Ens-Dhita (Part 1)


“Selamat pagi semua… nama saya Endhita. Kalian bisa memanggil saya Dhita. Senang bisa bergabung dengan kalian…”

Seorang pemuda mengacungkan tangan tanpa diminta. Wajahnya tampan dengan senyuman mengejek. “Kalo dipanggil endhut boleh gak? Sangat cocok dengan postur tubuh Lo…”

Kontras semua murid di kelas itu tertawa mengejek, membuat wajah Endhita memerah malu bahkan hampir menangis.

“Kelana! Apa-apaan kamu?!! Tidak sopan sama teman barumu.” Kata Bu Sofie tegas. “Minta maaf pada Dhita!”

Kelana tersenyum angkuh, masih dengan rona ejekan dia meminta maaf. “Maafin gue ya Endhut… ops, maksudnya Endhita yang gendut…”

Tawa pun kembali membahana di dalam kelas.

“Cukup!” Bu Sofie menggebrak meja. “Kalian sudah keterlaluan! Semua ibu hukum berdiri di lapangan sampai jam istirahat usai. Dan kamu Kelana, bersihkan WC di sebelah perpustakaan. Paham semuanya?!!”

“Tapi Bu, kami…”

Bu Sofie melotot pada Kinar yang angkat suara. “Ini sekolah, bukan pasar ikan. Jadi tidak ada istilah tawar menawar.” Bu Sofie membuka pintu lebar-lebar, “Silakan mengerjakan tugas yang saya berikan…”

Murid-murid kelas II IPA 3 pun tak dapat berbuat apa-apa selain menuruti perintah Bu Sofie yang galak.

“Gara-gara Kelana nih…”

“Dasar anak baru bikin sial!”

“Masih pagi udah dihukum.”

“Asyikkkk… gak perlu belajar di kelas.”

Bu Sofie mengabaikan protes dan celetukan para murid. Ia mendekati Dhita yang menunduk di sudut ruangan. “Jangan bersedih lagi, teman-temanmu sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.”

“Terima kasih Bu…”

Bu Sofie tersenyum. “Nah, sekarang kamu duduk di bangku paling depan. Kita bahas materi hari ini…”

Dhita menghela nafas. Hari yang buruk dan aneh.

∞∞∞

“Bagaimana hari pertama di sekolah baru?” Tanya Bu Nadya, Mama Dhita.

Maunya sih menjawab begini, “Sangat buruk! Dhita mau pindah saja!” Namun bibir Dhita tak kuasa untuk berkata, “Baik ma. Teman-temanku asyik banget.” Kata Dhita bohong, tak apa lah untuk kebaikan. Soalnya kalau Dhita jujur yang ada mama malah histeris dan protes ke pihak sekolah. Sudah cukup pengalaman hari ini sebagai pelajaran.

Mama mengusap ubun-ubun Dhita. “Mama lega kamu tampak betah di sini. Makan yang banyak ya, mama masak makanan kesukaanmu…”

Melihat berbagai jenis masakan mama, semua sedih dan kesal Dhita langsung lenyap. Makan enak… Tidak peduli apa kata dunia tentang berat badannya!

∞∞∞

“Eh lo anak baru…” Kelana berdiri di depan pintu kelas sambil berkacak pinggang dan melotot, membuat Dhita ketakutan. Apalagi ada tiga sahabat Kelana berdiri sangar di belakang Dhita.

“Ada apa?” Tanya Dhita terbata. Jantungnya berdetak 2x lebih kencang dari biasa.

Kelana mendekati Dhita dan menarik kerah gadis berbadan ‘subur’ itu. “Jangan tunjukkan wajah jelek lo di depan gue!”

“Maksud kamu apa? Kita satu kelas, jadi mana mungkin aku…”

“Diam!” Kelana mendorong Dhita, hampir saja Dhita terjatuh kalau tidak ada sepasang tangan kekar yang menahannya.

“Apa-apaan ini?!!” Pemilik tangan itu membentak Kelana CS. “Lo gak papa?” Tanya-nya lembut ke Dhita.

Dhita menggeleng. Dia bersyukur ada yang menolongnya, kalau tidak pasti dia tersungkur di lantai.

Kelana mendengus. “Bukan urusan lo!” Katanya kasar. Dia dan geng-nya melewati orang itu, bahu mereka sempat bertabrakan keras.

“Makasih ya…” Ucap Dhita setelah kepergian Kelana CS.

Orang itu tersenyum simpul. “Anak baru ya? Lain kali jangan mau jadi mainan mereka. Kalau lo diem saja, mereka makin ngelunjak.”

Dhita mengangguk.

