Rindang Tak Berbuah


Febri sedang memperhatikan penampilannya di cermin. “Cantik.” Katanya dalam hati. Febri harus tampil penawan di depan Kiki, lelaki yang dipacari sejak kelas 2 SMA sampai Ia menyelesaikan pendidikan S1-nya dua minggu lalu. Hari ini anniversary hubungan mereka yang ke-7, sekaligus memantapkan hubungan mereka ke jenjang lebih serius.

“Kau selalu membuatku terpesona…” Puji Kiki saat febri datang.

Febri tersenyum manis, sudah biasa Kiki menghujaninya dengan pujian.

“Kok nggak berkomentar?”

“Hm, sudah biasa kau memujiku. Anyway, thanks my lovely…”

“Kalau dengan ini, ada komentar?” Kiki mengambil sesuatu di jok belakang dan memberikan kepada Febri, sebuah kotak kecil.

“Apa ini?” Tanya Febri sambil menggoyang pelan kotak itu.

“Kalau aku kasih tau bukan hadiah namanya…”

Febri cemberut. “Khan sudah aku bilang tidak usah bertukar kado… Kalau begini, aku terpaksa harus memberimu kado juga…”

Kiki menjitak kepala kekasihnya. “Pelit banget sih jadi cewek! Kemarin waktu aku ke Jakarta tidak sengaja melihatnya. Aku tau kau sangat suka arloji ghotic seperti itu…”

“Oh jadi ini isinya arloji…” Febri membuka kotak itu, ternyata isinya sebuah cincin mas putih dengan ukiran melati, sangat indah. “Apa ini sayang?”

Kiki mengambil cincin itu dan memakaikan di jari manis Febri. “Aku ingin kau menjadi milikku, 10 bahkan 50 tahun kemudian. Cassandra Febrina, will you marry me?”

Febri terkejut, tak menyangka Kiki melamarnya hari ini. Jujur saja inilah saat yang dinantikan Febri.

Dengan serta merta Febri mengangguk, lalu memeluk Kiki. “Terima kasih sayang. Tau gini, aku akan membelikanmu sesuatu…” Ucapnya menyesal.

“Happy anniversary…” Kiki mengecup pipi Febri.

Wajah Febri langsung merah. Ini pertama kali Kiki menciumnya setelah 7 tahun berpacaran.

“Kau hadiah terindah yang Tuhan berikan. Merayakan hari jadi kita berdua seperti ini merupakan hadiah untukku. Selama 7 tahun kita pacaran, baru kali ini kita merayakan anniversary bersama. Aku sangat bahagia. Terima kasih sudah menjadi kekasihku…” Kiki menggenggam jemari Febri.

Febri tidak dapat berkata-kata selain berterima kasih kepada Sang Pencipta untuk anugerah terindah dalam hidupnya, Kiki.

“Sayang, kita berangkat yach…”

Febri tersadar, ternyata mereka masih di perkarangan rumah Febri. Sekarang Febri bukan sekedar menjadi kekasih Kiki, juga menjadi pendamping hidup lelaki penuh pesona itu.

***

Febri dan Kiki berkenalan di acara PENSI sekolah. Saat itu Febri kelas 2 dan menjabat sebagai seksi penerimaan tamu, sedangkan Kiki alumni tahun lalu yang kebetulan datang dengan abangnya teman sekelas Febri.

Ketika melihat Febri yang imut dan polos, Kiki langsung suka. Lalu mereka berkenalan dan saling bertukar nomor ponsel. Tiga bulan kemudian mereka resmi pacaran. Sampai tujuh tahun kemudian hubungan mereka tetap langgeng meski Kiki berada di kota berbeda karena ikatan dinas. Febri yang sibuk dengan kegiatan kampusnya seperti praktikum dan berbagai organisasi tetap menjaga komunikasi dengan Kiki, setidaknya sehari satu kali sms. Febri tidak pernah memaksa Kiki untuk meneleponnya atau mengirim sms mesra seperti pasangan lainnya. Febri juga tidak pernah protes bila sms-nya terlambat dibalas, toh sms itu akan dibalas juga nantinya. Saling pengertian dan percaya membuat mereka berdua akur dan langgeng.

***

“Kemarin aku mutusin Bang Kiki, udah 3x tapi dia tetap nggak mau.”

Zharra, sahabat Febri terkejut setelah membaca sms dari Febri. “Yang benar aja? Udah 7 tahun pacaran eh minta putus. Sekarang udah saatnya kalian menikah bukan putus.” Zharra protes, otomatis dong. Sangat tidak masuk akal bila Febri memutuskan Kiki yang baik hati itu, apalagi sudah 7 tahun mereka pacaran.

