Deadline


“Si Ratih anaknya Tante Lena mau menikah bulan depan.” Kata ibu.

“Terus?”

“Umurnya baru 20 tahun. Lalu Chika anak belakang rumah juga sudah bertunangan, dia akan menikah dua atau tiga bulan lagi.”

“Terus?”

Ibu melotot. “Terus kamu kapan?”

Aku mendengus. Ku letakkan piring yang sedang ku cuci, lalu menatap ibu. “Ini sudah kesekian kalinya ibu bertanya. Lebih baik aku menjawab 1000 soal matematika dari pada pertanyaan ibu.”

Ibu hanya menatapku, lalu meninggalkanku dengan wajah ditekuk.

Aku menghela nafas. “Maafkan aku bu. Tak ada sedikit pun niat untuk membuatmu sedih, hanya saja aku belum mempunyai jawaban atas pertanyaan ibu.” Ku lanjutkan kegiatanku yang tertunda.

***

Hari ini aku benar-benar malas untuk beraktifitas bila mengingat pertemuan keluarga nanti sore di rumah kakak ibu. Pasti aku akan menjadi bahan pembicaraan plus olok-olokan seluruh keluarga. Membayangkannya saja aku malas, apalagi jika aku berada di sana. Andai aku punya alasan untuk melawatkan sore menyebalkan itu. Tanpa sadar aku memukul kepalaku,sakit!

Kenapa sih para orang tua terlalu sibuk dengan yang namanya pernikahan? Memangnya menikah seperti membeli baju, bila tidak cocok bisa ditukar di kemudian hari. Memang sih menikah itu sunnah Rasul, tapi tak harus terburu-buru juga khan? Apalagi aku masih muda, baru 22 tahun. Aku masih punya waktu beberapa tahun untuk menemukan ‘mr right’ yang nantinya akan menjadi teman seumur hidupku. Jadi, kenapa harus repot sih???

“Del, bulan depan si Lala merit. Kita datang bareng ya! Btw, kamu kapan?” Begitu membaca sms dari sahabatku Emely, langsung ku campakkan ponsel ke tempat tidur. Lagi-lagi pertanyaan itu: “kapan merit?” Huh menyebalkan!

***

“Adel… Ke sini sayang…” Ibu memanggilku. Beliau sedang berbincang dengan tanteku.

“Iya bu, ada apa?”

“Duduklah. Ada yang ingin ibu bicarakan.”

Aku bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini, gak akan jauh dari yang namanya PERNIKAHAN.

“Del… buka fesbuk deh.” Perintah tante.

Aku mengernyitkan dahi. “Untuk apa? Aku gak punya fesbuk.”

“Udah deh, buka saja. Mana mungkin kamu gak punya fesbuk. Ayolah buka…” Pinta tante.

“Kenapa sih? Penting banget ya?”

Tante dan ibu mengangguk. Kompak banget!

“Ada yang mau kenalan denganmu, anak teman tante. Nanti kalau ada yang pengen kenalan namanya Rhino, jangan kamu jutekin ya!”

“Rhino? Pasti badannya gede seperti badak.” Aku tertawa. “Bahasa ilmiahnya badak khan Rhinosorus sp…”

Langsung saja ibu melotot. “Pokoknya kamu harus mau dengan Rhino. Anaknya tampan, sopan, sholeh, pintar… tamatan S2 Amerika.”

“Oh ya? Ibu sudah pernah bertemu dia?”

Ibu menggeleng.

“Jadi kok tau?” Tanyaku ketus.

Lagi-lagi ibu melotot. “Pokoknya kali ini harus berhasil. Ibu gak mau dengar alasan apa pun! Malu sama orang-orang yang membicarakan anak sulung ibu belum menikah, padahal sudah sepantasnya untuk menikah. Ibu bosan ditanyai hai itu terus, kalau gak dijawab pasti bakal jadi gunjingan. Ntar dibilang kamu gak laku lah, sok cantik lah, pemilih lah… Pokoknya bikin kuping panas. Ingat Del, kamu punya dua adik perempuan. Suatu hari mereka juga harus berkeluarga, jangan gara-gara kamu  jodoh mereka terhambat. Paham?”

