Menantu Pilihan


Cahaya gadis manis, pemberani dan madiri dengan segudang prestasi. Lulus kuliah dengan nilai cumlaude, lalu bekerja di sebuah perusahaan asing. Dia mempunyai keluarga yang sangat menyayangi dan mendukungnya. Secara keseluruhan hidupnya sempurna. Tapi dalam persoalan cinta, Cahaya selalu sial. Memasuki usianya ke-28 tahun, tak pernah sekalipun ia menemukan lelaki yang cocok. Setiap dia dekat dengan ‘seseorang’, hubungannya tak pernah berhasil dan malah membuatnya patah hati.

Suatu hari Cahaya diperkenalkan oleh tantenya pada seorang pemuda kaya raya yang tengah mencari pendamping hidup. Dua minggu setelah perkenalannya dengan Kafka, mereka menikah. Otomatis Cahaya tinggal bersama keluarga Kafka, kehidupannya drastis berubah.

***

“Cahaya, tolong ambilkan buah-buahan di kulkas.” Perintah ibu mertua Cahaya.

“Iya mi…” Dengan santun Cahaya menuruti perintah mertuanya. Belum sempat Cahaya meletakkan buah-buahan itu, mami sudah memerintah lagi.

“Buatkan teh dingin.”

Dan lagi, Cahaya menuruti perintah mami.

Terkadang Cahaya kesal dengan sikap ibu mertua dan saudara iparnya, Cahaya selalu mencoba bersabar demi bahtera rumah tangga yang baru dimulai. Namun Cahaya tidak dapat bersabar dengan sikap Kafka yang acuh dan tidak menghargainya. Seperti hari ini Kafka mengacuhkannya lagi.

“Mau ke mana mas? Kamu baru saja pulang…” Cahaya mengikuti setiap gerakan suaminya yang sedang terburu-buru dengan tatapan matanya.

“Ada urusan.” Jawab singkat dan acuh.

“Tapi ini sudah malam, memangnya tidak bisa dikerjakan besok pagi?”

“Tau apa kamu dengan pekerjaanku!” Katanya meremehkan. “Sudahlah, aku sibuk! Jangan tunggu aku pulang.”

“Kamu mau menemui perempuan itu lagi ya?”

Alis Kafka bertaut. “Perempuan siapa?”

“Perempuan yang kamu jemput di bandara, yang makan siang denganmu tadi.” Kata Cahaya berusaha tenang.

“Bukan urusanmu!” Kafka menarik handel pintu kamar.

Cahaya tersenyum hmabar. “Untuk apa menikahiku kalau kamu punya boneka cantik di luar sana? Apa aku hanya sebagai pajanganmu di kamar ini?” Tanya Cahaya begitu menohok Kafka.

Kafka ingin menjawab ketika ponselnya berdering nyaring. “Aku tak punya waktu berdebat denganmu.”

“Hati-hati di jalan, dan jangan sampai ketahuan orang lain…” Sindir Cahaya.

Kafka tak menghiraukan istrinya, seseorang di sana jauh lebih penting dari pada Cahaya.

Cahaya hanya menghela nafas melihat tingkah suaminya. Untuk saat ini Cahaya tidak punya cara lain menghadapi Kafka selain bersabar. Akhirnya Cahaya pergi ke dapur untuk membantu Mbok Tikah mempersiapkan makan malam. Kebaikan hatinya membuat Mbok Tikah dan semua pelayan di rumah itu menyukainya.

“Mana suamimu?” Tanya mami saat makan malam.

Cahaya melirik papi dan kedua adik iparnya, menatap mami. “Katanya ada urusan di kantor.”

Mami mencibir. “Saya heran dengan Kafka. Seharusnya dia lebih betah di rumah setelah menikah, bukannya keluyuran sepanjang hari. Kau pasti tidak becus mengurusnya!”

Cahaya menelan ludah. Bibirnya sudah gatal ingin membalas ucapan mami, lagi-lagi ia bersabar. “Maaf mi, aku akan bicara dengan Kafka kalau dia pulang…”

“Hanya itu?” Tanya Mami sinis.

“Aku akan memperbaiki sikapku, mungkin ada yang mengganjal di hatinya.” Kata Cahaya lembut.

Mami tak menjawab, suasana menjadi hening.

***

Cahaya mengusap bingkai foto pernikahannya dengan Kafka. Foto itu sama seperti dirinya, hanya sebagai pajangan di kamar mereka. Cahaya tak habis pikir mengapa Kafka menikahinya sedangkan Kafka punya wanita lain dan mereka tampak saling mencintai.

