Dilema Cinta Diandra


“Di, aku dengar kamu dilamar oleh Bima ya? Selamat ya sayang… Hm, ada yang mau pesta nih.”

Diandra tersenyum menanggapi guyonan Dinda, teman sekelasnya di kampus. “Thanks Din. Ntar kamu jadi orang pertama yang aku kabari kalau aku merit…”

“Oke dech, ditunggu undangannya ya…”

“Siiipppp…” Diandra mengacungkan jempol. Setelah Dinda menjauh, Diandra kembali menatap cincin berlian yang menghiasi jari manisnya. Teringat kembali saat-saat indah ketika Bima melamarnya tadi malam…

Will U marriage me?”

“Apa Bim? Aku nggak dengar…”

“Diandra Natasya, apakah kamu mau menikah denganku?” Bima menggenggam tangan kekasihnya.

Dengan serta merta Diandra mengangguk.

♣♣♣

Diandra dan Bima sudah lima tahun berpacaran. Mereka bertemu di halte depan sekolah Diandra. Sejak melihat Diandra yang manis dan anggun, Bima langsung jatuh hati pada gadis sederhana itu. Niat awalnya sih Bima ingin memacari seorang teman lama yang kebetulan satu sekolah dengan Diandra. Tapi begitu melihat Diandra, Bima langsung mengejar gadis impiannya itu. Tak peduli suka atau tidak, Bima selalu mengikuti Diandra setiap pulang sekolah. Padahal selama ini Bima tidak pernah naik kendaraan umum seperti bus kota, demi Diandra dia rela berdesak-desakan dengan penumpang lain. Setelah dua bulan, baru lah mereka berkenalan dan tiga bulan kemudian mereka resmi berpacaran.

Diandra beruntung berkenalan dengan Bima karena selama ini Bima-lah yang membantu perekonomian keluarga Diandra. Memang tak banyak yang dapat dilakukan mahasiswa semester akhir seperti Bima, namun itu sangat berarti bagi Diandra. Ibu Diandra yang sudah sepuh dan sakit-sakitan sangat tertolong dengan bantuan Bima. Selain cinta, mungkin itulah yang membuat Diandra sangat menyayangi Bima. Apalagi kedua kakak Bima sangat baik dan sayang padanya, mereka sering mengajak Diandra bertemu dan refleshing di tengah penatnya kesibukan mereka.

Saat ini Bima sudah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dan Diandra sedang mengerjakan tugas akhirnya. Mereka pun berencana menikah secepatnya.

♣♣♣

“Sayang… hari ini ada kegiatan apa?” Tanya Bima di seberang telepon.

“Hm, nggak ada Bim. Kenapa?”

“Mbak Bina mau berjumpa denganmu, katanya mau membicarakan tentang ‘kita’. Jam berapa bisa dijemput?”

“Memangnya kamu ada waktu? Khan lagi sibuk mengurus proyek perumahan. Biar aku saja yang hubungi Mbak Bina.”

“Kamu memang sayang-ku yang paling pengertian.” Puji Bima.

“Memangnya kamu punya sayang berapa?”

Only you!”

Diandra tertawa. “Ya sudah, aku telepon Mbak Bina dulu. Bye…”

Love you.”

Love you too…” Diandra meletakkan ponselnya di atas meja. Pandangan matanya berbinar, senyumannya merekah bagai kuncup mawar di musim semi. Tak henti-henti Diandra bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah padanya. Sambil terus bertasbih mengucap nama Allah, mata Diandra menubruk sehelai kain di atas ranjang. Sudah lama ia ingin memakai kain itu untuk menutupi rambutnya.

“Mungkin inilah waktunya aku berhijab menutupi aurat-ku yang terbuka. Toh sebentar lagi aku akan menikah dengan Bima, jadi aku sepenuhnya milik suamiku. Alangkah indahnya kalau aurat-ku hanya terbuka untuk suamiku…” Diandra menatap cermin, ada pantulan dirinya yang mengenakan kerudung berwarna putih. “Hm, tapi sebaiknya aku diskusikan dulu dengan Bima.”Diandra melipat kerudung itu dengan rapi.

♣♣♣

Diandra menyapu sekeliling Café dengan matanya. Dia pun tersenyum saat melihat dua orang wanita cantik melambaikan tangan.

“Ini dia calon adik ipar kita…” Mbak Bina, kakak sulung Bima menyambut Diandra dengan pelukan.

“Semakin hari semakin cantik. Pantesan adik kita semakin cinta.” Kata Mbak Bila sambil cipika-cipiki.

Diandra tersipu. “Ah mbak, ada-ada saja…”

Mbak Bina dan Mbak Bila tertawa. “Mau pesan apa?” Tanya Mbak Bina. “Mbak sih belum makan siang. Kalau Mbak Bila memang lagi kelaparan, maklum lagi isi…”

“Oh ya? Duh… selamat ya mbak.” Diandra memeluk Mbak Bila. “Udah berapa bulan?”

“Mau masuk 3…”

“Koq aku baru tau sih?”

“Mbak juga baru sadar dua minggu yang lalu.”

