Bara di Hari Qhisya (Part 2)


Hari-hari Qhisya di sekolah barunya sangat menyenangkan. Apalagi teman-teman di kelas barunya itu sangat baik dan ramah padanya. Baru sehari di sekolah itu, Qhisya telah mendapatkan seorang teman yang asyik, namanya Icha. Langsung saja Qhisya merasa betah tinggal di Jakarta walaupun harus berpisah ribuan kilometer dari neneknya.

“Hai Qhisya! Lagi apa?” Sapa seseorang di seberang telepon.

Pasti Icha. “Lagi golek-golek di kamar. Btw kok kamu tau nomor telepon rumahku?”

Icha tertawa. “Icha gitu lhoh… apa sich yang gak bisa aku lakukan? Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, gak ada. Kenapa Cha?”

“Aku mau ngajak kamu ke pameran lukisan di gedung depan sekolah. Bisa?”

“Pameran lukisan? Wah… aku suka banget! Jam berapa?”

“Jam 5. Ketemuan di sana ya Sya…”

“Oke,” Qhisya menutup gagang telepon dan tersenyum. Mengingat pameran lukisan, Qhisya jadi teringat hobby melukisnya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Qhisya jadi ingin melukis lagi seperti dulu saat kedua orang tuanya masih hidup. Tak terasa air mata Qhisya menetes. “Kangen Ayah-Bunda…” Isaknya pelan.

∞∞∞

Gedung Kesenian pukul 17.00…

“Wah… keren-keren banget lukisannya…” Qhisya takjub dengan keindahan yang terhampar di hadapannya.

Icha melirik Qhisya, lalu kembali ke aktivitasnya melihat-lihat mahakarya indah buatan manusia itu. Mata Icha dengan ‘jalang’ menelusuri setiap lukisan. Ternyata Icha sedang mencari lukisan yang didaftarkannya untuk mengikuti lomba melukis antar SMP se-kota Jakarta. Tiba-tiba mata Icha melihat sebuah lukisan yang sangat dikenalnya, Ia pun menarik Qhisya menuju lukisan tersebut.

“Cuma juara II…” Katanya kecewa. Raut wajah cantiknya langsung tak bersemangat. Tapi tiba-tiba Icha teringat siapa yang menjadi juara I, Ia sangat ingin tau siapa orang yang telah mengalahkannya padahal selama ini Icha tak pernah terkalahkan oleh siapa pun.

“Kenapa sih Cha?” Tanya Qhisya yang heran dengan sikap teman barunya itu.

“Itu lukisanku Sya…” Icha menunjukkan lukisannya.

“Wah… bagus banget…” Puji Qhisya terkagum-kagum.

“Tapi hanya juara II…”

“Lukisan sebagus ini?”

Icha mengangguk. “Makanya aku mau melihat lukisan peraih juara I, penasaran bagaimana bentuk dan milik siapa.”

“Oh begitu… ya sudah kita cari saja. Kalau juara I pasti akan diletakkan di tempat yang mencolok, sehingga semua orang dapat melihatnya.” Usul Qhisya.

Qhisya dan Icha mempertajam indra penglihatan mereka untuk mencari lukisan peraih juara I. Tepat di sebuah lukisan yang menggambarkan sebuah gunung berhamparkan kabut tipis dan dikelilingi oleh rangkaian bunga Edelweiss sang bunga abadi…

“Lhoh  ini khan lukisanku…” Kata Qhisya polos.

Mata Icha terbelalak. Bukan pada lukisan yang ternyata milik Qhisya, tapi pada tulisan yang bertengger di samping lukisan itu ‘JUARA I’. “Yakin ini lukisanmu?”

Qhisya mengangguk. “Aku sangat yakin! Ini lukisan terakhirku 3 tahun yang lalu bersama Ayah dan Bunda di lembah Mandalawangi. Seminggu kemudian mereka meninggal dan aku tidak pernah melukis lagi.”

Icha menyimak setiap perkataan teman barunya itu. Mungkin Icha iba pada nasib Qhisya yang begitu cepat ditinggal oleh kedua orang tuanya, tapi kenyataan bahwa Qhisya adalah ‘rival’ beratnya lebih menohok bathin. “Selamat Sya, lukisan ini memang pantas menjadi jawara…” Kata Icha tulus.