Dari kecil, Cahaya tidak pernah bermimpi dipersunting oleh pangeran tampan dan kaya seperti Kafka. Cahaya hanya ingin hidup sederhana seperti keluarganya, namun hangat dan saling mengasihi. Tapi entah mengapa Cahaya meng’iya’kan saat Kafka mengajaknya menikah beberapa minggu yang lalu, padahal mereka baru berkenalan. Bagaikan makan buah simalakama, Cahaya jadi serba salah berada di sini. Salah karena menjadi nyonya Kafka secara express. Salah karena meninggalkan karirnya yang sedang menanjak. Salah karena ini pilihannya. Semua salah! Yang benar hanyalah Cahaya harus bertahan demi rumah tangga dan kehormatan keluarganya. Nggak lucu dong kalau tiba-tiba Cahaya pulang ke rumah sambil membawa akta cerai. Bayangkan saja, pernikahannya dengan Kafka masih seumur jagung! Makanya Cahaya mencoba bertahan dengan ibu mertua yang menganggap Cahaya rendah karena keluarganya miskin. Cahaya mencoba bertahan dari kedua adik ipar yang selalu mencari-cari kesalahannya. Yang lebih penting lagi, Cahaya harus bertahan dengan Kafka yang tidak memperlakukannya sebagai istri. Menurut Cahaya cuma ayah mertua dan para pembantu yang normal di rumah ini, yang lainnya nggak jelas! Kalau sudah begitu, Cahaya jadi senyam senyum sendiri.

Cahaya bisa dan ingin melawan apa saja yang tidak benar di matanya. Cahaya bukan wanita lemah yang bisanya menangis bila ditindas di rumah mertua, tapi Cahaya mengabaikan semua gejolak melawan di jiwanya demi mahligai pernikahan yang dia sendiri bingung untuk apa dibangun.

***

Pagi menyongsong matahari, saling menyapa dan bercengkrama. Harusnya seperti itulah yang dilakukan pasangan pengantin baru seperti Cahaya dan Kafka, bukan diam-diaman seperti tak saling mengenal.

“Air hangatmu sudah aku siapkan.” Kata Cahaya.

Kafka mengambil handuk tanpa mengucap sepatah kata pun.

Cahaya mengangkat bahu, sudah biasa begitu. Dia langsung ke dapur menyiapkan sarapan untuk seisi rumah. Telat sedikit saja, ibu mertuanya akan ‘berceramah’ panjang lebar.

“Sayang, tadi malam pulang jam berapa?” Tanya Mami pada Kafka.

“Sebelas. ” Jawab Kafka enteng.

Papi langsung melotot. “Seingat papi, Cahaya menunggumu sampai jam dua pagi.”

Kafka gelagapan. “Entahlah, aku terlalu lelah untuk melihat jam.” Kafka langsung menyudahi sarapannya. Selera makannya lenyap ketika Papi menegurnya.

Cahaya tak menggubris Kafka, namun pelototan mami membuat Cahaya meninggalkan meja makan untuk mengantar suaminya.

“Nanti malam jangan menungguku!” Kata Kafka ketus.

“Seandainya mami tidak meyuruhku, pasti aku lebih memilih tidur.” Ucap Cahaya tak kalah ketus. “Maafkan aku ya Allah karena telah melawan suamiku…” Katanya dalam hati.

Kafka menghela nafas. Melihat wajah istrinya saja dia malas, apalagi meneruskan pembicaraan yang akan berujung pada pertengkaran. Kafka harus menampilkan sosok pernikahan ideal dan sepurna di depan keluarganya, walaupun dia sudah sangat jenuh.

Cahaya melepas kepergian suaminya dengan kesal. Ingin rasanya Cahaya berteriak sekencang-kencangnya, menunjukkan betapa marahnya dia.

***

Cahaya pulang ke rumah orang tuanya dengan senyum kepalsuan. Ibu, bapak dan Cinta adiknya menyambut Cahaya dengan suka cita. Mereka sangat senang bertemu Cahaya yang sudah hampir dua bulan tidak bertemu.

“Nak, ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu. Makan yang banyak ya!”

Cahaya melahap semua masakan ibunya, sementara beban di hatinya melayang.

“Mas Kafka mana kak? Kok nggak diajak sih?” Tanya Cinta.

“Mas-mu lagi ada pekerjaan ke luar kota, makanya tidak bisa ikut.”

“Kapan-kapan kamu ajak Kafka menginap di sini. Bapak dan Ibu ingin mengobrol dengannya.” Pinta bapak.

“Iya pak…” Kata Cahaya santun. Dalam hati dia sangsi apa Kafka mau diajak pulang ke rumah orang tuanya, sementara berbicara dengannya saja Kafka enggan.

