Kemelut Jiwa


Salifah menatap gadis manis di hadapannya dengan tatapan tak percaya. “Benarkah ini Selvia kembaranku?” Tanyanya di dalam hati.

“Hello Salifah! Koq bengong?” Selvia tersenyum manis, menunjukkan gigi – gigi yang berderet rapi dan bersih.

“Be… benarkah kau Selvia kembaranku?”

“Ya benar donk. Kamu kenapa sich? Melihatku seperti melihat hantu saja!” Selvia masih tersenyum menawan.

“Kau sungguh berubah Via. Mana jubah dan kerudungmu?” Tanya Salifah tajam.

“Oh itu, sudah kutinggalkan di Paris. Kurasa, aku tak perlu memakainya lagi. Sumpek! Panas! Pokoknya nggak banget dech. Lagipula sekarang dunia udah modern, jadi nggak perlu lagi memakai pakaian zaman begituan.” Jawab Selvia enteng.

Namun tidak dengan Salifah. Emosinya langsung saja meningkat menuju stadium lanjut. “Kau keterlaluan Via! Tunggu sampai Papa dan Mama pulang!” Salifah menutup pintu dengan kasar. Ia sama sekali tidak mengizinkan Selvia memasuki rumah yang telah bertahun-tahun ditinggalkan. “Pulang dari Paris bukannya membuat orang tua bangga, malah membuat mereka kecewa. Sia – sia mereka membiayaimu Via. Mengapa kau tega menoreh luka pada kami yang selalu menanti kepulanganmu? Tega – teganya kau menanggalkan pakaian taqwamu karena alasan sepele itu.” Tanpa terasa air mata Salifah mengalir mewakili kegetiran hatinya.

***

            Empat tahun yang lalu…

Ketika itu Salifah dan Selvia baru lulus dari sekolah menengah atas.

“Ma… Pa… Selvia dapat beasiswa ke Paris…” Selvia berteriak riang measuki rumahnya dengan mengacungkan sebuah amplop coklat.

Mama dan Papa menyambut Selvia dengan suka cita. Tak lama kemudian, Salifah datang dengan sebuah amplop putih di tangannya.

“Ma, Pa! Salifah dapat beasiswa ke Belanda. Ini suratnya…” Amplop putih di tangan Salifah segera berpindah ke tangan Papa.

“Alhamdulillah… si kembar Papa mendapat beasiswa. Papa bangga pada kalian…” Papa memeluk kedua putrinya yang kembar identik.

Salifah dan Selvia berpandangan. Seulas senyum menghiasi wajah mereka.

“Kapan kalian berangkat? Via? Ifa?” Tanya Mama seraya membelai rambut sepinggang Salifah yang tergerai indah.

Saai itu Salifah belum mengenakan busana muslimah. Ia memakainya dua tahun kemudian. Sedangkan Selvia sudah berbusana muslimah sejak SMP.

“Ifa berangkat bulan depan Ma.” Jawab Salifah lembut.

“Via kapan?” Tanya Papa.

Via menghela nafas. “Via berangkat lebih cepat dari Ifa. Pengumumannya memang telat sampai ke sekolah, jadi Via harus buru – buru mempersiapkan semuanya karena Via berangkan dua minggu lagi.” Mata Via berkaca – kaca.

“Cepat sekali. Apa nggak bisa ditunda Vi?” Mama bertanya dengan gelisah, berharap kepergian Via bisa ditunda.

“Nggak bisa Ma. Via sudah membicarakan semua ini sama pihak sekolah dan panitia penyelenggara. Keputusannya sudah final. Seharusnya seminggu setelah kelulusan para peserta yang mendapat beasiswa sudah harus berkumpul di kedutaan.” Via membelai tangan Mama. “Jangan sedih ya Ma. Ini semua untuk Mama dan Papa koq.” Via berusaha tersenyum.

“Yah apa boleh buat. Ini demi masa depan Via, juga Ifa. Walaupun Mama harus berpisah dengan kalian dalam jangka waktu yang nggak bisa Mama hitung dengan jari.”

Salifah menasehati wanita tersayangnya agar tidak sedih atas kepergian mereka ke negeri orang sebentar lagi. Mamapun mengangguk lemah. Mama menatap kedua putrinya, sekilas mereka tampak mirip, tetapi sebenarnya mereka memiliki perbedaan yang mencolok. Hidung Salifah lebih mancung daripada hidung Selvia. Selain itu Selvia memiliki tahi lalat di atas bibirnya.

