Kemelut Cinta (Part 1)


Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai awan, sebentar lagi mentari akan duduk di singgasana mewahnya, menyinari alam semesta. Manusia pun memulai aktivitas mereka. Termasuk di sebuah rumah mewah di kawasan elite di sebelah utara kota Jakarta.

“Zizi… Cepat bangun sayang… ini khan hari pertama di sekolah barumu…” Mama mengetuk daun pintu kamar Zizi yang serba pink.

Tak ada sahutan. “Zizi sayang…” Ucap Mama sabar kepada putri semata wayangnya. Tangan mama hendak meraih handel pintu ketika…

“Met pagi Mama sayang …” Ucap seorang gadis manis yang sudah rapi jali dengan seragam putih abu-abunya. Sebuah tas yang berwarna pink tergantung dibahu kanannya. Zizi memeluk tubuh subur mama yang masih tetap cantik diusianya yang ke-40.

“Ah, sayang … Mengagetkan Mama saja. Mama pikir kamu belum bangun, eh nggak taunya udah rapi gini. Berapa jam nich dandannya?” Mama menatap anak gadisnya yang semakin dewasa, wajah itu tanpa olesan make up sedikitpun. Mama mengerti, Zizi paling malas berhias, meskipun hendak ke pesta.

“Makan yuk ma, laper nich,” Zizi merangkul Mama.

“Wah, wah, wah… Anak gadis Papa, udah rapi rupanya. Tumben cepat, biasanya…“ Goda Papa yang sudah rapi dengan jas donkernya.

Zizi mengerucutkan bibirnya. ”Yach… Hidup ini harus ada perubahan donk Pa. Kalau di Bandung Zizi sering telat karena sekolahnya dekat. Ini Jakarta Pa, sekolah jauh, mana macet lagi! Ya kan Ma?”

Zizi duduk di depan Papa.

Mama yang sedang mengoleskan selai di roti Papa mengangguk. ”Tumben Zizi berpikir dewasa,” Batin Mama seraya tersenyum kepada sang buah hati tercinta.

Sepuluh menit kemudian, mobil yang dikenderai Papa meniggalkan rumah, disusul oleh mobil BMW metalic milik Zizi. Tinggallah Mama dan Mbok Sumi di rumah. Mama adalah ibu rumah tangga yang baik dan selalu mengabdi kepada suami dan anak. Padahal, Mama adalah tamatan terbaik dari sebuah fakultas tata busana di Paris lhoh…

©©©©

Zizi menghirup oksigen di halaman sekolah barunya, SMA Negri 1 Jakarta Utara yang kerap disebut SMANSA. Setelah memarkir mobil mewahnya, Zizi berjalan anggun menuju kantor kepala sekolah. Berpasang-pasang mata menatapnya, ada rasa kagum, takjub, heran dan kesal. Soalnya dari sekian pelajar yang ada di SMANSA, penampilan Zizi sangatlah mencolok. Mulai dari tas, sepatu, kaos kaki, tali pinggang, anting-anting, jam dan bandana semuanya berwarna pink, warna favorit Zizi.

Setelah menyelesaikan urusannya dengan kepala sekolah, didampingi seorang guru Zizi menuju kelas barunya, kelas IIC . Saat itu, bel masuk kelas baru lima menit berbunyi.

Kelas IIC ada di depan mata Zizi. Bu Reni, menyuruh Zizi menunggu di depan kelas. Sedangkan beliau memasuki kelas dan berbicara dengan Bu Wirda, guru Biologi. Seketika itu juga kelas menjadi riuh.

Bu Wirda mengetuk meja keras. “Anak-anak… jangan berisik!” Bu Wirda melangkah ke hadapan murid-muridnya. ”Hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk nak…” Ucap  Bu Wirda lembut.

Zizi memasuki kelas dengan langkah pasti, Bu Reni yang mengantarkannya sudah kembali keruangannya.

“Nak, perkenalkan dirimu di depan teman-teman.”

Zizi mengangguk. ”Nama saya Zizi Amarha. Tapi cukup panggil saya Zizi. Saya pindahan dari Bandung.”

Kelas kembali riuh. Beragam pertanyaan terlontarkan kepada Zizi yang hanya dibalas dengan senyum manisnya. Resiko murid baru, ada saja gangguan!

“Hm… Zizi, kamu duduk di samping…”

Bu wirda mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. “Kamu duduk di samping Anugerah,” Ucap Bu  Wirda lembut.

Zizi melangkah ke meja nomor 2 dari belakang. Seorang gadis berkacamata minus tiga tersenyum manis menyambut Zizi.