“Prinsip kami berbeda Ra, nggak ada yang bisa disatukan apalagi dipertahankan…”

“Nggak mungkin cuma gara-gara beda prinsip. Memangnya prinsip apa sih?”

“Pokoknya kami udah beda jalan deh. Besok aku ceritain semuanya kalau kita ngumpul, oke? Kalian pasti membelaku jika tau yang sebenarnya…”

Mau tak mau Zharra meng-iya-kan. Tak apa lah menunggu beberapa jam, walau sebenarnya penasaran.

***

Febri menceritakan semua pada ketiga sahabatnya, Zharra, Mayang dan Nency. Tak ada air mata, tangisan atau pun amarah. Semua mengalir seperti air bah yang siap menghancurkan setiap hal yang dilaluinya.

Zharra, Mayang dan Nency terbelalak beberapa detik saking terkejutnya.

“Ih nggak nyangka deh! Si kiki kelihatannya baik banget, ternyata diam-diam menghanyutkan!” Mayang menanggapi dengan emosi.

“Betul banget tuh May! Tega banget bang kiki nyakitin Febri. Kurang apa sih si febri???” Kata Nency protes.

“Aku rasa itu penyakit deh…”

Febri, mayang dan nency menatap Zharra penuh tanda tanya.

“Penyakit apaan?” Tanya Mayang.

“Penyakit suka selingkuh lah, penyakit apa lagi! Kalau aja dia di sini, tak cabik-cabik mukanya yang sok innoncent itu!” Saking emosinya Zharra sampai mencak-mencak.

“Ingat nggak Ra pas kita pergi ke kawinan si Moly?” Tanya Nency.

Zharra mengangguk.

“Mukanya itu lhoh… Lugu banget. Apalagi bicaranya sopan, teratur, khas orang terpelajar gitu. Eh nggak taunya punya simpanan di mana-mana.”

“Selama ini dia baik banget ke aku dan keluarga. Nggak ada sedikit pun keanehan dalam sikapnya yang membuatku curiga. Dari tahun ke tahun aku semakin cinta, mengerti dan percaya padanya. Kalian saja nggak menyangka, apalagi aku…” Kata Febri, wajahnya sendu walau dia berusaha menutupi sakit hatinya.

Zharra, mayang dan nency memeluk febri. Mereka menangis bersama melihat sahabat yang terluka oleh cinta.

“Aku sudah berusaha jadi yang terbaik… Aku mencoba memahinya di setiap kondisi. Aku pikir hubungan kami baik-baik saja walaupun selama ini hubungan kami tidak seperti orang lain. Mungkin orang lain bisa teleponan setiap malam, saling kirim sms mesra dan bertukar kado saat anniversary. Ternyata aku tau mengapa hubungan kami tidak seperti yang lain, sungguh tak menyangka kebaikannya itu hanya untuk menutupi pengkhianatan yang bertubi-tubi…” Febri mengisak.

“Sabar sayang… Semua ada hikmahnya. Kamu harus bersyukur karena semua terbongkar sebelum hubungan kalian melangkah ke jenjang berikutnya. Tuhan sudah menunjukkan yang terbaik untukmu…” Ucap Zharra sambil mengusap punggung febri.

Febri menghapus air matanya, dia menghela nafas panjang dan tersenyum. “Sekarang nggak ada sedikit pun cinta untuk dia! Hidupku akan lebih baik tanpa dia.” Kata febri tegas.

“Kau harus kuat febri…” Dukung mayang.

“Terima kasih. Karena kalian aku kuat…”

Mereka saling berpelukan, memberi dukungan ke febri.

***

Febri memandang selembar photo yang sempat dibuangnya ke tong sampah, kiki sedang merangkulnya mesra. Satu-satunya photo mereka berdua setelah 7 tahun pacaran. Saat itu keduanya tersenyum lebar penuh cinta, seolah-olah dunia milik mereka berdua.

Tak akan ada seorang pun yang menyangka sosok asli kiki adalah monster penuh kebohongan yang ditutupi topeng kebaikan. Teman-teman febri sempat protes saat dia ingin memutuskan kiki. Namun ketika mereka tau yang sebenarnya, hanya amarah tanpa maaf yang terdengar.

