habisnya si Mami egois banget! Kenapa sih dia selalu menghalangi apa yang aku suka? Dia selalu melarangku untuk dugem, padahal setiap malam dia pergi dengan teman-temannya.”

“Niat mamimu itu baik Dil. Mamimu tidak ingin kamu terjerumus ke jalan yang salah…” Zha menambahkan wejangan Mala.

“Gak tau ah! Biarin aja deh seperti ini. Aku malas mikirinnya. Zha, cabut yuk!” Dilla membenahi barang-barangnya. “Aku duluan ya! Ntar kalo telat ke kantor papi, aku gak dapat jatah bulanan…”

“Dasar kamu Dil! Kalo ada perlunya doang jumpai papimu.” Celetuk Lyanda.

“Halah! Kayak kamu gak aja!”

Mereka pun tertawa mendengar kata Dilla, apalagi melihat Lyanda yang manyun.

Ω Ω Ω

Siang ini mereka berenam berkumpul seperti biasa di Café Chocolate, Café favorite sekaligus tempat awal perjumpaan pertama mereka.

“Stttt… guys! Tuch cowok ganteng banget deh! Coba lihat arah jam 1 kalian.” Chacha membuka pembicaraan. Maka mereka minus Dilla mengarahkan pandangan mereka ke arah yang disebut Chacha.

“OMG! Ganteng banget!” Mala terpesona.

“Iya… mirip Brad Pitt deh!” Kata Lyanda.

“Imut banget. Jadi pengen nyubit pipinya…” Yanti menambahkan.

“Mau gak ya dia jadi pacarku?” Tanpa sadar Chacha bertanya pada dirinya sendiri.

“What???” Mereka bertanya serempak.

“Kenapa pada terkejut sih? Kayak ada gempa aja!”

“Kamu khan udah punya pacar Cha. Masa’ mau macarin tuh cowok. Katanya cinta mati sama si Harand…” Kata Zha.

Chacha gelagapan. “Tenang aja… sekarang khan jamannya punya simpanan. Menikah saja wajar kedua kali, mengapa tidak pacaran? Kata si Geisha…”

“Tapi khan…”

Mereka berlima jadi heboh tak menentu. Mereka pun meributkan cowok yang gak tau siapa namanya dan Statusnya. Mungkin saja dia Gay yang sedang menunggu pasangannya. Hihihihi…

“Hai! Kalian kenapa? Pada tegang gitu…” Dilla menyapa sahabatnya dengan tanda Tanya besar di kepalanya.

“Ada cowok ganteng. Di belakangmu…” Jawab Zha yang statusnya masih normal. Tidak seperti keempat temannya itu yang sedang mempermasalahkan hal yang gak pasti.

“Lumayan. Hm, kayaknya aku pernah liat dech! Tapi di mana yach?”

“Kamu kenal Dil? Di mana?” Tanya Lyanda antusias.

“Khan aku bilang kayaknya, bukan kenal.”

“Yach…” Lyanda, Chacha, Yanti  dan Mala kecewa.

“Mau ke mana Mala?” Tanya Zha pada Mala yang beranjak dari duduknya.

“Mau nyamperin si ganteng. Mau kenalan, mana tau bisa jadi gebetan…” Mala berjalan dengan anggun, dan… “Hai! Boleh duduk di sini?” Samar-samar terdengar suara lembut Mala dan si ganteng itu pun berbicara dengan Mala. Tak lama kemudian Mala kembali ke meja dengan senyum di bibir, di tangannya ada sehelai tissue…

“Gocha!” Katanya senang.

“No HP-nya?” Tanya Chacha. Bagi-bagi dong!”

Mala menggeleng. “Gak segampang itu nona-nona…”

“Pelit!” Lyanda merengut.

“Tenang… tenang… jangan ada yang ngambek.” Sindir Mala. “Aku mau buat permainan. Aku tau kalian semua pada naksir sama si ganteng. Jadi… aku mau kita berenam berlomba untuk menjadikan si ganteng pacar dan di hari kelulusan membawanya ke pesta perpisahan yang diadakan di sekolahku. Bagaimana?”

