Don’t Cry, Imel!


Hiruk piruk suasana Terminal Pinang Baris memecahkan keheningan pagi. Suara deru mesin dan panggilan bariton sang kernet tiada henti–hentinya mengalun di telinga. Pagi ini serombongan pemuda dan pemudi yang baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya (SMA) sedang berkumpul mendengar intruksi dari teman mereka yang diangggap sebagai ketua rombongan dalam perjalanan mereka berlibur ke Danau Toba. Lima menit pun berlalu, para remaja itu menaiki bus pariwisata yang mereka sewa selama 3 hari. Tak lama kemudian bus itu berangkat diiringi alunan do’a para pemunpangnya agar selamat sampai tujuan.

“Nggak nyangka ya Mel akhirnya kita lulus SMA. Seperti mimpi aja dech…” Kata Diana yang duduk di kursi depan kepada Imelda, sahabat karibnya.

Imel tersenyum. “Coba Aku cubit pipimu…” Ucapnya seraya mencubit pipi tembem Diana yang langsung menjerit.

“Apa–apaan sich?” Diana mengusap pipinya. “Sakit tau!”

“Yach… aku Cuma mau memastikan saja, ini mimpi atau kenyataan. Soalnya aku benar–benar nggak menyangka ortu mengizinkanku pergi ke Danau Toba. Kamu tau lah gimana papi-mami…”

Diana menjitak kepala Imel. “Iya, tapi jangan aku donk yang jadi kesenanganmu itu.” Diana merengut.

“Iya… sorry dech! Nanti sesampainya kita di Danau Toba aku traktir kamu makan bakso.” Bujuk Imel.

“Serius?”

Imel mengangguk.

“Emang di sana ada bakso?” Tanya Diana ragu.

Imel mengangguk. “Bakso pig. Mau?”

“Dasar kamu!” Diana meninju lengan padat Imel.

“Impas khan? Tadi aku nyubit kamu, sekarang kamu ninju aku…” Imel tertawa di atas penderitaan Diana.

“Udah ah! Aku mau bobok…” Gadis manis berdarah Aceh 100% itu menyandarkan kepalanya di atas kursi yang empuk. “Nggak tidur mel?”

“Ogah ah! Aku nggak mau melewatkan pemandangan indah ini…” Imel menatap keluar bus. “Eh, teman–teman yang laen pada makan apa sich tadi? Koq pada diam…”

“Meneketehe! Tanya aja sama Cahyo, tadi dia yang masak nasi gorengnya…” Diana memejamkan mata.

“Kira–kira ada nggak yach yang cinlok di Danau Toba? Wah, perlu disorot tuch! Kayak infotaimen di TV. Mau khan Di?” Imel menatap sahabatnya yang sudah terlelap. “Dasar Diana! Kebanyakan minum obat anti mabuk sih…” Imel kembali menatap keluar bus.

“Mel, koq diam saja?” Tanya Riza. Pemuda imut–imut ini telah lulus di Jurusan Kimia Universitas Negri Jakarta melalui jalur PMDK. Ia menatap Imel lekat.

“Si Diana nih, cepat banget tidurnya, mau ngomong sama siapa? Bosan!” Keluh Imel manja.

“Khan ada kita–kita.” Celetuk Yassir.

“Aku kirain kalian udah pada tewas, habis nggak ada suara.” Sindir Imel.

“Kamu mel, kalau nggak nyindir orang rasanya nggak nyaman yach?” Tanya Dawi tajam. Pemuda ini memang selalu sinis pada Imel. Mungkin karena cintanya pada Imel tak pernah terbalaskan kali yach!

“Koq kamu yang sewot? Nggak ada hubungannya kali!” Imel mendengus setelah tau siapa lawan bicaranya kali ini. “Udah dech, yang nggak berkepentingan dilarang angkat suara.”

“Tapi kamu pakai kata ‘kalian’. Ingat… ‘kalian’, berarti aku termasuk donk!” Dawi tak mau kalah.

“Merasa amat! Nggak ngomongin kamu koq!”

“Apa kamu bi…”

“Udahlah, itu aja dipermasalahkan!” Riza memotong perkataan Dawi. “Kalau mau bertengkar, di hutan sana! Jangan di sini, menganggu yang lain saja.” Riza memandang Dawi tajam. “Kamu balik ke tempat kamu aja Dawi, supaya nggak ada yang menyindirmu.”

“Dasar! Selalu jadi pahlawan kesiangan si Imel.” Dawi kembali ke kursinya.

“Heran tu anak, dari belakang koq tiba–tiba lari ke depan. Selalu cari masalah sama aku.” Rutuk Imel kesal.

“Udah mel, anggap aja nggak ada…” Ucap Yassir.

“Yupz! Btw, thanx ya Za. Kamu sahabatku yang paling baik…” Imel menatap Riza sebagai ucapan terima kasih.

“Nggak apa–apa koq, kita khan sahabat…” Riza tersenyum tulus.

Mereka pun melanjutkan percakapan mereka yang terganggu oleh pertengkaran kecil tadi. Imel pun menemukan kembali habitatnya yang selalu penuh canda dan tawa. Gadis cantik berdarah campuran Aceh dan Mandailing itu pun begitu menikmati perjalanannya.

♥♥♥♥♥♥

Matahari hampir merangkak ke peraduannya ketika rombongan Imel dan beserta 39 orang teman–teman seangkatannya itu tiba di Danau Toba. Mereka langsung dibawa ke sebuah villa milik salah seorang teman mereka.

“Wow… besar sekali villa kamu Van!” Ucap Oang kepada Evan, sang pemilik villa.

Evan tersenyum bangga tanpa komentar.

Jarum jam menunjukkan angka 10 ketika Imel dan teman–teman menikmati malam itu ditemani dengan api unggun dan ayam panggang ditambah dengan petikan gitar Evan dan Adhi.

“Hai Mel!” Sapa seseorang.

Imel memandang pemuda keren yang menyapanya. Antara percaya dan tidak, seorang Rama Pradhana yang selama ini terkenal pendiam dan sedingin es menyapanya, bahkan memberikan seulas senyum yang aduhai manisnya.

“Hai…” Balas Imel ragu.

“Koq ngeliatin aku terus? Terpesona yach?” Goda Rama.

Imel mendengus, hilang sudah keterkejutan di wajahnya yang rupawan. “Ntar malah kamu yang terpesona denganku…” Balas Imel.

Rama tersenyum misterius. “May…”

“Basi! Paling mau bilang may be yes, may be no…” Imel mencibir.

“Kamu manis kalau lagi sewot begitu, aku rekam yach!” Tanpa persetujuan, Rama langsung mengabadikan wajah cantik Imel di hand phonenya.

Imel tersipu. Tapi ia langsung menguasai diri, bukan Imel namanya kalau cepat GR. Ia sudah biasa diperlakukan istimewa oleh lelaki. Imel memang gadis yang luar biasa. Ia cantik, pintar, tajir, ceria dan penuh percaya diri. Selain bergabung di OSIS, Imel juga adalah salah satu anggota majalah dinding sekolah yang sering mengikuti pelatihan dan perlombaan antar sekolah maupun antar kota dan provinsi. Tak ayal lagi bila Imel dikenal oleh seluruh guru dan siswa–siswi di Yayasan Taman Bahagia yang terdiri dari SLTP dan SLTA. Imel gitu lhoh…

“Kalau kamu mau ngerekam aku, bayar donk. Enak aja gratisan!” Imel merebut HP milik Rama dan membawa ke dalam villa. Ia pun melihat video galery milik Rama. Ternyata Rama sudah merekam wajahnya sejak acara tasyakuran  di rumah Cahyo, teman sekelas Imel.

“Ya ampun ini anak! Apa–apaan sich? Buat malu aja!” Wajah putih Imel yang kata orang baby face itu memerah. Malu!

“Mel, keluar donk…” Rama mengetuk pintu kamar Imel.

Cepat–cepat Imel memasang wajah marah, gadis itu membuka pintu dengan kasar. “Nih!” Ucapnya dan berlalu begitu saja.

Rama mengejar Imel. “Kamu marah ya Mel? Maaf yach. Tapi jangan suruh aku menghapus video kamu, susah payah aku mengabadikan wajahmu tanpa ketahuan orang lain termasuk kamu.” Rama mencoba bernegosiasi dengan gadis di depannya.

“Terserah! Asal jangan dimacem–macemin aja.”

Wajah Rama berbinar cerah. “Thank Imel…” Ucapnya.

Tanpa kata–kata Imel meninggalkan Rama. Di otaknya mendekam seribu satu pertanyaan yang siap terlontar kapan saja.

“Eh Mel…”

“Apa lagi?” Tanya Imel jutek.

“Sama–sama boleh khan?”

“Silakan”

Imel dan Rama pun berjalan beriringan. Awalnya tanpa kata–kata, tapi akhirnya mereka berbicara banyak hal yang membuat mereka semakin akrab. Sejak malam itu, Imel dan Rama begitu lengket, di mana ada Imel pasti ada Rama. Seperti amplop dan prangko, lengket banget!

♥♥♥♥♥♥

Mentari pagi merangkak cepat menuju singgasana siang, matahari pun bersinar garang pada hari itu. Hari yang cerah semakin memantapkan Imel dan teman – temannya untuk berangkat ke Pulau Samosir. Tawa dan canda yang diselingi dengan sejumput pertengkaran pun menemani perjalanan mereka menuju Pulau Samosir yang sudah sangat dinantikan.

“Mel… ke pasar yuk!” Ajak Diana begitu mereka menapakkan kaki di tanah Samosir.

Imel tak menghiraukan ajakan Diana, ia malah sibuk mencari Rama yang belum nongol juga. Seharusnya mereka satu kapal, tapi berhubung kapal yang mereka tumpangi terlalu kecil, terpaksa dech Rama dan beberapa teman lainnya diungsikan ke kapal lain. Sebel!!!

“Uli, ke pasar yuk!” Merasa dicuekin oleh sahabatnya, Diana mencoba mengajak Uli yang ternyata lebih cuek lagi. Dengan kesal Diana mencubit Imel dan Uli.

