Haruskah Aku Mengalah?


Ranita menahan tangis.  Seharusnya,  Ia yang berhak  menerima  piagam itu. Dengan susah payah Ranita menulis sebuah cerpen yang berjudul “Selembut Kasih Bunda” dan menjadi pemenang. Namun Clarita, adik semata wayangnya yang sombong dan pengiri telah merebut kebanggaan Ranita. Air mata Ranita yang kerap dipanggil Nita itu tak dapat dibendung lagi tatkala adiknya- Rita, menyambut hadiah dan uluran tangan dari Pak Gubernur. Mama dan Papa tersenyum bangga kepada anak tersayang mereka yang saat itu berumur 10 tahun.

“Sudahlah Nit, sabar…” Sebuah suara lembut menggenggam tangan Nita. Itu adalah suara Mbak Ayu, sepupu tersayang dan terdekat Nita. Sepupu sekaligus sahabat Nita itu sebenarnya hanya terpaut 2 bulan lebih tua dari Nita. Tapi karena tutur, Nita pun memanggil Ayu dengan sebutan ‘Mbak’.

“Nita gak sanggup mbak. Rita jahat! Padahal dia sudah punya segalanya, termasuk kasih sayang mama dan papa. Kenapa dia merebut semua yang aku miliki?” Ucap gadis berumur 11 tahun itu lemah.

“Khan sudah berulang kali mbak katakan, sabar Ranita. Semua pasti ada hikmahnya…”. Ayu menasehati Nita yang malang. “Sekarang, mbak minta kamu untuk senyum. Please….” Pinta Ayu memelas.

Nita tersenyum terpaksa, tapi sudah membuat Ayu sedikit lega.

◊◊◊

Ranita dan Ayu mendaftarkan diri di SLTP Negri 1 yang sedang membuka kesempatan bagi murid-murid tamatan SD untuk mendaftarkan diri. Mereka ditemani Bude Mala, ibunya Ayu. Nita iri melihat keakraban calon pelajar yang turut mendaftarkan diri brsama kedua orang tua mereka. Nita ingin, bahkan sangat ingin seperti mereka! Ditemani oleh orang-orang tersayang saat memasuki gerbang SMP. Tapi Nita harus menelan pil kekecewaan karena orang tuanya tak pernah punya waktu untuk kepentingan Nita, karena Rita-lah segalanya bagi kedua orang tua Nita. Bagi mereka, Nita tak lebih sebagai anak yang selalu merepotkan dan tak bisa dibanggakan. Lain dengan Rita yang memiliki seabrek kegiatan.

◊◊◊

Hari-hari telah berlalu. Dua bulan sudah Nita bersekolah di SLTP yang selalu diidam-idamkan oleh banyak orang karena keunggulannya dalam berbagai bidang. SLTP ini yang menempa para orang-orang sukses di kemudian hari. SLTP ter-favorite di kota tempat tinggal Nita.

“Ma, Nita berangkat yach!”  Tak ada jawaban dari Mama. Nita merengut, “Selalu begitu…” Kesal Nita.

“Kenapa Nit? Wajahmu kusut banget. Kayak kain belum digosok.” Ayu menatap wajah polos Nita yang cemberut. “Kamu sakit?”  Ayu mengapit Nita memasuki kelas.

“Aku gak apa-apa kok.”

“Gak mau cerita padaku nich? Awas yach! Kalau aku punya rahasia, aku gak akan ngebocorinnya sama kamu.” Ancam Ayu.

Namun tak ada reaksi dari Nita. Aksi diam pun berdemo sampai pelajaran usai dan bel pulang berbunyi nyaring.

“Mbak, Nita ikut ke rumah yach…”

Ayu mengangguk dan tersenyum. Nita selalu merasa nyaman bila berada di rumah sepupunya itu. Semua bentuk kasih sayang dan penghargaan Ia dapatkan bila berada di rumah Ayu, semua hal yang tak mungkin dia dapatkan di rumah orang tuanya sendiri, rumah megah yang sekarang Ia tempati.

◊◊◊

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun dilewati oleh Nita, tetap dengan hiasan duka yang seakan tak ingin terlepas dari sangkutannya. Hm, saat ini Nita dan Ayu sudah duduk di kelas 2  SMUN I. sedangkan Rita di kelas 1 di sekolah yang sama.

Pagi yang kelabu ditutupi awan duka…

“Nita jahat! Kamu udah nge-rebut gebetanku! Benci. Aku benci kamu!!!” Rita melempari barang-barang yang ada di dekatnya ke  arah Nita.

