Shocking Love


“Mama bilang kangen sama kamu.” Kata Fatan sesampainya di rumah Kinara, wanita yang akan dinikahinya dua bulan lagi.

“Iya… iya… nanti setelah urusan selesai, kita singgah ke rumah mas dulu ya… Aku udah buatin blackforest untuk mama. Oke mas?”

Fatan mengangguk. “Sip bos…”

***

Mobil toyota Rush hitam metalic itu melaju dengan kecepatan sedang.

“Mas, sepertinya kita salah jalan deh. Seharusnya di perempatan tadi mas belok kanan bukan ke kiri.”

“Oh iya sayang, aku lupa! Mama sudah menyewa jasa disainer terbaik di kota ini, bahkan bahan dan modelnya juga sudah ada. Kamu lihat sayang, betapa perhatiannya mama padamu. Satu lagi, warnanya hijau. Pasti sangat…”

Kinara mengkerutkan keningnya. “Hijau? Mas, kamu tau kan aku sangat tidak cocok dengan segala hal berwarna hijau. Aku bahkan tidak punya baju berwarna hijau. Lagipula aku sudah punya rancangan dan disainer sendiri.” Protes Kinara.

“Sayang, mama inginnya pernikahan kita serba hijau seperti pernikahan kakak-kakakku. Apa salahnya sih menyenangkan orang tua?”

“Kalau begitu mama kamu saja yang menikah!” Ucap Kinara dalam hati.

“Ayolah sayang, ikuti saja kata mama..”

“Lalu bagaiman dengan Aisha mas? Aku sudah berjanji padanya, tidak mungkin dibatalkan. Kami sudah mempersiapkannya dari tiga bulan yang lalu.”

Fatan menghentikan mobilnya di sebuah bangunan mewah. Ia menyentuh jemari Kinara. “Please… Ngertiin aku…”

Melihat tatapan memohon kekasihnya Kinara tak sampai hati untuk menolak. “Kita ambil jalan tengahnya saja. Busana akad nikah aku turutin mama kamu, gaun resepsi aku pakai rancangan dan disainer sendiri.”

“Tapi sayang…”

Kinara melotot. Palu sudah diketuk, tak ada tawar menawar lagi.

***

Kinara meletakkan tas dengan kasar. Wajahnya ditekuk, bibirnya manyun.

“Hati-hati bu… Itu kan tas kesayanganmu, pemberian dari Fatan. Kalau rusak ntar berabe lhoh…”
Kinara mempelototi Aisha. “Yang memberikan tas ini sumber masalahnya!”

“Kenapa sih sewot banget? Baru juga nyampe.” Tegur Octa.

“Aku kesal dengan mas Fatan, dari dulu anak maminya tidak pernah berubah. Kemarin masalah busana, sekarang undangan.” Kinara menatap Dwi dan menggenggam jemari sahabatnya itu. “Maaf say, aku gak jadi cetak undangan di tempatmu. Mamanya mas fatan mau mencetak undangan di tempat kerabatnya karena dari dulu percetakan itu yang menghandel undangan keluarga mereka. Aku gak enak sama kamu Dwi, benar-benar gak enak.”

Dwi tersenyum arif. “Aku gak apa-apa kok, mungkin belum rezeki. Meskipun masalahnya bukan materi, kamu tau lah ini impian kita berempat.” Kekecewaan itu sangat tampak di wajah Dwi.

“Kamu jangan khuatirkan kami, fokus saja pada pernikahanmu yang semakin dekat. Impian-impian kita berempat pasti akan terlaksana suatu hari nanti.” Aisha menasehati.
“Iya Kinara, jangan manyun begini dong… Apa kamu mau wajahmu keriput sebelum malam pertama kalian? Nanti Fatan diambil orang lhoh…” Dwi menepuk bahu sahabatnya.

Kinara menghela nafas. “Kalau gak ada kalian aku pasti sangat frustasi.”

“Itulah gunanya sahabat.” Kata Okta.

Kinara pun tersenyum.

***

Sebulan menjelang pernikahan…

“Sayang, mama bilang mau menghandel semua urusan resepsi termasuk tamu dan ketering. Mama mau pernikahan kita sempurna sampai-sampai beliau menyewa jasa WO artis dari Jakarta.” Kata Fatan bangga, tapi tidak bagi Kinara.