“Apaan sich?!!” Tanya Imel dan Uli serempak.

“Kalian nunggu siapa sich? Aku dicuekin!”

“Aku nunggu Iman, kenapa?” Tanya Uli. “Kami lagi PDKT…” Uli tersipu.

“Nggak tanya! Mel, pergi yuk…” Diana menarik Imel.

“Aduuuh… sabar donk! Aku menunggu…”

“Hai Imel! Lama nunggu yach?” Rama memotong perkataan Imel yang langsung tersenyum. “Sorry yach…”

“Gak apa–apa…”

“Huh dasar! Pake lem alteko kali!” Rutuk Diana kesal melihat kedekatan Imel dan Rama. “Ini lagi, pake lem cap kambing!” Diana mendengus melihat Uli dan Iman yang langsung berjalan sambil bercanda.

“Kenapa sich Di? Jutek banget!” Imel meneliti sahabatnya. “Kamu baik–baik aja khan? Jangan–jangan kamu…”

“Iya! Aku kerasukan jin danau. Kenapa? Jinnya lagi gondok liat kalian yang lengket terus kayak amplop dan prangko…” Diana mengeluarkan uneq – uneqnya.

“Yach… namanya kami sobatan. Ya khan sobat?” Rama mengedipkan mata, Imel membalas.

Diana mendengus!

“Mel, di sini toh kamu. Aku cariin dari tadi lhoh…” Riza berkata riang. Namun begitu melihat siapa makhluk di samping Imel, wajahnya langsung masam.

“Kamu kenapa Za? Sakit gigi?” Tanya Imel khuatir melihat sahabatnya tiba–tiba bermuka masam.

Riza mengangkat bahu. “Di, jalan–jalan yuk! Percuma kamu sama mereka, dijadikan obat nyamuk.” Ucap Riza ketus, “Ayo…” Riza menarik tangan Diana kasar.

“Kenapa dia?” Tanya Rama aneh.

“Nggak tau, lagi sakit gigi kali!” Jawab Imel enteng.

“Jalan yuk…” Ajak Rama tak lama kemudian.

Mereka kembali berjalan beriringan dengan pembicaraan yang tak henti–hentinya mengalir. Yang terpenting mereka bahagia dan sangat menikmati perjalanan mereka kali ini. Tak peduli dech dengan tanggapan orang lain!

♥♥♥♥♥♥

“Mel! Mel!” Panggil Diana keras.

“Ada apa Di?”

“Temani aku belanja.”

“Ini perintah atau permintaan?” Tanya Rama.

Diana memandang Rama remeh. “Nggak ada urusannya dengan kamu! Ayo Mel…” Diana menarik tangan Imel paksa.

“Bye Rama, ntar kita sambung lagi ceritanya…” Imel melambaikan tangan.

“Yupz!” Ucap Hari yang tiba–tiba muncul dari belakang Rama. Di sampingnya ada Yassir, Evan dan Oang.

“Jangan ngekor si Imel aja, gerah liatnya!” Kata Oang tajam.

“Bilang aja kamu cemburu!” Balas Rama tak kalah tajam. Semua murid seangkatan Imel tau bahwa Oang menaruh hati pada Imel. Namun belum ada tanggapan dari gadis itu.

“Yach… terserah kamu!” Oang mengalah, ia tak mau mencari keributan di kampung orang. Ia meninggalkan Rama, diikuti oleh Evan dan Yassir.

“Jangan emosi Ma, wajar Oang bilang begitu…” Nasehat Hari.

“Aku nggak ada hubungan special dengan Imel seperti yang kalian maksud. Kami kebetulan cocok aja waktu bicara banyak hal. Kami itu sobatan…” Rama menerangkan.

“Iya, aku ngerti. Tapi yang lain khan nggak. Kamu juga jangan emosi kalau ada yang menyinggung masalah itu, kalian baru kali ini bergabung dalam satu acara tapi kalian langsung dekat seperti pakai lem alteko, nggak bisa lepas satu dan lainnya. Wajar kalau orang curiga dan berpikir negatif…”

“Alah! Orang itu iri aku bisa sedekat ini sama Imel. Kenapa hanya aku yang dikomentari? Sedangkan banyak yang seperti aku dan Imel, malah lebih dekat lagi. Nggak masuk akal!” Rama meninggalkan Hari.

“Bilang aja kamu suka sama dia. Nggak perlu pakai alasan sobat–sobatan segala!” Teriakan Hari tak digubris oleh Rama. Ia sedang sibuk mencari jejak Imel yang menghilang.

Rama mengelilingi pasar Samosir yang banyak menjual cendramata khas Pulau tersebut. Tak terasa sudah hampir 30 menit ia mencari Imel, namun tak ada penampakan dari gadis tersebut.

“Itu dia si Imel…” Rama mendekati Imel yang sedang berbicara dengan Riza.

“Hai Mel! Dari tadi aku cari kamu lhoh…” Rama langsung berdiri di antara Imel dan Riza, membuat jarak di antara dua sahabat tersebut.

Riza mendengus, wajahnya langsung berubah menjadi masam. “Ya sudah Mel, lanjutkan aja belanjanya. Aku gabung sama yang lain dulu yach! Aku khan bukan banci yang selalu dekat sama cewek.” Riza menepuk bahu Rama kasar dan meninggalkan mereka.

“Kenapa sich dia? Sensi banget dari tadi.” Rama memandang kepergian Riza.

“Tau tuch. Sakit gigi kali.”

“Eh Mel, kamu belanja apa?” Tanpa permisi Rama langsung menggeledah plastik berisi belanjaan di tangan Imel. “Wow… cantik sekali celananya. Beli di mana Mel?”

“Di mana ya tadi? Aku lupa! Itu pilihan Riza.”

‘”Oh…” Rama menarik tangan Imel, “Temani aku cari celana seperti ini dong…”

“Ok dech. Tapi tolong lepasin tanganku.”

“Ops, sorry…” Rama melepas pegangannya.

Imel dan Rama mengelilingi pasar demi mencari celana yang sama persis seperti milik Imel. Namun celana tersebut tak kunjung didapat.

“Harus seperti milikku yach?” Tanya Imel kesekian kalinya.

“Yupz!”

“Kenapa harus sama sich?”

“Ya gak apa–apa, lagi pengen aja. Ntar kalau aku teringat kamu, langsung pakai celana kembar kita. Memangnya kenapa? Kamu keberatan?”

Dengan cepat Imel menggeleng. “Bgaimana kalau nggak ada?”

“Sobatku yang caem, tenang aja dech, pasti ada koq…”

“Mudah–mudahan…” Ucap Imel pesimis.

“Eh Mel, kamu ada hubungan apa sama Riza?” Tanya Rama tiba–tiba.

“Maksud kamu?”

“Sepertinya dia nggak suka melihat kedekatan kita.”

“Nggak mungkin, kita khan teman. Sama seperti aku dengan dia maupun teman–teman lainnya. Nggak ada yang special khan?”

“Bagus dech.” Rama bernafas lega. “Mel, itu ada celana seperti punya kamu…” Untuk kesekian kalinya Rama memegang tangan Imel. Namun kali ini Imel tak berkomentar.

“Gimana Mel, sama khan?” Rama meminta persetujuan.

“Siiip…” Imel mengacungkan jempol.

“Aku senang bisa memiliki barang yang sama dengan kamu.” Ucap Rama setelah celana yang ia idam–idamkan berpindah tangan. “Kamu bagaimana?”

“Sama.”

“Sama apanya?”

“Sama–sama senanglah…”

“Oh…”

“Mel!” Panggil Uli yang langsung menghampiri Imel dan Rama, di sampingnya ada Iman. “Belanja apa?”

“Nggak ada. Cuma beli celana dan baju untuk orang rumah” Jawab Imel.

“Liat donk!” Uli memeriksa belanjaan Imel. “Manis banget celananya Mel…”

“Iya, itu Ri…”

“Aku yang pilih, bagus khan? Aku juga punya lhoh…” Rama memotong perkataan Imel. “Ini…” Rama memperlihatkan miliknya tanpa diminta.

“Kembar ni ye!” Ucap Iman yang dari tadi hanya mengamati. “Jadi curiga.”

“Jangan fiktor dulu bro, ini nggak seperti kelihatannya koq. Ya khan Mel?” Rama meminta dukungan.

“Iya, kami khan sobatan…” Tambah Imel.

“Ya, terserah kalian dech! Eh, kami duluan yach, udah laper nih. Mau lunch dulu…” Uli menyudahi percakapan.

“Oke.” Dua pasang remaja itu saling melambaikan tangan.

“Mel, pulang yuk. Lapar…” Ajak Diana yang tiba–tiba muncul bersama Eni, Riza, Yassir dan Hari.

“Let’s go! Aku juga udah capek banget nih, pegal–pegal semua…” Imel dan teman–temannya memilih sebuah perahu sebagai transportasi yang akan membawa mereka menuju dermaga.

“Habis makan langsung bobok ya Mel, supaya nggak terasa lagi capeknya…” Rama berkata lembut sok perhatian.

Riza yang berada di belakang Rama hanya dapat merutuki diri yang kalah sigap dengan Rama, padahal ia juga ingin memberi perhatian pada Imel.

“Ok, kamu juga yach…” Imel mengikuti Diana yang lebih dahulu berjalan. “Sampai jumpa lagi semuanya, bye…”

♥♥♥♥♥♥

“Mel, kamu udah jadian yach dengan Rama?” Tanya Diana sesampainya mereka di kamar.

“Mau kamu bagaimana?”

“Males ah bicara sama kamu. Udah nggak asyik lagi! Ketularan si Rama.” Diana meninggalkan sahabatnya.

“Di, Diana! Jangan merajuk donk. Aku Cuma bercanda.” Imel mengejar Diana.

“Terserah!” Diana mempercepat langkahnya, kali ini ia benar–benar kesal dengan sikap sahabatnya.

