3 Days for Hurt (Part 2)


Cerita Sebelumnya:

Tanpa sengaja Via dan Audry sahabatnya bercerita tentang Ferio yang ternyata teman masa kecil Via. Akhirnya Via dan Fe bertemu dan mengenang masa-masa kecil mereka. Sikap lucu, usil dan pemalu Fe membuat mereka mudah akrab. Via pun suka mengajak Fe bertemu teman-teman lamanya, walaupun Fe masih malu-malu.

Audry tiba-tiba menangis histeris. Rupanya dia putus dengan pacarnya yang ketahuan selingkuh. Via berusaha menenangkan sahabatnya itu dengan membalas perbuatan mantan kekasih Audry. Via sang ratu akting pun dengan mudah membuat mantan pacar Audry bertengkar dengan pacar barunya.

Fe yang dari kecil sudah menyukai Via  mulai menunjukkan perasaannya pada gadis itu. Saat Via mulai membuka hati, datanglah seorang gadis bernama Riana yang membuat Via salah paham. Hubungan Via dan Fe memanas, Via tak dapat memaafkan kesalahan Fe dengan mudah karena hatinya begitu terluka dengan kebohongan Fe…

***

“Kak, kenapa bang Ferio nggak pernah main ke rumah lagi?” Tanya Oskar.

Via angkat bahu.

“Jadi kalian putus?” Kali ini Olin angkat suara. ”Awwww!!!”

Sebuah jitakan mendarat di kepalanya. ”Sotoy!” Via meninggalkan Olin dan Oskar.

”Makanya, jangan sok tau…” Cibir Ocha dari meja makan. ”Minta maaf tuh sama kak Via…”

”Iya…iya…” Olin segera beranjak menuju kamar Via. ”Kak Via…”

Via tersenyum menyambut kedatangan adik bungsunya. ”Kakak nggak marah koq.” Ucapnya menenangkan hati Olin. ”Oia, kakak nggak ada hubungan apa-apa dengan bang Ferio. Jadi Olin jangan berpikir macam-macam ya! Kakak harap kamu bisa menjelaskannya pada Kak Ocha dan Oskar. Bisa khan?”

Olin mengangguk. ”Makasi ya kak. Eh, ada hubungan pun nggak apa-apa koq!” Ucapnya usil.

”Oliiiin….”

Namun Olin berlari lebih cepat daripada cubitan ganas Via.

~♥~

Knp g angkat tlp Vi? Aku  mau m’jlaskn smua.

Tlg angkat tlp’a dong Vi!

Via membanting ponselnya setelah membaca sms dari Ferio. Kemudian ia me-reject panggilan Ferio untuk kesekian kalinya.

Q  skrang ada dpn rmh Qm!

”Ngapain sich dia?!!” Via langsung mematikan ponselnya dan bersiap-siap untuk tidur. Baru sejenak Via memejamkan mata, terdengar ketukan dari pintu kamarya.

”Kak Via! Ada bang Ferio tuh di ruang tamu.” Ucap Oskar.

Via membanting barang-barang yang ada di dekatnya. ”Sial!!!”

~♥~

            ”Ngapain kamu ke sini?!!” Tanya Via tajam.

”Kita harus bicara Vi.”

”Kita?”

”Iya, kita.” Ferio menegaskan.

”Lo aja kalle, gue nggak!”

”Vi…”

”Ikut aku!” Via menarik tangan Ferio dan membawanya ke lapangan dekat rumah. ”Silakan bicara sepuas hatimu!” Via menjauh dari Ferio.

”Vi, kejadian kemarin itu tidak benar. Apa yang dikatakan oleh Riana hanya omong kosong. Memang aku dan Riana pernah pacaran, bahkan kami baru saja putus. Tapi aku benar-benar nggak berniat kembali padanya. Rasa yang aku miliki ke kamu itu tulus Vi. Aku nggak pernah berniat mempermainkan kamu…”

Via menatap Ferio sinis.

”Vi, kenapa kamu diam saja? Bicaralah Vi…” Ferio memegang pundak Via. “Kamu mau pukul aku? Silakan… atau kamu mau menamparku? Boleh Vi… boleh…”

Plaaaakkk!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Ferio.

”Puas?” Tanya via.

”Makasih Vi.” Ferio mengusap pipinya. ”Vi, aku sayang kamu…”

”Lantas?”

”Aku hanya ingin kamu mempercayaiku. Apapun yang dikatakan orang lain, kamu jangan percaya. Karena yang menjalani semua ini aku dan kamu, bukan mereka.”

”Termasuk Riana?”

”Apalagi Riana. Dia hanya tidak suka bila melihat aku bahagia dengan orang lain. Dia itu cewek egois yang selalu ingin dipuja. Selama ini jika kami bertengkar, aku yang selalu mengalah. Makanya dia ingin aku meminta balik lagi dengannya. Tapi aku sudah nggak sanggup lagi dengan sifatnya itu dan aku memilih kamu Vi. Cuma kamu yang ada di hatiku. Aku sayang kamu Vi!”

”Fe, kamu sudah terlalu sering membohongiku. Asal kamu tau aja ya Fe, aku tau kalau yang menelepon kamu malam itu adalah Riana. Bagaimana aku bisa mempercayaimu kalau kamu membohongiku untuk hal sepele seperti itu?”

”Vi…”

”Cinta itu butuh kepercayaan yang dilandasi oleh kejujuran. Tapi kamu nggak punya itu Fe, kamu nggak jujur…”

”Aku minta maaf untuk hal itu. Aku hanya tidak ingin merusak acara makan malam kita. Aku tidak mau kita diganggu oleh Riana ataupun orang-orang suruhannya. Lagipula telepon itu pastinya bukan sesuatu yang penting. Vi, kenapa sih kamu nggak mau mempercayaiku?”

”Aku udah berusaha mempercayaimu, tapi kamu selalu membohongiku. Kamu mengecewakan aku Fe! Selalu…”

Ferio menggenggam jemari Via dan meletakkan di dadanya. “Rasakan debaran di jantung dan hatiku Vi. Cuma ada kamu di situ…”

Via melepaskan tangannya dengan paksa. ”Aku nggak peduli!”

”Vi, aku melakukan semua ini demi kamu. Karena aku sayang kamu!”

”Aku nggak peduli!” Via berlari meninggalkan Ferio.

”Via!!! Aku sayang dan cinta kamu!”

Via tak menghiraukan Ferio dan kata-katanya. Tujuan Via hanya satu, tempat tidurnya yang empuk.

~♥~

            Via terbangun saat mendengar deringan keras dari ponselnya. ’Audry calling’

”Audry? Kenapa?” Setelah sekian detik akhirnya Via meutuskan untuk menerima panggilan tersebut. ”Gila ka…”

”Eh kerbo! Lama banget ngangkat teleponnya! Jam segini baru bangun. Malu non sama ayam jago di rumahku.”

“Apa? Pagi?”

“Jadi kamu pikir jam berapa? Jam 12 malam?”

“Ya ampuuuun… aku ketinggalan shalat subuh dong! Ya Allah… ampuni Via ya…” Via menarik rambutnya.

“Alah… biasanya kamu emang nggak pernah shalat subuh…” Ejek Audry.

“Fitnah!” Via manyun. “Btw, ngapain pagi-pagi telepon?” Via kembali ke topik utama.

”Ferio…”

Via menghela nafas berat. ”Kenapa dia?”

”Fe mau pulang ke Riau.”

”Lalu?”

”Lalu lintas kalle!” Audry bercanda. ”Fe mau pulang naik motor!”

”Apa? Gila tuh anak!”

”Makanya aku telepon kamu Vi. Kakek dan nenek udah melarang, tapi dia tetap ngotot. Aku nggak tau dia punya masalah apa tapi yang pastinya sangat berat. Om dan Tante udah pusing banget tuh sama tingkah dia. Cuma kamu Vi yang bisa melarangnya. Dia pasti mendengarkan kata-kata kamu.”

”Yakin banget?”

”Ya iyalah… buktinya dia berhenti merokok setelah kamu larang. Padahal semua orang udah berbuih mulutnya nasehatin dia. Eh Vi, kamu tau nggak masalah dia apa? Kayaknya berat banget deh. Soalnya dia mulai merokok lagi…”

”Aku nggak tau masalahnya apa. Tapi ntar ku coba untuk bicara dengannya.”

Audry menjerit girang. ”Yes! Makasih ya Vi. Kamu memang calon adik iparku yang paling baik deh.”

”Jangan norak!” Via mengakhiri pembicaraan dengan kesal.

~♥~

            ”Aku udah telepon dia. Mungkin satu atau dua jam lagi dia pasti akan menghubungimu. Take care ya Fe! Jangan macam-macam lagi sama sahabatku.”

”Thanks alot ya Dry. Lusa aku kirim ponsel yang kamu idam-idamkan itu…”

”Yupz! Aku lakukan ini bukan untuk ponsel, tapi untuk sahabatku Via. Awas kalo kamu sakiti dia!”

”Don’t worry…”

~♥~

Q  tggu Qm d humz jam 12 tepat!

Message Send

Via mengirimkan sms kepada Ferio. Di dalam hati masih berkecamuk amarah dan kekhuatiran, semua bercampur aduk seperti gado-gado yang sialnya sedang dimakan oleh Via. Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan angka 11. Satu jam lagi Via akan bertemu dengan Ferio. Pemuda yang hampir dua bulan ini dekat dengannya. Pemuda yang mengobati lukanya ketika dikhianati oleh Edo, mantan pacarnya. Pemuda yang menggeser kedudukan Yudha, cinta terpendam Via. Pemuda yang saat ini dibenci sekaligus dicintai oleh Via. Pemuda yang membuat Via resah dan kecewa dalam beberapa hari ini. Pemuda yang bernama Ferio.

”Via.”

Via tersadar dari lamunannya ketika tangan hangat sang Bunda menyentuh pundaknya. ”Bunda… mengejutkan Via aja deh…”

”Bunda lihat beberapa hari ini Via selalu murung. Ada apa sayang?” Tanya Bunda lembut.

”Biasalah ’nda, masalah remaja…”

”Tapi apa masalahnya?”

Via tersenyum. ”Bukan masalah serius ’nda. Sebentar lagi pasti kelar. Bunda tenang aja, Via bisa mengatasinya…”

Bunda membelai rambut indah Via. ”Yang penting apapun masalah Via, jangan sampai meresahkan apalagi merugikan orang lain…”

”Karena kita hidup bukan untuk diri sendiri, banyak orang yang sayang dan mengkhuatirkan kita…” Via mengutip kata-kata yang selalu diucapkan oleh Bunda dan Ayah. ”Bunda tenang aja. Insya Allah semua akan baik-baik saja.”

