Plagiat Cinta


“Aku gak bakalan suka dech sama Arya. Kami hanya berteman koq, sama seperti yang lain. Percayalah padaku.” Diva berusaha meyakinkanku, Della, Intan dan Nadya.

Kami menatap Diva sangsi. Hm, sebenarnya bukan Kami… tapi ketiga temanku, Della, Intan dan Nadya. Sebagai anggota baru di kelompok mereka, aku belum terlalu banyak tau tentang pribadi dan masalah mereka. Sejauh ini yang aku tau kalau berteman dengan mereka itu menyenangkan, karena mereka baik dan setia kwan.

“Kenapa kalian menatapku seperti itu? Kalian gak percaya?” Tanya Diva kesal mendapati kami tidak mempercayainya.

“Waktu awal-awal kamu dekat dengan Satria…”

“Itu beda.” Diva memotong perkataan Intan.

“Bedanya?” Tanya Nadya dengan tutur kata yang lembut bak putri keraton, hal ini sangat ku sukai karena sampai kapanpun aku tak pernah bisa menjadi feminine nan lembut sepertinya. Huhuhu…

Diva gelagapan, tidak menyangka bakalan disodorkan pertanyaan menjebak dari si lembut Nadya. “Yach bedanya banyak…”

“Oh ya? Koq aku gak lihat perbedaannya? Atau aku yang kurang peka?” Kali ini Della yang berbicara. Sejak tadi dia hanya mendengar dan memperhatikan.

“Begini kawan-kawan, oke aku akui aku emang ‘sempat’ dekat dengan Satria dan ini sebuah kesalahan fatal karena ternyata Satria mencintaiku. Tapi semua udah berakhir.” Diva menjelaskan.

“Berakhir dengan duka pastinya.” Ucap Intan sangat ketus. Untungnya hanya aku yang mendengar, prediksiku akan terjadi ‘bahaya’ besar bila Diva mendengarnya.

“Aku hanya berteman dengan Arya dan dapat ku pastikan kalo hubungan kami hanya sebatas teman.” Tambah Diva lagi, meyakinkan kami seperti biasa.

“Terserah kamu dech! Yang penting kami sudah mengingatkan agar kamu menjaga jarak dengan Arya. Jangan sampai kamu mengulang kesalahan yang sama.” Dengan kalimat bijaknya Della yang cantik itu mengakhiri pembicaran tentang ‘kedekatan antara Diva dan Arya’.

Dalam sekejap Cafe tempat kami berkumpul ini menjadi senyap. Okelah, mungkin aku sedikit lebay. Maksudku tadi, kami berlima terdiam beberapa saat dengan pikiran dan aktivitas masing-masing. Intan dan Nadya dengan handpone-nya, Della dengan buku New Moon yang baru di belinya, Diva dengan spaghetti kesukaannya dan aku, degan ketidak-mengertianku akan pembicaraan mereka tadi.

“Hm, koq pada diem sih? Malaikat udah dari tadi tuch nyebrangnya…” Kataku memecah kesunyian.

“Habisnya gak ada yang mau dibicarakan. Dari pada nge-gosip, bagusan melakukan aktivitas masing-masing khan…” Usai berkata itu, Nadya langsung sibuk kembali dengan ponselnya.

“Sebenarnya aku gak paham apa yang kalian bicarakan tadi. Aku kenal dengan Arya, soalnya dia sering kumpul bareng kita. Nah, yang aku gak kenal itu Satria, siapa dia? Apa aku kenal?”

“Satria bukan siapa-siapa!” Jawab Diva cepat dan ketus. Dari wajahnya aku tau dia tidak suka ada yang membicarakan Satria, apalagi ada seseorang yang ingin mengorek info tentang Satria itu.

“Satria itu pacarnya Diva.” Kata Intan enteng, tapi menyulut amarah Diva.

“Teman! Dia Cuma teman!” Diva menahan nafasnya agar tidak menjadi amarah. Apa hubungannya? Pokoknya adalah…

“Lhoh, bukannya pacar kamu itu namanya Sahala, Div?” Tanyaku polos, tepatnya pura-pura polos.

“Pacar resminya Sahala, pacar gak resmi alias selingkuhannya Satria. Ya khan Div?” Ejek Intan.

Aku tambah bingung. “Jadi Diva selingkuh?” Opz! Mati aku. Keceplosan…

Wajah Diva tambah merah karena amarah. “Terserah mau bilang apa! Capek juga jelasinnya, kalian gak akan mau memahami aku.” Dengan kasar Diva bangun dari kursinya dan hampir menumpahkan minumanku, tanpa sepatah katapun dia meninggalkan kami.

Della menghela nafas. “Dia emang seperti itu, emosional. Hm, jadi kamu mau tau cerita tentang Diva dan Sahala?”

Dengan serta-merta aku mengangguk. “Gimana?”

Sebuah cerita pun mengalir dari bibir Della, dengan seksama aku mendengarnya. Intan dan Nadya sesekali menambahkan cerita Della.

***

1 Tahun yang lalu. Saat itu Diva dan teman-temannya duduk di bangku kelas 2 SMU Taman Bahagia, sebuah SMU Swasta favorite di Kota Medan. Diva yang manis, pintar dan pemberani itu banyak disukai oleh murid-murid di sekolah. Namun tak ada yang berani serius karena Diva sudah Punya pacar, Sahala. Dengan bangga Diva selalu membicarakan Sahala, ini itu Sahala, semua Sahala. Hingga pada suatu hari Diva bertengkar dengan Sahala. Tidak perlu mendengar cerita langsung dari Diva, karena semua orang pasti tau ada something happened di antara kedua sejoli ini. Sahala yang biasanya selalu mengantar-jemput Diva di tengah-tengah jadwal kuliahnya yang padat. Kini tidak pernah tampak batang hidungnya. Diva yang selalu menghabiskan kemacetan di pagi hari kota Medan dengan Sahala kini selalu pergi dan pulang dengan mobil jemputan Nadya.

Beberapa minggu kemudian, Diva bercerita kepada ketiga sahabatnya kalao dia sedang dekat dengan wakil ketua OSIS, namanya Satria. Orangnya ganteng, cool dan pintar baik di kelas maupun lapangan. Berhubung Diva anggota OSIS maka semakin hari mereka semakin dekat.

“Sebenarnya kami sudah tau kamu dekat dengan Satria. Tapi kami Cuma pengen dengar langsung aja dari kamu…” Della menanggapi cerita Diva yang menggeb-gebu.

“Kamu udah putus ya sama Sahala?” Tanya Nadya.

“Belum.” Dengan entengnya Diva menjawab.

“Jadi kenapa pacaran dengan Satria?” Tepat pada sasaran! Seperti kebiasaan Intan.

“Siapa yang pacaran? Aku Cuma dekat dengan dia. Biasalah, Satria punya problem sama pacarnya, jadi curhat ke aku. Ternyata di balik sikapnya yang sombong itu dia baik dan enak diajak bicara…”

“Jadi lebih enak bicara dengan Satria dari pada dengan kita-kita?” Lembut, itulah Nadya.

“Ya gak gitu juga… maksud aku, Satria itu asyik diajak debat karena wawasannya luas sehingga menambah wawasanku juga. Kalau bersama kalian khan beda, yang kita bahas paling seputar artis, fasion, kuliner, mana pernah kita bahas politik, bahkan kita gak peduli. Ya itu bedanya.”

“Dan satu lagi, kalau cewek gak bisa tumbuh perasaan cinta, tapi kalo cowok bisa!” Cetus Intan.

Diva tak menggubris perkataan Intan, Ia sedang tak ingin berdebat dan bertengkar dengan siapa pun. Tiba-tiba ponsel Diva berdering, tak lama kemudian Ia pun pamit dan meninggalkan ketiga sahabatnya. Pasti Satria mengajaknya ketemuan, makan bareng, kencan atau apalah itu.

“Begitu kalau orang egois. Maunya protes, tapi gak mau diprotes. Dasar!” Intan mencak-mencak setelah kepergian Diva.