“Duh Di, maafkan aku donk! Gitu aja kamu marah…”

“Terserah! Mungkin si Rama lebih berarti bagi kamu dari pada aku.” Diana berlari keluar villa dan bergabung dengan teman–teman lain yang sedang menyantap makan siang mereka.

“Imel mana Di?” Tanya Via.

“Meneketehe! Tanya aja sama Rama, mereka khan nggak bisa terpisah lagi sekarang…” Diana mengambil jatah makannya. “Halal khan?”

“99,99% dech…” Jawab Adhi asal.

“Lhoh, koq…”

“Udah, makan aja. Si Adhi Cuma bercanda…” Ucapan Iswan melegakan hati Diana.

“Hai semua…” Sapa Imel tak lama kemudian.

Semua mata langsung memandang Imel, seperti ada yang kurang dech!

“Kenapa sich? Koq pada ngeliatin aku? Ada yang aneh?” Tanya Imel heran.

“Biasa selalu berdua, sekarang koq sendirian?” Sindir Via. “Rama kamu mana?”

Imel paham. “Oh itu, mana aku tau!” Imel mengambil jatahnya dan langsung duduk di samping Diana. “Masih marah ya Di?”

“Eni, minta kuahnya donk!” Diana tak menghiraukan makhluk di sampingnya.

“Maafin aku ya Di…” Imel memohon.

“Dhi, kamu beli nasi di mana sich? Koq nggak enak banget!” Diana membungkus nasinya yang masih utuh. “Nggak selera makan aku!” Diana pindah ke samping Eni dan membuka bungkusannya kembali. “Ini baru selera…” Ucapnya lantang.

Teman–teman hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Diana yang aneh.

“Ada–ada saja…” Ucap Adhi lega karena ternyata Diana tidak serius dengan ucapannya.

♥♥♥♥♥♥

“Udah dech Mel, jangan lesu gitu donk wajahnya. Jelek tau!” Diana melempar bantal ke wajah Imel. “Aku nggak marah lagi.”

Wajah Imel berubah cerah. “Beneran Di?”

“Emang kamu pernah liat aku marah?”

Imel menggeleng.

“Ya sudah. Nggak nyangka aktingku berhasil. Hebat juga aku ini…” Diana membusungkan dada.

“Ih, dasar!” Imel melempar sebuah bantal. “Aku udah takut banget tadi, sport jantung tau!”

Diana tertawa terbahak–bahak berhasil mengerjai sahabatnya. “Eh, mandi sana! Habis itu kita jalan–jalan…”

“Ok dech!”

Setelah mandi, Imel dan Diana pun menjalankan rencana mereka untuk berjalan–jalan mengelilingi danau yang indah.

“Di, kamu perhatikan sikap Riza dech. Dia merengut terus semenjak sampai di sini. Kenapa yach?”

“Cembokur kali!” Kata Diana enteng.

“What? Cembokur? Gila kamu!” Imel geleng–geleng kepala.

“Jadi apa donk namanya kalau seseorang nggak suka melihat lawan jenisnya dekat dengan orang lain?” Tanya Diana.

“Nggak mungkin ah! Aku dan Riza udah bersahabat sejak lama, nggak mungkin ada perasaan lain di antara kami…”

“Terserah kamu Mel. Tapi coba kamu perhatikan sejak awal keberangkatan kita. Sebenarnya dia khan nggak ada rencana ikut, tapi begitu liat kamu naik mobil… dia berubah pikiran. Aku sudah memperhatikan dia Mel, dia nggak suka liat kamu kalau sama Rama. Dia itu suka sama kamu…”

Imel belum dapat mempercayai perkataan Diana, walau hatinya membenarkan. Ia tidak ingin persahabatannya dengan Riza ternodai karena perasaan indah bernama cinta.

“Nggak mungkin…” Walau ragu, kata–kata itu juga yang keluar dari bibir Imel.

“Mel, itu Riza dan yang lain lagi mancing. Samperin yuk!” Ajak Diana. Imel mengikuti tanpa komentar.

“Hai semua…” Sapa Imel dan Diana serempak.

“Haaai…”

“Banyak ikan di sini?” Tanya Diana akrab pada Yassir. Mereka pun bercakap–cakap sambil menunggu sang ikan masuk ke dalam perangkap.

“Mel, bisa bicara sebentar?” Tanya Riza.

“Kenapa Za? Tumben kamu formal begini, biasanya langsung ngomong.”

Riza tersenyum hambar. “Sini lah…” Ajaknya. Imel mengikuti Riza menuju sebuah pohon yang rindang.

Diana yang sedang asyik berbicara dengan Yassir langsung mengakhiri pembicaraan. “Meeel, ikut…” Diana mengejar Imel.

Riza mendengus ketika melihat Diana berlari ke arah mereka. “Mengganggu saja!” Ucapnya dalam hati. “Udah Mel, besok aja…” Riza meninggalkan Imel yang masih bengong.

“Nggak biasanya dia seperti ini?” Tanya Imel di dalam hati.

“Lhoh, mau ke mana si Riza?”

“Nggak tau. Aneh dia!”

“Ya udah, balik aja yuk! Pohon ini kayaknya angker…”

“Dasar penakut!” Imel menjitak kepala Diana.

“Sakit dodol!”

“Dodolnya ketinggalan di pasar Bengkel.” Canda Imel.

“Dasar!” Diana kehabisan kata–kata.

♥♥♥♥♥♥

“Imel mana Di?” Tanya Rama keesokan harinya.

“Mandi.”

“Mandi juga ah…” Rama masuk ke dalam villa.

“Nggak kreatif banget. Ikut–ikutan!” Rutuk Diana.

“Di, udah makan?” Imel menepuk pundak Diana.

“Belum, khan nunggu kamu…”

“Iya ya, lupa!”

“Tadi Rama nyari kamu”

“Terus…”

“Aku bilang kamu mandi, eh dianya ikut– kutan mandi.”

Imel tertawa. “Ada–ada saja. Kumpul sama yang lain yuk…”

“Hai Mel! Di!” Sapa teman–teman sesampainya mereka di ruang makan.

“Haaai…” Balas Imel dan Diana.

“Koq belum makan?” Tanya Imel.

“Nunggu yang lain. Ini khan hari terakhir kita di sini, jadi kita makan bersama sebagai penutup. Ntar jam 12 kita berangkat…”

“Oke.” Imel dan Diana duduk di samping Eni dan Via.

“Mel…” Sapa Rama yang langsung duduk di antara Imel dan Eni.

“Celana kembar nih.” Ucap Diana.

“Iya, si Rama ikut–ikutan.” Imel menyikut bahu Rama.

“Biar nampak kompak sama sobatku yang caem…” Rama membela diri.

Tanpa mereka sadari, berpasang–pasang mata menatap mereka dengan tatapan kesal dan cemburu. Apalagi Riza yang duduk berseberangan dengan Imel yang tak menyadari kehadirannya.

Setelah makan bersama, Imel dan teman–teman kembali berjalan-jalan di sekitar danau, agaknya mereka ingin mengucapkan selamat tinggal pada danau, villa dan orang–orang di sekitarnya.

Imel, Diana, Rama, Eni, Hari dan Yassir sedang bercengkrama di pinggir danau. Mereka saling bercerita tentang kejadian–kejadian unieq ketika mereka masih sekolah di Yayasan Taman Bahagia.

“Iya, dulu aku pernah dihukum Pak Bina waktu terlambat masuk kelas. Gila tu guru, killer banget!” Cerita Imel.

“Emang! Aku aja sering dijewer sama dia…” Keluh Yassir yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

“Oh ya Ma, rahasia kamu apa koq bisa gede kayak gini?” Tanya Diana.

Wajar jika timbul pertanyaan seperti yang dilontarkan Diana, soalnya Rama yang mereka kenal adalah Rama yang kecil dan imut–imut. Namun ketika kelas III SMA, Rama telah tumbuh menjadi pemuda yang tegap dan tampan. Aneh banget.

Rama hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Diana yang mungkin juga pertanyaan teman–teman yang lain.

“Minum baygon!” Celetuk Hari.

“Enak aja!” Rama menjitak kepala Hari. “Nggak ada rahasianya…” Tambah Rama.

“Oh ya, Hari dan Yassir jadi berangkat ke Belanda?” Tanya Eni membuka percakapan lain.

“Jadi donk…” Jawab Hari pasti.

“Rencananya siapa aja nih yang berangkat?” Tanya Imel.

“Aku, Hari, Afi, Imam, Omar, Zainal, Dawi, Habi, Muzta, terus si Ucuf katanya mau ambil beasiswa walikota…” Jawab Yassir.

“Cowok semua? Nggak seru donk nggak ada cewek.” Komentar Rama.

“Mida dan Reby katanya mau coba ikut, tapi nggak tau juga. Yang penting, kalau ada Mida… jaminan lulus dech kami–kami yang ujian. Dia khan pintar banget.” Kata Hari.

“Benar banget tuh…” Ujar Imel.

Percakapan pun terus berlanjut tiada henti-hentinya, hingga Riza datang dan mengajak Imel berbicara 4 mata.

“Guys, sebentar yach! Panggilan mendadak nih…” Imel memberi kissbye pada teman–temannya.

“Lucu banget mereka. Apa lagi si Rama, imut–imut.” Ucap Imel pada Riza. “Ada apa sich? Kamu ada masalah ya Za?” Imel memandang Riza yang langsung salah tingkah.

“Kamu bawa lem alteko yach?” Tanya Riza nggak nyambung.

“Cuma mau tanya itu?”

“Heran aja liat kamu dengan si Rama, lengket banget. Kayak pake lem alteko saja.”

Imel tertawa. “Ada–ada saja kamu. Kirain apaan tanya–tanya lem alteko. Khan nggak apa–apa kalau aku dekat dengan Rama. Dia orangnya asyik, nyambung, lucu, imut–imut lagi!” Imel memberi alasan.

“Hm, ada yang bicarain aku ni.” Rama sudah berdiri di belakang Imel dengan senyum menggodanya.