Chacha, Yanti dan Lyanda mengangguk, sangat cepat.

“Kalian aja dech. Aku gak level sama cowok seperti itu…” Ucap Dilla sombong. Biasalah, seorang model pastinya punya kriteria tersendiri.

“Yakin Dil? Ntar nyesel lhoh…”

Dilla menatap Mala. “Gak akan.” Katanya pasti.

“Ya udah, terserah kamu aja. Oia, kamu gimana Zha?” Tanya Mala.

“Aku juga gak ikut dech. Aku sebagai pengamat kalian aja, jadi juri lah…”

“Bagus tuch! Jadi kita bisa sportif dan gak ada yang curang.” Ujar Lyanda.

“Saingan pun berkurang…” Yanti menambahkan.

Zha dan teman-temannya tertawa.

“Jadi bagaimana? Sangat gak adil dong kalau Mala punya info pribadi dari si ganteng…” Nampaknya Chacha keberatan.

Mala tersenyum. “Don’t worry. Aku sportif koq. Namanya Rakif, kelas 3 SMU, ini no HP-nya… 0856xxxxxx. Cuma itu yang aku tau, yang lainnya kita cari dengan cara masing-masing. Deal?”

Lyanda, Chacha dan Yanti mengangguk. “Deal.”

“Lalu yang jadi pemenang dapat apa?” Tanya Yanti

Mala berpikir. “Hm, bagaimana kalau yang kalah memberikan 3 barang kesayangannya untuk yang menang?”

“Oke.” Jawab Lyanda, Chacha dan Yanti serempak. Mereka pun menyatukan cangkir chocolate mereka, dan… toast…

Ω Ω Ω

Berminggu-minggu kemudian…

Persaingan antara Mala, Lyanda, Chacha dan Yanti kian memanas. Masing-masing dari mereka berusaha untuk memperebutkan seorang pemuda bernama Rakif, dia adalah siswa kelas 3 di SMU Taman Bahagia.

Sebagai seorang pengamat mencakup juri, Zha hanya dapat mengelus dada apabila melihat keempat sahabatnya itu bertengkar dan tidak berbicara berhari-hari. Zha tidak tau harus berbuat apa, dia hanya takut kehilangan orang-orang yang dia sayang seperti saat dia kehilangan kedua orang tua dan adik-adiknya 2 tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat. Tak terasa air mata Zha menetes setiap kali merasakan situasi memanas akibat taruhan tak penting itu. Tak ada yang bisa diajak berbicara karena semua pada sibuk dengan kepentingan masing-masing. Dilla yang tidak ikut tahuran pun tidak dapat diajak bicara, Dilla terlalu sibuk dengan ibunya yang selalu bertengkar.

“Seperti inikah rasanya sendiri tanpa teman? Hampa…” Zha berkeluh kesah dalam hatinya. Teringat peristiwa menyedihkan dua tahun silam, saat pesawat yang membawa keluarganya ke Kalimantan mengalami kecelakaan. Zha menyesal tidak mengikuti saran mamanya ntuk ikut menjenguk sang Oma di kampung halaman mereka, Kalimantan. Seandainya Zha takut, mungkin dia akan berkumpul dengan keluarganya di Surga. “Aku tak punya siapa-siapa selain kelima sahbatku…”. Air mata Zha menetes.

Dua tahun lalu, setelah kecelakaan yang merenggut nyawa keluarganya… Zha sempat depresi. Hanya chocolate lah yang menjadi tempat pelariannya, karena keluarga Zha menyukai chocolate dan Café Chocolate adalah tempat favorite mereka. pada suatu hari sepulang sekolah, Zha datang ke Café Chocolate. Tujuannya bukan untuk mengenang keluarganya, tetapi Zha ingin bunuh diri di Café favorite keluarganya. Tapi niat itu tidak kesampaian karena ada Lyanda, Chacha, Mala, Dilla dan Yanti yang menghentikan perbuatan nekatnya. Sejak itu mereka berteman, berjanji untuk selalu bersama dan saling berbagi juga melindungi.