“Dulu waktu aku dekat dengan Gusti, dia yang paling menentang. Katanya si Gusti bisa merusak persahabatan kita lah, gak enak lah kalau ada cowok dalam kelompok kita, yang ini lah, yang itu lah, panjang urusannya. Akhirnya kita buat keputusan untuk tidak memasukkan lelaki manapun selain pacar kita ke dalam persahabatan ini. Setelah Gusti gak ada, kita jadi normal. Eh sekarang malah dia yang bawa si Satria…” Pikiran Della menerawang ke masa-masa silam saat ia dekat dengan Gusti, seseorang yang pernah singgah di hatinya. Tapi Ia harus mengakhiri semuanya karena Ia sudah punya orang lain yang mengisi 70% hatinya, Mas Bayu – Pacar Della sejak kelas I SMP.

“Selama beberapa minggu ini aku lihat mereka lengket banget, selalu berduaan. Sampai-sampai dia lupa sama kita…” Kata Nadya sedih.

“Tapi kalo aku perhatikan, agaknya Satria gak suka dech sama kita.” Ucap Intan.

“Hm, benar jug. Selama ini dia gak suka khan bergabung dengan kita, walaupun Diva mengajaknya dia tetap menyendiri sampai Diva yang menghampiri.” Kata Della seperti seorang detektif yang sedang menganalisa suatu kasus.

“Kalo Satria gak gabung dengan kita bukan berarti dia gak suka dengan kita. Bisa aja dia malu atau mungkin dia tau kita gak suka kehadirannya…” Nadya berusaha berprasangka baik.

Intan menaikkan bahu. “Yach mungkin saja. Who’s know???”

“Oia satu lagi… harusnya kita jangan terlalu keras sama Diva. Kita harus mendengarkan alasan dan pembelaan dari Dia. Selama ini kita juga tau Diva itu anaknya supel dan mudah bergaul. Sejak kita mengenalnya, Dia emang udah sering dekat dengan cowok. Contohnya kayak teman-teman sekelasnya dulu.” Nadya memandang Della dan Intan. “Diva itu sahabat kita. Jangan sampai dia beranggapan kita itu tidak mengerti dia karena dengan gampangnya kita memvonisnya macam-macam. Yach, mungkin kita bisa memberinya pendekatan atau apalah. Biasanya kamu paling mahir Del…”

Delia tertawa. “Koq aku?” Kemudian Ia berpikir. “Tapi kata-katamu ada benarnya juga. Oke lah, ntar aku omongin dengannya. Bisa saja hubungannya dengan Satria itu sama seperti dengan teman-teman yang lain…”

“Kamu gimana Tan? Jangan galak-galak dong dengan Diva, kasihan juga aku melihatnya…” Nadya menatap Intan.

“Yach, aku coba…” Intan pun mengalah.

Ternyata apa yang dikatakan oleh Nadya tidak terbukti dan apa yang ditakutkan oleh Della dan Intan menjadi kenyataan…

“Satria nembak aku…”

Tiga kata yang diucapkan Diva membuat ketiga sahabatnya terpana.

“Tapi kamu bilang hanya berteman dan gak ada rasa?” Tanya Della.

“Itulah… semua terjadi di luar kendaliku. Tadi malam dia datang ke rumah, dia berteriak-teriak memintaku menerimanya…”

“Terus?” Nadya tak sabar.

“Ada Sahala di rumah.”

“Kalian udah baikan?” Kali ini Intan bertanya, tanpa emosi.

Diva mengangguk. “Udah lama aku dan Sahala baikan, itupun atas nasehat dan bantuan Satria…”

Della menatap Diva tajam. “Untuk hal seperi ini kamu menutupinya dari kami? Bahkan kamu tidak lagi meminta bantuan kami ketika ada masalah dengan Sahala. Kamu anggap kami ini apa?”

Diva tersentak mendengar kata-kata Della. “Entah mengapa, selama sebulan ini aku merasa lebih nyaman berbicara dengan Satria dari pada dengan Sahala, juga kalian. Terkadang banyak hal yang gak sengaja kita ucapkan dan membuatku marah dan kecewa, lalu aku pun lari pada Satria…”

“Lalu cerita kamu dengan Satria tadi malam bagaimana?” Tanya Nadya mengalihkan kemarahan Della dan Intan.

“Waktu Satria datang ke rumah dan bertingkah aneh seperti itu, Sahala sempat marah. Katanya selama ini aku membohonginya. Aku pun menjelaskan kalo Satria itu teman kita dan dia memang suka iseng pada kita semua…”

“Kita?” Intan menaikkan alisnya.

“Maaf. Tapi mau gimana lagi, aku terpaksa.” Diva ngeles, salah satu kemahirannya. “Akhirnya aku dan Sahala baikan dan dia bilang akan selalu mempercayaiku. Setelah Sahala pulang, aku pun bertengkar hebat dengan Satria. Semua berakhir ketika aku menamparnya agar dia tau aku gak akan mungkin jadi miliknya seperti yang diharapkan.” Diva memegang kepalanya. “Aduh! Aku pusing! Kenapa semuanya jadi ruwet gini ya?”

“Lalu Satria bagaimana?” Tanya Nadya.

“Mana aku tau! Yang penting hubunganku dengan Sahala baik-baik saja. Urusan Satria aku gak mau pusing, toh sudah sejak dulu aku menegaskan aku dan dia gak akan mungkin pernah bersatu. Aku pikir dia paham, ternyata tidak.”

“Berarti Satria sudah pernah nembak kamu sebelum kejadian tadi malam? Dan kamu dengan santai terus lengket dengannya? Bukan salahnya kalau kejadian ini terjadi Va, ini salah kamu. Harusnya kamu menjauhi Satria sejak dia mulai ada rasa padamu, bukan terus memberinya harapan seperti ini. Sekarang kamu liat akibatnya Va? Untung Sahala memaafkanmu, dan bodohnya dia percaya.” Kata Intan tajam. “Dan aku gak akan mendukung kebohonganmu itu. Kalau Sahala bertanya padaku tentang kebenaran kata-katamu, aku gak bisa bantu dengan menjawab ‘ya’.” Intan meninggalkan ketiga sahabatnya.

Diva menatap Della dan Nadya.

“Aku juga gak bisa bantu.” Della mengikuti langkah Intan.

Kini harapan Diva hanya berada pada Nadya…

“Maaf Va, aku juga gak bisa. Kamu yang memulai, maka kamu juga yang menyelesaikan. Kamu yang menyalakan, maka kamulah yang memadamkan…” Nadya menepuk bahu Diva dan mengikuti Intan dan Della.

Diva menatap punggung ketiga sahabatnya. Terdiam, terpaku dan menangis tanpa air mata…

***

“Begitu ceritanya…” Ucap Della menyudahi cerita.

“Lalu bagaimana dengan Satria? Aku tak pernah melihatnya di sekolah.” Aku ingin tau.

Intan menelan ludah. “Dia meninggal. Overdosis…”

Keningku berkerut. Gak ngerti gitu lhoh…

“Satria berubah setelah ditinggal Diva. Dia mulai merokok, bolos sekolah dan mabuk-mabukan. Otomatis semua predikat baiknya lenyap ditelan bumi. Satria semakin hancur, sedangkan hubungan Diva dan Sahala semakin langgeng. Banyak orang yang menyalahkan Diva atas semua ini, tapi yach seperti yang kamu ketahui Diva itu anaknya keras dan gak mau mendengar perkatan orang…” Nadya melanjutkan kata-katanya. “Berbulan-bulan Satria dengan tingkahnya itu, semakin hari Satra semakin hancur, dia tak peduli lagi dengan apapun bahkan nasehat orang tua dan para guru. Hingga suatu hari aku dan Della mendapati Satria sedang Sakauw di kamar mandi. Setelah kejadian itu Satria di-rehab di rumah sakit, selang beberapa hari kemudian dia di-penjara atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap kakak iparnya, namanya lagi sakauw pasti menghalalkan segala cara. Dua hari di penjara, Satria meninggal akibat overdosis, entah dati amna dia mendapatkan barang haram itu. Keluarganya malu, kasus pun ditutup. Semenjak itu tak ada seorang pun yang membicarakan apalagi membahas tentang seseorang bernama Satria, bahkan para guru dan sahabat-sahabatnya.”

