3 Days for Hurt (Part 1)


“Jadi Ferio itu sepupu kamu???”

Audry mengangguk kalem seraya mengunyah baksonya. “Yupz! Sepupu teraneh sedunia…”
“Oh, jadi itu sepupu kamu yang suka ngadu sama bonyok?”

“Iya, khan aku udah nunjukin orangnya waktu kita ke rumah tanteku dulu.”

“What?!! Jadi dia orangnya?”

Audry menatap Olivia, sahabatnya dengan pandangan menyelidik. “Kenapa tanya-tanya si resek itu? Jangan bilang kalo kamu naksir dia.”

Sebuah jitakan mendarat dengan mulus di kepala Audry. “Kamu nuduh atau fitnah?!!” Mata Olivia yang biasa disapa dengan sebutan Via itu terbelalak.

Audry tersenyum menggoda, “Kamu maunya yang mana?”

“Aku mau ini!” Sebuah jitakan kembali mendarat  dengan sukses di kepala Audry.

“Sadis banget Kamu sih???” Audry merengut. “Aku ikhlas koq nyerahin sepupuku yang jayus itu ke kamu. Khan kamu sahabat aku…”

“Aduh booooq, cape dech ekkeeee!”

“Si Fe itu ganteng lhoh, cool lagi. Nggak nyesel deh kalo kamu jalan sama dia. Walau pun dia agak-agak narsis dan jayus gitu…”

“Tengkyu banget honey, tapi aku nggak tertarik. Asal kamu tau aja, si Ferio itu temanku semasa SD dulu.”

“Ah, masa’ sih? Emang kamu pernah tinggal di Riau? Bukannya kamu asli Aceh.”

“Oia, aku belum cerita sama kamu kalo aku tuh pernah tinggal di Riau selama dua taon. Waktu itu aku kelas 4 SD…”

“Berarti Kamu satu sekolah dengan si Fe?”

Via menggeleng. “Nggak. Ferio itu teman bermainku, rumahnya tetanggaan dengan rumah sepupuku, namanya Rianthy. Dry, salam yach untuk Ferio. Mudah-mudahan dia masih ingat aku.”

Audry mengacungkan jempol tangannya. “Siiiiip. Eh, aku punya nomornya. Mau?”

“Gak usah. Ntar kalo dia merasa kenal sama aku, pasti dia yang menghubungi.”

“Dasar Miss jaim!”

Via tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Miss jaim, gelar unieq yang diberikan oleh teman-temannya di kampus. Gadis berdarah Aceh-Poso ini hanya dapat menggelengkan kepala tatkala gelar itu dinobatkan kepadanya. Bukannya sok jaim, tapi Via tak ingin disebut cewek gampangan.

“Dry,  pulang yuk! Aku ada janji nih.”

Audry menatap Via dengan pandangan menyelidik. “Hayo… janji sama siapa tuh? Awas lhoh kalo maen rahasia-rahasiaan…”

Via tersenyum manis. “Aku ada janji dengan kakak sepupuku di Garuda. Curiga melulu bawaannya…” Via mencubit pipi tembem sahabatnya.

“Aduh Olivia Zamara! Bisa nggak sih kalo satu hari aja nggak nyiksa pipi tembemku ini?” Audry meringis sambil mengusap pipi kanannya.

Via tertawa. “Biasa aja lagi nona Maharanie Audry Putrina…”

Audry semakin kesal.

Via tak peduli. Semakin kesal Audry, maka ia akan semakin senang. “Udah ah merajuknya. Aku mau pulang. Kamu mau nebeng?”

Otomatis Audry langsung mengangguk. “Sialan kamu tanya yang begituan!”.

Via tertawa penuh kepuasan.

~♥~

            “Vi, dapat salam dari Fe.” Audry mencomot bakwan di hadapannya.

“Siapa itu Fe?” Tanya Maya curiga.

“Ehem… gebetan baru ya?” Febri menggoda.

Audry hanya tersenyum, sok misterius.

“Siapa sih Dry? Kayaknya ada kasus nih.” Maya melirik Audry yang memasang wajah innocent.

“Fe itu…”

“Sepupunya Audry. Nama panjangnya Ferio, biasa disapa Fe. Teman SD-ku dulu.” Via menjawab cepat,  sebelum Audry mengada-ada.

“Hm…”

“Lalu?”

“Apanya yang lalu?” Via menatap Febri.

“Terus?”

“Apanya yang terus?”

Febri mencubit lengan Via yang otomatis menjerit. “Orangnya gimana?”

Via meringis sambil mengusap lengannya. Audry dan Maya tertawa di atas penderitaan sahabat mereka. Cubitan seorang Febri memang aduhai. Tampang boleh lembut, tutur kata boleh halus, perasaan boleh cepat tersentuh, tapi tangannya kasar  Na’uzubillah!

“Mana aku tau orangnya gimana. Tanya aja langsung ke sepupunya tercinta itu.” Via sewot.

“Gimana orangnya Dry?” Maya penasaran.

Audry tampak berpikir. “Hm, gimana ya cara ngejawabnya?”

“Emangnya kenapa Dry?” Kali ini Febri bertanya dengan kelembutannya yang khas.

“Aku takut…”

“Takut kenapa?” Via ikut-ikutan bertanya.

“Takut kalian pada naksir!” Audry langsung berlari keluar kantin sebelum ‘penyiksaan’ ala teman-temannya menyerbu.

Via, Maya dan Febri hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat mereka yang kekanak-kanakan itu. Kasihan memang, tapi di otak mereka sudah bersarang berbagaimacam cara untuk membalas keusilan Audry. Syereeeeem!!!

~♥~

            “Fe orangnya gimana?”

Via melirik gadis yang duduk di sampingnya sekilas. “Memangnya kenapa?”

“Ditanya koq malah balik bertanya.”

Via tersenyum. “Mana Ku tau! Selama ini aku cuma berhubungan via sms atau telepon. Dia belum ada waktu untuk ketemuan. Namanya aja anak Arsitek, pasti punya kesibukan yang berjibun!”

Audry tersenyum meremehkan. “Mana pernah dia sibuk.”

“Maksud kamu?”

“Dia itu makhluk paling malas dan paling santai yang pernah aku temui. Dia jarang, bahkan nyaris nggak pernah ke kampus. Tapi IP-nya koq tetap di atas rata-rata yach? Heran!”

“Iya, nggak kayak kamu yang udah belajar mati-matian IP tetap PMDK.”

“PMDK? Apaan?”

“Katanya anak gaul, masak PMDK aja nggak tau?” Sindir Via.

“O…”

“Apa?”

“Duh aku nyerah deh!” Audry angkat tangan.

Via tertawa senang dari balik kemudinya. “PMDK itu kepanjangan dari persatuan mahasiswa dua koma. Hua… ha… ha…”

“Sialan!” Audry merengut.

“Gitu aja merajuk. Mau aku turunin di sini?”  Pertanyaan Via bernada ancaman.

“…”

“Aku serius lhoh…” Via menepikan Honda Jazz merahnya. “Gimana?”

Wajah Audry memerah. Gadis manja ini belum pernah berpergian tanpa teman. Ia selalu pergi diantar oleh Via ataupun supir. Audry mulai merasakan ada yang ingin keluar dari matanya. Ia menggigit bibir menahan tangis.

Via melihat gelagat aneh dari wajah sahabatnya. “Cup… cup… cup… itu aja nangis. Kapan sih kamu dewasa?” Via menstarter mobilnya. “Udah ah, aku antar kamu pulang…”

Bukannya reda, tangis Audry tambah meledak.

“Kenapa?” Wajah jutek Via keluar dari persembunyiannya. “Aku khan nggak jadi ninggalin kamu di jalanan. Udah dong nangisnya…” Suara Via melembut.

Tangis Audry tambah kencang.

“Aduh Audry! Aku bisa disangka bawa kabur anak orang nih. Udahan dong meweknya. Malu!”

Audry mengisak.

“Aku minta maaf deh udah ngasarin kamu. Maaf banget…”

“…”

“Kamu kenapa sih?!!”

“Aku…”

~♥~

            “Jadi si cengeng nangis waktu diputusin ama pacarnya?”

“Cengeng siapa?”

“Ya sahabat tercinta kamu itu, Audry…”

“O…” Via meletakkan ponselnya di sebelah kiri. Tak terasa sudah dua jam lebih dia berbicara dengan Ferio via telepon.

“Apanya yang ‘o’?”

Via tertawa. “Aku nggak nyangka kalo si Audry bakalan sehisteris itu. Aku pikir dia marah gara-gara aku ngancam mau ninggalin dia di jalanan. Ternyata…”

“Apa? Kamu mau ninggalin dia di jalanan?”

Tanpa sadar Via mengangguk.

“Koq diam?”

Via menggaruk pipinya yang digigit nyamuk. “Cuma ngancam doank koq…”

Ferio tertawa. “Rasain tu anak! Lain kali, ditinggalin beneran aja di jalanan. Biar nyaho!”

“Kamu sepupu paling kejam seduania!”

“Itu belum seberapa lhoh…”

“Maksudnya?”.

“Audry pernah naro belatung di kotak makananku pas masih SMP. Aku jijik banget waktu ngeliatnya. Sampe-sampe aku nggak nafsu makan selama seminggu. Terus, dia pernah masukin air comberan ke mulutku waktu tidur. Pokoknya, si Audry itu sadis banget deh!”