Congrat deh mbak. Pasti papanya heboh banget pas tau mbak hamil.”

Mbak Bila mengangguk. “Anak pertama yang ditunggu hampir tiga tahun…”

“Sekali lagi selamat!” Diandra merangkul kakak kedua Bima itu.

Thanks honey. Btw, kita ke sini untuk ngomongin kamu dan Bima lhoh…”

Diandra jadi gugup kalau membahas tentangnya dan Bima. Apalagi setelah peristiwa lamaran beberapa minggu yang lalu.

“Kapan kami bisa ke rumah untuk berbicara dengan ibumu?” Tanya Mbak Bina.

“Memangnya Papi-Mami Mbak setuju?”

“Makanya kita bicarakan ini. Papi dan Mami akan pulang ke Indonesia minggu depan. Mereka akan menetap di sini karena Papi sudah pensiun. Nah, mereka bilang ingin berjumpa denganmu dan keluarga. Mereka penasaran sekali pada Diandra gadis-nya Bima.”

“Ah mbak… bisa aja deh!”

“Jadi kapan kami bisa ke rumahmu?” Tanya Mbak Bila.

“Kapan saja boleh kok Mbak. Ibu juga selalu ada di rumah. Tapi masalahnya…”

“Kenapa?”

“Apa Papi dan Mami tidak keberatan dengan status sosial kami? Rumah kami kecil, ibu sakit-sakitan dan bapak sudah lama meninggal…”

Mbak Bila tersenyum. “Mereka sudah tau semua tentang kamu dan mereka tidak keberatan. Yang penting Bima bahagia…”

Diandra bernafas lega. “Oh syukurlah…”

Mbak Bina menggenggam tangan Diandra. “Jangan minder dengan keadaanmu. Kaya-miskin itu sama di mata Tuhan. Yang penting kamu baik hati dan bisa membahagiakan Bima, kami tidak peduli dengan statusmu.”

“Makasih Mbak…”

♣♣♣

Diandra terkagum-kagum melihat rumah di hadapannya. Rumah megah berwarna putih dengan halaman yang luas dipenuhi bunga beraneka warna. Kalau dibandingkan dengan rumahnya, pasti nggak akan mungkin bisa dibandingkan. Selama lima tahun berpacaran dengan Bima, tak pernah sekali pun Diandra menginjakkan kaki di rumah megah itu. Diandra pun tidak pernah berjumpa dengan kedua orang tua Bima, hanya sesekali mereka berbicara di telepon itu pun kalau kebetulan Bima sedang bersama Diandra saat orang tuanya menghubungi dari Belanda. Belum puas Diandra mengagumi rumah megah itu, sebuah tangan menepuk pundaknya.

“Sayang lihat ada kupu-kupu berwarna kuning…” Bima menarik Diandra ke sudut halaman. Bima sangat menyukai kupu-kupu.

“Wah… cantik sekali. Pantas saja banyak kupu-kupu, halamannya gede, bunganya pun cantik-cantik.” Ucap Diandra polos.

Bima menggenggam tangan Diandra. “Taman ini akan menjadi tempat bermain terbaik buat anak-anak kita…”

Diandra tersipu dengan kata-kata kekasihnya. “Cepat banget sih mikirin anak. Aku belum selesai kuliah…” Katanya manja.

“Aku sudah tak sabar untuk memanggilmu nyonya Bima Rizky Anggara…”

Diandra semakin tersipu.

“Aduh… duh… nggak puas apa selama lima tahun pacaran? Bukannya masuk ke dalam, eh malah asyik-asyikan di luar.” Tegur Mbak Bina bercanda.

Diandra dan Bima pun malu.

“Sayang, kamu tunggu di sini ya! Aku panggil Papi-Mami dulu…”

Diandra menganguk. Sambil menunggu Bima dan kedua orang tuanya, Diandra mengatasi rasa gugupnya dengan melihat-lihat arsitektur ruang tamu yang indah. Betapa kagumnya Diandra dengan perabotan kelas I milik Mami-nya Bima. Rasa kagum dan penasaran Diandra bergabung jadi satu membuatnya berjalan ke ruang keluarga. Sebuah lukisan besar membuatnya terkejut dan terhempas ke jurang antah berantah.

Diandra beristighfar dalam hati. Matanya terbelalak, air matanya hampir tumpah. Alangkah terkejutnya Diandra saat melihat lukisan Bunda Maria yang sangat besar di depannya. Di sudut ruangan pun ternyata ada patung salib yang tak kalah besarnya.

“Ya Allah.. selama lima tahun ini aku tidak tau siapa orang yang ku cintai…” Tangis Diandra tumpah. Tanpa pamit dia meninggalkan rumah megah itu.

♣♣♣

“Diandra! Kamu kenapa sih jadi aneh gini? Papi dan Mami sengaja mempercepat kepulangan mereka untuk bertemu denganmu dan membicarakan pernikahan kita. Tapi kamu-nya malah pergi tanpa pamit. Nggak sopan tau!” Hal yang ditakutkan Diandra pun terjadi. Bima kini ada di hadapannya dengan wajah marah, kecewa dan terluka. “Kamu kenapa Di? Aku tau kamu gugup, tapi nggak seperti ini caranya. Kamu benar-benar membuatku malu!”

