Puing-Puing Kasih (Part 1)


Hujan baru saja reda, menyisakan rintik-rintik kecil yang indah. Serombongan katak tak henti-hentinya berseru agar langit kembali meneteskan rerintikan hujan. Di balik syahdunya suara tetesan air langit itu, seorang gadis duduk bersila di dekat jendela kamarnya yang dibiarkan terbuka. Butir-butir hempasan rerintikan hujan membasahi wajah dan tubuhnya, namun ia tak peduli. Tatapannya nanar, menyisakan puing-puing reruntuhan hatinya yang terhempas oleh gelombang tsunami bernama cinta.

“Ya Allah… betapa cepat Kau memisahkanku dengannya. Aku belum siap untuk kehilangan orang yang sangat ku cintai. Rabbi… bantu aku melewati semua ini…” Gadis itu terisak pelan. Sekuat apapun ia menahan tangis, namun pertahanannya tetap dibobol oleh air mata. Terngiang kembali percakapannya dan teman-teman tadi siang di sekolah. Rasanya ingin menjerit menghadapi mimpi buruk ini…

“Rel, kamu tau gak?” Sinta menatap Aurel iba.

“Ada apa sih? Jangan membuatku penasaran dong! Dan satu lagi, tatapanmu membuatku tak nyaman,” Aurel memonyongkan bibirnya. Terlihat Sinta, Ayu dan Puput berbisik-bisik tepat di hadapannya.

Ayu mendekati Aurel, “Janji gak akan nangis, histeris lalu bunuh diri???” Tanya Ayu serius.

“Ada apa sih?” Aurel semakin tidak mengerti akan sikap ketiga temannya. Melihat tatapan aneh dan khuatir ketiga temannya, mau tak mau Aurel menganggk. “Aku akan histeris kalau kalian gak cepetan cerita.”

“Tapi kamu janji khan Rel?” Tanya Ayu lagi.

“Iya. Cepetan deh! Jangan bikin penasaran gini.”

Puput berdehem sok dewasa. “Begini Rel, kami baru mendapat kabar dari tetangga sepupunya pacar kakak Sinta, katanya Mas Teguh sudah berangkat ke Palestina 3 hari yang lalu…”

Deg!!! Jantung Aurel serasa mau copot. Kalau bukan karena janjinya pada teman-teman, mungkin tangisnya sudah pecah bahkan mungkin ia akan tergeletak pingsan.

“Kamu jangan sedih ya Rel, masih ada kita di sini yang selalu sayang padamu. Mas Teguh pasti akan kembali dalam waktu dekat.” Ayu menggenggam tangan Aurel.

Aurel tersenyum. “Aku gak apa-apa koq. Kalian jangan khuatir. Lagipula Mas Teguh sudah pernah membahas tentang ini, hanya saja aku tidak tau mengapa dia pergi secepat ini tanpa pamit? Mungkin dia masih marah padaku. Btw, Mas Teguh mau jadi relawan ya?”

“Yang aku dengar sih…” Perkatan Sinta terpotong oleh raungan bel yang memekakkan telinga. “Ntar aja deh disambung ceritanya.” Sinta bergegas pergi, maklum saja kelasnya terletak paling jauh di antara kelas teman-temannya.

“Aku duluan ya…” Ayu berlari mengikuti Sinta yang berjalan cepat.

“Rel, aku duluan ya! Kebelet nih…” Puput pun berlari menuju toilet terdekat.

Kini tinggallah Aurel sendiri. Sebenarnya masih ada beberapa pasang sejoli yang masih betah bercengkrama di taman ini, namun Aurel merasa kalau dirinya sedang benar-benar sendiri. Setetes bening jatuh di pipi dan langsung dihapus oleh punggung tangannya. Aurel menatap ke sekeliling, sudah mulai sepi. Aurel pun beranjak menuju kelasnya tanpa menyadari sepasang mata tengah mengamatinya dari kejauhan.

“Apa gerangan yang membuatmu menangis wahai Rembulan?” Sepasang mata itu milik seorang pemuda, siswa baru pindahan dari Semarang. Semenjak resmi satu sekolah dengan Aurel, pemuda itu selalu memperhatikan Aurel dari kejauhan. Entah mengapa ia begitu tertarik pada gadis yang dipanggilnya rembulan itu. Keputusan pemuda itu untuk pindah ke Bandung bukan karena Aurel, bahkan dia baru mengenal Aurel dua minggu yang lalu saat masuk ke sekolah barunya.