Jam menunjukkan angka 5, Cahaya pamit pulang pada keluarganya. Cahaya ingin menginap bersama keluarga tapi dia tidak berani meninggalkan rumah mertuanya apalagi tanpa izin menginap. Ayah dan ibu juga maklum dan malah menyuruh Cahaya pulang. Itulah tugas seorang istri, berbakti pada suami dan keluarganya.

***

Cahaya sampai di rumah mertuanya selepas magrib. Mami langsung menyambutnya dengan muka masam dan perkataan sinis. Kafka yang kebetulan pulang cepat tidak membelanya sama sekali. Papi sedang dinas ke Singapore, tak bisa membelanya. Malam itu Cahaya menahan tangis karena disudutkan oleh seisi rumah.

“Kenapa sih kamu memilih perempuan kampung tidak terpelajar seperti dia? Benar-benar tidak sesuai dengan keluarga kita! Selalu membuat masalah. Memalukan!” Kata terakhir mami sebelum memasuki kamar.

Cahaya mendelik. Dia memang anak kampung, tapi dia terpelajar bahkan sangat terpelajar. Dia lulusan S2 di sebuah universitas di Inggris, dengan nilai cumlaude pula. Umur 24 tahun dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asing dan karirnya terus menanjak sampai menjadi junior manager. Seharusnya Cahaya bisa memiliki karir yang lebih baik kalau tidak menikah dengan Kafka yang langsung menutus rantai karirnya. Entah ibu mertuannya yang tidak intelektual, entah Cahaya yang tampak tidak intelektual karena seharian di rumah dengan pakaian lusuh.

Cahaya menghela nafas berat. “Sehebat apa pun aku di luar sana, di rumah mertua aku tetap lah seorang menantu. Sepintar apapun aku di kampus, suami tetap lah pimpinanku. Itulah mengapa aku tidak menunjukkan semua kehebatan yang aku miliki di rumah ini. Aku hanya lah seorang menantu, tidak pantas menyombongkan apa yang aku punya. Lagian semua sudah jadi mantan karena statusku sekarang adalah seorang istri.” Cahaya bicara pada diri sendiri, menyemangati jiwanya yang mulai rapuh.

***

“Mas, kapan ada waktu untuk pulang ke rumah orang tuaku? Semenjak kita menikah belum pernah sekali pun kamu pulang ke rumahku. Mereka terus bertanya dan aku sudah tidak punya jawaban lagi.”

“Aku sibuk! Kapan-kapan saja.”

“Iya aku tau, tapi kapan?”

Mata elang Kafka menyorot tajam. “Bisa tidak mengganggu suami yang baru pulang kerja? Aku lelah!”

Tanpa sepatah kata Cahaya meninggalkan suaminya. Ia ingin menangis tapi tak bisa, ingin berkeluh kesah namun tak tau pada siapa. Mana mungkin dia menceritakan rahasia rumah tangganya pada sembarang orang, apalagi pada keluarganya yang pasti turut bersedih. Lagi-lagi Cahaya tak punya pilihan selain bungkam.

***

Cahaya mendapat telepon dari adiknya. Cinta meminta Cahaya menemuinya di sebuah cafe secepat mungkin. Setelah minta izin dengan mami, Cahaya bergegas menemui Cinta. Jantungnya berdebar kencang takut terjadi sesuatu pada orang tuanya.

“Kenapa dek? Bapak dan ibu baik-baik saja kan?” Tanya Cahaya begitu bertemu Cinta.

“Baik kak.” Cinta menyuruh Cahaya duduk. “Kakak kurusan deh beberapa bulan ini. Turun berapa kilo?”

“Cuma beberapa kilo kok. Dokter menyarankan kakak untuk diet supaya cepat hamil.”

Cinta tau kakaknya berbohong. Memang obesitas bisa menyebabkan sulit hamil, tapi Cahaya tidak pernah obesitas dari dan dulu badannya sangat ideal. “Kak, apa kakak ada masalah?” Tanya Cinta to the point.

Kening Cahaya berkerut. “Nggak, memangnya kenapa?”

“Baru-baru ini aku buka blog kakak, isinya membuatku khuatir. Tidak seperti biasa kakak membuat puisi melankolis, itu dimulai 6 bulan yang lalu sejak kakak menikah.” Cinta menggenggam tangan Cahaya. “Apa yang terjadi kak? Setelah membaca blog itu aku tidak bisa tidur memikirkannya.”

Cahaya tersenyum. “Nggak ada yang terjadi, semua baik-baik saja kok…”

“Kak, aku sangat mengenal kakak. Kita tumbuh bersama-sama dan tak ada yang pernah kita tutupi. Kenapa kakak membohongi kami? Oke lah kalau kakak nggak mau cerita ke bapak dan ibu, tapi kakak bisa cerita padaku. Aku janji tidak akan menceritaka pada orang lain.”