Riza langsung merengut. “Mengganggu aja ni orang!” Rutuknya dalam hati.

“Dasar Rama! Ngagetin aja…” Ucap Imel.

“Eh Mel, photo yuk! Ntar lagi kita pulang, nggak sempat lagi nanti.” Ajak Rama.

Imel yang memang hobby berphoto langsung menyanggupi ajakan Rama. Mereka pun berpose ria di bawah naungan ponsel Rama tanpa menghiraukan tatapan kesal Riza.

“Ma, photo pake kaca mata donk biar keren…” Suruh Imel.

“Siiiip…” Rama memakai kaca mata rebennya. “Ok, siap yach…” Rama merangkul Imel mesra. Imel kehabisan kata–kata, namun ia tak dapat menolak. Galery ponsel Rama pun ditempati oleh photo mesra tersebut.

“Ntar dicuci ya Ma!” Pinta Imel.

“Ok dech.”

“Riza, mau ke mana? Photo yuk!” Betapa terkejutnya Imel ketika Riza tak menghiraukan ajakannya, malahan Riza pergi begitu saja.

“Kenapa dia?” Tanya Rama.

“Sakit gigi…” Cuma itu satu–satunya jawaban yang tepat. “Yuk balik.”

Ketika berbalik, tanpa sengaja mata Imel melihat sepasang manusia yang sedang duduk berdua di bawah pohon.  Tiba–tiba Indra langsung meletakkan kepalanya dengan mesra di bahu Yanie. Indra yang dulu pernah menaruh hati pada Imel seolah–olah ingin membuat Imel cemburu.

Imel mendengus. “Norak! Dia pikir aku cemburu?. Nggak banget dech!” Imel membuang muka. Ia langsung mengajak Rama untuk berjalan lebih cepat.

Tepat jam 12, Imel dan teman–temannya pun berangkat meninggalkan keindahan Danau Toba. Di dalam bus, Imel dan Rama duduk bersebelahan dan seperti biasa, tak terpisahkan!

♥♥♥♥♥♥

“Mel, udah tau kabar?” Tanya Diana ketika bertandang ke rumah Imel di kawasan setia budi.

“Kabar apa?”

“Eni jadian sama sobat kamu.”

“Apa? Eni jadian sama siapa kamu bilang?”

“Eni jadian sama Rama, sobat kamu dodol!” Ulang Diana.

“Oh…” Ada sesuatu yang hilang di hati Imel. Ia merasa akan ada jarak yang teramat jauh antara dia dan Rama.

“Emang dia nggak cerita sama kamu? Sobat macam apa yang nggak memberi kabar gembira pada sahabatnya.”

“Mungkin belum sempat. Kamu tau dari mana?”

“Dari siapa yach? Dari teman–teman…” Diana meminum jus jeruknya. “Tapi aku nggak yakin dech kalau mereka saling suka…”

“Kenapa?” Hati Imel agak berbinar, seperti ada harapan baginya. Walau ia tak mau berharap banyak, tapi ia tak bisa memungkiri kalau ada rasa berbeda di balik persahabatannya dengan Rama.

“Coba dech kamu pikir, masa’ tiba–tiba mereka jadian. Padahal sebelumnya mereka nggak pernah dekat. Ada yang bilang, si Eni terima si Rama Cuma untuk membuat Fani, pacar dia yang bajingan itu cemburu. Kalau si Rama…”

“Kalau Rama kenapa?” Tanya Imel cepat.

“Ada yang bilang karena kamu…”

“Nggak mungkin lah! Dia Cuma menganggapku teman, begitu juga denganku…”

Imel mencibir. “Aku nggak yakin dengan perasaan kalian…” Ucapnya pelan, namun terdengar oleh Imel.

“Terserah…”

♥♥♥♥♥♥

            “Mel, kayaknya si Rama naksir kamu dech!” Ucap Ara pada suatu hari, gadis manis ini adalah sahabat Imel yang juga merupakan saudara sepupu Diana.

Jantung Imel berdebar. “Sok tau! Dasar biang gosip.”

“Ye, nggak percaya. Kemaren aku dan Rida nonton di bioskop. Kami jumpa dengan Rama dan Uli…”

“Terus…”

“Aku sempat heran juga liat dia dengan Uli, aku pikir ada something special di antara mereka…”

“Nah, hubungannya apa?” Tanya Imel tak sabar.

Ara mencubit pipi putih Imel yang bebas dari jerawat. “Sabar donk sayang…” Ucapnya gemas. “Kebetulan pemain filmnya mirip sama si Rama. Ya aku bilang kalau dia tuch yang main film, eh nggak taunya dia bilang itu adegan dia sama kamu. Emang sich cewek di film itu mirip kamu. Aku dan Rida bingung, terus kata Uli dia naksir kamu. Btw nie Mel, dia udah tembak kamu?” Ara mengedipkan mata.

“Tembak? Mati donk aku kalau ditembak.”

“Aduh Imeeel! Sejak kapan sich jadi o’on. Oia, gosip–gosipnya kalian lengket banget yach waktu di Danau Toba. Sayang aku nggak ikutan, padahal khan bisa lebih asyik kalau ditambah kata–kataku…”

“Bigos!” Imel menjitak kepala Ara.

“Mel, jujur donk sama aku. Kita khan udah lama bersahabat. Aku selalu cerita sama kamu, masa’ sekarang kamu main rahasia–rahasiaan sama aku. Lagian Mel, kayaknya kalian cocok dech. Kamu khan udah putus sama Wian…”

“Kompor!” Imel meminum teh botolnya. “Nggak mungkinlah aku ngerebut pacar orang, pacar temanku lagi.”

“Maksud kamu?”

“Heran! Koq bisa yach bigos seperti kamu ketinggalan berita.” Ejek Imel.

“Aduh Mel! Serius nih…”

“Rama udah jadian dengan Eni.”

“Bohong! Nggak mungkin. Gimana ceritanya?” Ara berpikir. “Pasti Cuma gosip…”

“Beneran koq! Aku udah tanya langsung sama Rama dan Eni, jawabannya positif”.

“Broken heart donk!” Tebak Ara.

“Broken heart semprul kamu. Nggak lah, aku dan Rama khan bersahabat. Sama seperti kamu dengan dia…” Imel mencoba menutupi kecewa hatinya.

“Jangan kaitkan aku dengan dia Mel. Kami emang berteman, begitu juga dengan Zie dan Nova. Tapi kami emang nggak punya rasa sama dia, soalnya kami nggak sedekat kamu dengan dia. Lagian, kami sahabatan di HP doank koq! Cuma karena dia suka bilang sobat aja, padahal dalam perbuatan nggak mencerminkan seorang sahabat kalle…” Ara melihat jam di tangannya. “OMG, udah jam 3! Aku khan harus bimbingan. Udah dulu ya Mel. Kapan–kapan kita sambung lagi. Belum selesai lhoh…” Ara melambaikan tangan kepada Imel.

“Ah, apa yang kamu katakan memang benar Ra. Tapi aku nggak akan berharap banyak dari seorang Rama. Dia hanya menganggapku teman, tak lebih dari itu. Lagian dia juga udah memilih Eni dari pada aku…” Imel mendesah sedih.

♥♥♥♥♥♥

“Mel, ada sms nih.” Ucap Nova.

Hari ini hari senin, Imel dan semua murid SMU Taman Bahagia yang baru saja menyelesaikan studinya datang ke sekolah untuk mengambil surat tanda kelulusan yang akan dipergunakan untuk pendaftaran di berbagai Universitas di Indonesia.

“Udah, buka aja. Paling nggak penting…” Imel yang sedang mencari Diana tak menghiraukan sms yang masuk ke ponselnya.

“Nomor nggak dikenal Mel. Aku baca yach…” Nova membaca sms yang masuk ke ponsel temannya itu.

Imel sobatku tercinta…

Danau Toba adalah tempat di mana persahabatan kita terjalin dan kota Medan adalah tempat di mana aku mulai merasakan betapa indahnya hidup ini bila bersama kamu.

 

Imel sobatku tersayang…

Saat ini aku sedang menempuh perjalanan ke kampung halamanku yang jaraknya berpuluh kilometer dari tempat kamu berpijak saat ini. Mungkin kita tak akan bertemu dalam jangka waktu yang amat lama. Dan aku pasti akan merindukan canda dan tawamu sobat.

Imel sobatku…

Bersama kamu, banyak hal yang begitu berkesan dan merupakan kenangan yang begitu indah. Tak ada hari yang terlewati tanpa dirimu. Aku menyadari bahwa ada sesuatu yang lain dari perahabatan kita yang terjalin selama ini.

Mel, sebenarnya aku pacaran denga Eni bukan karena aku mencintainya. Semua ini aku lakukan agar dapat melupakanmu, karena aku merasa tak pantas untuk bersanding dengan gadis sepertimu. Namun semua sia–sia karena semakin aku berusaha melupakanmu, semakin besar rasa rinduku padamu. Sungguh Mel, aku… CINTA dan SAYANG kamu!

                                           “RAMA”

Nova terdiam setelah tau siapa yang mengirim sms itu pada Imel. Ia langsung menunjukkan sms tersebut pada Ara yang duduk di sampingnya.

“Ih… gila banget tu anak!” Komentar Ara setelah membaca sms yang lumayan panjang tersebut.

Nova mengangkat bahu.

“Dari siapa sich Sms-nya? Koq kamu diam aja Nov?” Imel membuka ponselnya. “Astaghfirullah…” Wajah Imel memerah. “Nov, jangan kasih tau yang lain yach! Aku nggak enak sama Eni, nanti dia pikir aku merebut pacarnya…” Bisik Imel. Ia tidak menyadari bahwa Ara mengetahui perihal sms tersebut.

“Dari siapa sich Mel smsnya? Koq khuatir banget?” Tanya Ara pura–pura tak tau.

“Bukan dari siapa–siapa koq! Sms nggak penting, ya khan Nov?”

“Ya!”

“Ra, jam berapa berangkat ke Riau?” Imel mengalihkan pembicaraan.