Via tertawa terbahak-bahak mendengar pengalaman pahit Ferio bersama Audry.

“Ye, ni anak malah ngetawain aku.”

“Upz! Sorry bro, habis lucu sih.” Via menahan tawanya. “Terus, kamu diam aja?”

“Ya enggaklah…”

“Jadi kamu ngapain?”

“Aku…”

~♥~

“Si Fe itu sadis banget deh! Aku nggak nyangka anak mami seperti dia tega ngejeburin aku ke kolam renang dewasa. Untung aku nggak ko’it!”

Via tertawa. “Jadi dia…”

Wajah Audry langsung masam. “Iya, dia ngangkat aku yang pada saat itu lagi tidur di ruang tamu. Mending kalo siang, ini jam 3 malam. Sadis banget khan?”

“Hm, iya juga sih. Sadis banget tu orang. Tapi dia baik lhoh waktu main-main denganku. Bahkan dia selalu belain aku kalau diusilin sama teman-teman…”

“Dia khan buaya…”

Bukannya menanggapi perkataan Audry, Via malah senyam-senyum.

“Jin mana yang masuk Vi?” Audry menepuk pundak sahabatnya dengan kekuatan penuh.

Via meringis seraya mengusap bahunya. “Nggak bisa liat orang happy!”

“Ye… melamun koq happy.”

“Up to me. Sirik amit seh!”

“Via!”

“Audry!”

“Olivia Zamara.”

“Maharanie Audry Putrina.”

“Garing kamu!”

“Jayus kamu!”

“EGP.”

“CPD.”

Via dan Audry tertawa dengan tingkah masing-masing. Tiba-tiba Audry memandang Via serius.

“Gue mendukung kamu dan Fe seribu persen.”

Via mengerutkan kening tak mengerti.

“Aku serius lhoh Vi…”

“Mau kamu serius, mau bercanda, aku nggak peduli. Soalnya aku nggak ngerti…”

“Bo’ong!”

“Sumpah aku nggak ngerti.”

Audry tersenyum. “Suatu saat pasti mengerti khan?”

“Maksud?”

“Hello Olivia… koq jadi telmi sih?”

“Auk ah! Aku nggak ngerti. Pulang yuk! Ntar kesorean, aku yang dimarahi ama nyokap kamu…”

“Iya.”

~♥~

“Tadi malam aku ketemuan dengan Ferio…”

“What?” Mata Audry terbelalak, “Lalu?”

“Ya nggak pake lalu!”

“Kalo gitu, ngapain kamu ngabarin ke aku.” Audry bersiap-siap meninggalkan sahabat tercintanya yang suka usil.

Via menarik lengan Audry, “Gitu aja ngambek!”

“Kamu sih yang cari masalah…”

“Maya dan Febri mana? Sepi amit ni ruangan tanpa mereka.”

“Masih di angkot kali. Eh, cerita dong hasil ngedate kalian tadi malam.”

“Siapa yang ngedate Dry?” Tiba-tiba Maya nimbrung. Di belakangnya Febri memasang wajah ingin tau.

“Miss Jaim ngedate sama sepupuku.”

“Wow… Kabar gembira nih. Kapan jadiannya? Harus dirayakan? Makan-makan…” Febri melirik Via.

“Kalian koq mau-maunya dibohongin sama Audry. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Ferio. Tadi malam kami memang janjian untuk bertemu, tapi bukan ngedate… hanya ketemuan biasa doank. Lagian dia bertiga dengan teman-temannya dan aku berdua dengan Rasty, teman SMA-ku dulu. Gitu lhoh teman-teman…” Via menjelaskan panjang lebar agar teman-temannya tidak salah paham. “Kalo gak percaya, tanya aja Rasty. Kalian khan udah pernah bertemu dia…” Sambung Via lagi ketika menyadari bahwa ketiga sahabatnya meragukan kata-katanya.

“Alah, kalo ada hubungannya pun gak apa-apa koq. Aku mendukung kalo kamu pacaran dengan Fe. Kalian khan sama-sama lagi jomblo…” Goda Audry.

“Iya, kamu juga bisa melupakan si Edo brengsek itu…” Timpal Maya.

Via mencibir, lantas melihat Febri. “Kamu nggak ikut jadi provokator?”

“Aku mendo’akan saja…”

Via, Audry dan Maya saling pandang setelah mendengar jawaban Febri. “Gak nyambung!!!” Ucap mereka serempak.

Febri melongo tanpa kata-kata.

~♥~

 Malam sebelumnya…

Via dan Rasty duduk berhadapan di sebuah café tenda di jalan Sudirman. Berkali-kali Via memelototi jam dan ponselnya, ia kelihatan gelisah.

“Sabar dong Vi, bentar lagi dia pasti sampai…” Ucap Rasty lembut. Ia lantas mengunyah nasi goreng sosisnya.

“Duh, lama banget sih tu anak. Jangan-jangan dia nyasar…” Via khuatir.

Rasty tersenyum. “Dia cowok khan?”

Via mengangguk.

“Udah gede khan?”

Via mengangguk lagi.

“Jadi kamu nggak perlu khuatir. Dia nggak akan mungkin nyasar.”

Ucapan Rasty tidak mampu menenangkan Via. Ia masih gelisah. “Sudah hampir sejam kita menunggu, mungkin dia nggak ja…” Tiba-tiba ponsel Via bergetar. “Halo…”

“Hai!” Seorang pemuda tampan dengan bentuk badan atletis berdiri di hadapan Via. Pemuda itu tersenyum, amat sangat manis…

“Hai juga!” Balas Via gugup.

“Udah lama menunggu?”

“Baru satu jam” Sindir Via.

Pemuda itu menjadi kikuk. “Maaf…”

“Gak apa-apa koq, satu jam khan belum terlalu lama…”

Pemuda itu tertawa. “Kamu belum berubah ya Vi, masih jutek…”

Via hanya tersenyum, kemudian mengajak pemuda itu beserta kedua temannya ke meja Via dan Rasty.

“Ras, kenalin temanku…”

Rasty dan pemuda itu saling bertatapan. Mereka berjabat tangan.

“Rasty…”

“Ferio…”

“Oh, ini toh yang namanya Ferio…”

“Yupz! It’s me. Oia, kenalin teman-temanku… Dimas dan Banyu”

Via dan Rasty saling berjabat tangan dengan Dimas dan Banyu.

“Silakan duduk…” Via mempersilahkan ketiga temannya itu untuk duduk.

“Kamu gak berubah ya Vi…” Ferio memulai pembicaraan setelah sempat belasan menit terjadi perang diam di antara mereka berlima.

“Agaknya kamu kekurangan bahan pembicaraan deh.” Ejek Via.

“Kenapa?”

“Kamu khan udah mengatakannya tadi…”

Ferio tersipu malu. “Aku lupa.” Ia tertawa.

“Bilang aja GR.” Celetuk Banyu.

“Apaan?”. Wajah Ferio memerah.

Via, Rasty, Dimas dan banyu tertawa.

“Kamu tambah cantik Vi…” Dimas yang dari tadi diam saja akhirnya bersuara. “Juga tambah jutek…”

Via menatap Dimas. “Kamu kenal aku?”

Ferio dan Dimas saling pandang.

“Di mana?”

“Ya ampyuuuun Vi, Dimas ini khan teman kita juga di gang Rambutan. Rumahnya tepat di samping Rianthy. Masa’ kamu lupa?”

Via memandang Ferio. Tatapan mereka bertemu. Ada semburat merah di pipi mereka. “Kamu gak bohong khan Fe?” Via cepat menguasai keadaan.

“Suer…”

Via mengingat-ingat. “Oh… aku ingat! Kamu Andimas Ramadhan khan?”

Dimas mengangguk. “Hampir aja aku pulang kalo kamu nggak ingat…” Candanya.

Via tertawa. “Sorry bro! Aku pelupa…”

“Fe koq ingat?” Tanya Rasty iseng.

“Soalnya namanya unik dan lucu.”

Ferio mayun.

Detik-detik berlalu, tak terasa hampir dua jam kebersamaan Via, Rasty, Ferio, Dimas dan Banyu. Cerita demi cerita terus mengalir di antara mereka. Walau Rasty dan Banyu tidak tau apa-apa, namun suasana keakraban tetap terjalin.

“Opz! Udah pukul sepuluh nih. Aku dan Rasty harus pulang, bisa diomelin orang rumah kalo kemaleman…” Via membereskan barang-barangnya yang kececeran di atas meja. Maklum, tadi dia mengerjakan tugas sambil menunggu kedatangan Ferio.

“Perlu diantar Vi?” Tanya Ferio basa basi.

“Tengkyu banget, tapi lain kali aja, aku bawa kendaraan koq…”

“Oh…” Bibir Ferio membulat. “Ya udah dech kalo gitu. Oia, kasirnya di mana?” Ferio mengambil dompet di saku celananya.

Via senyam-senyum melihat gelagat Ferio. “Gentle juga nih cowok.” Ucapnya di dalam hati. Kalo kedengaran yang bersangkutan, bisa berabe lhoh…

“Mau ngapain si Fe?” Tanya Rasty, ia tidak suka ditraktir oleh orang yang belum begitu di kenalnya.

