Miss Resek


Siang itu di kelas sebuah Pondok Pesantren Modern di Kota Medan…

“Eh Wir, anti merasa gak kalau intonasi suara Hamidah tadi berubah waktu bicara dengan Nay?” Tanya Niar pada Wirda, teman sekelasnya.

“Kirain Cuma ana yang merasa gitu, ternyata kamu juga.”

“Kira-kira kenapa yach? Apa mereka ada masalah? Setau ana, mereka khan sahabat akrab dari kelas I.”

Wirda mengangkat bahu, “Gak tau tuch! Ana gak mau ikut campur ah, ntar mereka marah…”

“Benar juga sih…”

“Ya sudah lebih baik kita le kantin saja.”

∆∆∆

“Hai cewek! Kok murung?” Sapa Wirda saat melihat Nay sedang termenung di balkon asrama mereka.

Nay tersenyum kecut. “Gak ada apa-apa, Cuma lagi ingat rumah aja.”

“Ah yang benar? Jangan-jangan lagi mikirin seseorang di asrama putra ya…” Goda Wirda.

Nay mencubit pinggang Wirda. “Enak saja!”

Wirda meringis kesakitan. Sedetik kemudian ia menatap Nay serius. “Anti lagi bertengkar ya dengan Hamidah?”

Rona wajah Nay seketika berubah. “Kenapa bertanya begitu?”

Wirda mendengus. “Ditanya kok balas tanya. Udahlah Nay, walau kita gak terlalu dekat, tapi ana kenal anti dan Hamidah dari kelas I. Jadi ana tau kalau anti lagi ada masalah dengan Hamidah.”

Nay menghela nafas. “Ana gak tau mau bilang apa Wir. Ana sedih dan kecewa…”

“Memangnya kalian bertengkar karena apa?”

“Ana juga gak tau. Sudah hampir 3 bulan ini kami jarang berkomunikasi, Hamidah seperti menjaga jarak. Ana merasa kehilangan sesuatu dari diri ana, kehilangan seorang saudara terbaik. Apalagi semenjak dia dekat dengan Sarimah, Hamidah semakin menjauh.”

“Ana juga merasa aneh semenjak kalian gak seakrab dulu, tapi ana gak berani bertanya karena ini bukan urusan ana. Cuma ana merasakan kalau sekarang Hamidah itu berbeda, sikapnya terasa janggal. Dia lebih mirip Sarimah dari pada dirinya sendiri.”

“Hamidah berubah. Tutur katanya tidak sehalus dulu, lebih terdengar kasar dan sinis. Jika ana sapa dia pasti membuang muka dan mencueki ana. Kalau ana mengucap salam hanya dibalas sekenanya saja dan yang sangat menyakitkan ketika Hamidah dan Sarimah berbisik-bisik seperti menggosipi ana. Sebenarnya tidak mau su’uzhan, tapi dalam hadist sudah ditegaskan berbisik-bisik itu dilarang karena akan menimbulkan keburukan, orang pasti akan berburuk sangka dan akhirnya timbullah fitnah. Entah apa salah ana padanya mereka, terkhususnya pada Hamidah…” Nay terisak.

Wirda menepuk bahu Nay, “Jangan menangis Nay. Serahkan semua pada Allah, mengadulah pada-Nya. Karena Allah Maha Mengetahui.”

Nay mengangguk.

∆∆∆

“Mida, ada waktu? Ana mau bicara sama anti.”

“Kenapa? Ana ada tugas dari ustazah Chalidah.”

“Muddatan faqad. Please…”

“Cepetan ya!”

Nay menelan ludah mendengar kata ketus sahabatnya itu. “Hm, mungkin bagi anti ini gak penting. Tapi ana selalu terpikiran, karena ana udah anggap anti sebagai saudara ana. Ana gak mau bicara banyak, ana Cuma mau tau kenapa anti menjauhi ana? Apa salah ana?”

Tatapan Hamidah seakan menikam jantung Nay. “Gak usah dibahas. Gak penting!”

