Lovemaker (a Secret Makes a Woman Woman!)


Prolog:

Aku gak akan pernah lagi menangis karena cowok! Gak akan pernah! Sampai bumi terbelah lima pun aku gak akan pernah mengeluarkan air mata lagi hanya karena lelaki. Cukup saat ini saja aku menangis. Cukup saat ini saja aku meratapi nasibku. Cukup saat ini saja aku lemah. Karena mulai detik ini, aku… Biyanki Aurella yang akan membuat lelaki menangis dan bertekuk lutut di bawah kakiku! Biar mereka yang meratapi dan kelihatan lemah karena aku!

Gak akan ada lagi air mata!

Gak akan ada lagi luka!

Gak akan ada lagi kecewa!

Karena akulah Biyanki, sang Penakluk Lelaki!!!

Aku yang sekarang adalah aku yang kuat, yang bangkit dari putus asa dan kekecewaan. Yang bangkit atas duka dan air mata. Yang tercipta karena pengkhianatan.  Akulah manusia baru, seorang Biyanki yang baru!

Hidup Biyanki!!!

Hidup wanita!!!

Tak ada air mata!!!

Aku janji dan tak akan pernah ku ingkari !!!

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

“Biyanki…”

Seorang gadis cantik nan modis menyunggingkan seulas senyum manis tatkala mendengar  suara yang memanggil namanya. Seketika itu juga gadis itu berbalik arah melihat seorang pemuda yang memanggilnya.

“Eh, kak Reza. Ada apa?” Tanyanya pura-pura polos.

“Malam minggu ini ada acara?”

Biyanki mengulur  waktu untuk menjawab. Kemudian dia menggeleng, sehingga pemuda gagah di hadapannya tersenyum riang.

“Mau dinner denganku?”

Biyanki tak segera  menjawab. Ia sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini. Siapapun tau kalau Biyanki adalah gadis yang menarik dan akan  membuat semua lelaki jatuh hati padanya dalam sekali pandang.

“Hm, aku liat nanti yach. Soalnya jadwalku padat. Bisa saja malam minggu ini ada acara  mendadak. Tapi kalau gak ada acara, aku akan menghubungi kakak hari sabtu.” Ucap Biyanki manis.

Wajah Reza berbinar. “Baiklah. Aku akan menunggu telepon kamu dengan penuh harap…”

Biyanki mengulas senyum, membentuk dua buah lesung di kedua pipinya. Cantik!  “Ya sudah, kalau begitu aku ke kelas dulu. Dosenku sebentar lagi masuk. Dagh kak Reza…”

“Dagh Biyanki…”  Dengan senyum secerah mentari di pagi hari, Reza melambaikan tangannya.

Biyanki membalas. Ia segera masuk ke kelasnya. “Cowok bodoh! Jangan harap aku akan menghubunginya. Ngabisin pulsa aja. Lagian, aku gak tau nomor ponselnya.” Biyanki tersenyum puas. “Mangsa ke 71.” Biyanki mencoret sesuatu di binder pink-nya.

Angin…

Sapalah diriku yang selalu sendiri

Tanpa ada yang menemani

Angin…

Jenguklah diriku ini

Yang tak pernah punya arti cinta yang abadi

Angin…

Apakah rasa ini telah mati?

Akankah selamanya seperti ini?

Angin…

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

“Bie, kamu udah dapat mangsa lagi yach?” Lenny meletakkan mangkuk baksonya di atas meja.

“Yupz! Anak Psikolog.” Jawab Biyanki tanpa menatap Lenny. “Why?”

Lenny menggeleng. “Bie, kapan sich kamu berubah?”

Biyanki menatap Lenny sekilas. “Ini ke 1023 kalinya kamu berkata seperti itu. Aku gak peduli lhoh…”

“Tapi aku peduli dengan kamu Bie. Aku gak mau kamu kena imbas dari perbuatan kamu itu…”

Biyanki tersenyum. “Karma maksud kamu? Hello Lenny… spada? Udah abad ke-21 gini kamu masih percaya sama begituan? Ingat Len, ini kota besar! Gak ada yang namanya belas kasihan…”

“Kenapa sich kamu sejahat itu?” Lenny menekan kata-katanya.