Cahaya menghela nafas. “Cinta, kehidupan semua orang akan berubah setelah menikah. Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga kakak adalah rahasia yang tak bisa diceritakan pada orang lain, aib suami adalah aib istri, rahasia suami juga rahasia istri. Kakak tidak bisa sebebas dulu meng-ekspresikan kisah hidup kakak.” Cahaya memberi pengertian.

“Tapi aku nggak tega melihat kakak seperti ini, kakak menahan semuanya sendiri…”

“Siapa bilang kakak menahan penderitaan sendiri? Kakak baik-baik saja, kakak bahagia.”

“Kakak pernah bilang, menulis dapat mengurangi sebuah penderitaan. Dengan menulis kakak bisa mencurahkan semua isi hati kakak yang sebenarnya. Aku membaca puisi-puisi di blog kakak, aku sangat tau apa yang tengah kakak rasakan.” Cinta menatap kakaknya. “Kak, jangan diam seperti ini. Kakak butuh tempat curhat. Menulis tidak bisa menyelesaikan semua masalah.”

Cahaya menggeleng. “Kakak baik-baik saja.”

“Kakak tau perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi. Semenjak kakak menikah, ibu selalu berlinang air mata dalam tahajjudnya. Ibu merasakan apa yang kakak rasakan, namun dia menunggu sampai kakak sendiri yang menceritakannya. Kak, kalau kakak tidak mau cerita setidaknya kakak ingat kekhuatiranku dan ibu. Jangan siksa ibu seperti kakak menyiksa diri kakak.”

Mendengar nama ibu, Cahaya langsung menangis. Setegar apapun dia kalau sudah menyangkut orang tua maka tangisnya tak bisa dibendung.

Cahaya mengeluarkan sebuah buku bersampul pink yang selalu dibawanya. “Kita selalu menuliskan semua hal yang terjadi di diary ini, suka dan duka ada di dalamnya. Semenjak menikah, diary ini kakak yang mengisinya. Kakak nggak bisa menceritakan secara langsung, kakak nggak berani. Kamu akan tau semuanya setelah membaca diary ini. Tapi kamu harus berjanji untuk merahasiakannya, dan kamu tidak boleh mencegah kakak melakoni hidup kakak sekarang. Inilah jalan hidup yang telah kakak pilih.”

Cinta mengangguk. “Aku janji kak…”

“Kakak percaya padamu.” Cahaya mencium kening adiknya dan pergi begitu saja. Air matanya terus saja mengalir.

Cinta memandang punggung kakaknya sampai kejauhan, dia pun menangis.

***

Cinta membuka buku harian kakaknya. Setengah buku itu Cinta sudah tau, karena dia dan Cahaya yang menulisnya. Setengahnya lagi adalah coretan Cahaya dari awal bertemu Kafka sampai saat ini.

Hari itu beberapa bulan yang lalu, tidak biasa bulek Tanti menghubunginya. Bulek ingin memperkenalkan Cahaya dengan anak bosnya, Kafka. Bulek bilang Cahaya sangat cocok bersama Kafka, mereka pasti sepadan. Tapi Cahaya harus mengorbankan pekerjaannya karena Kafka ingin istrinya tinggal di rumah, lagi pula harta orang tua Kafka sangat banyak sehingga Cahaya tidak perlu bersusah payah bekerja.

Cahaya dan Kafka bertemu di sebuah cafe dekat kantor Kafka. Penampilan Cahaya yang sederhana dan sedikit kampungan membuat Kafka suka dan mengutarakan niatnya untuk menikahi Cahaya. Bagi Cahaya menikah dengan Kafka bagaikan mimpi, sebab Cahaya jatuh cinta pada Kafka. Cahaya melambung ke langit ke tujuh, tapi tak lama kemudian dia dihempaskan ke tanah. Sakit sekali karena Cahaya tidak pernah membayangkan pernikahannya akan dijajah oleh suami, ibu mertua dan kedua adik ipar. Keluarga Kafka mengusung adat yang aneh, menantu harus tinggal di rumah serta mengurus semua keperluan keluarga suaminya, dan itulah yang dilakoni Cahaya. Sekolah di luar negeri, nilai cumlaude, pekerjaan mapan dan sejumlah prestasi lainnya langsung lenyap di hadapan ibu mertua. Mungkin karena Cahaya berasal dari keluarga miskin sehingga ibu mertuanya menganggap Cahaya rendah, kampungan plus matre. Cahaya berusaha bersabar, dia yakin suatu hari semua akan berubah seperti harapannya.

