Phobia Cinta


SMU Taman Bahagia,

Seorang murid lelaki dengan tenang membaca sebuah buku pelajaran di perpustakaan sekolah. Pemuda itu bernama Aldiansyah Azizi. Pemuda yang dingin dan angkuh itu ternyata sangat tampan dan pintar. Banyak olimpiade pelajaran yang ia menangkan, baik itu regu maupun personal. Saat ini pemuda yang dipanggil dengan sebutan Aziz itu sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade Fisika di Manila bulan depan. Tanpa pernah memperdulikan keadaan sekitarnya, Aziz berkonsentrasi dengan bacaannya.

“Zizzz…. Azizzz!!!” Panggil Emil, sahabat karib Aziz dari luar perpustakaan. Ruangan yang awalnya senyap dan damai itupun tercemar oleh suara Emil yang lantang.

“Mil, sini!”

“He…he…akhirnya ketemu juga lo! Gw pikir udah pindah ke planet Pluto!” Ucap Emil tanpa peduli dengan pelototan beberapa siswa yang membaca di perpustakaan tersebut. Baginya ketidak pedulian Aziz lebih menarik.

Merasa diperhatikan oleh sahabatnya, Aziz pun menutup buku bacaanya. “Ada apa mil?!! Sekalian aja pake mikrofon kalo manggil nama gw. Biar semua orang tau kalo gw yang namanya Aziz!”

Emil tersenyum mendengar perkataan sahabatnya yang aneh bin ajaib. Bayangkan aza nie…makhluk mana sich yang tahan gak bersosialisasi sama orang-orang sekitarnya? Yang hanya bertahan dengan 2 orang teman. Yang gak pernah berbasa-basi. Yang gak pernah mau tau dengan yang namanya wanita (kecuali Olive tentunya). Dari orok sampe segede ini, Aziz, Emil dan Olive selalu berteman akrab. Mungkin hanya Olive satu-satunya cewek yang dikenal dan diperhatikan oleh Aziz. Oh ya, ada satu wanita lagi! Yaitu Mbok Imah, pembantu di rumah Aziz.

“Bangga ya sama prestasi mempermalukan orang?” Sindir Aziz. “Olive mana? Gak biasanya dia absent.”

“Eh, ke aula yuk!”

“Gak ah!”

“Ayo donk ziz, masa’ lo gak mau liat pameran lukisan itu sich? Ada karya Olive lhoh…” Ajak Emil. “Banyak ceweknya lagi. Cakep-cakep….”

“Gak penting! Kalo lo mau, pergi aja sendiri.”

“Ziz, masa’ lo gak mau menghargai hasil kerja keras Olive selama ini! Dia udah capek-capek ngelukis untuk dipamerin siang ini. Ziz, Olive pasti kecewa kalo lo gak liat karyanya. Ziz…”

Aziz menatap Emil tegas. “Mil, coba lo mengerti gimana gw, kita udah bersahabat sekian taon lamanya, masa’ lo gak tau kalo gw?”

“Iya… iya… gw ngerti plus paham kalo lo benci keramaian. Tapi sampe kapan?”

“Sampe… ah! gak penting and gak perlu dibahas!” Aziz membuka bukunya kembali. “Dari pada lo jadi body guard gw di sini, lebih baek lo temani Olive.”

Emil menghempaskan nafas berat. Tanpa menunggu lanjutan kata-kata Aziz ia pun pergi dengan tenang dan damai.

☻☻☻☻☻☻

Aula SMU Taman Bahagia,

Hiruk piruk pengunjung pameran lukisan karya pelajar SMU Taman Bahagia terdengar kental saat Emil memasuki ruangan luas nan megah tersebut. Mata Emil langsung terbelalak takjub ketika menatap satu demi satu karya teman-teman SMU-nya itu.

“Mil, sini…”

Suara seorang gadis manis membuyarkan ketakjuban Emil. Tampak olehnya Olive melambaikan tangan di sudut ruangan.

“Aziz mana?” Tanya Olive sambil celingak celinguk.

“Gw yang udah ada di sini gak lo tanya?”

Olive tersenyum. “Bego lo! Ngapain gw buang-buang energi untuk orang yang udah jelas-jelas di depan mata gw. lo pikir gw buta? Aziz mana? Pasti dia gak mau datang.” Olive merengut.

“Ya… kaya’ gak tau gimana sifat sobat kita yang satu itu, mana mau sich Aziz datang ke tempat ramai kaya’ gini. Waktu olimpiade lo liat sendiri khan dia langsung ngacir setelah acara selesai. Maklumi ajalah makhluk yang satu itu.”

“Tapi khan ini acara perdana gw Mil. Susah payah gw berusaha, tapi gak dihargai. Lo juga gak akan datang kalo gak diiming-imingin cewek cakep, kalian berdua emang gak setia kawan!” Dengan kesal Olive meninggalkan Emil.

“Live…. tunggu live, jangan kaya’ anak kecil donk! Pake acara merajuk kaya’ gini. Malu tu diliatin orang…”

“Udah… lo gak usah urusin gw. Urus aja diri lo sendiri!” Olive berlari menjauh. Dalam hitungan menit bayangannya tak tampak lagi dari pandangan Emil.

“Huh… mampus gw! Ini gara-gara si  Aziz.”

☻☻☻☻☻☻

Aldiansyah Azizi. Pemuda kelas II 1 SMU Taman Bahagia ini adalah anak tunggal Iqbal Syah dan Mariana Devita, pemilik perusahaan swasta yang merajai perekonomian Indonesia. Dari kecil Aziz terbiasa hidup seorang diri, apalagi saat berumur 5 tahun kedua orang tuanya bercerai. Maka Aziz kecil pun tinggal bersama ayahnya, karena ibunya memutuskan untuk melanjutkan karier modelnya di Belanda. Hari-hari Aziz kecil hanya di temani dengan kekayaan berlimpah dan Mbok Imah, pembantu di rumah Aziz yang di anggap ibu olehnya. Selain Mbok Imah, hanya Emil dan Olive lah sahabatnya yang paling mengerti akan keadaannya. Dari taman kanak-kanak sampai di penghujung SMU ini, Aziz, Emil dan Olive selalu bersama. Apalagi sekolah mereka juga selalu sama. Walaupun telah bersahabat sekian lama, sikap dingin dan angkuh Aziz tak pernah berubah. Berbeda dengan Emil dan Olive yang usil dan ceria. Banyak faktor yang telah membangun semua sifat dingin Aziz. Kehilangan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tua adalah faktor utama. Selain itu, ketika duduk di SLTP Aziz juga pernah beberapa kali mengalami patah hati karena dikhianati. Maka tak pernah ada kamus CINTA dalam hidup Aziz. Baginya cinta adalah pengkhianatan dan kepedihan. Aziz sangat tertutup, hanya pada Mbok Imah dan kedua sahabatnya ia terbuka. Itupun ada beberapa hal yang tersimpan rapi di lubuk hatinya. Mungkin hanya Tuhan dan Aziz sendirilah yang tahu…

Emil perdhana putra. Pemuda yang kerap di panggil Emil ini adalah sahabat terdekat Aziz. Mereka selalu bersama dan se’iya’ se’kata’. Berbeda dengan Aziz, Emil sangat ceria dan usil. Walau bersahabat dengan cowok sedingin Aziz, Emil tetap mempunyai banyak kawan lhoh… Apalagi yang namanya perempuan, walaupun Emil tau maksud mereka adalah merebut hati Aziz. Tapi Emil tetap cuek bebek! Toh dia sudah mempunyai pacar, namanya Indah Sylvia. Namun, Via gak pernah bisa masuk ke daftar nama orang-orang kepercayaan bagi Aziz. Malahan Aziz menganggap Via gak pernah ada. Parah buaaanget khan? Sebagai informasi nie, Emil itu satu kelas dengan Aziz dari TK sampai SMU dan mereka selalu semeja. Kalau dilihat dari berbagai segi, Emil dan Aziz sangatlah berbeda. Emil anak pertama dari 3 bersaudara yang semuanya adalah laki-laki. Emil termasuk play boy, sedangkan Aziz sangat dingin. Bahkan gak mau peduli dengan yang namanya cewek. Oh ya, rumah Emil dan Aziz berjauhan, tapi Emil selalu berada di rumah Aziz. Kadang-kadang orang sampai berpikir, kapan Emil pulang ke rumah? Soalnya dari matahari terbit sampe terbit lagi, wajah Emil tu yang selalu nongol.