Aku terpaku mendapati kenyataan yang ada. “Sampai segitunya…” Ucapku parau. Aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaan keluarga Satria dan orang-orang yang selama ini membanggakannya. “Kasian Satria…”

“Kasihan memang. Tapi yang menyebabkan itu semua malah enak-enakan dengan pacar tercintanya. Dan sekarang, dia mau mengulang kesalahan yang sama.” Intan mengeraskan rona wajahnya, tanda sedang emosi.

“Yach, berdo’a saja semoga kejadian yang dulu tidak terjadi lagi…” Kataku mencoba bijak.

“Semoga…” Kata Della, Intan dan Nadya bersamaan. Mereka pun saling bertatapan, kemudian tawaku dan tawa mereka pun pecah…

***

Pagi ini cuaca kurang bersahabat, apalagi bagi pengendara motor sepertiku. Walaupun hanya hujan rintik-rintik, tapi membuat pagiku di hari senin ini menjadi muram. Huh! Tapi kata orangtuaku, hujan itu rahmat dari Allah… maka harus disyukuri. Maka aku pun bersyukur atas apa yang telah diberikan kepadaku…

Di pagi yang dihiasi hujan rintik-rintik ini aku dan para siswa SMU Taman Bahagia mengucap syukur karena upacara ditiadakan (benar khan hujan itu rahmat?). Sambil menunggu para staff pengajar alias para bapak dan ibu guru, aku dan keempat sahabat berkumpul seperti biasa. Kalau sudah berkumpul begini, aku jadi teringat dengan sahabat-sahabatku di Palembang. Bagiku berkumpul dengan para sahabat itu sangat meng-asyikkan karena banyak hal yang akan dibicarakan dan akan terus sambung menyambung jajaran pulau-pulau. Ngaco! Hahahahaha

Seperti kebiasaanku, aku selalu memandang teman-teman ketika mereka berbicara. Ada Della yang cantik dan bijaksana, walau terkadang masih emosian. Intan yang tomboy, ketus dan seadanya – tampak dari perkataan dan sikapnya. Nadya yang lembut dan kaya raya, selalu diantar-jemput juga dijaga oleh pengawal ayahnya, maklum ayahnya adalah pejabat penting di kota Medan. Diva yang manis, pintar, pandai bergaul namun sangat egois – mungkin karena dia anak tunggal sehingga membuatnya menuntut utuk didengarkan tanpa mau mendengarkan. Dan aku, si gadis desa yang terperangkap dalam kota Medan yang ‘wah’ karena mengikuti ayahku yang pindah tugas.

“Aku mau buat pengakuan.” Tiba-tiba Diva memotong ceritaku.

Seketika itu pula kami mengarahkan pandangan pada Diva yang awalnya sebagai pendengar, sekarang naik tingkat jadi pembicara.

“Kayaknya aku sayang sama Arya…” Kata Diva terbata.

“Sayang?” Tanyaku. Sebagai info! Sekarang aku sudah sering angkat suara, soalnya aku termasuk orang yang selalu ada antara Diva dan Arya. Kayak obat nyamuk aku lama-lama.

Diva menghela nafas. “Ntah lah… aku bingung! Arya itu baik banget, dia perfect.”

“Kenapa bilang perfect?” Tanya Nadya. Hm, dari tadi asyik pertanyaan ajja dech!

“Arya selalu ada untukku, gak seperti Sahala yang selalu sibuk.”

Della tertawa. “Arya selalu ada untuk kamu karena kita satu sekolah, sehingga dia bisa bersamamu seharian penuh. Sedangkan Sahala itu beda dengan kita, dia mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsinya dan setelah itu dia menggantikan tugas ayahnya di toko. Seingatku dulu kamu pernah bilang kalo kamu gak suka cowok pemalas dan hanya mengandalkan harta orang tua, kamu suka cowok seperti Sahala yang selalu memanfaatkan waktunya untuk membantu bisnis keluarga. Jadi di mana salahnya? Atau di mana tidak perfeck-nya Sahala?”

Diva merengut. “Itu dulu, sekarang beda. Aku butuh seseorang yang perhatian dan selalu ada untukku.”

Intan geleng-geleng kepala. “Kamu aneh Va! Selalu saja bilang dulu dan sekarang beda. Kalau begini aku gak liat perbedaan, yang aku liat hanya seorang perempuan yang melakukan kesalahan yang sama. Sudah berapa kali aku ingatkan, jauhi Arya sebelum dia mencintai dan ingin memilikimu.”

“Udah dech Tan, jangan bikin aku tambah pusing…”

“Salahmu!”

“Please Tan, aku lagi malas bertengkar.”

“Aku gak peduli! Aku akan terus ingatkan kamu untuk gak permainkan perasaan orang lagi, cukup Satria yang yang menjadi mangsamu. Cukup Satria yang mati…”

“Cukup!!!” Tanpa sadar Diva menggebrak meja, membuat semua mata tertuju pada kami, termasuk mata milik Bu Diah, guru paling killer di sekolah.

Alhasil pagi itu kami pun berbasah-basahan. Bukan karena hujan, tapi karena membersihkan WC yang sudah lama tidak dipakai. Betapa malang nasibku, tapi lebih malang lagi nasib persahabatan para sahabatku yang sudah terjalin sejak sekolah dasar.

***

Pagi ini tidak seperti biasanya aku cepat datang ke sekolah. Selama ini aku termasuk siswa yang memiliki predikat membanggakan, siswa yang selalu terlambat datang. Huh! Bagus banget predikatnya, sampai-sampai membuatku malu untuk menyandangnya. Hahahahaha…

Karena hari ini aku datang sebelum waktunya, maka dengan GR aku berpikir aku lah siswa yang pertama menginjakkan kakiku di kelas. Ternyata aku salah, karena sudah ada Diva di sana. Ops! Ternyata Diva tidak sendiri. Dia bersama…

“Arya! Diva! Sedang apa kalian?” Tanyaku spontan saat melihat kedua makhluk berlainan jenis itu saling mendekatkan wajahnya. Jangan-jangan… aku langsung berprasangka buruk.

Mereka langsung menjauhkan badan yang awalnya dempetttt banget. Tanpa sepatah kata Arya meninggalkan aku dan Diva, jelas sekali dia malu kepergok olehku.

Diva menunduk, memainkan ponselnya. “Kamu jangan berprasangka buruk yach atas kejadian tadi. Itu tidak seperti yang kamu lihat…” Katanya tanpa memandang wajahku, nampaknya Diva sangat malu dan merasa bersalah.

Aku memandang Diva tajam, “Terserah kamu lah!” Ku tinggalkan Diva sendiri di kelas. Jantungku berdenyut kencang, aku berlari menuju kelas Arya.

“Ngapain kalian tadi hah?!!” Todongku tanpa basa-basi. Beberapa siswa melihat ke arahku.

“Kami gak ngapa-ngapain kok.” Jawabnya gugup.

Aku mendekati Arya. “Kamu tau khan Diva itu sudah punya pacar. Harusnya kamu tau diri dan menjauhi Diva. Aku tau kamu mencintainya, tapi cinta itu membangun sebuah hubungan bukan merusaknya. Daripada nanti kamu sakit hati, lebih baik kamu tinggalkan dia mulai saat ini.”

“Aku gak bisa. Aku cinta dan butuh dia.”

“Hubungan kalian itu menuju jalan buntu. Diva gak mungkin menyimpan kamu di hatinya…”

Arya tertawa. “Kamu salah. Diva mencintaiku, kami berpacaran sekarang.”