“Apa maksud kamu dek? Mbak gak ngerti…”  Ucap Nita lembut, seraya mengelak dari amukan sang adik.

“Kakak macam apa kau yang tega merebut pacar adiknya?!! Kau anak gak tau diri. Selalu nyusahin aku dan orang tua! Untuk apa kau beribadah setiap hari kalo kau rajin ke dukun!”

“Mbak gak ngerti maksud kamu. Demi Allah mbak gak ngerti…”

“Munafikkkkk! Kau apakan si Rio sampai-sampai dia ngejauhin aku? Dia gak mau bicara dan bertemu aku lagi!”  Dengan bringas Rita menjambak rambut panjang Nita.

“Dengar Rit, mbak gak pernah berbuat apa pun pada pacar kamu itu. Mbak hanya kenal dia di pengajian dan kami tidak pernah berbicara. Percayalah… Aduh! Tolong lepasin rambut mbak Rit. Sakit… aduh… tolong…” Pinta Nita memelas.

Rita mendorong Nita ke sudut kamar. Ia mengacungkan telenjuknya. “Kau harus kembalikan Rio padaku!” Rita mengangkat dagu Nita dengan paksa. Sebilah belati ditempelkan di pipi Nita yang pucat. “Aku akan bunuh kau jika Rio tidak kembali. Camkan itu!”  Ancam Rita.

“Ya Allah… kuatkanlah hamba.” Nita pun meringkuk di sudut kamar sambil menangis tersedu.

◊◊◊

Di keheningan sepertiga malam…

“Duhai Allah… hamba adalah manusia lemah dan hina. Rabb… dengan semua keterbatasan ini, hamba memohon… bantulah hamba dalam melewati semua masalah dan rintangan yang menerpa. Ya Allah… sesungguhnya hamba tak tahan lagi dengan semua siksaan di dalam rumah ini. Hamba ingin pergi dan meninggalkan semua. Untuk apa hamba lahir bila kedua orang tua dan adik hamba tak pernah menganggap hamba ada. Hamba tak sanggup ya Khaliq. Hamba lemah… hamba lelah…hamba kecewa…  hamba sakit… Ya Allah, hanya kepada-Mu hamba mengadu atas derita ini, atas kecewa ini, atas lelah ini, atas sakit ini. Allah… ringankanlah beban hamba…”  Dalam sujudnya Nita menangis memohon kekuatan dari Sang Khaliq. Teringat kejian tadi di ruang keluarga. Keputusan mama dan papa sudah bulat. Nita harus pergi dari rumah! Padahal Nita tidak mengetahui kesalahan apa yang membuat kedua orang tuanya mengusirnya dari rumah. Sefatal itukah sampai-sampai dia dikeluarkan dari anggota keluarga dengan paksa???

“Demi Allah… shabu-shabu di kamar mandi itu bukan milikku!”  Teriak Nita tegas sebelum berlari ke kamarnya. Dadanya sesak oleh amarah, kecewa, sedih dan entah apa lagi.

“Rasain!” Ucapan Rita yang sempat terdengar samar di telinga Nita. Suara itu terdengar puas dan sarat dendam.

Nita mengemasi barang-barangnya dengan berlinang air mata. “Aku tau shabu-shabu itu milik siapa. Tapi akankah mama dan papa mempercayaiku seperti mereka mempercayai Rita?”  Nita terisak.

Maka di pagi yang masih gelap gulita itu, Nita meninggalkan rumah yang selalu memberinya kekecewaan. Tas ransel berwarna hitam menemani kepergiannya.

“Pak Akbar…” Nita memanggil tukang kebun yang tinggal di pavilium kecil di samping bangunan utama rumah orang tua Nita. “Saya pergi ya Pak. Tolong berikan ini pada Mbak Ayu jika dia datang. Saya titip keluarga…” Nita memberikan sepucuk surat yang basah dengan air mata kepada Pak Akbar. Dengan berlinang air mata Ia meninggalkan rumah yang sudah ditempatinya sejak kecil.

“Aku tak bisa memastikan, apakah aku akan kembali? Luka ini terlalu menyakitkan untuk disayat lagi oleh orang yang sama. Akankah terobati rasa sakit ini? Entahlah…”

◊◊◊

“Assalamu’alaikum. Nita mana Rit?”

Rita mendengus. Konsentrasi menghayati naskah  skenario  sinetron yang sedang Ia baca pun buyar. Rita mndengus marah. “Ngapain ke sini? Nita gak ada. Udah mati!”

Ayu menatap Rita tajam. “Maksud kamu apa?”