“Oh ya, kalau ada apa-apa lo bisa ngadu ke gue. Datang saja ke kelas III IPA 1, cari yang namanya Leo. Oke?”

Dhita mengangguk. “Hm, Leo itu siapa? Preman seperti Kelana CS juga?” Tanya Dhita polos.

Orang itu mengulurkan tangannya.

Dhita melongo. “Kenapa?”

“Kenalin, gue Leo…” Orang itu menarik tangan Dhita dan menjabatnya. “Kalau ada apa-apa bilang sama gue. Oke?”

“Oh iya…” Kata Dhita. Dia masih melongo, bahkan setelah Leo pergi. Cepat-cepat Dhita meminum air yang selalu dibawa, sulit sekali baginya untuk bernafas. Leo membuatnya gugup sekaligus terpesona.

∞∞∞

“Hey anak baru!” Kelana menggebrak meja Dhita.

Dhita terkejut, langsung saja jantungnya deg-degan. “Ada apa?” Tanya-nya ketakutan. Kelas sudah kosong, tinggal Dhita dan Kelana.

“Kalau gue ngerjain lo, apa si Leo pahlawan kesiangan lo itu bakal datang?”

Dhita menunduk saking takutnya. “Aku gak tau…”

Kelana tertawa, matanya melotot. Membuat Dhita tambah takut. “Kenapa nunduk? Takut? Bukannya selama ini lo sok jagoan ngelawan gue?”

“Aku gak pernah melawan kamu, aku juga gak punya masalah denganmu.”

Kelana menggebrak meja lagi. “Oh ya? Terus selama ini apa? Baru sebulan di sini lo udah buat gue bolak balik masuk kantor BP. Mentang-mentang lo dekat dengan Leo si ketua OSIS, makanya lo songong gini kan?!!” Kelana membentak.

Dhita terperanjat. “Gak… Aku gak ada maksud begitu. Sumpah, aku gak mau punya urusan denganmu. Please Kelana, jangan apa-apain aku. Aku janji gak akan dekat-dekat kamu lagi…” Dhita mengisak.

Kelana mendekatkan wajahnya ke wajah Dhita. “Tapi gue masih mau berurusan dengan lo…” Katanya pelan.

Dhita menatap Kelana. “Please, aku cuma mau hidup normal seperti yang lain…” Pinta Dhita.

Kelana mencibir. Dia kembali mendekatkan wajahnya, lalu membisikkan beberapa kata, “Nanti malam gue jemput lo ya…” Katanya abstrak.

Dhita melotot, Kelana sudah pergi sambil bersiul. “Apa maksudnya? Jemput apa? Leo juga bilang mau menjemputku nanti malam. Ada apa sih ini?” Dhita menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dhita pulang dengan tanda tanya.

∞∞∞

“Ke mana lo tadi malam?!!”

Dhita menatap Kelana yang berdiri di hadapannya. “Kenapa? Kamu gak sungguhan menjemputku kan?” Tanya Dhita. Bumi terbelah dua kalau Kelana benaran datang ke rumahnya.

“Gue nungguin lo selama dua jam di depan rumah.”

“Apa?” Mata dhita terbelalak. “Gak mungkin…”

“Ke mana lo tadi malam? Gak dengar kata gue kemarin?”

“Gue ada acara keluarga.” Jawab Dhita sekenanya. Mana dia tau Kelana sungguhan menjempuntnya entah untuk pergi ke mana. Dhita lebih memilih pergi bersama Leo. Selain Leo lebih dulu mengajaknya, Leo juga 1000 x lebih baik dari Kelana.

Kelana mengambil botol minuman Dhita, menuangkan airnya di atas buku PR Biologi yang sedang dhita kerjakan. “Ops sorry… Gue gak sengaja. Makanya lain kali jangan pulang kemalaman, PR-mu jadi gak selesai…”

Dhita terduduk lemas setelah Kelana pergi. Buku PR-nya basah dan tak ada waktu lagi untuk menggantinya. Dhita menutup mata, Bu Sofia tidak akan melepaskannya hari ini. Alhasil, empat jam pelajaran Biologi dihabiskan untuk ‘upacara’ di lapangan sekolah, bersama Kelana pula!

∞∞∞

Lagi-lagi Kelana mengganggu Dhita. Entah apa lagi yang Dhita perbuat sehingga membuat Kelana kesal. Beberapa teman sekelas Dhita ada yang kasihan dan membelanya. Tapi lebih banyak yang malah memojokkannya, mungkin karena kesan pertama saat dia masuk kelas tidak baik. Herannya bila ada yang mengganggu Dhita, Kelana pasti marah. Katanya hanya Kelana yang boleh mengganggu dan mengerjai Dhita.