“Menurut kamu kenapa?”

“Kamu manusia khan? Kamu juga pasti punya hati Bie…”

Biyanki tertawa sinis. “Bukan urusanku! Mereka memang pantas mendapatkannya. Mereka juga gak punya hati, laki-laki yang Cuma melihat perempuan dari fisiknya. Kalo udah bosan mereka pasti mencari yang lebih cantik dan fresh”

“Bie, ka…”

“Kamu belum mengenalku Len. Aku harap kamu gak terlalu banyak mencampuri urusan pribadiku. Paham?”  Dengan kesal Biyanki meninggalkan Lenny dan nasi goreng pedalnya yang baru tersentuh beberapa suap.

Lenny memandang  Biyanki sampai tubuh indah semampai itu menghilang dari pandangannya. Lenny memang baru mengenal Biyanki. Itupun karena Biyanki menolongnya saat  diganggu oleh senior beberapa bulan yang lalu. Akhirnya mereka berteman, di mana ada Biyanki di situ pasti ada Lenny yang imut dan berkaca mata. Biyanki sangat mengenal Lenny karena Lenny selalu terbuka pada Biyanki. Namun tidak bagi Biyanki, ia adalah seorang gadis yang cantik nan jelita dan memendam beribu macam misteri. Lenny hanya tau kalau Biyanki anak kedua dari tiga bersaudara yang ketiga-tiganya adalah perempuan. Dari kedua saudaranya, hanya Biyanki yang tinggal di luar kota. Menurut Lenny, Biyanki berasal dari keluarga yang kaya, hal itu tampak dari kamar kost dan peralatan pribadi Biyanki. Bahkan gadis cantik yang diidolakan oleh semua kaum adam itu mengendarai mobil. Padahal jarak antara pondokannya tak jauh dari kampus. Bagi Lenny, Biyanki adalah gadis yang unieq, namun penuh misteri. Tak pernah ada seorang pun yang dapat membuka pintu rahasia dalam diri Biyanki. Gadis yang kuliah di jurusan Biologi itu terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Begitu banyak lelaki yang silih berganti memasuki kehidupannya, Biyanki tetap cuek dan terkesan tak peduli.

“Andai aku tau apa dan siapa masa lalumu Bie…” Lenny mendesah. Semangkuk bakso hangat tak menggoyahkan selera makannya lagi.

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

Pagi merajai alam bersama senyuman mentari dan lantunan angin yang sepoi2. Pagi yang cerah bagi jiwa-jiwa yang damai dan terus semangat menjalani hari-harinya. Seperti itulah perasaan Biyanki yang sedang berbunga-bunga setelah mendapatkan sepaket bunga mawar kuning di depan rumahnya. Biyanki tau pasti siapa gerangan sang pengirim bunga segar tersebut. Cepat-cepat Biyanki membuka ponselnya dan berbicara dengan riang dan manja.

“Makasih ya mas atas kiriman bunganya. Harusnya mas Randy gak usah repot-repot mengirimkan hadiah untukku.”

“Gak apa-apa kok Bie, yang penting kamu menyukai hadiah-hadiah yang aku kirim. Oia, dua minggu lagi aku balik ke Medan, kamu ada waktu khan untukku? Aku kangen banget sama kamu Bie…” Suara di seberang sana begitu berharap.

Biyanki tertawa sambil memainkan rambut indahnya. “Hm, gimana yach mas… aku liat dulu dech. Soalnya di kampusku ada acara selama beberapa minggu ini.”

