Gadis Berlesung Pipi


Aku menyebutnya si lesung pipi. Pertama kali bertemu dengannya di lobby rumah sakit. Aku terpikat oleh senyum manis yang dihiasi sepasang lesung di kedua pipinya. Semenjak itu aku selalu memikirkan dan menunggunya di lobby agar dapat berkenalan. Aku begitu penasaran, mungkin karena paras cantik alami gadis Indonesia yang jarang ku temui, mungkin juga karena wajah pucat dan sorot mata seakan butuh pertolongan. Rasanya aku pernah bertemu gadis itu entah di mana, aku merasa seperti de javu saat bertemu pandang dengannya. Hm. Gadis berlesung pipi… siapakah dan di mana gerangan dirimu berada? Aku tak bisa melupakanmu, benar-benar menyiksa!

“Cewek tinggi, pucat, berlesung pipi dan berambut ikal sebahu? Setau saya tidak ada pasien seperti itu di ruangan ini. Coba Mas Rangga mencarinya di bagian lain.” Jawaban Suster Syla atas pertanyaanku.

Aku mengangguk pasrah. Ini ruangan terakhir pencarianku, dan hasilnya… NOL BESAR! Aku semakin penasaran dengan gadis itu, apalagi hamper setiap malam aku memimpikannya. Sekeliling rumah sakit sudah ku cari, setiap data pasien beberapa bulan ini pun sudah di-chek namun tak ada yang mengenal dan melihatnya.

“Jangan-jangan Cuma halusinasi. Namanya juga rumah sakit, pasti banyak yang ‘aneh’.” Kata Pinkan enteng saat aku menceritakan si gadis berlesung pipi.

Dan untuk kesekian kalinya aku menelan ludah, sebab sebagian orang yang mendengar ceritaku pasti mengatakan hal yang sama.

Tidak mungkin aku berhalusinasi sampai berkali-kali. Pertama bertemu dengannya di lobby hanya melihat wajah pucatnya sekilas. Kedua kalinya, dia tersenyum dengan lesung pipi dalam yang indah. Ketiga kalinya, dia masih tersenyum dengan tatapan yang ah… entahlah. Keempat kalinya dia tersenyum padaku, tapi matanya penuh misteri membuatku ingin mengungkap apa yang terselubung dalam tatapan itu. Sudah empat kali bertemu, di tempat yang sama pula! Aduhhhhh… siapa gadis itu ya? Apa aku mengenalnya?

☼☼☼

Aku melihatnya lagi, kali ini dia sedang termenung di sudut ruangan. Dengan penasaran yang menggebu, ku langkahkan kaki menghampirinya. Beberapa langkah lagi aku bisa berhadapan langsung dengan gadis itu, namun langkahku terhenti saat dia beranjak dari duduknya. Aku mempercepat langkah mengikutinya, dan aku pun kecewa saat gadis itu menghilang di ujung lorong. Ku cari gadis itu di setiap kamar dan ruang perawat, tak ku temukan dia. Tiba-tiba aku bergidik, bulu romaku berdiri dan jantungku berdetak kencang. Cepat-cepat aku pergi dari tempat terakhir melihat gadis itu. Walau tidak percaya tetap saja ada keanehan dengan gadis itu. Aku tak mau membahasnya, takut mimpi buruk.

☼☼☼

Menginjakkan kaki di rumah sakit tanpa semangat. Tadi malam aku tak bisa memejamkan mata setelah bermimpi si gadis lesung pipi itu. Matanya melotot marah karena aku telah mengusiknya, dan sepertinya dia menagih sesuatu padaku. Hm, apa aku punya hutang ya padanya? Lagi-lagi aku merasa familiar dengan wajah itu, aku pernah mengenalnya di suatu tempat.

“Bro, masih mencari si lesung pipi?” Tanya Bonar dengan logat bataknya tanpa mempedulikan wajah kusutku.

“Hm…” Jawabku abstrak.

“Masih mencari nggak?” Tanyanya lagi.

“Kenapa?”

“Kalau ciri-cirinya benar, berarti dia orang yang ku maksud.”

Kepalaku langsung tegak. “Siapa dia? Lo kenal di mana? Bla… bla… bla…” Ku brondong Bonar dengan pertanyaan.

“Sabar lah bro…” Katanya kesal. “Eh, kau ingat sama cewek di ruang UGD yang meraung-raung waktu kita CoAs 3 tahun lalu?”

“Ya, kenapa?”

“Dia meninggal keesokan harinya, waktu itu kau pulang kampung.”

“Lalu apa hubungannya dengan si lesung pipi?”

Bonar memberikan secarik kertas. “Ya dia lah orangnya bro.” Katanya sambil menunjuk photo di sudut kertas.

Aku tersentak, persendianku lemas. Ya memang benar dia si lesung pipi, dia gadis yang menangis padaku karena pendarahan akibat mencoba menggugurkan kandungannya. Dia sempat memberikan sehelai surat dan sebuah cincin padaku. Pantas saja aku seperti pernah melihatnya.

“Tolong berikan pada keluargaku…” Ucapnya lemah kala itu.

Aku tak sempat melanjutkan pembicaraan karena telepon dari kampung yang memberi kabar ayahku meninggal. Karena terpukul aku tak sempat, bahkan aku lupa memberikan amanah terakhir gadis itu. Aku teringat surat dan cincin milik gadis itu, untung masih tersimpan baik di rumah. Cepat-cepat ku tinggalkan Bonar yang bertanya-tanya. Terang saja gadis itu marah, selama ini mungkin dia berusaha memberi peringatan namun tak ku pedulikan karena aku lebih tertarik pada wajah cantiknya. Surat dan cincin itu pasti amatlah penting baginya, bisa saja itu permintaan maaf pada keluarganya. Aku merasa bersalah karena mengabaikan janjiku. Kasihan dia, pasti selama bertahun arwahnya tidak tenang gara-gara surat dan cincin itu.

“Maafkan aku… Akan segera ku berikan surat dan cincin itu pada keluargamu. Tenang saja, pesan terakhirmu masih tersimpan baik…” Kataku dalam hati.

Saat keluar dari halaman rumah sakit, ku lihat si lesung pipi tersenyum padaku.

☼☼☼

4 thoughts on “Gadis Berlesung Pipi

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s