***

Cinta menangis membaca catatan Cahaya. Siapa nyana gadis sehebat Cahaya tidak berharga di mata keluarga suaminya. Makian dan cemoohan kerap kali dilayangkan padanya, sesekali ibu mertua memukulnya. Yang lebih parah lagi si suami tak pernah berniat membelanya, malah memilih berkeliaran di luar rumah dengan pacar cantik. Sampai saat ini Cahaya bertanya-tanya mengapa Kafka menikahinya, dan sampai saat ini keluarga Kafka tidak tau seperti apa Cahaya sebelum menikahi Kafka. Yang mereka tau, Cahaya gadis miskin menikahi Kafka demi uang.

***

“Mas, kenapa sih kamu begini? Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari pernikahan ini?” Tanya Cahaya. Kesabarannya sudah habis karena tingkah suaminya.

Kafka tak menghiraukan Cahaya. Dia sedang sibuk memasuki pakaian ke dalam koper.

Cahaya menutup koper, menatap suaminya tajam. “Mengapa menikahiku kalau kau selalu menghindar dan terus bersama perempuan jalang itu?!!”

Kafka balik menatap tajam Cahaya. “Jaga ucapanmu! Dia wanita terhormat!” Bentak Kafka.

“Oh ya? Se-terhormat apa dia sampai-sampai merebut suami orang lain?!!”

“Dia tidak merebut apapun darimu! Kau yang telah mengambil posisinya!”

“Aku tidak mengambil apapun darinya sebab kau yang memilih aku. Sebenarnya siapa dia? Mengapa kau menikahiku jika seharusnya dia yang berada di rumah ini? Kenapa? Jawab mas! Jangan buat aku semakin tersiksa mempertahankan pernikahan yang aku tak tau untuk apa dipertahankan!”

Kafka tertawa sinis. “Aku tak pernah menyangka perempuan lugu sepertimu bisa menjadi racun dalam hidupku. Kau selalu bertanya mengapa aku menikahimu? Oke, aku akan menjawabnya! Wanita itu namanya Laura, kekasihku sejak 5 tahun lalu…”

“Apa? Sejak 5 tahun? Jadi untuk apa aku di sini?!!”

“Papi tidak menyukainya!” Kata Kafka tajam. “Dia seorang model. Papi beranggapan pekerjaannya akan merusak rumah tangga kami suatu hari nanti, apalagi kehidupannya yang glamor dan dikelilingi banyak lelaki. Aku bingung harus bagaimana! Aku tidak bisa meninggalkannya, juga melawan papi. Oleh karena itu aku mencari gadis miskin, kampungan dan lugu untuk ku nikahi lalu akan aku ceraikan beberapa tahun kemudian. Sehingga papi menyadari perempuan seperti keinginannya tidak cocok masuk ke dalam keluarga kami, hanya Laura yang pantas menjadi pendamping hidupku. Dan Bu Tanti membawamu padaku, lalu kita menikah. Kau mendapatkan uang, aku mendapatkan restu papi untuk menikahi Laura. Impas khan?!!”

Seluruh persendian Cahaya lunglai, ia terduduk di pinggir ranjang. Jadi itu alasan Kafka menikahinya. Cahaya tak tau bagaimana perasaannya saat ini, yang jelas dia sangat terpukul. Hatinya sungguh terluka! Setelah mengabdikan diri selama 5 tahun di rumah ini, hanya sakit yang ia rasakan.

“Ini bukan bisnis di mana kedua belah pihak saling menguntungkan. Aku tak butuh uangmu sepeser pun! Aku hanya ingin pernikahan yang sakinah dan seumur hidupku.”

“Alah, bulshit! Semua keinginan orang miskin itu sama, uang. Jangan munafik, kita sama-sama punya tujuan dalam pernikahan ini!” Kafka meninggalkan Cahaya.

Cahaya terpaku di sudut kamar. Tak ada air mata karena menangis pun percuma, semua telah terjadi. Cahaya hanya bisa menulis di catatan hariannya.

***

Cahaya mendengar percakapan antara Mami dan Kafka. Bukan maksud menguping, suara mereka yang terlalu besar sehingga terdengar ke kamar.

“Mama heran denganmu, mengapa bisa kau menikahi gadis kampungan itu? Untuk mengenalkannya pada tetangga saja mami malu apalagi membawanya ke acara mami. Sebaiknya kau ceraikan perempuan mandul itu!”

Deg! Mandul??? Jantung Cahaya berdegup kencang, apa lagi yang terjadi? Teganya mami menyebutnya ‘perempuan mandul’. Apa mami lupa mempunyai dua orang anak gadis, suatu hari mereka akan menikah dan tinggal bersama mertua. Apa mami tidak takut anaknya akan mengalami perlakuan seperti Cahaya?