“Tapi Mida…”

“Mida, ayo ke kamar ustazah Chalidah…” Kedatangan Sarimah memotong perkataan Nay. “Gak enak kalau kita terlambat.” Sarimah menepuk bahu Hamidah. “Hm, Hamidah… anti tau tidak apa ciri-ciri orang munafik? Tadi ada santriwati kelas I yang bertanya.” Tanya Sarimah serius.

“Ciri-ciri orang munafik adalah…” Hamidah hendak menjawab namun terpotong oleh kata-kata Sarimah.

“Agaknya kurang tepat ana bertanya ke anti, cocoknya ana bertanya ke Nay…” Sarimah menghujat Nay dengan tatapan tajam. “Anti pasti tau khan Nay ciri-ciri orang munafik itu? Tak perlu merujuk pada kitab apapun karena dengan melihat anti saja semua orang sudah tau seperti apa orang munafik itu.”

Nay tersentak. Sedih, marah dan kecewa. “Maksud anti apa Sarimah? Bagaimana mungkin anti menuduh ana seperti itu? Apa salah ana? Rasanya sangat pedih dituduh sebagai orang munafik!”

Sarimah mengangkat bahu. “Pikir saja sendiri! Ayo Mida… nanti kita terlambat menemui ustazah.” Sarimah menarik Hamidah tanpa menghiraukan Nay.

Perkataan Sarimah yang ketus dan sinis menghujam hati Nay. Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba saja Sarimah berkata seperti itu. Nay bertanya-tanya apa salahnya sehingga ada orang yang begitu tega menyakitinya. Nay pun menangis tersedu-sedu di sudut kamar. Hatinya hancur melihat perlakuan sahabat karibnya itu. Mungkin Sarimah bukan siapa-siapa, karena Sarimah memang selalu bersikap ketus pada Nay. Tapi Hamidah? Dia adalah sahabat Nay semenjak mereka masuk ke Pondok Pesantren ini. “Ya Rabb, apa salah hamba?”

∆∆∆

Tak tahan dengan sakit di hatinya, Nay pun menceritakan semua keluh kesahnya pada Wirda dan Niar…

“Si Sarimah memang begitu sifatnya! Suka sekali mencampuri urusan orang.” Kata Wirda geram.

“Astagfirullah Wirda… jangan bicara seperti itu. Kalo itu benar, namanya ghibah. Tapi kalau tidak benar, fitnah namanya.” Niar menasehati Wirda. “Anti juga Nay, jangan su’uzhan dulu yach sama perubahan sikap Hamidah padamu. Antunna kurang komunikasi, makanya tercipta sikap yang seperti itu. Dari buku yang pernah ana baca, sebuah hubungan akan rapuh dan hancur apabila tidak ada terjalin komunikasi di dalamnya. Mungkin itulah yang sedang antunna alami sekarang ini.”

“Sekali-kali ghibah tak apa lah, yang penting bukan fitnah. Asal kalian tau yach… si Sarimah itu memang suka begitu. Dulu saja ana pernah bertengkar dengannya karena mencampuri urusan ana dengan si Habib, itu lhoh  anak kelas VI yang suka sama ana. Dasar Sarimah Miss Resek! Itu julukan para santri dan santriwati padanya.” Wirda menceritakan pengalaman buruknya dengan Sarimah. “Niar tau tuh ceritanya, karena Niar ada di TKP. Padahal ana mau gampar dia, tapi dicegah Niar. Gara-gara dia, ana pake jilbab merah dan si Habib diskors. Gak suka ana sama Miss Resek itu!”

Niar geleng-geleng kepala. “Udahan dech Wir, jangan terlalu di-dramatisir. Itu masa lalu, pas kita kelas III. Aku aja udah lupa.”

“Ana gak mungkin lupa, ana yang merasakan semua sakit dan malunya. Sampai detik ini ana gak bisa maafin si Sarimah Resek itu, apalagi dia juga gak sadar untuk minta maaf…”

“Duh… kok jadi anti yang curhat Wir?“ Niar mencolek bahu Wirda. “Oia Nay, anti mau cerita apa lagi? Gak usah sungkan sama kami berdua. Insya Allah kami akan mencari jalan keluarnya…”

Kembali Nay mencurahkan segala unek-uneknya, diselingi dengan tangis.