Via menyikut lengan Rasty. “Udahlah, biarin aja kalo dia mau bayar.” Ucapnya berbisik.

“Kamu apa-apaan sih? Aku masih sanggup koq membayar makan malam kita…” Raut wajah Rasty tampak tidak senang.

“Ye… sekali-kali makan gratisan khan nggak apa-apa…”

“Aku nggak mau. Nggak suka.” Rasty memandang Via jutek.

“Up to you. Tapi bilang sendiri ya sama si Fe…”

Rasty langsung mencegat Ferio yang berdiri di meja kasir. “Biar aku aja yang bayar.”

Kening Ferio berkerut, ia tersenyum. “Nggak apa-apa koq. Aku aja yang bayar. Khan aku yang mengundang kalian.” Ferio mengeluarkan uangnya. “Berapa mbak?” Tanyanya pada penjaga kasir.

Sang penjaga kasir mengatakan jumlah rupiah yang harus dibayar Ferio.

“Udah, aku aja yang bayar!” Rasty ngotot.

Dari kejauhan Via tertawa melihat Rasty dan Ferio yang berebut dan ngotot untuk membayar bill mereka.

“Udah, aku aja. Nggak apa-apa koq…”

“Aku aja…”

“Aku aja…”

“Aku!”

“Aku!”

Tawa Via semakin kencang tatkala melihat adegan tarik-menarik antara Ferio dan Rasty. Semua mata pun tertuju pada kedua insan yang keras kepala tersebut.

“Makasih ya mbak…” Akhirnya Ferio-lah yang memenangkan adu ‘otot’ pembayaran malam itu.

“Malu-maluin aja deh!” Ucap Via ketika Rasty mendekat dengan wajah merah dan bibir monyong.

“Biarin! Yang penting udah usaha…” Rasty membela diri.

Via mencibir seraya hatinya bersorak gembira telah membuat Rasty kesal. Rasty terus saja bergumam tak jelas sampai mereka di depan Café.

“Vi, mau pulang sekarang?” Tanya Ferio. Di sela jarinya bertengger manis sebatang rokok.

“Iya. Tengkyu udah traktir kita-kita. Kami pulang. Keep contact, ok?” Via memasuki mobil kesayangannya. “Fe, jangan merokok lagi ya, nggak baik untuk kesehatan.”

Ferio terpana mendengar kata-kata Via yang to the point. ”Hm, iya aku usahain.” Ferio langsung membuang rokoknya dengan kikuk. “Makasih udah megingatkan.”
“Sesama muslim itu bersaudara, jadi wajar kalo aku mengingatkan kamu.” Via tersenyum, lalu menstater mobilnya. “Kami duluan ya. See U again…”

“Hati-hati…”

Mereka saling melambaikan tangan tanda perpisahan.

~♥~

       “Ih, enak banget kalian ditraktir sama si jutek! Aku yang sepupunya aja belum pernah…” Audry merengut setelah mendengar cerita Via.

“Ye, jangan sirik dong!” Maya melempar tissue bekas ke wajah Audry yang otomatis langsung mencak-mencak jijik. Maklumlah, Audry itu adalah makhluk yang super duper perhatian pada kebersihan dan kesehatan. Makanya dia dijuluki Miss. Cleaner oleh teman-temannya.

“Jorok tau!” Gerutu Audry.

Via, Maya dan Febri tertawa.

“Nggak apa-apa lhoh Dry, vitamin untuk kulit…” Ucap Febri yang dijuluki Miss. Kalem oleh teman-temannya.

“Vitamin dari Hongkong! Udah capek-capek facial, berkuman lagi deh mukaku.” Audry merengut.

Via, Febri dan Maya tertawa.

“Kamu cemburu kalo aku ditraktir sama Ferio?” Tanya Via menggoda. “Aku khan anaknya baek dan tidak sombong, makanya dia mau mentaktir aku. Lagipula aku ini manis, imut-imut and pintar…”.

“Narsis!” Maya menjitak kepala Via yang langsung berhenti tersenyum.

“Vi, kamu serius tentang acara tarik-tarikan antara Fe dan Rasty?” Tanya Audry.

Via mengangguk. “Kenapa? Jangan cerita sama saudara-saudara kamu ya! Kasian si Fe, ntar dia malu…”

Audry tersenyum. Selintas pikiran usil berkelebat di benaknya. “Nggak janji ya…”

Via menggoyang lengan Audry. “Jangan gitu dong Dry, kasian si Fe…” Pintanya memelas.

“Hm, hm, jangan-jangan kamu ada hati sama dia.”

“Terserah deh mau bilang apa, yang penting si Fe selamat dari ulah usilmu. Jangan ya Dry, ntar aku traktir kamu di La Polette deh. Kamu boleh makan es krim sepuasnya…” Bujuk Via.

Audry pura-pura berpikir.

“Masih kurang? Aku bersedia jadi supir kamu selama sebulan. Aku akan antar kamu ke mana saja yang kamu mau.”

Audry tak menjawab.

“Aduh Dry, kamu maunya apa?”

“Hm… aku mau gaun yang kemaren itu kita liat di Sofie Butieq. How?”

Via, Maya dan Febri terbelalak.

“Kamu mau ngebunuh Via?!! Gaun itu khan mahal banget!” Maya protes.

“Iya Dry, bisa habis uang saku Via selama tiga bulan…” Febri menambahi.

Audry melirik Via yang menggigit bibir. “Gimana Vi?”

Via menghela nafas. “Nyesal aku menceritakan kejadian tadi malam.”

“Ya… up to you. Bagiku gaun itu nggak ada artinya dengan kejadian memalukan yang akan aku sebarkan ke seluruh penjuru nusantara…”

“Gila!” Maya menjitak kepala Audry.

“Jangan main jitak dong May. Aku khan berurusan dengan Olivia, bukan denganmu.” Audry membalas jitakan Maya. “How Ms. Olivia Zamara?”

“Hm… oke deh.” Via menyerah.

“Gila kamu Vi! Gaun itu khan mahal banget, 4 jt booooq…” Maya protes.

Via menggigit bibir. Terbayang olehnya sebuah gaun mahal yang harus dibelinya untuk menutup mulut Audry. “Nggak apa-apa…” Ucapnya lemah.

Audry tertawa. “Kamu beneran cinta sama Fe ya?”

“Ini bukan masalah cintaUdry, ini adalah masalah kepercayaan. Harusnya aku nggak ngebocorin kejadian tadi malam. Kepercayaan itu lebih berharga dari sebuah gaun berharga jutaan rupiah.”

Audry tersenyum. Ia kecewa. “Aku pikir kamu suka sama Ferio…” Audry memainkan ponselnya. “Gaunnya nggak jadi, aku Cuma bercanda. Tapi La polette dan supir pribadi tetap yach…”

Via tertawa. Maya menggerutu. Febri mencubit Audry.

“Sialan. Bikin aku sport jantung aja!” Ucap Via seraya memeluk Audry.

“Aku dipeluk sama calon adik ipar euy!” Goda Audry.

Via langsung merengut.

“Kalo merengut, batal semua perjanjian!” Ancam Audry.

Viapun terpaksa tersenyum, walau hatinya sungguh dongkol.

~♥~

            Fe, sedang apa? Bsa mnta tlg? Tlg aterin Q k t4 tmn.

Kl bsa, Q tggu jam 4 sore d rumah. Key?

Message send

“Mudah-mudahan Fe mau. Aku butuh banget bantuannya, Imel khan sore ini mau berangkat ke London. Duh Imel, kenapa sih kamu ninggalin aku secepat ini…” Via memandang sebuah figura berwarna pink, ada dia dan Imel yang sedang berpose di sebuah taman bunga. Mereka tampak akrab dan gembira. Tapi Imel akan meninggalkan  Indonesia untuk jangka waktu yang mungkin sangat lama. Via merasa kehilangan ditinggal oleh salah satu sahabat terbaiknya.

Ok. Kl g ujan, Q sgr k sna.

Via tersenyum lega setelah mendapat balasan dari Ferio. Ia segera mengirim pesan via sms kepada Imel.

Jam 5 aQ k t4 Qm. Jgn kemana2 ya say!

Message send

Sebenarnya Via bisa saja pergi sendiri menemui Imel, namun mobilnya dipakai oleh sepupunya yang baru datang dari Jakarta. Sedangkan mobil bundanya sedang diperbaiki di bengkel. Kalau naik taksi ataupun angkutan umum Via tidak biasa. Makanya ia meminta bantuan Ferio. Yach sekalian jalan-jalan berduaan gitu…

~♥~

 

            “Fe, yuk masuk. Itu sobat akrabku, namanya Imel…” Ucap Via begitu turun dari motor Fe. Ia melambaikan tangan kepada Imel.

Ferio memandang bangunan megah di hadapannya dengan takjub, sebuah restoran mewah bertaraf internosional. “Nggak usah,  aku menunggu di luar saja…” Tolaknya halus.

“Kenapa?”

“Hm… nggak apa-apa koq. Ntar aku mengganggu acara kalian.” Fe berbohong.

Via tak semudah itu mempercayai ucapan Ferio. “Kenapa sih? Malu masuk ke restorant mewah? Santai aja, ini punya bokap si Imel…”

“Bukan itu Vi…”

“So?”