Aku mengangguk tanpa semangat. Aku sudah sangat hapal nasihat ibu tersebut, isinya sama seperti kemarin-kemarin.

“Benar kata ibumu Del. Contohlah bang Gilang yang akan menikah akhir tahun ini. Dia yang laki-laki saja ingin cepat menikah, umurnya cuma setahun di atasmu. Bahkan si Tia calonnya baru 20 tahun. Eyang sangat ingin melihatmu menikah, 2 tahun lagi umurnya sudah 80. Usahakan tahun depan kamu sudah punya calon dan menikah secepatnya…” Tante juga ikut-ikutan menasehati.

Aku tak ingin berkomentar, kupingku panas mendengarnya. Cepat-cepat ku sudahi pembicaraan ‘tak penting’ itu. Tanpa tenaga ku tinggalkan ibu dan tante yang meneruskan perbincangan, apa lagi kalau bukan membahas tentangku.

“Gara bang Gilang ingin cepat-cepat menikah, aku yang kena imbasnya. Kenapa sih harus secepat itu? Kenapa gak menunggu 3 atau 4 tahun lagi? Dia masih punya banyak waktu untuk menentukan apakah si Tia pilihannya itu adalah pilihan yang benar. Ah… Ujung-ujungnya aku yang jadi sasaran bila membahas pernikahan mereka. Menyebalkan!”

***

Lagi-lagi aku harus di pusingkan oleh PERNIKAHAN. Di mana pun aku berpijak, pasti topik itu yang terdengar. Kalau bukan pernikahanku, ya pernikahan orang lain. Teman-temanku juga selalu menjadikan pernikahan sebagai hot topik. Entah mengapa beberapa tahun ini pernikahan usia muda sangat populer. Dari publik figure sampai rakyat jelata, bahkan laki-laki yang biasa menikah di atas usia 25 tahun pun sekarang ingin cepat-cepat menikah. Apa ini trend jaman sekarang ya? Pusing!!!

***

“Memangnya menikah itu gampang!” Ucapku di dalam hati tatkala seseorang membahas tentang pernikahan. Kepalaku langsung berputar-putar bila membicarakan satu kata itu, apalagi bila sang pembicara ngotot seperti bapak, ibu, eyang dan tante-tanteku. Hanya saja aku tak punya keberanian untuk menentang mereka, paling-paling aku hanya menjawab sedikit dan kalau ibu melotot tandanya aku harus diam.

“Resiko anak pertama ya begitu Del…”Kata kakak sepupuku, Hanna. “Ya kalau bisa sih secepatnya kamu menikah, paling tidak kenalan dulu lah sama seseorang. Kalau sudah kenal lama jadi tau sifat masing-masing, dan itu harus dimulai dari sekarang. Jangan seperti kakak, karena terlalu sibuk berkarir jadi telat menikah dan kamu ‘taulah’ seperti apa selanjutnya…”

Aku mengangguk mafhum. Nah seperti kasus kakakku itu yang aku bilang bahwa menikah itu tidak gampang. Menikah bukan hanya menyatukan dua manusia berbeda, tapi juga menyatukan dua keluarga, dua adat, dua kepribadian dan pastinya mempersatukan banyak ego mulai dari mertua, menantu, cucu menantu, keponakan menantu bahkan tetangga sekampung. Ya seperti Bhineka tunggal ika lah… Walau pun berbeda tetap satu jua, itulah pernikahan. Belum lagi masalah anak, pekerjaan dan lain sebagainya. Aku benar-benar belum siap untuk itu.

“Del, kok bengong sih?”

Aku gelagapan ketika dicolek kak hanna. “Sorry kak… Masih kepikiran soal menikah. Sejujurnya sih malas mikirnya.”