“Ayolah Bie… aku berharap banget kita bisa bertemu dan membicarakan kelanjutan hubungan kita. Selama ini kita hanya sekali bertemu, selebihnya di dunia maya. Aku kangen banget sama kamu Bie, sama bau tubuhnya yang harum dan sama semuanya yang ada padamu. Ayolah Bie… aku ke Medan hanya untuk kamu lhoh…” Bujuk seseorang yang bernama Randy itu.

Biyanki tersenyum dan tertawa di dalam hati. “Oke dech mas. Apa sich yang gak aku lakukan untuk mas Randy tersayang…” Ucap Biyanki. “Tapi aku punya permintaan yang pasti akan mas Randy kabulkan untukku…”

“Apa itu sayang?”

“Mas tau khan ponselku ini udah jelek dan out model…”

“Jadi kamu pengen aku bawakan ponsel?” Potong Randy.

“Iya mas…”

“Pasti kamu pengen Blackberry yach?” Tebak Randy.

“Ihh… mas tau aja dech seleraku…”

“Oke. Aku akan bawakan  BB sebagai oleh-oleh dari Solo…”

“Mas baik banget dech!”

“Apa sich yang gak buat gadis secantik kamu.”

“Duh… jadi malu. Makasih ya mas.”

“Iya sayang…”

“Mas, udahan dulu yach! Ntar aku telat ngampus. Bye mas Randy…”

“Bye Biyanki. Love n miss U…”

Biyanki membuang mawar kuning dari Randy bersamaan dengan memutuskan pembicaraan. “Bodoh! Aku tau kamu udah punya tunangan dan akan segera menikah. Dasar lelaki! Aku akan buat semua harapanmu hancur berkeping-keping, dan kamu akan menangis karena kebodohanmu…” Senyuman sinis menghiasi wajah cantik itu. Sebuah senyuman yang selama ini ditutupi oleh tawa dan topeng bernama kecantikan.

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

Lenny menyambut kedatangan Biyanki di pintu parkiran kampus lengkap dengan senyum dan celotehan riangnya yang seperti balita. Biyanki selalu terhibur bila berada di samping Lenny, walaupun topeng kebohongan tetap menghiasi wajahnya.

“So, what the news today?” Tanya Biyanki saat melihat senyuman di bibir Lenny. “Jangan senyam-senyum aja dong, bagi-bagi ceritalah…”

“Nanti cerita. Sekarang kita ke kelas dulu, kita cari bangku yang pas untuk mid…”

“Mid???”

Lenny menatap Biyanki. “Jangan-jangan kamu lupa yach kalo hari ini ada Mid dengan pak Rafli…”

Biyanki mengangguk. “Mampus aku!” Biyanki berbalik menuju parkiran.

“Mau ke mana Bie?”

“Pulang. Aku ikut ujian susulan aja. Bye…” Biyanki men-starter mobilnya dan meninggalkan parkiran.

Lenny hanya menggeleng menghadapi tingkah sahabatnya.

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

Biyanki memainkan rambut ikalnya yang harum, membuat pemuda tampan di depannya semakin terpesona dan tergila-gila padanya. Vicky, seorang eksekutif muda yang sukses namun masih sangat tergantung pada ibunya. Anak mami gitu…

Vicky menyentuh jemari tangan Bayanki, kemudian menggenggamnya penuh kelembutan. “Aku harap kamu punya jawaban untuk pertanyaanku ini Bie. Aku sudah menunggumu berbulan-bulan, pertanyaanku tetap sama… maukah kamu menjadi pacarku Bie? Aku akan memberikan segalanya untukmu. Kalau perlu, aku akan memberikan dunia ini padamu.” Vicky menatap wajah Biyanki yang tertunduk.

“Beri aku waktu Ky…”

“Harus berapa lama lagi aku menunggumu Bie? Atau jangan-jangan sebenarnya kamu sudah ada yang punya?”

Biyanki tersenyum. “Kalau aku sudah ada yang punya, aku gak akan buang-buang waktu untuk makan siang bersama kamu sayang…” Binyanki melembutkan intonasi suaranya agar Vicky semakin terpesona. “Aku hanya butuh waktu, bukan berarti aku tak suka.”

