Kiat Agar Cerita Fiksi Tidak Terkesan Menggurui


Posted by Redaksi on 03 May 2007 at 05:28 pm | Tagged as: Fiksi, Kiat Penulisan

Saya sangat setuju, bahwa setiap karya sastra seharusnya mengandung pesan moral yang baik. Atau minimal, ada hikmah positif yang didapatkan pembaca setelah mereka melahap sebuah cerita.

Masalahnya, bagaimana cara menyelipkan hikmah atau pesan moral tersebut secara manis, dan tidak terkesan menggurui?

Banyak sekali penulis, khususnya pemula, yang terlalu bersemangat dalam memasukkan unsur-unsur kebaikan (boleh juga disebut dakwah) di dalam karya fiksi mereka. Akibatnya sangat tragis; karya mereka tak ubahnya seperti khutbah Jumat. Sungguh, ini adalah kenyataan yang sangat memalukan.

Mari kita buat sebuah analisis sederhana. Sebuah analogi yang semoga bisa dicerna dengan mudah.

Ketika berangkat ke bioskop, apa yang kamu cari? Tentu saja, sebuah film yang diharapkan dapat MENGHIBUR kamu, bukan? Ketika membaca sebuah buku berjudul “Cara Merakit Komputer”, apa yang kamu cari? Tentu saja, kamu ingin belajar tentang cara merakit komputer, bukan?

Coba bayangkan, ketika kamu tiba di bioskop, tak ada film yang diputar. Justru, di depan layar putih muncul seorang ustadz yang siap menyampaikan ceramah agama buat seluruh hadirin. Lantas, ketika menikmati buku “Cara Merakit Komputer”, seketika kamu sadar bahwa buku itu ternyata berisi kisah nyata seorang pengusaha yang sukses menjual komputer rakitan. Sama sekali tak ada penjelasan tentang cara merakit komputer!

Bagaimana perasaan kamu? Puaskah atau kecewa?

Ya, mungkin saja kamu senang mendengarkan ceramah agama. Kamu juga senang membaca kisah sukses seorang pengusaha komputer. Masalahnya, kamu membaca hal-hal itu pada saat yang tidak tepat, yakni ketika kamu sedang menginginkan hal-hal lain.

Itulah analoginya. Sekarang kita kembali ke dunia fiksi. Coba sekarang posisikan diri kamu sebagai pembaca, bukan penulis. Bayangkanlah bahwa kamu sedang masuk ke sebuah toko buku untuk membeli novel.

Apakah tujuan kamu membeli novel tersebut? Untuk mencari hiburan atau tambahan pengetahuan? Tentu saja, yang kamu cari adalah hiburan. Kalau hendak mencari tambahan pengetahuan, kamu tentu membeli buku “Kiat Memelihara Kucing” atau “Sejarah Yunani Kuno.”

Jadi, sekarang sudah jelas, bukan? Tujuan orang membaca karya fiksi (cerpen, novel, dan sebagainya) adalah MENCARI HIBURAN, bukan yang lain.

Maka, penulis yang baik seharusnya memberikan apa yang dicari oleh pembaca, yakni HIBURAN. Jangan sekali-kali membuat mereka kecewa, antara lain dengan menyelipkan khutbah Jumat, atau penjelasan teknis tentang cara merakit komputer.

* * *

            Bagaimana dengan statement saya di awal tulisan ini? Saya setuju bahwa karya sastra haruslah memuat pesan moral atau hikmah yang positif. Bukankah ini bertentangan dengan pertanyaan pada alinea di atas?

Oh, sebenarnya tidak! Pembicaraan kita belum selesai. Mentang-mentang cerita fiksi adalah media hiburan, bukan berarti di dalamnya tidak boleh ada pesan moral, informasi tentang cara merakit komputer, dan sebagainya. Boleh-boleh saja. Tapi berhubung ini adalah karya fiksi, maka sampaikan semua itu dengan CARA YANG MENGHIBUR .