Sejak kecil pemuda itu tinggal di Semarang bersama Kakek dan Neneknya. Dan sejak kecil pula ia tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya, bukan karena ia tak bertanya namun tak ada seorang pun yang akan menjawabnya. Ketika kakek dan neneknya meninggal, pemuda itu memutuskan untuk hijrah ke Bandung untuk mencari tau keberadaan kedua orang tuanya. Pemuda itu tinggal bersama Om Anton, anak sulung Kakek-Neneknya. Walaupun keluarga Om Anton tidak suka padanya, pemuda itu tetap bertahan demi mencari keluarganya. Keinginannya mengarungi seluk beluk kota Bandung semakin kuat ketika berjumpa sang Rembulan yang mampu menggetarkan hati yang selama ini beku.

ΩΩΩ

“Rel…”

“Ada apa put?”

“Kamu gak penasaran dengan cerita kita tadi?”

Duh… Mengapa mimpi buruk ini masih berlanjut? Tak bisakah Aurel bernafas tenang tanpa memikirkan kepergian Teguh? Lagi-lagi senyuman manis pemuda bernama ‘Teguh’ muncul di memori Aurel. Ia semakin tak kuasa untuk melepas bayang-bayang indah itu. Sejenak Aurel terdiam, memutuskan untuk melanjutkan atau menutup cerita ini di lubuk hatinya yang terdalam. “Aku rasa sebaiknya kita melupakan cerita ini. Kita lupakan semua hal yang berkaitan dengan Mas Teguh. Aku gak penasaran dengan kelanjutan cerita itu, karena cerita itu seharusnya sudah tutup buku.”

“Kamu yakin Rel?”

Aurel mengangguk mantap. “1000 persen yakin. Sudah ah… kita bahas cerita lain saja, asal bukan tentang Teguh.”

“Tapi Rel…”

“Please Put, tolong pahami aku…” Pinta Aurel iba.

Mau tak mau Puput mengalah.

ΩΩΩ

Bel tanda istirahat berbunyi. Murid-murid bersorak gembira. Mereka berhamburan ke luar kelas, meninggalkan para guru yang mungkin belum menyelesaikan kewajibannya. Tujuan mereka bermacam-macam, dari mulai ke perpustakaan sampai yang mojok dengan pasangannya. Kalau siswa yang strata ekomominya menengah ke bawah paling-paling memanfaatkan waktu istirahat dengan membaca di perpustakaan, membuat tugas atau nongkrong dengan teman-teman mereka yang ‘sekelas’. Sedangkan siswa yang strata-nya tinggi akan menghabiskan waktu mereka di kantin sekolah yang mewah sambil mengejek siswa lain yang berada di bawah mereka. Sangat jelas seperti apa status sosial yang dikotak-kotakan oleh keadaan di sekolah ini. Hm…

Ketika semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, empat orang gadis kelas  II SMA sedang bersantai di taman sekolah yang rindang oleh pepohonan.

“Eh, udah pada dengar gossip ter-hot saat ini? Pasti belum dong…” Sinta membuka percakapan.

Sontak Ayu dan Puput jadi penasaran. “Gosip hot apaan sih? Buruan kasih tau kita…” Kata Ayu.

“Hm… kasih tau gak ya? Hm… hm…”

Puput pun melotot atas ke-sok-misteriusan Sinta.

“Sin, lanjut cerita atau kamu jadi santapan makan siang si Puput. Kamu gak lihat apa matanya udah mau copot gitu…” Ayu mengingatkan.

Sinta tertawa. “Iya deh, sorry… Cuma pengen tampak misterius aja kok…”

“Mau cerita atau digebukin massal?” Ancam Puput.

“Iya deh… penasaran amat sih? Lihat Aurel dari tadi… eh Rel, kamu kenapa? Sakit? Kok diam aja?” Sinta jadi heboh sendiri melihat Aurel yang diam, wajahnya kusut dan matanya sembab. Ayu dan Puput pun ikut-ikutan memperhatikan Aurel.