Kak hanna tersenyum. “Dulu kakak juga sepertimu, terus didesak dan dimintai tanggung jawab. Kakak sih cuek aja, baru sekarang kakak menyesal kenapa gak dari dulu sih kakak menikah. Sebelum terlambat, sebaiknya kamu cepat-cepat memikirkan pernikahan. Setiap orang tua pasti inginkan kebahagiaan anak-anaknya, apalagi menikahkan anak-anak adalah suatu kewajiban bagi mereka.”

Aku menghela nafas. “Gak tau ah! Aku mau ambil S2 dulu.” Ucapku asal. Lebih baik berkutat dengan pelajaran selama beberapa tahun dari pada duduk beberapa menit dalam perbincangan mengenai PERNIKAHAN.

***

Entah apa awal mula pembicaran kami, yang ku ingat hanya kata terakhir bapak, “Pokoknya umur 24 tahun, Adelia bukan tanggung jawab bapak lagi.”

Waduh!!! Bagaimana ini? Itu pertanda 2 tahun lagi aku pensiun dari rumahku sendiri. Kalau harus bekerja dan meninggalkan rumah sih gak masalah, toh aku sudah bekerja di sebuah kantor instansi pemerintah. Nah bagaimana kalau yang dimaksud ‘tanggung jawab’ oleh bapak adalah dikeluarkan dari kartu keluarga? Otomatis aku harus punya kartu keluarga sendiri, dan itu tandanya aku harus MENIKAH!

Omg… Apa yang harus ku perbuat? Kalau bapak bilang begitu, berarti deadline-ku sebentar lagi! Pusing lagi deh…

***

Satu persatu teman-teman seangkatanku melaju ke jenjang bernama pernikahan. Mereka tampak bahagia saat bersanding dengan pasangan mereka. Sejujurnya aku iri, apalagi bila ada teman yang membahas rencana pernikahannya. Mereka yang akan menikah sih enak sudah punya calon. Nah aku? Jangankan calon suami, calon pacar pun gak punya. Padahal deadline dari bapak tinggal setahun lagi, dan itu membuatku uring-uringan sampai berat badanku naik drastis.

“Kamu kapan menyusul Del? Jangan lupa undangannya lhoh…” Kata Miranda, temanku yang punya hajatan.

Aku hanya tersenyum sebab aku tak punya jawaban atas pertanyaan Miranda. Masih dengan senyum terpaksa, aku menjauh. Jangan sampai ada teman lain yang membuat mood-ku buruk karena pertanyaan yang sama.

“Guys… Aku duluan ya! Masih ada pekerjaan di kantor.” Secepatnya aku meninggalkan acara pernikahan Miranda sebelum ‘bom atom’ kesabaranku meledak.

***

Ya Allah… Apa yang harus ku lakukan? Deadline-ku sebentar lagi! Jangankan untuk menikah, membawa seorang ‘lelaki’ ke rumah pun aku tak bisa. Bagaimana ini?

Lalu, ketika ada seseorang yang ‘klik’ denganku, apa yang harus ku lakukan? Membawanya ke bahtera pernikahan secepat mungkin karena tenggat waktu dari keluargaku akan berakhir, lalu berpura-pura bahagia seraya memamerkan kemesraan di depan seluruh keluarga?

Ah… Apa pernikahan hanya untuk menenangkan hati keluarga dan meredam ocehan orang-orang? Apa pernikahan hanya alat untuk menjawab sebuah tanda tanya? Apakah pernikahan hanya untuk gengsi dan trend? Lalu bagaimana jika seandainya egoku dan egonya tak dapat disatukan? Bagaimana bila ibu atau saudara-saudaranya terus saja mencela, mengkritik bahkan mencari-cari kesalahanku? Apakah aku bisa bertahan sementara aku tak punya kekuatan untuk itu? Dan apa solusinya, berceraikah? Apakah perceraian benar-benar yang terbaik dari kedua pihak? Atau kata-kata ‘inilah yang terbaik’ hanyalah topeng kegetiran dari sesuatu yang tak tau apa jawabnya? Ya Allah… Aku pusing oleh pertanyaan yang kubuat sendiri!