∆∆∆

“Nay, anti dipanggil ke bagian bahasa. Udah tau?”

Nay yang sedang membilas pakaian di kamar mandi terkejut akan berita yang disampaikan Wirda. “Lagi?”

Wirda mengangguk iba. Ini kali ke-5 nama Nay dipanggil ke bagian bahasa. Bagi santriwati kelas V dan VI, pengurus bahasa mereka adalah para ustazah. Sedangkan santriwati kelas I-IV, mereka ditangani oleh santriwati kelas VI yang saat ini sedang menjabat sebagai anggota organisasi pondok pesantren.

Wajah putih Nay langsung pucat. “Kenapa bisa begini? Lima kali? Ya Rabb…”

“Ana juga gak tau Nay. Kayaknya ana tau dech ini perbuatan siapa.”

“Siapa yang tega mencatat nama ana sampai berkali-kali? Selama ini ana selalu berusaha menggunakan bahasa yang diwajibkan…”

“Anti terlalu baik Nay. Sampai-sampai anti tidak menyadari ada orang dengki di sekitar anti. Kita memang dianjurkan untuk husnuzhan pada semua orang, tapi gak ada salahnya khan kalau kita waspada. Toh ini untuk kemaslahatan kita juga…”

Nay terdiam. “Tapi kenapa harus mereka? Salah satunya sahabat ana, orang yang paling mengerti keadaan ana…”

“Manusia gak bisa ditebak Nay. Kulit buah mungkin saja sama, tapi isinya pasti berbeda …”

Lagi-lagi Nay terdiam. “Ana gak tau. Ya sudahlah, ana pasrah saja.” Nay memakai kerudungnya. “Temani ana ke ruangan bahasa ya Wir…”

“Siap boss!”

∆∆∆

Minggu ujian di Pondok adalah hari-hari yang istimewa karena semua santri membawa buku ke mana saja mereka pergi. Kalau ada yang tidak membawa buku, maka akan ada ‘jasus’ atau mata-mata yang akan melaporkan mereka pada guru. Senin, hari terakhir ujian semester I. Bagi santri dan santriwati kelas V, hari ini yang diujiankan adalah pelajaran Mahfuzat dan Balaghah. Seusai ujian, Nay menemui Niar di kelas sebelah. Nay ingin meminta Niar dan Wirda menemaninya ke puskesmas sebab sudah tiga hari ini Nay tidak enak badan. Saat memasuki kelas, Ia berpas-pasan dengan  Hamidah yang langsung melongos pergi seakan Nay tak ada. Lalu ketika berpas-pasan dengan Sarimah, Sarimah sengaja menyenggol bahu Nay dengan bahunya. Tidak terlalu kuat, cukup membuat Nay meringis.

“Huh! Dasar Miss Resek!” Wirda menghampiri Nay. “Sakit Nay?”

Nay menggeleng. Sakit yang dirasa di bahunya tidak sebanding dengan sakit di hatinya.

“Wajah anti pucat sekali Nay, kita ke kamar saja…” Niar mengapit lengan Nay yang lemas. Tak disangka tiba-tiba tubuh Nay melorot dan jatuh ke lantai. Dengan sigap Wirda menahannya agar tidak mencium lantai.

“Sa’idnii… Nay pingsan!” Niar berteriak. Orang-orang pun berlari dan menggotong Nay ke Balai Pengobatan Pondok Pesantren.

∆∆∆

Sementara itu di lain tempat, di sebuah kamar di Asrama Aisyah…

“Lemah kali pun si Nay itu! Baru juga disikut, udah pingsan. Kebanyakan gaya dan besar mulut. Belagu…”

Hamidah menyimak satu persatu kata yang diucapkan Sarimah. “Anti menyikut Nay? Kenapa?”

“Suka aja!”