”Syukurlah…” Bunda tersenyum hangat.

~♥~

 

            Via menunggu Ferio dengan gelisah. Tak henti-hentinya ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tagannya. Jarum jam sudah menunjukkan angka 12.15, tapi Ferio tak kunjung tiba.

“Hai! Sorry aku telat. Tadi ada kuliah mendadak.” Tanpa merasa bersalah Ferio duduk di atas sofa di hadapan Via. Ia tersenyum seraya menatap Via lembut. “Ada apa?”

Via merengut. “Kamu nggak merasa bersalah sama sekali ya?” Ucapnya ketus.

“Vi, aku khan udah berkali-kali minta maaf. Aku pikir kamu udah maafin aku…”

“Tapi aku khan…”

Ferio menyentuh tangan Via. “Maafin aku…” Ia memberikan sekuntum mawar merah.

Wajah Via memerah. “Aku butuh penjelasan, bukan bunga.” Ucapnya tegas.

Ferio meletakkan bunganya di atas meja. “Ok, aku ceritain semua secara detail. Tapi nggak di sini.”

“So?”

“Tempat biasa. Aku lapar…”

“Oke. Aku ambil tas dulu.”

Ferio menatap punggung Via dengan lega.

~♥~

            “Vi, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi kamu jangan marah lagi. Vi, sebelumnya aku minta maaf karena nggak pernah jujur tentang Riana sama kamu. Vi, Riana itu…”

Via menyentuh tangan Ferio. ”Aku yang harusnya minta maaf karena udah marah-marah nggak jelas sama kamu.”

Ferio terkejut mendengar perkataan Via. ”Jadi kamu…”

”Dengarkan aku dulu Fe.” Via menatap Ferio lembut. ”Aku udah tau semuanya dari Audry dan aku udah memaklumi semuanya.” Via menggenggam jemari Ferio. ”Kata Audry kamu mau pulang ke Riau naik motor. Hal apa yang bisa menghentikan kamu untuk melakukan kegilaan itu? Aku akan lakukan untuk kamu…” Ucapnya mantap.

”Kalau cinta yang mampu menghentikan sebuah perperangan, maka kamulah yang mampu menghentikan niatku itu.”

”Kalau begitu, kamu nggak jadi pulang ke Riau khan?”

”Tergantung…”

”Apa?”

”Kamu.”

”Lhoh koq aku???”

”Tergantung kamu mau jadi pacarku atau nggak.”

Via tertawa. Tanpa berpikir panjang ia langsung mengangguk. ”Kalau itu bisa menghentikan semua kegilaan kamu…”

Ferio merengut. ”Jadi bukan karena kamu mencintaiku?”

”Sedikit.”

Ferio mengacak rambut Via gemas. ”Thanks Via…”

Via tersenyum bahagia.

~♥~

            Via memasuki ruangan kelasnya dengan senyum merekah seindah kelopak mawar. Ia meletakkan tas dan duduk dengan anggun sambil memainkan ponselnya. Hari ini ia bahagia. Sungguh-sungguh bahagia…

”Hm…hm…” Audry mencolek bahu Via. ”Kayaknya ada yang lagi happy nih.”

Maya dan Febri langsung mendekati kedua sahabat mereka.

”Vi, udah jadian ya sama Ferio?” Tanya Febri pura-pura polos.

“Hm, bagi-bagi cerita dong!” Maya menambahkan.

“Yupz! Aku udah jadian sama Ferio kemarin siang.” Via nenatap ketiga sahabatnya yang tampak biasa-biasa saja. ”Kalian pasti udah dapat bocoran dari Audry?” Tanyanya curiga.

Audry, Maya dan Febri langsung menggeleng. “Belum koq…” Jawab mereka serempak.

“Jadi koq nggak terkejut?”

“Kami khan udah menduga kalo itu bakalan terjadi…” Jawab meraka lagi, serempak juga.

”Heran!”

”Kenapa?” Tanya Audry.

”Tumben kalian kompak!” Via memelototi ketiga sahabatnya.

Audry, Maya dan Febri tersenyum sok lugu. “Kami…”

“Udah ah! Mood aku lagi bagus, jangan dirusak.”

Audry, Maya dan Febri menjitaki kepala Via. “Makan-makannya mana???”

~♥~

“Koq ada yach orang bangga sama prestasi merebut gebetan orang?” Mira bertanya pada ketiga CS-nya, Gita. Ninin, Silvy dan Gita. Namun matanya menatap Via tajam.

”Iya tuh! Emang cantik sih, tapi hobinya koq yang begituan.” Sambung Gita.

”Di mana-mana hobi tuh renang, melukis, membaca…” Ninin menambahkan.

”Kalo ada temanku yang tingkahnya seperti itu, langsung aku usir dari keanggotaan. Takutnya nanti malah kebiasaan, pacar temannya yang direbut.” Silvy menambah volume suara. ”Malu-maluin banget!”

Via menunduk ketika mendengar perkataan Mira cs yang diyakini ditujukan padanya. Via semakin terpojokkan ketika beberapa orang di kelasnya ikut nimbrung dan mengeluarkan kata-kata tajam mereka.

”Aku nggak pernah merebut pacar orang!” Ucapnya membela di dalam hati. “Ferio udah putus sama Riana. Ferio hanya mencintaiku. Hanya aku!” Via menggigit bibirnya sampai berdarah.

“Vi! Kamu kenapa? Bibir kamu berdarah.” Febri memberikan sehelai tissue.

”Ada masalah apa Vi?” Tanya Maya khuatir.

”Nggak ada apa-apa koq.” Via berusaha menyembunyikan resahnya. “Tadi bibirku nggak sengaja tergigit. Gitu…”. Via tersenyum kecut.

Maya dan Febri menatap Via curiga. ”Terserah kamu, yang penting kamu harus ingat kalau kami selalu bersamamu apapun resikonya. Key?”

Via menepuk bahu Febri yang berusaha membuatnya nyaman. ”Thanks alot.”

”That’s friends are for…” Maya mengelus bahu Via.

“Hei! What’s happen guys? Apa aku ketinggalan?” Audry menyeruak ketenangan kelas yang tiba-tiba saja senyap.

“Nothing sweety. Don’t worry…” Febri tersenyum.

~♥~

 

            Via sedang membuka laptopnya ketika bunda memanggilnya untuk makan malam.

”Sayang, udahan dulu dong. Ayah dan adik-adikmu pada unjuk rasa tuh. Kelaparan.”

Via terkekeh. ”Ntar lagi ya nda. Tanggung banget. Ya…ya…ya…”

Bunda menatap sang buah hati dengan tatapan penuh arti. Ia menyertai setiap gerakan tangan Via yang dengan lincah membuka beberapa file. ”Via masih mengharapkannya?”

Tangan Via terhenti ketika mendengar pernyataan Bunda. ”Maksud Bunda?”

”Bunda harap Via mampu berpikir bijak. Via sudah punya Ferio, jadi jangan mengharapkan orang lain menghampiri Via dengan cintanya yang nggak pernah pasti. Ingat nak, Angin itu hanyalah bayangan. Sedangkan Ferio adalah kenyataan. Jangan membohongi hati kecil hanya karena Via belum sanggup untuk menerima kenyataan.”

Via terisak mendengar nasehat sang Bunda. ”Via paham nda. Via nggak mengharapkan Angin lagi koq. Via buka foto-foto ini karena Via ingin melihatnya untuk terakhir kali…” Dengan teguh Via men-delete satu file yang berisikan foto-foto masa lalunya bersama Angin.

Bunda menepuk bahu Via. ”Bunda yakin Via pasti bisa.” Bunda tersenyum. ”Bunda makan duluan yach. Jatah Via pasti Bunda simpan…”

”Makasih Bunda…” Via menutup pintu kamar, seperti ia menutup pintu hatinya agar tak ada ruang lagi untuk seorang Angin.

Via membuka laci lemarinya dan mengambil sebuah buku, sebuah diary…

”Dulu aku sangat ingin merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun setelah kudapati, ternyata jatuh cinta itu menyakitkan. Lebih menyakitkan dari ditusuk belati. Apalagi ketika cinta itu direnggut oleh seseorang bernama sahabat. Angin… apa kabar dirimu??? Semoga bahagia…” Via merobek satu-satunya foto terakhir Angin ”Good bye for bad memory…”

Via sudah benar-benar mengikhlaskan Angin. Kini tidak ada sakit hati lagi ketika menghadapi kenyataan bahwa orang yang dicintainya lebih bahagia bersama orang lain. Minggu depan Angin akan menikah dengan Natasya. Memang tak ada kata mantan sahabat, namun ketika seorang sahabat merusak dan merebut cinta sahabatnya maka tak ada lagi tempat yang pantas untuk sahabat itu selain tong sampah. Jika membuang sampah sembarangan adalah perbuatan tercela, maka membuang persahabatan demi cinta adalah lebih rendah dari itu. Maka buanglah sampah pada tempatnya!

Sekarang Via berani menghadapi kenyataan, Angin bukanlah untuknya. Bahkan Via berniat untuk menghadiri acara pernikahan Angin dan Natasya, bersama Ferio tentunya.

~♥~

 

          ”Udah lama nunggunya?”

”Belum.” Via menaiki motor Ferio. “Kemana kita?”

“Ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Nih helm-nya.”

”Makasih…” Via menyesal telah mengatakannya. Karena dua detik setelah itu, Ferio membawa motornya dengan kecepatan yang membuat jantung Via serasa copot.

”Sampai…”

Via langsung melayangkan serangan balas dendam dengan mencubiti Ferio. ”Rasain!” Ucapnya puas setelah menyaksikan erangan Ferio. ”Lagi?”

”Seram Banget dech! Kayak monster.”

”Apa? Coba ulangi…”

Ferio meringis. ”Ampun sayang! Ampuuuun!!!”

Via tertawa. ”Makanya, jangan ngerjai aku. Udah tau aku nggak pernah naik motor eh malah dipaksa kebut-kebutan. Huh!”

”Iya cinta, maaf…”

”Ya…ya…ya…”

”Cinta, ayo ikut aku.” Ferio menggandeng tangan Via mesra.

”Kemana?”

”Ada deh… ikutin aku aja.”

”Huh!”