Air mata Cahaya menetes, andai itu sumur mungkin sudah kering karena terlalu sering menangis. Bukan Cahaya tidak mau berusaha untuk memiliki anak, sungguh dia sangat ingin apalagi umurnya sudah kepala tiga. Cahaya sudah menge-chek kesehatan, semua normal dan baik-baik saja. Dokter menyarankan Cahaya refleshing dan istirahat yang banyak agar pembuahannya berhasil, tapi bagaimana mungkin itu terjadi bila dia berada di rumah mertuanya. Cahaya menghela nafas cukup berat. Dia tidak mandul, dia pasti akan punya anak. Akan dia lakukan semuanya untuk memiliki momongan, walau harus mengorbankan nyawa sekali pun.

***

Setahun kemudian do’a Cahaya terkabul, dia hamil. Kebahagiaan segera menyelimuti keluarganya dan Kafka. Cahaya telah membuktikan bahwasanya dia seorang wanita yang berguna, dia tidak mandul seperti kata ibu mami. Butuh waktu lumayan lama untuk me-realisasikan kebahagiaan itu.

Perubahan bentuk badan Cahaya membawa perubahan pada mami dan kedua adik iparnya, tapi Kafka tidak berubah. Setiap Cahaya meminta Kafka menemaninya chek-up ke dokter, Kafka pasti menolak. Dari tatapannya seolah-olah dia tidak menginginkan bayi itu, bahkan sepertinya Kafka menyesal dengan kehamilan Cahaya. Ternyata Kafka berniat menceraikan Cahaya dan menikahi Laura. Papi pasti tidak keberatan dengan keputusannya, toh Cahaya tidak bisa memberinya anak setelah 6 tahun menikah. Sekarang impian Kafka dan Laura berantakan dengan kehamilan Cahaya, Kafka pun semakin membenci Cahaya yang seharusnya dicurahi perhatian dan kebahagiaan.

***

Beberapa bulan kemudian…

Kafka terpaku di depan sebuah pusara bertanah merah basah. Di dalamnya terbujur kaku jasad seorang wanita hebat yang mengabdikan seumur hidupnya untuk kebahagiaan orang lain. Rintik-rintik hujan berjatuhan dari langit, membasahi wajah Kafka. Ada penyesalan di balik wajah nelangsang itu, membuatnya tak ingin beranjak dari pusara itu walau hujan semakin deras. Beberapa orang sudah mengajaknya pergi, namun dia tak bergeming sampai tempat itu benar-benar kosong.

“Satu hal yang paling aku sesalkan, mengapa kak Cahaya jatuh cinta pada laki-laki sepertimu!”

Sepasang mata menatap Kafka tajam, seakan ingin melahapnya hidup-hidup. “Cinta…”

“Seandainya dia tidak mencintaimu, mungkin kakakku tidak akan terkubur di sini. Bukan kanker otak yang membunuhnya, tapi keluargamu yang setiap hari menyiksa bathinnya sampai dia mati!”

“Ma… Maafkan aku Cinta…”

“Dosamu kepada Tuhan dan kak Cahaya. Sebagai seorang suami kau melanggar ikrar pernikahanmu terhadap Tuhan. Sebagai seorang suami kau telah lalai menjaga istrimu bahkan ketika dia sedang mengandung anakmu. Bertahun-tahun dia mengabdikan dirinya padamu dan keluargamu, tapi apa balasan kalian hah? Kalian terus saja tak menghargainya sampai dia mati. Apa salah bila kak Cahaya terlahir dari keluarga miskin? Apa salah kak Cahaya mencintai lelaki kaya sepertimu? Asal kau tau, kak Cahaya rela mengorbankan semuanya demi pernikahan kalian. Seharusnya sekarang dia sudah menjadi seorang manager di perusahaan hebat, seharusnya dia sudah mempunyai beberapa anak dari suami yang baik hati, seharusnya dia tidak terbujur kaku di dalam tanah. Ini semua gara-gara kau!” Tatapan Cinta semakin menghujam. “Kau dan keluargamu pembunuh berdarah dingin!”

Kafka tercekat. “Aku minta maaf karena telah lalai menjaga Cahaya. Aku menyesal, sangat-sangat menyesal Cinta…” Kafka menangis.