“Kemejaku kotor, tadi terkena cipratan air di perjalanan ke tempatmu. Udah deh, kamu masuk gih.”

“Aku nggak mau masuk kalo kamu nggak ikut…” Via memasang aksi merajuknya.

“Jangan gitu dong Vi…”

“Via! Kenapa? Dari tadi aku tungguin bukannya masuk, eh malah pacaran di sini.” Sesosok tubuh dengan wajah jelita memotong percakapan anatara Via dan Ferio.

Via menjitak kepala gadis itu. “Enak aja! Aku lagi ngebujuk nih anak supaya mau masuk ke dalam. Dia teman semasa SD dulu, bukan pacar. Namanya Ferio. Oia, kalian salaman dong. Itu aja mesti diajarin.”

Dengan ramah Imel mengulurkan tangan putih mulusnya. “Imel. Panjangnya Imelia Wulandhari Melati Mewangi Sepanjang Hari Setiap Waktu…”

Ferio menjabat tangan Imel. “Ferio. Panggil aja Fe.”

“Oh… Ferio? Koq nama kamu seperti merek motor yah?” Canda Imel.

Ferio kikuk. “Oh… itu… hm…”

Dengan hangat Imel menepuk bahu Ferio. “Nggak usah dipikiriin, aku bercanda koq! Ayo masuk…” Ia menarik tangan Ferio dan Via.

Namun Ferio tidak bergeming. “Aku di sini saja.”

“What? Aku nggak salah dengar?”

“Nggak koq. Aku di sini saja.”.Ulang Ferio.

“Mau jadi tukang parkir? Sorry ya, kami lagi nggak butuh tenaga kerja.” Imel memandang Via. “Kenapa pacar kamu Vi?”

Pipi Via memerah karena Imel menyebut Ferio sebagai ‘pacarnya’. “Ralat ya, teman bukan pacar.”

“Iya… iya… whatever lah. Kenapa dia?”

“Kemejanya kotor, dia malu…” Jawaban Via membuat pipi Ferio memerah.

“Oh…”. Imel membulatkan bibir mungilnya. “Ya ela… itu aja jadi masalah. Udah ah masuk aja, nggak usah malu-malu.” Imel menarik tangan Ferio.

Via tertawa melihat tingkah sahabatnya.

”Ngak usah deh, aku tunggu di sini saja.” Ferio tetap kukuh pada pendiriannya.

”Pokoknya harus masuk!” Imel mengambil kunci motor Ferio dengan paksa. ”Kalo kamu nggak mau masuk, motor kamu aku jual.” Ancamnya sadis.

Ferio menelan ludah. Akhirnya ia mengalah dan masuk ke restaurant mewah milik keluarga Imel.

”Bonyok mana Mel?” Tanya Via.

”Biasalah, lagi berkemas. Banyak barang yang harus dibawa…” Imel memberikan daftar menu kepada Via. ”Pesan apa?”

”Pesan apa Fe?” Tanya Via lembut. ”Mau makan?”

Ferio menggeleng. ”Minum aja. Teh sosro…”

”Mel, teh sosro dua”

”Nggak mau makan?” Tanya Imel.

”Nggak. Si Fe nggak mau, mungkin masih malu”.

Imel memandang Ferio, pandangan usil plus menggoda. ”Hm…”

”Hm…” Balas Ferio.

”Hm…”

”Hm juga…” Balas Ferio lagi.

”Eh, kamu beneran nggak mau makan?”

Ferio menggeleng.

”Ntar nyesel lhoh, makanan di sini yummi buaaaanget…” Imel promosi.

”Kapan-kapan aja deh.”

”Kapan-kapan nggak bisa gratis, mumpung aku ada di sini.” Bujuk Imel lagi.

”Restaurant ini udah bangkrut ya?” Tanya Ferio tiba-tiba.

”Maksud kamu?!!” Imel melotot.

”Ya… menurut aku sih restaurant ini udah bangkrut, makanya kamu dan keluarga pindah keluar negeri. Sedangkan aku disuruh untuk mencicipi makanan di sini untuk terakhir kalinya. Ya khan?”

”Ye… enak aja! Kami sekeluarga pindah karena mau fokus sama restaurant yang baru. Busuk banget deh pikiranmu. Ingat, perkataan itu do’a. Cabut balik perkatanmu.” Imel mencibir.

”Aku khan nggak tau. Aku Cuma nebak menurut data pengamatan…”

Imel siap membalas perkataan Ferio.

”Udah ah! Koq pada bertengkar sih…” Via menengahi, ”Fe ngalah sedikit sama cewek bisa khan?”

Ferio merengut. ”Ya… ya… ya…” Ucapnya kesal.

Imel dan Via tersenyum puas.

Detik demi detik berlalu, tak terasa jarum jam telah menunjukkan angka 7. Via dan Ferio pun berpamitan pulang.

”Jangan pernah lost contact yach Mel…” Via dan Imel saling berpelukan. Air mata membasahi pipi mereka.

Ferio menepuk bahu Via. ”Udahan ah acara nangisnya. Ntar kamu kemalaman di jalan…”

Via tersadar. Ia melepas pelukannya. ”Baek-baek di sana ya Mel…”

Imel mengangguk. ”Kamu juga. Jagain tu si Fe, jangan sampe disambar orang…” Ucapnya usil.

Via mencubit pipi tembem Imel sebelum benar-benar berpisah.

~♥~

            ”Masih banyak teman kamu seperti si Imel?”

”Kenapa? Naksir?”

”Ogah deh! Bisa mati berdiri aku pacaran sama orang seperti itu…”

Via mencubit pinggang Ferio yang langsung mengaduh kesakitan. ”Gitu-gitu sahabatku.”

”Iya… iya…  maaf ya non…”

Via merengut. ”Nggak nyangka ya kalo seorang Ferio itu ternyata…” Via sengaja menggantungkan kata-katanya agar Ferio penasaran.

”Ternyata apa?”

”Ternyata…”

”Apa?” Ferio memperlambat motornya. ”Ntar aku turunin di jalan kalo kamu masih maen-maen.” Ancamnya.

Via tersenyum jahil. ”Emangnya kamu tega ninggalin gadis semanis aku?”

Ferio langsung mencibir. ”Manis sih iya, tapinya jahilnya aku nggak tahan. Apalagi kawan-kawannya yang aneh.”

Via tertawa. ”Itulah unieqnya berteman dengan Olivia Zamara…” Ucapnya bangga.

”Berteman? Bukannya kita pacaran?”

Wajah Via memerah. ”Ogah deh!”

”So, aku ditolak nih ceritanya?” Ferio menghentikan motornya, Ia menatap Via dengan mimik sedih.

Via jadi serba salah. ”Lhoh, koq berhenti sich?” Tanyanya panik. Ia menatap kesekeliling. ”Sepi banget…”

”Takut?” Ferio mengejek.

”Pulang yuk Fe! Serem nih.” Via menarik baju Ferio. ”Ayolah…” Pinta Via lagi. Ia hampir menangis.

Demi melihat wajah memelas Via, Ferio langsung menyuruh Via menaiki motornya. ”Cengeng!” Ejeknya yang tak dihiraukan oleh Via.

~♥~

            Motor yang dikendarai Via dan Ferio telah sampai di rumah Via yang langsung bernafas lega karena telah sampai ke rumah tercinta dengan selamat.

”Thanks ya Fe…” Via membuka pintu pagar, saat itu jarum jam telah menunjukkan angka 8.30. ”Jangan kapok ya Fe…”

Ferio menatap Via dengan senyum aneh. Via tak dapat melukiskan apa maknanya.

”Aku masuk ya! Kamu hati-hati di jalan, jangan kebut-kebutan. Udah mau hujan nih.” Via menutup pintu pagar.

”Vi…” Panggil Ferio.

”Kenapa? Kamu bawa jaket khan?”

Ferio menggeleng.

”Ya ampun Fe, udah berapa kali aku ingatkan untuk bawa jaket kalo pergi pake motor. Sekarang ini musim hujan, ntar kamu kena paru-paru basah.”

”Iya, maaf aku lupa.”

”Ya udah, laen kali jangan lupa lagi. Udah, pulang gih. Mau hujan nih.” Via berbalik menjauhi Ferio.

”Via…” Panggil Ferio lemah.

Via berbalik dengan wajah jutek. ”Apa lagi? Nggak bawa dompet untuk isi minyak?” Candanya.

Wajah Ferio berkabut. ”Vi, ini pertemuan terakhir kita.”

”Maksud kamu?”

”Malam ini jam 11 aku pulang ke Riau.”

”Terus? Kapan balik?”

Ferio menatap Via. ”Aku nggak akan balik lagi Vi…”

Via terkejut. ”Ke… kenapa? Kamu pasti bercanda…”

”Terserah deh. Mungkin kita nggak akan saling bertatap wajah seperti sekarang ini lagi. Tapi aku janji untuk tetap menghubungi kamu. Maaf ya Vi aku mendadak banget bilangnya. Dan makasih atas semuanya.”

Via menggeleng. ”Nggak mungkin.”

”Udah ya Vi, aku pamit dulu. Salam untuk keluarga kamu. Bilang dari Ferio yang cute.”

”Ke… kenapa kamu pulang dan nggak balik lagi?”