Aku terkejut mendengar pernyataan Arya. “Tapi…”

Bel berbunyi. Kata-kataku terpotong oleh para siswa yang memasuki kelas. Aku pun bergegas menuju kelasku yang bersebrangan dengan kelas Arya.

***

“Va, Kantin yuk!” Dengan ramah Nadya menyapa Diva dan mengajaknya ke kantin. Namun Nadya harus kecewa karena Diva tak menggubrisnya. Yach, sejak tragedi ‘Hukuman Kamar Mandi’ itu Diva tak berbicara pada kami. Awalnya sih hanya dengan Intan. Tapi setelah aku memergokinya bersama Arya di kelas, Dia juga memusuhiku. Bahkan Diva pindah duduk ke bangku depan.

“Sudahlah, mungkin dia masih kesal.” Aku menepuk bahu Nadya dan menggandeng tangannya. Di depanku Della dan Intan sedang membahas tentang Diva. Selalu Diva. Huh capek dech!

Pesanan kami sudah ada di depan mata. Kami pun langsung menyantapnya denagn semangat kelaparan’45. Kalau udah ada makanan gini, biasanya gak ada yang bersuara. Setelah beberapa menit baru mulai ributnya…

“Beberapa hari ini aku melihat kamu aneh dech!” Kata Della kepadaku.

“Kenapa?”

“Iya, kayaknya ada yang kamu sembunyiin gitu…” Intan menambahkan.

“Kamu ada masalah? Dengan siapa? Diva?” Tanya Intan.

Aku tersenyum getir. ‘Haruskah aku menceritakan kejadian itu kepada mereka? Andai aku ceritakan, aku takut Diva akan menganggapku pengadu. Tapi kalau tak ku ceritakan, Diva dan Arya akan semakin menjadi-jadi. Aduh… pusing!’ Tanpa sadar aku menepuk jidatku.

“Kenapa?” Tanya Della khuatir.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memberanikan diri untuk menceritakan kejadian Diva dan Arya yang ku lihat dengan nyata di hadapanku. Tak lupa aku menyampaikan pembicaraanku dengan Arya.

Dag…dig…dug… jerit jantungku setelah menceritakan semua. Rasanya hatiku plong, tapi di sisi lain ada ketakutan tersendiri, bukan takut pada Diva tapi takut akan pertengkaran mereka. Apalagi saat kulihat wajah Intan dan Della yang mengeras. OMG! Bagai makan buah simalakama…

“Kenapa baru bilang sekarang?” Tanya Nadya lembut.

“Aku takut Nad.”

Della menaikkan alis indahnya. “Kenapa? Diva?”

Aku menggeleng.

“Alah! Si serakah itu gak usah kamu takutin, gak penting. Mendingan takut sama Tuhan lah, karena kita terlalu banyak membohongi orang dan menutupi kesalahnnya.” Kata Intan ketus.

“Aku gak takut dengannya, dia bukan malaikat maut yang bisa kapan saja mencabut nyawaku. Aku takut sama pertengkaran kalian, takut perpecahan kalian…”

Della menepuk pundakku. “Kalau itu terjadi, itu bukan salahmu. Itu mutlak salahnya. Kita memang sahabat, tapi bukan tugas sahabat menutupi semua kesalahannya dengan kebohongan. Itu bukan kita…”

“Iya, kamu gak usah khuatir. Jika persahabatan ini harus hancur, maka hancurlah. Aku ikhlas…” Nadya tersenyum padaku.

Aku pun tersenyum getir, amat sangat getir.

***

“Kalian gak bisa ngertiin aku!” Itulah ucapan Diva beberapa hari kemudian, ketika kami bertanyaan akan kebenaran ceritaku.

“Oh ya??? Jadi siapa yang ngerti kamu? Orang tuamu yang selalu sibuk? Atau para pembantu di rumah yang tak pernah tulus menyayangimu?” Tanya Intan, matanya melotot seakan dapat mencabik wajah Diva.

“Gak ada yang ngerti aku selain Arya! Cuma dia yang paham dan menyayangiku, melebihi siapapun. Paham???” Kata Diva tajam.

“Sangat paham!” Balas Intan tak kalah tajam. “Cuma dia yang ngertiin kamu. Cuma dia yang mau kamu bodohi. Cuma dia cowok paling bodoh di dunia ini.”

“Kamu kenapa sih? Aku ada salah apa padamu? Kenapa kamu selalu ketus padaku? Padahal selama ini kamu yang selalu membelaku.” Jerit Diva.

Intan tersenyum sinis. “Masa-masa pembelaan udah usai Ratu Serakah. Gak selamanya kamu dibela. Kalau salah ya salah, gak ada yang belain kamu di sini.” Jawab Intan cepat.

“Dulu kamu yang bilang ke aku, cowok itu bisa membuat persahabatan kita hancur. Maka jangan ada yang bawa cowok ke dalam persahabatan kita. Gak nyangka sekarang kamu yang melanggar kata-katamu sendiri. Mending kalau itu Sahala, oke kami terima. Tapi sekarang yang kamu bawa si Arya, kami gak bisa terima karena dia bukan siapa-siapa, bukan bagian kita.” Kata Della.

“Alah! Terserah kalian deh. Kalian selalu nyalahin aku. Kalian gak pernah ngertiin aku. Coba kalau Nadya yang salah, selalu dibela dan gak dipermasalahkan. Mentang-mentang dia yang paling kaya di antara kita!”

“Lhoh, koq bawa-bawa kasta sih? Memangnya aku pernah salah apa?” Nadya yang biasa lembut itu menatap Diva garang. “Oh… kamu mempersalahkan kejadian waktu itu. Waktu aku membohongi kalian karena ingin pergi dengan gebetan baruku. Asal kamu tau Diva, aku udah cerita dan minta maaf, kebetulan waktu itu kamu gak ada karena kamu lebih milih pergi dengan Arya daripada dengan kami. Dan satu hal lagi yang harus kamu tau, setelah kejadian itu aku gak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Aku menghargai persahabatan ini seperti aku menghargai diriku sendiri. Kamu gak bisa hargai dirimu, makanya kamu gak bisa hargai kami.” Cepat-cepat Nadya mengambil air mineral di ranselnya, Ia meminum sekali teguk. Belum pernah Ia semarah ini pada seseorang.

“Keledai saja tidak mau jatuh ke lubang yang sama! Lhah kamu yang manusia, kok mau-maunya lebih bodoh dari pada binatang.” Kata Intan.

Diva menatap Intan. “Terserah kamu lah Tan! Terserah kamu mau bilang apa!” Diva membenahi barang-barangnya, “Hari ini aku semakin yakin cuma Arya yang ngerti aku, bukan kalian para sahabatku!” Diva berlari meninggalkan kami.

Aku ingin mengejar Diva, ingin memberinya pengertian. Tapi sebuah tangan mnghentikanku, tangan milik Nadya.

“Biarkan saja dia pergi. Itu pertanda dia gak butuh dan menghargai kita!” Ucap Nadya. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam ransel, sebuah binder. “I hate You.” Ia mencoret sebuah wajah di bindernya, dengan tinta merah…

***

Ulang tahun Nadya harusnya menjadi moment paling indah bagi persahabatan kami. Sebenarnya, baru kali ini aku merasakan ulang tahun Nadya. Seperti yang pernah aku katakan, aku baru pindah ke kota ini dan baru berteman dengan mereka. Tapi mendengar cerita mereka tentang ulang tahun Nadya yang selalu dirayakan berempat di sebuah Villa mewah milik keluarga Nadya di Danau Toba, aku jadi tau betapa akrabnya mereka. Ah…

“Kita berempat lagi nih…” Kata Nadya lembut.

“Kayaknya memang tiap tahun hanya empat orang Nad yang merayakan ulang tahun kamu di sini.” Tambah Intan.

“Coba ada Diva, pasti lebih meriah…” Kataku lemah.

Nadya, Della dan Intan menatapku. Menekan untuk tidak mengucapkan sebuah kata, ‘DIVA’.