“Apa penyesalanmu bisa menghidupkan kakakku?!! Kak Cahaya begitu mencintaimu, tapi kau balas dengan perselingkuhan. Dia sangat menghormati keluargamu, tapi yang dia dapat hanya cacian. Kalian sama sekali tidak tau siapa kakakku, kalian tidak bertanya seperti apa dia di dunia-nya, yang kalian tau kak cahaya hanyalah gadis dari kasta rendah yang ingin meraup keuntungan dengan menikahi lelaki kaya sepertimu. Tau apa kalian akan kakakku? Bahkan kau sebagai suaminya tidak tau kalau kakakku lulusan magister di Inggris dengan nilai cumlaude. Mentang-mentang dia miskin, maka kalian menganggapnya tidak terpelajar dan kampungan. Apa kau tau seperti apa pekerjaan kakakku? Sehingga tiap dia menegur aktivitasmu di luar rumah kau memarahinya dengan dalih kakakku tidak tau apa-apa. Kau manusia paling jahat di dunia ini! Untuk apa kau menikahi kakakku kalau akhirnya kau membunuhnya. Dasar pembunuh!!!” Cinta memukuli Kafka yang tak bergeming.

Kafka terjatuh lemah di kaki Cinta. “Maafkan aku… Maafkan aku…” Katanya berulang-ulang.

Cinta mundur menjauhi Kafka. “Dengar, aku yang akan mengurus bayi kakakku.”

Kafka melotot, terkejut.

“Aku tidak mau nasibnya seperti kakakku. Selama kalian menikah hanya beberapa kali kau datang ke rumah kami dan itu pun karena terbaksa sebab kami menintamu, jadi mulai saat ini kau tak perlu repot-repot terpaksa mengunjungi kami. Aku haramkan kau menginjakkan kaki di rumah kami apalagi menyentuh anak kakakku! Walau kau menanamkan sperma-mu di rahim kakakku, bukan berarti anak yang kakakku lahirkan itu anakmu. Kau tidak pantas menjadi seorang suami, apalagi menjadi seorang ayah! Mulai saat ini menjauhlah dari keluargaku!” Cinta menatap Kafka emosi.

“Cinta, tolong jangan jauhkan aku dari putiku…” Kafka memohon.

“Dia bukan anakmu! Kau tak pernah menganggapnya ada saat di kandungan kak cahaya dan sampai kapan pun dia tak pernah ada dalam hidupmu!” Kata Cinta tegas.

“Tolonglah Cinta… Mana bisa kau memisahkan seorang anak dari ayah kandungnya…” Kafka memelas. “Hanya dia yang Cahaya tinggalkan untukku…”

“Lalu bagaimana bisa kau memisahkan seorang anak dari ibunya?!! Sudahlah jangan banyak cakap, aku akan mengurus semuanya. Anggap saja anak itu tak pernah lahir, seperti kau tak pernah menganggap kakakku!”

“Cinta…”

“Pergi! Jangan pernah datang ke makam kak Cahaya, juga jangan pernah menampakkan wajah jahatmu di depan kami. Pergi!!!” Cinta menarik Kafka kasar.

“Cinta… Tolong… Jangan lakukan ini padaku. Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Cahaya pasti sedih bila keadaannya begini. Aku sungguh-sungguh tak pernah menyangka semua ini terjadi…”

“Pergi dari sini!!!” Bentak Cinta.

Kafka tak bergeming, malah memeluk nisan Cahaya. “Kau telah mengambil putriku, sekarang jangan kau pisahkan aku dari istriku. Aku sudah menyakitinya selama bertahun-tahun dan kali ini aku takkan membiarkannya tersakiti oleh apa pun apalagi seorang diri. Aku tak akan meninggalkannya seperti dulu.”

Cinta mencibir. “Aku takkan terkecoh oleh acting pasaranmu! Semua orang tau betapa jahatnya kau pada kakakku, jadi jangan mencari belas kasihan orang lain seolah-olah kau orang yang paling tersedih atas kematian kakakku! Pergi dari sini! Aku bilang pergi Kafkaaaaa!!!”

“Aku tak akan pergi! Aku ingin menemani istriku. Biarkan aku menebus semua kesalahanku, aku akan berada di sini bersama istriku…” Kafka mempererat pegangannya.

Cinta tak tahan lagi. Dia memanggil penjaga kuburan untuk menyeret Kafka menjauh dari pusara Cahaya.

“Bertahun-tahun kau mengganggu kakakku. Mulai saat ini tak akan ku izinkan kau mengganggu peristirahatan terakhirnya.”

Kafka menatap Cinta sayu. “Maafkan aku…”

“Pergi sejauh-jauhnya dari kami!” Dia melemparkan diary Cahaya. “Baca ini agar kau tau bagaimana seharusnya kak Cahaya hidup bila tak bertemu denganmu.” Cinta meninggalkan Kafka yang terpaku dalam penyesalan.

Beberapa langkah menjauh, tangis Cinta pun pecah. Bertahun-tahun dia memendam perasaan terluka itu, sebab hanya dia yang tau sedalam apa luka yang ditancapkan keluarga Kafka pada Cahaya. Seandainya waktu bisa diputar, ingin rasanya Cinta melarang pernikahan kakakknya. Tapi Cinta bisa apa tatkala melihat tatapan penuh cinta milik kakaknya, baru kali itu Cinta melihat kakaknya mencinta begitu dalam. Kini kakaknya telah pergi, membawa semua cinta dan bencinya.