“ Aku Nugerah,” Ucapnya.

“Gue Zizi. Senang berkenalan denganmu,” Ucap Zizi tulus. Ia yakin, gadis berkacamata di sampingnya akan menjadi sahabat barunya.

“Anak-anak, kita kembali belajar, buka buku kalian halaman 26…”

“Yach…” Sorak kecewa  pelajar di kelas IIC tidak mampu membuat Bu Wirda membatalkan niatnya untuk mengajar.

©©©©

Dua hari sudah Zizi menjadi siswi SMANSA. Mudah bagi Zizi mendapatkan teman baru. Gayanya yang ramah dan suka menolong itulah yang disukai oleh teman-temannya. Tak ayal lagi, banyak siswa dan siswi dari kelas I sampai kelas III yang langsung mengenal Zizi. Apalagi Zizi mulai dekat dengan Anugerah, Amelia dan Amanda, siswi-siswi berprestasi di SMANSA.

“Zi, ke kantin yuk…” Ajak Anugerah. Di sampingnya ada Amelia yang duduk di kelas IIA dan Amanda yang duduk di kelas IIB.

Zizi mengulas senyum “Kalian duluan dech, gue mau ke perpustakaan dulu, ntar gue nyusu,” Ucapnnya lembut.

“Ok dech, lo mau pesan apa Zi?” Tanya Amelia.

“Hm, apa yach? Bakso aza dech!”

“Sip… But don’t come late ok.” Amanda yang baru kursus Bahasa Inggris memamerkan hasil pembelajarannya.

“Iya, gue gak bakalan ngaret kok…”

“Janji?”

“Janji.”

Anugerah, Amelia dan Amanda meninggalkan Zizi yang langsung beranjak ke perpustakaan sekolah.

©©©©

Zizi berjalan cepat keluar dari perpustakaan sambil membawa beberapa buah buku pelajaran yang dicarinya, Ia memburu waktu menuju kantin. Sudah seperempat jam Zizi di perpustakaan, teman-temannya pasti kesal menunggunya. Karena terburu-buru dan beban berat yang dibawanya, tanpa sengaja Zizi menabrak seseorang hingga keduanya bertabrakan, buku-buku pun berserakan.

“Eh sorry! Sini aku bantu.” Pemuda di depan Zizi merasa bersalah. Tanpa kata-kata dia membantu merapikan buku-buku Zizi yang berserakan.

Zizi berdiri dengan kesal. “Gara-gara cowok ini gue telat ke kantin. Teman-teman pasti marah!” Batin Zizi penuh amarah.

“Kamu murid baru yach? Kelas berapa? Oh ya, perkenalkan… namaku Omar.” Omar mengulurkan tangan yang langsung ditepis Zizi.

“Gak perlu basa-basi! Lain kali, kalo jalan lihat-lihat donk. Punya mata khan?!!” Ucap Zizi dengan kasar.

“Oh… maaf, aku gak sengaja. Sekali lagi …”

“Gak sengaja lo bilang?!! Gak pernah liat cewek cantik lewat yach? Makanya mata tuch dipakai dengan benar, jangan jelalatan!”

“Iya… aku salah. Aku kan udah minta maaf…”

“Semudah itu lo minta maaf?!! Lo gak tahu khan… gara-gara lo gue telat janji ama teman-teman gue. Dasar lo!” Dengan angkuh Zizi meninggalkan Omar.

“Tunggu!” Panggilan keras menghentikan langkah Zizi yang langsung berbalik. Seorang pemuda tampan berdiri angkuh di samping Omar.

Zizi mendengus. “Mau apa lo?!!”

Pemuda itu mendekati Zizi, meneliti Zizi dari ujung kaki ke ujung rambut. Kayak pemilihan model iklan gitu!

“Oh… ini yang namanya Zizi Amarha, anak konglomerat sukses itu. Tapi… kok seperti mencerminkan seseorang yang tidak terpelajar yach? Sikap lo seperti anak jalanan.” Ucapan pemuda yang berdiri tepat di depan Zizi begitu menusuk.

Zizi menatap pemuda di depannya angkuh. “Apa urusan lo?!!” Tanyanya.

Pemuda itu tersenyum mengejek. “Lo anak orang kaya, tapi gaya lo norak banget. Lo gak punya uang yach untuk membeli baju dan sepatu. Baju lo kesempitan tuch. Sepatu lo lagi, baca donk peraturan sekolah, harus memakai sepatu hitam, kaos kaki putih, tali pinggang hitam. Bisa baca khan?”