Dengan formula seperti ini, Insya Allah pembaca tak akan kecewa jika novel kamu penuh oleh muatan khutbah Jumat atau penjelasan teknis tentang cara merakit komputer. Mereka justru terhibur, di sisi lain mereka merasa senang karena mendapatkan hal-hal lain yang bermanfaat.

* * *

Oke, saya kini tahu bagaimana posisi pesan moral dalam sebuah cerita. Tapi bagaimana cara menyelipkannya?

Baiklah, kita akan membahas hal ini sekarang. Sebenarnya, caranya tidaklah terlalu sulit.

1. Sampaikan nasehat apapun melalui tokoh cerita, jangan melalui si penulis.

Sebagai contoh, perhatikanlah kalimat ini:

Si Ali dengan santainya menenggak minuman alkohol itu. Padahal minuman seperti itu sebenarnya haram dan berdosa kalau diminum. Sungguh tidak layak bagi seorang Muslim untuk menimum alkohol. Bahkan dalam Al Quran pun sudah dijelaskan dengan tegas, bahwa….

Oh, jangan diteruskan! Jika pembaca menemukan kalimat-kalimat seperti itu di dalam sebuah naskah khutbah Jumat, saya yakin mereka tak akan kecewa. Tapi di dalam sebuah novel atau cerpen? Please deh! Ini benar-benar memalukan.

Sekarang, coba bandingkan penggalan cerita di atas dengan yang berikut ini:

Si Ali dengan santainya menenggak alkohol itu hingga habis. Dia memang tahu bahwa alkohol itu haram. Tapi dia sedang tak peduli.

Coba simak. Walau pesan yang terkandung di dalamnya masih sama dengan contoh sebelumnya, kita merasakan bahwa contoh yang kedua ini lebih manis. Kenapa? Sebab informasi mengenai alkohol yang haram itu berasal dari “pendapat si Ali”, bukan “pendapat si penulis”.

Memang pada kenyataannya, kalimat kedua ditulis oleh si penulis juga. Tapi bagi pembaca, kalimat itu adalah suara hati si Ali, bukan suara hati si penulis.

2. Sampaikan lewat jalinan cerita, jangan secara verbal

Mari kita berangkat dari sebuah contoh cerita.

Seorang anak pamit pada ibunya untuk pergi ke rumah temannya. Si ibu mengijinkan sambil berpesan, “Nanti kalau mau menyeberang, lihat kiri-kanan dulu ya, Nak.”

“Baik, Bu,” sahut si anak.

Si anak pun berangkat. Ketika tiba di jalan raya yang sangat ramai, ia langsung menyeberang tanpa melihat kiri-kanan dulu. Pada saat itu, sebuah truk sedang melintas di jalan dengan kecepatan tinggi. Si sopir tidak sempat mengerem ketika si anak melintas di depannya. Dan kecelakaan itu pun tak terhindarkan. Si anak tertabrak dan tewas saat itu juga.

Cerita di atas hanyalah rangkaian peristiwa demi peristiwa. Tak ada pesan moral yang disampaikan secara verbal. Tapi saya yakin kamu setuju, bahwa sebenarnya ada sebuah pesan moral di balik cerita tersebut.

Terkadang, seorang penulis memang tak perlu terlalu boros mengumbar kalimat-kalimat verbal. Sebab rangkaian cerita demi cerita pun sebenarnya sudah mengandung pesan tertentu. Biarkan pembaca sendiri yang membuat kesimpulan. Kita tak perlu mengajari mereka sesuatu yang sebenarnya sudah mereka ketahui.

Kamu mungkin berkata, “Jika tidak saya tulis pesannya secara verbal, bisa-bisa nanti pembaca punya kesimpulan dan persepsi yang berbeda dengan apa yang saya inginkan. Bagaimana, dong?”