“Sebelum berangkat ke sini kita udah buat perjanjian. Kamu lupa?” Tanya Intan.

Aku tersenyum malu-malu takut. “Aku ingat kok. Gak ada yang boleh menyebut nama ‘Diva’ di sini. Sorry…”

Della menghela nafas. “Ternyata tanpa dia dan ekornya itu dunia terasa indah. Seindah Hill Park dan Gundaling Brastagi…”

Aku menimpuk Della dengan Guling Naruto yang selalu ku bawa. “Gak boleh begitu! Kasihan kalo Diva dengar…”

“Kayaknya gak ada yang berniat ngomong ke dia dech!” Della tertawa.

Aku mayun.

“Udah ah ngobrolnya. Lebih baik kita istirahat, nanti malam pada ngantuk lagi waktu bakar ayam…” Nadya merapikan tempat tidur, bersiap-siap menghempaskan tubuh langsingnya.

Aku dan Della tertawa. Kami pun mengambil bantal dan tidur di samping Nadya. Tak lama kemudian Intan menyusul kami, dengan masker bengkoang di wajahnya. Tidur siang yang indah…

***

“Hoammmmmmm… ternyata capek juga yach perjalanan 6 jam tadi malam. Mana begitu sampai kita langsung sekolah lagi…” Intan berjalan gontai di sampingku. Matanya masih merah. Jangan-jangan…

“Kamu udah mandi?” Tanyaku.

Serta merta Intan meninju lenganku. “Sembarangan! Udah dong.” Jawabnya kesal.

Aku tertawa. “Tapi seperti orang belum mandi…”

“Hah? Yang benar?” Intan merogoh tas biru-nya, mengambil sebuah cermis kecil. “Ya Ampun… aku lupa pakai bedak! Gini dech jadinya…” Tanpa pamit Intan meninggalkanku.

“Pasti ke toilet, bersolek. Kalau udah bersolek baru kelihatan ceweknya.”

“Hai cin! Intan mana? Tadi aku lihat kalian berdua di koredor.” Sapa Nadya sesampainya aku di kelas. Nadya tetap manis, tak ada gurat-gurat kelelahan sepertiku dan Intan. “Della mana?”

“Ye… ditanya malah balik tanya!” Nadya tertawa. “Della belom sampe. Intan mana?”

“Hadir bu!” Jawab intan cepat. Wajahnya lumayan cerah, tapi masih berkantong mata. Habisnya saat di mobil dia keasyiakan ngoceh dengan Della, makanya ngantuk gitu.

Tak lama kemudian Della datang dengan sekantung plastik.

“Apaan tu Del?” Tanya Intan.

“Sarapan untuk kalian. Pasti pada belum sarapan khan?”

Aku memeluk Della, “Kamu baik bangeeettt! Tau aja aku lapar.”

Della cemberut karena ku peluk. “Kalo ada yang bilang aku‘Lines’… awas kamu!” Rutuknya.

Aku, Nadya dan Intan tertawa terbahak-bahak. Namun tawa kami terhenti saat Diva datang dengan wajah cemberutnya, dan seperti biasa… ada Arya di belakangnya. Kayak ajudan aja dech! Hohoho…

“Makan yuk! Nanti keburu masuk Mr. Bara…” Della membagikan nasi goreng-yang sempat-sempatnya Ia buat-kepada kami.

Kami pun makan dengan lahap. Tak ada yang melihat Diva, tak ada yang menghiraukannya, tak ada yang menganggapnya ada…

***

“Iya… bentar lagi aku sampai koq. Ini lagi di jalan, macet… bla…bla…bla… yupz!” Aku mengakhiri panggilan dari Intan. Fiuh… panas-panas gini aku harus terjebak dalam kemacetan Kota Medan. Ku lirik arlojiku, pantesan aja macet! Jam 14.00… orang-orang pada balik ke kantor. Aku juga baru balik dari sekolah. Kebetulan Intan hari ini tidak masuk karena ‘sakit bulanannya’. Maka aku yang ditugaskan untuk mengantar catatan.

“Intan ada kak?” Tanyaku pada Kak Mila yang membuka pintu. Kak Mila itu kakak sulungnya Intan, mereka 5 bersaudara cewek semua.

“Ada, naik aja ke atas. Kakak lagi panggang kue, jadi gak bisa ngantar kamu.”

“Ya ela kak Mila… biasa aja dech. Btw, kamarnya yang mana kak?”

Kak Mila tertawa, “Yang paling belakang, yang ada terasnya. Oia, yang lain pada ke mana?”

“Della dan Nadya ada les kak, sebentar lagi khan ujian…”

Kak Mila manggut-manggut. “Kalau Diva?”

Aku gelagapan! Tak menyangka Kak Mila bertanya tentang Diva. “Hm, aku kurang tau kak. Tadi udah pulang duluan sama pacarnya…”

“Pacarnya Diva yang mana sih? Yang anak kuliahan atau yang satu sekolahan dengan kalian?” Selidik Kak Mila.

Aku terdiam, gak tau mau jawab apa! “Yang anak kuliahan dong kak.”

“Tapi kok sering jalan sama teman kalian itu yach? Kakak sering melihat mereka boncengan, berkali-kali…”

Aku tertawa hambar. “Gak tau juga kak.”

“Ya wes… kamu naik terus ke atas. Intan sudah nungguin dari tadi…”

“Oke kak. Tengkyu…” Aku tersenyum dan menaiki tangga rumah Intan yang sederhana. Deg-degan juga… soalnya aku belum pernah masuk rumah Intan. Selama ini kami selalu berkumpul di rumah Nadya, kalaupun aku ke rumah Intan hanya sampai halaman depan. “Yang mana kamarnya?”. Aku menemukan 3 buah kamar di lantai atas. Ketiga-tiganya tidak memiliki symbol kepemilikan. “Kata Kak Mila tadi, yang paling belakang. Tapi koq ada dua kamar yach?” Aku mendekati kamar yang dimaksud Kak Mila, terdengar musik keras. “Gak salah lagi, ini pasti kamar Intan. Dia selalu menyetel musik dengan volume teratas.” Aku membuka pintu kamar Intan yang ternyata serba Biru. Tanpa sengaja aku menggerayangi kamar Intan dengan mataku. Jantungku seperti berhenti berdetak tatkala mataku menabrak sebuah pigura photo berwarna biru, ada Intan dan seorang pemuda berpose mesra di dalamnya. Aku tau pemuda itu siapa, sangat tau…

“Baru nyampe?”

“Ini Satria khan?” Pekikku terkejut saat Intan keluar dari kamar mandi. Aku menatap Intan penuh Tanya. “Itu photo kamu dan Satria? Kalian punya hubungan apa? Mengapa tidak ada yang memberitahukan padaku?”

Intan menatapku lama. Ia mengambil pigura itu dan membaliknya. “Duduklah, kamu pasti capek bawa motor dari sekolah.”

“Aku gak mau duduk. Aku Cuma mau penjelasan dari kamu! Apa maksud photo ini? Kenapa…”

“Gak ada yang tau tentang ini.” Intan memotong perkataanku. “Aku berpacaran dengan Satria sebelum dia dekat dengan Diva. Kami pernah cerita khan kenapa Diva bisa dekat dengan Satria?”

Aku mengangguk. Yach, mereka dekat karena Satria sering curhat tentang pacarnya.

“Akulah pacarnya Satria itu. Kami baru pacaran 1 minggu dan hubungan kami agak sedikit bermasalah karena banyak hal. Akhirnya Satria mengambil inisiatif untuk mendekati salah satu sahabatku. Kebetulan saat itu yang paling dekat denganku adalah Diva, maka dia mendekati Diva untuk mencari informasi. Aku tidak pernah tau mereka sering berjumpa, teleponan dan sms-an. Satria tidak pernah membicarakannya padaku. Sampai Diva yang mengaku pada kami tentang kedekatan mereka Aku mencoba berpikir positif, ternyata aku salah! Diva tidak sebaik yang aku kira dan Satria tidak sepolos yang aku duga. Ketika aku bertanya pada Satria, dia marah dan kami pun bertengkar. Mungkin semua salahku karena kurang perhatian pada Satria, tapi semua aku lakukan karena Satria sendiri pernah bilang kalau dia gak suka cewek yang overprotektif. Aku pikir kedekatan mereka tidak akan mengganggu hubunganku, karena Diva itu sahabatku. Belum sempat aku mengenalkan Satria secara terang-terangan pada sahabatku, dia telah meninggalkanku dengan memilih Diva…”

Aku menatap Intan nanar. “Tapi kamu khan bisa bicarakan itu pada Diva, sebelum mereka saling jatuh cinta.”