Olive. Nama panjang gadis manis yang punya hobby melukis ini sebenarnya R.A.Olivea Larasati Dewina Mayang Lestari Pramuningrat. Panjang amat sech? Kaya’ kereta api aja dech! Walau berasal dari keluarga ningrat, gadis yang duduk di kelas II 2 ini adalah gadis yang super aktif. Gak kemayu dan berwibawa seperti kakak dan kedua adik perempuannya. Olive ini keluarga besar lhoh… dia mempunyai 3 orang saudara lelaki dan 3 orang saudara perempuan. Berhubung rumah Olive tepat di samping rumah Aziz, maka jangan heran kalau Olive lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Aziz dan Emil. Dan jangan heran juga kalo tiba-tiba Olive udah nongol di kamar Aziz tanpa melewati pintu depan rumah Aziz yang besar bak istana. Kamar Aziz dan Olive khan berdempetan di lantai 2, tinggal nyebrang lewat jendela aza dech! Tapi harus hati-hati, jangan coba-coba kalau belum profesional. Bisa langsung ko’it lhoh…

Dan kini… ketiga bersahabat itu sedang berada di kamar Olive yang serba pink! Intip yuk, sedang ngapain aza mereka…

“Live, jangan merengut gitu donk. Gw and Aziz minta maaf dech. kita emang salah…” Emil berusaha meluluhkan hati Olive yang kalo marah lebih keras dari pada batu. Di sampingnya Aziz duduk dengan tenang. Wajahnya tetap kaku dan dingin, kaya’ gak ada rasa bersalah gitu dech! Dari 2 jam yang lalu hanya Emil yang bersuara.

“Lo budek ya Mil? Gw khan udah bilang kalo hari ini gw gak mau diganggu!” Ucap Olive tegas.

“Tapi Live, gw gak bisa tenang kalo lo…”

“Bisa diam gak sich? Kalo lo masih mau di sini, diam aja! Liat tu Aziz dari tadi diam terus. Gak berisik kaya’ lo.”

Merasa tersindir, Aziz langsung mendekati Olive. “Maafin gw Live. Yang salah tu gw, gak ada kaitannya dengan Emil. Tapi gw janji Live, gw akan selalu hadir di moment-moment penting lo yang akan datang. Asalkan lo gak marah dan ceria seperti biasa…”

Olive mencerna kata demi kata yang keluar dari bibir Aziz. Begitu juga dengan Emil. Gak biasa-biasanya Aziz mau meminta maaf. Biasanya Emil dan Olive lah yang meminta maaf, walaupun yang salah sebenarnya Aziz. Funtastic banget!

Tiba-tiba Olive tertawa!

“Kenapa lo Live? Seingat gw di rumah ini gak ada penunggunya dech.”

Olive menjitak kepala Emil. “Sembarangan lo!” Olive masih tertawa, sampai terbatuk-batuk. “Akhirnya gw berhasil ngerjai kalian berdua. Yang pastinya gw semakin berhasil karena Aziz minta maaf. Kejadian langka lhoh…. ya khan Mil?”

Emil mengangguk senang sekaligus lega.

“Gw pegang janji lo Ziz, awas kalo gak lo tepati!”

“Ya…ya…ya… kali ini lo menang…” ucap Aziz pasrah.

“Horeee… berhasil!” Olive dan Emil bersorak gembira di bawah penderitaan Aziz yang tak dapat berbuat apa-apa lagi. Soalnya Aziz itu kalo udah janji, paling pantang kalo gak di tepati. Hm…

☻☻☻☻☻☻

Kelas II 2,

Olive sedang mengerjakan tugas kimia ketika Bu Lenny memasuki kelas dengan seorang gadis cantik di sampingnya. Seketika kelas awalnya seperti pasar ikan menjadi senyap.

“Anak-anak… hari ini kita kedatangan anggota baru. Ibu harap kalian dapat menerimanya dengan baik dan dapat membantunya agar dapat menyesuaikan diri di kelas ini.” Bu Lenny menatap gadis di sampingnya, “Nak, perkenalkan diri kamu di depan teman-teman…”

Gadis cantik itu mengangguk dan berdiri di depan Bu Lenny. Tanpa pernah melepas senyum dari bibir indahnya, gadis itu memperkenalkan diri. Namanya Rahmania Tiara, biasa di panggil Rara. Dia pindahan dari Australia.

“Oke Rara, kamu duduk di samping…” Bu Lenny menatap ke seliling kelas. “Hm… Wahyu, Kamu pindah ke depan, di samping Ucha. Nah, kamu Rara… duduk di tempat Wahyu tadi, di samping Olive.”

“Makasih Bu.” Dengan anggun Rara berjalan menuju meja Olive di deretan nomor 3 dari belakang.

“Hai! Gw Olive, senang berkenalan dengan lo.”

“Aku Rara, bantu aku menyesuaikan diri yach.”

Olive mengangguk seraya menjabat tangan Rara erat.

☻☻☻☻☻☻

“Gw denger di kelas lo ada murid pindahan dari Ausie ya Live? Yang mana orangnya? Cantik?” Tanya Emil menyelidik.

“Kenapa? Lo dah bosan sama Via?” Tanya Olive balik.

“Curigaan melulu. Otak lo tu harus dipermak ulang…”

“Enak aja! Otak lo tu harus dicuci, cewek terus yang dipikirin.” Olive menjitak kepala Emil.

“Hobby banget dech jitak kepala gw!” Emil balas menjitak kepala Olive.

Maka keributan pun terjadi di perpustakaan yang harusnya adem ayem tersebut.

“Kalian bisa diem gak sich?” Aziz memelototi kedua sahabatnya. “Gw mau belajar ni. Olimpiade tinggal seminggu lagi, Gw mohon kerja sama dari kalian. Mil, lo di tunggu Via di kantin. Sorry Gw lupa nyampeinnya.”

“What’s? Koq lo gak bilang dari tadi sich?.

Aziz mengangkat bahu dan membaca bukunya kembali.

“Wadow… gawat nich! Bisa perang dunia ke 4. Lo sich Ziz… bukan bilang dari tadi…” Emil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Olive menarik Emil keluar perpustakaan. “Udah, lo jumpai Via aja, ntar dia marah. Gw juga mau nemani anak baru itu.” Olive meninggalkan Emil dan Aziz.

“Eh Live, salam ya untuk anak baru itu…”

“Ok dech!” Olive berlari menuju kelasnya. Sedangkan Emil berjalan tergesa-gesa menuju kantin.

Karena tergesa-gesa, tanpa sengaja Emil bertabrakan dengan seorang gadis cantik. Di sampingnya ada Arya CS yang paling hobby membuat onar di SMU Taman Bahagia.

“Eh, maaf… gw gak sengaja.” Ucap Emil gugup.

“Maaf, maaf, mata lo ditaruh di dengkul ya?” Bentak Irfan.

“Ya khan gw udah minta maaf, lagian bukan salah gw sepenuhnya koq.”

Dayat menarik kerah baju Emil. “Lo udah berani melawan kami? Lo mau mampus?”