Sebulan yang lalu, dua minggu setelah anniversary hubungan mereka yang ke-7. Entah mengapa tiba-tiba febri sangat ingin membuka akun facebook milik kiki. Sebenarnya febri tidak pernah punya niat untuk membuka sesuatu yang dianggap pribadi oleh kiki walaupun dia tau pasword-nya. Iseng-iseng dibuka lah akun kiki. Ada yang janggal saat membuka sebuah pesan, dari seseorang bernama Mikha ‘angel’ Larasati. Andai boleh mengulang, ingin rasanya febri tidak membuka akun kiki sehingga rahasia itu tidak terbongkar. Lebih baik febri tidak tau apa pun dari pada seperti ini, dia mengetahui hal paling menyakitkan dalam hidupnya. Perngkhianatan yang manis!

Oh pantas saja tak pernah ada photo mereka di galeri akun itu. Febri juga sempat heran mengapa setiap dia like dan coment status kiki, selalu dihapus. Saat febri bertanya, dengan enteng kiki menjawab, “Coment-mu memenuhi statusku makanya ku hapus. Yang penting sudah ku baca.”

Karena penasaran, febri mengirim pesan kepada Mikha yang tak lain adalah adik kelasnya saat SMP.

***

Di sebuah restaurant siap saji 2 hari kemudian…

“Apa kabar kak?” Tanya seorang gadis cantik, basa basi.

Febri tersenyum. “Baik. Sudah lama menunggu?”

“Belum.”

“Oh… Maaf yach agak telat. Maklum aku naik angkutan umum…”

“Iya nggak papa kok. Btw kenapa kakak ingin bertemu denganku?” Tanya gadis itu.

Febri menatap Mikha. “To the point aja yach… Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kiki?”

Alis mikha bertaut. “Bang kiki?”

“Iya… Ricky Gamael. Kamu siapanya?”

“Kakak siapanya?” Mikha balik tanya.

“Aku pacar kiki.”

Mikha terperanjat. “Jadi kakak ‘febri’ pacarnya bang kiki?” Mikha menepuk jidatnya. “Ya ampun… Nggak nyangka banget yach kita reunian dalam suasana seperti ini…”

“Yach apa boleh buat! Jujur aja, kamu pacarnya kiki juga?”

“Mantan.”

“Maksudmu?”

“Kakak pasti sudah membaca pesanku untuk bang kiki. Di situ semua sudah jelas. Aku sempat pacaran dengan bang kiki selama beberapa bulan, karena beberapa hal kami putus. That’s all.”

“Kamu tau aku pacarnya kiki?”

“Kalau aku tau, nggak mungkin aku pacaran dengannya. Jujur, aku sering bertanya mengapa febri sering nge-like dan coment statusnya bang kiki. Dia bilang febri itu mantannya, berkali-kali dia tegaskan bahwa febri mantan pacarnya. Sumpah aku nggak tau itu ‘febri’ yang aku kenal.”

“Hubungan kami lancar-lancar saja selama 7 tahun ini.”

“Aku juga kenal bang kiki 7 tahun lalu. Nggak tau siapa duluan bertemu dengannya, yang pasti selama 7 tahun ini aku dan dia sudah 3x pacaran. Hubungan kami sering putus nyambung karena beberapa hal, salah satunya karena aku ditugaskan ke London sehingga komunikasi kami terputus. Setelah itu kami balikan, sempat putus lagi dan akhirnya ini final dari hubungan kami…”

“Jadi selama aku pacaran dengannya, dia juga pacaran denganmu. Begitu?”

Mikha menggenggam tangan febri. “Kak, aku minta maaf dengan ketidak nyamanan ini. Seandainya aku tau lebih awal, ini semua tidak akan terjadi. Jujur saja aku masih mencintai bang kiki, dia cinta pertamaku. Tapi aku nggak akan mungkin bertahan dengan kecuekannya, mungkin karena cintanya dibagi 2. Kita juga nggak tau ada berapa perempuan dalam hidup bang kiki, bisa saja bukan hanya kita berdua. Yang pasti bang kiki tidak seperti yang dibayangkan, kedewasaannya cuma topeng. Entah siapa yang salah, yang jelas bang kiki belum dewasa sehingga dia tidak tau apa yang sebenarnya dia inginkan. Memang begitu lah sifat laki-laki, egois! Laki-laki bagai raja kak. Dia bisa memiliki belasan selir sekaligus, ketika dia bosan dengan yang satu tinggal pilih yang lainnya…”

Febri membenarkan perkataan mikha. Ternyata gadis itu lebih dewasa dari pada dirinya. “Makasih dek… Setelah ini mata kakak jadi terbuka seperti apa wujud asli kiki. Kakak nggak menyalahkanmu, kita sama-sama korban di sini. 3 tahun yang lalu dia sempat selingkuh dengan teman kantornya, dia ceritakan semuanya. Kakak nggak marah, kakak pikir mungkin dia bosan pacaran jarak jauh apalagi kakak sibuk kuliah. Eh rupanya masih ada kamu, kakak nggak bisa bertahan lagi…”

“Semua terserah kakak, toh kakak yang menjalani. Semua orang pasti menyanyangkan hubungan kalian kalau sampai berakhir. Tapi siapa yang bisa menjamin lamanya hubungan akan menentukan suatu kebahagiaan. 10 atau 20 tahun pun kalau tidak bahagia akan sia-sia.”