“Kamu gak kenal Satria. Dia itu keras kepala dan aku terlalu baik berpikir mereka hanya berteman. Hah! Ternyata… aku kehilangan kekasihku, pacar pertamaku. Tapi aku tidak marah dan menyalahkan Diva karena dia sahabatku. Aku telah kehilangan kekasih, maka aku tidak ingin kehilangan sahabat baikku. Dan lagi-lagi aku salah sangka. Diva tidak berubah, dia tidak belajar dari apa yang telah dia perbuat dulu. Sekarang aku benci dia! Aku gak akan memberinya kesempatan yang sama seperti dulu. Gak akan pernah…”

Aku memeluk Intan yang terisak di bahuku. “Maafkan aku ya Tan, aku sempat marah tadi sama kamu. Tapi seharusnya kamu ceritakan itu pada kami, atau pada Della dan Nadya karena mereka berhak tau.”

Intan menggeleng, “Biarkan semua ini aku kubur dalam kenanganku, karena aku gak mau mereka tau. Harusnya aku buang photo itu, harusnya kamu gak perlu tau.” Intan memegang tanganku, “Berjanjilah untuk tidak menceritakan ini pada Della dan Nadya. Aku mau ini jadi rahasia kita berdua. Tolong…”

Aku mengangguk, “Rahasiamu aman padaku…”

Intan tersenyum, ia menghapus airmatanya. “Oia, mana catatan hari ini?”

Aku memberikan foto copy catatan yang diminta Intan. “Sudah jam 4. Aku pulang yach Tan, aku udah janji mau ngantar Oma ke supermarket…”. Pamitku.

“Tengkyu untuk semuanya. Titi DJ yach…”

“Yupz!” Aku membalas lambaian tangan Intan.

***

Aku sedang berjalan menuju kelas saat melihat Diva berjalan tergesa-gesa menuju kelas Arya. Mata Diva sembab dan wajah manisnya tampak begitu nelangsang. Sebenarnya tak ada niat untuk mencampuri urusan Diva dengan Arya, tapi aku sempat mendengar Arya membentak Diva dan sungguh aku tak tega melihat Diva diperlakukan seperti itu. Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti Diva yang ditarik paksa oleh Arya ke perkarangan belakang sekolah yang sepi.

“Sudah berapa kali aku bilang, jangan temui aku lagi! Aku muak melihat semua kebohongan dan tingkah lakumu!” Bentak Arya.

“Tapi kamu gak bisa meninggalkanku seperti ini Arya…” Diva tersedu. “Aku mohon… kamu harus tanggung jawab. Ini anak kamu, buah cinta kita…”

Arya mendengus. “Kamu yakin?” Suara Arya melembut.

Diva mengangguk. “Aku hanya melakukannya dengan kamu. Aku gak bohong. Ini anak kamu…”

“Oh ya??? Tapi sayangnya aku tidak percaya! Bahkan aku tidak peduli! Pergi saja pada Sahala, mungkin dia bisa membantu untuk memecahkan teka-teki siapa ayah dari anak yang kamu kandung. Karena aku yakin itu bukan anakku.”

“Arya! Kamu tau aku dan Sahala sudah putus  aku dan lakukan itu atas permintaanmu. Jadi bagaimana mungkin anak ini anak Sahala. Sumpah Arya! Ini anak kamu. Aku hanya melakukannya denganmu karna aku sangat mencintaimu. Please… kamu harus tanggung jawab! Jangan biarkan anak ini lahir tanpa ayah. Please…”

“Bulshit!”

“Aku akan lakukan apa saja agar kamu mau bertanggung jawab. Bahkan aku akan bersujud dan mencium kakimu.” Diva bersujud di hadapan Arya.

“Bulshit! Bulshit! Bulshit!” Arya mendorong Diva sampai terjerembab ke tanah.

Diva bangkit dan memegang kaki Arya. “Kamu berjanji akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padaku. Tapi mengapa kamu ingkar janji? Kenapa Arya???”

“Gugurkan kandunganmu!”

“Tidak! Aku gak mau!”

“Aku akan mencari dokter yang paling hebat dan menemani kamu menggugurkan anak itu.”

“Aku gak mau!”

“Terserah! Kamu minta aku tanggung jawab khan? Itulah wujud dari tanggung jawabku.”

Diva memegang tangan Arya. “Aku gak akan menggugurkan anak ini! Gak akan pernah!”

Arya mencibir. “Terserah kamu. Yang penting aku sudah memberi solusi.” Arya melepaskan tangan Diva seolah-olah tangan itu adalah najis. “Hm, jangan temui aku lagi karna aku sudah punya penggantimu. Bye…” Tanpa perasaan Arya meninggalkan Diva yang menangis tersedu-sedu.

Aku terkejut dan tersentak melihat drama yang dimainkan oleh Diva dan Arya. Andai ini adalah pementasan drama yang kerap dimainkan di acara perpisahan murid kelas 3, mungkin aku akan memuji peran mereka. Tapi ini adalah kenyataan pahit yang harus diterima Diva dan sialnya aku pun merasakan karna aku mendengar semua percakapan mereka.

“Ya Tuhan… apa yang harus ku lakukan?”

***

Aku masih berpikir apakah kejadian antara Diva dan Arya layak untuk menjadi konsumsi ketiga sahabatku? Sudah seminggu berlalu dan aku masih menimbang-nimbang baik-buruknya apabila aku menceritakan berita itu.

“Hey! Kamu kenapa sih? Sudah beberapa hari ini agak aneh…” Intan menepuk bahuku. Tepukan lembut namun membuatku amat sangat terkejut.

“Iya, aku lihat kamu sering melamun. Ada masalah apa?” Tanya Nadya.

Aku menggeleng. “Gak ada masalah apapun. I’m okey…”

Della menatapku tak percaya. “Terakhir kali kamu begini saat memergoki Diva dan Arya sedang kissing di kelas. Hm, jangan-jangan kamu tau sesuatu yang terjadi di antara kedua pasangan kontroversi itu?”

Duarrr!!! Bagaikan ada ledakan bom di depan mataku. Bagaimana mungkin Della bisa menebak tepat pada permasalahn. OMG…

“Hm, memangnya apa yang terjadi dengan mereka?”

“Ya ampunnnn! Ternyata memang benar kamu punya big problem, sampa-sampai kamu tidak tau kehebohan yang sedang menggemparkan sekolah kita.” Nadya menatapku seolah-olah menatap alien aneh yang tiba-tiba duduk di depannya.

“Aku gak tau…” Kataku.

“Sudah beberapa hari ini Diva terlihat aneh. Matanya sembab, penampilan acak-acakan dan selalu mencari Arya yang sudah semingu menghilang tanpa sebab. Dengar-dengar sih… Diva seperti ini karena diputusin Arya, padahal Diva sudah meninggalkan Sahala demi Arya. Ternyata Tuhan maha Adil.” Kata Intan.

Aku menghempaskan nafas berat seberat beban yang aku pikul.

“Kamu kenapa? Seperti ada beban berat di kepalamu. Cerita dong, mungkin kami bisa bantu…”Ucap Della.

“Iya, kami ini sahabatmu. Jadi masalahmu, masalah kami juga…” Bujuk Nadya.

Nadya benar. Diva adalah sahabat kami, berarti masalah yang sedang menimpanya adalah masalah kami juga. “Hm, sebenarnya…”

“Diva pingsan di kamar mandi!” Seorang siswa entah kelas berapa berteriak di pintu kelas.