Ferio mengacak rambut Via. ”Tambah manis kalo cemberut.” Godanya.

Via tersenyum. ”Ah Fe…” Ia memukul dada Ferio yang bidang.

Ferio langsung menangkap tangan sang kekasih dan menciumnya dengan amat sangat mesra. ”I love you Olivia…”

Via tesipu malu. ”Udah dech jangan romantis, untung nggak ada orang.” Via melihat keselilingnya. Yang ada hanya pepohonan. ”Kamu bawa aku kesini bukan untuk macam-macamin aku khan?” Tanyanya curiga.

Ferio menatap Via tajam dan mencurigakan. “Kenapa? Takut? Di sini memang banyak hewan buas yang akan memangsa kamu kapan dan di mana saja…”

“Fe!” Via pura-pura berani.

“Itu ada macan di…”

“Fe!” Via langsung melompat ke dalam pelukan Ferio.

”Ajebbbb!!!”

Wajah Via langsung memerah ketika tersadar dari ketakutannya. ”Mana macannya?” Tanyanya galak, menutupi kegugupan.

”Di TV.”

”Fe!”

”Khan tadi aku belum habis bicara, eh udah kamu peluk. Tapi asyik sih, sering-sering aja dech. Auw!!!”

”Rasain!” Via melancarkan cubitannya.

Tiba-tiba Ferio menggenggam jemari Via, menghintakan cubitannya. “Sayang, kamu senang nggak aku bawa ke sini?”

“Biasa aja tuch!” Jawab Via acuh, ia berusaha melepaskan genggaman Ferio.

“Honey, coba tatap mataku dan bilang kalo kamu sayang sama aku.”

“Males! Sebenarnya ngapain sich kamu bawa aku ke tempat sepi begini? Seram tau!” Protes Via tak dihiraukan oleh Ferio.

“Aku Cuma ingin kita berdua bermesraan dalam suasana seromantis mungkin. Hanya kita berdua Via. Bukan di mall, bukan pula di restaurant. Tapi di tempat ini, tempat sepi dan natural ini…”

Via berkacak pinggang. “Thanks alot Fe. Tapi aku benar-benar nggak tertarik sama kejutan kamu ini. Bukan begini caranya untuk mengungkapkan rasa sayang. Ini sama sekali nggak seromantis yang kamu bayangkan. Ini menakutkan!”

“Honey, dengarkan aku.” Ferio menyentuh pipi mulus Via. “Aku Cuma ingin berduaan sama kamu baby…”

”Huh!” Via menghempaskan tangan Ferio. ”Kamu membuat aku takut!”

”Honey, kenapa sih kamu jadi aneh?”

”Aneh? Apanya? Aku merasa baik-baik saja.”

”Waktu pertama-tama kita kenal kamu nggak seperti ini” Ferio mendengus. ”Kamu lebih manis dan romantis. Tapi sekarang sikap kamu benar-benar berubah. Aku kecewa!”

“Fe…”

“Tiga hari kita pacaran, tapi kamu nggak pernah bersikap seperti orang kasmaran. Aku jadi curiga, sebenarnya kamu cinta sama aku nggak sih?”

“Fe, aku…” Via membuang muka.

“Kenapa? Sulit banget ya bilang cinta?!!”

”Fe!”

”Kita pulang saja!” Ferio menarik tangan Via dengan paksa. Tak dihiraukannya suara protes Via.

”Kamu kenapa sih Fe?!!” Tanya Via sesampainya di rumah.

Fe menatap Via tajam. ”Kamu yang kenapa?”

”Kenapa kamu yang tanya balik? Harusnya aku yang…”

”Udah ah Vi. Capek ngomong sama kamu. Aku pulang saja!. Bye…” Ferio langsung tancap gas tanpa persetujuan dari Via.

Via menatap Ferio dengan tatapan bercampur aduk. Ia kesal, marah, kecewa dan sedih atas kejadian tadi. Namun tak ada tangis yang menghiasi wajah Via, ia berusaha tegar menghadapi Ferio dan hubungannya yang baru saja dimulai.

~♥~

            Pagi merentang menantang garangnya sinar mentari, mencoba menyibak dan menyapa hati para manusia yang masih terlelap di atas peraduannya.

”Udah pagi. Sadar napa kalo kodratnya perempuan itu bangun pagi.” Oskar mencubit pipi mulus Via. ”Bangun! Bangun!” Tanpa ampun Oskar mengguncang tubuh sang kakak.

Mata Via terbuka dengan paksa, ia cemberut. ”Oskar! Apaan sich?!!”

Oskar tersenyum. ”Ngamuk-ngamuk lagi. Lupa sama janji yach???”

Via berpikir dalam keadaan ngantuk. ”Lupa.” Ucapnya cuek dan kembali ke posisi tidurnya.

”Janji itu hutang!” Teriak Oskar di telingan Via.

Via mayun. ”Oskar! Jangan ganggu kakak donk. Kakak ngantuk banget nich. Please…”

”Nggak bisa kak. Waktu Oskar udah nggak lama lagi. Khan Oskar mau…”

”Oia!” Via menepuk dahinya. ”Kakak lupa. Ya udah, kamu panasin mobil, kakak mau mandi dulu.” Via mengambil handuk dan tak lama kemudian terdengar percikan air tanda bahwa Via sedang terburu-buru.

Oskar menggelengkan kepalanya dan bergegas menuju garasi.

~♥~

            Pagi itu, Via menemani Oskar untuk membeli beberapa keperluannya. Beberapa hari lagi ia akan berangkat ke Singapore dalam rangka olimpiade Fisika internasional. Sebenarnya Via enggan beranjak meninggalkan tempat tidur, apalagi rumahnya yang adem ayem. Via masih merasa sedih atas kejadian kemarin. Namun Via kadung janji dengan adik lelaki semata wayangnya itu dan janji harus ditepati. Hohoho… akhirnya di sinilah Via dan Oskar. Plaza Medan Fair yang gimana gitu…

”Kak, tolong pegangin dong! Oskar mau nyamperin teman tuh di situ…” Osar menunjuk segerombolan pemuda sebaya Oskar. ”Ya…ya…ya…”

Via tersenyum mengambil barang belanjaan Oskar yang banyak banget. ”Kar, kakak ke toko buku yach! Ntar kalo kamu udah selesain urusan dengan teman – temanmu, samperin aja kakak di sana. Key?”

Oskar mengangguk dan langsung menyapa teman – temannya.

Setelah kepergian Oskar, Via pun berjalan dengan santai menuju toko buku yang terletak di lantai 3. Walau hatinya galau dan gundah, Via tetap berusaha untuk fokus pada novel – novel yang terpajak di hadapannya. ”Hm… nggak ada yang asyik.” Via segera beranjak menuju rak yang lain. ”Kenapa ya Fe belum menghubungiku sampai saat ini? Jangan – jangan dia benaran marah? Tapi, koq dia yang marah? Harusnya aku dong!” Tanpa sadar Via membanting buku tebal di hadapannya sampai berpasang – pasang mata melihatnya. ”Eh, maaf…” Wajah Via bersemu merah, Ia langsung melangkah seribu kaki menuju rak buku yang lain. Setelah aman, Via pun bernafas lega.

”Sayang, novel ini bagus nggak?” Terdengar suara lembut dan manja seorang gadis dari rak di belakang Via.

”Hm…” Terdengar suara khas pemuda. ”Bagus.”

“Koq Cuma bagus aja? Singkat banget!” Ucap gadis tersebut ketus. ”Nggak suka ya jalan sama aku?”

”Aduh beep… bukan begitu. Maaf dech…” Pemuda itu mulai membujuk. “Maaf ya sayang…”

Mendengar pembicaraan tersebut, kening Via berkerut. ”Aku pernah dengan suara itu. Tapi di mana yach?” Tanyanya dalam hati. Tak dihiraukan lagi pembicaraan kedua insan yang sedang kasmaran itu.

”Fe! Ayo dooong…” Gadis itu tampak tak sabar.

”Fe???” Tanyanya lagi di dalam hati.  Via langsung menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ia ketika saat melihat sepasang kekasih itu sedang berciuman. Via semakin terkejut karena ternyata sang pemuda itu adalah Ferio!

“Ferio!” Bentak Via, suaranya bergetar.

“Via?”

“Sialan kamu! Dasar bajingan!” Via berbalik meninggalkan Ferio. Kemudian ia berbalik lagi dengan penuh amarah ditamparnya pipi mulus Ferio. ”Ini belum seberapa sama rasa sakit hatiku!” Via berlari keluar toko buku. Tak dihiraukannya orang – orang yang menahannya dengan pertanyaan.

”Kak, kenapa?” Oskar mengguncang tubuh sang kakak yang menangis tersedu – sedu. ”Kak…”

”Kar, kamu yang bawa mobil ya. Kakak nggak sanggup…”

Tanpa banyak kata Oskar menuruti permintaan Via.

Sesampainya di rumah, Via langsung mengurung diri di dalam kamar. Ia menangis untuk semua kebodohannya yang bisa tertipu oleh wajah munafik Ferio. ”Dasar laki – laki bajingan!!!” Via menutup wajahnya dengan bantal.

~♥~

            ”Kamu kenapa? Ya ampun Vi, mata kamu bengkak banget…” Febri-lah orang pertama yang dijumpai Via di pagi itu.

Via mencoba tersenyum dan menutupi matanya yang bengkak. ”Nggak apa–apa.” Jawabnya lemah.

”Ke kantin yok Vi!”

Via menggeleng. ”Lagi nggak mood.”

”Kenapa sich Vi?”

”Nggak apa–apa”.

”Vi, aku tau kamu dari dulu. Jangan bo’ong Vi.”

”Udah ah! Ke kantin yok…”

”Tapi katanya kamu…”

”Udahlah. C’mon…”.Via menarik Febri dengan paksa. ”Ayo… ayo…”

”Hai galz! Pagi semua…” Dengan heboh Maya menyapa Via dan Febri. “Koq pada lesu? Audry mana?”

“Belom datang.” Jawab Febri.

“Via! Kamu kenapa?” Maya mengangkat wajah Via. ”Mata kamu sembab gitu?”

”Nggak apa – apa.”

”Bo’ong!” Ucap Maya dan Febri berbarengan.

”Nggak.”

”Ayolah Vi… kamu biasanya terbuka dengan kita–kita…” Bujuk Maya.

”Nggak ada apa-apa. Pliz jangan paksa aku.” Pinta Via memelas. ”Sorry…” Via beranjak dari kursinya.