Emil gemetar. “Eh, sorry dech… maksud gw gak kaya’ gitu…”

“Ah, diem lo!!!”. Hampir saja tinju Dayat mampir di wajah Emil ketika…

“Maksud kalian apa sich?” Dengan berani gadis yang bertabrakan dengan Emil menarik tangan kekar dayat. “Aku yang salah. Gak usah bikin keributan dech…” Gadis itu menatap Emil lembut, “Maafin aku ya…” Gadis itu pun meninggalkan emil dan Arya CS.

“Kali ini lo selamat. Laen kali, awas lo!” Ancam Ismail atau Smile membuat Emil merinding. Dengan sombong dan sok berkuasa Arya CS meninggalkan Emil, mereka mengejar gadis cantik misterius yang bertabrakan dengan Emil.

“O… itu toh anak baru pindahan dari Ausie. Siapa tadi namanya? Rara?” Tebak Emil ketika mendengar nama gadis itu dipanggil oleh Arya.

☻☻☻☻☻☻

Emil menemui Via dengan perasaan bersalah. Apalagi Via tersenyum lembut kepadanya.

“Yayang dari mana aja? Koq telat banget datangnya? Aku udah lama nunggu lhoh…” Tanya Via manja.

“Maafin aku Yang, tadi ada masalah dengan Arya CS.”

“Apa? Tapi Yayang gak papa khan?” Dengan khuatir Via meneliti wajah sang kekasih.

“Gak papa koq. Untung tadi ada anak baru yang nolongin aku…”

Via bernafas lega. “Syukur dech! makanya Yayang jangan cari masalah dengan mereka. Kalo ada apa-apa aku khan jadi khuatir…”

Emil menggenggam tangan sang kekasih. “Makasih ya udah mengkhuatirkan aku, dan aku minta maaf karena terlambat, aku udah buat kamu nunggu lama…”

“Gak papa koq…” Via tersenyum tulus. Tak lama kemudian, bel tanda istirahat berakhir pun berbunyi nyaring.

☻☻☻☻☻

“Ziz,  gw lupa cerita sesuatu ma lo. Mau denger gak? Mau yach…”

“Ya udah cerita aja, tapi jangan merasa gw cuekin ya, coz gw lagi ngerjai tugas dari Pak Rahmat, katanya sich kisi-kisi untuk olimpiade minggu depan.” Aziz mencoret-coret buku di hadapannya. “And satu lagi… harus berbobot!”

Emil mencibir. “Gw kemarin hampir di gebukin sama Arya CS.”

“Hm, terus?”

“Gara-gara gw gak sengaja nabrak anak baru yang pindahan dari Ausie itu lhoh. Sialan tu Arya CS! Gak bisa liat barang baru, langsung dech di samber.”

“Hm…”

“Eh Ziz, ternyata tu cewek emang cakep banget lhoh, mana ramah banget orangnya. Senyumannya itu, wah… Gak tahan gw! Maniez banget.”

“…”

“Mana suaranya lembut tapi tegas, tatapan matanya…”

“Sebenarnya lo mau cerita apaan?” Potong Aziz kesal. Gak tau apa kalo gw elergi ma cewek!

“Eh, sorry Ziz… gw masih terbayang sama cewek itu. Hm, kalo gak salah namanya… Rara.”

“Gw rasa gak penting dech! Mau namanya Rara kek, Rira kek, atau mau secantik apapun… gak penting. Untuk apa cantik kalo o’on. Yang ada Cuma malu-maluin kalo dibawa.”

“Tapi khan Ziz, penampilan itu juga penting lhoh…”

“Penting kata lo? Buktinya apa? Lo liat aja orang-orang di sekitar lo. Asyik sibuk sama penampilan, otaknya…. nol besar. Gak usah jauh-jauh dech, cewek lo si… siapa tu namanya? Hm… Via, gak ada bagus-bagusnya. Stupid.”

Emil menatap Aziz tajam. “Kok lari ke Via? Gw gak suka lo bawa-bawa Via, apalagi sampe menghina dia. Udah cukup selama ini lo gak pernah nganggap dia ada. Tapi perlu lo ingat Ziz… gw sayang banget sama Via.” Tanpa permisi Emil meninggalkan kamar Aziz. Bukan hanya lo yang bisa marah Ziz, gw juga! Udah cukup dech gw dengar penghinaan lo terhadap Via!

Di kamarnya Aziz hanya bisa terdiam dengan kepergian sahabatnya. Tak ada rasa sesal atau bersalah di benaknya. Alah… palingan besok udah baikan lagi!

☻☻☻☻☻☻

Di sebuah rumah mewah di kawasan Setia Budi,

Rara dan kedua orang tuanya sedang sarapan bersama di meja makan. Makan pagi dan malam adalah media mereka untuk berbicara banyak hal. Papa juga mewajibkan mereka untuk sarapan dan makan malam bersama. Apalagi semenjak Papa di pindahkan ke Indonesia, Papa semakin jarang di rumah. Dalam seminggu, hanya 3 hari Papa berada di rumah. Selebihnya di kantor atau ke luar kota.

How about your study here honey? Fine?” Tanya papa.

“Aduh papa… jangan pake bahasa Inggris lagi donk. Kita khan udah tinggal di Indonesia.”

Papa tertawa. “Oh… I’m sorry honey. I’m forget.”

Rara merengut. “Males ah bicara sama papa, gak serius.”

“Rara, gak boleh gitu donk sama papa. Udah gede gini masih suka ngambek. Papa khan Cuma bercanda. Ya khan honey?”

“Iya, iya…” Rara melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Pa, ma, Rara pergi dulu ya, ntar macet ni di jalan.” Rara mencium papa dan mamanya.

“Hati-hati dan belajar yang rajin ya honey.”

Ok. Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam…

“Pak  Amri, ntar kita lewat Jalan Iskandar Muda aja ya. Aku mau beli karton dulu.” Ucap Rara pada Pak Amri, supirnya.

“Baik non.” Kata Pak Amri santun.

☻☻☻☻☻☻

Mobil melaju kencang di Jalan Iskandar Muda. Kemahiran Pak Amri dalam mengendarai mobil memang gak perlu disangsikan.

“Pak, berhenti…” Ucap Rara tiba-tiba.

“Ada apa non?”

“Itu, ada temanku. Sepertinya perlu bantuan dech. Sebentar ya pak.” Rara turun dari mobilnya menuju seorang pemuda yang sedang mencoba memperbaiki sepedanya.

“Hai! Kenapa sepedanya? Perlu bantuan? Kamu naik mobil sama aku aja, ntar sepeda kamu biar supirku yang urus.” Rara berkata ramah.

Pemuda itu menatap Rara remeh. “Gak perlu!” Ucapnya angkuh.

“Tapi kamu bisa telat ke sekolah.” Rara mencoba bersabar menghadapi cowok di depannya. Sombong amat sich!

“Gak ngerti bahasa indonesia ya? GW BILANG GAK PERLU! Budek amat sich!”

Ih, ni cowok emang benar-benar gak tau diuntung. Udah mau dibantuin malah marah-marah! “Ya udah kalo gak mau dibantu, tapi gak usah ngebentak gitu donk! Galak amat. Kayak gak diajarin sopan santun aja sama keluarga. Aku duluan ya, permisi…” Dengan kesal Rara meninggalkan pemuda nyebelin tersebut. Cowok aneh dan angkuh! Hm… Aldiansyah Azizi, jadi itu orangnya… cowok yang digandrungi cewek se SMU Taman Bahagia. Apa bagusnya dia???

“Lhoh… temannya koq gak jadi ikut non?” Tanya Pak Amri.

“Gak penting Pak. Ternyata dia bukan temanku, pasien kabur dari rumah sakit jiwa.”

“Aduh non… ngeri banget! Untung non Rara gak diapa-apain.”