Vicky mencium punggung tangan Biyanki. “Baiklah, apapun kata kamu, aku akan selalu percaya dan aku akan selalu menunggumu Bie. Cause I Love you, no body else…”

Biyanki meremas jemari pemuda di depannya. “Sabar ya beib, aku pasti jadi milik kamu koq.”

Senyum Vicky semakin mengembang. “Oia…” Vicky merogoh saku jas hitamnya. “Aku punya sesuatu untukmu…” Sebuah kotak beludru berwarna merah marun. “Aku membelinya saat berlibur di Tokyo minggu lalu…”  Vicky membuka kotak itu perlahan. Sebuah kalung dengan liontin berlian.

Biyanki memandang perhiasan mahal di depannya tanpa semangat. “Aku gak mau nerima apa pun dari kamu, aku hanya ingin kamu.” Katanya berbohong. Secara Biyanki gitu lhoh…

Vicky memandang Biyanki aneh. Ia tertawa. “Tau yang membuatku semakin mencintaimu?”

“Apa?”

“Karena kamu itu sangat sederhana dan gak matre. Jarang ada gadis cantik seperti kamu. Aku sangat bahagia bisa memilikimu Bie…”

Biyanki tersipu malu. “Apa pun yang kau katakan, aku tetap gak bisa menerima barang mahal seperti  ini. Aku gak mau nanti ada yang memandangku dengan tatapan curiga bila aku menerima pemberian-pemberianmu itu, padahal kita belum memiliki status yang jelas.” Biyanki menjelaskan. Padahal di dalam hati, dia sangat menginginkan kalung berliontin berlian tersebut.

Vicky menyentuh jemari Biyanki. “Kamu itu special Bie. Gak akan ada orang yang berpikir jelek tentangmu. Kamu terima yach oleh-olehku ini…”

Biyanki menggeleng. “Aku…”

Vicky meletakkan jari telunjuknya di bibir Biyanki. “Aku paling tidak suka ditolak.” Ucapnya tegas. “Aku pakaikan ke leher kamu yach Bie…”

Biyanki menelan ludah. Ia bersorak di dalam hati. “Horeeee! Akhirnya tuch kalung jadi milikku. Lumayan lah, untuk bayar uang kost.”

“Cantik sekali…”  Ucap Vicky setelah memakaikan kalung indah itu di leher jenjang Biyanki. Ia memandang Biyanki terpesona, selalu…

Wajah Biyanki memerah. “Apanya yang cantik?”

“Wajahmu honey. Apalagi stelah kamu memakai kalung  itu…”

Biyanki tersenyum. Palsu! “Makasih banyak sayang…”

Vicky menggenggam jemari Biyanki. “Semua untuk kamu sayang…” Kemudian Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Biyanki. Maksud hati ingin mencium pipi Biyanki, namun…

“Maaf say, Aku ada kuliah mendadak. Aku tinggal dulu ya beib, gak apa-apa khan?” Tanpa persetujuan Vicky, Biyanki langsung berlari keluar restaurant. Setelah menaiki sebuah taksi, Biyanki dapat bernafas lega. “Nyaris…” Ucapnya lemah. “Aku gak akan semudah itu memberikan ciuman, walaupun diiming-imingi oleh sebuah kalung berlian.” Biyanki menghapus nama Vicky di Blackberry-nya. “Bye…” Ketika sebuah nama dihapus, maka sebuah hubungan pun akan berakir tanpa penjelasaan. Itu prinsip Biyanki.

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

“Bie, kapan sich kamu insafnya?” Tanya Lenny pada suatu hari.

Biyanki menghela nafas, mencoba memberi Leny pengertian. “Sampai semua cowok bertekuk lutut padaku. Sampai mereka semua tau bahwasanya wanita itu bukan tissue yang bisa mereka buang kapan saja.”

