Semua Tentang Vita


Mentari tersenyum menyambut kehadiran pagi. Sang burung berkicau tanda kesetiaannya pada sang pagi. Kuncup-kuncup mawar bermekaran dengan tetesan embun nan sejuk. Ah…, betapa besarnya karunia Allah. Subhanallah…

Jarum jam menunjukkan pukul 07.25 ketika aku menapakkan kaki di atas lantai kelasku yang bersih, dengan semangat kulangkahkan kaki menuju bangkuku yang terletak di deretan paling belakang.

“Hai Vita…” Sapaku kepada seorang gadis cantik dan pintar yang duduk di depanku. Tapi aku harus menahan kesal karena Vita tidak membalas sapaanku. Malahan dia sibuk dengan ponsel barunya. Dasar sombong!

“HP baru ya Vit?” Tanya Erni yang duduk di samping Vita. Erni adalah siswi yang paling dekat dengan Vita.

Vita mengangguk bangga. “Ini oleh-oleh dari Belanda, belum ada seorang pun yang memiliki HP seperti ini selain aku” Ucapnya sombong.

Beberapa teman yang mendengar ucapan Vita mencibir, semua orang tau akan sifat Vita. Ia adalah seorang gadis yang sangat sombong, angkuh dan egois.

“Vit, boleh aku melihat HP-mu?” Tanya si cantik Arien.

Setahuku, Vita tidak pernah menyukai Arien. Karena Arien adalah gadis yang cantik, kaya juga pintar. Arien juga sangat baik hati kepada siapa pun tanpa memandang kasta mereka. Arien dan Vita selalu bersaing dalam setiap pelajaran, apalagi Matematika dan Kimia. Semua murid di SMU Bunga Bangsa tau akan hal tersebu, apalagi murid-murid kelas II IPA 2, kelasku.

Vita menatap Arien tak suka. “Sorry yach, HP ini bukan untuk dilihat!” Ucapnya seraya memasukkan HP berwarna pink ke dalam saku rok abu-abunya. “Apalagi kalau yang melihat ka…” Kata-kata Vita yang pastinya akan menyakitkan hati terpotong karena kehadiran Bu Wati yang langsung memulai pelajarannya.

“Huh! Dasar gadis angkuh!” Rutukan Nini terdengar jelas di telingaku.

Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Nini. Memang dasarnya seperti itu, yach… mau bagaimana lagi!

Aku dan Nini menutup cerita tentang Vita untuk sementara waktu. Hingga dua minggu kemudian…

“Wajah kalian kenapa? Kusut amat!”

“Tau tuch temanmu Ran! Selalu bikn masalah!” Ucap Nini kesal.

Aku tau siapa orang yang dimaksud oleh Nini. “Masalah apa lagi?” Tanyaku lembut.

“Itu lhoh Ran…, kita khan mau mengadakan acara untuk menyambut bulan Ramadhan, dan Yuna ditunjuk oleh Bu Wati sebagai ketua panitia. Jadi Vita marah dan menuduh Yuna telah menyuap Bu Wati agar menjadi ketua panitia” Abie menjelaskan panjang lebar.

“Lhoh kenapa Vita menuduh Yuna? Apa dia iri?”

“So pasti donk! Kamu khan tau sifat Vita, dia selalu ingin menjadi yang nomor satu, ingin populer. Walaupun dia punya segudang bakat, tapi muak juga khan kalau yang dilihat di panggung dan setiap acara orangnya itu-itu saja…” Nini menjawab pertanyaanku.

“Oh, jadi begitu thoh ceritanya. Dan sekarang mau kalian apa?” Tanyaku ingin tau.

“Kami berencana untuk mencurahkan uneq-uneq kami padanya, supaya dia tahu bagaimana posisi dia di mata kita. Biar dia intropeksi diri, kasihan khan setiap hari digosipin. Mending kalau yang bagus-bagusnya…” Erni memberi tahu rencananya.

“Yuna, aku ikut drama yach! Bisa khan…?” Tiba-tiba Vita berdiri di samping Yuna. Ia tersenyum semanis mungkin, berpikir Yuna akan luluh olehnya.

“Apa Vit? Kamu mau ikut drama?!! Kalau nggak salah, kamu khan sudah menjadi imam nasyid dan menari. Masa’ kamu mau ikut drama lagi, kasihan donk yang lainnya nggak kebagian…” Protesku.

