IPK


Kaisar memandang wajah lelaki paruh baya di depannya. Ada kekecewaan dan ketidak-puasan di raut wajah lelaki itu. Berkali-kali lelaki itu melihat sehelai kertas di tangannya, seakan-akan ia memiliki kekuatan sihir yang bisa mengubah kertas itu menjadi apapun. Tak lama kemudian lelaki itu mulai berbicara, kata-kata yang malas didengar oleh Kaisar pastinya. Setelah puas ‘menceramahi’ Kaisar, lelaki itu menghela nafas dan pergi menuju kamar.

Kaisar terdiam setelah ‘dicermahi’ oleh lelaki yang dipanggilnya Abah. Ia tak banyak bicara, hanya mengangguk dan meminta maaf seraya berjanji memperbaiki kesalahannya. Tapi Kaisar tidak mengerti mengapa Abah sebegitu marah karena IPK (indeks prestasi kumulatif)-nya turun. Padahal IPK-nya masih stabil seperti semester lalu, hanya turun 0,03 point dan itu tidak terlalu buruk dibandingkan teman-teman yang turun sampai 0,5 bahkan 1 point di semester 2 ini. Namun Kaisar tidak mau berdebat dengan sang ayah, pasti runyam urusannya. Walaupun di dalam hatinya Kaisar tidak terima akan kemarahan Abah yang tidak beralasan. Mengapa Abah marah padanya sedangkan Abah tidak pernah marah pada adiknya Raja saat nilai-nilai raport-nya merah dan bahkan hampir tidak naik kelas. Apa karena ia anak pertama? Seberat inikah beban yang harus ditanggungnya?

“Seharusnya Abah tidak perlu seperti itu pada Kaisar. Dia pasti sudah berusaha keras semester ini. Mungkin saja ada beberapa mata kuliah yang sulit baginya.” Ummi menasehati suaminya.

“Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Kalau Kaisar berusaha pasti dia bisa. Ini karena dia terlalu sering berkhayal dan bermimpi, maka nilai-nilainya turun. Entah apa yang ada dipikiran anak itu!” Abah bersikeras dengan pendapatnya.

Ummi pun diam. “Ya sudah, Abah jangan marah lagi. Kaisar khan sudah berjanji IPK-nya tidak akan turun semester depan…”

Abah tak menjawab dan pergi ke ruang kerjanya.

∏∏∏

“Abah… kalau ada rezeki dalam waktu dekat, Kaisar minta laptop ya. Sekarang banyak tugas yang harus dikerjakan dengan ketikan, kalau pergi ke rental atau warnet tidak efesien. Lagipula Kaisar sudah diterima menjadi editor di Koran lokal, jadi sangat butuh laptop yang bisa dibawa ke mana saja.” Kaisar mengajukan proposalnya pada Abah.

Seperti biasa Abah diam beberapa menit, membuat Kaisar salah tingkah dan ingin membatalkan permintaannya. “Nanti kamu malah keasyikan main game, nonton dan berkhayal. Apalagi sekarang sudah bekerja di Koran yang tidak jelas. Masih ingin jadi penulis hah? Tidak akan makmur hidupmu kalau jadi penulis. Apa untungnya?” Vonis Abah langsung.

“Kaisar janji semester 3 ini IPK pasti naik. Apalagi ada laptop, Kaisar pasti tambah semangat belajarnya…”

“Bagaimana pekerjaanmu itu?”

“Kalau Abah tidak suka Kaisar bekerja, nanti Kaisar resign dari kantor.”

“Terserah.” Dan Abah pun memutuskan pembicaraan sepihak.

Kaisar memandang punggung lelaki yang dihormati dan diseganinya itu. Entah apa yang membuat Abah begitu antipati padanya, semua yang ia kerjakan pasti salah di mata Abah. Berbeda dengan Raja yang selalu menjadi anak emas.

∏∏∏

Awan hitam menyelimuti kota Jakarta, membuat Kaisar marasa betah bermalas-malasan di ranjangnya yang empuk. Kaisar baru terlelap 3 jam yang lalu, tugas-tugas yang berjibun mengharuskannya untuk bergadang. Untung saja Abah sudah membelikannya laptop dan hari ini tidak ada jadwal kuliah, jadi Kaisar bisa bebas berekspresi di atas kasur di dalam kamar kost-nya yang sederhana. Saat ini sudah pukul 7 lewat seperempat. Kalau di rumahnya di Bandung, Abah pasti marah bila Kaisar bangun kesiangan. Tapi Abah hanya akan menepuk pipi Raja kalau ia bangun di atas pukul 10.