“Ya gitu lah Pak…” Rara tersenyum. Biarin aja dia dianggap orang gila. Emang mirip koq!

☻☻☻☻☻☻

“Hai Live!”

“Hai Ra!” Olive memperhatikan teman sebangkunya itu dengan heran. Kayaknya ada yang kurang nie!

“Hello… kenapa ngeliatin aku? Ada yang aneh?”

“Hm, ada bawa karton yang disuruh Bu Hamidah?”

Rara menepuk jidatnya. “Ya ampuuun… aku lupa! Ini pasti gara-gara ketemu dengan cowok jutek itu.”

“Hm…”

“Duh, gimana donk?”

Olive tersenyum. “Untung gw sedia payung sebelum hujan. Gw dah nebak, pasti lo gak bawa.”

“Iya nie, sorry yach! Aku jadi gak enak. Masa’ kesan pertama antara kita jadi gak enak gini. Sekali lagi, maaf ya Live…” Ucap Rara menyesal.

“Gak papa, forget it! Btw, siapa cowok jutek yang lo maksud?”

“Kamu kenal sama yang namanya Aldiansyah Azizi?”

“Oh… Aziz, dia sahabat gw dari kecil. Memangnya kenapa?”

“Apa? Sahabat dari kecil? Koq bisa sich kamu bersahabat sama cowok brutal and gak tau sopan santun seperti dia? Kalo aku, ih… amit-amit dech! Takut.”

Olive tertawa. “Semua orang pasti bilang gitu, termasuk lo. Kalian gak tau aja apa masalah dan masa lalu dia. Tapi gw dan Emil tau semua. Makanya kami bisa nerima Aziz, walaupun kadang-kadang kami kesal dengan sikapnya. Tapi kami menyayanginya. Sifatnya memang seperti itu, sebenarnya dia baik koq.”

“Memang semua orang punya masa lalu yang kadang menyisakan trauma bagi orang tersebut, tapi jangan sampe merugikan atau menyusahkan orang lain.”

“Lo di apain sich sama dia?”

Rara menceritakan kejadian di Jalan Iskandar Muda yang membuatnya kesal setengah mati. Olive tertawa-tawa mendengar cerita Rara.

“Lhoh koq malah ketawa sich?”

“Lucu aja. Lo masih mending Cuma di bentak seperti itu. Dulu waktu kelas I, ada siswi yang kalo gak salah namanya… Ria, tu cewek pernah digampar sama Aziz karena menyatakan cinta di depan murid kelas I. Sampe-sampe tu cewek pindah sekolah.”

“Ih… sadis amat si Aziz!”

“Itu masih mending Ra, masih banyak cewek yang patah hati dan bernasib lebih parah dari pada si Ria. Ada yang namanya Lily, Rina, Susan dan banyak lagi dech. Bahkan ada yang masih naksir sampe sekarang. Trauma masa lalu itu udah ngebuat Aziz takut jatuh cinta. Itu makanya dia anti sama cewek.”

“Parah banget. Kalo menurutku si Aziz itu terjangkit Phobia Cinta.. Harus segera diobati, ntar tambah parah lhoh…”

“Nah, itulah masalahnya Ra. Gak ada dokter dan obat untuk penyakit Aziz. Belum ditemui gitu dech…”

“Masa’ sich? Khan teknologi sekarang udah semakin canggih. Coba bawa aja dia ke psikolog.”

“Emang Aziz gila!”

“Itu khan penyakit kejiwaan Live. Lagipula psikolog itu bukan tempat khusus orang sakit jiwa. Banyak koq orang sehat datang ke sana untuk konsultasi berbagaimacam masalah.”

“Aziz gak perlu dokter atau psikolog, dia Cuma perlu cewek yang ngerti, paham dan benar-benar tulus sayang dan cinta ma dia. Cuma itu Ra…”

“Kayaknya cewek yang kamu maksud itu udah ketemu dech!”

Wajah Olive berbinar, “Siapa?”

“Kamu”

“What? Gw? Gak dech.”

“Lhoh, kenapa? Bukannya kamu tadi bilang kalo Aziz memerlukan cewek yang ngerti dan sayang sama dia. Hanya kamu khan yang seperti itu?”

Olive tertawa terbahak-bahak.” Kalo gw orangnya, udah dari dulu Aziz berubah. Asal lo tau ya Ra, saat pertama kali gw liat lo, gw yakin kalo lo adalah cewek yang cocok bagi Aziz. Ra, mau khan lo jadi pacar Aziz?” Olive menatap Rara penuh harap.

“Ada-ada aja kamu Live, canda kamu gak lucu ah!”

“Gw serius Ra.”

Rara melihat keseriusan dan ketulusan di mata Olive. Ketulusan seorang sahabat. “Udah ah, gak usah dibahas lagi. Lagipula Pak Arif udah masuk dari tadi, kita malah asyik ngebahas hal yang gak penting.” Rara membuka buku Biologinya dan menyudahi pembicaraan tentang Aziz.

“Lo mau bantu gw khan?”

Rara tak menjawab.

Olive tersenyum misterius mendapat tanggapan Rara. Satu ide telah lahir dari pikirannya, tinggal tunggu waktu yang tepat agar semua terlaksana. Ah… Phobia Cinta, Cuma Rara obat mujarab bagi Aziz. Karena Rara adalah gadis baik dan pintar. Ya… Cuma Rara!

☻☻☻☻☻☻

Aziz dan Emil sedang makan di kantin ketika Olive datang bersama Rara. Berpasang-pasang mata menatap Rara yang yang ternyata singgah di meja Aziz.

“Ngedekatin Olive pasti ada maunya.” Tuduh seorang siswi kelas II.

“PDKT sama Aziz tuch. Mentang-mentang cantik dan populer, langsung gaet cowok ganteng. Emang bisa?” Ejek Satya, murid kelas III.

“Kita liat aja, semana batas kemampuan dia ngedekatin Aziz. Gw yakin dia pasti gak akan bertahan lama.” Lena yang sejak SMP naksir Aziz menggeram melihat keakraban Rara dan Olive.

Walaupun belum ada yang tau pasti apa maksud Rara mendekati Olive, namun bisik-bisik di sana sini mulai terdengar. Sampai ada yang taruhan demi hubungan Aziz dan Rara. Olive dan Emil sediri selalu berharap agar Aziz dan Rara saling jatuh cinta dan Aziz sembuh dari Phobia-nya.

☻☻☻☻☻☻

“Ziz, boleh pinjam buku Fisika kamu?” Tanya Rara hati-hati. Kalau bukan karena tugas dari Bu Keumala, Rara gak akan bicara dan meminjam buku Aziz. Semua guru dan murid SMU Taman Bahagia tau kalau Aziz adalah master of Fisika. Walau kesal, mau tak mau hanya Aziz tempatnya meminta tolong. Tadi Rara sudah mencoba meminjam buku pada beberapa orang, baik itu teman sekelasnya maupun dari kelas lain. Namun hasilnya nihil. Mana ujian blok II tinggal seminggu lagi.

“Hm, kalo emang kamu gak ngasih juga gak apa-apa. Aku maklum koq. Salah aku juga kenapa pindah ke SMU ini.” Seperti bicara dengan patung, itulah yang membuat Rara bebas berbicara, mengutarakan uneq-uneqnya. Apalagi hanya tinggal ia dan Aziz di koredor depan kelas. “Sorry mengganggu kamu. Aku pulang duluan ya.”

“Tunggu…”

Langkah Rara berhenti bersamaan dengan detak jantungnya yang berdebar gak karuan. Benarkah Aziz memanggilku dengan suara lembut seperti itu?

            “Ini bukunya, besok udah harus lo kembalikan.” Tiba-tiba Aziz telah menyerahkan buku catatan Fisika miliknya. Seperti biasa, nada suaranya angkuh dan ketus. “Awas kalo telat!”