“Selama aku bisa membagi waktu, apa salahnya kalau aku mengikuti semua acara. Nggak papa khan Yun?” Ucapan Vita membuat kami semakin keki.

Yuna menatap Vita dongkol, tiada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.

“Lo jangan serakah donk Vit! Bukan lo aja yang ingin tampil di atas panggung. Aku, Ranie, Nini, Rio dan teman-teman yang lain juga ingin menunjukkan bakat dan kualitas kami di hadapan semua orang!” Ucap Mara penuh amarah.

“Beri kami sesempatan untuk maju Vit. Jangan hanya kamu yang terus menerus yang tampil, sedangkan kami hanya bisa gigit jari atas keserakahanmu. Dasar banci tampil!” Nini melotot.

Vita menelan ludah. “Aku rasa, di sekolah ini hanya aku yang mempunyai bermacam-macam kemampuan. Kalian khan tau kalau aku dari kecil sudah diwajibkan les ini itu oleh kedua orang tuaku. Jadi yach, kalian paham donk!” Vita menatap kami satu-persatu. “Semua ini salah kalian yang nggak tidak pernah mau menonjolkan potensi kalian.”

Semua murid dikelasku benar-benar kesal.

“Sebenarnya kami ingin menonjolkan potensi kami. Namun itu semua harus berakhir dengan duka karena kamu. Kamu terlalu serakah vita! Kamu selalu menutupi segala yang kami miliki dengan keangkuhan dan kekayaanmu. Semua gara-gara kamu…” Wajah Haida memerah. Selama ini ia selalu bersabar atas kelakuan Vita yang selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.

“Kenapa karena aku?!! Oh…, jangan-jangan kamu marah yach karena aku selalu menggantikan kedudukanmu di setiap acara. Bilang saja kalau kamu iri padaku. Gitu aja koq repot!” Vita menatap Haida jijik.

“Dasar serakah! Angkuh! Egois! Banci tampil!!!” Haida berlari meninggalkan kelas dengan berlinang air mata.

“Mau kamu apa sich Vit?!! Hampir setiap hari ada saja yang menangis dan sakit hati oleh perbuatanmu!” Ujar Dayado, sang ketua kelas. Pemuda tampan dan gagah ini memandang Vita sinis.

“Kau kenapa Vit? Sakit?!!” Ejek Rio.

“Btw lo sakit apa? Ayan? Kanker? Atau… AIDS?!!!”

Vita melotot.

“Angkuh, iri, dengki dan syirik. Jangan negative thingking dulu donk!” Tambah Didi membuat wajah Vita memerah seperti kepiting rebus.

“Aku rasa kamu sakit AIDS dech Vit. Obati donk! Kamu khan orang kaya yang bisa membeli segala-galanya” Ejek Dayado lagi.

Seketika itu juga mata Vita melotot seperti mata kodok. Matanya memerah. Tubuhnya bergetar. Vita terduduk di bangkunya. Air mata mengalir deras seperti air hujan yang turun deras sejak tadi pagi.

Aku mendekati Vita, ku sentuh bahunya. “Vit, kamu cantik dan pintar. Akan tetapi itu semua tidak akan membuatmu bahagia apabila kamu masih sombong dan egois seperti saat ini. Ingatlah Vit, kita makhluk sosial yang nggak akan bisa hidup seorang diri. Bagaimanapun kita membutuhkan orang lain demi kelangsungan hidup kita…” Ucapku lembut. Walaupun aku tidak menyukai sifat Vita, bukan berarti aku akan membiarkannya dipojokkan oleh teman-teman sekelasku.

Tiba-tiba Vita menatapku tajam seraya berkata, “Aku nggak perlu nasehatmu. Asal kamu tau aja yach, aku nggak akan pernah mempercayai dan mendengarkan perkataanmu karena kamu nggak layak didengar. Orang miskin nggak tau diri!”

Vita meninggalkanku yang terpaku dengan air mata yang mengalir setetes demi setetes. Aku tidak menyangka Vita akan berkata seperti itu kepadaku. Sejak kecil, aku dan ibuku tinggal bersama keluarga besar Vita. Baru kali ini Vita menyebutku dengan kata ‘MISKIN’.

“Ah…, mugkin Vita mengatakannya karena marah padaku yang tidak membelanya saat dipojokkan oleh teman-teman…” Ucapku di dalam hati membela Vita.