Jujur saja, perempuan mana yang tak ingin dipersunting oleh lelaki yang dicintainya? Kemudian menikah, punya sepasang anak dan hidup sampai ajal menjemput. Aku salah satu dari perempuan itu! Aku ingin menikah, dikecup kening setiap suamiku pergi bekerja, dipanggil ‘bunda’ oleh anak-anakku. Tapi, apakah hanya itu tujuan untuk menikah?

Hidup hanya satu kali, dan aku hanya ingin menghabiskan seluruh hidupku dengan satu lelaki yang tepat yaitu suamiku. Semua orang tau menikah itu tak gampang, asal sabar dan saling mengerti pasti bisa dilalui bersama. Pertanyaanku, seperti apakah ‘tidak gampang’ itu? Apa seperti membeli kendaraan yang jika sudah bosan akan menggantinya dengan produk baru beberapa tahun kemudian. Bagi yang merasa mampu akan membeli kendaraan baru dan menyimpan kendaraan lama di gudang. Atau pernikahan itu seperti membeli sepotoh pakaian, jika tidak cocok akan menukarnya dengan ukuran atau model lain. Menikah, satu kata yang sangat simpel bukan? Tapi siapa sangka di dalamnya banyak hal rumit yang bila tak bisa dipecahkan akan berakhir dengan perpisahan.

“Bapak, ibu dan semua orang yang membahas tentang pernikahan… Sungguh diriku ingin secepatnya menikah, namun hati ini masih berat untuk melaluinya. Mengapa tidak bersabar beberapa tahun untuk memperoleh hasil puluhan tahun? Menikah hanya sekali, dan aku ingin itu berarti sampai mati.” Aku mengusap air mata yang tumpah begitu saja. Betapa sedihnya bila melihat ibu dan bapak yang hanya dapat menatap nanar di acara pernikahan kerabat kami. Ingin aku hapus beban mereka dengan menikah, tapi aku tak punya alasan untuk itu. “Bersabarlah…”

Ummat Muhammad mana yang tidak ingin menjalankan sunnahnya? Apalagi menikah adalah ibadah, barang siapa yang menikah maka sempurnalah imannya. Setiap hal yang dikerjakan sepasang suami dan istri adalah ibadah. Suami bekerja itu ibadah, istri memasak makanan untuk suami itu ibadah, istri menyiapkan pakaian suami itu ibadah. Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun jikalau pernikahan malah menjadi sebuah neraka, untuk apa terburu-buru?

Aku tau, menikah itu menghindari dari kemaksiatan dan dosa. Hanya saja aku khuatir bukan pahala yang ku dapatkan, melainkan dosa tatkala tanpa sengaja aku menyinggung perasaan suamiku dan tak kuasa untuk menahan amarah pada suamiku, atau bila hati ini berburuk sangka pada keluarga suamiku. Apalagi bila mertuaku nyinyir seperti dalam sinetron, mana tahannnnn…

Jadi, apakah aku bisa menikah dengan alasan yang telah ku ajukan di atas? Aku sih mengerti, tapi orang tua dan keluarga besarku mana mau mengerti. Oh deadline… Deadline… You make me dead!

Mengapa menikah harus punya deadline sih? Rasanya aku seperti seorang wartawan sebuah surat kabar yang harus segera menyetor sebuah berita, suka atau tidak tetap harus dilakukan. Dalam benaknya hanya ada 2 kata, dikejar deadline. Deadline oh deadline… Aku pun pusing ratusan keliling!

***

“Wahai para pemuda, barang siapa yang telah mampu hendaknya menikah. Sebab menikah akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Kalau belum mampu harap berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya (HR: Bukhari dan Muslim)

Nb: in my case, aku belum mampu baik lahir mau pun bathin. Hahaha

Banda Atjeh, Ramadhan ke- 5 – 23 :44 wib.

7 thoughts on “Deadline

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s