Ternyata cuma halusinasi!Rara menatap kepergian Aziz dengan kesal. Sebuah buku tulis berada di telapak tangannya.  Dasar Mr. Es! Nyebelin!!!

☻☻☻☻☻☻

“Ra, lo suka sama Aziz?” Tanya Tati, sepupu Rara yang sekolah di SMU Taman Bahagia juga. Saat itu Rara dan Tati yang sekelas dengan Aziz sedang mencari buku di sebuah toko buku.

“Aku? Gak salah dengar tuch?” Betapa terkejutnya Rara mendengar pertanyaan Tati. Rara tertawa, lucu.

“Koq tertawa sich? Emang ada yang lucu?”

Rara mengangguk. “Ada-ada aja pertanyaan kamu. Ganti topik dech!”

“Lo belum jawab pertanyaan gw.”

“Hm… hm…. hm, kalo iya kenapa? Kalo gak kenapa? Atau jangan-jangan kamu yang suka sama tu cowok es?”

Wajah Tati bersemu merah. “Duh! Koq gw yang dihakimi?”

“Yach gitu dech…”

“Kembali ke topik semula. Lo suka ma Aziz?”

“Suka.”

“What?”

“Tulisannya bagus dan rapi. Aku suka bacanya.”

Tati mencubit pipi Rara yang berlesung pipi. “Ya ela… gw pikir beneran. Serius donk Rara…”

Rara terdiam sejenak. Bertanya pada sang hati, adakah secuil rasa suka pada makhluk yang bernama Aziz?

“Kalo ya kenapa? Kalo gak kenapa?”

“Gw rasa, hanya lo cewek yang cocok untuk mendampingi Aziz.” Tati menatap sepupunya yang telah lama tinggal di luar negri itu. “Yach… dari pada si centil Lena atau si cerewet Putri”

“Sssttt! Jangan bilang begitu, kedengeran sama orangnya bisa gawat.”

“Makanya gw tanya hal ini ma sama lo di sini, karena gak akan ada yang denger. Ini toko buku, bukan sekolah.”

“Iya, tapi khan…”

“Lo diem aza dech! Gak usah takut. Tugas lo saat ini hanya menjawab pertanyaan gw. ngerti?”

“Aku gak suka sama Aziz! sampe matipun gak akan pernah suka. Puas?”

“Bo’ong lo!”

“Yach, terserah! Aku mau pulang.”

“Tapi Ra…”

“Kita ke sini untuk cari buku, bukan membahas masalah konyol itu.”

“Konyol lo bilang? Yang gw tanyakan ke lo itu fakta Ra. Gw Cuma gak mau Aziz pacaran sama Lena atau cewek gak berbobot laennya. Karena mereka Cuma kejar tampang dan materi doank.”

“Mau kamu sebenarnya apa sich?”

“Lo jadian ma Aziz.”

“Aku? Gila kamu! Cowok seangkuh, sekasar dan seegois itu mau kamu jadikan pacarku? Masa’ kamu tega liat sepupumu ini menderita dicaci maki sama dia? Makan hati aku terus dibentak dan disepelakan dia.” Rara mengambil buku yang akan dibelinya. “Cabut yuk!”

“Tapi Ra, masalah ini belum selesai…”

“Cerewet.  Mau aku antar pulang gak?”

Masih dalam suasana kesal Tati mengikuti Rara pulang.

Tanpa kedua bersaudara itu ketahui, seorang pemuda tampan mendengar pembicaraan mereka dari awal hingga akhir.

Pemuda itu mendesah, seperti kebiasaannya. “Ternyata dugaan gw salah, gadis itu gak pernah menyukai gw. Gadis unik. Di saat banyak cewek yang memuja gw, gadis itu malah mencaci maki gw. Ah, Ngapain mikirin tu cewek.”

☻☻☻☻☻☻

“Ziz, ini buku Fisika kamu. Maaf terlambat ngembalikan. Thanks alot yach.” Dengan wajah dibuat seramah mungkin Rara memberikan catatan Fisika milik Aziz. Ini ketiga kalinya Rara meminjam catatan dari Aziz.

“Lain kali gak usah pinjam catatan gw kalo ngembalikannya seenak perut lo. Paham?” Bentak Aziz.

“Gak tuch!” Tanpa permisi Rara meninggalkan pemuda yang paling amat sangat dikesalinya. Sedangkan Aziz menatap Rara dengan senyum misterius. Agaknya Aziz senang bila membuat Rara kesal dan cemberut.

“Gadis aneh!” Kata itu yang dapat keluar dari bibir Aziz yang bebas nikotin. Tanpa banyak kata ia langsung meninggalkan kelasnya yang sudah lama kosong.

“Kak Aziz!”

Belum lama Aziz berjalan, sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Kak Aziz, hm, kakak mau gak dinner sama aku nanti malam?” Tanya gadis yang memanggil Aziz itu ketika mereka berhadapan.

Aziz tampak berpikir. Kenapa gak gw kerjain aja cewek centil ini!Sebuah ide muncul di otaknya dan membuat Aziz mengangguk.

“Serius kak?” Tanya gadis itu histeris.

“Yupz! Di mana?”

“Cafe Mesra jam 7. Aku jemput atau…”

“Gak perlu, kita jumpa di Cafe aja. Terus, kamu pesan makanan dan minuman ini…” Aziz menulis beberapa makanan dan minuman. “Nih…”

Sang gadis terkejut melihat betapa banyak makanan dan minuman yang di pesan Aziz. Dengan senyum menawan ia menatap Aziz, protes akan permintaanya yang merugikan. Dengan cuek Aziz meninggalkan gadis tersebut.

“Kita jumpa ntar malam ya say…” Ucap Aziz mesra membuat gadis itu melompat girang. Tak di hiraukannya berapa rupiah yang akan terbuang percuma demi sang pujaan hati.

“Aku tunggu ya kak…”

Aziz tersenyum teramat sangat manis. “Dasar cewek bodoh! Lo pikir gw akan datang ntar malam? Rasain lo gw kerjai.” Ucap Aziz kejam. Bahkan ia tak tau siapa nama gadis malang tersebut.

☻☻☻☻☻☻

Aziz dan Emil berjalan santai menuju kelas. Tak ada percakapan di antara mereka. Masing-masing sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kak Aziz!”

Aziz mendengus tatkala melihat siapa gadis yang memanggilnya. Huh! Cewek itu lagi!

“Mil, lo ke kelas duluan ya.”

“Kenapa Ziz? Takut kemesraan lo dengan tu anak kelas I terganggu?” Tanya Emil menggoda.

“Mesra semprul lo!” Aziz meninju lengan sahabatnya, “Ntar gw cerita waktu istirahat.”

“Ok dech!”

Setelah kepergian Emil, Aziz menemui gadis yang memanggilnya.

“Kenapa kakak gak datang tadi malam?”

“Gw ada urusan.” Jawab Aziz cuek.

“TAPI KAKAK UDAH JANJI.”

“Urusan gw lebih penting dari janji lo!”

“ KAKAK GAK PUNYA PERASAAN YACH! TEGA-TEGANYA KAKAK GAK PEDULI DENGAN JANJI KAKAK. Asal kakak tau, berapa uang yang terbuang percuma tadi malam? Berapa jam aku nunggu kakak seorang diri? MIKIR KAK! MIKIR!!!”

“LO YANG HARUSNYA MIKIR! JANGAN KECENTILAN JADI CEWEK! OTAK LO DIPAKE BUAT MIKIR, BUKAN NGABISIN HARTA ORTU.”

Bagai mendengar petir di siang bolong, gadis itu terduduk lemas di lantai koredor sambil bersimbah air mata.