“Masya Allah Sarimah… anti gak boleh berbuat seperti itu! Atas dasar apapun itu, anti tidak boleh menzhalimi orang lain. Kita ini Muslim, berarti kita bersaudara. Bagaimana mungkin anti tega menyakiti saudara anti sendiri?”

“Lhoh… ana khan mau membela anti. Habisnya ana kesal kalau melihat tampangnya, seolah tak berdosa. Padahal dia sangat jahat pada anti! Dia sudah merebut beasiswa yang sangat anti harapkan. Katanya dia gak mau ikut, ternyata diam-diam mendaftarkan diri. Semua orang tau kalau Nay itu berprestasi, cantik dan sangat kaya. Ana yakin kalau dewan guru akan lebih memilih Nay untuk beasiswa tersebut. Nay itu licik. Bahkan sangat licik! Begitu banyak hal yang Nay rebut dari anti sampai-sampai anti…”

“Cukup!” Bentak Hamidah. Ia memandang Sarimah tak suka.

“Kenapa membentak ana? Selama ini ana mati-matian membela anti!”

“Ternyata benar apa yang selama ini ana dengar. Anti terlalu suka mencampuri urusan orang lain. Wajar saja kalau banyak orang yang tidak menyukai anti karena anti itu RESEK! Harusnya dari dulu ana menjaga jarak dari mulut jahat anti itu. Ya Allah… ana sudah menjahati sahabat terbaik ana…”

“Dasar gak tau diri! Kalau gak ada ana, gak akan ada yang belain dan anggap anti ada. Anti gak sadar ya kalau selama ini anti Cuma jadi yang kedua karena ditutupi oleh pesona Nay. Sampai-sampai semua cowok yang mendekati anti ujung-ujungnya pengen dekat dengan Nay. Kasihan ana lihat anti…”

“Terserah apa kata anti. Ana gak peduli! Biar aja semua orang anggap ana nomor dua, asalkan ana punya sahabat yang selalu menganggap ana nomor satu. Sejujurnya ana tidak pernah peduli dengan orang-orang yang memanfaatkan ana untuk mendekati Nay, karena Nay memang pantas disukai banyak orang dan ana bangga padanya. Mungkin hati ana sudah terlalu kotor karena termakan hasutan anti makanya ana jadi zhalim seperti ini. Ana gak butuh pembelaan apa pun dari anti, karena semuanya Cuma omong kosong. Bukan ana tidak tau terima kasih, tapi ana hanya ingin memilih teman yang baik buat ana. Dekat dengan antu sama saja ana berteman dengan pembuat pedang, dari jauh saja panasnya sudah mengenai ana apalagi dari dekat. Syukran untuk semuanya!” Hamidah membanting daun pintu dengan keras.

“Ukhti Hamidah, ada surat.” Seorang santriwati kelas II memberikan sebuah amplop berwarna coklat.

“Syukran…” Hamidah membuka amplop itu, dalam hati ia bertanya-tanya apa isinya. “Masya Allah… Alhamdulillah…” Hamidah ber-sujud syukur setelah mengetahui bahwa Dia lah yang mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Mesir yang selama ini diimpikannya. “Ya Allah…” Hamidah teringat sesuatu. “Maafkan hamba Ya Rabb, hamba telah menzhalimi sahabat anda sendiri…” Air mata Hamidah bercucuran. Dengan sekencang mungkin Ia berlari menuju Balai Pengobatan tempat Nay dirawat. Jarak 10 menit terasa begitu lama dilalui oleh langkah kaki Hamidah. Ia terus menyesali perbuatannya, seraya berharap masih ada ruang bagi Nay untuk menjadikannya sahabat seperti dulu. Semoga saja…

∆∆∆

Medan, September 2005

Diedit dan ditulis kembali pada:

10 Januari 2010 – 01 : 06 AM

“Semua kenangan saat di Raudhah t’cinta,

Semoga p’sahabatan Gw dg

Sahabat2 Gw selalu dijaga oleh sang Maha Penjaga.

Amin 44x”

^^….Man Zhalama Zhulima….^^

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s