“Terserah mama kamu mau pakai WO dari mana saja bahkan dari luar angkasa sekalipun. Tapi jangan ganggu gugat masalah ketering karena aku dan Octa yang mengurusnya!”
Fatan menatap Kinara lembut meminta sedikit pengertian. “Sayang…”
“Cukup mas! Ini pernikahan kita, bukan mama dan saudara kamu. Sampai kapan sih mas terus menerus di-stir oleh mama? Mas fatan akan menikah, otomatis mas akan menjadi imam di bahtera keluarga kita. Bagaimana mungkin seorang imam di-imamin lagi oleh orang lain di dalam bahtera yang sama. Dewasa dong mas!” Kinara menekan suaranya supaya tidak mengganggu pengunjung cafe yang sedang ramai. Dia mengaduk kasar cokelat hangatnya.
“Harus bagaimana lagi caraku menjelaskannya? Mama ingin pernikahan kita sempurna, kamu mengerti kan?”

“Menikah hanya sekali, semua orang pasti ingin semua sempurna seperti yang diharapkan. Dari awal kita berkenalan kamu sudah tau seperti apa aku dan impian-impian bersama sahabatku. Kenapa sih harus dirusak? Aku selalu mencoba mengerti posisi kamu, tapi kenapa kamu tidak mau mengerti aku???” Air mata Kinara tumpah. Tak pernah dibayangkan pernikahan yang diimpikannya seumur hidup begitu menyiksa.

“Kinara sayang, aku mohon kamu memahami mama. 10 tahun kita bersama, kamu tau bagaimana sifat mama. Tolonglah Kinara…” Pinta Fatan.

Kinara menggeleng. “Justru itu yang aku sayangkan, selama 10 tahun ini tidak ada satupun sifatku yang bisa kamu mengerti. Kalau begini, sia-sia 10 tahun itu!” Kinara meninggalkan Fatan tanpa memperdulikan panggilan kekasihnya itu.

***

            Sudah lama Kinara tidak naik angkutan umum seorang diri, makanya dia canggung saat memutuskan tempat duduk mana yang nyaman dan aman untuk ditempatinya selama satu setengah jam. Kinara memutuskan duduk di bangku kosong yang jendelanya terbuka, biarlah angin malam menyentuh wajahnya dan membawa serta kesedihannya.

“Jangan membuka jendela lebar-lebar nanti masuk angin.”

Sebuah suara membuyarkan lamunan Kinara. Dia jadi salah tingkat mendapati seorang pemuda duduk di sampingnya. Sebenarnya Kinara kesal karena pemuda itu duduk di sampingnya sementara banyak bangku kosong, lebih kesal lagi karena mengganggu lamunannya.

“Sorry mengganggu lamunanmu, habis takut kamu kesambet!” Kata pemuda itu enteng.

Kinara memandangnya tak suka. Dalam hati dia mengakui ketampanan pemuda itu, mirip Dimas Anggara aktor favorite Kinara.

“Aku Dimas.” Dengan pede pemuda itu mengulurkan tangan.

“Kinara.” Jawab Kinara singkat.

Dimas pura-pura memukul nyamuk saat Kinara tidak membalas uluran tangannya. “Lain kali kamu pasti akan menyambut tangan kekarku ini.”

Kinara semakin jengah dan bete.

Dimas tersenyum usil. “Umur berapa?”

“Apa pentingnya buatmu?” Tanya Kinara galak.

“Wow… Cantik-cantik kok galak sih? Aku cuma mau tau panggilan apa yang pantas untuk kamu.

“Terserah!”

“Lagi bermasalah sama pacarnya ya?”

Kinara melotot. “Bukan urusanmu! Sok tau!”

“Itu ponsel kamu dari tadi berdering lhoh…”

“Oh itu temanku, lagi malas ngomong.”

“Teman tapi mesra ya? Photonya mesra banget.”

Kinara semakin tidak tahan. “Mas dimas yang terhormat, silakan menempati bangku lain di bis ini. Kenapa mesti di sampingku sih?”

Dimas tertawa. “Cuma memastikan kamu baik-baik saja dan turun di tempat semestinya.”
Kinara memandang Dimas, perasaannya tidak enak. “Kamu mau menculikku ya?”
“Enak saja!” Dimas lagi-lagi tertawa. “Kamu mau turun di mana? Sebentar lagi sampai terminal.”

“Apa? Oh my god… Seharusnya aku turun di tiga halte sebelumnya.” Kinara langsung panik.

“Hubungi saja pacarmu.”

Kinara cepat-cepat membuka ponselnya. “Gak.”