☻☻☻☻☻☻

Aziz, Emil, Olive dan Rara duduk berempat di kantin, mereka dengan serius mendengar cerita Aziz. Rara yang sudah beberapa bulan ini bergabung dengan Olive CS sebenarnya risih dengan tatapan tidak suka dan menyelidik orang-orang di sekitarnya.

“Ha… ha… ha… jahat banget lo Ziz! GakpGadis cantik itu mengangguk dan berdiri di depan Bu Lenny. Tanpa pernah melepas senyum dari bibir indahnya, gadis itu memperkenalkan diri. Namanya Rahmania Tiara, biasa di panggil Rara. Dia pindahan dari Australia./p mikir apa? Tapi lucu juga…” Emil tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Aziz. Kejam memang, tapi lucu juga.

“Cewek centil kayak gitu emang harus dikasih pelajaran.” Ucap Aziz.

“Btw siapa nama tu cewek? Kelas berapa? Lugu amit!” Tanya Olive memberi komentar.

Aziz mengangkat bahu. “Meneketehe!”

“Ya amplop Ziz, jadi lo…”

“Ya gitu dech! Liat aja gak pernah, apalagi tau nama. Kayaknya sich kelas I. Habis dia manggil gw kakak.”

Emil bertepuk tangan. “Hebat… hebat… ada cowok ganteng, tajir, kaya, tapi dingin dan angkuh. Banyak juga cowok yang malah sebaliknya, eh… gak di kejar cewek. Gw heran, kenapa cewek tuch sukanya sama cowok yang modelnya kayak lo?”

Aziz tampak berpikir. “Emang gw pikirin!” Ucapnya seraya menepuk bahu Emil.

“Sialan lo Ziz! Gw pikir beneran…”

Aziz hanya tersenyum hambar. Dan tanpa di sadarinya, Rara menatap Aziz dengan amarah.

“Tapi kamu udah keterlaluan Ziz! Kalo emang gak suka ya terus terang aja, jangan sampe mainin perasaan orang donk. Harusnya kamu mikir, seandainya tadi malam tu cewek dirampok gimana? Atau yang lebih mengerikan lagi, dia diperkosa dan dibunuh. Apa kamu sanggup bertanggung jawab? Kamu memang punya segalanya yang bernilai plus, tapi kamu harus tau kalo perlakuan kamu tu minim. Perlakuan kamu minim!” Rara meninggalkan Aziz, Emil dan Olive dengan wajah merah penuh amarah.

Emil dan Olive menatap Aziz yang melepas kepergian Rara dengan ujung matanya.

“Maafin Rara ya Ziz…” Olive merasa tak enak.

“Gak papa, dia benar. Gw yang keterlaluan.”

Emil dan Olive saling bertatapan. Tumben ni anak mau di permalukan. Lagi hang kali otaknya!

“Ke kelas yuk!” Ajakan Aziz tak mampu meruntuhkan keheranan kedua sahabatnya.

☻☻☻☻☻☻

Mentari bersinar cerah, sang pipit bersiul merdu di atas pucuk-pucuk pepohonan. Kumbang-kumbang mulai menghinggapi bunga-bunga indah. Alangkah indahnya pagi ini.

Namun keindahan pagi itu tak dapat di rasakan oleh Rara. Pagi ini ia telambat bangun. Padahal hari ini adalah hari perdananya di kelas III. Mungkin ia terlalu lelah karena bepergian keluar kota di minggu terakhir liburan panjangnya.

Dengan tergesa-gesa Rara melaksanakan aktifitas sehari-harinya sebelum berangkat sekolah. Tak dihiraukan olehnya seruan mama dan papa untuk sarapan. Bahkan untuk mengambil bekal yang sudah di siapkan mama saja Rara gak sempat. Akhirnya Rara pun berangkat ke sekolah dengan perut keroncongan dan pemampilan yang aduhai, awut-awutan!

“Pak Amri, ngebut pak!”

☻☻☻☻☻☻

Setibanya Rara di sekolah pintu gerbang hampir tertutup. Dengan cepat Rara bergabung dengan teman-teman senasib dan seperjuangan dalam menembus gerbang sekolah.

“Kenapa lo Ra?” Tanya Olive heran melihat Rara yang ngos-ngosan.

“Aku kesiangan… bla… bla… bla… terus ya lari-lari dech. Capek banget. Ogah ah kesiangan lagi.” Cerita Rara.

“Pengalaman di masa SMU. Gak terasa kita dah kelas III. Eh, lo dah liat pengumuman kelas kita?”

“Boro-boro ngeliat, wong aku baru nyampe!”

Olive menepuk jidatnya. “Oh iya,  gw lupa! Kayaknya kita gak sekelas dech, Gw di kelas III IPA 2. Sebel dech gak sekelas sama Aziz! Si Emil enak banget, dia sekelas lagi sama Aziz. Selalu begitu.”

Mendengar nama Aziz seperti ada debaran lain di hati Rara. Tapi dengan angkuhnya dia mendengus.

“Jangan sensi gitu donk Ra. Jangan-jangan lo terserang virus Phobia Cinta…”

“Ye… enak aja! Aku normal koq. Teman kamu si Aziz itu aja yang gak normal.”

“Duh Rara, udah sebulan liburan pun lo masih sensi sama Aziz, harusnya otak lo refleshing donk dari kejengkelan lo ma Aziz…” Ucap Emil tiba-tiba. Di sampingnya Via berdiri seraya tersenyum manis.

“Kita sekelas lhoh Ra…” Ucap Via.

“Oh ya? Kelas berapa?”

“III IPS 1. Kita duduk sebangku yuk!”

“Boleh…”

“Oh ya Ra, benci dan cinta itu Cuma beda tipis lhoh…” Kata Emil yang sudah jutaan kali didengar Rara.

“Hm… kita liat aja nanti.” Rara merangkul Via menuju kelas baru mereka.

“Yach, mudah-mudahan benci itu benar-benar berubah jadi cinta…” Do’a Olive.

☻☻☻☻☻☻

“Ra, dapat salam dari  Bayu. Kayaknya dia suka sama lo dech, setiap hari nitip salam.”

Mendengar perkataan Emil, tiba-tiba Aziz yang sedang meminum Es teh manisnya tersedak dan terbatuk-batuk.

“Kenapa lo Ziz?” Tanya Emil dan Olive bersamaan.

Wajah Aziz memerah. “Gak papa koq, Cuma tersedak. Gw ke kamar mandi dulu yach.” Aziz meninggalkan  Emil, Olive dan Rara.

“Kenapa tu anak tiba-tiba tersedak?” Tanya Olive heran

“Cembokur kali!” Jawab Emil asal.

“Sama?”

Emil menunjuk Rara dengan ekor matanya. Olvie pun mafhum.

“Koq pada liatin aku?” Rara salah tingkah.

“Kayaknya misi kita berhasil Mil. Ada yang lagi fall in love gitu lhoh…” Goda Olive.

“Kalian ini sebar gosip aja!” Rara berdiri, hendak berbalik mengambil penanya yang jatuh. Bertepatan dengan Aziz yang baru datang, mereka pun bertabrakan hingga terjatuh.

Buru-buru Rara berdiri dan langsung menuding Aziz. “Kalo jalan pake mata donk!”

“Lo tu yang gak hati-hati.”

“Dasar gak punya perasaan!”

“Cewek aneh!”

“Dasar Phobia Cinta!”

“Apa kata lo? Phobia Cinta? Lo pikir gw gak normal apa? Gw masih punya cinta.”

“Oh ya??? Coba lo tunjukin sama gw, gimana sich cinta itu?”

“Gak penting!” Aziz pun meninggalkan Rara, Emil, Olive dan para siswa-siswi SMU Taman Bahagia yang berada di kantin.

“Woiii… Bubar semua! Kayak gak ada tontonan laen aja.” Emil membubarkan penonton yang kecewa karena pertengkaran dewa-dewi sekolah terputus.

