Mami Oh Mami


“Aduh Keyla! Itu piringnya belum bersih, masih bau amis. Cuci lagi dech! Mami gak suka piring yang masih bau amis gini, jorok!” Seorang wanita paruh baya, berdiri di hadapanku dengan mata melotot dan tangan di pinggang, khas nyonya besar kayak di TV.

Angkuh, nyinyir dan sok berkuasa. Itulah kesan pertama saat aku bertemu dengan Mami, tetangga di samping rumahku. Wanita berumur 60-an itu tinggal bersama anak semata wayangnya yang sampai saat ini belum menikah di usianya yang ke-37, namanya Tante Rima. Mami, aku tidak tau siapa namanya. Wanita itu selalu dipanggil Mami oleh anak dan orang-orang sekitar. Awalnya aku tidak peduli siapa Mami itu, tetapi setelah hampir 3 bulan menjadi tetangganya, barulah aku tau betapa ‘menyeramkannya’ seorang Mami. Ternyata apa yang sering digunjingkan oleh orang-orang di sekitar komplek rumahku itu benar. Walah-walah…

“Kok malah bengong! Ayo cepetan kerjanya, ntar numpuk.” Mami ‘menepuk’ khayalanku dengan ganas. Hohoho…

Aku mendengus. “Iya Mi…” Kataku kesal dicampur marah. Tapi aku berusaha untuk menghormati wanita tua di depanku ini.

“Nanti jangan lupa ikannya dicuci juga, yang bersih. Sampai hilang darahnya.” Kata Mami lagi, nada perintah. “Soalnya Mami gak suka banget sama ikan yang masih bau amis.”

“OMG. Dia pikir aku siapa? Pembokatnya? Oh no!” Ucapku di dalam hati. “Kalo terlalu bersih ntar proteinnya hilang dong Mi.” Kataku kepada Mami. Setahuku sich begitu…

Mami menatapku tak suka. “Kamu jangan sok tau dech! Mami itu lebih tau dari pada kamu.”

Wow… fantastic! Aku pun terdiam, dalam hati merutuki. Sebel kuadrat!!!

••••••

Hm, itulah sepenggal cerita tentang Mami. Wanita tua yang tak punya usur keramahan dan pengertian. Menurutku dan banyak orang lhoh…

Pernah suatu ketika, Mbak Yessi – pembantu di rumah Mami – menangis tersedu-sedu di hadapan ibuku. Dia bercerita tentang sikap Mami yang menurutnya kurang manusiawi. Aku sich tidak begitu peduli, sampai suatu hari aku melihat sendiri kejadian itu dengan mata kepalaku sendiri…

Saat itu aku sedang berkunjung ke rumah Mami. Sebenarnya bukan berkunjung, tetapi mengambil majalahku yang dipinjam Mbak Yessi.

“Lhoh, Mbak Yes kenapa? Kok pipinya lebam?” Tanyaku ketika mendapati Mbak Yessi dengan mata sembab dan pipi lebabnya.

“Gak apa-apa Key. Mbak kalo udah makan kacang emang gini, mbak alergi kacang…” Jawabnya parau.

“Kalo udah tau alergi kenapa masih dimakan juga mbak?”

Mbak Yessi terdiam. “Mbak lapar Key.”

Keningku berkerut. Maksudnya, aku gak ngerti dengan jawaban Mbak Yessi. Belum sempat aku bertanya, Mbak Yessi sudah melanjutkan perkataanya…

“Tadi pagi setelah beres-beres rumah, mbak kelaparan. Ya udah, mbak makan kacang aja biar hilang laparnya. Habisnya kalo mbak makan nasi, ntar ibu mami marah lagi seperti dulu. Mbak gak mau lah dipukul dan dimaki kalo makan sebelum jatahnya…”

“Lhoh, emangnya makan pake jatah yach mbak? Kayak di penjara aja dech!” Aku tertawa. Ada-ada saja mbak Yessi ini…

“Lebih parah lagi dari penjara.” Mbak Yessi melirik ke kamar Mami, memastikan kalo Mami belum bangun dari tidur siang rutinnya. “Mbak nyesal kerja di sini. Kalo bukan karena mbak punya hutang 500 rb sama Mami, udah dari dulu mbak kabur.”

“500 rb? Untuk apa mbak? Masa belum lunas sudah hampir 6 bulan gini?”

“Kamu pikir gaji mbak berapa Key? Mungkin kalo mbak ngamen kayak dulu, uang yang mbak dapat bisa lebih banyak dari gaji yang mbak dapat perbulan di sini. Sumpah Key! Mami itu benar-benar jahat. Mbak gak ngada-ngada. Asal kamu tau aja Key, gaji mbak itu setiap bulan Cuma 200 rb, itupun dipotong biaya makan mbak yang sembunyi-sembunyi lah, boros air dan listrik lah, dan juga dipotong hutang. Sebulan, gaji mbak Cuma 75 rb. Bayangkan, Cuma 75 rb untuk semua pekerjaan menyakitkan ini…” Sreeeetttt… Mbak Yessi menghapus air matanya dengan kasar. “Mbak udah gak tahan lagi!”

“Khan hutang mbak udah dipotong, kenapa masih ada 500 rb lagi?” Tanyaku.