“Kak, akan ku beri nama anakmu Cahaya. Aku ingin dia menjadi penerang dalam kegelapan, sama sepertimu. Tapi takkan ku biarkan dia terbakar cahayanya sendiri hanya untuk menjadi penerang orang-orang yang malah membakarnya, takkan ku biarkan kejadian yang sama menimpa gadis kecilmu. Kak, dia akan menjadi cahaya yang menerangi dunia tanpa mengorbankan dirinya sendiri. Biarkan cahaya-mu hidup dalam cahanya-nya kak…”

***

Sementara itu di lain tempat Kafka tak bisa menahan tangis dan penyesalannya setelah membaca diary Cahaya. Kafka sangat menyesal telah membuat semua impian Cahaya hancur berantakan, bukannya memperbaiki impian itu dia malah menginjaknya sehingga menjadi puing-puing kecil. Seandainya sekali saja dia memperhatikan istrinya, mungkin dia dan Cahaya akan bahagia dengan beberapa orang anak. Keegoisannya telah membunuh Cahaya.

Selama ini Kafka salah sangka pada Cahaya. Dia pikir Cahaya seorang gadis miskin rakus harta yang menikahinya demi kemewahan hidup. Hanya karena Cahaya miskin dia dan keluarganya selalu menginjak-injak harga diri Cahaya. Padahal Cahaya jauh dari bayangan Kafka, dia wanita hebat. Kafka menyesal telah menyakiti istrinya. Benar kata Cinta, dia dan keluarganya telah membunuh Cahaya secara tidak langsung. Cahaya yang di-vonis mengidap kanker otak stadium akhir lebih memilih mempertahankan bayinya dari pada kesembuhannya sendiri. Padahal dokter telah mengingatkan Cahaya akan resiko yang akan terjadi bila dia tetap mempertahankan kandungannya yang saat itu baru memasuki minggu ke-delapan. Cahaya sangat ingin membahagiakan semua orang dengan tangisan bayi, walaupun nyawa taruhannya. Selama 7 bulan Cahaya menahan sakit di kepalanya sampai dia meninggal saat melahirkan putrinya. Setidaknya Cahaya telah menuntaskan kewajibannya sebagai istri dan ibu.

“Ya Tuhan, apa yang terjadi? Aku jatuh cinta apada lelaki itu. Wajahnya, suaranya, senyumannya dan langkah kakinya selalu membuatku berdebar. Semoga dia jodoh pertama dan terakhirku…”

“Sehebat apa pun aku di luar sana, di rumah mertua aku tetap lah seorang menantu. Sepintar apa pun aku di kampus, suami tetap lah pimpinanku. Itulah mengapa aku tidak menunjukkan semua kehebatan yang aku miliki di rumah ini. Aku hanya lah seorang menantu, tidak pantas menyombongkan apa yang aku punya. Lagian semua sudah jadi mantan karena statusku sekarang adalah seorang istri.”

Kafka menangis, tak mampu lagi untuk mengisak. Dia memutuskan untuk mengunjungi makam Cahaya.

“Cahaya istriku sayang, apa kabarmu di sana? Maafkan aku telah mengabaikanmu selama ini. Maafkan aku telah menyakitimu selama ini. Maafkan aku yang telah menikahimu tanpa memberi kabahagiaan sebuah pernikahan. Maaf bila aku tak membelamu saat Mami memarahimu, atau pun saat kedua adikku menjahatimu. Maafkan karena aku tak bisa mencintaimu seperti kau mencintaiku. Cahaya sayang, bahkan triliun-an maaf pun tidak bisa menyembuhkan luka hatimu. Sedalam apa pun penyesalanku tak ada artinya karena kau telah meninggalkanku.” Kafka meletakkan setangkai mawar pink kesukaan Cahaya di atas pusara. “Cahaya istriku sayang, untuk pertama kalinya aku mencintaimu… Takkan pernah berubah selamanya…” Kafka menangis.

Ah… Penyesalan selalu datang terlambat! Ketika penyesalan telah terjadi maka manusia hanya bisa berandai-andai. Penyesalan takkan merubah apapun yang telah terjadi selain keinginan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Andai penyesalan datang di awal…

***

Banda Atjeh, 24 Mei 2011 – 22 :35 WIB.

“Penyesalan takkan bisa mengakhiri sebuah perjalanan hidup seseorang,

tapi sebagai pengalaman untuk tidak mengulang kesalahan yang sama”

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s