Catatan Sang Penggemar


30 Oktober 2005

Assalamu’alaikum…

Dear Kekasihku! Apa kabarmu? Semoga Kau selalu  berada tak jauh dari diriku, dari hatiku. Amin…

Hari ini, aku kembali diolok-olok oleh teman-teman sekelas. Mereka bilang Kau takkan pernah ada, Kau takkan pernah menemuiku. Benarkah itu?Tapi aku yakin, suatu saat nanti Kau akan menemuiku dan membawaku ke tempatMu yang ‘katanya’ sangat indah menarik hati. Bawalah aku pergi…

28 Oktober 2006

            Wahai pujaan hati!Kembali kukirimkan suratku. Namun tak pernah kuterima balasan dariMu. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, bahkan sudah hampir setahun aku menunggu, balasanMu tak kunjung sampai.Adakah yang salah dari kata-kata yang kutuliskan untukMu?Kekasih, jawablah…

02 Nopember  2006

            Selamat malam Sayangku…

            Hari ini kembali aku menelan pil kekecewaan. Seharian Kutunggu suratMu di depan rumah, kutanyai suratMu pada setiap pak pos yang lewat. Tapi semua terasa pahit, suratMu tak pernah sampai. Kata-kata manisMu tak pernah kubaca, walau hanya sepatahkata pun.Kekasih, jangan pernah bosan untuk menerima dan membaca surat-suratku…

08 Nopember 2006

            Kekasihku…

            Katasahabatku Hamidah, Allah pasti akan mendengar dan mengabulkan do’a-do’a hamba-Nya. Asalkan sang hamba senantiasa bertawakal dan percaya akan kekuasaan-Nya. Selain itusang hamba juga harus tetap berusaha.

            Duhai Allah… di malam yang gelap gulita ini, aku bersimpuh memohon ampunan-Mu, memohon agar aku diberi kesempatan untuk bertemu denganNya, kekasih pujaan hatiku. Kabulkanlah..

15 Nopember 2006

            Salam rindu untukMu!Aku sadari kalau aku ini hanyalah seorang makhluk yang kecil dan tidak sebanding denganMu. Kau terlalu sempurna dan terlalu sulit untuk kugapai. Apalah diriku ini, hanya makhluk hina yang berlumur dosa…

            Mungkin Engkau belum sempat untuk menemui diriku walau hanya dalam mimpi. Mungkin Engkau harus mendahulukan mereka, para penggemar dan pencintaMu yang lebih dahulu merindukanMu.Jadi kapankah Engkau akan menemuiku? Kekasih, tahukah Engkau bahwa diriku sangat merindukanMu? Kekasih, rinduku untukMu…

20 Nopember 2006

            Malam ini, telah ku tulis sebuah puisi berangkaikan kata-kata indah dan sarat do’a untukMu. Di sepertiga malam, akan ku kirimkan dengan kilat khusus untukMu. Hanya untukMu…

05 Desember 2006

            Dear my love! Ya Habibi…

            Maaf. Sudah lama tidak mengabariMu dengan rangkaian kata-kataku. Selama beberapa hari ini aku harus merelakan waktuku untuk berbaring di atas dipan rumah sakit. Gara-gara si ‘typus’, aku tidak bisa sekolah dan melakukan ritual khususku seperti biasa, menulis surat untukMu. Baru hari inilah aku boleh meninggalkan rumah sakit yang membosankan. Tapi kata dokter,aku belum dibolehkan untuk melakukan aktivitas yang berat seperti ke sekolah dan kegiatan lain yang menguras energi. Bedrest selama seminggu? Membosankan!

            Oh ya,seharusnya aku tidak boleh merutuki segala sesuatu yang menimpaku. Bukankah Allah bersama dan menyukai orang-orang yang bersabar? Oke, Aku harus semangat untuk melawan sakit ini. Cayyoooooo…

            Hm, udah dulu ya! Ibuku sudah berkali-kali mengingatkanku untuk beristirahat agar aku fit esok hari. Di mana pun dan kapan pun, aku selalu rindu padaMu duhai kasihku…

07 Desember  2006

Malu rasanya menyatakan cinta

Kepada Dia kekasih Allah

Karena Dia insan mulia

Sedangkan diriku insan biasa

Kekasihku… setetes demi setetes air mata jatuh dari kedua mataku, menemani sujud panjangku di malam yang hening ini.Demi Tuhanku, TuhanMu, aku rindu padaMu wahai kekasihku. Aku ingin bertemu denganmu. Semoga kita bersama-sama mengelilingi surga yang maha indah menawan. Kekasih… bawalah aku bersama syafa’atMu…

17 Desember 2006

            Tak kuhiraukan lagi suara ejekan serta cemo’ohan orang-orang yang mengatakan aku gila karena telah mengagumiMu. Apakah aku salah bila mengagumiMu wahai kekasih? Salahkah diri ini yang mencintai dan merindukanMu? Sedangkan aku belum pernah, bahkan belum tentu berjumpa denganmu.

            Tatkala teman-temanku berteriak heboh saat orang yang mereka kagumi datang dan merangkul mereka erat, jujur aku iri! Kapankah Engkau menemuiku? Sama-sama kita beribadah kepada Rabb yang Maha Agung, kapankah saat indah yang selalu ku nanti itu tiba?