“Sabar ya Ran. Kami akan membalas perbuatan Vita!” Dayado berjanji padaku, begitu juga teman-teman yang lain.

”Nggak perlu Do, biar aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini” Aku berkata lirih. Aku tidak ingin Vita dipojokkan lagi oleh teman-teman. Aku sayang Vita!

“Tapi Ran, kita harus…”

“Nggak perlu Haida, nggak perlu…” Kupotong perkataan Haida dengan lembut. “Aku ke kamar mandi dulu…” Kulangkahkan kakiku dengan segenap kegalauan. Mampukah aku menyadarkan Vita dari kekhilafannya?!!

¤¤¤¤¤¤

Waktu terus berlalu tanpa memberi kesempatan pada manusia untuk menunggu putarannya. Pagi, siang, sore, malam… berlalu dengan kesibukan yang tiada pernah terhentikan.

Aku menangis seorang diri di bawah sebatang pohon mangga di halaman sekolah. Begitu banyak beban sehingga aku tak kuasa untuk memikulnya  seorang diri.

“Ranie… kamu kenapa?” Tanya Arien lembut. Suaranya menentramkan hati.

Aku menatap wajah Arien. Ada ketulusan di sana. Arien selalu membantu meringankan masalah-masalahku. Haruskah masalah yang satu ini ku ceritakan padanya?

“Jika kamu punya masalah, ceritakan padaku. Jangan sungkan…”

“Aku…, aku…, aku diusir dari rumah…”

“Apa?!! Kamu serius khan?” Arien terbelalak mendengar penuturanku.

Aku mengangguk keras. “Vita memisahkanku dari ibu…” Aku terisak. “Vita tau kalau Dayodo menaruh hati padaku dan bukan rahasia kalau Vita menyukai Dayado. Dia marah dan mengusirku melalui perantara kedua orang tuanya dan ibuku. Vita menuduhku mencuri kalung berlian miliknya. Sekarang aku bingung harus bagaimana tanpa ibu? Lalu aku juga tidak tau  akan tinggal di mana? Apa aku menginap saja di sekolah?”

“Kamu tenag saja Ran, kita pecahkan masalah ini bersama-sama…” Arien menepuk pundakku ringan.

Aku sangsi dengan apa yang dikatakan oleh Arien. Aku takut Vita semakin membenciku dan aku takut semua rahasiaku terbongkar oleh Vita.

“Kita pernah berjanji untuk selalu bersama dan saling bahu membahu satu dengan yang lainnya. Kamu ingat?”

Aku mengangguk. “Tapi aku takut mereka akan menjauhiku karena masa laluku. Aku nggak mau mereka tau bahwasanya ibu dulunya seorang PSK dan aku…, aku…, aku anak yang tidak jelas siapa bapaknya…”

Arien memelukku erat. “Pastikan semua akan baik-baik saja. Percayalah…”

Ah… aku sedikit lega!

¤¤¤¤¤¤

“Kenapa kamu tidak memberitahukan masa lalumu kepada kami sejak dulu Ranie?” Tanya Nini tajam.

“Aku…, aku takut Ni…” Jawabku parau.

“Kau takut kami menjauhimu karena masa lalumu itu?” Tanya Haida.

Aku mengangguk.

“Ya Allah! Ranie, kita berteman karena Allah. Bukan karena harta, martabat dan kasta. Ingat Ranie, semua muslim itu bersaudara…” Sambung Haida lagi.

“Maafkan aku…” Ucapku lemah.

“Ah, sudahlah…! Saat ini yang terpenting adalah bagaimana kita menyadarkan Vita” Ujar Lisa.

“Dan cara yang tepat untuk menyadarkan nenek lampir itu adalah…”.Rio menatap Dayado penuh arti. Semua matapun menatap Dayado.

“Kenapa melihatku?” Dayado salah tingkah.

“Karena hanya kamu yang dapat menyadarkan Vita!” Ucap Erni tegas dan tepat.

“Kamu harus mau Do…” Ucap Rio saat Dayado hendak protes.

“Demi Ranie lhoh…” Arien mengerling pada Dayado.

“Kau harus mau!”

Palu keputusan telah diketuk, membuat Dayado diam dan pasrah.

“Oke. Aku usahakan…”

Dayado menatapku meminta dukungan. Aku mengangguk. Ucapan Dayado melegakan kami semua.