Tak lama kemudian, Selvia berpamitan untuk mengurus paspornya sendiri karena ia ingin mandiri. Sedangkan pasport Salifah sudah diurus oleh pihak sekolah.

Dengan gamis pink dan kerudung putihnya, Selvia meninggalkan rumah

***

Dua minggu kemudian…

Isak tangis menghantar Selvia di Bandara Polonia. Tepat pukul 10.15 WIB, pesawat Garuda Indonesia yang membawa Selvia ke Jakarta lepas landas meninggalkan lambaian tangan orang – orang terkasih yang ditinggalkan di tanah air. Tiga hari menjalani pelatihan di Jakarta, barulah Selvia dan beberapa calon mahasiswa pemegang beasiswa itu berangkat menuju Paris.

Dan dua minggu kemudian, saat Salifah sedang sibuk mempersiapkan kepergiannya ke Belanda, kejadian naas itu datang. Salifah terserang demam berdarah yang membuat kepergiannya ke negara impian batal dan tinggal kenangan.

Akhirnya, Salifah meneruskan studi-nya di Universitas Sumatera Utara yang lebih dikenal dengan sebutan USU. Di sanalah ia mendapat hidayah dan mulai berbusana muslimah.

Ketika Salifah mengubur semua kenangannya dan cita – cita untuk menimba ilmu ke negri orang, Ia yakin Allah telah memberinya pilihan terbaik. Di balik semua itu, ada rahasia terbesar Allah yang suatu saat akan terkuak…

***

Kembali ke masa datang!

“Pa, Ma, Via sudang pulang. Papa dan Mama buruan pulang yach.” Setelah berbicara beberapa patah kata dengan kedua orangtuanya, Salifahpun meletakkan horn telepon di tempatnya dengan hati yang getir. Ia berusaha menahan gejolak jiwanya seraya menunggu Papa dan Mama.

Kurang lebih satu jam kemudian, Papa dan Mama tiba di rumah. Mereka sangat terkejut ketika Salifah mengatakan bahwasanya Selvia menginap di Hotel Danau Toba. Setelah shalat Ashar, merekapun berangkat menuju tempat penginapan Selvia. Mama dan Papa tampak bahagia menanti pertemuan mereka dengan Selvia. Gurat – gurat rindu menghiasi wajah mereka yang mulai tampak berumur. Sedangkan Salifah, hanya dapat berdo’a di dalam hatinya agar semua baik – baik saja.

***

Hotel Danau Toba selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai kota dan negara. Begitu sampai di lantai dasar hotel, Salifah dan kedua orangtuanya langsung menuju meja resepsionis.

“Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang resepsionis ramah.

“Saya ingin tau mas, kamar Selviana Sari di lantai berapa yach?” Tanya Salifah tak kalah ramah.

Resepsionis yang bernama Bagas itu megecek data di komputernya. “Maaf mbak, di sini tidak ada tamu yang bernama Selviana Sari.” Ucapnya.

“Nggak mungkin Mas. Jelas-jelas anak saya mengatakan bahwasanya dia menginap di hotel ini. Benar khan Fa?” Papa mendekati sang resepsionis. “Coba mas chek lagi.” Perintah Papa tak sabar.

Dengan sopan dan cekatan resepsionis tersebut mengecek lagi data-data pengunjung di komputernya. “Tidak ada pak. Mungkin anak bapak memakai nama lain. Apa ada nama panggilannya pak?”

“Via. Coba mas chek.” Suruh salifah.

“Hm, di sini ada seorang tamu yang menginap, namanya Via Christina. Apa itu orang yang mbak maksud?”

Mama dan Papa tampak ingin protes. Langsung salifah bertanya di mana kamar tamu yang dimaksud oleh sang resepsionis. Salifahpun merangkul kedua orangtuanya menuju lift setelah mengucapkan terima kasih kepada sang resepsionis tampan tersebut. Tak dihiraukannya pertanyaan mama dan papa. Toh mereka juga akan mendapat jawabannya setelah bertemu dengan Via.

***

Ting…tong…

Untuk ketiga kalinya Salifah menekan bel yang ada di pintu. Mama dan papa sudah mulai gelisah, namun tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam kamar hotel mewah tersebut.

“Fa, lebih baik kita pulang saja, sudah hampir maghrib. Mama nggak yakin kalau kamar ini ditempati oleh Via. Mana mungkin Via mengganti namanya seperti itu.” Mama berkata lembut. Namun Salifah tidak bergeming.

