Nasehat Seorang Ayah kepada Putrinya


        Wahai  Putriku…

            Ingatlah engkau, bahwa prialah yang pertama melangkah menempuh jalan dosa, bukan wanita. Tetapi ingat pitriku… bahwa tanpa kerelaanmu dan tanpa kelunakan  sikapmu, mereka tidak akan berkeras melangkah maju. Putriku… engkau telah membuka pintu kepadanya untuk masuk. Engkau berkata kepada pencuri, “Silakan masuk!”. Dan setelah engkau kecurian, barulah sadar. Baru engkau berteriak… “Tolong…! Tolong…! Aku kecurian…”.

            Wahai  Putriku…

            Kalau engkau tau bahwa laki-laki itu serigala dan engkau domba. Pasti engkau akan lari seperti larinya domba dalam ancaman serigala. Kalau engkau sadar bahwa semua laki-laki itu adalah pencuri, pasti engkau akan bersikap hati-hati dan selalu menjaga diri seperti waspadanya seorang kikir menghadapi pencuri.

            Wahai  Putriku…

            Kalau yang dikehendaki serigala dari domba adalah dagingnya, maka yang diinginkan laki-laki dari seorang wanita adalah lebih dari itu. Engkau tau putriku?!! Laki-laki menginginkan lebih dari sekedar daging domba, dan bagimu lebih buruk dari kematian domba itu. Laki-laki menghendaki yang lebih berharga darimu… yaitu HARGA DIRI, KEHORMATANMU, KESUCIANMU dan KEPERAWANANMU. Nasib seorang gadis yang direnggut kehormatannya atau kesuciannya lebih menyedihkan dari seekor domba yang dimakan serigala.

            Wahai  Putriku…

            Demi Allah, apa yang dikhayalkan oleh sebagian pemuda ketika ia melihat gadis ialah telanjang di hadapannya tanpa busana. Putriku… demi Allah jangan percaya kepada omangan sebagian laki-laki bahwa mereka memandangmu karena akhlak dan adabmu. Berbicara padamu seperti sahabat dan apabila mencintaimu hanyalah sebagai teman akrab. Semua itu bohong…, bohong…, bohong…., dan sangat bohong! Demi Allah ia berbohong! Putriku… apabila engkau mendengar sendiri pembicaraan di antara mereka, engkau akan takut dan ngeri mendengar pembicaraan mereka.

            Wahai  Putriku…

            Tidak ada seorang pria melontarkan senyumannya kepadamu, berbicara lembut dan merayu, memberikan bantuan dan pelayanan kepadamu kecuali ada maksud tertentu. Setidak-tidaknya itu adalah isyarat awal bagi dirinya sebagai langkah awal. Apa sesudah itu wahai putriku?!! Renungkanlah!!! Kalian berdua bersama-sama berkencan, berpegangan tangan, berciuman dan akhirnya menikmati kelezatan yang sebentar engkau rasakan. Sesudah itu, dia lupa dan pergi meninggalkan engkau dan tidak kembali lagi. Dan engkau? Sungguh akan merasakan pahitnya dari pertemuan yang sebentar itu untuk seumur hidupmu, putriku!

            Wahai  Putriku…

            Setelah itu engkau pelan-pelan merasakan sesuatu yang berat mengganjal  di perutmu. Engkau sedih dan muram. Engkau bingung dan gelisah. Laki-laki yang membesarkan perutmu atau menghamilimu itu tidak dituntut atau dihukum oleh masyarakat yang zalim. Bahkan laki-laki itu diberi ampun dan divonis bebas oleh masyarakat yang zalim dengan alasan : “Dia yang dulu sesat, kini sudah bertaubat.”

            Dan engkau… putriku? Engkau akan terus kecewa dan terus dihina sepanjang umurmu. Masyarakat tidak akan mengampuni dosamu, putriku!!! Wahai putriku… apakah pantas harga kehormatanmu dan kesucianmu dibayar begitu murah, hanya dengan  sederetan omong kosong belaka dan sederetan rayuan gombalnya? Padahal setelah itu engkau menebusnya dengan penderitaan yang begitu mahal.