            Di kala manusia mulai melupakanmu karena keindahan dunia, karena orang-orang yang mereka kagumi, aku tak peduli! Toh, Engkau adalah makhluk yang mulia dan sempurna, tak ada yang mampu menandingiMu. Allah… titip rindu untukNya…

29 Desember 2006

Rindu ini selaksa bintang

Yang selalu bercahaya terang

Di langit yang menggalang

Meskipun awan hitam menenggelam

Rindu ini tiada tara

Rindu ini tak terkira                        

Meskipun tak pernah terbalas

Kekasih..

Engkau pujaan hatiku

Engkau mutiara kalbuku

Engkau… tiada duanya

Kekasih…

Karena budimu aku terpesona

Karena pribadimu aku jatuh cinta

Rinduku padamu tiada terkata

Nantikan aku di taman surga

                                                                                      Untukmu “Muhammad”

                                                                                    (Habibullah – Kekasih Allah)

 

            Ya Allah… sampaikan puisi ini padanNya, kekasih-Mu. Izinkan aku agar dapat bertemu dennganNya. Agar aku dapat mengecap manisnya Iman. Bukankah mencintai Rasul, berarti mencintai-Mu ya Khaliq? Karena itulah tujuanku…

03 Januari 2007

            Kembali aku merenungi kehidupanku. Adakah yang salah dengan ibadahku selama ini? Ah… hanya Allah yang tau. Sekali lagi aku yakin, Allah akan mengabulkan permohonanku untuk bertemu denganMu, kekasihku. Ya Rasulullah… nantikan aku di taman Surga.

10 Januari 2007

            Tuhan… jika aku masih diberi kesempatan, izinkan aku untuk mencintaiNya. Izinkan juga diri ini untuk bertemu denganNya. Namun, jika waktuku telah habis di dunia, maka izinkan aku menjadi salah satu di antara hamba-Mu yang memperoleh syafa’at dariNya.

13 February 2007

            Assalamu’alaikum kekasih hati…

            Apa kabarmu? Saat ini, aku sedang sibuk untuk mempersiapkan ujian semester ganjilku. Kekasih… do’akan aku agar berhasil dan dapat mencapai segala impianku.Dan satu hal, Engkau harus tau bahwa hari ini aku ber-ulang tahun. Aku sedih karena umurku berkurang. Hm, sebenarnya aku takut bila tidak bisa melihat matahari terbit esok hari. Bagaimana jika detik ini malaikat maut mencabut nyawaku? Bagaimana bila hari ini kesempatan terakhirku untuk bertaubat? Bagaimana dan bagaimana???

            Sayangku, do’akan agar dengan berkurangnya umurku ini, hidupku jadi berkah dan agar aku mampu membenahi ibadah, kehidupan dan dunia yang semakin tak ku kenal ini. Do’akan aku agar mampu mengarungi hidup di belantara dunia yang fana ini. Amin…

ΩΩΩ

            “Zahra… cepat tidur nak. Sudah larut malam, kamu baru sembuh jadi harus banyak istirahat…” Bunda membelai rambutku lembut. “Sebentar lagi mau ujian sayang…” Nasehat bunda khas seorang ibu.

Aku mengangguk, “Baik bunda.” Ku tutup Diary Pink kesayanganku dan beranjak ke tempat tidur yang empuk.

“Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah…” Bunda menyelimutiku dan mematikan lampu.

“Semoga bunda. Semoga aku bermimpi bertemu dengan kekasih pujaan hatiku. Semoga aku bertemu dengan Rasulullah. Semoga…” Ku peluk buku ‘BERCINTA DENGAN RASUL’ milikku. Buku itulah sumber inspirasiku, membuatku mengerti arti cinta dan membawaku mencintaiNya, Muhammad – Habibullah.

“Dengan nama Allah aku hidup dan dengan nama-Nya aku mati.”

ΩΩΩ

 

16 Februari 2007

“ATAS NAMA CINTA”


/em“Zahra… cepat tidur nak. Sudah larut malam, kamu baru sembuh jadi harus banyak istirahat…” Bunda membelai rambutku lembut. “Sebentar lagi mau ujian sayang…” Nasehat bunda khas seorang ibu.

8 thoughts on “Catatan Sang Penggemar

      • oke,,,ditunggu cerpennya yg laen,,,lumayan buat contekan inspirasi,,,aku baru belajar nulis cerpen baru awal 2012, sekaligus bikin blog juga

      • Wow… baru belajar nulis tapi tulisannya bagus banget.
        Salut.
        Aku sih kalo nulis moody, kadang rajin kadang malah gag nulis sama sekali. Kadang malah tulisan lama belum selesai udah buat proyek baru. Hahaha*curcol

      • sastrawan sekelas joko pinurbo aja klo nulis ya tetep bergantung mood kok (so, kamu uda sekelas ma beliau lho,,,hehehe). mayoritas pelukis juga klo moodnya lg jelek mending ga nglukis…

        karya sastra n karya seni, klo moody itu wajar. kecuali ada seorang penulis yang (aduh mendadak lupa namanya) sedikit ekstrim dgn berprinsip: “seribu kata per hari apapun kondisinya dimanapun tempatnya ga peduli bagaimana hasilnya, Menulislah!” mungkin slogan ini bisa bikin penyemangat buat kita disaat moodnya jelek,,,hehehe

        btw,,salut uda bisa dapet proyek [jadi mupeng :P]

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s