Amarah Zizi semakin meningkat, dari stadium III ke stadium IV. Kalau kanker, tinggal tunggu hari kematian.

“Apa urusannya ama lo!” Bentak Zizi dan berlalu meninggalkan pemuda di depannya dengan angkuh. Niat Zizi ke kantin sudah membaur menjadi satu dengan angin. Zizi berjalan menuju kelasnya.

“Siapa sich tu cowok. Berani-beraninya melarang gue. Awas tu orang, akan gue balas lo!” Ingin rasanya Zizi menangis. Namun dia berpikir untuk apa menangisi orang seperti cowok yang menghinanya. Hanya sebentar Zizi berkubang dalam kesedihan, tak lama kemudian Zizi pun sudah bergabung dengan teman-temannya, tertawa bahagia.

“Zi, tadi kok gak  ke kantin?” Tanya Amelia sepulang sekolah.

Zizi tersenyum. “Sorry dech, tadi ada urusan mendadak sama petugas perpus. Besok, kita ke kantin lagi dech, gue yang traktir…” Zizi menatap ketiga sahabatnya, Amel, Manda dan Nugerah. “Gimana? Mau khan? Yach… tanda permintaan maaf gue.”

Amel, Manda dan Nugerah mengangguk, Zizi pun lega. Akhirnya, merekapun pulang ke rumah masing-masing. Manda dan Amel naik Vios milik Manda. Nugerah dijemput Papanya, sedangkan Zizi tetap setia dengan mobil mewahnya, BMW metalic berwarna hitam.

Keesokan harinya, Zizi and her friends berkumpul di kantin seperti hari-hari sebelumnya, sebelum dan sesudah masuknya Zizi ke geng mereka.

“Lo-lo pade, boleh memesan sesuka hati. Gue yang traktir,” Ucap Zizi seraya memanggil Pak Somad, penjaga kantin yang ramah.

“Pak, baksonya 3 dan siomainya 1,” Ucap Amel.

“Minumnya neng…?”.

“Hm… apapun makanannya, minumnya tetap teh botol sosro!”. Ucap Manda seperti iklan di televisi. “Teh botolnya 4 ya Pak…” .

Zizi Cs bercanda sambil menunggu pesanan. Tanpa disengaja, mata Zizi menangkap tubuh atletis seorang pemuda yang sedang tertawa-tawa bersama dua orang temannya. Yang satu zizi kenal bernama Omar, orang yang menabraknya kemarin. Dan satu lagi teman sekelas Zizi yang kalau tidak salah bernama Amad.

“Gue harus memberi lo pelajaran hari ini!”. Tekad Zizi bulat. Dia memandang dengan penuh kebencian ke arah tiga pemuda itu yang kelihatan sangat bahagia.

Tak lama kemudian, pesanan Zizi Cs datang diantar Pak Somad. Zizi tetap menatap musuhnya, selera makannya hilang seketika.

“Zi…, Zizi…, hallo…! Zi…, lo kenapa sich?”. Manda menepuk bahu Zizi.

Zizi mendengus. Dengan enggan dia menyantap bakso kesukaannya.

“Kamu naksir Qahar yach?!!!”. Tanya Nugerah yakin. Dia menatap Zizi lekat.

Zizi tersedak. “Who is Qahar?!!! Kayaknya gue baru dengar dech! Dari planet mana?!!”.

“Alah Zi… jangan bohongin kita-kita donk! Qahar itu emang wajar disukai banyak cewek. Tu cowok… udah ganteng, pintar, baik, mudah senyum… wah!!! Perfect dech!”, Ucap Manda.

Zizi kembali mendengus. “Mana sich yang namanya Qahar, tu orang kok terkenal banget. Dimana-mana gue dengar namanya, teman-teman gue juga! Gue pengen tahu orangnya. Kerenan mana ama cowok gue di Bandung, Mas Yudha…”. Ucap Zizi di dalam hati. “Gue gak ngerti dengan kalian semua, yang mana sich namanya Qahar?!!”. Tanya Zizi kepada ketiga sahabatnya.

“Masa’ lo gak tahu sich Zi? Orang tadi lo ngelihatin do’i sampe lo gak makan pesanan lo!”. Ucap Nugerah membuat Zizi terkejut setengah mati.

“Ja… jadi itu yang namanya Qahar?!!”. Manda dan Nugerah tersenyum misterius.

“Gue urusin ya Zi. Soalnya tuch cowok dingin banget ma cewek, mana tau lo bisa ngedapatin hatinya…”. Tawar Manda.

Zizi melotot tanda tidak setuju. “Sorry yach, gue ga’ care ma cowok kayak dia. Dingin, sombong, egois… bukan tipe gue benget dech!”.