“Dari pada aku sendirian di rumah, lebih baik aku ke Café…” Zha mengambil tas dan syal-nya. Ia menaiki angkot menuju Café yang jaraknya 15 menit dari rumahnya. “Cuma Café ini tempatku berbagi…” Zha membuka daun pintu Café yang berwarna Coklat, maka harumnya Chocolate pun menghantan indra penciuman Zha.

Zha terkejut saat melihat meja favorite-nya telah ditempati orang lain. Ternyata ada Chacha dan Dilla di sana…

“Munafik!” Itu suara Chacha.

Zha bergegas menuju Chacha dan Dilla. Sepertinya mereka bertengkar. “Ada apa?” Tanyanya khuatir.

“Tanya aja sama perempuan ini!” Jawab Chacha ketus.

Zha memandang Dilla. “Kenapa Dil?”

Dilla mengangkat bahu. “Gak tau. Gak jelas. Tiba-tiba marah gitu…”

“Aku gak akan marah kalo kamu gak main curang!”

Zha memandang kedua sahabatnya semaki tidak mengerti. “Ada apa sich?”

“Dia, perempuan ini… katanya gak tertarik sama Rakif. Tapi ternyata dia main belakang, diam-diam dia mendekati Rakif dan menyatakan cinta…”

“Apa???” Aku menatap Dilla gak percaya. Seorang Dilla yang punya segalanya merendahkan diri dengan menyatakan cinta pada seorang lelaki??? Oh no!

“Memangnya kenapa? Wajar khan aku suka pada Rakif. Dia perfect.” Kata Dilla santai.

“Wajar kalau kamu ikut taruhan sepert aku, Yanti, Mala dan Lyanda. Kamu membohongi kami. Seolah-olah gak suka, padahal kamu ingin dia. Dasar muna!”

“Suka-suka aku dong mau ikut taruhan atau gak. Itu hak aku, kalian gak bisa memaksa…”

“Tapi kamu tau kalo kami naksir Rakif, dan kami bersaing secara sportif. Kamu curang Dil!”

“Terserah! Yang pastinya aku akan menjadikan Rakif pacar. Gak ada yang gak mungkin oleh seorang Dilla.”

“Egois!” Tiba-tiba Mala datang dan menampar Dilla. Membuat semua mata di dalam Café memandang Zha CS dengan tanda Tanya.

“Kamu jangan main kasar gitu dong!” Dilla mendorong bahu Mala keras. Mala pun terjatuh menghantam lantai berwarna coklat.

“Dilla curang!” Yanti datang dan langsung menjambak rambut indah Dilla. Mala pun ikut-ikutan menyerang Dilla.

“Cha, kamu curang. Kamu bilang ke aku kalo mamanya Rakif suka udang, padahal beliau elergi udang akut. Sekarang mamanya dibawa ke RS terdekat. Tega kamu yach bohongin aku.” Lyanda memandang Chacha ganas.

“Ini permainan Ly, jadi kamu jangan sok lugu untuk tidak berbuat curang…” Chacha mengejek Lyanda.

“Pengkhianat!” Lyanda menyiram wajah Chacha dengan chocolate hangat. “Licik kamu!”

Tidak terima dengan perbuatan Lyanda, Chacha menjambak rambut Lyanda. Mereka pun saling menjambak. Sedangkan di sudut yang lain, Dilla, Yanti dan Mala saling melempar kue-kue chocolate yang ada di etalase. Suasana pun jadi tidak karuan. Zha berkali-kali mencoba untuk melerai mereka, tapi tak ada yang peduli. Setelah beberapa menit, Zha pun berhasil melerai mereka setelah memanggil beberapa orang petugas keamanan.

Zha dan kelima sahabatnya itu pun di bawa ke ruang keamanan untuk diminta keterangan. Lagi-lagi Zha harus bersabar karena kelima sahabatnya itu bertengkar lagi. Akhirnya, setelah menandatangani surat pernyataan, mereka diperbolehkan untuk pulang dengan bersyarat.