”Vi! Mau ke mana?” Tiba – tiba Audry menarik tangan Via. ”Kamu kenapa?”

Air mata Via menetes. ”Nggak apa–apa. Biarin aku sendiri dulu. Pliz…”

Audry menggenggam tangan Via. “Tapi…”

“Maaf…” Via berlari menuju mobilnya.

~♥~

            Via, Audry, Febri dan Maya berkumpul di rumah Via. Awalnya Via enggan bercerita tentang perselingkuhan Ferio, tapi setelah ditodong secara paksa oleh ketiga sahabatnya Via pun mengalah. Meski jauh di lubuk hatinya ada kekhuatiran akan persahabatannya dengan Audry. Yah, walau bagaimanapun Audry dan Ferio bersaudara.

Via pun memulai ceritanya mulai dari Ferio membawanya ke tempat aneh dengan alasan agar terkesan lebih romantis, sampai akhirnya Ferio tertangkap basah berciuman dengan Riana di toko buku, di depan umum, di hadapan Via.

“Dan yang lebih menyakitkan, sampai saat ini Fe belom menghubungi aku dan meminta maaf. Seolah–olah ini adalah kesalahanku. Ternyata benar apa yang diucapkan Riana pada malam itu, Ferio hanya mempermainkanku. Dia memanfaatkanku agar Riana mau kembali padanya.” Via mengakhiri ceritanya.

”Vi, sabar ya…” Febri mengusap bahu Via.

”Semua ada hikmahnya Vi…” Nasehat Maya.

Via menunggu tanggapan Audry yang terkesan tak peduli. Via jadi kesal.

”Aku nggak menyangka kalo keputusanku untuk berpacaran dengan Fe akan berakibat seperti ini. Hubungan kami baru 3 hari, tapi dia udah berani main api di hadapanku. Dasar cowok brengsek!” Nada suara Via meninggi. Sungguh ia tak mampu menahan emosinya. ”Aku nggak tau salahku di mana. Tapi yang pastinya dia cowok yang paling jahat yang pernah ku temui. Apa itu cinta dari kelas 4 SD! Anjrit semua! Tega–teganya dia menjadikanku tumbal untuk hubungannya dengan Riana. Taik semua ucapan cintanya!”

”Vi, sabar…” Maya memeluk Via. ”Tahan emosi. Ingat, ada Audry di sini. Nanti dia tersinggung…” Bisik Maya.

Via melirik Audry yang tak memberi tanggapan. Ia jadi tak enak hati karena tak mampu menahan emosi. Namun untuk meminta maaf ternyata ego Via tak mampu terkalahkan. Akhirnya merekapun diam–diaman sampai ada panggilan masuk di ponsel Audry.

”Ya Fe. Kenapa? Oh… mau pinjam duit? Untuk apa? Bla…bla…bla… kamu mau pulang ke Riau malam ini? Bla…bla…bla…” Audry melirik Via, ”Dari Fe.”

”Aktifkan loudspeaker Dry.” Perintah Maya.

Audry mengaktifkan loudspeaker dan melanjutkan pembicaraannya dengan Ferio. ”Kenapa sih kamu mau pulang? Mau lari dari masalah? Bla…bla…bla… Kamu bertengkar ya dengan Via? Jadi gimana hubungan kalian? Bla…bla…bla… Kalian nggak ada hubungan? Bukannya kalian pacaran? Bla…bla…bla…”

Via tak sanggup lagi mendengar pembicaraan itu. Ia sudah cukup terpukul dengan pernyataan Ferio bahwasanya mereka tidak pernah punya hubungan yang special. ”Udah Dry, nggak usah dilanjutkan. Semua udah jelas dan akan semakin menyakitkan kalau aku tau lebih banyak. Yang namanya cowok brengsek ya akan tetap brengsek!” Via mengambil barang–barang pemberian Ferio dan memberikannya pada Audry. ”Kembalikan semua ini pada Ferio. Pesanku, semoga bahagia dunia–akhirat.” Ucapnya ketus.

”Vi, kamu jangan marah–marah ke aku dong! Masalah ini kamu selesaikan aja sendiri. Ingat ya Vi, jangan ucapkan kata–kata kasar untuk Ferio. Karena bagiku, kamu yang salah. Paham???” Audry meninggalkan Via yang tercengang.

”Aku…”

”Sabar ya Vi, semua bisa diselesaikan baik–baik…” Maya dan Febri memeluk Via yang terisak. Mereka pun menangis mengingat persahabatan mereka yang retak.

~♥~

            ”Aku nggak pernah menyangka ini semua akan terjadi. Memang aku sempat berpikir kalau hubunganku dengan Ferio akan berdampak buruk bagi persahabatanku dan Audry. Tapi aku tetap menjalaninya karena aku pikir toh nggak akan terjadi apa–apa. Aku pikir Ferio benar–benar sayang padaku sejak kelas 4 SD. Tapi semua harus jadi seperti ini gara–gara si brengsek itu! Sudah 2 hari Audry nggak mau berbicara denganku. Huh! Aku nggak pernah tau salahku di mana. Sampai detik ini Ferio nggak memberiku penjelasan, dia juga nggak pernah minta maaf. Tapi toh aku sudah tau kalau Ferio mempermainkanku. Walaupun dia berniat untuk menjelaskan, tetap aja aku sakit hati. May, apa semua ini bisa diperbaiki?”

Maya menatap Via dengan sorot mata penuh kelembutan. “Berdo’a Vi, semoga semua ujian ini dapat dilalui dengan sukses…”

Via tersenyum hambar. “Cuma tiga hari May. Tiga hari yang sangat menyakitkan. Three days for hurt! Katanya Ferio naksir aku sejak kelas 4 SD, tapi dalam tiga hari semuanya musnah dan berakhir gitu aja. Aku nggak tau May, aku yang salah atau cowok itu yang benar–benar brengsek? Kamu bisa banyangin nggak May, seseorang bisa selingkuh dan nyakitin pasangannya hanya karena pasangannya itu belom mau ngungkapin kata sayang, cinta dan lain sebagainya. Cuma masalah sepele gitu aja dia nyakitin aku? Bagus banget!” Via mendengus. ”Huh! Kalau masalahnya itu, palingan cuma akal–akalannya si Ferio aja. Nggak logis banget deh kalau Cuma karena hal sepele itu dia balikan lagi dengan Riana dan akhirnya kami bubar. Aku Cuma mainan baginya…”

”Emang si Ferio itu brengsek banget! Udah gitu, pengecut lagi!” Tiba – tiba Febri muncul. ”Aku nggak akan maafin cowok kayak dia. Si Audry aneh! Padahal dia tau gimana rasanya diselingkuhin, tapi bisa–bisanya dia nyalahin kamu Vi. Keterlaluan.”

”Namanya aja mereka saudara. Ya wajarlah Audry membela Ferio…” Maya berusaha meluruskan.

“Iya aku paham. Tapi harusnya Audry itu membuka matanya dan melihat siapa yang benar, siapa yang salah. Jangan main tuduh gitu. Kita semua khan tau kalau yang disakiti itu Via, bukan Ferio. Dia sich enak–enakan balik lagi sama mantannya, malahan dapat plus ciuman lagi!”  Kata Febri.

Via langsung menengahi perdebatan antara kedua sahabatnya sebelum masalah semakin runyam. ”Cukup Audry yang memusuhiku. Jangan sampai kalian juga bermusuhan. ”Ucapnya tegas.

”Iya… iya… jadi bagaimana selanjutnya?” tanya Maya.

Via tersenyum. ”Ngapain dipikirin. Kita ke Mall yuk! Ada yang nolak?”

Maya dan Febri langsung setuju.

~♥~

            Medan Mall yang ramai menambah semangat berburu Via, Maya dan Febri. Opz! Bukan berburu hewan lhoh… maksunya berburu pakaian yang sedang ’in’ tapi diskon. Maunya anak remajalah…

Via dan kedua sahabatnya tertawa dan telihat bahagia menyusuri toko demi toko yang menjual berbagaimacam kebutuhan manusia. Walaupun mereka belum mendapatkan apa yang diinginkan, mereka tetap fun dan merasa dunia ini milik mereka bertiga, yang lainnya mah ngontrak coy!

”Vi, May, laperrr. Cari makanan yok!” Suara Febri yang lembut menghentikan tawa mereka karena melihat sepasang suami–istri yang bertengkar karena sang suami melirik cewek ‘bohay’ di depannya.

“Ayo! Nggak terasa udah jam makan siang…” Ucap Via.

”Iya nih, keasyikan liatin orang. Btw, makan di mana?” Tanya Maya.

”Kita ke Food Court aja!” Cetus Via yang langsung diamini oleh Maya dan Febri.

”Rame banget! Kita ke kios yang mana? May? Vi?” Tanya Febri sesampainya di tempat tujuan.

Ketiga kepala itupun terjulur menaksir tempat yang kira–kira kosong dan nyaman. Lima menit pun berlalu…

“Di situ aja! Orangnya udah pindah…” Tunjuk Maya ke arah pojokan.

“Not bad…” Ucap Via.

“Sorry yach, ini tempat kami.” Suara angkuh seorang gadis menghentikan senyuman Via CS yang sempat senang karena mendapatkan tempat. ”Cari tempat lain aja!” Lanjutnya lagi. Masih tetap angkuh dan terkesan meremehkan.

”Eh, jangan sok deh! Kamu pikir ini punya nenek monyangmu? Kami duluan naro bokong di sini, bukan kamu!” Ucap Maya ketus.

”Belagu banget sih! Tadi kami udah booking tempat ini sama pramuniaganya.” Gadis itu bersikeras.

”Idih… kampungan banget. Kamu pikir ini restaurant atau kafe. Kalau mau booking tempat bukan di sini, tapi di parkiran sono. Nggak punya etika banget!” Maya tak mau kalah. “Udah, pergi sana!” Hardik Maya dengan suara keras, membuat semua mata tertuju pada adegan heboh tersebut.

Wajah gadis itu memerah menahan malu dan amarah. ”Bokap gue polisi, jadi lo jangan macam–macam!” Ancamnya.

”Bokap? Gue? Lo?” Maya mencibir. “Eh buk, nyadar dong kamu sekarang ada di bumi yang mana. Ini Medan bung! Hm, sejak kapan Monas pindah ke Medan? Jadi pengen liat. Ya khan nggak kawan-kawan?” Maya meminta suport dari Via dan Febri. ”Hm satu lagi, mau ayah kamu polisi, tentara, presiden sekalipun… aku nggak peduli. Awas!” Maya mendorong gadis itu.