“Benar kan dugaanku, lagi bertengkar rupanya…” Dimas tertawa.

“Ah terserah! Bagaimana nasibku? Sudah jam 11 malam lagi, mana ada taksi di tempat ini.” Mata kinara mulai berkaca-kaca.

Bis berhenti, terminal benar-benar sepi karena tidak akan ada orang yang pemberhentian terakhirnya di terminal tengah malam begini. Hanya orang gila seperti Kinara dan Dimas yang melakukannya.

“Sudahlah jangan menangis, hubungi pacarmu, dia pasti langsung menjemput.

“Gak. Lebih baik jalan kaki daripada bertemu dengannya.”

“Kalau begitu, pulang denganku saja.

“Naik apa?”

“Jalan.”

Kinara mendengus dan langsung menjauhi Dimas yang dianggapnya pembawa sial. Mulut Kinara komat kamit berdo’a supaya ada pertolongan yang menghampirinya. Do’a Kinara terkabul, sebuah BMW berhenti di depannya.

“Naik.” Wajah menjengkelkan Dimas menyapanya.

Kinara tak punya pilihan selain menerima pinangan Dimas untuk naik ke mobilnya. Nanti kalau ada taxi ia akan segera turun, pikirnya.

“Mau ke mana?”

“Pulang.”

“Iya, ke mana?”

“Rumah,”
“Alamatnya?”

“Nanti turunkan saja di tempat ramai, aku akan naik taxi.”

“Oke, terserah kamu saja.”

“Ngomong-ngomong, kenapa naik bis kalau ada mobil?”
“Ternyata kamu penasaran juga.” Dimas tertawa. “Iseng ngikutin kamu.”

Alis Kinara saling berpautan.

“Di halte aku lihat kamu naik bis dengan wajah tanpa ekspresi. Aku takut kamu kenapa-napa makanya aku ikutin.”

“Tapi kamu tidak saling mengenal…”

“Kita sudah berkenalan tadi. Lupa ya? Eh alamat kamu di mana? Biar aku antar, gak tega membiarkanmu pulang sendirian.”

Akhirnya Kinara membiarkan Dimas mengantarnya pulang.

“Malam minggu aku jemput ya!” Kata Dimas sesampainya di rumah Kinara.

Kinara menunjukkan cincin di jari manisnya. “Sebentar lagi aku menikah.”
Dimas tertawa. “Bercanda. Eh, kalau perlu teman ngobrol hubungi aku saja. Aku siap menemanimu ke mana dan kapan pun.”

Belum sempat Kinara menjawab, mobil Dimas sudah melesat di keheningan malam. Kinara hanya dapat menghela nafas seraya mengucap syukur sudah sampai rumah dengan selamat.

***

            Dua minggu menjelang pernikahan…

Kinara semakin tidak mengerti akan sikap Fatan. Semua yang dilakukannya pasti salah karena tidak sesuai dengan keinginan mamanya. Ujung-ujungnya mereka bertengkar dan bertengkar lagi. Padahal hari pernikahan sudah semakin dekat.

“Pagi sayangku yang cantik…” Sapa Fatan mesra seperti biasa.

“Pagi.” Jawab Kinara tak semangat. Jujur saja dia masih kesal dengan pertengkaran mereka semalam.

“Hari ini kita ke tempat ketering teman mama untuk memilih menu.” Kata Fatan menentukan ke mana arah tujuan mereka.

“Mas, please deh jangan membuatku marah pagi-pagi begini!”

“Lhoh kenapa? Aku tidak melakukan apapun.”

“Masalah ketering sudah aku serahkan ke Octa, bahkan kami sudah menentukan menu.”

“Octa tidak profesional sayang. Mama sudah menunjuk temannya, mereka sangat profesional urusan ketering.”

“Octa sahabatku, dia tau apa yang aku mau.”

“Iya aku tau, tapi mama…”

“Mas! Berhenti menyebut mama ini dan itu. Semuanya mama, kapan ide darimu? Yang menikah itu kita, bukan mama kamu!” Finally, amarah Kinara meledak.

Fatan menepikan mobil supaya mudah berbicara dengan Kinara. “Kinara, tolong kamu pahami keadaanku saat ini. Sebagai anak bungsu dan satu-satunya lelaki, mama ingin pernikahan kita sempurna di mata semua orang. Mengalah sedikit untuk kebahagiaan mamaku, toh ini juga untuk kita bukan orang lain.”