“Jam 2”

“Oh…” Imel masih gelisah. “Aku masuk ke dalam dulu yach! Cari Diana…”

Ara dan Nova mengangguk.

“Ra, kayaknya si Rama itu orangnya nggak baek dech.”

“Iya Nov. Masa’ dia masih pacaran sama Eni, sms si Imel seperti itu. Awas saja kalau dia sampai mempermainkan perasaan sahabatku!” Ujar Ara.

“Rama khan sahabat kamu juga Ra…”

“Sahabat dari Hongkong! Sms-nya aja yang pakai kata–kata ‘sobat’, tapi perlakuannya nggak.”

“Sensi kali nih…”

“Ya iya lah! Masa’ kemaren itu Rida jumpa sama dia dan bilang kalau aku kirim salam. Eh tau nggak jawabannya apa? Dia bilang nggak kenal sama aku! Rida khan terkejut dan langsung bahas masalah sobat–sobatannya dia…”

“Apa tanggapannya?” Tanya Nova.

“No coment! Makanya tadi waktu jumpa sama dia aku nggak respect. Sebel aku Nov.”

“Tuh anak emang kayak gitu Ra. Merasa punya tampang kali ya! Eh, itu teman–teman yang lain. Pulang yuk.”

Ara bangkit dari duduknya. Setelah cipika-cipiki dengan teman–teman, mereka pun pulang ke rumah masing–masing.

♥♥♥♥♥♥

“Jadi Imel dan Rama udah jadian?” Tanya Ara kepada Diana sepulang dari Riau. “Wah, banyak kisah nih selama sepuluh hari aku pergi…”

“Ya… gitu dech!”

“Eni gimana?”

“Udah putus lah dengan Rama. Mana mau Imel dianggap merebut gebetan orang.”

“Ya, ya, ya… mudah–mudahan awet. Nggak Cuma seumur jagung seperti Rama dan Eni…” Do’a Ara tulus. “Oia Di, gimana SPMB kamu?”

“Nggak tau. Mudah-mudahan aja lulus…”

“Amin.”

♥♥♥♥♥♥

Sementara itu di lain tempat…

“Mel, kamu nembak Rama yach? Malu-maluin banget sih? Emansipasi perempuan, tapi nggak gitu juga. Kamu tidak seperti Imel yang dulu.” Eni menelepon Imel begitu mendapat kabar dari Rama kalau ia dan Imel sudah berpacaran dan Imel-lah yang menyatakan cinta duluan pada Rama, alias Imel yang nembak Rama.

Imel gelagapan. Tak menyangka bahwa pemuda yang telah resmi menjadi kekasihnya itu tega memutar balikkan fakta. Namun ternyata Imel punya alasan tertentu untuk mengatakan… “Iya. Memangnya kenapa?” Tantang Imel.

“Nggak sih, aku hanya terkejut. Aku pikir Rama bohong, ternyata benar. Selamat ya Mel. Semoga langgeng…”

“Thanks ya Ni. Btw, kamu nggak marah khan?” Tanya Imel ragu.

Eni tertawa. “Ngapain marah? Nggak apa–apa koq. Lagian aku nggak terlalu suka sama dia…”

“Oh….

“Mel, udah dulu ya! Kapan–kapan disambung lagi. Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…”

Setelah menutup telepon dari Eni, Imel langsung berangkat menuju rumah Rama untuk meminta pertanggung jawaban.

“Kamu nggak marah kham Mel?” Tanya Rama enteng.

Imel menelan ludah. Ingin rasanya ia menjerit atas kekecewaannya pada Rama. Namun… “Nggak koq, aku paham. Nggak mungkin kamu bilang yang sebenarnya, Eni pasti nggak bisa terima…”

“Mel, kamu pulang aja yach. Tapi nggak aku antar, soalnya aku mau bobok, ngantuk banget nih.”

Imel menggigit bibir. “Ok dech. Makasih ya Ma atas semuanya…” Imel meninggalkan rumah Rama sambil menahan tangis. Sesampainya di rumah, tangis Imel pun pecah bersama derasnya hujan di sore itu.

♥♥♥♥♥♥

            “Bagaimana kabar kamu dengan Rama?” Tanya Riza di balik telepon beberapa bulan kemudian.

Persahabatan Imel dan Riza tetap terjalin walau jarak memisahkan. Mereka sempat bertengkar karena Riza tidak menyukai sikap terlalu manis Imel pada Rama sehingga Rama tidak segan–segan untuk merangkul dan memegang tangan Imel. Walau di awal keberangkatan Riza akhirnya Imel pun tau bahwa Riza menaruh hati pada. But, life must go on. Maka apapun yang terjadi, Imel tetap tidak merubah sikapnya pada Riza. Mereka tetap berteman hingga detik ini.

Imel menahan nafas. Hal inilah yang paling ia benci ketika bertemu atau berbicara dengan teman–temannya. Semua akan bertanya tentang Rama dan Imel pun harus berpura–pura mengatakan bahwa semua baik–baik saja. Padahal hati Imel sakit sekali jika harus membohongi teman–teman dan hati nuraninya sendiri.

“Hallo Mel, masih ON khan?” Tanya Riza lagi.

“Oh… eh, sorry Za. Tadi ada kucing, aku terkejut. Tadi kamu tanya apa?”

“Bagaimana kuliah kamu Mel?” Riza mengalihkan pertanyaan. Agaknya ia tahu bahwa Imel tak suka bila membicarakan tentang sang pujaan hati, belahan jiwanya itu.

“Baik. Kamu gimana? Lancar khan?”

“Insya Allah…”

Pembicaraan antara dua bersahabat ini terus berjalan hingga satu jam kemudian.

“Mel, udah dulu yach. Udah malam, kamu khan harus istirahat…”

“Iya. Makasih udah telepon aku. Assamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…”

Imel meletakkan ponselnya tanpa gairah. Riza adalah orang kesekian yang ia bohongi. “Maafin aku Za. Aku nggak mau buat kamu khuatir. Aku nggak mau buat kamu repot. Biar semua aku yang selesaikan, toh aku yang menjalani semua ini…” Imel menangis dalam tidurnya.

♥♥♥♥♥♥

            Hari ini selasa, Imel tidak memiliki kegiatan di kampusnya. Gadis cantik yang kuliah di jurusan Akutansi di sebuah Universitas Swasta di Kota Medan ini berencana mengajak Rama jalan–jalan. Imel menyadari bahwa waktunya untuk Rama sangatlah kurang dan ia ingin memperbaiki semuanya.

Ma2f mel, Aq g bisa nemani Qm nonton.

     Aq ada k’jaan. Lain x za yach…

Imel membaca sms dari Rama. Ia kecewa karena ternyata Rama sudah punya jadwal hari ini, harusnya ia mengajak Rama dari kemarin.

YwD, gGp koQ! LAiN x zHa QT NonToN na…

     meT k’Ja Zha DEch!

     C U…

“Mel…” Panggil Mami.

Imel langsung meletakkan ponselnya di atas meja. “Iya Mi…”

“Kamu ada kegiatan hari ini?”

Imel menggeleng. “Hari selasa khan Imel nggak kuliah. Emang ada apa Mi?”

“Wah, kebetulan. Temani mami ke rumah Tante Sri ya. Mau khan?”

Tanpa pikir panjang Imel langsung memenuhi permintaan sang Mami. “Sebentar ya Mi, Imel berbenah dulu…”

♥♥♥♥♥♥

Di hari yang sama Rama sedang menunggu seorang gadis bernama Riana, teman SMU Rama dan Imel. Rama sengaja berbohong pada Imel kalau ia punya kegiatan lain, padahal ia sedang memenuhi janjinya pada Riana.

“Hai Rama! Sorry lama menunggu…” Ucap Riana lembut.

Rama tersenyum. “Nggak apa–apa koq. Santai aja…”

“Oia, Imel nggak ngambek nih kalau tau kita jalan berdua?” Tanya Riana ragu.

“Imel? nggak koq. Lagian dia sibuk sama kuliahnya, aku juga sudah izin padanya.” Rama berbohong. “Berangkat sekarang?”

Riana menepuk lengan Rama. “Ya iyalah. Masa’ besok…”

“Film apa Ri?” Tanya Rama sesampainya mereka di Lantai IV Medan Plaza.

“Apa yach? Terserah kamu dech!”

“Tunggu di sini, aku beli tiket dulu…” Rama berjalan ke kasir.

“Hai Ri! Ngapain?” Sapa Ulan, teman sekampus Riana.

“Hai Lan! Fit! Mau nonton…”

“Ceille… nonton sama siapa? Gebetan baru yach?” Goda Fitri.

“Nggak koq, sama teman. Tuh dia lagi beli karcis…”.\

“Eh Ri, kita nonton di Deli Plaza aja yuk! Di sini rame banget…” Ajak Ulan.

“Iya juga sich, ya sudah… aku bilang sama temanku dulu. Sebenarnya aku nggak mau nonton dengannya, takut pacarnya marah. Ntar dia datang, kamu yang kasih tau alasannya.” Ucap Riana pada Fitri.

“Bilang apa?” Fitri tak mengerti.

“Bilang kalau kita masuk kuliah…”

Fitri mengacungkan jempol. “Sip dech…”

“Ri, filmnya satu jam lagi. Kita makan dulu yuk…” Rama menghampiri Riana. “Kalian mau nonton juga?” Tanya Rama sok akrab pada kedua teman Riana.

“Fren, maaf banget nih! Kayaknya kita–kita harus bawa Riana dech…” Ucap Fitri.

“Lhoh, kenapa?”

“Iya nih… kami ada kuliah mendadak. Maaf ya Ma, kapan–kapan saja kita nontonnya, dagh…” Riana mengajak teman–temannya meninggalkan Rama yang pasti sangat kecewa. Apalagi tiket sudah berada di tangannya.

Rama langsung teringat Imel. Ia pun langsung mengambil ponselnya untuk menelepon Imel.

“Maaf Ma, kali ini aku yang nggak bisa. Soalnya aku lagi temani mami di tempat saudara. Koq tiba–tiba banget sich?”