Dorongan Maya membuat gadis itu hampit terjatuh, beruntung ada seorang pemuda yang menahannya. Mungkin sang kekasih. ”Ada apa ini? Jangan kasar dong!”

Via langsung melihat sang pemilik suara. ”Oh, jadi kamu pacar cewek ini? Bisa dipastikan sama–sama nggak punya etika!” Ucap Via tajam setajam lirikan matanya. ”Oh ya teman–teman, ku perkenalkan seseorang yang paling ingin kalian kenal. Ferio…” Via menunjuk Ferio dengan tangan kirinya. ”Let’s see…”

Ferio menarik tangan Via. ”Apa–apaan kamu Vi? Kamu mau mempermalukanku?!!”

”What? Bukannya kamu yang pengen dipermalukan? Pengecut!”

”Vi, urusan kita udah selesai. Aku udah mengatakan semuanya pada Audry. Jadi kamu mau apa lagi?”

Maya dan Febri berpandangan, mereka menggumam tak jelas.

”Itu urusanmu denganku. Urusanku denganmu belum selesai.”

”Kamu maunya apa???” Gadis angkuh yang ternyata Riana itu menarik tangan Via agar mata mereka bertemu. ”Aku sudah memperingatkan kamu di malam itu,  kalau Fe cuma mempermainkanmu. Saat itu kamu nggak peduli, itu urusanmu. Tapi sekarang, ini semua jadi urusanku kalau kamu mengganggu hubungan kami.”

Via tersenyum sinis. ”Oh gitu yach? Hm, hari ini kamu tampak cantik, sampai–sampai aku tidak tanda kalau kamu adalah Riana. Gadis yang malam itu seperti orang gila meminta Ferio kembali lagi kepadanya, gadis yang dua hari yang lalu berciuman dengan Ferio di depan umum, gadis yang saat ini ada di hadapanku.” Via melepas cengkraman tangan Riana. ”Aku nggak ada urusan denganmu! Urusanku Cuma sama pengecut ini!”. tatapan tajam Via menembus mata Ferio. ”Pengecut!”.  Dan plaaaaakkk!!!

Sebuah tamparan mendarat kuat di pipi Ferio dan membuat bibirnya sobek. ”Chiken!” Via mencampakkan gelas plastik berisikan jus ke wajah Ferio, iapun tersenyum puas walau dalam hati menangis. ”Ambil tuh Ferio-mu tercinta!” Via menyenggol Riana yang masih terpana atas keberanian Via, Riana pun terjatuh degan sukses di atas lantai.

”Gimana? Bagus?” Tanya Via sesampainya mereka di parkiran.

“Excellent!” Puji Maya dan Febri

Via tertawa puas, sangat puas sekali!

”Tapi kamu hutang dua penjelasan pada kami.” Ucapan tegas Maya menghentikan tawa Via.

”Apa itu?”.

”Tentang kejadian apa itu Feb?” Maya menoleh ke Febri.

”Itu lhoh… kejadian si Riana yang minta Ferio balik sama dia…”

”Oh, itu… Oke. Tapi jangan sekarang. Aku capek, mau istirahat.”

”No problem. Trus, si Ferio bilang apa sama Audry?” Tanya Maya.

Wajah Via langsung muram. ”Aku nggak tau. Audry belum ngomong apapun sejak kejadian waktu itu. Mungkin dia masih marah…”

Febri langsung merangkul Via. ”Jangan sedih ya Vi. Kami berdua akan selalu ada untuk kamu.”

”Makasih…”

”That friends are for.” Mereka bertiga berangkulan erat.

~♥~

            ”Dry! Ada yang ingin kami bicarakan.”

Audry menatap Maya dan Febri. ”Aku ada urusan.” Ia langsung meninggalkan kedua sahabatnya walaupun sebenarnya ia enggan.

Maya mengejar Audry dan membawanya ke sebuah ruangan yang kebetulan kosong. “Mau sampai kapan kamu menghindar?”

“Menghindar untuk apa? Nggak penting banget!”

”Kamu bego atau dungu sich? Jangan jadi pengecut dong Dry! Selesaikan semuanya sampai tuntas.”

Audry mendorong bahu Maya. ”Siapa yang bego? Siapa yang dungu? Siapa yang pengecut? Kamu jangan membuatku marah ya!”

”Kamu memang bego, dungu dan pengecut seperti sepupumu itu!” Suara lembut Febri yang isinya tajam itu membuat Audry terdiam. ”Plus buta dan tuli!”

”Terserah kalian mau bilang aku apa. Yang pastinya aku udah nggak butuh lagi teman seperti kalian!” Audry bergegas meninggalkan Maya dan Febri.

Seperti mendengar petir di siang bolong, betapa terkejutnya Maya dan Febri mendengar pernyataan Audry. Febri langsung memeluk Maya dan menangis tersedu–sedu.

”Baru tiga hari saja dia sudah begitu banyak berubah…”

Maya mengelus bahu Febri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengepal tanda begitu marahnya ia. ”Audry akan menyesali kata–katanya barusan.”

Febri menatap wajah Maya yang mengeras, sorot matanya terluka namun tajam. ”May, jangan buat yang macam–macam. Audry itu sahabat kita.”

”Dulunya…” Maya meninggalkan Febri yang terdiam sambil menggigit bibir.

~♥~

            Audry tiba di kampus lebih cepat dari biasanya. Semenjak pertengkaran itu, otomatis Via tidak lagi menjemputnya. Bukan karena Via tak mau, tetapi karena Audry yang menjauhi Via, Maya dan Febri. Saat ini Audry selalu nebeng dengan papanya.

Audry menggeledah setiap sudut ruangan dengan matanya. Setiap sudut penuh kenangan antara dirinya dan para sahabat dilewati dengan pejaman mata. Tak terasa air mata membanjiri wajah Audry yang selalu pucat tanpa semangat. Audry segera menghapus air matanya saat seorang mahasiswa memasuki ruangan dan tak lama kemudian kelas menjadi ramai dan riuh.

”Kenapa tuh si Audry sendiri?” Mira yang selalu sirik dengan Via CS langsung memperhatikan gelagat Audry yang aneh dan tidak bergabung dengan ketiga rekannya.

”Pecah kongsi kali!” Celutuk Ninin.

”Baguslah kalau begitu…” Mira tersenyum puas. ”Aku ingin melihat betapa nggak berdayanya si Audry itu tanpa teman-temannya…”

”Si Audry itu sih lemah Mir. Cuma karena ada Via dan Maya aja dia jadi kelihatan powerfull gitu. Padahal dia nggak ada apa–apanya.” Kata Gita.

“Tapi si Febri harus dipertimbangkan juga. Dia itu kata–katanya lembut, tapi pahit banget…” Silvy menambahkan.

”Berarti si Audry itu yang nggak punya potensi apa–apa kecali kaya, pintar dan manja pastinya. Tapi itulah yang aku harapkan, karena targetku memang si manja centil itu.” Dari kejauhan Mira melirik Audry.

”Aku sih nggak masalah target kamu siapa atau kenapa. Yang pastinya aku cuma pengen mereka semua bubar. Karena mereka itu mahasiwi yang paling suka mencampuri masalah orang lain. Sotoy!” Lain dengan Mira yang tengah asyik mengejek kesendirian Audry, Gita malah melihat Via CS yang masih tampak akur.

”Masih dendam karena digampar Maya?” Tanya Ninin bernada ejekan. ”Ternyata luka itu masih ada setelah setahun berlalu.” Ninin mencibir.

”Lagian kamu juga sih yang seenaknya aja ngerjain adik leting gara–gara cowok yang kamu taksir malah jadian dengan dia. Kasihan…” Ejek Silvy.

”Terserah kalian mau bilang apa! Yang penting, kalian itu nggak lebih baik dariku. Kalian juga benci khan sama mereka? Mendingan aku dan Mira, punya alasan. Kalian apa?”

”Ow… ada yang marah nih! Kalo aku sich Cuma ikut–ikutan. Solidaritas sesama teman lah…” Ucap Ninin bangga.

”Aku juga sama dengan Ninin.” Kata Silvy.

”Udahlah! Itu aja diributin. Yang terpenting sekarang, gimana caranya ngebuat mereka berantakan. Terlebih–lebih si Manja itu!”. Mira menengahi.

”Mira… mira… Audry udah putus dengan Aldi. Itu khan yang kamu mau? Mengambil kembali apa yang sudah direbut oleh Audry. Kenapa lagi?” Silvy menanti jawaban Mira.

”Jangan munafik lah. Kita semua memang menginginkan mereka hancur khan?” Mira menatap ketiga sahabatnya satu per satu.

”Iya sih…” Mereka bertiga menjawab serempak.

”Makanya kita udah harus mulai bergerak dari sekarang. Oke?”

Gita, Ninin dan Silvy mengangguk. Berjuta rangkaian kejahatan terpatri di benak mereka yang selalu iri dan dengki.

~♥~

            Audry bergegas menuju toilet yang berada di sudut kampus, sejak pagi dia sudah meringis menahan sakit perutnya. Gara-gara salah makan tadi malam, akhirnya ia terserang diare. Awalnya Audry enggan berangkat ke kampus, namun hari ini ada 2 midtest yang memaksanya untuk pergi. Sesampainya di toilet, Audry langsung berlari menuju WC terdekat. Sempat terbesit di benaknya seandainya ada Via, dia pasti tidak akan menderita karena perutnya yang sensitif. Andai Via ada, pasti dia tak perlu repot-repot ke kampus karena Via akan membuatkannya surat izin sehingga ia dapat mengikuti ujian susulan. Namun egonya saat ini sangat angkuh untuk mengakui kelebihan sahabatnya.

Saat Audry sedang memikirkan ketiga sahabatnya tiba-tiba pintu digedor dengan kasar oleh beberapa pasang tangan. Jantung Febry berdegup kencang, ia membuka pintu berlahan.

“Apa?!!” Tanyanya jutek saat mendapati Mira CS berdiri angkuh di depannya.

Ninin menarik tangan Audry dan mendorongnya ke dinding. “Nggak ada apa-apa. Cuma pengen bermain sama kamu.”

“Kalian mau apa sih? Jangan main kasar!” Bentak Audry.