“Lalu aku juga harus mengorbankan ayah bunda untuk itu? Mas, yang menikah bukan aku, kamu dan keluargamu tapi keluargaku juga. Harusnya kamu pikirkan bagaimana perasaan keluargaku yang baru pertama menikahkan anak mereka. Kalau kamu tidak mau menghargai aku silakan, aku bisa pura-pura mengerti. Tapi bagaimana dengan ayah bunda? Mereka juga orang tua seperti mamamu. Dari dulu selalu saja kata mama, kapan kata orang tuaku?”
Fatan terdiam. Entah membenarkan perkataan Kinara atau malah ikutan kesal karena Kinara tidak mau mengikuti keinginan mamanya. “Oke, begini saja… Kita tetap ke tempat teman mama, terus pilihan menu terserah orangtuamu. Adil kan?”

“Lalu Octa bagaimana?”

“Itu masalah gampang, sms saja untuk meng-cancel-nya.” Jawab Fatan enteng.

“Lagi-lagi aku harus mengorbankan orang yang aku sayang untuk mamamu! Octa, Aisha dan Dwi sahabatku dari kecil. Kami punya impian yang sama, menjadi orang yang paling berperan di acara pernikahan kami nantinya. Impian yang sudah ada selama 20 tahun dirusak dalam waktu dua bulan. Maaf mas, aku tidak bisa membatalkannya.”

Fatan memandang Kinara, kedua tangannya memegang bahu Kinara. “Tolong jangan kekanak-kanakan dengan impian bulshitmu itu! Umurmu sudah 25 tahun, apa pantas masih mengingat impian umur 5 tahun? Saat itu kamu masih menghayal berada di negeri dongeng seperti dalam cartoon.”

“Impianku bukan bulshit! Sebenarnya impianku akan terealisasi dalam waktu dua minggu kalau saja mamamu tidak ikut campur.”

“Kamu menyalahkan mama?”

“Kamu yang salah karena tidak bisa menghandel mamamu sendiri!”
“Kinara, apa gunanya sih kita berdebat seperti ini? Hanya akan membuat kita terluka, harusnya kita memikirkan pernikahan yang tinggal menghitung hari.” Fatan mencoba menenangkan Kinara.

Kinara tidak sedikit pun mau tenang dan malah melanjutkan perkataannya. “Selama 10 tahun ini aku mencoba bertahan dengan hubungan kita. Rasanya sangat disayangkan kalau sampai berakhir di tengah jalan. Terus dan terus memperkokoh hubungan ini dengan cinta kita, pernikahan pun di depan mata. Aku mencoba bersabar dengan sikapmu, mama dan kakak-kakakmu. Tapi apa yang ku dapat? Jujur, 10 tahun kita bersama hanya sia-sia. Bahkan sekarang aku berpikir pernikahan juga akan jadi sia-sia selama jiwa ragamu masih di-stir oleh mama. Sebaiknya batalkan saja pernikahan kita!”

Bagai mendengar petir di siang bolong, alangkah terkejutnya Fatan dengan kalimat terakhir Kinara. “Sayang, aku tau kamu lelah mengurus pernikahan kita. Aku pun begitu, bahkan aku sangat tengang dan sedikit takut. Sebaiknya aku antar kamu pulan, ademkan dulu pikiranmu. Aku akan bicarakan ketering dengan mama, semoga beliau mau mengerti. Oke?”

“Tidak perlu. Pernikahan dibatalkan! Kecuali kamu masih tetap melanjutkannya, silakan… Tapi mempelai wanita tidak akan datang. Bye…” Kinara langsung turun dari mobil dan pindah ke sebuah taxi. Dia menangis terse-sedu membuat supir taxi bingung.

***

Kinara tidak tau kepada siapa mencurahkan isi hatinya. Biasa kalau ada masalah apapun, dia akan mengadu pada sahabatnya. Tapi kali ini Kinara malu pada semua orang, dia butuh orang baru dalam hidupnya. Kinara pun teringat kepada Dimas, saat mengantarnya malam itu Kinara belum berterima kasih. Teringat wajah Dimas yang mirip dengan Dimas Anggara bahkan namanya juga mirip. Kinara berpikir mungkin saja dimas itu benaran dimas anggara. Mengingat dimas, kinara jadi tersenyum. Apa semua lelaki yang masuk dalam kehidupan wanita yang akan menikah begitu mempesona?