            Wahai  Putriku…

            Seandainya dulu ketika dia merayumu, engkau tolak dengan sikap tegas, engkau alihkan pandanganmu dari pandangannya. Jika masih saja mereka menggodamu dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan menggunakan tangannya, cepat-cepat engkau lepas sepatu dan pukulkan ke kepalanya…. Kalau engkau lakukan itu mungkin semua orang di tempat itu akan serentak menolongmu. Sesudah itu… dia akan ngeri mengganggu wanita-wanita terhormat di jalan.

            Wahai  Putriku…

            Berapa banyak wanita yang menginginkan dirinya untuk dihormati oleh laki-laki, tapi… kenyataannya merekalah yang membuat dirinya hancur tak terhormat di mata laki-laki, mereka para wanita menginginkan kebebasan, menerapakan pergaulan bebas, sex bebas yang di kaca mata pandangan agama kita itu adalah suatu hal melecehkan kaum wanita. Putriku… Islam adalah agama kita yang indah, di dalam agama kita melarang pergaulan bebas dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, itu suatu bukti bahwa Islam sangat-sangat menghargai dan menghormati wanita.

            Wahai  Putriku…

            Engkau remaja yang cantik, banyak pemuda yang tertarik dan mengharapkan engkau. Putriku… kecantikanmu yang seperti sekarang ini apakah akan bertahan terus? Bagaimana basibmu setelah tua? Ketika mukamu keriput dan punggungmu melengkuk. Putriku… siapa nanti yang mengurusmu? Siapa yang ketika itu memperhatikan nasibmu, putriku…?

            Wahai  Putriku…

            Laki-lak yang baik dan shalehlah yang pantas mendampingimu, mendidikmu, menuntunmu dan mengajakmu menuju kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan segala kerendahan hati, memohonkan maaf, menawarkan kepadamu hubungan yang halal dan terhormat. Ia datang untuk meminangmu dan menikahimu. Putriku, putriku, engkau tahu kalau saja engkau mau… engkau bisa menjadikan dirimu sebagai fitnah dan godaan yang membinasakan kaum lelaki sehingga mereka tidak mampu menghindar dari godaan itu. Tapi sebaliknya, engkau juga bisa menjadi penolong laki-laki itu dengan sikap tegasmu terhadap mereka agar mereka terhindar dari fitnah wanita.

            Putriku…

            Sadarilah bahwa kedudukanmu dalam kehidupan laki-laki merupakan ujian dunia yang paling berbahaya. Maka jadikanlah keshalehahanmu dan ketaqwaanmu sebagai penolong laki-laki untuk memperoleh keridhaan Allah, dan jangan jadikan kenakalanmu dan kebandelanmu dalam bermaksiat pada Allah dijadikan oleh laki-laki untuk memperoleh keridhaan syaitan.

            Wahai  Putriku…

            Apakah engkau masih ingat masa kecilmu dulu, tatkala engkau sakit kami menjagamu siang malam tanpa memikirkan lelah. Kami memberimu makan dan minum tatkala engkau merasa lapar dan haus, dan kami menghiburmu tatkala engkau bersedih dan menangis. Itu semua kami lakukan karena kami sayang kamu, kami (kedua orang tuamu) Cuma berharap engkau tumbuh menjadi wanita yang shalehah yang senantiasa mendo’akan kami, karena hanya do’a seorang anak yang shalehah untuk orang tuanya yang dikabulkan oleh Allah. Kami tidak mengharapkan uangmu bahkan hartamu, kami hanya berharap doamu yang akan menjadi penolong dan penerang kami di hadapan Allah nanti.

            Semoga Allah senantiasa memelihara selalu kesucian dan kehormatanmu. Dan semoga Allah selalu menolong dan memberikan hidayah dan rahmat-Nya kepadamu dan menempatkanmu ke dalam golongan wanita-wanita yang shalehah dan terhormat.

            AMIN YA RABBAL ‘ALAMIN…

5 thoughts on “Nasehat Seorang Ayah kepada Putrinya

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s