“Maaf ya Cha, aku jadi gak enak sama kamu. Sebenarnya aku gak tau siapa yang mendaftarkan lukisan ini, padahal aku saja sudah tak ingat akan keberadaannya…”

“Oh ya? Memangnya lukisan ini kamu letakkan di mana?”

“Di gudang rumah omaku di Medan. Kenapa bisa ada di Jakarta ya? Siapa yang membawanya? Hm, Cha… sekali lagi aku minta maaf…”

Icha tersenyum. “Aduhhh Qhisya… aku gak punya banyak stok maaf untuk aku berikan padamu.”

Qhisya tertawa. “Thanks ya Cha.”

“Dari pada kamu minta maaf terus, bagaimana kalau kita menemui panitia untuk mengambil hadiah kita. Yuk…”

“Kita?”

“Iya, kita. Apa kamu gak penasaran dengan orang yang sudah mendaftarkan lukisanmu itu?”

Qhisya menggeleng, “Siapa pun orang yang melakukannya, aku gak peduli! Biar saja dia yang mengambil hadiahnya.”

“Tapi ini khan plagiat Sya?”

“Lukisan itu sudah aku buang, sama seperti lukisan-lukisanku yang lainnya. Karena lukisan itu ayah dan bunda pergi untuk selamanya…”

Icha terdiam. “Oke. Kalau begitu temani aku ke tempat panitia untuk mengambil hadiahku. Sekalian mau mengintip siapa sih yang sudah mendaftarkan lukisanmu, sekedar mengintip lhoh…”

Qhisya mengangguk.

∞∞∞

Icha menarik teman barunya itu menuju meja panitia. Rasa penasarannya begitu menggebu-gebu sehingga tanpa disadarinya tangan Qhisya telah terlepas. Sesampainya di meja panitia, Icha baru sadar kalau temannya itu hilang. Namun Icha tak peduli, toh Qhisya pasti mencari atau menunggunya di pintu keluar.

“Mbak, saya Marissa Hutomo perwakilan dari SMP Taman Bahagia. Ini nomer pendaftaran saya.” Kata Icha seraya memberikan sebuah kartu berwarna biru.

“Selamat ya Marissa, kamu juara II. Saya sudah melihat lukisanmu, indah sekali.” Kata panitia di hadapan Icha, namanya Dewi Lestari.

Icha tersenyum. “Terima kasih. Kalau saya boleh tau, siapa yang menjadi juara I mbak? Saya ingin berkenalan.” Icha berbohong.

“Sebentar ya, saya lihat di daftar dulu,” Dewi membuka sebuah buku. “Atas nama Edelweiss.”

“Edelweiss? Apa dia sudah melapor ke panitia?”

Dewi menggeleng. “Bahkan kami sudah menghubungi nomor ponselnya, tapi tidak aktif. Padahal hadiahnya lumayan lhoh…”

“Oh begitu… kira-kira mbak tau ciri-ciri orangnya? Maksud saya laki-laki atau perempuan?”

“Wah saya kurang tau dik, soalnya peserta lomba ini hampir dua ratusan.”

Icha kecewa. “Kalau begitu, boleh saya minta nomer ponselnya? Ada yang ingin saya tanyakan.”

Dewi tersenyum. “Maaf dik, kami dilarang memberitahukan informasi pribadi dari peserta…”

“Tapi mbak, saya sangat ingin bertemu dengan orang itu. Please…”

“Hm, bagaimana yach? Kamu tunggu di sini sebentar ya, saya tanyakan dulu pada ketua panitia.”

Icha mengangguk. Ketika Dewi beranjak dari kursinya, sebuah ide tercetus di pikiran Icha. Kebetulan di meja panitia tidak ada orang, Icha pun memberanikan diri untuk membuka buku pendaftaran demi mencari sebuah nomor ponsel bernama Edelweiss.

“Maaf dik, saya tidak…” Dewi hendak berbicara tetapi Icha sudah hilang dari pandangannya. “Dasar remaja jaman sekarang! Tidak tau sopan santun.” Katanya kesal.

∞∞∞

BERSAMBUNG…

2 thoughts on “Bara di Hari Qhisya (Part 2)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s