End-Dhita (Part 2)


Cerita Sebelumnya:

Dhita masuk ke kelas barunya dengan kesan yang tidak baik, apalagi ada Kelana yang selalu mengganggunya. Untung ada seorang pemuda bernama Leo yang selalu melindungi Dhita dari keusilan Kelana dan teman-teman.

Diam-diam Dhita mulai menyukai Leo karna pemuda itu memberikan perhatian dan kasih sayang yang selama ini jarang Dhita dapatkan dari orang lain kecuali ibunya.

Keusilan Kelana semakin parah, dia datang ke rumah Dhita dan tampak akrab dengan Mama. Kelana juga mulai mencampuri urusan pribadi Dhita dan Leo. Itu karena Kelana tidak suka perubahan Dhita semenjak dekat dengan Leo. Dhita bukan seperti dirinya lagi, dia berubah menjadi orang lain yang palsu dan malah mempermalukan dirinya sendiri.

Akhirnya impian Dhita terwujud, Leo mengutarakan perasaannya. Kini Dhita resmi menjadi kekasih orang nomor satu di sekolah, yaitu Leo…

***

Dhita hanya bisa pasrah saat Kelana datang ke rumahnya malam ini, padahal Dhita punya janji dengan Leo. Mama juga tampak senang dan akrab dengan Kelana, sepertinya ini bukan pertama kali Kelana mendatangi rumah Dhita. Melihat keakraban mama dan Kelana, Dhita jadi tambah keki. Ingin menjerit tapi tak bisa, apalagi marah.

“Ngapain sih kamu ke sini?!!” Akhirnya kesempatan berdua dengan Kelana datang juga.

“Gue bosan di rumah, gue main ke sini aja…” Jawab Kelana enteng.

“Kamu pikir rumahku taman hiburan? Cepat pulang sana! Aku ada janji dengan seseorang.”

“Leo?”

“Bukan urusanmu!”

“Jadi urusan gue kalau menyangkut si kunyuk itu.”

Dhita melotot. “Dari pada sibuk ngurusin orang, lebih baik kamu urus diri sendiri yang gak benar. Lihat gayamu yang urakan, rambut panjang, tindik di telinga, bicara gak pernah pakai sopan santun. Asal kamu tau, leo itu ribuan kali lebih baik dari kamu.”

Kelana tertohok dengan perkataan dhita. Dia tak mau memperpanjang urusan karena dhita langsung beranjak pergi setelah menerima panggilan dari leo. Kelana menatap punggung dhita yang semakin menjauh.

***

Hari ini ada yang tak biasa dari penampilan dhita. Gadis tambun itu kelihatan lebih feminim dengan bando, kalung dan gelang berwarna pink. Wajahnya pun diwarnai dengan riasan yang membuat semua mata terpana. Bukan karna terpesona tapi terkejut mengapa tiba-tiba ada badut nyasar di sekolah. Pantas saja seluruh teman sekelas menertawakan dhita, apalagi kelana blak-balakan mengejek.

Melihat perlakuan teman-teman, dhita pun menangis. Bukannya bersimpati, mereka malah semakin tertawa keras melihat wajah dhita yang belepotan maskara.

Kelana tak tega melihat dhita diejek oleh teman-teman, dia menarik dhita keluar kelas.

“Apa-apaan sih? Lepasin tanganku!” Dhita meronta.

Dengan enteng kelana melepaskan cengkraman tangannya. “Otak lo ketinggalan di rumah ya?”

Dhita memandang kelana tak suka. “Sudahlah to the point saja. Apa kurang puas mempermalukanku di depan teman-teman? Kalau kamu bawa aku ke sini untuk dihina, jangan harap aku akan diam.”

“Lo kenapa sih? Dulu lo gak begini. Asal lo tau ya, sekarang ini lo sama percis kayak badut. Bukan gue yang mempermalukan lo, tapi lo sendiri yang dengan suka rela mempermalukan diri lo sendiri.” Kelana memegang pundak dhita, matanya menatap mata dhita dengan lembut. “Penampilan fisik bukanlah segalanya…” Kelana menyentuh dadanya. “Di sini yang paling penting. Dan itu ada di lo yang dulu.” Kelana langsung meninggalkan dhita.