“Aku gak apa-apa. Lanjutin deh ceritanya, aku juga penasaran.” Aurel berbohong. Padahal sama sekali dia tak paham apa yang sedang dibicarakan dan diributkan teman-temannya.

“Benaran gak papa? Kalau sakit biar kita ke UKS, atau kalau kamu mau kita bisa antar kamu pulang.” Kata Puput.

Aurel menggeleng. “I’m really-really fine.”

“Oke deh.” Puput agak tenang. “Lanjut Sin ceritanya…”

“Ini tentang murid baru yang menghebohkan itu. Dia dipindahkan ke kelasku. Ya ampun… orangnya cute banget. Setelah lama aku pandangin, ternyata dia itu dulu anggota grup Band ‘NEWMOON’. Kalian tau khan drummernya yang imut itu? Dia ada di sekolah kita sekarang, bahkan dia sekelas denganku. Ya Tuhan… mimpi apa aku tadi malam?” Sinta mencubit lengan Ayu.

“Aduh! Sakit sinta!” Ayu membalas cubitan cinta.

“Ternyata aku gak lagi mimpi.” Sinta tersenyum. “Aku penasaran banget sama si anak baru itu, makanya aku lihat profilnya di internet. Dia itu ketua tim basket di sekolahnya yang dulu, terus sering dikirim ke luar negeri untuk turnamen Taekwando. Jarang-jarang khan ada anak muda yang berbakat seperti dia.”

“Benar kata kamu Sin. Dan kalau dipikir-pikir, dia mirip banget dengan Mas Teguh. Udah tampan, pintar, berbakat pula. Bedanya Mas Teguh bukan anak band, tapi anak nasyid. Terus Mas Teguh itu masternya silat di sekolah kita.” Tanpa sadar Puput membandingkan Teguh dengan si Murid Baru. “Dan kalau dipikir-pikir lagi, si anak baru itu bisa deh jadi kandidat pengganti Mas Teguh. Ya khan Rel?”

Sinta memelototi Puput yang asal bicara. Melihat gelagat yang tak menyenangkan, Ayu pun mengganti topik dengan bertanya nama si murid baru tersebut.

“Namanya Zikri Kurniawan H…” Kata Sinta.

“Dia pasti orang batak.” Tebak Ayu.

“Tau dari mana? Di profil-nya dia orang Jawa koq.”

“H itu pasti singkatan Harahap atau Hasibuan.”

“Sotoy kamu!” Sinta menjitak kepala Ayu. “Tadi sih ada yang bertanya arti huruf H-nya dia, tapi Cuma dijawab dengan senyuman. Jangan-jangan H itu singkatan dari Hantu…”

“Bisa juga singkatan dari Hahaha…” Kata Puput asal.

Puput, Sinta dan Ayu pun tertawa.

“Hai. Boleh gabung? Meja di kantin penuh, terpaksa deh pindah ke taman.” Ucap seorang pemuda tampan dengan sopan. Pemuda itu tersenyum memamerkan giginya yang putih dan berderet rapi. Di sampingnya ada Indra yang yang tak kalah tampan, wajar saja kalau dia masuk ke jajaran 10 most wanted di sekolah.

“Hai juga. Silahkan duduk… bangkunya kosong koq.” Kata Sinta salah tingkah dan tidak menyangka orang yang sedang digosipi sekarang berdiri tepat di hadapannya. “Guys! Kenalin ini Zikri dan Indra, teman sekelasku.”

“Zikri yang sedang kamu ceritakan? OMG…” Ayu yang polos benar-benar terkejut sampai-sampai keceplosan. “Ops… sorry Sinta…”

Zikri tersenyum. “Lagi gosipin aku rupanya. Hm, tapi gosipnya yang bagus-bagus khan Sin?” Zikri menatap Sinta yang semakin salah tingkah.

“Eh, silahkan duduk…” Kata Sinta.

Begitu dipersilahkan oleh Sinta, Indra langsung duduk di samping Ayu. Sudah lama Indra menaruh hati pada gasis tionghoa itu. Ayu yang selama ini diam-diam mengagumi Indra pun jadi salah tingkah plus senang tiada tara.

Sementara Indra menikmati kedekatannya dengan Ayu, Zikri memutuskan untuk menghampiri Aurel. Wajah cantik Aurel yang berbalut kerudung putih tampak sedih dan terluka. “Hai… boleh duduk di sampingmu?” Tanya Zikri ramah, namun Aurel tak bergeming. “Anak gadis pamali lhoh melamun di siang bolong…” Canda Zikri.