“Apa???” Della langsung berlari menuju kamar mandi, diikuti olehku, Indan dan Nadya.

“Ayo bawa ke UKS…”

***

“Syukurlah kamu sudah sadar…” Nadya membantu Diva duduk dan memberinya teh hangat.

Della menggosokkan minyak angin ke pelipis Diva. “Aku balurin perutmu dengan minyak angin ya?”

“Jangan!” Tangan Diva langsung mencegah Della yang hendak membuka bajunya.

Serentak kami menatap Diva yang juga menatap kami. Diva pun menangis tersedu-sedu. “Terima kasih untuk kebaikan kalian.” Diva mengambil tasnya. “Aku mau mencari Arya!” Diva pun berlari meninggalkan kami.

Aku terpelongo melihat keberanian dan ketegaran Diva. Sepertinya Diva benar-benar mencintai bayinya seperti Ia mencintanya Arya yang sekarang justru meninggalkannya. “Kita ikuti Diva! Nanti aku ceritakan di mobil.”

***

Mobil Honda Jazz hitam milik Nadya melaju kencang mengikuti Taxi yang ditumpangi Diva. Untunglah Pak Somad supir pribadi Nadya cukup lihai mengendarai mobil sehingga kami bisa mengikuti Diva. Untung juga ketiga sahabatku itu mau mengerti alasan mengapa aku tidak menceritakan kejadian seminggu yang lalu pada mereka. Finally… sesak di dadaku berkurang 80% setelah menceritakan semuanya.

“Aku gak pernah menyangka Arya bisa sejahat itu. Selama ini yang kita tau, Arya itu sangatlah patuh pada Diva. Ah… hidup ini aneh!” Nadya memainkan rambutnya.

“Mungkin Arya marah karena sikap Diva selama ini. Lagipula dia hanyalah yang kedua untuk Diva.” Tebak Intan.

“Tapi Diva sudah putus dengan Sahala beberapa bulan ini, jadi Diva sepenuhnya milik Arya. Kenapa dia harus marah?” Kali ini Della angkat suara setelah sekian lama terdiam dan berpikir. “Atau jangan-jangan… Arya tidak pernah mencintai Diva, dia hanya mempermainkan Diva karena sering menyakiti hati orang lain…”

“Mana mungkin Del, Arya itu hanya melakukan apa yang sering dilakukan oleh para lelaki saat mendapati kekasihnya hamil. Mungkin saja dia shok karna kehamilan Diva. Arya itu sama dengan kita, masih sekolah. Mau dikasih makan apa si Diva kalau dia bertanggung jawab? Bagaimana dengan sekolahnya, sekolah Diva, yang paling beratnya lagi… bagaimana dengan keluarganya? Arya pasti sangat malu dengan kejadian ini…” Kataku realistis.

“Btw… Diva bawa kita ke mana sih? Dari tadi gak nyampe-nyampe…” Kata Nadya kesal.

“Ya ke rumah Arya lah.” Jawab Della. “Ternyata kita benar-benar tidak mengenal siapa Arya itu. Bahkan kita tidak tau rumahnya di mana…”

“Jangankan ke rumahnya, daerah rumahnya saja kita tidak pernah dengar…” Tambah Nadya.

“Tapi aku pernah beberapa kali ke sini, bahkan ke rumah… Satria???” Intan tampak shock. Dia langsung melompat ketika pintu mobil di buka.

Della menatap Intan curiga dan langsung menarik tangan Intan. “Jelaskan pada kami apa yang terjadi.” Perintahnya tegas.

Intan gelagapan. Wajahnya pucat. Tangannya dingin. “Aku… aku…”

Aku menggenggam tangan Intan, memberinya kekuatan. “Ceritakan semuanya Tan…” Bisikku.

Intan menarik nafas sebelum memulai cerita yang hanya Ia dan Tuhan yang tau…

***

Setahun yang lalu…

“Sayang, ini rumah siapa?” Tanya seorang gadis manis kepada pemuda yang baru tiga hari resmi menjadi kekasihnya.

“Ada dech…”

Gadis itu mencubit pinggang kekasihnya. “Jangan membuatku penasaran dech! Jangan-jangan kamu mau memperkenalkan aku pada keluargamu. Aku gak mau ah… terlalu cepat…”

Pemuda itu tertawa. “Kamu tenang aja honey… aku gak akan langsung memintamu untuk menjadi istriku kok. Ini adalah rumah orang yang paling special bagiku…”

Alis gadis itu bertaut. “Jangan-jangan ini…”

“Satria! Ya ampunnnn… kamu sudah sebesar ini. Rasanya baru sehari Mami meninggalkanmu.” Seorang wanita cantik kira-kiraberumur 40 tahun memeluk Satria seolah-olah takut akan kehilangan untuk kedua kali.

“Aku kangen banget sama Mami… sudah 7 tahun kita tak bertemu.”

Mami mengacak rambut Satria yang langsung merengut karna rambut yang susah payah dibentuknya jadi acak-acajan. “Nah, siapa gadis manis di belakangmu itu? Calon menantu Mami yah?”

Pipi gadis itu merona. Satria tersenyum dan menggenggam tangan gadisnya.

“Ini pacarku Mi, namanya Intan…”

“Wah… namanya Indah seindah wajahnya…” Mami memeluk Intan dengan hangat, mereka langsung akrab.

“Mi, Aku antar Intan pulang dulu soalnya udah hampir magrib. Sehabis mengantar Intan aku balik lagi.”

Mami mengangguk. “Intan, kamu harus janji untuk sering-sering dating ke sini. Rumah ini sepi, suami dan anak Mami masih di Amsterdam…”

Intan memeluk Mami. “Aku janji. Kapan-kapan kita masak bareng lagi ya…”

“Iya sayang…” Mami menatap kepergian Satria dan Intan.

“Jadi Mami itu tante kamu? Sepertinya kalian sangat akrab…” Kata Intan sambil berteriak di boncengan Satria.

“Dari kecil aku tinggal dengan Mami dan sepupuku. Maklum lah, saat itu perekonomian Mami masih mengkhuatirkan sehingga keluarga kecil Mami tinggal di rumah kami. Nah, saat umurku 10 tahun, suami mami yang aku panggil Papi itu mendapat kontrak dengan perusahaan asing dan akhirnya menetap di Amsterdam. Tahun ini mereka kembali ke Indonesia karena kontrak Papi selesai. Aku senang mereka kembali…”

“Oh begitu… lalu Papi dan sepupumu mana?”

“Mereka masih di Amsterdam untuk mengurus beberapa keperluan, sedangkan Mami pulang duluan untuk mengurus keperluan di Indonesia. Nanti kalau sepupuku yang Charming itu sampai di Indonesia, akan segera ku perkenalkan padamu. Dia sudah sangat penasaran padamu.”

“Kamu cerita tentang aku?”

“Semua hal aku ceritakan padanya. Hm, kalian pasti akan langsung akrab, apalagi dia akan sekolah di sekolah yang sama dengan kita. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika kita makan bertiga di kantin sekolah atau di tempat lainnya. Dia pasti iri melihat kita…”

“Namanya siapa?”

Satria terdiam. “RAHASIA. Biar ini menjadi surprise untukmu, sayang…”

***

“Sampai detik ini aku menanti kehadiran sepupu Satria yang selalu dia ceritakan. Tapi Satria terlalu cepat pergi tanpa pernah memberitahukanku seperti apa sepupu tersayangnya itu. Jangankan nama, dia laki-laki atau perempuan aku tak tau.” Intan mengisak pilu.

Aku, Della dan Nadya memeluk Intan erat. Kami merasakan betapa sakitnya hati Intan saat ini.