Mimpi indah Kaisar terputus karena dering ponselnya sendiri. Ternyata dari adiknya Raja.

“Lagi apa Lo?” Tanya Raja.

“Hm… baru siap mandi.” Jawab Kaisar bohong.

Lalu Raja bercerita bahwa Abah baru membelikannya laptop model terbaru. Katanya sih Abah dapat diskon 30% sehingga tergiur untuk membeli laptop itu. Setelah bercerita hal yang sebenarnya sangat tidak penting itu, Raja menutup percakapan. Lagi-lagi Kaisar rersentak dengan sikap Abah-nya. Bagaimana mungkin Abah membelikan Raja laptop dengan mudah, sedangkan ia harus menunggu 1 setengah tahun untuk mendapatkannya. Padahal Kaisar sangat membutuhkan laptop dan Raja yang masih kelas 3 SMA tidak terlalu membutuhkan, apalagi di rumah ada computer. Kaisar tak mau cengeng, tapi air mata itu luruh walau hanya setetes.

∏∏∏

Semester 5. Berarti Kaisar tidak sendiri lagi merantau karena Raja pun memilih untuk melanjutkan studi S1-nya di Jakarta. Namun Raja tidak seberuntung Kaisar yang lulus di universitas negeri paling bergengsi, akan tetapi Abah tetap bangga dengan memasukkannya di universitas swasta yang paling ‘wah’ di Jakarta.

Dengan kepindahan Raja ke Jakarta, otomatis Kaisar pun harus berbagi kamar dengan adiknya itu. Berhubung pondokan Kaisar kecil dan sederhana, maka Abah dan Ummi mencarikan mereka pondokan berfasilitas lengkap dan mewah yang dekat dengan kampus Raja. Ini sangat amazing bagi Raja, tapi tidak bagi Kaisar yang harus menempuh jarak hampir 1 jam menuju kampusnya, belum lagi ditambah macet.

Walaupun semua tidak adil, Kaisar tetap sabar dan tidak pernah protes. Baginya ini adalah cobaan hidup yang mau tak mau harus dilewati. Dari kecil Kaisar sudah merasakan berbedaan yang diciptakanoleh Abah dan Ummi. Sering Kaisar bertanya apakah dia anak pungut sehingga Abah dan Ummi lebih meng-istimewa=kan Raja. Ummi marah bila Kaisar bertanya, tapi Ummi tidak mampu berbuat apa-apa saat Abah selalu memanjakan dan membela Raja. Lama-lama Kaisar bosan dan mulai menerima takdirnya. Terkadang ada perasaan iri dengan nasib baik Raja, semua ditepis Kaisar karena bagaimana pun Raja, Abah dan Ummi tetap keluarga kandungnya  seperti apapun mereka.

∏∏∏

“Adek Lo bawa teman-temannya lagi ke kos-kosan?”

Kaisar mengangguk. “Makanya Gue numpang di sini ya…”

“Sampai kapan Lo diam dengan perbuatannya? Adek Lo kelewatan banget tuh!”

“Ya udah lah, tidak usah dibahas. Gue ngantuk.”

Dewo sahabat Kaisar terperangah. “Kalau Gue jadi Lo, udah Gue gampar dia. Nggak peduli anak emas atau perak atau perunggu.”

Kaisar tersenyum. “Makanya Lo jadi anak tunggal. Nggak kebanyang deh kalo Lo punya saudara…”

“Sialan Lo Sar!” Dewo menimpuk Kaisar dengan bantal.

Namun Kaisar terlalu lelah untuk membalas, ia terlelap dengan senyuman di bibir.

∏∏∏

Abah duduk di depan Kaisar dengan wajah masam. Dalam hitungan detik Abah pasti akan memulai ‘ceramah’ dan Kaisar akan dipaksa untuk mendengarnya walaupun ia enggan. Abah meninggalkan anak sulungnya setelah mengancam akan menarik semua fasilitas Kaisar kalau IPK-nya semester depan anjlok. Fasilitas yang mana? Hanya sebuah sepeda motor butut, sebuah laptop yang out model dan ponsel N-76 yang sudah ‘berumur’.

“Terima kasih Abah. Setidaknya Abah memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Semua kemarahan dan ketegasan Abah akan aku jadikan modal untuk masa depanku nanti.”

∏∏∏

“Bokap Lo ngamuk karna IPK Lo turun? Cuma 0,01 doang? Gila benar bokop Lo!”