“Oh gitu yach? Ya udah deh!” Rama langsung memutuskan pembicaraan dengan kasar.

“Ini anak, aneh!” Imel memandang ponselnya geram. Tiba–tiba sebuah sms masuk. Imel membuka dengan malas…

Mel!

     Seperti na hubungan Qt g bisa d lanjutin lagi dech!

     Sampe d sini za…

 

Alangkah terkejutnya Imel ketika membaca sms yang ternyata dari Rama. Berkali–kali ia mencubit tangannya, berharap semua ini adalah mimpi dan ia cepat–cepat terbangun dari tidurnya.

“Ya Allah, kenapa si Rama?” Imel menahan tangis. Ia mencoba untuk berpikiran jernih dan menutupi kegalauannya pada Mami dan Tantenya.

“Mi, Imel pulang duluan yach. Tadi teman Imel sms, ada tugas mendadak. Nggak apa–apa khan Mi?”

“Ok dech. Hati–hati ya nak…”

Imel menyetop sebuah taksi. Tujuannya bukan rumah, melainkan Rama. Ia memberi tau alamat Rama pada supir taksi yang akan membawanya ke tempat sesosok pemuda yang ia cintai.

Imel tersedu–sedu di hadapan Rama. Ia tak bisa terima dengan sikap Rama yang memutuskannya tanpa alasan. “Kamu kenapa sich Ma? Koq sms aku seperti itu? Apa salahku?” Tanya Imel di sela–sela isaknya.”Maafin aku kalau ada salah…”.

Rama tersenyum tanpa merasa bersalah. “Nggak ada apa–apa koq. Cuma bercanda…”

Imel memandang wajah sok lugu di hadapannya. “Bercanda?”

“Udah lah Mel, jangan dipermasalahkan. Tadi aku kesal aja sama kamu yang nggak pernah punya waktu untukku…”

“Tadi khan aku ngajak kamu, tapi kamunya ada kerjaan…” Imel menghapus air matanya. “Jadi kenapa tiba–tiba kamu berubah pikiran?”

Tanpa beban Rama menceritakan kejadiannya bersama Riana. Ia tak memikirkan betapa sedihnya Imel mendengar pengakuannya.

“Jadi dia lebih memilih pergi dengan Riana dari pada denganku? Rasain kamu dicuekin!” Walau sedih, di dalam hati Imel tertawa.

“Maaf kalau waktu aku dengan kamu kurang. Aku janji mulai hari ini aku akan meluangkan waktu untuk kamu. Tapi kamu jangan mengulangi kejadian tadi ya Ma?”

Rama mengangguk.

“Ya udah, aku pulang dulu. Udah sore.” Sebenarnya Imel sangat mengharap kesediaan Rama mengantarnya walau hanya sampai pintu pagar. Namun Imel harus menahan pil kecewa, karena jangankan mengantarkannya, Rama malah menutup pintu tanpa kata–kata perpisahan.

“Malangnya nasibku!” Imel meringis.

♥♥♥♥♥♥

Sejak kejadian sore itu, Imel selalu berusaha meluangkan waktunya untuk Rama yang tak pernah puas kalau tidak membuat Imel repot dan menangis. Demi rasa sayangnya pada Rama, Imel tetap bertahan dan terus bertahan. Walau bathinnya tak bisa menerima semua ini. Ingin rasanya Imel menumpahkan sesak di hatinya pada sahabat–sahabatnya, namun ia malu karena ia yang telah memilih Rama beserta konsekuensinya. Bila ada yang bertanya tentang hubungannya dengan Rama, kembali Imel berbohong seolah–olah ia dan Rama adalah pasangan yang paling bahagia di jagad raya ini.

♥♥♥♥♥♥

Sebulan kemudian, Imel kembali dihadapkan oleh kenyataan pahit bahwa Rama kembali memutuskan hubungan kasih dengannya tanpa sebab. Untuk kali ini Imel menyerah! Ia pun menceritakan kesedihannya pada Diana dan Ara yang melanjutkan studinya di Riau.

“Mel, buka mata donk! Masa’ kamu masih mengharapkan dia setelah apa yang dia lakukan sama kamu.” Nasehat Ara melalui telepon. Ia memang kejam akan masalah yang menimpa Imel dan Rama. Ara hanya ingin bersikap realistis.

“Ra, kamu tanya sama Rama kenapa dia mutusin aku? Gimana aku bisa terima kalau dia nggak memberi tau sebabnya. Ra, aku sayang banget sama dia.”

“Iya, ntar kalau dia sms aku tanyain. Kamu jangan sedih donk Mel. Mana Imel yang selalu ceria dan optimis?”

“Aku nggak setangguh yang kamu kira Ra. Aku manusia biasa…”

“Tapi setidaknya kamu jangan menangis. Kamu harus kuat Mel.”

“Maafin aku ya Ra, aku nggak bisa. Jangan lupa tanya sama dia ya Ra…” Tangis Imel pecah.

“Kata Rama, dia nggak pantas sama kamu. Aku jadi heran, masalah kalian apa? Apa karena dia belum kuliah? Atau…”

“Ntah lah Ra, yang penting aku mohon sama kamu kalau ada yang bertanya penyebab kami putus, bilang aja kalau aku nggak pantas sama Rama yang perfect. Tolong ya Ra…”

“Ok. Yang penting kamu jangan sedih lagi dan jangan sampai bunuh diri.” Ara mencoba bercanda.

“Mungkin…”

“Apanya yang mungkin Mel?”

“Nggak ada koq. Ya udah Ra, kapan–kapan kita sambung lagi…” Imel menyudahi pembicaraan.

Di seberang sana Ara hanya dapat menghela nafas berat. Ia bingung harus membela siapa! Imel dan Rama adalah sahabatnya…

“Pusing! Mereka sama–sama bilang kalau mereka nggak pantas…” Ara tak sanggup berpikir lagi.

♥♥♥♥♥♥

            Berkali–kali Imel berusaha untuk menghubungi Rama, bertanya apa salahnya hingga Rama tega menyakiti hatinya. Berkali–kali Imel mencoba meluluhkan hati Rama agar membuka pintu hatinya lagi untuk Imel. Namun berkali–kali pula Rama tak memberi tanggapan dan kesempatan untuk Imel. Namun Imel terus berusaha untuk mempertahankan cintanya.

“Kenapa yach aku selalu disakiti sama orang yang paling aku cintai? Dulu Wian, sekarang Rama…” Imel menahan air mata di hadapan Diana yang kebetulan sedang berlibur di Medan.

Diana menepuk bahu Imel, seperti memberi kekuatan. “Menangislah Mel, curahkan aja semua uneq–uneq kamu…”

Imel terisak. “Berulang kali aku meminta maaf dan meminta balik sama dia, tapi dia tak memberi jawaban. Di, apa salahku padanya sehingga dia begitu tega menyakitiku?”

“Mel, biarkan Rama tenang dulu. Mungkin dia punya masalah pribadi yang membuat dia ingin sendiri untuk saat ini. Kalau nanti dia sudah tenang, dia pasti akan kembali padamu. Percaya dech…”

“Nggak mungkin Di. Dia udah sangat membenci aku, tapi dia nggak mau memberi tahu apa salahku…”

“Mel, percaya nggak kalau taqdir Allah selalu indah?”

Imel menatap Diana tak mengerti.”Maksud kamu?”

“Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk Hamba-Nya. Jadi, curahkan semua keluh kesahmu pada-Nya…”

Imel terdiam mencerna perkataan sahabatnya.

♥♥♥♥♥♥

“Rama, kenapa sich putus dengan Imel? Tau nggak, dia masih sayang banget sama kamu. Masa’ kamu tega nyakitin dia.” Tanya Ara tepat pada sasaran ketika bertemu Rama. Saat itu Rama sedang mengikuti pelatihan di Riau.

“Dia nggak sayang sama aku…” Ucap Rama.

“Oh ya? Setelah apa yang kalian lalui bersama, kamu masih ragu dengan Imel? Hebat banget kamu!”

“Asal kamu tau aja ya Ra, dia itu jadian denganku pada saat dia masih jalan dengan Andri! Kamu bisa bayangin khan gimana perasaan aku???”

Ara tertegun, nggak mungkin Imel seperti itu. “Kamu salah sangka Ma. Imel nggak jadian ah dengan Andri! Dia pasti cerita padaku tentang itu…”

“Tanya aja langsung dengan yang bersangkutan.”

“Kalau pun Imel begitu, mungkin karena kamu pacaran dengan Eni. Nggak mungkin khan dia merebut gebetan temannya sendiri…”

Rama mengangkat bahu dengan cuek.

“Kamu beneran nggak sayang lagi dengan Imel?”

“Nggak tau ah!” Rama acuh tak acuh.

“Nggak tau karena kamu masih sayang dia khan? Buktinya, untuk apa kamu suruh Tafa sms dia dan bilang kalau kamu sakit. Kalau kamu memang ingin berpisah dengannya, jangan permainkan dia donk. Ingat, Imel sahabatku.” Ara memandang Rama tajam.

“Sorry dech sobat…” Rama menggaruk kepalanya.

“Oh ya, apa cuma gara–gara itu kamu mutusin dia? Maksud kalau kamu nggak pantas bersama dia apa?”

Rama menghempaskan nafas berat. “Kayaknya nggak pantas aja dech kalau kami jalan bareng. Tapi kamu jangan bilang dengan siapa–siapa yach, apalagi dengan Imel…”

Ara mengangguk.

“Ya nggak pantas dech! Kamu lihat, aku khan kurus… sedangkan Imel badannya lebih besar dariku. Nggak pantas khan?”

“Oh… jadi itu maksud kamu selama ini? Jadi kamu lihat dia cuma dari fisiknya? Untuk apa kamu memilih dia sedangkan kamu tau kalau dia lebih ‘besar’ dari kamu?”

Rama gelagapan. “Dulu waktu di sekolahan dia belum ‘sebesar’ itu…”

Ara tertawa mengejek. “Kamu benar–benar jahat!”