”Aku capek di sini. Aku capek kuliah. Dari dulu aku pengennya jadi polisi, tapi orangtuaku nggak pernah ngerti. Aku nggak sanggup lagi di sini. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang kampung saja. Aku benar-benar nggak betah di sini.”

“Tapi khan Fe…”

“Aku tau, aku harus menuntut ilmu agar menjadi orang yang berhasil. Tapi untuk saat ini aku nggak sanggup Vi! Ntahlah kalo besok atau malah tahun depan aku berubah pikiran…”

Air mata Via mengalir deras.

”Jangan tangisi orang nggak berguna seperti aku ini Vi…”

”Tapi Fe…”

”Udahan ya! Aku mau siap-siap dulu, lagipula udah malam banget dan kamu harus istirahat. Good night sweety, I Love You Forever…” Ferio langsung tancap gas degan motornya. Beberapa detik kemudian hujan turun sangat deras.

Via menagis, untuk banyak hal…

~♥~

          “Dry, Fe benaran udah balik ke Riau ya?” Tanya Via kepada Audry keesokan harinya. Tampak wajah Via sembab dan tidak bersemangat. Matanya merah, rambutnya acak-acakan. Audry sampai menjerit histeris saat melihat penampilan sahabatnya itu.

”Kamu seperti ini karena Fe?”

Via mengangguk. ”Eh, nggak koq. Aku begini karena sedih berpisah dengan Imel…” Dustanya.

”Karena Fe juga khan?” Audry tersenyum-senyum menggoda. ”Ayo ngaku…”

”Enak aja! Ngapain pula aku mikirin si Fe yang nggak penting itu.” Via membuang muka dan melihat ke lapangan basket yang terletak di depan ruangan kuliah.

”Nggak penting? Kenapa tanya-tanya dia?”

Via mencubit pinggang Audry. ”Koq lari dari konsep awal sih? Aku Cuma butuh satu jawaban, yes or no?”

Audry terdiam sejenak, dua jenak, tiga jenak…

”Hua… ha… ha…” Tawanya pun pecah. ”Via… via… nggak nyangka kalo kamu itu bego dan lugu banget. Baru kali ini aku ngeliat kamu seperti ini. Mungkin inilah yang disebut cinta…”

”Apaan sih kamu? Enak aja ngatain aku bego!” Via tersinggung.

“Jadi apa namanya orang yang dengan sukarela dibohongin oleh orang lain berkali-kali?”

”Maksudmu si Fe bohong?”

Dengan cepat Audry mengangguk. Lalu iapun tertawa mengejek Via.

”Anjrit tu anak! Aku ditipu mentah-mentah. Rugi aku nangisin di… ops! Keceplosan…” Via tersenyum getir seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Audry mencibir. ”Katanya nggak mikirin, ternyata diam-diam makan dalam. Kalo kamu suka sama dia, ngaku aja deh.”

Via memainkan bibir dan matanya. ”May be…” Ia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor yang sangat dihafalnya diluar kepala. ”Bagus! Ini yang kesekian kalinya kamu ngibulin aku. Bla…bla…bla… Jangan hubungin aku lagi karena aku nggak mau berteman sama penipu! Bla…bla…bla… Aku nggak terima permintaan maaf lagi. Titik!” Via membanting ponselnya dengan kesal.

”Hm… hm… ada yang merajuk nih. Ceilleee jadi pengen deh…” Goda Audry.

Via tak menghiraukan ocehan sahabatnya itu. Ia mengambil compact powder dari ranselnya, menyapukannya setipis mungkin di pipi. Kemudian mengambil lipgloss, mengoleskannya di bibirnya yang kering. Terakhir ia menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang lentik. ”Selesai.” Ucapnya santai. ”Eh, Maya dan Febri mana? Ntar lagi Pak Anas masuk lhoh, kayak nggak tau aja dosen killer itu tepat waktu banget.” Via merapikan duduknya. ”Dry, aku udah OK khan?”

Dengan kesal Audry mengangguk. ”Kamu cocok banget jadi nyonya Ferio. Sama-sama nyebelin.”

Via tertawa mendapati sahabatnya yang ternyata sedang kesal.

~♥~

         

          Via menatap pemuda di hadapannya dengan kesal. Pemuda itu tampak gagah dan tampan dengan kemeja birunya. Namun di mata Via, pemuda yang tak lain adalah Ferio itu seperti Cleaning Servis di kampus. Ternyata Via masih kesal dan belum memaafkan Ferio.

”Vi, kamu mau aku ngelakuin apa supaya mendapatkan maaf kamu?” Tanya Ferio kesekian kalinya.

Via memandang Ferio kejam. ”Aku nggak butuh permintaan maaf . Udah deh, pergi sana!” Bentak Via.

”Please Vi, maafin aku…”

”Nggak!”

”Vi…”

”Kamu mau pulang dengan kedua kaki kamu atau dengan bantuan polisi?” Ancam Via.

”Terserah. Aku akan tetap di sini sampai kamu maafin aku.”

Via mendesah. ”Terserah juga deh kalo gitu!” Via meninggalkan Ferio.

”Vi, jangan gitu dong…” Ferio menarik tangan Via. ”Aku nyesal udah bohongin amu. Aku minta maaf banget.”

”Terus besok akan diulangi lagi kesalahan yang sama. Udah ah, lepasin tanganku!”

”Aku akan lepasin kamu setelah mendapatkan maaf darimu.”

”Nggak!”

Tiba-tiba Ferio berlutut di depan Via. ”Maafin aku Vi…”

”Aku apa-apaan sih?!! Malu tau!” Via memaksa Ferio berdiri.

”Aku akan tetap begini sampai kamu maafin aku. Terserah orang mau bilang apa!”

”Fe, malu diliatin orang. Jangan kekanak-kanakan deh!” Via melihat sekeliling dan mendapati berpasang-pasang mata menonton adegan gratis antara Via dan Ferio. ”Nih orang-orang ngapain lagi ngeliatin aku? Kayak nggak ada kerjaan aja! Padahal ini khan udah malam banget, di depan rumahku lagi.” Via ngedumel. ”Fe, bangun dong… Malu nih!”

”Aku minta maaf.”

”Fe!”

”Maafin aku Vi.”

”Fe!”

”Aku nyesal udah bohongin kamu.”

“Ferio!”

“Aku janji nggak akan mengulanginya.”

“Ferio!”

“Aku melakukan ini untuk memastikan seberapa besar rasa sayang kamu ke aku…”

“ Ferio!”

“Ternyata cintaku nggak bertepuk sebelah tangan.”

”Udahan dong Fe…”

”Olivia Zamara, I love you! Will you be my girl?”

Via menatap Ferio tak percaya. Wajahnya langsung memerah. Apalagi ternyata semua orang yang ada di rumah menyaksikan adegan ’Penembakan’ Ferio. Via terdiam kaku.

”Vi, jawab dong!” Ferio menggoyang tangan Via, posisinya masih berlutut malahan kali ini dia bersujud memohon.

”Nggak lucu ah Fe! Aku ngantuk, kamu pulang aja deh!” Via melepaskan pegangan Ferio dan melangkah menjauh. Baru tiga langkah Via menjauh, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan pandangannya mengabur. Via pun pingsan dengan suksesnya di dalam pelukan Ferio.

~♥~

            ”Duh… yang baru ditembak sang pangeran pujaan…”

Via mendapati dirinya telah berbaring di atas ranjang empuk yang ditutupi oleh seprei berwarna pink. Kepalanya masih berdenyut-denyut.

”Via kenapa Bunda?”

Bunda tersenyum. ”Kata dokter kamu dehidrasi dan stress. Mikirin apa sih? Khan udah ada Ferio.”

Wajah Via bersemu merah. ”Bunda ini ada-ada aja deh! Via dan Ferio hanya berteman…”

Bunda mengelus rambut hitam Via. ”Bunda mengerti kamu nak.” Bunda mengambil bubur ayam di atas meja. ”Makan ya? Atau mau bunda suruh Ferio yang menyuapi kamu? Tapi sayangnya Ferio udah pulang…”

”Bunda apa-apaan sih?” Via membuang muka. ”Via masih kesal sama Fe.”

”Mau makan sendiri atau bunda suapin?”

”Makan sendiri. Via udah baikan koq.”

Bunda menemani Via makan. ”Jangan terlalu lama marahan dengan Ferio. Kasihan dia. Dari tadi malam dia nggak tidur dan ngotot untuk tetap menjagamu. Kalau ayah nggak pulang dari kantor, mungkin dia nggak akan keluar dari kamar ini…”

”Jadi Fe masuk ke kamar Via?”

Bunda mengangguk. ”Dia jaga kamu sampai jam 4 subuh.”

”Sialan tu anak! Dia nggak ngapa-ngapain Via khan?” Tiba-tiba Via merasa jijik dengan dirinya sendiri.

Bunda tertawa memaklumi karakter putri sulungnya. ”Nggak mungkinlah dia macam-macam. Bunda, Ocha, Oskar dan Olin menjaga kamu di sini. Ferio pemuda yang baik. Bunda menyukainya. Tadi malam dia sangat sopan, dia hanya duduk di kursi dan menjaga kamu dengan matanya. Yach, dia lebih baik dari pacar-pacar kamu yang dulu…”

Wajah Via bersemu merah kembali. ”Udah ah, ngapain ngebahas si Fe. Nanti dia GR.”

