Bara di Hari Qhisya (Part 1)


Prolog :

Qhisya menatap nanar sepasang gundukan bertanah merah basah di hadapannya. Tak dapat dibayangkan oleh gadis berumur 9 tahun itu, ayah dan bundanya berbaring kaku di dalam tanah. Baru kemarin Qhisya merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua, kini semua terasa hampa, ayah bundanya telah tiada. Tanpa sepatah kata pun mereka meninggalkan Qhisya, untuk selamanya…

Qhisya mengusap air mata yang tiada henti mencurahkan sebuah tangisan menyanyat kalbu. Tak kuasa menahan tangis sedihnya, Qhisya pun tergelak pingsan di pusara Bundanya.

“Sayang… bangun nak…”

Sayup-sayup Qhisya mendengar sebuah suara bernada khuatir, tepat di sampingnya. “Bunda… Qhisya mimpi buruk…”

“Sayang, ikhlaskan semuanya. Bunda sudah meninggalkan kita semua, begitu juga ayah. Mereka sudah tenang di sana…”

Bagai tersengat listrik jutaan Volt, Qhisya tersentak dan menjerit, “Mana Bunda dan ayah??? Qhisya mau Bunda dan Ayah! Tolong jangan tinggalin Qhisya!”

Oma memeluk Qhisya erat, air matanya terus bercucuran melihat nasib cucu kesayangannya, “Qhisya sayang, jangan seperti itu… biarkan ayah dan bunda tenang. Suatu saat Qhisya pasti berjumpa dengan ayah dan Bunda…”

“Qhisya mau ayah dan bunda sekarang!”

Oma memandang Qhisya iba. Ia tak sanggup menahan harunya. “Sasti…” Oma memanggil Tante Sasti, adik Bundanya.

“Iya Ma…”

“Tolong kamu bujuk Qhisya ya nak, Mama gak tahan melihatnya seperti ini.” Oma mengisak di pelukan salah seorang kerabat.

Tante Sasti mendekati Qhisya, memeluknya erat selayaknya seorang ibu memeluk anaknya. “Qhisya jangan menangis yach, nanti ayah dan bunda sedih melihat Qhisya seperti ini. Coba Qhisya lihat sekeliling, semua orang sayang sama Qhisya seperti sayangnya ayah dan bunda…”

“Gak! Ayah dan Bunda gak sayang sama Qhisya! Mereka ninggalin Qhisya gara-gara Qhisya dapat ranking 3. Qhisya udah buat ayah dan bunda marah.”

Tante Sasti mengeratkan pelukannya, “Ayah dan Bunda gak marah, mereka hanya pergi sejenak. Suatu saat Qhisya pasti dijemput oleh ayah dan bunda. Nanti mereka bawakan Qhisya mainan yang banyaaaak bangeeettt…”

Mata indah Qisya sedikit berbinar, “Benar tante? Ayah dan Bunda akan jemput Qhisya?” Tanyanya dibalik isak tangis.

Tante Sasti membelai rambut keponakannya, “Pasti mereka akan menjemput Qhisya suatu saat nanti…”

“Kok tante tau? Tadi bunda telepon tante ya?”

“Iya sayang. Kata bunda, Qhisya jangan bersedih karena bunda dan ayah gak suka lihat Qhisya menangis. Mereka ingin Qhisya tersenyum seperti biasa..”

Qhisya menghapus air matanya dengan punggung tangan kecilnya. Ia tersenyum begitu manis.

∞∞∞

3 tahun kemudian…

Qhisya berdecak kagum melihat bangunan megah di hadapannya. Sebuah pamplet besar nan indah bertuliskan SMP Swasta Taman Bahagia menghiasi bagian depan bangunan tersebut. Tak henti-hentinya Qhisya bertanya kepada tantenya apakah ini adalah sekolah barunya?

“Bagaimana sekolahnya?” Tanya tante sasti.

“Keren. Oma pasti kagum dengan sekolah baruku.”

Tante sasti tersenyum, “Sekalian kamu bujuk Oma supaya mau hijrah ke Jakarta. Supaya kita semua berkumpul di sini.”

“Iya, ntar aku bujuk oma dech…”

“Ayo kita masuk sayang, pasti sudah ditunggu kepala sekolah.”

Qhisya mengekor di belakang tante sasti masih dengan ekspresi kagum.

Setelah berbicara dan menandatangani beberapa surat, tante sasti pun meninggalkan Qhisya bersama beberapa orang guru. Kemudian Qhisya pun diantar ke kelas barunya, kelas II-1.

∞∞∞

Bersambung…

Baca juga: Bara di Hati Qhisya (Part 2)

2 thoughts on “Bara di Hari Qhisya (Part 1)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s