“Mungkin dulu aku belum begitu cinta padanya, Cuma nafsu sesaat…”

“Lain kali pakai pikiran kamu! Punya otak khan?!!”

“Ra, jangan bicara seperti itu donk! Aku minta maaf udah menyakiti sahabatmu…”

“Terserah! Nanti kamu juga yang merasakan akibatnya…” Ara berdo’a dalam hati agar Tuhan membalas perbuatan Rama.

“Aku udah ngerasainnya koq Ra. Kemarin itu aku pacaran sama anak di kampungku, lalu tiba–tiba dia mutusin aku. Ternyata dia mau menikah dengan orang yang lebih mapan dariku.”

Ara mengejek. “Mampus!!!” Ucap Ara kejam. “Udah ah, aku pulang dulu. Males dekat kamu, ntar aku tertular kesialan kamu lagi!”

Rama menatap kepergian sahabatnya dengan getir.

♥♥♥♥♥♥

            gMn rA, udAH kTemU DGn RamA?

     Td TAFa sMS Aq, KaTa Na Rama SakIt n rINdu ma Aq…

Ara membaca sms dari Imel. “Apa sich maunya si Rama itu? Katanya mau ngelupain Imel, tapi koq malah menyuruh si Tafa sms Imel seperti itu. Jelas–jelas dia sehat wal afiat…”

Jgn p’caya Mel!

     Si Rama 2 bo’ong. Td dy sehat koq!

     Dy nyuruh si Tafa sms Qm ky gt..

     Udh ya Mel, jgn d pkrin lg!

Tak lama kemudian ponsel Ara berbunyi, tanda sms masuk.

Aq g bS nGeluPaiN dY rA! Aq SyG bgT dgN na…

     oiA, Qm dh TaNya KnP dY mUtuSiN Aq?!!

     apA kT Na?

Ara menahan Nafas. Tangannya langsung merangkai kata untuk membalas sms Imel.

Dy g bilang pa2! Dy cm bilang kl dy g pantas ntk Qm!

     Udh Mel, g ush d pkrin lg dech!

     Cm bwt Qm skt hti Mel…

“Maafin aku ya Mel udah bohongin kamu. Tapi ini juga demi kebaikan kamu. Nggak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya…” Ara membayangkan tanggapan Imel bila ia menceritakan yang sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Rama. “Mungkin suatu saat nanti Mel…”

G bS rA. Aq syG bGt ma Dy!

     Aq g Bs nGElupAin kEnanGaN2 Qm b’2.

     Ma2fN Aq ya Ra!

     tD Aq udH miNTa baLiK ma Dy, Tp g dA taNgGapAn Na Ra…

     AcEM?

     Aq seDIh BgT RA!!!

“Kasihan banget si Imel. Gara–gara si Rama sialan itu! Dasar cowok nggak punya perasaan. Kanibal banget sih, seenaknya saja memutilasi cinta orang.” Ara membalas sms Imel.

T’serah Qm! Y pnting Qm bhgia…

     Aq cm bs m’doakn Qm spy baek2 z.

     Tp y pst, Rama bkn y t’baek ntk Qm!

     Mel, dah dl yaw! pulsaQ dh ntek ne!

     Sbr ya Mel…

Ara membaca sms terakhir dari Imel.

TQ ya rA, dH mW dNgeRin Aq.

nTr kL Qm jmPa ma RamA lG, tLg tNYa KNp Dy MutUsN Aq yo!

     PliZZZ…

♥♥♥♥♥♥

“Jadi itu alasan Rama mutusin Imel? Kejam, tega dan nggak masuk akal.” Komentar Diana ketika Ara menceritakan apa yang dikatakan oleh Rama tempo hari. “Kasihan banget si Imel…”

“Makanya, kamu jangan bilang sama dia.” Ara memperingatkan.

“Nggak mungkin aku kasih tau ke dia, nggak terbayang gimana sedihnya tuh anak kalau tau kenyataan ini.” Ucap Diana iba.

“Pengennya aku kerjai si Rama! Tapi pasti Imel nggak setuju dan marah. Aku ngatai–ngatain si Rama aja, dia udah mencak–mencak dengan seribu macam nasehat. Sebel!”

Diana menepuk pundak sepupunya itu. “Jangan emosi. Biarin aja orang lain yang membalasnya…” Ucapnya Arif.

Ara manggut–manggut. Walaupun dalam hatinya mendekam beribu macam rencana jahat untuk membuat Rama kapok.

“Eh Ra, jalan–jalan yuk! Aku khan belum pernah ke Riau, tempat kamu ini…”

Ara mengangguk. “Mandi dulu sana. Bau!” Ara melemparkan sehelai handuk ke wajah Diana.

♥♥♥♥♥♥

“Ra, hari ini aku senang banget dech.”

Ara mendengar nada senang dari suara Imel yang meneleponnya. “Oh ya? Ada apa Mel?” Tanya Ara penasaran.

“Aku udah balikan dengan Rama. Duh… aku senang banget!”

Jantung Ara berdetak lebih kencang. Ia sama sekali tidak senang dengan berita yang dikabarkan oleh Imel. “Selamat ya Mel! Semoga kalian tetap langgeng dan nggak bertengkar lagi. Mel, aku senang kalian udah balik dan kamu pastinya bahagia. Tapi terus terang ya Mel, aku nggak akan mendukung hubungan kalian pada saat ini. Jadi, kalau nanti ada apa–apa antara kamu dengan Rama, jangan pernah cerita ke aku lagi. Maaf ya Mel…” Ucap Ara penuh penyesalan.

Kening Imel berkerut. “Kenapa Ra? Kamu bosan dan capek yach mendengar keluh kesahku? Kalau gitu aku minta maaf karena udah ngerepotin kamu…”

“Nggak Mel, aku senang kamu mau curhat ke aku, itu tandanya kamu percaya padaku. Tapi aku nggak sanggup kalau mengetahui kamu disakiti oleh Rama untuk kesekian kali. Kamu udah memilih Rama lagi, berarti kamu sendiri yang harus menanggung konsekuensinya. Bukan aku nggak mau bantu, tapi aku cuma mau mengingatkan kamu supaya nggak melakukan kesalahan yang sama…”

“Emang kenapa dengan Rama Ra? Apa yang udah dia perbuat di Riau sana sampai–sampai kamu nggak mau membelany?. Padahal dia khan sahabat kamu juga…”

“Aku nggak punya sahabat jahat macam dia! Udah ah Mel, aku ngantuk. Kapan–kapan disambung lagi yach. Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…” Imel menutup teleponnya dengan tanda tanya besar. Namun ia tak sempat lagi untuk memikirkan hal tersebut, baginya Rama adalah segalanya!

♥♥♥♥♥♥

            Ra!

     Aq pUTus lG dGn rAMa!

     dY jAHat BnGT MaKi2 Aq!

     Pa SlhQ? KnP dY JahaT bNGt?!!

Ara membaca sms dari Imel dengan amarah. “Keterlaluan si Rama! Kalau emang udah nggak cinta lagi, ngapain dia mau balikan sama Imel? Dasar Sayko!”

“Kenapa Ra? Be Te amat kayaknya?” Tanya Diana yang esok akan mengikuti ujian SPMB.

Ara memberikan ponselnya pada Diana.

“Iya, aku juga udah tau masalah ini. Ternyata Imel masih punya nyali juga untuk sms kamu. Tadi dia bilang kalau kamu udah nggak mau lagi mendengar permasalahannya dengan Rama. Tega banget sih…”

“Biarin aja! Aku khan udah bilang kalau aku nggak akan mendukung lagi hubungan mereka. Kamu udah tau alasan Rama mutusin Imel, jadi untuk apa mendukung mereka kalau akhirnya akan menyakitkan…”

Diana hanya bisa pasrah menghadapi sepupunya yang keras kepala. “Tapi kamu baca dulu sms dari Rama, kamu nggak akan menyesal kalau kali ini menolong Imel dan mendukung dia…”

Ara membaca Sms di ponsel milik Diana.

Dasar anak anjing!

     Nggak tau diri! Ngapain kau utus orang untuk mata–matai aku?!!

     Nggak perlu lagi kau sibuk sama urusan aku!

     Ngerti?!!

“Ih… kasar banget! Awas ya tuh anak kalau ketemu!” Geram Ara. Langsung ia mengambil ponselnya dan menuliskan kata–kata yang kemudian dikirimkan untuk Rama.

KAU APAKAN SAHABATKU?!!

Sms berisikan tiga kata yang dikirimkan Ara pada Rama mengandung penuh arti. Rama kehabisan kata–kata untuk membalas sms dari Ara.

Ma2fin aku Ra, udah menyakitin hati sahabatmu.

Tapi inilah satu2nya cara untuk membuat dia membenciku!Sekali lagi, ma2fin aku…

“Enak aja minta maaf setelah apa yang dia lakukan pada Imel! Nggak bisa diampunin. Kena karma mampus dia!!!” Ara memcampakkan ponselnya ke atas ranjang denga kesal. “Imel sich, udah aku bilang si Rama itu nggak ada baek–baeknya tetap nggak percaya. Cinta oh cinta…”

♥♥♥♥♥♥

“Ra, kemarin ada cowok yang sms aku, dia bilang kalau dia itu sayang sekaligus kasihan sama aku yang udah disakiti Rama…” Cerita Imel pada suatu hari. Ketika itu ia sedang berlibur di Riau.

“Terus?” Ara menatap Imel.

Imel pun menceritakan tentang seorang cowok bernama Hanif yang menurut pengakuannya adalah teman sekamar Rama ketika sedang mengikuti pelatihan di Riau. Hanif mengaku kasihan pada Imel dan menyuruh Imel untuk melupakan Rama yang telah menyakitinya. Hanif juga mengaku bahwa dia mulai menyukai Imel dan ingin menjadi penawar duka bagi Imel.

“Kamu percaya Mel?” Tanya Ara setelah mendengar penuturan Imel yang panjang lebar.