Mira Cs tertawa. Mereka langsung mengunci pintu toilet dan dengan membabi buta memukuli Audry. Ada yang mencakar, menjambak dan menamparnya. Audry tak berdaya di tangan keempat gadis bringas itu. Berkali-kali dia melawan dan menjerit minta tolong, tapi hasilnya nihil. Audry-pun terkapar di lantai toilet yang basah dengan pakaian berantakan dan darah yang mengalir dari badannya yang terluka. Tak ada yang menemukan Audry karena Mira menutupi tubuh Audry dengan sapu dan kain pel.

~♥~

            Sementara itu di perpustakaan Febri dan Maya sedang berdebat, sedangkan Via hanya mendengarkan tanpa ada niat untuk menengahi.

“Aku yakin yang ku dengar di toilet itu suara Audry, dia pasti membutuhkan pertolongan.” Kata Febri.

“Alah Feb, itu khan cuma halusinasi. Tadi kamu lihat sendiri khan kalo toilet itu rusak dan dalam masa perbaikan, tulisannya ada di depan pintu. Aku tau Feb, kamu kangen sama Audry. Aku dan Via juga, tapi biarkan Audry sendiri dan menyadari kalo kita sayang dan dia juga membutuhkan kita.” Maya berusaha mematahkan perkataan Febri.

“Tapi perasaanku nggak enak. Audry nggak ada di kelas juga di kantin, ponselnya nggak aktif. Kalo dia kenapa-kenapa gimana?” Febri membuka ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Audry. “Tadi pagi wajah Audry pucat dan berkali-kali meringis memegang perutnya.”

“Udahlah, nggak usah dipikirin. Toh dia juga nggak mikirin kita, dia udah melupakan kita. Bagiku ini lebih menyakitkan dari semua perbuatan si Ferio.” Ujar Via ketus. “Aku capek mikir orang-orang yang nggak mikir aku!” Via mengambil buku yang hendak dipijam. “Aku mau pulang. Kalian gimana?”

“Aku pulang. Kamu gimana Feb?” Tanya Maya.

“Kalian duluan aja, aku masih ada urusan.” Jawab Febri lembut.

Via tersenyum dan merangkul Febri. “Duluan ya Feb…”

~♥~

            Setelah kepergian kedua sahabatnya, Febri-pun menuntaskan rasa penasarannya akan suara yang didengar di toilet yang rusak. Dengan jantung berdebar-debar Febri memberanikan diri untuk membuka pintu toilet tersebut, sekali menekan handel pintu pun langsung terbuka lebar dan tergeletak tubuh seorang gadis yang acak-acakan.

“Audry?” Febri menyibak rambut yang menutupi wajah gadis yang tergeletak pingsan di hadapannya. “Ya Tuhan. Audry! Toloooooong….” Febri menjerit mencari pertolongan secepat mungkin.

~♥~

            “Febri! Kamu nggak apa-apa?” Via langsung merangkul Febri yang menagis tersedu. “Audry gimana?”

“Masih di dalam. Belom ada kabar dari dokter.” Jawab Febri lemah.

“Maafin kami yang nggak mempercayai kamu Feb.” Maya menyentuh bahu sahabatnya. “Siapa yang tega berbuat seperti itu pada Febri? Jahat banget!”

“Aku nggak tau May. Waktu aku masuk toilet itu, Audry udah tergeletak bersimbah darah. Aku takut banget! Takut kalau nggak bisa jumpa lagi sama Audry, nggak bisa bercanda dan nggak bisa minta maaf atas semuanya…”

“Jangan ngomong horor gitu lah Feb, kita do’ain supaya Audry cepat sembuh dan kita bisa memperbaiki semuanya.” Ucap Via menahan tangis. “Oia Feb, ortu Audry gimana?”

“Mereka udah aku hubungin tadi. Mungkin on the way.”

“Vi, Feb, aku curiga sama beberapa orang dech!” Letetuk Maya setelah beberapa lama mereka terdiam dalam lamunan masing-masing.

“Siapa dan kenapa?” Tanya Febri tertarik. “Aku pasti akan balas dendam atas perbuatan orang jahat itu!”

Via menyentuh bahu Febri. “Sabar Feb, jangan temakan emosi kita khan belum tau siapa pelakunya.”

“Tapi aku pasti bakal ngelakuin hal yang sama koq Vi.” Kata Maya menanggapi.

Via tersenyum, “Aku juga. Tapi kita belum tau siapa. Jadi jangan emosi dulu, ntar kita juga yang repot kalau salah orang. Hm, kira-kira siapa yang sejahat itu sama Audry?”

“Siapa lagi kalau bukan Mira Cs. Mereka khan yang paling sirik sama Aury dan kita.” Jawab Maya amat sangat yakin.

“Iya, pasti mereka!” Tambah Febri meyakini Maya.

“Dugaanku memang mereka, tapi aku nggak berani bicara apapun sekarang ini. Takutnya malah kita yang kenapa-kenapa karena salah tuduh, lagipula Audry belum tau gimana keadaannya. Lebih baik kita banyak-banyak berdo’a untuk kesembuhan Audry, kalau Audry sudah sadarkan diri barulah kita akan tau siapa pelakunya. Gimana?”

“Iya sih, kata-katamu ada benarnya juga Vi. Tapi…”

“Maya, kita nggak boleh asal-asalan bertindak. Semua harus kita pikirkan. Kamu jangan terbakar emosi, karena belum tentu Mira CS pelakunya. Oke May?” Via menatap Maya lembut.

Maya tersenyum, urat-urat marahnya yang menegang kini mengendur. “Oke deh.”

“Semoga Audry cepat sembuh yach…” Febri merangkul kedua sahabatnya. Sejenak suasana haru dan damai menghiasi koredor rumah sakit yang tak pernah sepi.

“Maaf, ada yang namanya Febri di sini?” Sebuah suara memecah kedamaian Via dan kedua sahabatnya.

Febri menghapus air matanya, “Saya Febri. Ada apa mencari saya?”

“Aku Farian, sepupunya Audry. Kebetulan saat kamu telepon tadi aku yang angkat, berhubung mama dan papanya Audry sedang pergi ke Singapore jadi aku yang datang ke sini. Audry mana?”

“Audry masih di dalam. Dia mengalami pendarahan di kepalanya.” Jawab Febri yang merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Audry.

“Kejadiannya bagaimana? Kenapa Audry bisa seperti ini?” Tanya Farian.

“Saya nggak tau. Waktu saya membuka pintu toilet, Audry sudah pingsan dan langsung saya bawa ke sini.”

Farian menghempaskan nafas berat. Lalu ponselnya berdering, tak lama kemudian dia berbicara serius entah dengan siapa. Baru semenit dia menutup pembicaraan, dering ponselnya terdegar lagi dan tak lama kemudian seorang pemuda menghampiri Farian yang saat itu sedang berbicara dengan Febri dan Maya. Saat itu Via sedang membeli makanan di kantin.

“Gimana Audry Bang?” Tanya pemuda itu khuatir. “Jalanan macet, jadi aku telat.”

Melihat pemuda yang berbicara dengan Farian, Maya langsung berbisik-bisik dengan Febri. “Itu khan Ferio? Ya Ampun…. koq aku bisa nggak sadar kalo mereka mirip banget. Pantesan juga si Via langsung kabur waktu si Farian itu bicara dengan kita.”

Febri manggut-manggu sambil melihat Ferio tajam. Ingin rasanya ia memukuli Ferio sampai Ferio babak belur seperti Audry. “Kalau dilihat dari belakang ya May, semua ini gara-gara si Ferio sialan itu. Huh! Pengen ku gampar aja.”

“Eh Feb, si Via mana? Beneran tuh anak benci banget sama si Ferio. Sampai-sampai nggak mau ketemu sama abangnya…”

“Kita cari Via yok!” Ajak Febri.

~♥~

Setelah mengelilingi rumah sakit yang syukurnya nggak terlalu besar, Maya dan Febri mendapati Via sedang tersedu di koredor dekat kamar mayat.

“Kamu bohong khan mau beli makanan? Kamu pergi karena nggak suka dengan kedatangan Farian khan?” Hal pertama yang dilakukan Maya ketika mendapati Via adalah bertanya.

Via menatap Maya. “Sotoy! Aku Cuma lagi sedih aja mikirin keadaan Audry, nggak ada sangkut pautnya dengan Farian apalagi Ferio.”

“Yach, kalo kamu bilang begitu yach aku percaya aja. Tapi merenungnya jangan di sini dong Vi, serem banget dekat kamar mayat.” Seperti biasa Febri terlalu mendramatisisr suasana.

“Iya juga Feb, koq kayak ada yang menjilati tangan dan kaki kamu yach dari tadi?” Maya memasang wajah serius plus ketakutan.

“Yang benar May? Jangan ngomong yang macam-macam dong! Aku takut nih…” Febri jelalatan menatap sekelilingnya, ketika melihat tangannya sendiri dia langsung menjerit. “Bulu kudukku berdiri semua…”

“May, apaan tuh di belakang Febri? Koq ada putih-putih yang melambai?” Via memeluk Maya. “Jalannya ngesot May.”

Febri memeluk Via dan Maya erat. “Kita balik ke tempat Audry yok!” Ajaknya memelas.

“Nggak mau. Aku masih betah di sini.” Ucap Via.

“Aku juga.” Maya mendukung Via.

“Jangan gitu dong. Aku nggak suka di sini, banyak makhluk jahat. Ayolah kita balik…”

“Ogah!” Via dan Maya saling pandang karena mereka menolak bersamaan.

“Ya udah, aku balik sendirian.” Febri meninggalkan Via dan Maya. Baru beberapa langkah Febri berjalan…

“Feb, di depan kamu ada…”

Febri langsung berlari dan memeluk Maya. “Di mana May? Usir dia! Usir!!!”

Via dan Maya tertawa.

“Dasar penakut!” Ejek Via.

“Aku cuma bilang ada lhoh Feb. Ada sampah maksudnya…” Goda Maya.

“Jahat!” Febri langsung menghadiahi kedua sahabatnya yang menertawainya dengan dua buah cubitan khas seorang Febri. Tawa Via dan Maya tergantikan dengan ringisan mereka. Kini Febri yang tertawa puas dengan prakaryanya di kedua tangan Via dan Maya. “Balik yok!” Febri menarik Via dan Maya.

~♥~

 

Ketika sampai di depan ruang I.C.U, Via, Maya dan Febri berpas-pasan dengan kereta dorong yang membawa Audry ke ruang rawat inap di lantai 3. Via, Maya dan Febri langsung mengikuti Audry ke kamarya. Sesampainya di kamar, Via dan kedua sahabatnya berebutan memasuki kamar tersebut.