Lagi-lagi febri kagum dengan kedewasaan mikha. “Sekali lagi thanks…”

Mikha tersenyum. “Sekarang semua sudah jelas khan? Kalau begitu aku pamit yach kak… Masih ada kerjaan di kantor…”

“Terima kasih untuk semuanya, untuk waktunya…”

Mikha merangkul febri. “Semoga kita bertemu dalam keadaan yang lebih baik…”

***

Hari minggu pagi, kiki menjemput febri di rumah. Kiki khusus terbang dari Riau ke Medan untuk membicarakan masalah mereka. Febri dapat melihat jelas ketegangan di wajah kiki, dia juga tegang. Selama dalam perjalanan menuju sebuah pantai, tak ada yang bersuara. Keduanya diam dengan pikiran masing-masing.

Febri berpikir keras bagaimana caranya putus dari kiki, sebab sudah 2x dia melontarkan kata-kata putus namun tak ada tanggapan. Sedangkan kiki berpikir bagaimana caranya supaya febri luluh dan memaafkannya.

“Aku ingin putus!” Kata febri sesampainya di pantai, mereka masih dalam mobil.

“Nggak akan pernah! Aku sangat mencintaimu. Tak akan ku biarkan cinta 7 tahun kita berakhir begini. Aku bisa jelaskan semuanya, hanya butuh pengertianmu saja.”

“Aku nggak butuh penjelasan! Semua sudah jelas di sini!” Febri mencampakkan kertas berisikan e-mail dari Mikha. “Sudah cukup selama ini kau membodohiku!”

Kiki menarik tangan febri dan meletakkannya di dada. “Maafkan aku sayang… Aku khilaf. Aku berjanji nggak akan mengulanginya. Aku sangat menyayangimu… you are the only one in my heart…”

Febri menarik tangannya. “Bullshit!!!”

“Sayang, kita bisa perbaiki semuanya… Percaya padaku…”

“Cukup!!!” Bentak febri. “Aku nggak mau dibohongi terus seperti ini. Mungkin bukan cuma aku, mikha dan teman kantormu itu yang kau pacari. Bisa saja banyak perempuan lain yang jadi selirmu. Sebenarnya hatimu terbuat dari apa sih?”

“Coba aku lihat hatiku terbuat dari apa…” Kata-kata kiki lembut, tapi sebuah belati di tangan kanan siap menghujam dadanya.

Melihat kenekatan kiki, febri langsung panik. Febri tak punya cukup nyali untuk merebut pisau itu. “Apa-apaan ini?!! Kau gila!”

Kiki tertawa. “Aku memang gila… Menggila karena cintamu…” Ucapnya sambil mendekati febri yang menjauh.

“Jangan mendekat!”

“Kenapa? Takut? Kau tak ingin melihatku lagi khan? Kalau itu yang kau inginkan, hanya kematian yang bisa mewujudkan inginmu. Selama aku hidup, kita tak boleh pisah…”

“Gila!”

Kiki mendekati febri yang semakin terpojokkan oleh pintu mobil.

“Jangan mendekat!!!”

Kiki tak menghiraukan bentakan febri, malah tertawa sampai terkekeh. “Lebih baik aku mati dari pada harus berpisah denganmu!”

“Ki, kita bicarakan baik-baik yach… Semua ada jalan keluarnya…” Tak ada pilihan lain, febri harus bicara baik-baik untuk membujuk kiki yang sedang kalap.

Kiki menatap febri. “Janji tak akan meninggalkanku?”

Febri mengangguk. Dia menggenggam belati itu. “Kalau kau tak melepaskannya, tanganku yang akan terluka.”

Kiki luluh dan melepaskan belati itu. Dengan segara febri membuangnya ke luar. “Kita pulang…”

Kiki mengangguk patuh.

***

Febri menceritakan kejadian yang dialaminya kepada zharra, mayang dan nency.

Zharra yang sedang duduk langsung berdiri, emosi gadis itu memang cepat sekali terpancing. “Terus sekarang kau masih berani bertemu dengannya?”

“Iya feb… Sebaiknya batalkan saja janji kalian. Aku takut kau diapa-apakan sama cowok psyco itu.” Kata mayang, jelas sekali dia takut sahabatnya terluka.