“Mana mungkin aku percaya. Paling–paling itu si Rama atau kuli suruhannya.” Ucap Imel ketus. “Mau si Rama itu apa sih? Heran, nggak bosan–bosannya dia menyakiti dan menggangguku.”

“Mungkin dia masih suka sama kamu, dia menyesal udah meninggalkanmu. Jadi, ya gitu dech…”

“Nggak mungkin Ra, aku udah nggak berarti lagi buat dia. Yang aku kesalkan dari sms orang yang mengaku temannya si Rama adalah kata–kata dia yang mengungkit–ungkit Rama. Kalau memang dia menyuruhku untuk melupakan Rama, untuk apa dia mengungkit yang udah berlalu.” Imel mendengus. “Aku jadi ingin tau yang mana sich orangnya yang mengaku bernama Hanif itu.”

Ara tertawa. “Untuk apa dicari, orangnya pasti nggak ada Mel. Paling itu kerjaan si Rama untuk membuat kamu semakin terluka…”

“Kayaknya perkataan kamu benar dech Ra. Soalnya nomor HP Rama nggak aktif kalau nomor si Hanif itu aktif, atau sebaliknya. Kemarin aku cerita tentang sms si Hanif itu pada Arhap, tau nggak tanggapan dia?”

“Apa?”

“Masa’ dia bilang kalau si Rama itu nggak pantas untuk dipikirin, maklum… barusan puber. Waktu Sekolah dulu belum sempat puber, jadi kemaruk gitu  sama cewek. Kejam banget khan…?”

Ara mengejek. “Kayaknya nggak kejam dech. Emang benar tu kata–kata si Arhap. Aku setuju!”

Imel menepuk bahu Ara kesal. “Nggak boleh begitu Ra, dia khan sobat kamu juga…”

Ara mencibir. ”Udah salah masih dibela! Sorry ya, aku nggak punya teman seperti dia, apa lagi sobat. Nggak sudi!” Ara pura-pura meludah. “Mel, aku pulang dulu, udah kemaleman. Kapan–kapan main donk ke tempat aku, supaya kamu tau gimana kontrakku yang tidak seberapa itu…”

“Insya Allah. Eh, hati–hati. Kalau jatuh bangun sendiri…”

“Pasti donk. Aku pulang, bye…” Ara dan Imel saling melambaikan tangan.

♥♥♥♥♥♥

Ara sedang membaca novel ketika Imel bertandang ke kontrakannya. Ara yang suntuk sendiri di kamarnya menyambut kehadiran sahabatnya itu dengan riang.

“Akhirnya, sampai juga kamu ke tempatku. Ada cerita apa?” Ara membuatkan Imel minuman dingin.

“Aku dimaki–maki dengan yang namanya Hanif itu Ra. Sakit hati!”

“Koq bisa? Gimana ceritanya?”

“Aku iseng–iseng miscall dia. Eh ternyata dia marah dan bilang aku wanita murahan yang mudah banget dirayu. Kamu bayangin Ra, gimana perasaan kamu kalau jadi aku. Khan dia yang memulai sms-an denganku, koq malah dia seenaknya memaki aku. Emang dia siapa?!! Apa dia yang melahirkan dan membiayai hidupku sampai seenaknya mempermainkanku?” Imel emosi.

“Tenang Mel, ntar kita balas dia. Mana nomornya? Biar aku balas memakinya!” Ucap Ara tak kalah emosi.

“Nomornya yang waktu itu pernah aku berikan padamu. Tadi aku juga menceritakan hal ini pada Arhap, nggak ada tanggapan Ra. Dia malah tertawa dan menyuruhku melupakan semua ini. Enak saja!”

“Berarti ini semua kerjaan Arhap, Tafa dan teman–temannya. Pasti si Rama yang jadi dalangnya.” Tebak Ara.

“Mungkin, eh Ra ada sms nih dari Hanif. Sebentar yach aku baca dulu…”

“Apa katanya Mel?” Tanya Ara tak lama kemudian.

“Dia minta maaf karena udah keterlaluan sama aku. Dia bilang kalau Rama nggak salah dan nggak ada sangkut pautnya dengan keusilan dia…”

“Terus kamu mau balas apa?”

“May be doank aja deh! Gimana Ra?” Setelah mendapat persetujuan Ara, Imel langsung mengetik sms untuk Hanif. “Tau nggak Ra, dia bilang lagi kalau Rama nggak salah dalam kejadian ini. Rama nggak mau menggangguku lagi, solanya teman–temannya pada marah dan memusuhinya. Rasain!”

Ara tertawa di dalam hati. “Itu pasti karena sms-ku kemarin! Aku bilang kalau aku nggak kenal dan nggak punya teman seperti dia. Sorry ya Mel, aku hanya ingin membuat dia merasa bersalah atas apa yang dia lakukan. Dengan dimusuhi oleh teman–teman, dia pasti menyesal atas perbuatannya…”

“Ya apa boleh buat. Terserah kamu saja, aku capek memikirkannya, cuma menambah sakit hatiku…”

“Sabar ya Mel. Suatu saat kamu pasti akan menemukan seseorang yang benar–benar tulus mencintai dan menyayangimu. Jangan pernah ragu akan taqdir Allah yang akan selalu indah Mel…”

Imel tersenyum, walau di dalam hati ia menangis. “Makasih ya Ra, kamu memang sahabatku yang paling, paling, paling deh!”

“Paling apa Mel? Paling baik, paling manis, paling imut, ya khan?”

“GR! Maksudku yang paling cerewet dan usil.” Imel tertawa melihat wajah Ara yang langsung ditekuk. “Eh Ra, sms dari Rama nih.” Imel dan Ara sama–sama membaca sms dari Rama yang menyatakan bahwasanya ia tidak turut andil dalam keusilan Hanif dan meminta maaf karena telah membuat hati Imel terluka untuk kesekian kalinya.

Imel meletakkan ponselnya kasar. “Emang aku pikirin! Capek dech maafin dia terus menerus. Emang aku bank maaf apa???”

Ara menatap Imel yang mencibir. “Aku senang dengan sikap kamu sekarang ini Mel. Bukannya aku mendukung kamu membenci Rama, tapi kamu harus memulai untuk melupakan yang namanya Rama. Karena dia nggak pantas untuk kamu.”

“Aku akan mencoba untuk melupakannya Ra, tanpa harus membencinya. Karena kalau aku membencinya, dia akan senang dan merasa menang. Biarlah saat ini aku mengalah untuk meraih kemenangan.”

Ara mengacungkan kedua jempol tangannya. ”Ini dia Imel yang aku kenal.” Ara tertawa. “Don’t cry, Imel! Kamu pasti akan mendapatkan hikmah dari semua kejadian ini. Semangat! Semangat! Semangat!!!”

“Untuk kesekian kalinya, makasih banyak ya Ra…” Imel dan Ara saling berpelukan. “Don’t cry Imel! Don’t cry! Forget Rama! Forget him!!!” Imel dan Ara berteriak penuh semangat.

“Kamu harus ceria lagi ya Mel…”

Imel mengangguk. “Mulai saat ini, aku harus optimis dan ceria. Aku nggak boleh lagi memikirkan makhluk yang bernama Rama Pradhana itu. Tapi aku juga nggak boleh membencinya. Aku janji pada diriku, kamu dan orang–orang yang menyayangiku. Aku janji!”

Ara memeluk sahabatnya, memberi dorongan semangat. “Be strong Mel. Don’t cry again.”

Imel dan Ara tertawa bahagia.

♥♥♥♥♥♥

            Aku menghempas nafas lega setelah menyelesaikan tulisan di atas laptop baruku. Walau tulisan ini tidak indah dan menarik seperti pemilik novel–novel ternama, namun aku cukup bangga dan bahagia. Karena tulisan yang aku tulis ini merupakan sebuah cerita tentang seorang sahabat dengan luka di hatinya. Tak banyak yang aku inginkan, aku hanya ingin cerita ini menjadi sebuah penyemangat bagi sahabatku itu. Aku ingin dia ceria seperti semula, aku ingin sahabatku yang dulu. Bukan seorang gadis yang lemah dan menangisi seorang pemuda nggak penting yang sudah menorehkan luka di hatinya. Semoga cerita yang benar-benar nyata ini bisa membuatnya bahagia.

“Zahra, makan dulu nak…”

Suara lembut bunda tersayang mengejutkanku. “Iya bunda, sebentar lagi…” Ku matikan laptopku tercinta dengan penuh kepuasan. “Semoga kamu terhibur dengan karyaku Mel.” Do’aku di dalam hati.

“Ngapain aja di kamar? Koq lama sekali keluar?” Tanya ayah yang ternyata telah menungguku lama. Bahkan ketiga adikku sudah berdemonstrasi karena lapar.

“Maaf yach semuanya, tadi ada kerjaan, maklumlah orang sibuk.”

“Sibuk dari Hongkong!” Celetuk adikku yang paling bungsu.

“Demam…” Dilla, adikku yang kedua segera meletakkan punggung tangannya di atas dahi. “Cuaaapek dech!” Ucapnya.

Ketiga adikku tertawa terbahak–bahak.

“Udah, udah, jangan bicara lagi. Makan dulu…” Bunda menyudahi percakapan yang akan berujung pada pertengkaran kecil tersebut.

Aku pun mengunyah makan malamku dengan hati riang karena akhirnya cerpenku selesai juga. Alhamdulillah…

♥♥♥♥♥♥

                                                                                    Banda Atjeh, 20 August 2007

                                                            Untuk seorang sahabat dan keterbatasan Gw.

“Maaf kalo cerita Gw membuat Lo mengingat

akan  ‘Dy’  yang dulu pernah menghiasi hari-hari Lo dengan bunga-bunga Cinta sekaligus Bara yang membakar dan melukai hati Lo. Tapi Gw hanya ingin agar Lo bisa bangkit dari semua rasa sakit hati Lo. Coz Gw yakin bahwasanya Lo pasti bisa sobat!

So, DON’T CRY AGAIN! Semangat!”

2 thoughts on “Don’t Cry, Imel!

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s