Nyonya Besar dan Ajudannya


Dahulu kala di sebuah desa kecil bernama Desa SukasirikSukabenci hiduplah seorang wanita bernama Nyonya Besar. Ia adalah seorang saudagar kaya yang pintar namun licik, kejam dan angkuh. Dalam hitungan tahun, Desa yang awalnya makmur sentausa itu pun dikuasai oleh sang Nyonya besar yang serakah. Maka rakyat2 tak berdosa itu pun harus rela berada di bawah pimpinan sang Nyonya Besar.

Pada suatu hari, sang nyonya besar bersama beberapa para pembantunya pergi ke hutan untuk berburu. Di tengah jalan rombongan kecil itu menemukan seorang pemuda miskin lumayan tampan yang tergeletak bersimbah darah, di tangan dan wajahnya terdapat cakaran harimau. Awalnya sang Nyonya ingin membiarkan pemuda tersebut, namun atas saran seorang pembantu terdekatnya maka pemuda itu pun dibawa ke rumah sang Nyonya, walaupun sebenarnya nyonya itu tidak ikhlas dan kesal karena acara berburunya batal. Sang Nyonya pun berniat menjadikan Pemuda malang itu sebagai budaknya kelak.

Waktu demi waktupun berlalu… Entah misteri apa yang terjadi. Di hari ketiga Pemuda itu dirawat digudang rumah Sang Nyonya, tiba2 Nyonya angkuh itu berinisiatif untuk menjenguk pemuda itu. Semua pembantu terkejut dan tidak percaya, apalagi sikap Sang Nyonya yang biasanya sangat menjengkelkan itu jadi sangat baik pada si Pemuda. Maka mereka pun bertanya-tanya ada apa gerangan??? Namun tidak ada yang dapat menjawabnya.

Setiap hari, bahkan setiap jam Sang Nyonya mengunjungi kamar Si Pemuda yang kini telah dipindahkan ke kamar tamu yang serba ‘wah’. Sang Nyonya Besar dan Pemuda itu tampak akrab, kadang pun terlihat mesra, bahkan di depan para pembantu. Padahal Sang Nyonya Besar sudah bersuami, seorang pria tampan dan baik Hati bernama Saudagar Baik. Seperti namanya, Saudagar Baik sangatlah Baik dan pengertian. Ia selalu menuruti apa saja yang diinginkan dan diperintahkan oleh Nyonya Besar. Bahkan Nyonya Besar kerap kali memarahinya di depan semua orang apabila Ia berbuat salah. Tetapi dengan lapang dada Saudagar Baik menerima dan memakluminya, Ia selalu tersenyum karena Ia sangat mencintai Nyonya Besar. Cinta yang disalah-gunakan! Atas saran Saudagar Kaya pula lah akhirnya sang Pemuda dijadikan Ajudan untuk Nyonya Besar.

Ketika Saudagar Kaya pergi berniaga ke luar negri, maka semakin menjadilah ulah nyonya besar bersama ajudannya. Rupanya mereka sedang jatuh cinta! Ajudan tau kalau Nyonya Besar sudah ada yang punya, tapi Ia tetap ingin menjadi seseorang yang spesial di hati sang Nyonya Besar, begitu pula sang nyonya yang tidak tau diri itu. Kini Ajudan selalu ada di sisi sang nyonya besar, di manapun dan kapanpun. Walaupun nyonya besar sering kesal dan memarahi Ajudannya tanpa sebab, Ajudan tetap setia untuk cinta bodohnya. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Ajudan suka akan pesona nggak penting si Nyonya Besar. Hubungan antara Nyonya besar dan Ajudannya menjadi pembicaraan hangat di Desa, semua orang mengecam dan mengutuk perbuatan mereka. Tapi mereka tak peduli! Malahan Nyonya Besar menghukum orang2 yang menghalangi hubungan itu.

Berbulan2 pun berlalu! Seperti kata pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Kabar tentang perselingkuhan Nyonya besar dan ajudannya pun tersiar sampai negeri BaRa tempat sang Saudagar Baik berniaga.

Alangkah terkejutnya saudagar baik akan berita itu. Ia pun bergegas kembali ke Desanya tanpa memberitahu nyonya besar dan penduduk desa. Sesampainya saudagar baik di desa, dengan matanya sendiri Ia melihat nyonya besar dan Ajudannya sedang bercengkrama dengan akrab disertai canda nakal. Betapa hancurnya hati saudagar Baik! Selama ini Ia selalu setia dan menuruti perintah istrinya, tapi ternyata sang istri malah mengkhianatinya. Seketika itu juga Saudagar Baik menjadi Jahat. Ia membakar rumah megahnya yang penuh kenangan yang sebenarnya tidak manis bersama nyonya besar, sebelumnya Ia sudah mengamankan seluruh barang berharga seperti perhiasan dan akte tanah Desa SukasirikSukabenci.