“Itulah jahatnya si Mami Key. Gaji mbak dipotong, tapi hutang mbak gak lunas-lunas. Terkutuk lah orang macam dia!”

Aku menatap Mbak Yessi iba. Ah… betapa malangnya wanita berumur 26 tahun ini. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanyalah seorang gadis berumur 15 tahun yang masih duduk di bangku akhir SMP. Huh!

••••••

“Saya mau minggat bu malam ini. Bagaimana menurut ibu?”

Sayup-sayup aku mendengar percakapan Mbak Yessi dengan ibuku. Ops! Nguping maksudnya…

“Apa kamu sudah memikirkan akibatnya Yes? Kamu pernah dipenjara 5 hari karena kabur dari rumah Mami. Jangan sampai kejadian yang lalu terulang lagi…” Nasehat ibuku lembut.

“Jadi saya harus bagaimana lagi bu? Saya sudah gak sanggup lagi menghadapi Mami. Makin hari semakin menjadi-jadi, semakin sering menyakiti saya baik fisik dan psikis bu. Tolong saya bu…” Mbak Yessi terisak.

Ibu mengusap punggung Mbak Yessi. “Bagaimana kalo bicara baik-baik? Biar ibu yang bicara…”

“Nenek tua itu mana pernah bu mendengarkan perkataan orang. Kepalanya udah penuh dengan sampah!”

“Eh, gak boleh begitu Yes. Mami itu orang tua, jadi harus dihormati.”

Mbak Yessi menatap Ibu pasrah. “Entah lah bu. Saya nurut aja apa kata ibu. Saya percaya kalo ibu pasti akan membantu saya.”

Ibu tersenyum. “Ya sudah… kamu pulang dulu. Setengah jam lagi ibu ke rumah, biar Mami gak curiga kalo kita sudah pernah bicara tentang ini…”

Mbak Yessi mengangguk dan bergegas menuju rumah Mami binti ‘nyebelin’.

••••••

“Aduh Melisa! Pikiran kamu kok kolot sekali. Yessi itu pembantu, ya sudah sepantasnya diperlakukan seperti pembantu.” Dengan angkuh dan tajam Mami memotong perkataan ibulu. Niat ibu Cuma satu, ingin membantu Mbak Yessi.

“Mami, Yessi memang pembantu, tapi dia manusia. Seharusnya Mami perlakukan dia seperti manusia…” Ucap ibuku lembut.

Mami memcibir. “Kamu ini gak intelek! Kampungan! Makanya kamu gak bisa membedakan manusia dengan pembantu. Manusia itu yang punya kuasa, sedangkan pembantu itu budak.”

Aku geleng-geleng kepala mendengar perkataan  Mami yang gak masuk akal.

Ibuku tersenyum. “Saya memang kampungan dan gak intelek seperti Mami. Tapi saya punya hati Mi, gak seperti Mami yang kalau pun punya hati, tapi hatinya sekeras batu. Gak terjamah oleh Tuhan dan manusia. Dan menurut saya, yang kampungan dan gak intelek itu adalah Mami. Kalau memang Mami intelek, seharusnya Mami bisa menjaga dan menyaring setiap perkataan dan perbuatan Mami. Orang yang pintar itu adalah orang yang bisa menjaga perasaan dan menghargai orang lain. Lagipula agaknya Mami ini kurang pergaulan, makanya Mami Cuma bisa membedakan manusia berdasarkan ‘hitam’ dan ‘putih’. Padahal banyak warna lain di dunia ini. Saya tidak ingin punya urusan dengan Mami, saya hanya ingin membela orang yang sudah sepantasnya saya bela. Terserah Mami mau bilang apa!” Ibuku mengambil sesuatu dari dompetnya. “Ini uang yang dipinjam oleh Yessi, 500 rb. Dengan lunasnya hutang Yessi, berarti dia bisa meninggalkan rumah Mami malam ini juga. Sebagai orang yang intelek dan tidak kampungan, Mami pasti mengerti khan?” Ibuku menatap Mami tajam.

Mami kehilangan kata-kata. Ia berjalan menuju kamar Mbak Yessi. Terdengar olehku dan ibu suara sumpah serapah Mami. Tak lama kemudian Mbak Yessi keluar dari kamar dengan berlinang air mata, ia pun membawa ransel kumuhnya.

“Kami pamit dulu. Terima kasih atas semuanya.” Ucap ibuku tajam.

Mami memelototi kami dengan hujatan kemarahan “Dasar bodoh! Gak tau diri! Kampungan! Gak intelek!” Mami berserapah seperti seperti orang gila. Maka semua orang pun mendatangi rumah Mami, melihat apa yang terjadi.

Tiba-tiba… Gubrakkkk!!!!

Sebuah tubuh menghantam lantai keramik yang amat sangat mengkilap. Ternyata darah tinggi Mami kumat dan membuatnya pingsan. Dan sayangnya, tak ada yang berniat menolong, malahan orang-orang langsung pergi tatkala Tante Rima menangis meminta tolong.

Mami oh Mami…

••••••

Banda Atjeh, 04 Januari 2010 – 21:55 PM

“Untuk sebuah keangkuhan, kesombongan

Dan ketidak-pekaan.  Semoga segera

Berakhir dan sadar kalo gag ada

yang menyukaimu”.

2 thoughts on “Mami Oh Mami

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s