Saran saya, berhentilah menjadi penulis yang otoriter. Pembaca adalah makhluk merdeka. Biarkan mereka membuat kesimpulan atau persepsi apapun yang mereka inginkan. Kalau kamu menginginkan semua orang punya pendapat dan persepsi yang sama seperti kamu, nanti kamu justru akan capek sendiri.

3. Sesuaikan dengan karakter tokoh

Di dalam sebuah cerita fiksi, tentu amat wajar jika setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda-beda.Adatokoh yang pendiam, cerewet, dermawan, pelit, kejam, peragu, pemalu, norak, pembohong, dan seterusnya.

Jika kamu hendak menyampaikan pesan moral lewat pendapat atau ucapan tokoh-tokoh rekaan kamu, maka sampaikanlah ia lewat tokoh yang tepat.

Saya pernah membaca sebuah cerpen yang mengisahkan tentang seorang wanita nakal yang menggoda seorang pria baik-baik untuk berzinah. Si pria menolak ajakan itu dan menasehati si wanita nakal untuk segera bertaubat.

Karena cara si pria sangat meyakinkan, si wanita nakal merasa tersentuh, dan dia bertaubat saat itu juga.

Si wanita nakal pun berkata, “Saya menyesal, Pak. Saya melakukan semua ini untuk mencari uang. Sekarang saya sadar, yang saya lakukan selama ini merupakan dosa besar. Allah SWT bahkan amat murka terhadap para pezinah seperti saya ini. Astaghfirullah al adzim…. Kenapa selama ini saya lalai? Padahal di dalam Al Quran surah … ayat… Allah SWT telah jelas-jelas berfirman bahwa… bla.. bla.. bla….”

Duhai, di manakah karakter si wanita nakal? Memang, boleh-boleh saja ia bertaubat setelah dinasehati oleh si pria. Tapi apakah wajar jika si wanita mengungkapkan penyesalannya dengan cara yang amat religius seperti itu? Padahal selama ini, ia adalah seorang manusia yang tak pernah mengenal agama, hidupnya penuh dengan maksiat.

Memang, banyak penulis pemula yang terlalu bersemangat dalam menyampaikan pesan moral. Saking semangatnya, mereka menempatkan hal itu di mana saja secara sembarangan. Akibatnya, yang terjadi adalah kelucuan, kerancuan, dan cerita yang tidak masuk akal.

Bagaimanapun, seorang penulis harus menjaga kewajaran sebuah cerita. Walau hanya cerita fiksi, kita tetap harus memperhatikan unsur logika dari karya-karya kita. Jangan sampai pembaca mengerutkan kening sambil berkata, “Kok pelacur yang amat bejat itu tiba-tiba bisa berbicara sebagaimana layaknya seorang ustadzah?”

Memang seorang pelacur bisa bertaubat dan akhirnya menjadi ustadzah. Tapi semua itu tentu perlu proses, bukan?

Ucapan si wanita nakal di atas sebenarnya ucapan yang sangat baik. Tapi karena ia keluar dari mulut tokoh yang tidak tepat, maka ia pun menjadi rancu.

4. Sesuaikan dengan tuntutan cerita

Faktanya, banyak sekali penulis – khususnya pemula – yang memasukkan unsur tertentu ke dalam sebuah cerita karena didorong oleh KEINGINAN atau AMBISI pribadinya semata, bukan karena tuntutan cerita.

Baru-baru ini saya membaca sebuah cerpen yang menurut saya agak aneh. Seorang pemuda (si A) yang tinggal diJakartatertarik pada seorang perempuan bernama B. Si B ini mengenakan jilbab, tapi si A tidak tahu jenis pakaian apakah itu.

Pertanyaan pertama: Apakah mungkin masih ada orang di Jakarta yang belum pernah melihat perempuan berjilbab?