“Di mana aku bisa bertemu dengannya? Kenapa sih dia tidak memberi nomor ponselnya? Gengsi dong kalau aku yang meminta.” Kinara berbicara sendiri sambil membongkar tasnya. “Duh, mana sih kunci kamarku?” Dan bukan kunci kamar yang didapatnya tetapi kartu nama milik dimas. Kinara bersorak riang.

***

            Tiga hari menjelang pernikahan…

Kinara dan semua orang semakin sibuk, masing-masing punya peran dan pekerjaan di acara pernikan Kinara. Pernikahan yang sempat hampir batal itu tetap akan terlaksana karena akhirnya mama Fatan menyerah untuk mencampuri urusan ketering. Sekarang, di sini lah Kinara dan Fatan sedang fitting baju akad nikah mereka di sebuah butieq milik disainer pilihan mama.
Setelah fitting, Kinara dan Fatan makan siang sebelum melanjutkan aktivitas mereka yang lain. Semua harus selesai hari ini karena mulai besok mereka sudah dipingit. Otomatis mereka tidak boleh keluar rumah apalagi bertemu, pamali kata orang tua.

“Kok ke sini sih? Aku kan pengen makan pizza mas…” Protes kinara sesampainya mereka ke sebuah rumah makan.

“Mulai hari ini tidak boleh makan pizza dan makanan berlemak lainnya. Kamu sadar gak sih kalau berat badan kamu naik?”

“Jadi kenapa?”

“Kebaya kamu hampir gak muat. Nah kinara sayang, bayangkan kalau kamu makan pizza akan seperti apa kebaya yang kamu pakai di akad nikah nanti.”

“Ya ampun mas… Kebaya-nya hampir bukan gak muat. Jadi untuk apa aku harus diet? Apalagi makan sayur-sayuran seperti kambing. Aku mau makan pizza saja.”

“Kinara, ayolah…” Paksa Fatan.

Akhirnya Kinara turun dari mobil, tapi tidak masuk ke restorant. “Dari pada nanti kita bertengkar sebaiknya aku pulang saja. Sampai jumpa di akad nikah. Bye…”

Fatan hanya memandang punggung kekasihnya dengan pasrah.

***

“Mau menikah saja sungguh menyiksa bagaimana kalau sudah menikah?” Kinara bergumam sendiri, tanpa sadar dia menabrak seseorang yang sedang terburu-buru sehingga makanan yang dibawa orang itu jatuh ke lantai.

“Aduh maaf mas, saya tidak sengaja. Saya akan mengganti makanannya walaupun saya tidak bisa mengganti waktu mas.” Kata Kinara menyesal.

“Tak apa, saya juga salah sudah ter…”

“Dimas?”

“Hai! Gak nyangka ya jumpa di sini.” Dimas tersenyum.

“Iya…”

“Lama tidak berjumpa kamu jadi ramah ya!”

Kinara jadi malu. “Sorry ya atas kejadian kemarin. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih.”

“Traktir aku dong.”

“Lhoh, sekarang aku sedang mentraktir kamu.”

“Bukannya ini ganti rugi karena menjatuhkan makananku tadi ya?”

Kinara tertawa. “Iya deh… Kapan-kapan aku traktir.”

“Hm, gimana pernikahannya?”

Ditanya soal pernikahan Kinara jadi gugup campur emosi. “Gak usah dibahas!”

“Batal kawin ya?”

“Hampir.”

“Apa? Sebenarnya kamu sudah menikah atau belum?”

Kinara menggeleng. “Tiga hari lagi. Tapi semua berantakan.” Kinara menghela nafas, ada mendung di wajahnya.

Dimas menatap Kinara, mencoba mendeskripsikan wajah gadis itu. Wajah putih mulus dengan hidung mancung alami. Mata bulat besar berwarna cokelat. Bulu matanya lentik dan lebat. Alis mata rapi dan saling bertautan seperti bentangan sayap burung elang. Rambutnya ikal sebahu dan tertata sempurna. Intinya, alangkah indahnya makhluk ciptaan Tuhan bernama Kinara.

“Hallo… Terpesona ya sama kecantikanku? Gak berkedip liatin aku.”

“Hm, gimana ya? Sepertinya aku jatuh cinta padamu!”

Deg! Jantung Kinara berdegup kencang, tidak biasanya dia begini bahkan ketika bersama Fatan. Kinara jadi serba salah, takut jatuh cinta pada orang dan waktu yang tidak tepat.

“Kok diam? Suka ya sama aku?”

“Idih… Ami-amit! Aku mau menikah dengan lelaki pujaanku. Setelah 10 tahun menunggu akhirnya impianku dan Fatan jadi kenyataan…”

“Kamu bahagia?”