“Tapi sampai kapan? Sampai kamu kena batunya, gitu?”

“Please dech Len! Jangan lebay dech. Aku gak akan kena batunya kalo aku selalu berhati-hati.”

“Sepintar-pintarnya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.”

Biyanki menepuk bahu Lenny, ia tersenyum sinis. “Aku udah rasain yang namanya dikhianati oleh orang-orang yang aku sayang, jadi kalo suatu aku ‘kena’ batunya seperti yang kamu bilang itu Len, aku udah siap lebih dari apapun.”

“Sebenarnya kamu siapa sich Bie?”. Tanya Lenny tajam. Suara lembutnya terdengar kasar dan menusuk.

“Aku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang gadis berusia 21 tahun yang sekarang sedang duduk di hadapanmu…”

Lenny tersenyum sinis. “Aku tau siapa kamu Bie.”

“Oh ya? Jadi untuk apa kamu bertanya?”

“Hah! Kamu selalu lari dari masalah. Sampai detik ini, gak ada masalah yang mampu kamu selesaikan dengan tuntas, begitu pula masalahmu dengan keluarga dan pacarmu.”

Biyanki mendelikkan mata indahnya. “Kamu memata-mataiku?”

“Biyanki Aurella atau Abie. Umur 21 tahun, berasal dari Jakarta. Anak kedua dari pasangan Indra Auzacky dan Gita Marellia.  Kakak bernama Bella Aurella dan Adik bernama Beta Aurella. Dikhianati oleh pacar dan sepupu yang tinggal di rumahnya. Kemudian difitnah dan foto mesranya bersama sang pacar disebar luaskan ke seluruh keluarga. Lalu…”

“Cukup!” Biyanki menggebrak meja. “Dari mana kamu tau semua ini hah?”

“Kamu mencuri semua perhiasan mama-mu dan mengambil cek milik papa-mu, 200 juta. Setelah itu kamu pergi ke tempat yang semua orang tidak akan mencurigaimu, kota Medan inilah sasaranmu. Awalnya kamu gadis yang baik, penurut dan lemah karena dulunya wajahmu tidak secantik ini. Seorang Abie yang dulu adalah gadis cupu berkaca mata minus 7 dan selalu menjadi  juara kelas. Karena keluguanmu, maka seorang pemuda tampan memanfaatkanmu dengan kedok pacaran. Kamulah yang membuatkannya tugas dan membantunya dalam setiap ujian. Ternyata pacarmu itu berselingkuh dengan sepupu yang sejak kecil diasuh keluargamu. Pengkhianatan oleh orang-orang terdekat…”

“Aku bilang cukup! Cukup!” Biyanki menarik baju Lenny. “Aku gak mau dengar apapun dari kamu!” Biyanki meninggalkan Lenny.

Namun Lenny tak patah arang, ia mengejar Biyanki dan meneruskan sebuah cerita yang selama ini dikubur rapat oleh Biyanki. “Janett, nama sepupumu itu. Dia iri padamu karena selalu menjadi juara, disayang keluarga dan mempunyai pacar yang tampan dan terkenal. Setelah dia merebut pacarmu, dia menyebarkan foto-foto vulgarmu dengan beberapa lelaki yang bahkan kau tak kenal. Akibatnya, Bella tidak jadi menikah karena keluarga menpelai lelaki memutuskan hubungan secara sepihak setelah mengetahui perbuatan burukmu. Beta pun gagal memperoleh donor matanya karena keluarga yang awalnya ingin mendonorkan mata mengetahui riwayat hidupmu yang tidak baik itu. Keluargamu marah besar, mereka berinisiatif memasukkanmu ke sebuah pesantren setamatnya kamu dari SMA. Sampai detik ini, Bella belum memaafkanmu dan kamu sangat menyesal karena Beta tidak mendapatkan donor dan akan buta seumur hidupnya…”

“Aku gak pernah melakukan semua itu! Janett dan Bayu, mereka memfitnahku. Padahal aku sangat mencintai Bayu, tapi ternyata cintaku hanya sampah baginya. Makanya aku melakukan semua ini. Aku sudah berubah! Dari seorang Abie yang bodoh, lugu dan selalu dipermainkan oleh cinta… sekarang akulah sang penguasa cinta.” Kata Biyanki tanpa ekspresi. “Aku yakin, kamu sudah tau semua tentang masa laluku, padahal aku sudah menguburnya amat sangat rapat. Pertanyaanku, dari mana kamu tau semua ini?” Biyanki menatap Lenny.