Si A pun akhirnya bisa bertemu dengan si B. Mereka berkenalan. Si A bertanya, “Boleh saya tahu pakaian apakah yang kamu kenakan? Mengapa kamu mengenakannya? Apakah tidak panas? Apa tidak menghambat aktivitas kamu?”

Pertanyaan kedua: Apakah lazim jika kita bertanya sejauh itu terhadap orang yang baru saja kita kenal? Apalagi jika kenalan baru tersebut adalah lawan jenis kita?

Mendengar pertanyaan si A, si B langsung memberikan penjelasan panjang lebar tentang ajaran Islam soal kewajiban menutup aurat. Tak lupa, ia mengutip surah An Nur ayat 31 yang berisi perintah kepada para muslimah untuk menutup aurat.

Pertanyaan ketiga: Sebenarnya pertanyaan ini saya tujukan langsung pada penulisnya, ketika saya telah selesai membaca cerpen tersebut. Kenapa kamu memasukkan perbincangan di atas ke dalam cerpen kamu?

Dia pun menjawab, “Ya, karena SAYA INGIN pembaca menyadari betapa pentingnya menutup aurat.”

Nah, inilah masalahnya! Masuknya perbincangan di atas ke dalam sebuah cerpen adalah murni karena KEINGINAN si penulis, bukan karena tuntutan cerita. Akibatnya, kamu bisa lihat sendirikan? Banyak sekali hal aneh disana.

Dalam hal inilah, seorang penulis harus selalu berpikir secara kritis dan bertanya secara objektif, “Apakah pemuatan ceramah agama di dalam cerpen ini memang murni karena tuntutan cerita, atau karena saya punya ambisi atau keinginan untuk memuatnya?”

Sebenarnya, tak ada larangan jika cerpen atau novel kamu penuh oleh kutipan ayat dari kitab suci. Tapi, pastikan bahwa kehadirannya disanabenar-benar karena tuntutan cerita, bukan karena alasan-alasan lain.

Sebagai contoh sederhana, coba simak petikan cerita di bawah ini.

Si kecil Afi sedang duduk di depan meja belajar. Ia asyik mengerjakan PR. Di sampingnya, kakaknya Ardi sedang membaca buku.

Si Afi kelihatan bingung ketika menghadapi sebuah soal. Ia menatap Ardi sambil bertanya, “Kak, Bu Guru nyuruh Afi nulis ayat tentang shalat. Kasih tahu dong kak, apa ayatnya.”

“O… banyak kok, Fi,” jawab Ardi. “Salah satunya, surah Al Baqarah ayat 43 yang artinya, Dan dirikanlah shalat. Bayarlah zakat. Dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. Kalau kamu mau cari yang lain, coba lihat di Al Quran terjemahan yang kakak taruh di rak buku.”

Apakah pemuatan ayat di atas terkesan seperti ceramah agama dan menggurui? Tidak bukan? Sebab ia merupakan bagian dari keutuhan cerita.

Bagaimana cara membedakan “tuntutan cerita” dengan “keinginan penulis” atau hal-hal lain?

Gampang! Coba hapus saja kutipan ayat yang muncul pada cerpen kamu. Jika penghapusan tersebut membuat jalinan ceritanya jadi berubah, atau kamu harus merevisi adegan ceritanya, maka ayat tersebut adalah bagian dari keutuhan cerita.

Tapi jika penghapusan tersebut tidak berpengaruh apapun terhadap jalinan cerita, dan kamu tak perlu mengubah apapun sesudahnya, maka ayat tersebut adalah unsur yang tidak diperlukan dan dapat dibuang secara aman.

* * *

Sebagaikesimpulan:
Setiap kali menulis cerita fiksi, saya biasanya punya prinsip: Cerita yang saya buat haruslah mengandung pesan yang bermanfaat bagi pembaca. Tapi mereka tidak merasa digurui, justru merasa senang dan terhibur.

Semoga bermanfaat!!!

11 thoughts on “Kiat Agar Cerita Fiksi Tidak Terkesan Menggurui

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s