Kaisar menepuk bahu Dewo. “Kenapa Lo yang tensi? Gue malah senang bokap marah. Itu tandanya Beliau peduli dan sayang sama Gue. Bokap pengen Gue kuat seperti dia, sehingga Gue berhasil nantinya…”

“Lo bicara begini Cuma buat menyenangkan hati Lo yang sebenarnya nggak bisa menerima ketidak adilan ini. Bokap Lo marah besar karna IPK Lo anjlok, sementara adek Lo yang IP-nya Cuma 1 koma sekian hanya ditepuk dan disuruh belajar lebih rajin. Nggak adil banget!”

“Sikap dan cara memperlakukan orang itu berbeda-beda. Mungkin cara bokap marah adalah cara untuk menyemangati gue. Buktinya selama ini gue berhasil karena bokap yang tegas dan keras sama gue.”

Dewo mengangkat bahu. “Terserah Lo deh! Lo yang menjalani hidup ini. Sebagai sahabat gue hanya menampung dan sedikit memberi saran.”

“Thanks sob…” Kaisar merangkul Dewo.

∏∏∏

Kaisar memandangi pigura di atas meja belajar. Seumur hidupnya, hanya ini photo lengkap-nya dengan keluarga. Ada Abah, Ummi, Raja dan dirinya yang tersenyum menghadap kamera. Satu-satunya photo yang mengingatkan bahwa ia masih punya keluarga walaupun di mata Abah dan Ummi hanya Raja yang tampak. Kaisar melamunkan seandainya yang menjadi anak pertama adalah Raja, mungkin ia tak akan menjadi yang kedua. Apa salahnya menjadi anak sulung? Yang salah hanyalah anggapan orang tuanya yang menganggap kehadiran Raja sebagai dewa penolong yang menaikkan derajat keluarga miskin menjadi kaya raya. 20 tahun yang lalu saat Kaisar lahir, keluarganya masih sangat miskin dan papa. Dua tahun kemudian Raja lahir, keajaiban itu pun datang, usaha dodol Abah dan Ummi melejit. Mereka pun kaya raya sampai saat ini. Raja adalah dewa dalam keluarga mereka, sedangkan Kaisar adalah seorang anak penyakitan, selalu gugup dan larut dalam lamunan. Sekuat apa pun Kaisar berusaha untuk membanggakan Abah dan Ummi agar mereka ‘meliriknya’, mereka tetap akan berpaling dan membuang muka.

Lagi-lagi Kaisar berandai-andai. Tetap takkan ada yang berubah! Abah tetap lah Abah yang dulu. Ummi masih Ummi yang dulu. Raja pun begitu. Tak ada yang berubah, sama seperti kemarahan Abah karena IPK Kaisar turun di semester ini. Dan Abah tidak pernah protes dengan IPK Raja yang jauh di bawah Kaisar. Bahkan Ayah menyemangati putra bungsunya itu dengan sebuah Toyota Rush Hitam Metalic.

“Sebuah mobil agar kamu semakin giat belajar…” Kata Abah pada si anak emas.

Sedangkan Kaisar? Gigit jari.

∏∏∏

“Aku memang belum menjadi apa-apa. Bahkan S1-ku belum tuntas entah karena apa. Abah dan Ummi mungkin kecewa, aku pun begitu. Tapi akan ku buktikan pada dunia kalau aku pasti bisa! Aku tidak butuh barang-barang mahal. Aku tidak butuh kamar ber-AC. Aku tak butuh mobil mewah yang membuat banyak wanita terkagum-kagum. Aku hanya butuh Abah dan Ummi melirikku, cukup 5 menit untuk mengetahui apa yang aku mau. Dan, andai aku bisa memutar waktu mungkin aku tak ingin dilahirkan menjadi si sulung yang akan selau memikul beban keluarga tanpa tau seperti apa kekuatanku. Andai… dan aku mulai berandai-andai…”

∏∏∏

Lagi-lagi Kaisar tersenyum saat Raja mendapat kiriman dari Ummi. Sebuah sepatu basket sekarga 2 juta. Untuk apa? Bukankah sepatu basket yang sebelum, sebelum, sebelum, dan sebelumnya lagi masih bagus?

“Yach… mungkin inilah kegiatan si anak emas untuk meluangkan waktu senggangnya…” Kaisar tertawa. Tak tau untuk apa.

∏∏∏

My Room, 16022011 – 21:20 WIB

“Nothing Special from this Story. Just for Joke

in My Jobless. Thanks for Reading”

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s