“Bahagia dong! Selama 10 tahun berpacaran dengan Fatan, inilah yang aku inginkan.”

“Selain pintar marah, ternyata kamu pintar berbohong juga.” Ejek Dimas.

“Kamu selalu saja sok tau!”

“Tadi kamu sendiri yang mengaku semua berantakan, sekarang seolah-olah semuanya baik-baik saja. Gak konsisten!”

Sumpah, Kinara benar-benar malu. “Udah ah, jangan ngomongin aku terus. Sekarang ceritakan tentang kamu.”

“Aku…”

Percakapan pun berlanjut, sangat seru. Tak terasa siang berganti malam, Kinara dan Dimas menutuskan untuk pulang.

“Thanks ya udah menemaniku. Kalau gak ada kamu, aku pasti kacau.” Ucap Kinara tulus.
“Jadi sekarang gak sedih lagi kan?”

Kinara mengangguk.

“Bagus deh. Hm, aku pulang ya…”

“Sebentar…” Kinara mengambil sesuatu di dalam tasnya. “Undangan buat kamu. Harus datang ya!”

Dimas tersenyum kecut. “Kalau kamu ada masalah, aku siap membantu. Apa lagi kalau sampai batal kawin.”

Kinara meninju lengan Dimas. “Enak saja! Do’ain dong supaya semua berjalanc lancar, bukan malah sebaliknya…”

Dimas hanya tertawa lalu pamit pulang.

***

            “Oh, jadi itu yang membuat emosi kamu labil selama ini? Aku mengurus semua persiapan pernikahan kita, kamu malah bersama laki-laki lain. Aku menunggumu selama 4 jam Kinara! Aku gak ngerti dengan kamu! Apa sih maumu?!!”

Fatan berdiri di hadapan Kinara dengan mata melotot. Wajahnya memerah akibat amarah yang berusaha ditahan. Bukannya menenangkan kekasihnya, Kinara membalas setiap perkataan Fatan dengan ketus dan pedas.

“Mauku? Tumben bertanya apa yang aku mau? Selama ini semua kemauan mama kamu!”

“Ini antara kita berdua dan laki-laki itu, jangan bawa mama!” Bentak Fatan. “Ke mana saja kamu dengan dia seharian? Apa saja yang kalian lakukan? Jawab!”
“Makan pizza, berteriak di pantai, jalan-jalan keliling kota. Hal yang selama 10 tahun tidak kita lakukan.”

“Oh begitu? Jadi kamu menghabiskan 10 tahun kita bersama laki-laki itu? Sudah berapa lama kalian berhubungan?!!” Fatan mendorong Kinara.

Kinara meringis karena dorongan Fatan, bahunya berciuman dengan dinding yang dingin. “Aku akan bersama Dimas kalau kamu kasar begini. Kenapa sih tidak tanya baik-baik? Aku pergi dengan Dimas karena aku tidak sanggup menghadapi kamu dan mamamu. Selama 10 tahun kita berpacaran, apa pernah aku membentakmu saat kamu pergi dengan mantan-mantan pacarmu? Apa aku pernah mencubitmu karena membohongiku? Aku mencintaimu mas, tapi aku tidak bodoh. Berapa wanita yang keluar masuk dalam hubungan kita selama ini, aku tau. Berkali-kali kamu membohongiku, aku tau semuanya!”

“Lalu kenapa masih bertahan selama ini? Kenapa kamu balas dendam sementara kita akan menikah?”

“Mas, dimas itu teman bukan selingkuhanku! Apa artinya hubungan bertahun-tahun kalau kamu tidak mempercayaiku! Aku tersiksa kamu buat begini!”

“Kenapa bertahan denganku kalau selama ini kamu tersiksa? Kenapa mau menikah denganku kalau kamu merasa tidak sanggup???”

“Aku hanya ingin punya satu kisah cinta mas, yaitu dengan kamu cinta pertamaku. Aku bertahan untuk itu.” Kinara menatap tajam kekasihnya. “Kalau kenyataannya aku tidak ditakdirkan untuk memiliki satu kisah cinta, aku pasrah. Kamu benar, impian dan kenyataan suatu saat akan berjalan masing-masing. Jadi aku putuskan kita jalan masing-masing saja. Aku tidak bisa melanjutkan cinta ini ke jenjang berikutnya!”
Fatan terperangah, kali ini dia merasa Kinara benar-benar marah dan menjauh. Fatan langsung bersujud di kaki Kinara. “Kinara, maafkan aku! Aku khilaf karena terbakar cemburu. Pernikahan kita hanya tiga hari lagi mana mungkin dibatalkan. Maafkan aku Kinara, aku tidak akan mengulanginya lagi… Kinara, maafkan aku…”

“Aku sudah selesai denganmu. Sekarang pergilah!” Kinara menutup pintu rumahnya seperti dia menutup pintu hatinya.