“Udah dech, jangan ganggu aku! Gak ada waktu untuk ngurusin orang gak penting macam si  Nita itu.”

Dengan kesal Ayu meninggalkan Rita. Otaknya terus berpikir akan teka-teki di mana keberadaan sepupu tersayangnya itu. “Ke mana dia?”

“Neng Ayu…”  Panggil Pak Akbar.

“Iya. Ada apa Pak?”

“Ada titipan dari Non Nita. Tapi jangan baca di sini, nanti ketahuan Rita. Kasihan non Nita neng…”  Kata Pak Akbar Lirih. Sesekali Ia melihat ke dalam rumah, adakah yang mengawasinya dan Ayu.

“Astaghfirullah Al’azhim…” Terpecah sudah teka-teki di pikiran Ayu. “Nita pergi dari rumah ya Pak? Diusir?”

Pak Akbar mengangguk.

“Keluarga macam apa yang sedang ku hadapi ini? Yang selalu tega menyakiti keluarganya tanpa sebab…” Ayu berpamitan pada Pak Akbar. Ia geram melihat kelakuan Tante, Om dan sepupunya, Rita. Amarahnya naik ke ubun-ubun.

◊◊◊

Plaaaaaakkkkk!!!!

“Keterlaluan kamu Rit! Apa sich mau mu?!! Nita itu kakak kandungmu, anak kedua orang tuamu. Tega-teganya kamu memfitnahnya demi kepentingan tak bermoralmu itu! Harus apa lagi yang Nita korbankan untukmu hah??? Semua dia berikan agar kamu dan orang tuamu itu bahagia. Tapi kalian hanya orang-orang tak berhati yang tak pernah tau atinya menghargai.” Dengan gagah berani Ayu melabrak Rita di tengah-tengah sekolah. Semua orang mengalihkan pandangan ke pertunjukan gratis itu. Apalagi saat Ayu menampar Rita.

Rita memegang pipi kananny yang ditampar Ayu. “Maksud kamu apa hah? Jangan sembarangan menuduh yach! Aku akan bilang pada mama dan papa perbuatan kamu ini!”

Ayu tertawa mengejek. “Jadi hanya ini yang kamu bisa? Mengadu pada orang tua? Pengecut!”. Ayu menatap Rita tajam. “Jawab pertanyaanku! Shabu-shabu itu milik siapa?!!”

Rita terdiam. “Buka urusan kamu!”

“Jadi urusanku kalau menyangkut Nita.”

“Nita bukan siapa-siapa kamu, jadi gak usah ikut campur!”

“Nita sepupuku, dia juga sahabat terbaikku. Jika tidak ada yang membela, menyayangi dan menpercayainya… maka aku adalah orang pertama yang sayang, percaya dan membela dia. Aku gak menyangka gadis yang memiliki segalanya seperti kamu bisa-bisanya memfitnah kakak kandungnya yang selama ini selalu teraniaya. Hah? Benar-benar tak tau bersyukur! Dengar yach Clarita Haura Hidayat, aku tau shabu-shabu itu milikmu dan aku akan beberkan kebenaran ini pada semua orang. Maka… karir keartisanmu akan jatuh dan semua orang akan membuangmu seperti sampah. Ingat, seperti sampah! Camkan itu! Dasar Pakau!” Ayu tersenyum setelah meninggalkan Rita yang tercengang dengan beberapa patah kata yang dilontarkan Ayu beberapa detik yang lalu.

“Sialan!  Awas kalian berdua!” Rita meremas buku-bukanya dan berlari ke parkiran, mengambil mobil barunya dan tancap gas meninggalkan area sekolah.

◊◊◊

“Nit, pulanglah ke rumahmu. Mbak Rita dan orang tuamu sudah berubah…” Bujuk Ayu. Mereka sedang berada di kost-kost-an Nita yang kumuh.

“Gak mbak. Nita gak akan pernah menginjakkan kaki di rumah itu lagi.  Untuk kali ini, Nita gak akan mengalah! Maafkan Nita mbak…” Nita menunduk. Air mata mengalir deras.

Ayu terdiam. “Baiklah kalau mau kamu begitu. Mbak gak akan memaksa kamu Nit, mbak tau derita kamu. Hm, mbak pulang dulu yach! Jangan lupa, UAN tinggal beberapa hari lagi. Kamu harus mempertahankan prestasimu agar dapat beasiswa ke Ausie seperti yang selama ini kamu impikan…”

Mendengar kata ‘beasiswa’, Nita seperti terbangun dari mimpi buruk yang berkepanjangan. Ia memang selalu menginginkan beasiswa itu. Selalu…

“Siiip mbak.  Aku gak akan mengecewakan kok…” Nita tersenyum.