“Puas sudah merusak Café dan memperlukan diri kalian?” Di Parkiran, Zha menyidang kelima sahabatnya.

Chacha, Lyanda, Mala, Dilla dan Yanti bungkam. Masing-masing sibuk dengan pikiran masing-masing. Sibuk memikirkan cara membalas dendam dan merebut hati seorang Rakif.

“Mau kalian apa sich?!!” Habis sudah kesabaran Zha.

“Udah lah Zha! Jangan sok menghakimi kami. Kamu tuch gak tau apa-apa…” Kata Dilla. “Lagi pula kamu itu sok kuat dan berkuasa. Kalau gak ada aku dan yang lain, kamu sudah mati. Jadi jangan cerewet!”

Duarrrrrr…. seperti disambar petir di panas terik ketika mendengar kata-kata ketus Dilla. Air mata Zha bercucuran. Ia tak sanggup merangkai kata lagi.

“Lemah. Cengeng. Itulah seorang Zha. Menyedihkan!” Ejek Chacha.

Zha menghapus air matanya. “Terserah mau bilang apa! Aku gak peduli. Ang aku pedulikan hanya persahabatan kita.”

Yanti tertawa. “Persahabatan? Aku gak sudi bersahabat dengan mereka, munafik!”

“Kamu pikir kamu itu bersih Yan? Kamu juga munafik! Aku juga gak mau bersahabat denganmu dan kalian semua. Cuih!” Mala meludah.

“Aku juga ogah!” Kata Yanti.

“Aku nyesal berjumpa dengan kalian.” Chacha menambahkan.

“Aku gak mau kenal lagi dengan manusia rendahan seperti kalian!” Dilla pun bersumpah.

“Oke kalau itu mau kalian. Persahabatan kita bubar! Gak ada lagi Chocolate. Sekarang, kita semua rival dan bersaing memperebutkan Rakif!” Chacha memutuskan.

Zha menelan ludah. “Kalo kalian maunya seperti itu, aku ikut. Mulai saat ini, kalian adalah rivalku. Aku juga akan memperebutkan Rakif.” Kata Zha tegas. Lalu ia pun meninggalkan kelima sahabat yang mengaku ‘mantan’ sahabat.

Ω Ω Ω

            Hari-hari di lalui dengan sulit oleh Zha. Setiap hari Ia mendatangi Café Chocolate, berharap ini semua hanya mimpi dan ia bisa berkumpul lagi dengan para sahabatnya, kalau perlu berkumpul dengan keluarganya. Tapi mimpi itu tidak sempurna karena yang Zha dapati adalah sebaliknya, sahabatnya tak ada lagi. Yang ada adalah orang-orang dingin dan bersaing untuk memperebutkan seorang Lelaki. Zha hanya dapat menyesali semua yang terjadi. Nasi sudah menjadi bubur basi…

Ω Ω Ω

            Tak terasa, sudah 3 bulan sejak dibuatnya perjanjian ‘berdarah’ di Café Chocolate. Malam ini, di pesta perpisahan yang diadakan di sekolah Mala, adalah penentuan dari semua pengerbonan selama 3 bulan ini. Malam ini Rakif akan memilih salah satu di antara Zha dan teman-temannya untuk dijadikan pacar. Zha menunggu malam dengan jantung berdebar, begitu juga dengan Chacha, Mala, Dilla, Lyanda dan yanti. Mereka pun mempersiapakan penampilan ternaik mereka untuk menarik hati Rakif.

Sebenarnya Zha tidak terlalu antusias dengan permainan ini, Zha hanya ingin membuat kelima temannya kesal. Bahkan Zha tidak pernah serius berbicara dengan Rakif, dia hanya bermain-main seraya menghabiskan waktunya yang hampa.

Malam pun tiba. Jarum jam menunjukkan angka 20.00 WIB. Zha dan kelima temannya sudah sampai di Gedung Aula SMP 09, sekolahnya Mala. Mereka pun menunggu acara pembukaan dengan jantung berdebar. Tak henti-hentinya mereka mencari sosok jangkung milik Rakif.