Ketika mama hendak menarik tangan Salifah, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang gadis cantik berpiyama menyembul dari balik pintu. Kalung berbandul salib menghiasi leher jenjangnya. Dari sorot mata indahnya terpancar kerinduan, kekalutan dan penyesalan.

“Segala sesuatu mungkin saja terjadi.” Ucap Salifah tajam bagai belati yang siap menghujam ke jantung Via. “Selamat sore nona Via Christina. Mama dan Papa-mu datang, bukannya kau sangat merindukan mereka? Mana sambutanmu? Tidak inginkah kau beri mereka peluk dan cium?”

Mama dan Papa memandang Via tanpa berkedip. Benarkah gadis di depan mereka adalah Selvia? Mama dan Papa kecewa!

Plakkkkkkkkk!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Via.

“Anak durhaka! Nggak ta diri! Murtad! Inikah balasanmu terhadap orangtua yang melahirkan dan membesarkanmu?!!” Kata Papa berang.

“Pa, Ma, Via…” Via memegang tangan Papa yang langsung ditepis oleh Papa dengan kasar.

“Mulai saat ini, saya haramkan kamu memanggil saya dan istri saya dengan sebutan Mama dan Papa. Mulai saat ini, kamu bukan anak saya! Anak durhaka!”

“Pa…” Salifah mencoba membujuk papa.

“Jangan bicara Ifa, Papa tau apa yang harus papa lakukan.”

Via berlutut di kaki papa, air mata membanjiri wajah cantiknya. “Pa, Ma, maafkan Via…”

“Jauhkan tanganmu dari suami saya!” Mama menepis tangan Via. “Saya menyesal telah melahirkan anak durhaka sepertimu!” Ucap Mama pedih.

Salifah merangkul kedua orangtuanya. “Pa, Ma, sudahlah…, mari kita pulang.”

Tanpa sepatah katapun papa beranjak meninggalkan kamar Via. Mama menagis tersedu-sedu di pelukan Salifah.

Via memandang kepergian ketiga orang terkasihnya. “Maafkan aku…”

***

Hujan baru saja berhenti ketika seseorang mengetuk pintu rumah keluarga Maimun. Salifah yang sedang membaca di ruang tamu langsung membukakan pintu. Seorang pemuda berpakaian rapi berwarna orange tersenyum, ia menyerahkan sebuah amplop.

Setelah berbasa-basi sedikit dan menandatangani tanda terima, Salifah menemui kedua orangtuanya yang sedang bersantai di halaman belakang. “Pa, Ma, ada surat nich…”

“Dari siapa sayang?” Tanya Papa.

Salifah menggeleng. “Nggak tau Pa. No name”

Mamapun mengambil amplop dari tangan Salifah dan membukanya dengan penasaran, tak lama kemudian mama membaca surat misterius tersebut.

Medan, 07 Mai 2009

Kepada: Mama, Papa dan Salifah.

Dengan kedatangan surat ini, Via memohon maaf sebesar-besarnya kepada Mama, Papa dan Ifa karena telah menecewakan kalian. Via juga telah mencoreng nama baik Papa dan Mama.

Mama dan Salifah menangis. Kertas putih di tangan Mama berpindah ke tangan Papa.

Tak pernah Via bermaksud untuk mengecewakan, bahkan menyakiti hati orang-orang yang Via sayangi. Semua  ini kesalahan Via, semua ini adalah kelalaian Via dan kecerobohan Via. Akhirnya semua ini terjadi dan Via terima semuanya dengan lapang dada.

Tiga tahun yang lalu, saat Via baru tiba di Paris. Seorang teman mengenalkan Via pada sosok ‘Diego’ yang tampan, ramah dan santun. Walaupun kami berbeda suku, ras, negara bahkan agama, kami tetap dapat berteman akrab dan ‘Diego’ pulalah yang membantu Via selama di Paris. Keakraban yang semula Via anggap sebagai persahabatan akhirnya berubah jadi cinta yang akhirnya menjerumuskan dan memaksa Via mengikuti keyakinan ‘Diego’. Via sangat mencintainya, sampai-sampai Via tak ingin melepaskannya. Selalu ingin bersamanya…

Via tau ini salah dan Via menerima semua konsekuensinya apapun yang terjadi. Walaupun Mama, Papa dan Ifa akan mengusir Via, semua Via terima dengan lapang dada. Via tak ingin apapun dari kalian, Via hanya ingin maaf dan doa kalian saat Via melahirkan nanti, karena sekarang Via sedang mengandung buah cinta Via dan ‘Diego’.