Canda tawa Nyonya besar dan ajudannya terhenti ketika melihat kabut hitam di langit. Perasaan mereka pun jadi tak karuan, apalagi beberapa warga yang heboh berteriak tentang kebakaran sebuah rumah. Rasa ingin tau kedua sejoli terlarang itu mebawa mereka berdesakan bersama para penduduk. Tiba2 Nyonya Besar histeris, maka taulah Ajudan kalau yang terbakar itu adalah rumah milik nyonya besar. Ajudan pun berusaha menenangkan nyonya besar. Beberapa saat kemudian, nyonya besar melihat suaminya dan berlari menghampiri. Maksud hati ingin berbagi, eh ternyata caci maki yang diterimanya. Nyonya besar menangis tak menyangka suaminya yang baik hati dan penurut itu tau perbuatannya, bahkan suaminya tega membakar rumah dan mengusirnya dari Desa. Nyonya Besar mengiba dan meminta maaf, namun diabaikan oleh saudagar baik. Para penduduk yang sudah gerah dan tidak suka terhadap nyonya besar pun membantu saudagar kaya mengusir nyonya besar dan ajudannya.

Terlunta2 mereka berjalan ke arah hutan yang tak pernah dijamah manusia karena keangkerannya. Berhari2 mereka kelaparan, kedinginan dan kelelahan di dalam hutan. Nyonya besar yang tidak pernah kerja keras dan Ajudannya yang ternyata metroseksual itupun tidak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya nyonya besar marah dan memaki Ajudannya.

Ajudan yang selama ini selalu bersabar karena cinta bodohnya itu tersadar dari kebodohannya. Ia merenung, berpikir… untuk apa dia bertahan dengan wanita cerewet dan tidak punya apa2 itu? selama ini Ia bertahan karena cinta dan jaminan hidup bahagia sampai 7 turunan dan 7 tanjakan. Cintanya pun langsung hancur lebur hanyut bersama aliran air sungai yang deras.

Keesokan harinya, Ajudan pamit ingin ke Desa tetangga untuk mencari makanan. Nyonya besar ingin ikut, tetapi Ia terlalu lemah untuk perjalanan panjang. Itulah yang diharapkan oleh Ajudan yang memang berniat meninggalkan nyonya besar dan menikah dengan mantan pacarnya di desa tetangga, desa Cintabodoh.

Maka pergilah Ajudan seorang diri dengan harapan sang mantan kekasih masih single dan menerimanya kembali. Berhari2 nyonya besar menunggu Ajudan kembali ke pangkuan cintanya. Karena tidak sabar, nyonya besar memberanikan diri menembus hutan yang tak dikenalnya itu. Segala macam rintangan dilaluinya, kadang ia berjalan, berlari, kadang ia merangkak. Hari ini makan, dua hari kemudian kelaparan. Namun nyonya besar tetap sabar dan teguh untuk menjangkau desa Cintabodoh dan bersua dengan Ajudan tercinta. Akhirnya usaha nyonya besar tak sia2. Sampailah ia di perbatasan Hutan dengan Desa Cintabodoh. Saat itu suasana sangat semarak dan ramai, bertanyalah nyonya besar pada seorang wanita tua yang berpakaian rapi.

Glegaaaarrrrrr!!!!

Tiba2 ada petir yang menghantam hati dan jiwa nyonya besar. Ajudan menikah dengan nyonya janda beranaktujuh??? Oh no! Hancurnya hati nyonya besar. Ia telah kehilangan suami, kehilanagn harta, kehilangan tahta, kini Ia harus kehilangan Ajudan yang ia cintai. Sang nyonya teruz menangis, meratapi dan menyesali kesalahannya. Ia pun menjadi gila. Tertawa, tersenyum, menangis, meraung, marah… emosinya labil, jiwanya terguncang. Tak tahan dengan apa yang menimpanya, nyonya besar pun memutuskan untuk menyudahi semuanya. Ia terjun ke jurang yang amat sangat dalam, dan…

“THE END”

Nb: Ne Cerpen Iseng2 yang tiba2 ajj tersirat dan akhirnya tersurat di Note ini.

Adakah pelajaran yang bisa di ambil hikmahnya???

Hehehe…


4 thoughts on “Nyonya Besar dan Ajudannya

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s