Puput menepuk bahu Aurel yang langsung sadar dari lamunannya. Aurel terkejut ada seorang pemuda yang wajahnya begitu dekat dengannya. “Eh ada apa?” Tanya-nya polos membuat semua orang tertawa kecuali Zikri.

“Boleh aku duduk di sampingmu?” Tanya Zikri.

“Oh silahkan…” Seulas senyum simpul mengembang.

Zikri bernafas lega. Ia pun duduk di samping Aurel. “Aku Zikri. Kamu?” Zikri menatap Aurel.

“Aku Aurel Sartika Herawati. Panggil aku Aurel.”

“Nama yang bagus dan cantik, secantik orangnya.” Puji Zikri tulus.

Aurel tersipu, wajahnya memerah. “Nama kamu juga bagus.”

“Thanks. Oh ya, kamu siapa?” Tanya Zikri pada Puput.

“Aku Puput. Panjangnya Siti Putri Islami Pasha.”

Zikri tertawa kecil. “Benar-benar panjang nama kamu.” Lalu Zikri mengarahkan pandangannya pada gadis di samping Indra. “Kamu yang imut-imut siapa?”

“Aku Melanie Ayushita. Teman-teman memanggilku Ayu, soalnya kalau dipanggil Sinta ntar ada yang ikutan menjawab.”

Sinta tertawa menanggapi guyonan Ayu. “Kalau aku udah kenal khan? Kareena Mahashinta.”

Puput dan Ayu langsung mencibir melihat sahabatnya yang ke-pede-an. Alhasil mereka bertiga pun ribut sambil saling mengejek satu sama lain.

Zikri menatap keempat gadis di depannya. Aurel yang tampak anggun dengan busana muslimah, namun wajahnya selalu murung beberapa hari ini. Puput yang tomboy dan sedikit kasar, namun baik hati dan setia kawan. Si gadis Tionghoa yang imut-imut, Ayu. Lalu si centil Sinta yang hitam manis, keturunan India. Mereka berempat punya karakter berbeda namun bersatu dalam persahabatan. Apalagi Aurel dan Puput yang sudah bersahabat sejak kecil. Padahal mereka sempat berpisah karena orangtua Aurel pindah ke Medan, lalu takdir mempertemukan mereka kembali di bangku SMA.

Bel menjerit menghentikan aktivitas Zikri mengamati teman-teman barunya. Sebenarnya Zikri enggan beranjak ke kelas, ia ingin dekat dengan Aurel. Namun apa daya, sang guru BK sudah menunggu di tengah lapangan dengan wajah sangar dan sebuah rol panjang yang kalau mengenai betis akan menyisakan memar berwarna merah. “Thanks sudah memberi kami tempat. Senang berkenalan dengan kalian…” Zikri mengajak Indra pergi. “You are the most beautiful girl I’ve see…” Bisik Zikri yang membuat wajah Aurel bersemu merah.

“Cie… cie…” Ayu, Sinta dan Puput menggoda Aurel, namun hanya ditanggapi dengan senyum hambar.

ΩΩΩ

Jarum jam menunjukkan angka 6. Sang mentari pun dengan gagah menduduki singgasananya. Sinar lembutnya menerpa makhluk alam, membuat aktivitas manusia yang sempat terhenti berjalan kembali. Begitu juga di dalam sebuah rumah sederhana namun selalu tentram, Aurel dan kedua adiknya sedang sarapan. Sedangkan kedua orang tua mereka berada di Medan mengurus bisnis keluarga.

“Mbak Aurel, tadi malam ada telepon.” Aufa, adik kedua Aurel yang duduk di kelas III SLTP melapor. “Aku sengaja gak membangunkan, soalnya aku lihat Mbak Aurel kelelahan.” Aufa mengunyah nasi goring buatan Aurel. Walaupun di rumah mereka ada pembantu, Aurel dan adik-adiknya tetap harus mandiri dalam segala hal. Sejak kecil mereka sudah didik untuk ber-akhlakul karimah.

“Iya gak papa koq. Telepon dari siapa?”

“Hm, kalau gak salah sih namanya Teguh…”

(TO BE CONTINUED)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s