Febri menghela nafas. “Dia cuma mengancam, mana berani dia bunuh diri. Kalau dia mengancamku lagi, aku yang balik mau bunuh diri.”

“Kamu yakin? Kiki memanfaatkan kerapuhanmu untuk mendapatkan yang dia mau. Dia sangat tau kau tak akan berani bunuh diri, kau sangat menyayangi keluargamu. Makanya dia mengancam…” Kata nency.

“Aku tau…” Febri berusaha kuat agar sahabatnya tidak khuatir.

“Begini saja, kau tetap pergi dengan kiki. Kami mengikuti dari belakang…” Saran zharra.

Febri menggeleng. “Nggak usah. All is well, okey?”

“Tapi feb…”

“I’m fine. Aku bisa mengatasi semuanya. Kalian tenang saja…”

“Baik lah. Terserah kau saja…” Zharra menyerah, begitu juga dengan mayang dan nency.

***

Febri membuang semua barang yang mengingatkannya pada kiki, termasuk cincin pertunangan mereka. Akhirnya febri dapat bernafas lega setelah kiki melepasnya dari belenggu cinta dan pengkhianatan selama 7 tahun. Sesak, beban berton-ton dan rasa bersalah langsung lenyap ketika kata putus terucap dari bibi kiki. Mungkin mereka terlalu lelah mempertahankan ego masing-masing yang pastinya memperburuk keadaan.

“I’m free… Oh setelah sekian tahun double akhirnya aku punya kesempatan untuk single juga…” Canda febri ketika ketiga sahabatnya bertanya.

“Akhirnya…” Nency merangkul febri.

“Tandanya Tuhan masih sayang padamu. Dia membuka semua kebusukan kiki tepat sebelum kalian menikah. Seandainya telat beberapa bulan, mungkin perceraian yang terjadi…” Zharra berkata bijak.

“Kalau sudah penyakitnya seperti itu, susah disembuhkan. Untung masih pacaran, kalau sudah menikah bisa gawat… Wat… Wat…” Mayang menambahkan. Intinya sih sama saja dengan Zharra.

“Harus perbanyak syukur, berterima kasih kepada Tuhan karena membuka mataku di saat yang tepat…” Ucap Febri.

“Hm, jadi bagaimana ceritanya sampai si kiki terima keputusanmu?” Nency masih penasaran.

“Setelah kalian mengantarku, kami langsung jalan ke cafe biasa. Sampai di sana aku langsung ngomong to the point. Aku bilang saja terserah kalau dia mau bunuh diri, aku tetap pada keputusanku. Dia nggak bisa bilang apa-apa selain setuju, nggak ada pilihan lain selain melepasku. Ah lega… lebih baik tanpanya dari pada aku terus merana karna kebohongan.”

“Iya Feb, benar banget tuh!” Ucap Nency.

“By the way, setelah aku pikir-pikir… hubunganku dengan bang kiki bagaikan sebatang pohon mangga yang rindang. Selama bertahun-tahun pohon itu dirawat dan diberi pupuk terbaik agar tumbuh subur seperti keinginan sang pemilik. Namun apa gunanya pohon rindang bila tak berbuah, hanya menjadi sampah dari daun-daunnya yang berserakan. Aku tak butuh pohon rindang jika tak ada buahnya, tak ada manfaat. Lebih baik aku menanam pohon baru yang bisa berbuah dalam waktu beberapa bulan. Kalau pohon yang kualitas bibitnya bagus, tak perlu perlakuan khusus pasti akan menghasilkan sesuatu yang bagus pula. Benar nggak?”

“Benar sekali! Maka mulai sekarang mari kita lupakan pohon mangga rindang tak berbuah itu, sekarang saatnya kita bersenang-senang…” Zharra menghidupkan VCD player-nya. Mereka menari, menyanyi dan berteriak tanpa beban.

Sekali lagi febri bersyukur telah dianugerahkan sahabat seperti Zharra, mayang dan nency.

Ketika kebenaran telah terungkap, semoga kebencian tidak membutakan hatinya. Biarkan cinta itu berlalu dalam alunan melodi yang baru. Jomblo juga bukan aib, walau pun di usianya sekarang ini seharusnya febri sudah memikirkan pernikahan. Menikah juga butuh proses, 7 tahun pun bisa sia-sia bila prosesnya tidak benar. Intinya, kejujuran itu penting walau pun rasanya pahit.

***

Banda Atjeh, 18 Juni 2011 at 01:59 WIB.

“Untuk seorang Sahabat yang ingin

Menanam pohon baru”

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s