“Ada-ada aja…”

☻☻☻☻☻☻

Ujian Akhir Nasional telah 2 hari berlalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, para siswa dan siswi kelas III beramai-ramai datang ke sekolah untuk mengurus semua administrasi dan mempersiapkan acara perpisahan mereka yang diadakan seminggu setelah UAN. Aziz, Emil, Olive, Rara dan Via sedang berada di kantin sekolah ketika 2 orang siswi kelas III yang bernama Wirda dan Novi mengajak Rara ke aula.

Tiba-tiba Rara ditinggalkan oleh Wirda dan Novi tanpa penjelasan apapun. Ternyata ada Dayat di sana.

“Rara, gw mau bicara.” Tanpa basa-basi Dayat menarik Rara ke halaman belakang sekolah yang sepi. Tempat itu telah dijaga ketat oleh Arya, Irfan, Smile dan Anggi.

“Apa-apaan sih?!!” Tanya Rara emosi.

“Jangan garang gitu donk cantik…” Ucap Anggi sambil mencolek dagu Rara.

“Aku gak ada urusan dengan kalian. Jadi jangan ganggu aku!”

“Lo lupa sama gw?” Tanya Arya.

“Maksud kamu apa?”

“Kenapa lo nolak gw?”

“Aku udah bilang ribuan kali kalo aku gak mau pacaran sebelum aku masuk ke universitas yang aku idam-idamkan!”

“Munafik!!!”

“Jaga omongan kamu Arya!”

“Dasar munafik! Jangan sembunyi di balik keluguan lo, basi tau! Lo gak usah sok alim, padahal sebenarnya lo itu busuk.”

“Kamu kenapa? Gak terima karena aku tolak?”

“Ya!”

“Tapi bukan hanya lo yang gw tolak, semuanya ku tolak.”

“Bagaimana dengan Aziz?!!”

“Kami gak ada hubungan apa-apa.”

“Munafik!!! Bawa dia ke mobil! Supaya dia tau ganjaran mempermainkan Arya!”

“Apa-apaan ini? To…”

Belum sempat Rara berteriak meminta tolong, Smile telah membekap mulutnya dengan alkohol. Rara pun pingsan seketika.

☻☻☻☻☻☻

Rara merasakan sakit di kepala dan tulang punggungnya ketika terbangun. Ia mendapati dirinya berada di ruangan pengap seorang diri.

“Ya Allah… di mana aku?”

“Sudah bangun ternyata tuan putri cantik ini.”  Irfan mendekati Rara dan meletakkan sebungkus nasi di dekatnya. “Makan ya cantik…”

“Di mana aku?!!” Tanya Rara marah bercampur takut.

“Don’t worry. Lo aman-aman aja koq di sini. Yang penting gak akan ada orang yang nemuin lo.” Irfan tertawa.

“Bajingan! Lepaskan aku!!!” Rara melempar bungkusan nasi ke wajah ketika Irfan menyentuh wajahnya.

“ Kurang ajar lo!” Dengan marah Irfan menampar Rara.

Darah mengalir dari bibir Rara yang pecah, pipinya pun terasa perih.

“Lo turutin aja kata-kata kami di sini kalo memang mau selamat!”

“Mau kalian sebenarnya apa?!!”

Tanpa menjawab pertanyaan Rara, Irfan ngeloyor pergi.

“Heiii! Jawab pertanyaan aku!” Jerit Rara. Ia pun menangis tersedu-sedu.

☻☻☻☻☻☻

Sementara itu di lain tempat, Aziz, Emil, Olive dan Via kebingungan mencari Rara. Apalagi ketika kedua orang tua Rara juga menanyakan perihal kehilangan Rara.

“Aduh, bagaimana ini? Ziz, lo udah telepon teman-teman Rara yang lain?” Tanya Olive panik.

“Tapi gak ada yang tau Rara di mana.” Jawab Aziz putus asa. Di antara teman-temannya, Aziz lah yang paling panik dan khuatir.

“Oh iya, coba kamu tanya sama 2 orang yang ngajak Rara pergi tadi.” Usul Via kepada Aziz.

Aziz terdiam.

“Kenapa lo Ziz?” Tanya Emil.

“Nama cewek tadi siapa?”

Olive dan Via geleng-geleng kepala. Emil mendengus.

“Gw aja yang telepon!” Olive menekan tombol telepon di Hpnya.

“Gimana?” Tanya Aziz, Emil dan Via serentak.

Olive menggeleng. “Tapi kata Novi, tadi mereka di suruh Arya CS membawa Rara ke aula. Setelah itu, Dayat yang urus.”

Kamar Aziz seketika itu juga senyap.

“Apa ini ada kaitannya dengan ancaman Arya tempo hari?” Ucap Aziz lemah,  namun didengar oleh kedua sahabatnya.

“Maksud lo?”

“Arya ngancam gw. Katanya gw harus ngejauhi Rara. Kalau tidak Rara akan celaka. Ya gw gak terlalu nanggepin ancaman itu. Toh selama ini gw gak pernah merasa ngedekati Rara koq. Rara khan masuk kelompok kita karena lo Live.” Aziz mendengus. “Ternyata Arya gak main-main dengan ancamannya…”

“Berarti sekarang Rara dalam bahaya!” Pekik Via membuat Aziz, Olive dan Emil siaga.

“Kita harus lapor polisi!”.  Saran Olive.

“Polisi gak akan terima laporan sebelum 2 x 24 jam…” Emil mengingatkan.

“Inilah kelemahan negara kita.” Timpal Aziz.

“Jadi gimana donk?” Olive menangis.

“Kita bilang sama orang tuanya.”

“Gila lo Mil, bisa jantungan tu mamanya Rara.” Kata Olive di tengah-tegah  isaknya.

“Kita yang tangani semua. Usahakan jangan sampe orang lain tau.” Usulan Aziz pun di sepakati oleh Emil, Olive dan Via.

☻☻☻☻☻☻

“Dayat, izinkan aku shalat shubuh ya. Aku udah ninggalin shalat asar sampe isya. Aku mohon…” Rara memelas lemah.

Dayat tampak berpikir. Akhirnya dia mengantar Rara ke kamar mandi. “Awas lo, jangan macam-macam!” Ancam Dayat.

Terasa bagai di neraka semalaman di tempat tak bertuan ini. Rara menangis di sela-sela wudhu’nya. “Ya Allah, bantu hamba…” ucapnya pasrah.

Tiba-tiba sebuah ide berani muncul di otak Rara. “Untung hand phone gak disita mereka.”  Dengan cepat Rara menekan angka 5, nomor HP Olive.

Rara menunggu sambungan telepon dengan gelisah. Semoga Dayat gak curiga!

“Halo… Olive! Ini aku Rara, tolong aku! Aku di culik Arya CS…”

“Rara! Kamu sekarang di mana?”

Rara mencari sesuatu yang dapat di jadikan petunjuk akan keberadaannya. “Aku gak tau… tapi tadi aku sempat dengar Arya bilang di… oh, Komplek Villa Gading  Nomor 79…”

Tut… tut… tut….

Sambungan pun terputus. Hand phone Rara habis batterai. Rara pun hanya bisa pasrah dengan nasibnya.

“Woiiii! Ngapain aja lo di dalem? Awas ya, jangan macam-macam. Gw bisa lebih nekat dari yang lo pikir!” Dayat menggedor pintu kamar mandi.

Rara segera menyembunyikan hand phone di balik bajunya. “Maaf, aku sakit perut…”

Dalam shalatnya Rara berdo’a. Rara yakin bahwa Allah pasti akan menolongnya. Allahu mujiibudda’awah…

☻☻☻☻☻☻

Detak jarum jam terasa begitu lambat bagi Aziz CS. Laju mobil pun terasa tak bersahabat. Begitu mendapat telepon dari Rara, Aziz CS langsung nenuju tempat yang diberitahukan Rara. Namun berjam-jam mereka mengelilingi Jakarta, komplek Villa Gading tak ditemui. Bahkan tak ada orang tau akan tempat tersebut.