Maaf… hanya itu yang bisa Via ucapkan. Sekali lagi maaf…

Papa meremas surat Via dan membuangnya ke tong sampah. “Anak durhaka! Tau apa dia tentang cinta? Dia pikir bisa hidup dengan cinta hah??? Sampai kapanpun Papa tidak akan memaafkan anak durhaka kurang ajar itu! Kalaupun dia mati, biar anak haramnya itu ikut mati…”

“Papa!” Mama memeluk Papa, matanya menatap Papa memohon. “Jangan seperti itu. Via itu anak kita Pa, darah daging kita dan anaknya adalah cucu kita…” Mama terisak.

Papa terperangah. Tanpa suara ia memeluk mama. “Maaf Ma, Papa belum bisa memaafkannya…” Papa masuk ke kamar.

Salifah memeluk mama yang semakin terisak. “Ma, kita serahkan semua pada yang maha kuasa. Karena hanya Ia yang maha tau dan maha membolak-balikkan hati manusia…”

Mama menatap Salifah dan mengecup keningnya seraya tersenyum getir. “Makasih nak. Tapi mama butuh waktu, butuh proses…”

Salifah menggenggam tangan sang mama, “Allah menciptakan bumi melalui proses ma, apalagi kita yang hanya manusia ini…”

“Kamu benar nak. Mama nggak tau berkata dan berbuat apa, semua Mama serahkan kepada Allah. Hm, kamu istirahatlah… Mama juga akan beristirahat. Besok Mama akan berbicara denagn Papa mu…”

Salifah mencium pipi sang mama dan beranjak ke kamarnya. Dalam diam ia menangis.

***

Paris,

“Hello honey. How are U? And how our sweety baby?” Seorang pemuda tampan dan gagah mengelus perut Via yang membuncit. Ia tampak bahagia dan tak sabar menunggu kelahiran buah hatinya. Ia Diego.

“Fine. Baby kita juga baik, tapi dia sudah mulai aktif…” Jawab Via lembut, sesekali ia meringis merasakan tendangan di rahimnya.

“Ouh! Apa terasa sakit sayang? Apa perlu dibawa ke dokter? Kamu harus banyak istirahat, jangan stres dan jangan lupa meminum vitaminmu. Aku akan menjagamu di sini…” Diego tampak khuatir.

Via tersenyum. Inilah yang sangat disukainya dari Diego, sangat perhatian. “Tidak apa-apa sayang, aku baik-baik saja. Kembalilah bekerja.”

“Are U sure?”

Via tertawa. “Percayalah…”

“Baiklah. Memang hari ini ada rapat penting dengan beberapa pengusaha di kota ini, tapi kalau ada apa-apa kamu harus segera me…”

Via mencium pipi Diego. “Don’t worry honey, I’m fine here. Ok?”

“Oke. Kalau begitu aku berangkat. Love U…”

“Love U too…”

Diego meraih handel pintu, namun matanya menatap sebuah pigura photo di atas meja. “Oh iya, sudah saatnya kamu membuang dan mengubur semua kenanganmu di Indonesia. Kamu tak butuh mereka, kamu punya aku cinta…”

Via tak menjawab perkataan Diego karena pasti Diego tidak membutuhkan jawaban. Dengan cepat ia mengambil pigura yang berisi satu-satunya kenangan Via dengan keluarganya. “Diego benar, yang aku butuhkan hanya Diego dan sebentar lagi keluarga kami akan lengkap dengan kehadiran buah hati ini…” Via mengusap tiga wajah yang tersenyum ceria di dalam photo itu, air mata menggenangi mata indahnya. “Sampai kapanpun aku sayang kalian dan mengharapkan maaf kalian…” Pigura photo tak berdosa itu hancur berkeping-keping setelah Via menghempaskannya ke jalanan…

***

Indonesia,

Salifah terbangun dari tidur. Nafasnya tersengal-sengal seperti baru saja dikejar oleh ribuan orang dan tak dapat tempat yang aman untuk bersembunyi. Ia pun berulang kali mengucap Asma Allah. Segera Salifah mengambil wudhu’ dan bermunajat menghadap Rabb dengan bergelimangan air mata. Ada keluh kesah di sana. Bukan menghujat Tuhan, tetapi meminta satu harapan agar keluarganya dapat berkumpul seperti dulu, bersama Via tentunya…

Amin Ya Rabbal ‘Alamin…

***

Banda Atjeh, 140909-21:38 pm

2 thoughts on “Kemelut Jiwa

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s