“Sepertinya kita tau seperti apa sepupu Satria itu…” Ucap Della tanpa keraguan. Sorot matanya mengarah pada dua orang yang harusnya sedang kami pantau, karena itulah kami ada di sini. “Kita tertinggal beberapa episode…”

“Arya, aku akan melakukan semua permintaanmu asal jangan suruh aku menggugurkan anak ini. Anak ini tidak bersalah, dia buah dari cinta kita. Aku tau kamu shock karena kehamilanku, kamu pasti butuh waktu untuk beradaptasi dengan semua ini. Aku akan memberimu waktu, tapi tidak akan lama karna perut ini akan semakin membuncit. Kamu mencintaiku dan anak kita, aku tau itu…”

“Aku gak butuh waktu untuk berpikir apalagi beradaptasi! Terserah mau digugurkan atau dibesarkan. Yang penting jangan pernah ganggu hidupku lagi! Anak itu bukan anakku, bukan benih cinta karna aku tak pernah mencintaimu!”

Diva tersentak mendengar kalimat terakhir Arya. “Aku tinggalkan Sahala demi kamu. Aku bertengkar dengan keluargaku demi membelamu. Aku buang sahabat-sahabatku demi kamu. Aku berikan semuanya untukmu, hanya untukmu. Setelah semuanya aku korbankan, kamu campakkan aku dengan alasan tak pernah mencintaiku?!! Di mana nuranimu? Di mana cintamu selama ini? Aku sedang mengandung anakmu Arya! Anak kamu!”

“Lhoh… aku memang tidak pernah mencintaimu. That a fact! Kenapa aku harus memakai nurani, cinta atau apapun itu? Kayaknya gak penting dech.”

“Oke… terserah kamu mau bilang apa! Aku Cuma mau tanggung jawabmu. Nikahi aku. Setelah anak ini lahir, terserah kamu mau apain aku.”

What?” Arya tertawa. “Menikahimu? Oh no! Gak akan pernah, bahkan sampai aku mati.”

Diva bersujud dan memegang kaki Arya. “Tolong aku… jangan biarkan anak ini lahir tanpa ayah. Aku akan melakukan apapun untuk itu. Aku janji akan melakukan apapun permintaanmu. Bahkan jika kamu suruh aku menjadi babu seumur hidup, akan ku lakukan demi anak ini. Aku hanya ingin anak ini punya ayah…”

“Kamu akan melakukan semua permintaanku?”

Diva mengangguk. “Apapun itu akan aku lakukan…”

“Oke, fine. Aku mau kamu menghidupkan Satria kembali!”

Diva terperanjat. “Tapi…”

“Kamu bilang akan melakukan semua permintaanku. Permintaanku hanya satu, Satria!”

“Bagaimana mungkin aku menghidupkan orang yang sudah mati?”

“Lalu, bagaimana mungkin aku menikahi orang yang telah membunuh sepupu tersayangku hah?!!”

“Apa?!! Kamu dan Satria…”

“Terkejut? Aku juga terkejut saat Satria meninggal di penjara. Pakauw? Sakauw? Over dosis? Mana mungkin! Satria murid baik dan berprestasi, mana mungkin dia tiba-tiba berubah 180 derajat tanpa sebab. Orang-orang berpikir Satria adalah remaja malang korban pergaulan. Satria memang korban, bukan korban pergaulan tapi korban cinta semu seorang gadis serakah pengkhianat cinta. Keluarganya, guru-gurunya, bahkan banyak murid yang tidak tau kejadian yang sebenarnya sehingga mereka membiarkan kedekatan ‘kita’. Tapi aku tau, sahabatmu tau, bahkan kamu pun tau Satria mati karena apa. Namun keegoisan dan keserakahanmu lebih besar dari rasa bersalahmu. Taukah kamu kalau sahabatmu terluka karena kematian Satria? Sudah berapa orang yang mengingatkanmu untuk tidak melakukan kesalahan yang sama? Kamu tak peduli karena kamu pikir kamu lah yang paling benar. Nah, sekarang aku ingin mencoba berada di posisimu. Menjadi seseorang yang tak peduli, tak mau tau dan tak bertanggung jawab atas kesalahannya. Impas khan?”

Air mata Diva membanjiri wajahnya. “Arya, maafkan aku! Aku tidak tau kalau kedekatanku dengan Satria akan berujung seperti ini. Aku menyesal dan aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku sangat menyesal…”

“Penyesalanmu tidak akan menghidupkan Satria!”

“Ya Tuhan… jadi aku harus bagaimana Arya? Apa aku harus mati untuk menebus rasa bersalahku?”

“Terserah!” Arya meninggalkan Diva.

“Arya… jangan lakukan ini padaku. Kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus nikahi aku!” Diva mengejar Arya dan merengek seperti seorang anak kecil yang meminta permen pada ibunya.

Arya menatap Diva seakan ingin menghujam jantung Diva dengan belati. Wajah Arya mengeras sekeras hatinya. “AKU TIDAK AKAN MENIKAHI WANITA YANG TELAH MEMBUNUH SAUDARAKU.” Ucap Arya tegas. “Paham???”

Lagi-lagi Diva bersujud. “Arya… jangan hukum aku seberat ini. Aku menyesal atas semua yang menimpa Satria. Tapi aku…”

“Kematian Satria mengubah segalanya, kecuali kamu! Tante Inneke, ibunya Satria kena serangan jantung tepat di hari Satria dinyatakan meninggal. Beliau tidak sadarkan diri sampai detik ini. Apa kamu tau? Jawabannya tidak. Karna kalau kamu tau, kamu tidak akan ada di sini. Oia, kamu ingat dengan pacar Satria? Kamu membujuk Satria untuk memutuskannya khan? Kamu tau siapa orangnya? Dia Intan, sahabatmu. Oh… aku lupa! Bukan sahabat, tapi mantan sahabat.”

“Intan tidak pernah menceritakannya padaku. Kamu pasti mengada-ada…”

“Terserah! Kamu sudah mendengarkan semuanya, sekarang… PERGI! Aku gak mau melihat wajahmu, PEMBUNUH!” Arya memasuki rumahnya.

Diva terkulai lemah sambil menggedor pintu rumah Arya. Air matanya bercucuran meminta belas kasihan. Namun Arya menutup rapat-rapat pintu rumahnya seperti ia menutup rapat pintu hatinya untuk Diva.

Setelah kejadian sore itu, aku tak lagi berjumpa dengan Diva, begitu juga dengan Intan, Nadya dan Della. Berkali-kali kami mendatangi rumahnya untuk bertanya di mana Diva sekarang, namun jawaban itu tak kunjung kami dapatkan. Berbeda dengan keadaan Diva, sekarang Arya tampak puas karena dendamnya telah terbalasnya. Kami tidak membenarkan perbuatan Arya, tapi kami juga tidak menyalahkannya. Toh, inilah jalan hidup yang dipilih Arya, Diva ataupun Satria yang sudah tenang di alamnya.

Tapi setidaknya kami mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian ini. Cinta bukan barang yang bisa dipindah tangan-kan. Cinta bukan kata-kata yang bisa diputar balikkan. Cinta bukan alunan lagu indah yang bisa di-plagiat-kan. Cinta adalah sesuatu yang suci, karena cinta itu memakai perasaan. Harusnya cinta itu hanya untuk seseorang, bukan untuk digandakan. Ah, cinta…

***

(Cerpen ini adalah FIKTIF. Apabila ada kesamaan Nama, tempat dan alur cerita adalah unsur KETIDAK SENGAJAAN)

Banda Atjeh, 08 Agustus 2010

16 : 15 AM

(Setelah Direvisi Ulang)

“Melanggar Peraturan adalah Sampah. Tetapi,

Meninggalkan Sahabat adalah Lebih Rendah

dari Sampah”

(Anymous)

8 thoughts on “Plagiat Cinta

  1. “Melanggar Peraturan adalah Sampah. Tetapi,

    Meninggalkan Sahabat adalah Lebih Rendah

    dari Sampah”
    itu punya Kakashi kak dari Naruto.

    hahaha sad ending ya? tapi semoga para makhluk yang lebih rendah dari sampah itu sadar ya kak?

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s