Lenny memeluk Biyanki. “Apapun kamu, aku selalu sayang padamu Bie…”

Biyanki melepas pelukan Lenny dengan kasar. “Aku gak butuh pelukanmu, aku Cuma pengen tau dari mana…”

“Ini.” Lenny mengacungkan sebuah foto, ada Biyanki cupu dengan seorang gadis yang tak jauh beda dengannya.  “Aku mendapatkannya di halaman buku Harry Potter-ku yang kamu pinjam beberapa bulan lalu. Aku berusaha mencari tau, siapa pemilik foto tersebut, karena aku tidak mengenal kedua gadis di foto itu. Setelah sekian minggu… kamu ingat saat kamu memakai kaca mata ungu yang bingkainya besar dan jadul? Kamu bilang, itu pemberian dari Gilang si Rocker. Ingat?”

Biyanki mengangguk. “Ya ampun! Harusnya aku tidak memakai kaca mata norak itu.”

“Sejak itulah aku tau bahwa masa lalumu  adalah seorang gadis cupu yang ada di dalam foto yang ku temukan.  Untuk awalnya semua mudah, karena di belakang foto tersebut ada nama studio tempat foto itu dicetak. Jakarta? Aku heran dan bertanya-tanya? Kenapa Jakarta? Bukankah Biyanki asli Bengkulu, seperti yang ia ceritakan? Maka aku terus mencari tau siapakah seorang Abie yang sebenarnya. Aku meminta tolong sepupuku – Angin,  kebetulan dia adalah seorang intel di Jakarta. Dia mendatangi studio foto tersebut, sebuah nama memberi petunjuk. Fotomu itu diorder atas nama Ucha Keumala.” Lenny berhenti, mencari udara sejenak. “Angin meminta alamat Ucha, ternyata dia sudah pindah rumah. Setelah empat kali mendatangi ‘mantan’ rumah Ucha, Angin akhirnya mendapatkan alamat salah seorang kerabatnya Ucha yang sialnya tinggal di Jogjakarta. Demi aku, Angin lagi-lagi menempuh berbagai cara untuk bertemu dengan seorang Ucha. Finally, dua hari yang lalu… Angin berhasil bertemu Ucha yang selama ini melanjutkan kuliahnya di Sorbone, Australia. Ucha pun menceritakan semuanya pada Angin, lalu Angin mengirimkan rekaman pembicaraan mereka padaku. Rekaman itu ada di tas kamu. Sebelumnya kamu harus tau, tak mudah mencari informasi dari seorang Ucha.”

Biyanki terdiam, terpana. “Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kamu lakukan itu?”

Lenny tertawa. “Karena kamu sahabatku, dan aku sayang padamu…”

Biyanki menatap Lenny tanpa berkedip. “Aku pikir, sahabat sejati di dunia ini hanya Ucha…”

“Mungkin di dunia kamu yang dulu ada Ucha, tapi di duniamu yang baru ini… ada aku Bie, Lenny.”

Biyanki tersenyum. Ia memeluk Lenny erat. “Terima kasih sudah mau menjadi sahabatku…”

“Terima kasih juga sudah menjadikanku sahabatmu, Bie…”

Biyanki terisak di pelukan Lenny. “Aku malu, marah… tapi aku lega. Karena orang yang mengungkit masa laluku yang hitam itu adalah kamu. Maaf karena selama ini aku gak percaya padamu, aku takut dikhianati seperti dulu…”

“Aku sayang kamu Bie, maka aku gak  akan pernah membuatmu terluka karena pengkhianatanku. Kamu bisa pegang  janjiku. Tapi kamu juga harus berjanji, tidak akan membohongiku, membohongi dirimu sendiri…”

“I’m promise.” Biyanki mengacungkan jarinya membentuk huruf ‘V’.