Di luar hujan turun sangat deras. Fatan terus memanggil Kinara. Untung Kinara tinggal seorang diri, keluarganya akan datang dari kampung esok hari.
Kinara menangis tersedu-sedu. Tidak pernah menyangka kisah cintanya akan berakhir seperti ini. Bertahun-tahun dia berusaha menjaga agar fondasi hubungannya tetap kokoh, itu hanya dari luar dan siapa sangka di dalam fondasi itu banyak tiang lapuk dimakan rayap dan usia. Mungkin inilah keputusan terbaik, meskipun menyakitkannya dan keluarga kedua belah pihak. Kinara tidak tau harus bagaimana, ia pun tertidur di depan pintu rumahnya.

***

Pagi terberat dalam hidup Kinara. Setelah kejadian tadi malam, Kinara sadar kalau sekarang dia sendiri yang harus menghadapi semua konsekuensinya. Dalam ketakutan Kinara menghubungi keluarganya, memberitahu mereka kenyataan yang ada. Ayah sempat marah besar dan mengancam akan menjemput Kinara secara paksa, mungkin Ayah juga akan memukulnya. Tapi setelah dijelaskan dan diberi pengertian, Ayah maklum namun tetap akan menjemput Kinara. Di saat seperti ini Kinara hanya butuh Ayah Bunda ada di sampingnya, dan ternyata Kinara butuh Dimas.

“Bunda, Kinara belum bisa pulang ke rumah. Tolong Bunda maklum dan memberi pengertian ke Ayah. Kinara pasti pulang Bun, hanya saja Kinara tidak tega melihat kekecewaan Ayah dan Bunda. Kinara tidak dapat membayangkan cibiran sanak famili dan warga kampung terhadap keluarga kita.” Kinara mengisak.

“Kinara sayang, Ayah dan Bunda mengerti keadaanmu saat ini. Pulang lah nak, jangan hiraukan orang lain. Mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, beberapa bulan lagi mereka akan lupa masalah ini.” Kata Bunda lembut.

“Bunda, Kinara akan pulang bila Kinara sudah sanggup menghadapi kenyataan ini. Bunda tenang saja, Kinara tidak akan berbuat nekat. Kinara sayang Bunda dan Ayah.” Pembicaraan pun ditutup. Kinara langsung me-non-aktif-kan ponselnya.

***

Kinara duduk di hadapan Dimas. Isakannya masih terdengar seperti saat Dimas menjemputnya di sebuah wartel. Dimas tidak berusaha menghentikan dan menenangkan Kinara. Dia membiarkan Kinara meluapkan seluruh emosinya, lama-lama Kinara akan diam.
“Aku bertemu Fatan saat kelas 1 SMA dan dia kelas 3. Kami satu sekolah. Seperti dalam dongeng, jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku merasa dia-lah Mr. Right yang selama ini ku cari. Aku menunggunya menyatakan cinta, tepat di hari ulang tahunku, yaitu lusa… Kami resmi pacaran. Rasanya indah sekali, aku sangat mencintainya dan berjanji hanya dia satu-satunya lelaki yang ku cintai. Aku hanya ingin punya satu kisah cinta dalam hidupku, makanya aku pertahankan hubungan ini. Fatan itu anak mami, apa pun yang dikatakan mamanya akan selalu dituruti. Hubungan kami terus berlanjut dalam bayang-bayang mama. Aku terus dan terus bertahan. Aku tau mama tidak menyukaiku karena kami berbeda kelas. Ayahku hanya seorang pegawai negeri biasa, sedangkan mama seorang pengusaha tersukses di kota ini. Berkali-kali mama mendesak Fatan untuk memutuskanku, menyuruh Fatan berkencan dengan gadis-gadis pilihan mama sampai secara terang-terangan memusuhiku. Aku masih terus bertahan demi kisah cintaku. Lulus SMA, aku kuliah di universitas paling bergengsi lalu aku bekerja di salah satu perusahaan bonafit. Entah karena karirku yang sukses atau karena sudah lelah menghadapi keteguhan cinta kami, mama mulai membuka hatinya untukku, bahkan setahun yang lalu mama mengizinkan kami menikah. Tak ada kata yang sanggup aku gambarkan untuk kebahagiaan ini. 10 tahunku untuk cinta dan Fatan tidak sia-sia. Tapi mengapa ini terjadi? Apa salah mempertahankan sebuah cinta? Seharusnya aku diberi penghargaan karena mampu mempertahankan kisah cintaku selama 10 tahun. Aku pikir bisa meraih semua impianku, ternyata aku salah. Keinginanku dalam hidup ini simpel saja, aku ingin jatuh cinta, pacaran dan menikah hanya sekali. Ketika menikah aku ingin para sahabatku yang nengurusnya, mulai dari gaun pengantin, undangan dan ketering. Itu impianku dengan mereka dan sialnya hancur berantakan gara-gara Fatan. Apa mungkin aku salah memilih lelaki ya? Tidak mungkin, dia satu-satunya pria yang tepat buatku. Lalu, mengapa dia tidak mengerti aku dan merusak pernikahanku? Tuhan, apa salahku? Rasanya aku sudah menjadi anak, kakak, teman, pacar dan menantu yang baik…” Kinara mengisak lagi. Kali ini dia tidak sanggup untuk berbicara.