¤¤¤¤¤¤

“Selamat pagi Vita…” Sapaku hangat pada Vita yang sedang membaca novel kesayangannya. Sudah dua minggu ini aku tinggal di rumah Arien dan baru hari ini aku bisa berbicara dan bertatap wajah dengan Vita.

“Mau apa?!! Perlu uang? Segini cukup…” Vita mencampakkan dua lembar seratus ribuan ke wajahku. “Jangan pernah berharap Dayado akan memilihmu dan jangan dekati dia lagi karena dia milikku. Camkan itu!” Dorongan Vita menjatuhkanku ke atas lantai.

“Vita!!!” Sebuah suara berat mengejutkanku dan Vita. Suara bass milik Dayado.

“Eh Dayado! Ada apa?” Tanya Vita mesra, ia tersenyum manja.

“Sebenarnya aku menyukaimu…”

Mata Vita berbinar, senyumannya seketika itu juga mengembang.

“Tapi setelah lama memikirkannya, ternyata kamu terlalu hina untuk dicintai dan disayangi. Untuk apa kecantikan, kepintaran dan kekayaan bila tidak diimbangi dengan ketulusan hati dan keikhlasan. Ingat yach, sampai kiamatpun kamu tidak akan punya teman bila sifat kamu masih seperti ini. Ingat itu!” Dayado menuntunku ke mushalla. Di sana teman-teman telah menungguku dengan cemas.

¤¤¤¤¤¤

“Ran, ibumu datang…” Arien berkata penuh semangat.

Aku yang sedang menyetrika pakaian nyaris melompat saking girangnya. “Ibu, aku rindu!”

“Ranie, maafkan ibu yang menuduhmu nak. Saat itu ibu sangat terkejut dengan perkataan non Vita. Maafkan ibu…”

Ibu menangis di pelukanku.

“Maafkan Ranie juga bu.”

“Ran, ibu nggak mau bekerja di sana lagi. Ibu nggak tahan mendengar perkataan non Vita tentangmu dan ibu.  Ibu akan secepatnya mencari pekerjaan. Untuk sementara waktu, tabungan ibu masih cukup koq!”

Aku terkejut mendengar perkataan ibu. Di dalam hati aku bertahmid karena ibu akhirnya mau meninggalkan keluarga Vita. Terima kasih ya Allah…

“Ibu dan Ranie tinggal di rumah ini saja. Keluarga saya kebetulan sedang mengikuti papa yang bertugas di Sudan. Saya tinggal seorang diri di rumah ini. Keluarga saya kemungkinan menetap di sana selama beberapa tahun. Dari pada ibu bersusah payah mencari kontarakan, uang tabungan ibu khan bisa dipakai untuk membuka usaha kecil-kecilan. Bagaimana bu?” Arien menggenggam tangan keriput ibu.

Ibu menatapku yang mengangguk mantap. “Tapi tidak merepotkan nak Arien khan?”.

Arien menggeleng cepat.

Anggukan ibu membuatku dan Arien tersenyum.

“Thanks Rien…” Aku dan Arien berpelukan erat.

¤¤¤¤¤¤

Beberapa hari kemudian…

“Mas Bayu, kamu patinia untuk menyambut Ulang Tahun sekolah khan?” Tanya Vita kepada Bayu, siswa kelas III IPS 3 yang diberi amanat menjadi ketua panitia untuk memeriahkan Ulang Tahun sekolah yang ke 27.

Terlihat dari ekor mataku Bayu mengangguk. Vitapun tersenyum cerah.

“Hm…, memangnya kenapa?” Tanya Bayu. “Ada masalah di bagian keuangan? Itu bagian kamu khan?”

Vita menjawab dengan senyuman. “Begini mas, di acara nanti aku ingin masuk dalam anggota band. Aku pandai bermain bass, sayang khan kalau nggak disalurkan…”

“Maaf ya Vit, anggota band kita udah lengkap. Lagian pekerjaan kamu itu berat dan banyak resikonya. Aku ingin kamu terfokus dalam masalah keuangan saja, aku juga takut kalau kamu tidak bisa membagi waktu…” Bayu memberi alasan yang cukup logis.

“Mas pikir aku itu bodoh! Aku bisa membagi waktu dengan baik dan benar. Ingat ya mas, aku ini murid yang paling berprestasi dan punya segalanya di sekolah ini. Aku nggak pernah punya kekurangan!” Wajah cantik Vita memerah. “Oia mas, aku lihat si Ranie kurang cocok dech menjadi peran utama dalam drama.”