Tiba-tiba tangan Via ditarik ke luar kamar yang membuatnya bertatap muka dengan orang yang paling dibencinya saat ini. Kejadian itu sudah berlalu dua bulan yang lalu, tapi masih membekas di hati Via.

“Makasih atas perhatian kamu terhadap Audry.”

“Dia sahabatku, jadi nggak usah berterima kasih. Basi!” Ucap Via ketus.

“Maafkan aku Vi.”

“Udahlah. Anggap saja nggak pernah ada kejadian apa-apa di atara kamu dan aku. Anggap saja kamu dan aku nggak saling kenal. Anggap aja kalau kamu dan aku…”

“Aku menyesal. Aku minta maaf.” Ferio memelas.

“Terlambat! Toh semua udah terjadi. Kamu tau apa yang paling aku sesali?” Via menatap Ferio tajam. “Audry harus berbaring berjam-jam di ICU dan semua ini gara-gara kamu! Harusnya hubunganku dengan Audry baik-baik saja, tapi semenjak kamu datang semua jadi berantakan. Ingat, semua karena kamu!”

“Vi, aku menyesal. Aku salah. Aku akan lakukan semua demi mendapatkan maafmu, apa yang harus aku lakukan untuk itu Vi?”

“Jauhi aku. Selamanya…”

“Vi, aku…”

“Kamu yang bilang akan melakukan apa saja demi maafku khan? Jauhi aku! Itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan maafku.” Kata Via tegas.

“Vi, semuanya masih bisa diperbaiki. Jangan suruh aku untuk menjauhi kamu Vi. Aku masih sayang sama kamu sampai detik ini…”

“Aku nggak ada waktu untuk memperbaiki apapun!” Via meninggalkan Ferio dan memasuki kamar Audry yang sedang bercanda dengan Maya dan Febri.

“Maafkan aku Vi…” Kata Audry ketika Via datang.

Via tersenyum. “Nggak ada yang perlu dimaafkan Dry. Aku yang salah karena terlalu egois, tapi ya udahlah nggak udah dibahas lagi.”

Audry terisak. “Kamu selalu memaafkan aku walau kesalahanku tak bisa dimaafkan. Kamu selalu begitu Vi…”

Via mengacak rambut Audry gemas. “Ya ampun, masih cengeng juga ternyata. Tapi tak apalah, aku menemukan kembali sahabatku yang hilang.”

“Menemukan? Emangnya aku barang kamu yang hilang…” Audry mayun.

“Gitu aja ngambek! Hm, nggak berubah juga. Sekarang aku yakin kalau kamu Audry yang dulu, sahabatku yang hilang entah ke mana…”

“Via…” Audry memeluk Via erat.

“Jangan pernah tinggalkan aku, Maya dan Febri apapun kondisinya. Kami selalu menyayangimu Dry…” Ucap Via lembut. Via, Audry, Maya dan Febri berangkulan melepas keegoisan yang membentengi persahabatan mereka.

“Hm, hm, ngomong apa tadi dengan si Fe?” Goda Audry tak lama kemudian.

Via yang sedang minum tersedak. “Ngomong apa? Nggak ngomongin apa-apa.” Jawabnya cuek.

Seketika itu juga Audry, Maya dan Febri memelototi Via.

“Ngaku aja deh kalian ngomong apa tadi…” Paksa Maya.

“Nggak ada.”

“Ayolah Vi, sekarang udah nggak jamannya lagi rahasia-rahasiaan.” Kata Febri.

“Vi…” Panggil Audry. “Jangan diam dong!”

“Dia Cuma minta maaf. Just it.” Kata Via masih tetap cuek.

“Cuma itu?” Maya terbelalak. “Dia nggak menyesali apa yang terjadi.”

“Menyesal juga, tapi aku nggak peduli. Lagipula sekarang bukan saatnya ngomongin dia, nggak penting. Lebik baik kita bahas tentang siapa orang yang telah menjahati Audry…”

“Oh iya, aku sampai lupa! Siapa Dry yang buat kamu begini? Besok pasti aku hajar dia!” Febri langsung memfokuskan perhatian pada Audry, begitu juga dengan Maya dan Via.

Tanpa mereka sadari, ada sebuah hati yang tersayat di balik jendela. Kini ia menangis di atas penyesalannya, penyesalan karena telah menyakiti hati tulus dan polos milik Via. Sekarang semuanya terlambat, karena Via tak ada lagi untuknya. Sepotong hati milik Ferio…

~♥~

 

“Hai Silvy! Apa kabar?” Sapa Via ramah kepada Silvy yang kebetulan berpas-pasan di koridor menuju kelas. “Sendiri aja?”

“Apa pedulimu!” Dengan ketus Silvy menjawab sapa ramah Via. Ia pun berjalan angkuh meninggalkan Via. Tanpa disadarinya ternyata Febri telah siap siaga melumuri lantai koridor dengan minyak makan, Silvy pun mendarat dengan sukses di atas lantai.

Via dan Febri pun tertawa di atas penderitaan Silvy.

Di lain tempat, tepatnya di sebuah toilet yang bertahun-tahun tak dipakai belakang kantin…

Dengan gampang Maya melumpuhkan Ninin dan Gita dengan beberapa jurus tekwandonya. Kini Ninin dan Gita telah terkurung di dalam WC yang paling jorok dan kata orang berhantu. Tak lama kemudian ia memberi laporan kepada Via bahwa tugasnya telah selesai dilaksanakan dengan lancar. Sekarang sasaran mereka adalah Mira, otak dari semua masalah ini…

~♥~

            Via, Maya dan Febri menuju kantin, mereka yakin Mira pasti sedang kesal karena menunggu ketiga sahabat yang lebih tepat disebut dayang-dayangnya itu. Tanpa disadarinya ada bahaya yang mengancam hari ini. Memang tidak akan membuatnya terluka, tapi akan diingatnya sampai kapanpun.

“Mir, selamat ulang tahun yach! Semoga sukses selalu.” Dengan keakraban dibuat-buat Via menjabat tangan Mira yang terkejut.

“Oy teman-teman! Mira ultah nih…” Kata Febri sekencang mungkin.

Maya langsung naik ke atas bangku dan bersorak lantang, “Berhubung hari ini Mira ultah, jadi dia ‘ntraktir kawan-kawan semua. Makan apa saja sesuka kalian, Mira yang bayar lhoh…”

Semua orang yang saat itu sedang berada di kantin langsung bersorak dan menyalami Mira, bahkan ada yang melemparinya dengan tepuk dan telur yang diberikan oleh Via dan Febri. Kantin pun jadi kacau balau, apalagi banyak mahasiswa dan mahasiswi yang awalnya enggan ke kantin jadi ikut meramaikan suasana. Dari kejauhan, Via, Maya dan Febri tertawa. Memang dendam itu bukan suatu perbuatan yang baik, tapi ini khan untuk memberi pelajaran bagi orang yang suka jahat, mudah-mudahan aja dia cepat sadar. Boleh nggak yach???

~♥~

            Via berjanji untuk menjemput Audry di rumah sakit. Setelah hampir dua minggu menjalani perawatan intensif, akhirnya hari ini Audry diperbolehkan untuk pulang. Mereka menyambut kabar itu dengan amat sangat gembira. Apalagi setelah diproses selama beberapa hari di kantor polisi, Mira CS dinyatakan bersalah. Mira CS mendekam di penjara selama 2 hari, kemudian mereka dibebaskan karena Audry mencabut surat tuntutannya. Audry memang tidak menghukum mereka dengan mendekam di penjara, tapi biarlah mereka mendapat pelajaran dengan di Droup Out dari kampus tercinta.

Via memarkirkan mobilnya di tempat yang teduh, tak ada Maya dan Febri di sampingnya. Kalau bukan karena Audry yang manja harus dijemput olehnya, ingin rasanya Via berada di rumah Audry bersama Maya, Febri dan orang tua Audry yang sedang mempersiapkan acara penyambutan kepulangan Audry yang kebetulan pada hari ini juga merayakan ulang tahun yang ke-20.

Tanpa semangat Via melangkahkan kakinya di lantai 3, menuju kamar Audry. Hm, bukan Audry yang membuat Via tak semangat, tapi keberadaan Ferio yang seperti parasit bagi Via. Sekeras apapun sikap Via pada Ferio, tak menggetarkan langkah Ferio untuk menarik simpati Via seperti dulu. Dan yang anehnya, ketiga sahabat Via selalu memberi waktu dan kesempatan bagi Ferio untuk mendeati Via. Yach, seperti hari inilah…

“Vi! Koq bengong?” Audry menjentikkan jemari lembutnya ke wajah Via. “Ngapain di situ?” Audry merangkul Via.

“Ih manja!” Via langsung sadar dan melepaskan rangkulan Audry. “Ntar disangka orang kita lesbong lagi.”

“Biarin aja! Lagian Cuma orang bodoh yang menyangka kita lesbong. Aku khan sakit, masa’ kamu tega sich ngebiarin aku jalan sendiri?” Audry mengedipkan matanya genit. “Cuma kamu yang jemput? Yang lain mana? Pada nggak suka ya aku pulang ke rumah.” Raut muka Audry langsung berubah murung.

“Audry, semua orang menanti kedatangan kamu. Tapi mereka nggak bisa jemput karena ada kerjaan. Atau jangan-jangan kamu nggak suka kalau aku yang jemput?” Via pura-pura memasang wajah tersinggung.

Audry jadi merasa bersalah. “Maaf Vi, bukan maksudku begitu. Heran aja koq nggak ada yang menjemput aku, padahal dalam pikiranku bakalan heboh di sini. Tapi ya udahlah, yang penting ada kamu.”

“Ya emang harus ada aku, kamu khan yang minta gitu…”

Audry tertawa. “Iya yach…”

“Udah siap ngobrolnya? Kapan bisa berangkat?” Ferio berdiri di hadapan Via dan Audry dengan muka ditekuk, ternyata sudah lama ia menunggu.

“Oh, eh, maaf. Ini kuncinya…” Dengan canggung Via memberikan kunci mobilnya. Jemari Via bersentuhan dengan jemari Ferio. Jantung Via berdetak tak karuan, ia langsung memasang wajah cuek dan memapah Audry menuju lift terdekat.

~♥~

            Suasana mobil yang dikendarai Via, Audry dan Ferio sunyi senyap seperti kuburan tak ada seorang pun yang berniat membuka percakapan.