Dhita berdiri lemas sambil memejamkan matanya. Di tangannya ada sebuah cermin kecil dan sehelai sapu tangan yang diberikan kelana sebelum pergi. Dhita melihat wajahnya di cermin, air matanya kembali mengalir. Setidaknya itu membuat wajahnya basah dan mempermudah membersihkan riasan di wajahnya. Dhita mengisak pelan, dia sangat malu pada semua orang. Diam-diam kelana melihatnya dari balik tembok.

***

“Aku dengar kelana mempermalukanmu lagi ya?” Tanya Leo keesokan hari. “Anak sombong sok berkuasa itu akan ku beri pelajaran!” Leo berdiri sambil mengepalkan tangan.

Dhita mencegah Leo. “Aku yang salah bukan dia. Kelana benar, aku yang sudah mempermalukan diriku sendiri. Tolong jangan membuat keributan.”

Leo menghempas nafas. “Oke. Kali ini aku tak akan membalasnya, tapi kalau lain kali dia mengganggumu lagi… Aku tak akan tinggal diam!”

Dhita menelan ludah melihat amarah Leo. Tak biasanya Leo yang lembut seperti itu. Namun di hati dhita yang terdalam, ia juga senang karena ternyata Leo begitu menyayanginya.

***

Pagi yang indah. Apalagi bila ditemani oleh kicauan burung, semilir angin dan harum bunga melati di halaman rumah. Seperti itulah yang sedang dhita rasakan saat ini. Senyuman tak pernah lekang dari wajahnya, dhita juga menyanyikan beberapa lagu cinta. Suasana hatinya sangat baik hari ini.

Mama senang melihat dhita yang bahagia, tidak murung seperti biasa. Tak mau mengganggu dhita, mama cepat-cepat berangkat ke kantor.

***

Ternyata leo-lah yang membuat dhita begitu bahagia. Tadi malam pemuda tampan itu mengutarakan perasaannya, bahkan dia meminta dhita untuk menjadi kekasihnya. Gadis mana yang akan menolak lelaki perfect seperti leo, apalagi dhita yang selama ini hanya menjadi pengagum tanpa dikagumi. Tadi malam, dhita dan leo resmi menjadi sepasang kekasih.

Di balik senyuman dhita, rupanya gadis itu khuatir dan takut dengan tanggapan murid-murid di sekolah yang pastinya fans leo. Dhita takut dia akan menjadi musuh semua orang seperti di televisi. Seorang gadis buruk rupa berpacaran dengan siswa nomor 1 dan paling berpengaruh di sekolah, apa kata dunia??? Dhita tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi nanti, yang pasti rambutnya pasti rontok karna dijambak beberapa orang. Nyali dhita pun ciut.

Tak lama kenudian Dhita menghela nafas. Tekadnya sudah bulat! Apapun yang terjadi ia harus tetap ke sekolah karna memang tak ada alasan untuk bolos hari ini. Leo pun sudah berjanji akan menjaga dan melindungi dhita.

***

“Dhita… Sini!!!” Sebuah tangan menarik dhita menjauhi kerumunan siswa.

“Sitta? Ada apa sih? Bikin aku kaget aja…”

“Sssssttttt…” Sitta menutup mulut dhita. “Jangan berisik! Sekolahan lagi ngeributin kamu dan leo. Jawab yang jujur ya dhit… Kamu pacaran sama leo?”

Dhita mengangguk sambil tersipu malu. “Baru tadi malam…”

Sitta kecewa. Dia segera mengganti topik pembicaraan, namun dhita kembali membahas tentang hubungannya dengan leo. Sitta tak bisa menampik kalau dirinya kecewa, namun dia juga tidak bisa menyalahkan dhita apalagi marah pada sahabatnya itu.

“Dhit, kamu tunggu di sini. Aku telepon kelana untuk menjemput kita.”

Dhita mengerutkan dahi. “Kenapa harus kelana sih? Aku bisa kok telepon leo…”

“Eh itu kelana. Kelana! Sini…” Perkataan Dhita terpotong karna Sitta memanggil kelana.

“Kayaknya ada yang baru jadian nih… Pantesan saja sekolahan jadi heboh.” Sindir kelana sambil melirik dhita dengan sikap angkuhnya.

Dhita terdiam dan menundukkan kepala.

“Kok diam? Terlalu senang makanya gak bisa bicara?”

Dhita tak menyahut.

“Lo pasti senang banget bisa jadian sama cowok paling TOP di sekolah. Wow… Gak kebayang deh gimana rasanya jadi cewek kayak lo…”

(TO BE CONTINUED…)

5 thoughts on “End-Dhita (Part 2)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s