Kening Bayu berkerut. “Menurut kamu yang cocok siapa?”

Dengan percaya diri Vita menjawab, “Aku…”

“Hm…”

“Bagaimana mas? Aku ikutan drama yach? Dari pada Ranie, dia cuma akan mempermalukan kita semua…”

Bayu berpikir sejenak. Sangat sulit menghadapi gadis angkuh dan egois yang satu ini! “Eng…, kamu bisa ikut drama.”

“Oh ya?”

“Yupz! Tapi kamu berperan sebagai pembantu yang sombong, cerewet dan kejam. Bagaimana?” Bayu tersenyum melihat wajah Vita yang cemberut.

“Kamu jangan mempermainkanku! Asal kamu tau, aku nggak akan sudi menjadi pemeran rendahan seperti yang kamu maksud itu!” Bentak Vita garang.

“Terserah! Kamu koq yang meminta, bukan aku!” Bayu meninggalkan Vita dengan cuek.

Vitapun memaki Bayu dengan segala macam umpatan.

“Dasar bodoh! Nggak tau diri! Stupid! Go on!!”

¤¤¤¤¤¤

Tahun ajaran baru telah dua minggu dijalani. Aku, Arien, Rio dan Nini duduk di kelas III IPA 1. Sedangkan Vita dan beberapa sahabatku di kelas III IPA 2.

Ku pikir, di tahun ajaran baru ini Vita sedikit berubah. Ternyata pikiranku salah besar! Vita semakin  ujub dan angkuh. Apalagi setelah ia dibelikan sebuah BMW hitam metalic. Mobil mewah itu diparkirkan khusus di depan kelas III IPA 2. Tak ada seorangpun yang berani menyentuh, apalagi melarang perbuatannya. Bahkan sang kepala sekolah yang biasanya sangat tegas juga tidak mampu menanggulangi ulah Vita yang keterlaluan.

Di suatu siang tiga hari kemudian…

Udara megitu panas dan menyengat. Membuat dahaga merajalela dan kerongkongan berdemonstrasi meminta jatah airnya. Tapi hal itu tidak terjadi padaku yang sedang berpuasa sunnah hari ini.

Ketika hendak berjalan menuju kantin guna menemui Arien dan Nini, aku melihat beberapa ekor ayam milik penjaga sekolah naik di atas mobil kebanggaan Vita. Dengan cepat ku halau ayam-ayam itu untuk turun dan menjauh dari kendaraan mahal milik Vita. Aku nggak mau mendengar keributan bila ayam-ayam itu sampai menggoris body mobil Vita yang mewah.

“Hei!!! Ngapain kamu di situ?!!” Vita berjalan cepat ke arahku. “Ya ampun…! Mobilku! Ini pasti ulahmu! Kamu pasti sengaja melakukan semua ini. Kamu iri yach padaku yang mampu membeli mobil semahal ini?!!”

“Vit, ayam-ayam itu naik sendiri. Aku menghalau mereka untuk turun…” Ucapku jujur.

“Alah!!! Kamu selalu mencari masalah. Dasar miskin! Anak haram jadah!!!” Vita mendorongku hingga terjatuh ke tanah yang bercampur dengan bebatuan.

Aku meringis sambil menahan tangis.

Vita menarik kerudungku tanpa belas kasihan. Agaknya nurani Vita sudah lenyap bersama keangkuhannya. “Jangan pernah cari masalah denganku. Karena kamu nggak akan pernah bisa hidup tenang. Camkan itu!” Ancam Vita. Sejurus kemudian BMW yang dikendarai oleh Vita melaju kencang meninggalkanku. Aku terbatuk karena asap knalpot BMW Vita.

Aku menatap kepergian Vita dengan nanar, air mataku mengalir deras. Aku terisak.

“Ya Allah… berilah Vita cahaya iman agar dia segera sadar dari kekhilafannya. Ya Allah… tabahkanlah hamba. Biarlah kejadian ini hamba telan dan simpan sendiri sebagai pelajaran bagi hamba dan keluarga hamba. Ya Allah… di bawah terik sinar matahari yang menyengat ini hamba memohon dengan segala kerendahan hati hamba…”

¤¤¤¤¤¤

14 Agustus 2004

Untuk ‘Seorang Teman’ dan segala keterbatasan Gw!

2 thoughts on “Semua Tentang Vita

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s