Dimas menghela nafas, lalu tersenyum. “Tidak ada yang salah pada dirimu Kinara. Yang salah hanyalah obsesimu itu. Setiap orang berhak menentukan kisah cintanya, tapi tetap tidak bisa menentukan kehendak yang di atas. Kau terlalu membatasi cintamu sehingga banyak hal yang dikorbankan. Orang tuamu, sahabat-sahabatmu mereka puluhan tahun bersamamu dan mereka juga jadi korban. 10 tahun berpacaran adalah hal yang menakjubkan, tapi bukan hanya itu bahan untuk penguat pondasi hubungan kalian. Rasa kasihanmu pada angka 10 tahun itu yang telah membelenggu cintamu sendiri. Banyak laki-laki di dunia ini, banyak kisah cinta yang bisa kau gapai, sehingga banyak pengalaman dan kebahagiaan yang akan kau temukan. Intinya, biarkan kisah cinta 10 tahun itu terurai menjadi kisah-kisah cinta yang lain dan akan membahagiakanmu seumur hidup. Kamu masih muda untuk mencari cinta sejati yang bisa merealisasikan impian-impianmu.”

Kinara memeluk Dimas. “Terima kasih telah menjadi bagian dalam kisah cintaku.” Katanya tanpa melepas pelukan.

“Sepertinya kamu sudah menemukan kisah cinta yang lain.” Dimas tersenyum.
Pelukan Kinara semakin kuat. “Dan aku tidak akan melepaskannya, dia akan menjadi kisah cinta terakhirku. Ternyata benar kata orang-orang, cinta pertamamu belum tentu menjadi cinta terakhirmu.”

“Akhirnya tangan kita akan saling berpegangan erat.” Dimas menggenggam tangan Kinara. “Tangan yang pernah kau tolak tempo dulu.”

“Takkan pernah ku tolak lagi, dan akan ku genggam erat seumur hidupku…” Kinara pengecup pipi Dimas. Dia benar-benar jatuh cinta, lebih dahsyat dari sebelumnya.

Cinta memang aneh dan ajaib. Kadang penuh ketegangan karena datang tiba-tiba. Cinta tidak dapat ditebak haluannya, kadang dia ke kanan, kadang ke kiri dan terkadang hanya diam. Cinta ada di mana saja, bahkan di sudut tak pernah kita duga. Yang pasti bila cinta telah memilih, akan banyak kejutan dalam setiap rasanya. Cinta memang selalu mengejutkan. Semua makhluk hidup butuh cinta, apalagi manusia. Tetapi lamanya sebuah hubungan tidak menjamin sebuah kebahagiaan. Cinta itu fleksibel, bisa ada di mana dan bentuk apa saja. Cinta itu butuh kenyamanan dan kehangatan, sehingga ketika suatu hubungan terlalu dingin oleh keegoisan maka cinta akan mencari kehangatan yang dilandasi pengertian. Cinta oh cinta, selalu tampil penuh kejutan…

***

Banda Atjeh, 12 Mei 2011

“Lamanya suatu hubungan tidak menjamin sebuah kebahagiaan”

6 thoughts on “Shocking Love

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s