Ayu pun membalas senyuman Nita dengan lambaian tangan.

◊◊◊

UAN telah selesai 2 bulan yang lalu. Saat ini, Nita sedang sibuk mengurus keberangkatannya ke Australia dengan program Beasiswa yang dia ikuti beberapa saat lalu.

“Kapan berangkat Nit?”

“Dua hari lagi mbak.  Kok lupa? Khan udah jauh-jauh hari aku beritahu. Hm, jangan lupa lhoh mengantarku ke Bandara…” Nita memandang Ayu gemas.

“Iya…iya… mbak ingat kok. Oia, mama dan papamu sudah tau?”.

Nita menghentikan keiatannya melipat pakaian, Ia mengangkat bahu. “Kalau aku beri tahu pun gak  akan ada gunanya mbak. Ada atau tiada mereka sama saja bagiku.”

“Astaghfirullah Nita. Gak boleh su’uzhan begitu. Apapun dan bagaimana pun, mereka orang tuamu. Tanpa mereka, tiada guna beasiswa yang kamu idam-idamkan itu, karena kamu gak akan pernah terlahir di dunia.” Ayu mengelus kepala Nita. “Berpikir positif-lah tentang mereka…”

“Sudah  cukup  aku berbaik sangka pada mereka. Untuk kali ini aku gak  akan mengalah. Titik!”  Nita memakai kerudungnya dan berlari keluardari kost-kost-an.

Sebuah BMW berwarna hitam metallic berhenti di depan kost-kost-an. Mama dan papa keluar dari mobil dengan tergesa. Ada gurat penyesalan di wajah tua mereka.

“Mama! Papa!”  Pekik Nita panic sekaligus senang.

“Nita, mama dan papa berharap  agar kamu membatalkan kepergianmu ke Australia. Mama mohon nak…” Kata Mama setelah memeluk Nita.

Nita menggeleng tegas. “Tidak Ma! Nita gak akan melepaskan impian Nita itu…”

“Sayang, adikmu sedang membutuhkanmu.  Sekarang dia sedang direhab di pusat rehabilitasi penaggulangan Narkoba. Karirnya hancur, masa depannya hancur. Rita butuh kamu, papa dan mama juga butuh kamu di sini…” Kata Papa lembut. “Tolonglah nak…” Pinta Papa.

Rahang Nita mengeras. “Aku gak bisa! Maaf Ma, Pa, kali ini Nita gak akan menuruti permintaan kalian berdua. Aku gak mau mengungkit semua kejadian selama 18 tahun ini. Aku ingin mengubur semuanya dengan pergi jauh dari sumber penderitaanku ini. Sekali lagi Maaf, aku gak akan mengalah untuk mama, papa dan Rita. Gak untuk kali ini dan selamanya.”

Mama ingin berkata sesuatu, tapi dicegah oleh Papa.

“Nita mohon dengan sangat… jangan paksa Nita untuk mengalah, karena Nita gak akan pernah mau untuk mengalah seperti dulu. Nita mohon pengertian Mama dan Papa sekali ini saja, 18 tahun hanya sekali ini…”

Mama memeluk Nita, Ia menangis. “Maafkan Mama dan papa nak.  Kami telah  berlaku tidak  adil  padamu. Bahkan kami tidak punya alasan jika kamu Tanya kenapa. Mama bodoh nak!  Mama tidak bisa melihat berlian yang ada pada dirimu selama 18 tahun ini. Maafkan mama…”

“Kali ini Papa tidak akan memaksa kehendak kami padamu. Silakan kamu pergi dan raih semua impianmu, kalau perlu… raihlah dunia dan buktikan pada kami kalau kamu mampu bersaing dengan apapun. Tapi Papa mohon, Lihatlah adikmu  barang sejenak, Dia sangat merindukanmu…”

“Baiklah…” Ucap Nita parau.

Nita memeluk Mama dan Papa penuh haru. Selama 18 tahun, baru sore ini Nita merasakan kehangatan pelukan kedua orang tuanya. Dari balik jendela kamar Nita, Ayu tersenyum melihat kebahagiaan sepupu tersayangnya itu.

◊◊◊

Medan, 07 Mei 2005

(Ditulis dan diperbaharui pada 16 Desember 2009,

21:53  am)

“When there is a Will, There is a Way”

2 thoughts on “Haruskah Aku Mengalah?

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s