Dhita heran dengan Kelana. Sepertinya cowok bandel plus ugal-ugalan itu memiliki kepribadian ganda. Kadang dia baik, tak lama kemudian berubah menjadi setan jahat. Kelana juga suka membuat Dhita bingung dengan sikap dan perkataanya. Setiap hari Kelana mengganggu Dhita sekaligus membelanya bila teman-teman mengganggu. Kelana punya panggilan untuk Dhita, Endhut. Akhirnya semua orang memanggil Dhita dengan sebutan Endhut, kecuali Leo.

Ngomong-ngomong tentang Leo… Dhita selalu tersipu saat memikirkan cowok satu itu. Ganteng, pintar, baik, bijaksana, tajir, ketua OSIS lagi, benar-benar idaman setiap gadis. Dhita sempat heran dengan Leo yang senantiasa membanjirinya curahan kebaikan, pembelaan dan kasih sayang. Di jaman modern seperti ini masih ada cowok seperti Leo yang mau berteman dengan Dhita, padahal Dhita jelek, gendut, pokoknya malu-maluin deh kalau diajak jalan. Akan tetapi Leo tidak pernah risih bila bepergian dengan Dhita, Leo malah selalu menggandeng tangan Dhita tak peduli apa pendapat orang. Makanya banyak orang yang menjuluki mereka dengan sebutan Handsome and the beast. Dhita sungguh tersinggung dan tak ingin berteman dengan Leo lagi, Leo selalu menyemangati Dhita dengan kata-kata bijaknya.

Setiap mengingat Leo, Dhita selalu tersenyum. Setiap bersama Leo, Dhita akan tertawa lepas. Berbeda dengan Kelana yang selalu menjahili dan membuatnya bersedih. Namun entah mengapa Dhita lebih sering memikirkan Kelana dari pada Leo. Meski Dhita berusaha menampik, hati kecilnya merasa lebih nyaman bersama Kelana. Entah mengapa…

∞∞∞

Selama enam bulan di sekolah baru hanya satu orang yang mau berteman dengan Dhita, sedangkan yang lainnya berbicara saja ogah! Mungkin mereka juga takut dengan Kelana CS.

“Kenapa muka lo? Kayak pakaian belum di-setrika aja!” Tanya Sitta, satu-satunya murid yang mau berteman dengan Dhita.

Dhita menghela nafas sambil meletakkan bokongnya di bangku sebelah sitta. “Biasa lah, kelana.”

“Apa lagi kerjaannya?”

“Dia menukar motorku dengan sepeda.” Kata dhita lemah. Air matanya hampir tumpah.

“Apa??? Yakin perbuatan kelana?”

Dhita menggeleng. “Tapi siapa lagi kalau bukan dia!”

Sitta mengusap punggung dhita yang malang. “Sabar… Kita cari pelan-pelan. Kalau kelana pelakunya, motor lo pasti aman.”

“Iya, tapi apa yang harus aku katakan ke mama? Aku bisa gila lama-lama begini! Bayangkan saja motor belasan juta diganti sepeda ratusan ribu. Aku gak tahan lagi…” Dhita mengisak.

Sitta tak bisa berbuat apa-apa kecuali memeluk dhita.

∞∞∞

“Lo agak kurusan selama naik sepeda.” Kelana tersenyum nakal.

Dhita hanya melotot, lalu beranjak meninggalkan Kelana.

“Eh gak sopan banget! Diajak ngomong malah ngeloyor pergi.” Kelana menghadang Dhita.

“Aku gak mau ngomong sampe kamu balikin motorku!”

“Harusnya lo berterima kasih ke gue, berkat gue berat badan lo turun. Gak usah mikirin motor deh, motor lo aman sm gue… Ops…”

“Oh jadi benar dugaanku, kamu biang keladinya!” Dhita memukul lengan Kelana. “Balikin motorku!”

“Ogah!”

“Kelana please… Aku gak mungkin bo’ongin mama terus menerus…”

Kelana tertawa. “Bukannya lo emang suka bo’ong sama nyokap?” Sindirnya.

Dhita menelan ludah. Memang benar dhita sering membohongi mamanya tentang Leo. Mamanya tidak menyukai pemuda itu tanpa alasan yang jelas.

“Kok diem? Tebakan gue akurat ya?”

“Bukan urusanmu!” Dhita meninggalkan Kelana.

∞∞∞

(Bersambung…)

Baca juga: END-DHITA (Part 2)

10 thoughts on “Ens-Dhita (Part 1)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s