1 jam kemudian, Rakif datang dengan tuksedo hitamnya yang membuat Rakif tambah tampan. Ia tersenyum saat melihat Chacha mendekatinya, namun didahului oleh Yanti yang malam ini memakai kontak lens berwarna abu-abu, membuatnya tampak manis. Melihat kedua saingannya tebar pesona di hadapan Rakif, Dilla dan Mala langsung mendekati Rakif, disusul oleh Lyanda. Sedangkan Zha hanya melihat dari jarak beberapa meter, Dia jengah melihat Rakif yang tebar pesona.

“Beib… kita khan sudah lama kenal dan bersama. Malam ini aku pengen tau bagaimana perasaan kamu terhadapku?” Tanya Dilla tanpa basa basi.

Chacha menyikut Dilla dan menggenggam jemari Rakif. “Sayang, kamu mencintaiku khan?”

Mala tertawa. “Kalian berdua gak tau malu yach! Gini aja dech… malam ini aku Cuma mau tau… bagaimana perasaan kamu terhadap kami berenam? Siapa yang kamu pilih menjadi pacarmu?” Mala menatap tepat di mata Rakif. Dalam hatinya ia berharap agar Rakif memilihnya.

Rakif terdiam, berpikir keras. “Hm, kalian berenam adalah gadis special yang pernah aku temui. Jujur, aku sulit untuk menentukan siapa yang akan menjadi pacarku. Tapi kalau kalian ingin aku memilih, aku terpaksa memilih…” Dengan mata elangnya Rakif menatap wajah keenam gadis yang rupawan itu, Zha yang berada jauh di sudut ruangan pun menjadi sorotan Rakif.

“Aku harap, aku lah yang kamu pilih Ra…” Harap Lyanda.

Rakif tersenyum menawan, membuat gadis-gadis itu semakin berdebar. “Yanti, kamu manis dan imut. Tapi sayangnya kamu bukan kriteriaku. Aku suka semuanya dari kamu, hanya saja kamu memakai kaca mata dan aku tidak suka gadis berkaca mata. Itu mengingatkanku pada pacar pertamaku yang selingkuh. Maaf…”

Yanti terbelalak. “Tau dari mana aku berkaca mata?”

“Lyanda yang bilang padaku. Awalnya aku pikir kontak lens yang kamu pakai itu…”

“Jahat kamu Ly! Ternyata diam-diam kamu menusukku dari belakang. Pengkhianat!”

“Tapi aku…”

“Diam! Aku gak butuh penjelasan. pengkhianat! Aku benci kamu Ly, selamanya!!!” Yanti meninggalkan Aula dengan berlinang air mata. Zha berusaha menahannya, tapi tak digubris.

Rakif tersenyumsinis bercampur puas. Setidaknya itu yang dilihat Zha. “Kayaknya ada yang aneh dari tingkah laku Rakif. Tapi apa yach?” Zha bertanya-tanya dalam hati.

“Hm, bisa kita lanjutkan?” Tanpa persetujuan dari gadis-gadis di hadapannya, Rakif melanjutkan. “Lyanda… kamu iu perfect banget! Tapi aku gak bisa pacaran sama kamu, kita berbeda keyakinan.”

Lyanda terdiam, tapi tampak tegar. “Oh, begitu…”

“Maaf yach…”

Lyanda menatap Rakif tak suka. Zha tau, sebenarnya Lyanda tidak benar-benar menyukai Rakif. Dia hanya butuh status karena sebenarnya Lyanda itu Lines alias Lesbong. “Tengkyu aja dech buat semuanya.”

Rakif mengangguk. “Lyanda udah beres. Nah, sekarang kamu Cha…”.

Chacha menungu dengan cemas. Wajahnya pucat dan jantungnya berdebar kencang. Ia menanti dan menyimak satu persatu kata yang keluar dari bibir manis Rakif.

“Udah dech Ra! Gak usah banyak ngomong, langsung aja ke tujuan. Jangan berbelit-belit!” Zha mulai tak sabar. Bukan karena penasaran dengan siapa yang akan dipilih Rakif menjadi pacarnya, tapi Zha tidak suka dengan keadaan seperti ini. Melihat sahabatnya saling membenci hanya karena 1 cowok.