Malam pun merajai dunia. Aziz CS mencari dan terus mencari.

“Di mana sich tempatnya?” Tanya Via putus asa.

“Live, benar itu tempat yang dibilang Rara?” Tanya Emil ke 1506x.

“Ya iyalah.  Gw gak budek koq! Walaupun tadi agak kurang jelas…”

“kayaknya gw familier dech dengan tempat itu…” Aziz yang dari tadi tampak tegang akhirnya unjuk bicara. “Sebentar, gw ingat-ingat dulu…”

Emil, Olive dan Via menunggu. Sedetik, 2 detik, semenit, 2 menit, 4 menit, 7 menit…

“Yap,  gw ingat! Kok gak dari tadi sich???”

“Di mana Ziz?” Tanya Olive.

Aziz memutar mobilnya berlawanan arah menuju jalan Iskandar Muda. “Ban sepeda gw pernah bocor di depan Villa Gading itu, gw juga jumpa sama Rara pertama kalinya di sana.”

“Kenapa lo baru ingat?” Tanya Emil geram.

“Karena itu tempat bukan komplek, tapi toko. Di sampingnya ada jalan kecil menuju perumahan yang gak banyak penghuni. Perumahan itu gak ada namanya, maka sering disebut komplek Villa Gading karena berada di dekat toko Villa Gading.” Aziz mempercepat laju mobilnya.

Di depan toko Villa Gading mobil yang di kendarai Aziz berbelok ke arah gak sempit yang hanya dapat di lewati oleh 1 mobil.

Akhirnya dengan perjuangan keras Aziz CS sampai di depan rumah yang bernomor 79. Perumahan itu sangat sepi, lampu-lampu rumah tidak ada yang nyala karena tak berpenghuni.

Dengan sigap dan hati-hati Aziz CS memasuki perkarangan rumah bertipe 36 itu. Tanpa banyak kata mereka menerobos pintu depan rumah. Emil dan Aziz pun memeriksa setiap ruangan rumah itu. Tak ada Rara atau Arya CS di sana. Rumah itupun tak menunjukkan tanda-tanda pernah ditempati orang. Aziz CS kecewa.

“Live, coba lo ingat lagi nomor berapa rumahnya.” Perintah Aziz lemah.

“Beneran koq nomor 79…”

Aziz tampak berpikir. “Gw tau! Biasa di cerita detektif, para penjahat itu suka bermain teka-teki. Rumahnya pasti nomor 8. Antara 7 dan 9 khan 8. Ayo kita segera ke sana.”

Tak lama kemudian, Aziz CS sudah memasuki perkarangan rumah bernomor 8.

“Sebentar, kayaknya gw dengar suara…” Aziz menghentikan langkah teman-temannya.

“Itu suara Dayat! Aku khan 6 taon sekelas dengannya.” Via menegaskan.

“Kita harus hati-hati, sepertinya Dayat sendiri. Jangan sampai dia menyadari kedatangan kita.” Aziz mengingatkan. “Jangan sampai terdengar suara,  sekecil apapun itu.”

Ketegangan menyelimuti keempat pemuda-pemudi itu. Dengan sekuat tenaga Aziz dan Emil mendobrak pintu. Suara pintu terbuka dengan paksa pun terdengar.

“Siapa itu?” Dayat segera berlari ke depan.

Aziz langsung menyerbu Dayat tanpa ampun. Olive dan Via mencari Rara ke penjuru ruangan.

“Rara!!!” Olive memeluk Rara yang tampak ketakutan di sudut ruangan. “Kamu gak apa-apa khan? Maaf kami telat…”

Rara pun menangis tersedu-sedu dipelukan Olive. Apa jadinya ia kalo malam ini tidak ditolong oleh teman-temannya. Kehormatan Rara sedang di ujung tanduk.

“Alhamdulillah ya Allah. Engkau menyelamatkan hamba dari kenistaan.” Sujud syukur Rara sambil terisak. “Terima kasih juga teman-teman…”

☻☻☻☻☻☻

EPILOG

Bandara Soekarno-Hatta 2 minggu kemudian…

Aziz, Emil, Olive dan Via melepas kepergian Rara dan keluarganya ke Belanda. Papa Rara di tugaskan ke Negara Kincir Angin tersebut.

Tangis Rara pecah ketika berpelukan untuk terakhir kalinya dengan Olive dan Via.

“Makasih atas cinta dan persahabatan kalian…”

Rara pun meninggalkan teman-temannya dengan berlinang air mata. Sebenarnya ada yang belum terselesaikan, ini menyangkut masalah hati. Ada yang bersemu indah antara ia dan Aziz.

Di dalam pesawat Rara membaca surat yang di berikan oleh Aziz kepadanya sebelum ia memasuki gerbang keberangkatan. Surat  itu lah awal permasalahan antara Rara dengan Arya CS. Padahal Rara belum sempat mengetahui isinya, dan Aziz pun belum berniat untuk memberikannya kepada Rara. Surat itu ditemukan Arya di kantin sekolah, tempat di mana Aziz dan Rara bertabrakan dan bertengkar hebat

Surat sederhana itu bertuliskan kata-kata indah berlukiskan cinta dan ketulusan…

Derai sunyi itu datang

Selalu meghampiri kesendirianku

Derai sunyi itu datang lagi

Seolah-olah sahabat bagiku

Aku sendiri

Tertawa

Tersenyum

Menangis, adakah yang peduli?!!

Derai sunyi itu tlah pergi

Bersama cinta yang menghampiri

Maka kini ku yakini

Bahwa kaulah cinta sejati

Kekasih…

Kaulah yang mengusir sepi

Kaulah yang menhiasi hari

Kaulah yang menemani

 

Kini…

Ketika lantunan sunyi itu pergi

Tak ada yang membebani

Karena kau ada di hati

 

“Terima kasih kau telah mengisi dan menemani hatiku yang sepi. Terima kasih karena kamu telah mengajariku betapa pentingnya mencintai. Terima kasih karena kamu telah mengobati hati yang terluka ini. Terima kasih atas segalanya. Kini aku telah Menyadari dan memahami bahwa hidup Memerlukan cinta. I LOVE U! Aku sudah Membuktikan bahwa aku bisa mencintai, Bagaimana denganmu? Aku berharap tak Ada di antara kita yang benar-benar Mengidap PHOBIA CINTA. Walau aku tak Bisa memilikimu, namun biarkan aku BAHAGIA DENGAN MENCINTAIMU!”.

                                         Yang Selalu ada untukmu,

ALDIANSYH AZIZI

☻☻☻☻☻☻

 

            Terima kasih atas cintamu Aziz. seperti apa yang kamu katakan, bahwa aku juga sudah sangat bahagia karena bisa mencintai dan dicintai oleh dirimu..

            Dan aku menyadari bahwa sesengguhnya mencintai itu tak harus selalu memiliki. I LOVE U TOO, AZIZ!

 

            Semoga gak ada lagi Aziz-Aziz lain dengan PHOBIA CINTANYA! Amin 44x.

☻☻☻☻☻☻

Banda Atjeh, 06 April 2007

Toex: Sahabat gw Aziz… beneran

Gak PHOBIA CINTA khan?!!

Rahma, Emil dan semua Sahabat Gw

Tercinta GRADUATE 15 periode 2006

“I MISS U ALL. I HOPE TO MEET

YOU  AGAIN!!!”.     

“Itu suara Dayat! Aku khan 6 taon sekelas dengannya.” Via menegaskan.p/strong

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s