”Kenapa? Dia baik dan pantas dipuji. Lebih baik kamu terima dia Vi. Bunda dan adik-adikmu menyukainya, ayahmu juga.”

”Ayah?”

”Iya. Ayahmu. Setelah Ferio pulang, tak henti-hentinya ayah memuji Ferio. Kalau sudah dapat restu dari ayah dan bunda, tunggu apa lagi?”

”Terlalu cepat Bunda. Via masih mau ngetes dia…”

Bunda geleng-geleng kepala. ”Terserah kamulah…” Ucapnya mengalah.

”Bunda do’ain Via ya!”

”Pastilah sayang…” Bunda mengecup ubun-ubun Via.

~♥~

            Kantin Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan alias FKIP tampak rampai dan sumpek dipadati oleh beragam manusia yang umumnya adalah mahasiswa dan dosen. Di sebuah sudut Via and the gank menambah kepadatan kantin yang semi permanen tersebut. Mereka tampak serius mengadili sang terdakwah, yaitu Via.

”Gimana hubungan kamu dengan Fe?”

”Kenapa kamu pingsan di depan Ferio?”

”Kamu jadian ya sama Ferio?”

Via menatap ketiga sahabatnya dengan jutek. ”Kalian apa-apan sih? Nggak penting banget deh!”

”Oh… jadi kita-kita nggak penting nih ceritanya?” Audry mengambil tas selempang kesayangannya. ”Feb, May, cabut yuk! Kita ini orang nggak penting.”

Maya dan Febri mengikuti Audry dengan patuh.

Via jadi serba salah. ”Eh, bukan gitu maksudku…”

”Jadi, maksud kamu apa?” Tanya Febri lembut namun menusuk ke ulu hati.

Via menelan ludah pahit melihat wajah ketiga sahabatnya. ”Duduk dulu lah…” Ia menarik tangan Maya yang berdiri paling dekat dengannya. ”Aku…”

”Udah ah! Nggak penting banget deh. Cabs yuk! Bete di sini.” Audry menarik tangan Maya dan Febri.

”Kamu kenapa sih buru-buru amit?” Maya melepaskan tangannya dari genggaman Audry. Kini mereka bertiga berada di dalam toilet.

”Iya nih, padahal si Via udah mau cerita.” Gerutu Febri.

”Kalian tenang aja. Ini taktik untuk membuat si Via buka mulut.” Audry memberi penjelasan.

”Oooooo….” Bibir Febri dan Maya membulat.

”Pulang yuk! Aku mau ke mall, ada janji sama somebody.” Ajak Audry.

”Somebody? Who? Mantan kamu yang brengsek itu?” Tanya Febri menyelidik. “Wah, apa kata dunia ya kalau Via sampai tau tentang ini…”

Audry menjitak kepala Febri. ”Don’t worry. She don’t know about me and him.”

“Curang kamu Dry! Si Via kamu paksa untuk cerita, sedangkan kamu sendiri…” Maya protes.

”Tenang… tenang… aku nggak ngapa-ngapain koq sama mantanku itu. Cuma pengen ketemuan sama selingkuhannya itu doank koq.”

“Ya… ya… ya… terserah kamu sajalah. Aku nggak mau ikut campur kalau-kalau Via ngamuk karena kamu nggak jujur padanya. Aku angkat tangan lhoh…” Febri memasang wajah sok lugu.

“Iya, semua aku yang tanggung. Itung-itung membalas kebohongan dia selama ini…” Audry mengakhiri percakapan dengan Febri dan Maya yang langsung angkat kaki dari toilet yang sepi.

~♥~

Keesokan harinya…

Dengan enggan akhirnya Via mengklarifikasi kejadian dan hubungannya dengan Ferio. Ceille… kayak artis aja deh! Maka, kantin fakultas yang padat pun menjadi tempat mereka.

”Guyz! Aku nggak pernah dan nggak akan pernah bermaksud menutup-nutupi hubunganku dengan Ferio. Aku tegaskan ya, aku nggak ada hubungan special dengan Ferio. Kami hanya berteman. Masalah aku pingsan dipelukan Ferio, itu karena beberapa waktu ini aku banyak kegiatan dan aku yakin kalian juga tau kegiatan apa itu.” Via menarik nafas sekalian memandang wajah ketiga sahabatnya yang seriuuuuuus banget. ”Dan pada saat itu, nggak terjadi apa-apa. Paham?”

”Kamu nggak bohong?” Tanya Maya.

”Apa aku pernah membohongi kalian?”

Audry, Maya dan Febri menggeleng.

”Apa sih yang pernah aku sembunyikan dari kalian? Nggak ada khan? Aku selalu cerita semua hal yang menimpaku pada kalian. Susah, senang, pokoknya kalian tau semua. Jadi aku mohon dengan sangat, kalian jangan mencurigai aku lagi dong…”

”Iya deh. Aku dan teman-teman minta maaf. Mulai saat ini, kami akan selalu percaya dengan kamu. Maaf ya Vi…” Kata-kata Audry langsung disetujui oleh Maya dan Febri.

”Ok. Oia, tolong isi absent ya! Soalnya aku masih ada urusan di UKM. Biasalah, nanti malam anak-anak Theater mau tampil di balai kota. Kalian wajib datang lhoh sekalipun bukan aku yang tampil.”

Audry, Maya dan Febri mengacungkan jempol. ”Siiiip…” Ucap mereka kompok.

Via langsung mengacak rambut ketiga sahabatnya. ”Aku pergi dulu ya! Tolong sekalian bayarin makan dan minum aku.” Viapun langsung ngacir sebelum dijitak ataupun dicubit ketiga sahabatnya itu.

”Sialan juga itu anak!” Gerutu Audry.

~♥~

 

            “Dry, Kamu kenapa? Suntuk amat deh. Wajahmu itu udah sama seperti benang kusut.” Via menepuk bahu sahabatnya.

Audry memandang Via. Seakan menimbang apakah layak gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu untuk mendengarkan keluh kesahnya. Audry menghempaskan nafas super duper berat.

”Kenapa sih? Wajah kamu kelihatan 20 taon lebih tua.”

”Tadi kamu bilang seperti benang kusut, sekarang seperti 20 taon lebih tua. Jadi orang koq nggak konsistent banget!” Audry mencoba bercanda.

”Garing tau nggak!” Via memegang kedua bahu Audry. “Sekarang jujur sama aku, kamu kenapa? Ada masalah?” Via menatap sahabatnya penuh selidik.

”Hm… gimana cara ngomongnya ya?” Audry tampak ragu dan takut. ”Hm…”

”Sejak kapan seorang Audry nggak bisa ngomong? Oh, gini aja… kamu tulis deh di kertas, mungkin itu lebih baik.”

Audry tersenyum kecut. ”I’m sorry darling. Hm, tapi kalo aku cerita kamu jangan marah ya…”

“Maksud kamu?”

“Pokoknya jangan marah kalo aku cerita tentang Aldi yang minta balikan…”

”What?!! Jadi kamu mau balikan dengan si brengsek itu?” Via mendelik.

Audry mendekap mulutnya. “Aduh! Mampus aku!” Ucapnya dalam hati. “Vi, pelan-pelan dong. Malu diliatin orang…”

“Malu?!! Terus kalo kamu nangis bombay di depanku, Maya dan Febri, apa itu nggak malu-maluin?” Bentak Via.

“Aku ngaku salah. Makanya aku mau cerita sama kamu, eh nggak taunya kamu malah marah-marah. Ngeri aku!”

“CPD…” Via meletakkan punggung tangannya di dahi. “Terserah kamu! Mau balik kek, mau nggak nek. Bukan urusanku! Yang penting jangan sampe ada pengaduan macam-macam di kemudian hari. Capek!”

Audry merengut. ”Jadi selama ini kamu capek mendengarkan curhatanku?”

“Oh, eh, maksudku bukan seperti itu Dry. Maksud ku…”

“Udahlah. Kalo memang kamu capek, mulai saat ini aku nggak akan pernah cerita apapun sama kamu.” Audry menghentakkan kakinya, lalu meninggalkan Via.

“Ya udah.” Via pun berbalik meninggalkan Audry.

”Lhoh, koq jadi dia sih yang merajuk?” Audry menatap kepergian Via. ”Viaaaaaaaaa… tungguin aku dooooong….”

~♥~

            ”Jangan sampe deh si Audry balikan lagi sama mantannya itu. Aku nggak rela!” Ferio menyeruput jus mangga di hadapannya. Kemudian ia mengunyah spagetti dengan cepat. Lapar euy!

Kafe Idola tampak ramai di malam ini. Padahal hujan deras baru saja mengguyur kota Medan yang padat. Kalo dilihat dan diamati, kota Medan itu sudah seperti kota metropolitan. Bangunan-bangunan besar nan mewah sudah menghiasi jalanan kota tersebut. Kendaraan-kendaraan juga sudah membuat lalulintas jalan menjadi padat dan akhirnya macet. Tapi, malam ini bukan itu topik yang dibahas oleh Via dan Ferio. Oia, ternyata Via dan Ferio sudah tiga hari yang lalu baikan. Syukurlah…

”Bukan Cuma kamu yang nggak rela, aku juga. Nggak terbayang deh gimana sedihnya Audry kalo suatu saat disakiti lagi oleh aldi. Mereka udah berkali-kali bubar karena masalah yang sama, tapi herannya Audry masih saja memberi kesempatan. Kalo aku jadi Audry, bakalan kutendang tuh si Aldi.”