“Gak sabaran amat sich? Kamu takut yach gak dipilih Rakif?” Ejek Chacha.

“Sudah, gak usah dibesar-besarkan. Cha, aku tau kamu sudah punya pacar. Jadi kamu pasti tau khan keputusanku.”

“Pasti di antara kalian berlima membocorkan ini!” Tuduh Chacha, “Dan pastinya kamu Dil, yang paling punya peluang. Teman-teman yang lain gak akan tega ngelakuin ini.”

“Teman? Memangnya kita teman? Sorry yach Cha, kita ini Rival. Camkan itu!” Kata Dilla sengit.

“Dasar manusia gak punya hati!”

“Dasar serakah!”

“Sepertinya gak ada lagi yang bisa aku lakukan di sini. Muak aku melihat wajah-wajah munafik seperti kalian!” Chacha pergi dengan amarah. Lagi-lagi Zha berusaha menahan, tapi nihil.

Rakif tersenyum. “Mala. Aku dengar-dengar, kamu punya hubungan special yach dengan gurumu? Dan aku dengar-dengar lagi, hubungan kalian sudah sangat intim dan intim dan intim sekali. Benarkah?”

Mala gelagapan. Betapa terkejutnya Mala ketika Rakif membahas sebuah rahasia yang ia utupi dari semua orang. “Gak ada yang tau ini, kecuali… Zha? Kamu…”

Zha terkejut karena tuduhan Mala. “Aku gak pernah bilang apa-apa pada Rakif.”

“Masa’ sich Zha? Apa kamu lupa dengan cerpen yang kamu tunjukkan padaku?” Pancing Rakif, menyulut amarah Mala.

“Cerpen apa Zha? Kamu membuat kisah kehidupan aku? Kamu tau khan itu aib-ku? Tapi mengapa kamu… ya Tuhan! Tega sekali kamu Zha…” Air mata Mala menetes.

“Maksud kamu apa sich Ra?!! Aku gak pernah menunjukkan cerpen apapun. Jangan mengada-ada!” Zha semakin tidak mengerti.

“Ini…” Rakif menunjukkan beberapa lembar kertas yang langsung direbut o;eh Mala.

Mala langsung membaca isi kertas itu, sebuah cerpen yang ditulis Zha. Tangis Mala semakin kencang, wajahnya merah menahan marah. “Keterlaluan! Kamu boleh benci padaku. Tapi kamu gak berhak mengobral ceritaku pada semua orang, karena itu aib! Puas sudah membuka aib-ku di hadapan semua orang? Di hadapan lelaki yang mulai aku cintai???”

“Kalau itu aib, mengapa masih kamu lakukan? Kalau itu aib, kenapa kamu membuatnya? Lagi pula aku tidak pernah membuat cerita tentang kehidupanmu. Apa aku membuat namamu di situ? Apa semua kisah di cerpen ini bercerita tentangmu? Jangan GR dech! Karena bukan kamu objek di cerpen ini.” Zha memandang Rakif tajam. “Dan aku juga tidak pernah menunjukkan cerpen ini pada siapa pun, apalagi Rakif. Kamu sendiri tau bagaimana prinsipku, tak akan ada cerpen yang beredar jika itu belum ku selesaikan. Cerpen ini belum selesai, maka aku tak akan pernah menunjukkan isi, bahkan judulnya pada siapa pun. Aku yakin, ini adalah jebakan untuk kita. Rakif itu ingin menjebak dan menghancurkan persahabatan kita.”

“Hah! Jangan mencari-cari alasan Zha. Kamu itu gak ada bedanya dengan kita semua, kamu sama jahatnya.” Dilla mendorong bahu Zha keras.

Zha tidak mengubris Dilla. Ia mendekati Rakif… plakkkkkk!!! Zha menampar Rakif. “Sebenarnya kamu siapa dan apa mau mu?”