“Tapi Zi… kayaknya kalian cocok dech!”. Ucap Manda tak mau kalah. “Mau ya Zi…”.

Zizi menatap Manda sinis. “Kenapa gak lo aja?!!”.

Manda gelagapan. “Eng… eng… mana mau dia ama gue. Zi, lo punya segalanya. Cantik, pintar, kaya, baik, pokoknya…. kalian cocok dech!”.

“Ayolah Zi… kita bantuin lo Pe-De-Ka-Te ama Qahar… ayolah Zi…”.

Zizi berdiri dengan kasar. “Sekali gak tetap gak! Lo-lo semua jangan macam-macam sama gue dan Qahar. Gue gak sudi pacaran ama cowok egois itu. Titik!!!”. Dengan geram Zizi meninggalkan ketiga sahabat barunya. “Belum genap seminggu gue di sini, teman-teman gue udah mau macam-macam. Gak akan gue biarin!”.

“Pokoknya, Zizi dan Qahar harus kita satukan!”. Tekad Manda dan Nugerah. Tanpa mereka sadari ada hati yang terluka dan kecewa, hati milik seorang gadis.

“Tapi gimana caranya?”. Tanya Manda kehabisan ide. Manda dan Nugerah tampak berpikir.

“Gimana kalo kita minta bantuan Omar dan Amad. Da, Amad kan sepupu lo, dia pasti mau ngebantuin kita. Mereka pasti senang kalau Qahar punya gebetan”. Perkataan Amel merupakan ide cemerlang bagi Manda dan Nugerah.

“Ok dech! Gue akan konfirmasikan semua ini sama Amad”, janji Manda.

Nugerah mengangkat teh botolnya. “Demi kesuksesan kita. Toast…!!!”.

“Toasstt…!!!”. Amel, Manda dan Nugerah tertawa lepas.

©©©©

Seminggu telah terlewati, Zizi Cs tetap bersama. Begitu pula Qahar dan kedua sahabatnya. Hari-hari berjalan lancar tanpa hambatan yang berarti. Hingga suatu pagi…

Amad berlari menuju kelasnya, sekolah masih sepi. Hanya ada beberapa belas siswa yang pastinya bertugas piket seperti Amad. Hari ini hari rabu, jadwalnya piket bersama Zizi.

“Jangan sampai Zizi marah padaku. Misiku, Omar, Manda, Nugerah dan Amel harus berhasil”. Sambil bersiul Amad memasuki kelasnya.

“Rajin banget kamu Zi. Sorry aku telat”. Ucap Amad kikuk ketika mendapati Zizi yang sedang membersihkan papan tulis, lantai sudah disapu, jedela sudah kinclong, meja dan bangku sudah tersusun rapi.

Zizi tersenyum lembut tanpa menghentikan aktifitasnya.

“Ne dia yang aku ga’ tahan. Senyuman tu cewek…, maniez Banget! Seperti senyuman Qahar, semua cewek klepek-klepek. Senyuman Zizi pun begitu. Mereka cocok kalo bersatu!”. Amad memandangi Zizi.

“Hm, Zi… dapet salam tuch dari Qahar!”. Ucap Amad. “Sorry Har… aku bohong and makai nama kamu. Ini kan demi kamu juga…”.

Zizi terkejut. Tetapi gadis itu cuek dan tidak menanggapi ucapan Amad. “Alah… paling tu cowok lagi cari sensasi agar gue perhatian”. Batin Zizi.

“Gak dibalas ni Zi salamnya?!! Jarang-jarang lhoh  Qahar kirsal ama cewek!”.

“Oh… gitu yach! Terserah lo dech! Gue eneq dengar nama tuch cowok!”.

“Ah… masa’ sich?!! Jangan pernah dustai hati… kalau memang kau cinta dia…”. Amad melantunkan lagunya “Radja” yang sengaja diplesetin.

“Ih… apaan sich?!! Lo gak usah buat gosip dech Mad! Gak enak didengar yang lain. Gue murid baru, gak mau nyusahin  orang!”.

“Yach… terserah lo dech! Yang penting, salam Qahar udah sampe and salam lo akan gue sampe’in sekarang juga!”. Amad ngeloyor pergi.

“Eh, Amad… Amad…”.Percuma membuang tenaga memanggil Amad, pemuda itu hilang entah kemana.

Zizi terduduk lemas di bangkunya. “Mampus dech gue! Apa udah nasib gue yach bermasalah sama si Qahar itu?!!”. Dengan malas Zizi membuka buku Matematikanya. Namun pikirannya selalu teringat akan Qahar dan kata-kata kasarnya. Zizi meringis saking kesalnya.