Ferio tertawa. ”Itu makanya Audry nggak jadi kamu.”

”Jadi diri sendiri khan lebih nikmat. Oia, by the way, any way, bus way… pacar kamu nggak marah kalo tau kamu makan malam sama cewek lain. Emang sih ini bukan malam minggu, tapi khan bisa berabe tuh kalo di sampai tau.”

“Kamu ini ya Vi, ada-ada saja. Mana mungkin aku ngajak kamu makan malam kalo aku punya pacar.”

Via tersenyum. ”Dasar buaya darat!” Ia mencampakkan sehelai tissue ke wajah Ferio.

”Kamu aneh!”

Kening Via berkerut.

”Kamu khan pacar aku, ngapain kamu tanya orang lain.” Ucap Ferio santai.

”Aku? Pacar kamu? Sejak kapan? Jangan mengada-ada dong. Nggak tau malu…”

Ferio tertawa. ”Via… via…”

”Fe, udahan dong ketawanya. Nanti kamu disangka orang gila lagi! Aku juga yang repot harus mengantar kamu ke rumah sakit jiwa.”

”Kamu lucu! Bisa-bisanya kamu bertanya tentang pacarku, sementara aku barusan saja nembak kamu. Vi, emang lugu atau pura-pura lugu sih?”

”Aku emang lugu tau.”

”Iya… emang air laut itu asin…”

”Fe, kamu punya rencana untuk membatalkan niat Audry balikan dengan si Aldi?”

”Hm, ntar deh aku pikirin. Kamu maunya…” ucapan Ferio terpotong dengan nada panggilan di HP-nya. Ferio langsung me-reject panggilan tersebut.

”Siapa?”

”Nomor nggak dikenal.”

”Koq di-reject? Mungkin panggilan penting. Dari nyokap atau bokapmu…”

”Nggak mungkin mereka. Ya udah, ngapain membahas masalah telepon. Ganti topik aja.”

”Ya sutrahlah.” Via menyudahi pembahasan tentang telepon. Padahal ia sangat penasaran dengan orang yang menelepon Ferio. Ia tidak mungkin salah lihat nama yang tertera di layar ponsel Ferio, Riana. “Siapa cewek itu? Pasti Ferio punya hubungan khusus dengannya.” Via bertanya-tanya di dalam hati.

“Vi, koq melamun?” Ferio menyentuh tangan Via.

Via langsung membuang muka dan ternyata ia melihat seseorang yang dia benci duduk di pojokan Cafe. “Fe, aku mau nyamperin teman. Kamu di sini saja ya…” Via berjalan cepat menuju orang tersebut.

”Jadi ini yang kamu lakukan saat aku nggak ada?!!” Via menggebrak meja. Otomatis semua mata tertuju padanya. Memang hal ini yang diinginkan olehnya.

”Kamu siapa?” Tanya seorang gadis di samping Via.

”Kamu yang siapa dan apa hubunganmu dengan Aldi?!!”

”Dia pacarku!” Gadis itu melotot. ”Kamu siapa?”

”Aku juga pacarnya Aldi.” Via mendorong Aldi sampai terjerembab ke lantai. ”Kamu emang buaya! Kemarin Fetty, lalu Alya, sekarang siapa lagi gadis ini hah?!! Dasar laki-laki kurang ajar!”

”Ta… tapi…” Aldi tampak ingin membela diri.

”Tadi pagi Alya meneleponku, katanya kamu telah menghamili dia. Aku pikir dia yang jahat, ternyata memang kamu yang bajingan. Eh mbak, putusin saja cowok brengsek ini. Sebelum bak bernasib sama seperti saya dan cewek-cewek yang lain. Dia ini laki-laki tak betanggung jawab. Habis manis sepah dibuang.” Via mengambil gelas di meja terdekat. ”Ini untuk bajingan paling katrok di dunia ini…” Via langsung menyiram kepala Aldi. “Selamat malam.” Via langsung berjalan menuju mejanya. Sedangkan Aldi harus rela dicaci maki oleh pengunjung Cafe.

”Ackting kamu bagus Vi!” Puji Ferio yang melihat adegan seru itu dari jauh.

”Via gitu lhoh…” Ucapnya bangga. ”Pulang yuk!” Via mengambil tasnya. ”Kasihan pacar kamu nungguin. Teleponnya dari tadi nggak kamu angkat…” Sindir Via.

Ferio hanya dapat tersenyum kecut.

”Fe!” Seorang gadis menepuk bahu Ferio setiba mereka di parkiran.

”Oh…oh… tadi gue ngedamprat orang. Sekarang giliran gue nih!” Ucap Via di dalam hati.

“Riana? Kamu…” Ferio terkejut mendapati siapa gadis yang berdiri tepat di hadapannya.

“Kenapa kamu menolak panggilanku?”

“Aku…”

“Karena gadis ini khan?” Riana menatap Via tajam. ”Urusan kita belum selesai Fe. Tapi kamu udah berani membawa gadis lain. Kamu itu…”

”Apa Ri? Aku itu apa? Ri, urusan kita udah selesai. Kita udah off. Kamu khan yang menginginkannya???”

”Tapi aku masih sayang sama kamu!”

”Ri, aku udah capek menghadapi sifat kamu yang egois dan childist banget! Kamu nggk pernah berubah Ri sepanjang hubungan kita. Aku nggak sanggup lagi sama kamu!”

”Oh… jadi begitu? Karena cewek ini khan???” Riana mendorong bahu Via.

”Riana! Jangan bawa-bawa Via di dalam masalah kita!”

“Oh… jadi namanya Via. Eh Via, asal kamu tau ya… Ferio nggak sungguh-sungguh pacaran denganmu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk melupakan aku. Karena dia sangat mencintaiku. Sebentar lagi kamu pasti akan ditinggalkan oleh Ferio. Kamu hanya mainan, kamu hanya boneka yang digunakan untuk bisa balik lagi denganku. Ferio nggak pernah cinta sama kamu!”

Via berusaha mencerna kata-kata Riana. Ingin rasanya Via meremas bibir Riana dan mengatakan bahwa Ferio tidak seperti itu. Namun tubuh dan bibir Via seolah-olah terkunci. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Sekuat tenaga Via menahan tangis.

Riana mengambil sesuatu dari dompetnya. “Liat! Ini photo-photo aku dan Ferio. Ini bukti-bukti kemesraan kami dan betapa cintanya Ferio padaku.” Riana menunjukkan beberapa lembar photo. “Aku sangat mencintai Ferio dan Ferio juga sangat mencintaiku. Kamu Cuma mainannya!”

“Cukup Riana!” Ferio menarik Riana. “Kita udah Off!”

“Tapi kamu masih mencintaiku khan Fe?”

Ferio menggeleng.

Riana memegang wajah Ferio dengan kedua tangannya. “Tatap mataku dan katakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi.”

”Cukup Riana!” Ferio menepis tangan Riana. “Ayo kita pulabg Vi!” Ferio menggenggam jemari Via.

“Lihat Via, Ferio bahkan tidak sanggup untuk mengatakan bahwasanya dia tidak mencintaiku lagi. Bagaimana dia bisa mencintai kamu?!!”

“Riana! Cukup!” Bentak Ferio.

“Kamu hanya mainan Via! Mainan yang bisa dibawa dan dimanfaatkan untuk merebut hatiku kembali. Setelah aku kembali, dia pasti akan meninggalkan kamu. Mungkin lebih parah dari itu, kamu akan dicampakkan olehnya. Barulah kamu menyesal dan kamu…”

“Cukup!” Via menghempaskan tangan Ferio. “Fe, selesaikan urusan kamu dengan perempuan ini! Baru kamu boleh menemuiku. Kalau kamu mau kembali dengannya, itu bukan urusanku!” Via berlari meninggalkan Ferio dan Riana.

”Viaaaaa…” Ferio tidak sempat mengejar Via karena Riana tiba-tiba pingsan tepat di depan Ferio.

~♥~

            Pagi yang indah. Setidaknya setelah melewati malam yang suram dan menyedihkan. Kicauan merdu burung-burung pun seakan nyanyian indah dan mampu menggetarkan sanubari. Walaupun hati sedang kusut, jangan sampai alam sekitar tau dan ikut merasakannya. Karena hidup itu bukan untuk satu orang, tapi berjuta umat manusia.

”Tadi malam Via pulang jam berapa?” Tanya ayah sambil memasang dasinya.

”Jam 1.”

Ayah menatap putri sulungnya dengan pandangan tajam dan marah. ”Anak gadis pulang di atas jam 7 malam saja sudah kurang ajar, apalagi jam 1 malam. Ayah tidak pernah mengajari Via seperti seperti itu! Ayah memberikan Via kebebasan, bukan kebablasan!”

”Maafin Via yah…” Via menahan tangis.