“Maafkan aku. Sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan Bim…”

Bima terperanjat. “Apa maksud kamu sayang?” Tatapan matanya lurus menatap Diandra. Ada luka di mata itu. “Tatap mataku Di. Ceritakan apa masalahmu. Mengapa kamu berniat mengakhiri hubungan kita?” Ucapnya lembut.

Diandra mengisak. “Kita berbeda Bim…”

“Ya ampun Di… sudah berapa kali aku katakan kalau keluargaku menerima kamu apa adanya. Status sosial itu bukan persoalan bagi kita…”

Diandra menggeleng. “Nggak Bim… nggak…”

“Di, lihat aku. Apa pernah aku menyinggung tentang status sosialmu? Apa pernah aku menghinamu? Apa pernah keluargaku tidak menerimamu? Kamu tau jawabannya Di…”

Diandra menatap Bima dengan tatapan terluka. “Kamu baik, keluargamu baik. Bahkan kalian sangat baik padaku dan ibu. Kalau bukan karena kamu dan keluargamu, mungkin aku tidak akan pernah bisa kuliah dan ibu mungkin sudah meninggal karena TBC. Aku sangat mencintamu, kamu pun begitu. Keluargamu menyayangiku seperti saudara kandung…”

“Jadi apa masalahnya Di???”

“Sekilas hubungan kita memang sangat indah, membuat orang iri. Lima tahun waktu yang sangat berharga buat kita, buat keluarga kita. sebulan yang lalu kamu melamarku dan kita akan menikah dalam waktu dekat. Tapi jurang di antara kita sangat lebar dan dalam. Kita berbeda Bim…”

Bima meletakkan kedua tangannya di bahu Diandra. “Apa itu sayang? Beritahu aku, dan aku akan menerimanya…”

“Keyakinan kita berbeda Bim. Aku muslim dan kamu nasrani.”

Bima menepuk jidatnya. “Diandra, aku tau agama kita berbeda. Keluargaku pun tau. Itu bukan masalah besar bagi kami. Mbak Bina menikah dengan seorang muslim, mereka bak-baik saja sampai sekarang. Pernikahan lintas agama itu bukan masalah sayang, jangan dibesar-besarkan.”

“Kamu tau aqidah kita berbeda. Mengapa tidak pernah bilang???”

“Kamu tidak bertanya. Aku pikir kamu tau.”

“Selama lima tahun aku sama sekali tidak mengenalmu Bim! Selama ini kamu ikut aku ke masjid, kamu juga puasa di bulan Ramadhan dan kamu juga mengucap salam setiap datang ke rumahku. Mengapa kamu lakukan itu? Hanya untuk menarik simpatiku?”

“Beda agama bukan betidak boleh bersosialisasi khan? Selama ini Aku ke masjid karena kamu mengajakku tanpa pernah bertanya apa aku melakukan hal yang sama denganmu. Kemudian aku berpuasa, sayang sebenarnnya aku tidak benaran puasa, hanya menghormati dengan tidak makan dan minum di depanmu. Masalah mengucap salam, apa tidak boleh aku mendo’akanmu dan Ibu? Ucapan Assalamu’alaikum itu artinya ‘salam sejahtera untukmu’ khan?” Kata Bima enteng. “Aku tidak pernah keberatan dengan perbedaan keyakinan, begitu juga dengan keluargaku. Tuhan itu sama Di, Cuma cara kita menyembah-Nya saja yang berbeda”

“Aku tau kamu dan keluargamu tidak keberatan dengan perbedaan kita. Tapi  bagaimana dengan ibu? Bagaimana denganku? Kamu tidak pernah bertanya khan? Maaf Bim, aku tidak bisa bersamamu lagi. Jurang itu sangat besar untuk kita lalui. Maafkan aku Bima…” Diandra melepas cincin berlian pemberian Bima. “Aku akan kembalikan semua yang telah kamu berikan. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu hari nanti aku akan membalas semua kebaikanmu dan keluargamu. Maafkan aku Bima…” Diandra berlari menjauhi lelaki yang dicintainya itu. Tak peduli Bima memanggil dan mengejarnya, Diandra terus berlari hingga lelah dan bersimpuh di tanah yang basah dekat rumahnya. Diandra mengisak ditemani hujan yang turun sangat lebat. Dan langit pun seolah-olah merasakan kesedihan Diandra.

“Aku sangat mencintaimu Bima! Tapi aku lebih mencintai Tuhan yang telah memberiku kehidupan dan cinta yang abadi, jadi mana mungkin aku mengkhianati-Nya demi cinta yang bisa pergi kapan saja. Selamat tinggal Bima! Untukmu agamamu dan untukku agamaku…”

Tuhan memang satu

Kita yang tak sama

Haruskah aku lantas pergi

Meski Cinta takkan bisa pergi

(Peri Cintaku – Marcell Siahaan)

♣♣♣

Banda Atjeh, 17022011 – 01:10 WIB

Inspirated from Peri Cintaku – Marcell”

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s