“Kalian kenapa sih? Kayak orang asing saja. Kalo nggak mau ngobrol, hidupin musik dong. Mobil ini lebih menyeramkan daripada kuburan tau!” Ucap Audry gemas dari jok belakang.

Secara bersamaan Via dan Ferio menekan tombol ON di DVD mobil Via, otomatis telunjuk mereka saling bersentuhan. Via langsung membuang muka.

“Aduh mesranya. Diam berbarengan. Hidupin DVD berbarengan. Ck…ck…ck…” Goda Audry.

Via mendengus. Wajah Ferio memerah.

“Langsung pulang atau…”

“Pulang.” Via memutus kata-kata Ferio.

“Memang mau pulang koq. Jangan ketus gitu dong jawabnya…” Ferio tersinggung.

Via mengangkat bahu cuek. “EGP.”

Ferio hanya dapat mengelus dada melihat tingkah Via yang semakin ketus padanya. Di balik jok belakang Audry menutup mulut menahan tawa.

~♥~

            Sesampainya di halaman rumah Audry, Via langsung memapah Audry ke dalam rumah. Ketika pintu dibuka, Maya dan Febri langsung menyirami Audry dengan kertas warna-warni yang telah dipersiapkan.

“Selamat datang dan selamat ulang tahun!”

Audry memandang sekeliling rumahnya dengan takjub. Dia pikir semua orang melupakannya, ternyata ada kejutan di balik kecuekan semua orang yang disayanginya itu.

“Makasih yach semuanya…” Ucapnya haru. Maya, Febri dan Audry pun berpelukan seperti teletabis. Tetapi dengan cuek Via memasuki rumah dengan muka masam.

“Kenapa si Via?” Tanya Maya setelah Audry diculik oleh ortu dan saudara-saudaranya, untuk diwawancarai alias ditanya kabar dan lain sebagainya.

Audry mencibir. “Biasalah orang lagi nggak pas.”

“Kenapa?” Tanya Febri yang merasa aneh dengan jawaban Audry.

“Tadi agak panas sama si Fe. Seperti biasa…”

“Ow…” Maya dan Febri mengangguk mafhum.

Kemudian merekapun berbincang-bincang tentang banyak hal seperti sahabat lama yang tersesat di gurun pasir selama puluhan tahun dan kini dipertemukan kembali.

“Jadi hubungan mereka gimana?” Tanya Febri pada akhirnya.

Audry menggeleng. “Aku nggak akan memaksa Via.”

“Mungkin Via lagi butuh waktu untuk menata hatinya. Oia Dry, seingatku dulu Ferio pernah menjelaskan kenapa dia nyakitin Via ke kamu. Terus…”

“Aku tau dan aku akan cerita…”. Audry memotong perkataan maya. “Tapi nggak di sini, di kamarku aja…”

~♥~

            Mereka berkumpul di kamar Audry yang serba coklat, siap mendengarkan cerita Audry yang telah lama mereka tunggu.

“Fe kecewa sama kamu Vi.” Itulah katan pertama yang diucapkan oleh Audry. “Dia merasa kamu tuh nggak cinta sama dia, kamu Cuma mempermainkan dia…”

“Dengan cara apa?” Protes Via.

“Selama ini kamu jarang ada untuk dia, bahkan sampai kalian putus pun kamu belum pernah ngucapin kata-kata cinta. Lalu Riana datang lagi, akhirnya mereka dekat dan pacaran seperti dulu.”

“Cuma gara-gara itu dia nyakitin aku?”

Audry terdiam, mau tak mau dia harus mengangguk karena hanya itulah jawaban yang sebenarnya. “Aku udah ngejelasin semuanya ke Ferio, tapi dia nggak mau peduli. Setelah itu kita bertengkar, aku jadi malas ngomong dengan kalian juga Ferio. Maafin aku…”

“Aku udah maafin kamu dari dulu Dry, aku nggak pernah dendam dan menyesali apa yang udah perjadi. Mungkin ini pelajaran bagiku, setidaknya aku tau kalo Ferio nggak sungguh-sungguh denganku.” Kata Via.

“Ferio serius koq dengan kamu. Cuma kemaren itu dia khilaf, lagian dia juga udah putus dengan si Riana.”

“Kenapa?” Tanya Maya dan Febri serentak.

“Itu dia yang dari dulu pengen aku ceritain. Si Riana itu masih sodaraan dengan Mira, jadi dia itu suruhan Mira CS. Riana dibayar oleh Mira untuk mendekati Ferio lagi dan gimana caranya supaya mereka balikan lagi. Mereka berhasil, akibatnya kita bertengkar seperti ini.” Cerita Audry.

“Ih, si Mira itu jahat banget ya! Nggak ada kapok-kapoknya deh ngerecokin kita.” Ucap Febri kesal.

“Yang penting mereka sudah menerima ganjarannya, biarin ajalah…” Kata Maya sok bijak, padahal biasanya dia yang duluan meledak. “Oia, rencana kita selanjutnya apa?”

“Hm, apa ya? Gimana kalo kita jodohin Via dengan Ferio lagi?” Usul Audry seolah-olah tak ada Via di sana.

“Boleh, boleh…” Febri dan Maya setuju.

“Hm, hm, aku masih ada di sini lhoh… kalian nggak minta pendapatku?” Protes Via.

“Udahlah Vi, iya-kan aja. Ya…ya…ya…” Bujuk Febri.

“Nggak. Aku nggak mau ngulangin kesalahan yang sama. Untuk saat ini biarin aku sendiri dulu, aku pengen sama-sama kalian lagi. Aku mau konsentrasi belajar dan tanpa pacar. Toh tanpa pacra kita juga kebagian jatah oksigen di dunia ini. Ya khan?”

“Ferio gimana? Dia masih mengharapkanmu Vi, dia nyesal banget dengan kejadian ini. Dia juga udah dapat balasannya dengan ditinggalkan oleh Riana. Buka hati kamu sekali lagi Vi, jangan mendendam gitu…” Audry bersikeras membujuk Via.

Via mnggeleng. “Yang aku lakukan bukan karena dendam Vi, tapi demi kemaslahatan kita bersama. Ferio itu sepupu dekat kamu, nanti kalo aku dan dia bertengkar masalahnya bisa ke mana-mana. Jadi sahabat juga nggak akan mengurangi rasa kasih dan sayang koq!”

“Yach, terserah kamu Vi. Aku akan mendukung apapun keputusan kamu. Hm, tapi kamu bilang sendiri ya sama Ferio. Aku nggak tega liat muka kecewanya dia.” Kata Audry pasrah.

Via tersenyum. “Makasih udah ngertiin aku, masalah Ferio biar aku yang selesaikan. Ok?”

Audry menghempaskan nafas lega

~♥~

            Jarum jam menunjukkan angka 7 ketika Via sampai di rumahnya sepulang dari mengantar Oskar les Fisika, saat itu langit mulai menghitam tanda matahari beranjak ke peraduannya.

“Kak Via, ada mas Ferio nih!” Olin memberitahu dari ruang tamu.

Via mendengus, baru saja ia ingin bermanja-manja dengan tepat tidurnya yang empek itu. Dengan malas Via menghampiri Ferio, ia juga belum sempat mengganti baju. “Ngapain ke sini?” Tanya Via ketus.

Ferio yang ingin menyambut Via dengan senyum termanisnya langsung menelan ludah. “Aku tau kamu ngga pengen diganggu, tapi izinkan aku menjelaskan semuanya dari awal. Sebentar aja Vi…”

“Nggak ada yang perlu dijelasin Ferio. Waktu kamu mengakhiri hubungan itu, bagiku penjelasan apapun nggak akan ada yang bisa merubah semuanya. Apalagi saat aku liat kamu kissng denga Riana, aku udah memperoleh apa yang aku butuhkan. Lebih baik kamu pulang, aku lelah.”

“Vi, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku masih sangat mencintai kamu Vi…” Pinta Ferio memelas.

“Maaf Fe, nggak akan ada kesempatan kedua karena ujung-ujungnya pasti akan menyakitkan lagi. Harusnya dari dulu aku batasi imajinasiku tentang kamu, harusnya dari waktu jumpa dengan Riana aku menjauhi kamu, supaya nggak ada yang terluka seperti ini. Udah ya Fe, lupain aku! Lebih baik kita berteman aja…”

“Cuma segitukah perasaan kamu ke aku Vi?”

“Dengan tegas aku bilang, iya. Inilah perasaanku padamu. Udah ya! Kalo kamu masih pengen di sini, tunggu aja Ayah pulang dan main catur dengan beliau.” Via meninggalkan Ferio tanpa perlu menunggu kata-kata apapun yang akan keluar dari bibirnya.

“Aku cinta kamu Vi…” Sayup-sayup Via mendengar teriakan lantang Ferio. Apapun yang Ferio lakukan, tak akan berpengaruh lagi baginya.

~♥~

            Via membuka pesan yang masuk ke ponselnya, dari Ferio…

“AKU SAYANG DAN SELALU MENGHARAPKAN KAMU”

Via langsung men-delete sms dari Ferio, kemudian ia me-non-aktifkan ponselnya. Via membuka diary kesayangannya dan menuliskan semua kejadian yang telah dialaminya beberapa hari ini, Three Days for Hurt…

Dari radio yang diputar Via terdengar suara merdu milik Rossa, Hati yang Telah Kau Sakiti…

Jangan pernah katakan bahwa cintamu hanyalah untukku

Karna kini kau telah membencinya

Maafkan jika memang kini harus ku tinggalan dirimu

Karena hatiku selalu kau lukai

Tak ada lagi yang bisa ku lakukan tanpamu

Ku hanya bisa mengatakan apa yang kau lakukan

Ku menagis membayangkan

Betapa kejamnya dirimu atas diriku

Kau duakan cinta ini, Kau pergi bersamanya

Ku menagis melepaskan

Kepergian dirimu dari sisi hidupku

Harus slalu kau tau akulah hati yang telah kau sakiti

~♥~

                                                                                           Banda Atjeh,  16-06-09, 16:04 PM

Untuk seorang mantan dan segala kekurangan gw.

3 days 4 hurt! Thanks alott 4 hurt me.

Semoga gw gag jumpa laki2 kayak lo, Tenyom!

dan utuk seorang teman, EPH: jangan pernah

sedih karena laki-laki gag penting itu. Cayyyooo!!!

Bangkitlah wahai perempuan. Jangan mau diinjak2

Oleh mereka kaum Adam.

Semangt! Cayyyyooooo!!!

(THE END)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s