“Dan satu lagi… sebaiknya kamu berhenti jadi Lovemaker. Karena apa yang kamu lakukan tidak ada gunanya. Bahkan kamu telah melukai orang-orang yang tidak bersalah…”

“Tapi mereka lelaki hidung belang  yang  mengkhianati orang  yang menyayangi mereka.” Biyanki membela diri.

“Dari mana kamu tau Bie?”

“Yach, dari mereka mendekati dan merayuku. Bahkan mereka memberiku barang-barang yang seharusnya bukan milikku.”

“Seekor kucing tidak akan menolak bila diberikan bangkai, apalagi ikan segar seperti kamu.” Kata Lenny singkat, tapi penuh makna.

Wajah cantik Biyanki memerah. Malu! “Jadi aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menjadi Biyanki yang dulu, aku ingin menjadi Biyanki yang kuat seperti sekarang ini.”

“Kuat bukan berarti menjajah Bie. Sekarang kamu adalah Biyanki yang baru, seorang gadis cantik, modis dan energik. Fisikmu boleh berubah menjadi yang lebih baik, tapi kamu tetap harus menjadi  Biyanki yang dulu… biyanki yang pemurah, pemaaf, baik hati dan cerdas tentunya. Aku harap kamu mengerti Bie…”

Lagi-lagi Biyanki terdiam. “Mungkin semuanya harus dimulai dari awal, seperti awal aku menjadi seorang lovemaker.”

“Kamu pasti bisa Bie!” Lenny menyemangati.

Biyanki tersenyum. Lenny pun lega.

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

Epilog:

Aku bahagia karena akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Aku menemukan seorang Biyanki yang baru, sang penakluk lelaki. Aku bahagia karena aku tidak perlu lagi menangis karena cintaku yang dikhianati. Malahan sekarang aku yang membuat para lelaki itu menangis karena aku mencampakkan mereka tanpa alasan. Tapi aku lebih bahagia lagi, karena aku menemukan seorag sahabat seperti Lenny. Yang mengajariku bahwa kuat itu bukan berarti menyakiti, penakluk itu bukanlah penjajah dan… cinta itu terlalu indah untuk dijadikan alasan sebuah perlakuan.

Terima kasih Lenny, terima kasih Ucha. Mereka dua orang sahabat yang membuatku semakin mengerti apa itu saling mempercayai. Aku menyayangi kalian… Terima kasih juga untuk seorang Angin yang memberiku sebuah mahligai yang tak tertandingi, yaitu pernikahan.

Tak banyak yang bisa ku ceritakan tentang Angin, karena semua begitu singkat. Tak ada kata-kata yang sanggup ku rangkai untuk menggambarkan betapa indahnya maha karya Tuhan yang bernama Angin itu. Hm, Angin dan Cinta… sungguh dekat buatku.

Kini aku di sini, di tengah-tengah keluargaku. Bersama Papa, Mama, Mbak Bella dan Beta. Angin yang menyatukan kami, Angin yang membantuku memberikan penjelasan kepada keluargaku. Kini, semuanya telah usai. Sedihku hilang, bahagiaku pun datang…

Selamat tinggal Biyanki sang Lovemaker. Selamat datang Biyanki sang istri… ops! Sebentar lagi aku akan menjadi sang Bunda…

♣ ♣ ♣ ♣ ♣ ♣

Banda Atjeh, 05 Januari 2010 – 22:12 PM

^^….a Secret Makes a Woman Woman….^^

 

 

4 thoughts on “Lovemaker (a Secret Makes a Woman Woman!)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s