”Bunda, ayah dan adik-adik sangat mengkhuatirkanmu Via. Tadi malam Ferio berkali-kali telepon dan bertanya akan keberadaanmu. Ponsel non aktif, teman-teman juga nggak ada yang tau kamu di mana. Eh tiba-tiba kamu sudah ada di kamar. Bunda dan ayah selalu mengajarkan kamu bagaimana caranya menghargai orang lain. Kalau kamu punya masalah, ponsel harus tetap aktif dan jangan lupa menghubungi kami. Jangan memikirkan diri sendiri, pikirkan orang-orang yang sayang denganmu. Paham khan sayang?” Ucap bunda arif dan lembut.

Via mengisak. ”Maafkan Via. Via janji nggak akan seperti ini lagi…”

”Kak Via bertengkar dengan bang Ferio ya?” Celetuk Oskar usil. ”Auwww!!!”

”Sotoy!” Ucap Olin setelah menghadiahi Oskar dengan cubitan.

”Sssttt… jangan berisik! Ntar kita juga dimarahi.” Ocha menegur kedua adiknya.

”Ya sudah. Jangan diulangi lagi ya nak…” Ayah menepuk bahu Via.

”Makasih yah, ’nda…” Via mencium kedua orangtuanya. ”Aduh! Udah jam 7. Yah, ‘nda, Via berangkat ya!” Via mencium punggung tangan ayah dan bundanya.

”Kak Via! Ocha ikut…”

”Yupz! Yang mau nebeng sama kakak cepetan ya…”

Oskar dan Olin buru-buru memakai sepatu mereka. Ayah dan bunda tersenyum melihat tingkah laku putra-putrinya yang kini beranjak dewasa. Via sudah semester III di perguruan tinggi negri, Ocha sudah duduk di kelas I SMU dan si kembar Oskar dan Olin duduk di kelas II SMP. Olin bahkan menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahnya. Ah, indah sekali…

~♥~

            ”Vi, aku mau bicara!” Audry menarik lengan Via. ”Sekarang!” Lalu Audry membawa Via ke tempat yang sepi, ternyata Maya dan Febri sudah menunggu di sana.

”Ada apa sih? Kalian seperti mafia tau nggak?” Via tampak tidak senang dengan perbuatan teman-temannya.

”Vi…”

”Tenang aja deh, aku pasti cerita koq kejadian tadi malam.” Via memotong perkataan Maya. ”Pokoknya seru abis deh!” Via mengacungkan jempolnya dengan mata berbinar.

”Ceritain dong! Cepetan…” Paksa Febri tak sabaran. “Ya…ya…ya…”

“Kalian gila ya?” Via memegang kening ketiga sahabatnya. ”5 menit lagi kita midtem Biokimia. Aku belum belajar…” Via langsung berlari meninggalkan sahabat-sahabatnya.

”Ya ampun… aku lupa!” Audry menepuk keningnya sendiri. ”Mampus aku!”

”Aduh… gawat nih!” Ucap Maya panik.

“Lantas ngapain kita masih di sini? Ayo ke ruangan.” Febri memimpin pasukannya menuju ruangan.

Sesampainya di ruangan kuliah yang padat dan panas, mereka langsung mengambil catatan dan membacanya kebut-kebutan.

”Aduh… anak-anak yang rajin dan tajir, koq bisa ya lupa sama ujian?” Kata Mira mengejek.

”Kasian deh kalian…” Kali ini Silvy yang mengejek. Ninin dan Gita tertawa.

Mira, Silvy, Ninin dan Gita adalah genk yang tidak menyukai Via Cs. Mereka selalu bersaing dalam segala hal. Mira Cs memang sesalu mengusik persahabatan Via Cs. Mereka selalu iri dan dengki atas keberhasilan orang lain.

”Walaupun nggak belajar mereka tetap orang-orang yang berkualitas. Tidak seperti kalian yang Cuma banyak omong, tapi ternyata kosong. Seperti kata pepatah ’tong kosong nyaring bunyinya’…” Seluruh mahasiswa yang ada di dalam ruangan tertawa mendengar pernyataan Via.

”Tapi kami nggak pernah merebut pacar orang.” Ucap Gita.

Wajah Via memerah. Hampir saja dia menampar wajah Gita. Namun Via langsung dapat menetralisir keadaan, ttidak percuma selama ini dia berlatih di UKM Theater. ”Tong kosong nyaring bunyinya ngapain didengar.” Via langsung menyudahi pembicaraan panas tersebut. Kalau diteruskan bisa berabe! Satpam dan Rektor pasti harus turun tangan, tak ketinggalan dokter dan suster dari klinik kampus karena pasti ada yang minimal patah tangan dalam pertengkaran tersebut. Kalau Maya sang penyandang ban hitam di Tekwando yang bicara, pasti ada korban jiwa. Syereeeeem!!!

~♥~

            ”Gila banget si Mira Cs cari masalah dengan kita saat mau midtem. Pengen mampus kali ya?!!” Maya memulai pembicaraan tentang kejadian beberapa jam yang lalu. Ia tampak menggebu-gebu dengan amarah.

”Iya! Liat aja tuh mereka, bakalan nggak selamat pulang dari kampus.” Febri berkata pasti. Di dalam pikirannya ada beribu bahkan berjuta keusilan.

”Kayanya kamu punya usul nih Feb. Apaan?” Tanya Audry semangat. Maya langsung merapatkan diri pada Febri.

”Udahlah, kali ini kita biarkan saja mereka bersenang-senang…”

Ucapan Via mengejutkan ketiga sahabatnya. Biasanya Via-lah orang yang paling semangat bila mengusili Mira Cs. Tapi kali ini Via tampak tidak bersemangat dan wajahnya selalu murung setelah pertengkaran terjadi.

”Kamu kenapa sih Vi?” Tanya Audry, Maya dan Febri berbarengan.

Via tertawa. ”Kalian kompak banget!”

Audry, Maya dan Febri tersenyum sambil gauk-garuk kepala.

”Eh, aku mau menepati janji nih!”

Audry, Maya dan Febri merapatkan diri dan dengan khidmat mendengarkan cerita Via akan kejadian tadi malam.

”Viaaaaa…” Audry memeluk Via erat. “Kamu keren banget! Thanks banget…”

Via terpelongok. “Kamu nggak marah Dry?”

“Ya ampun Vi! Untuk apa sih aku marah hanya gara-gara si Aldi brengsek itu. Malahan aku berterima kasih ke kamu karena udah memberi dia pelajaran…”

“Iya juga ya. Kalo kamu sampai marah ke aku, tak jitak kamu selama sebulan.” Ancam Via.

”Ih… takuuuuut!”

Via, Audry, Maya dan Febri tertawa. Mereka bahagia. Mereka merasa puas. Namun di dalam hati siapa sangka kalau Via menangis dan menjerit mengingat kejadian di parkiran Cafe yang tak akan pernah dia ceritakan kepada siapapun. Biarlah rahasia itu dia dan Tuhan yang tau…

~♥~

Di suatu malam yang indah…

“Kamu kenapa sih koq ngeliatin aku seperti itu? Ada apa di wajahku?”.

”Kamu cantik!”

”Ember!”

”Ember?” Kening Ferio berkerut. ”Apa hubungannya kecantikan dengan ember?” Tanyanya polos.

Via tertawa. ”Aduh Fe, maksudku itu emang…”

Sebenarnya Ferio tidak mengerti, tapi ia pura-pura tertawa. “Ada-ada saja…”

“Fe, pacar kamu mana? Kenalin ke aku dong!”

Ferio menatap Via yang langsung salah tingkah. ”Kamu.”

”Koq aku?”

”Vi, dari pertama kali kita bertemu dulu… aku sudah menyukaimu. Kamu gadis kecilku yang baik, cantik dan pemberani…”

”Eits, apa tuh maksud gadis kecil? Enak aja! Aku udah dewasa tau, udah 19 taon.”

Ferio mengacak rambut Via. ”Ceritanya khan zaman dahulu, bukan sekarang…”

Via cengengesan. ”Iya ya…” Iapun tertawa.

”Vi, kamu ingat nggak waktu kita main Raja dan Ratu dulu?”

Via mengangguk.

”Aku Raja dan kamu Ratunya. Andai semua jadi kenyataan ya Vi…”

Tanpa sadar Via mengangguk.

Ferio tersenyum. Ia menggenggam jemari Via. “Kamu mau jadi istriku Vi?”

Via-pun bengong!

~♥~

            Via memandang nanar selembar photo di tangannya. Itu adalah photonya bersama Ferio bertahun-tahun yang lalu, saat itu mereka masih duduk di kelas IV SD. Melihat wajah polos Ferio yang berdiri malu-malu di sampingnya, Via tersenyum. Tapi seperti yang pernah Ferio katakan, itu zaman dahulu dan zaman sekarang keadaan berbeda. Dulu Ferio selalu melindungi Via, sekarang Ferio malah menyakitinya.

“Kamu ingat nggak Fe saat kamu memintaku menjadi istrimu? Saat itu aku merasa jadi cewek yang paling bego sedunia karena aku nggak mampu berkata apapun. Tapi ternyata kamu hanya mempermainkanku Fe! Harusnya kita nggak pernah bertemu…” Via menyimpan photonya bersama Ferio di bagian terbawah laci mejanya. “Untuk pertama kalinya aku bersungguh-sungguh membencimu Fe.”

~♥~

(TO BE CONTINUED…)

Baca juga: Three Days for Hurt (Part 2)

2 thoughts on “3 Days for Hurt (Part 1)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s