“Apa-apaan sich kamu???”. Dilla menarik tangan Zha. “Gak punya sopan santun!”

Zha menatap Dilla iba. “Kasihan sekali kamu. Cinta membuat mata hatimu buta, sampai kamu tidak tau mana musuh dan mana teman sejatimu…”

“Ra, sekarang kamu jujur dech. Siapa yang kamu pilih di antara kami?” Tanya Dilla tak sabar

Rakif tersenyum misterius. “Hm, siapa yach? Aku bingung!”

“Mau mu apa sich?!!” Zha mulai naik darah.

“Kamu memilih siapa? Aku atau Zha?” Desak Dilla. “Ayolah Ra…”

Rakif mendesah. “Hm, aku memilih…”

Della menahan nafas. Zha menahan amarah. Tiba-tiba datang seorang gadis cantik, langsung mencium pipi Rakif.

“Aku pilih Dia…” Rakif mencium tangan gadis cantik itu.

“Amara???” Pekik Dilla.

Rakif tertawa. “Iya, Amara. Kekasihku…”

“Jadi…”

Amara menggelendot manja pada Rakif. “Ternyata sangat gampang menjatuhkan seorang Dilla Priyandira, sang super model yang karirnya semakin menanjak.”

“Pisahkan saja dari kelima sahabatnya, Dilla bagaikan burung yang patah sayap tanpa sahabatnya. Teori itu benar khan sayang?” Tambah Rakif.

“Sangat benar…” Jawab Amara manja.

Zha muak mendengar kemesraan yang tidak penting itu. Bawaannya ingin untah, tapi ditahannya. Zha mencari cara untuk membalas Rakif dan Amara. Zha pun berinisiatif untuk menghubungi Yanti, Mala, Lyanda dan Chacha yang sudah pulang terlebih dahulu. Mereka pun datang dengan cepat.

“Oh… jadi ini rencana kalian untuk menjatuhkan karir Dilla? Kalian pikir semudah itu?” Kata Zha dengan kesal.

“Udah liat khan hasilnya?” Tanya Amara sombong.

“Belum ada hasil tuch!” Chacha datang dan langsung merangkul Zha dan Dilla. “Maafkan aku…” Bisiknya.

“Lagian kami Cuma pura-pura bertengkar, bersandiwara untuk membantu acting Dilla di film perdananya nanti…” Kata Lyanda. Di belakangnya ada Yanti dan Mala. Mereka pun saling berangkulan.

“Sahabat itu sebuah gelas yang terbuat dari perunggu, jadi tidak akan bisa retak, apalagi pecah. Ibaratnya perlu pukulan dan hantaman lebih besar dan kuat untuk memecahkan gelas perunggu tersebut. Makanya gak semudah itu menghancurkan sebuah persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, apalagi oleh manusia amatir seperti kalian. Paham?” Kata Zha.

Kemudian…

“Aduhhhhhhh!!!!” Amara menjerit ketika seember air selokan hitam dan bau menghantam tubuh jenjangnya. Tak lama kemudian, sumpah serapah Rakif terdengar karena Lyanda dan Yanti menyiramnya dengan sampah basah. Kedua sejoli itu pun marah dan sangat kesal karena dikerjai oleh Zha CS. Mereka segera meninggalkan Aula yang sudah sepi.

Kini tinggallah Zha, Lyanda, Yanti, Dilla, Chacha dan Mala yang saling bertatapan. Mereka pun tertawa terpingkal-pingkal merutuki kebodohan masing-masing. Ternyata, gara-gara satu potong Chocolate kadaluarsa, hilang 6 potong Chocolate segar yang baru dibungkus di pabrik. Nyaris saja…

Ω Ω Ω

Banda Atjeh, 07 Januari 2010 – 00 : 35 AM

^^….Ternyata sangat menyedihkan bila hidup

Tanpa sahabat sejati….^^

This story dedicated 4 My BBF : Ucha,

Lenny dan KumeL.

And special to Nelly, Ida and Dewi.

“Thanks 4 being my best friend”

2 thoughts on “Chocolate

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s