“Good morning Zi… apa kabar? Lagi ngapain nech? Gak lagi mikirin Qahar khan…?”. Nugerah duduk di samping Zizi. Tak lama kemudian, Amel dan Manda bertandang ke kelas Zizi dan Nugerah. Berkumpullah geng A4, nama geng baru mereka. Itupun mengadopsi dari film Meteor Garden yang pamerannya F4.

“Zi, dapet salam tuch  dari Qahar!”. Ucap Manda yang diaminin olehAmel dan Nugerah.

“Bales gak zi?!!”. Tanya Amel.

“Males mikirin dia!”. Ups… Zizi keceplosan!

Amel, Manda dan Nugerah menatap Zizi lekat. Semburat merah mewarnai wajah maniez Zizi.

“So… beneran ne lagi mikirin Qahar?!!” Tanya Nugerah keras.

Kontras kelas yang hampir penuh itu menatap Nugerah. Apalagi kaum hawa. Nama Qahar disebut?!! Pasti semua mata memandang. Qahar gichu lhoh!!!

Zizi semakin salah tingkah ketika menyadari banyak mata memandangnya dengan beragam ekspresi. Ada yang terkejut, marah, jengkel, mengejek dan… Tanpa ekpresi.

“Lo suka ama Qahar yach?!!”. Tanya Linda tajam. Siapapun tahu, kalau gadis centil ini menyukai Qahar. Konon dia dan Qahar satu sekolah semenjak SD sampai SMU. Cinta abadi githu!

“Eng… eng… gue…”.

“Qahar yang suka sama Zizi. Do’i sering kirsal. Gak salah khan kalau Zizi juga punya rasa ama Qahar?”. Ucap Manda memotong perkataan Zizi.

“Apa-apaan sich! Jangan bikin gosip dech! Please…”. Pinta Zizi kepada ketiga sahabatnya. Zizi yakin, sebentar lagi akan menyebar gosip antara dia dan si dingin Qahar. Menyebalkan!

“Oh ya Lin, lo ga’ boleh marah kalo Qahar lebih memilih Zizi dari pada lo!”. Manda menatap jam di pergelangan tangannya. “Gue balik dulu yach…, yuk Mel…”. Manda dan Amel meninggalkan kelas. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Zizi gelisah dan pasrah dengan nasibnya.

“Lindungi hamba Ya Allah…”.

©©©©

Ternyata, apa yang dikhawatirkan oleh Zizi tidak menjadi kenyataan. Gosip-gosip tidak dapat disebarkan dengan leluasa seperti harapan Omar dan rekan-rekannya yang mangaku sebagai tim sukses. Di balik itu semua, Zizi menjadi lega. Apalagi Qahar. Rusak donk reputasi kalau ia digosipi punya hubungan istimewa dengan Zizi. Walau menurut kacamata teman-temannya, Zizi adalah gadis yang menarik. Qahar tidak peduli. Baginya, Zizi tetaplah Zizi yang centil, egois dan cerewet. Tetapkah Qahar dengan pendiriannya?!!! Dapatkah bongkahan batu es di dada Qahar mencair? Tapi siapa matahari yang akan membuat bongkahan batu es itu mencair? Angin … jawablah…

©©©©

Waktu terus berlalu. Tanpa disadari enam bulan sudah Zizi tinggal di Jakarta dan menuntut ilmu di SMUNSA. Ujian semester telah berlalu, begitu juga dengan liburan awal tahun yang di gabung dengan liburan Ramadhan dan Idul Fitri.

Setelah hampir sebulan setengah siswa-siswi SMUNSA liburan, akhirnya mereka kembali lagi ke sekolah dan memasuki semester baru, yaitu semester genap. Para siswa-siswi pun mulai memasuki gerbang sekolah dengan riang dan senyum yang tak pernah pudar.

Seperti biasa, A4 kembali bergabung dan saling berdiskusi bertukar pikiran. Begitu juga dengan Qahar Cs yang kelihatannya semakin alim, apalagi Qahar yang sudah hampir lima bulan bergabung dan aktif di ROHIS. Selain itu, Qahar juga terpilih menjadi pimpinan redaksi majalah ‘BINTANG’, majalah kebanggaan sekolah. Omar, Amad, Amel dan Zizi pun ikut serta dalam menerbitkan majalah tersebut. Sedangkan Nugerah dan Manda mulai sibuk di OSIS.

Seminggu kemudian…

SMUNSA akan mengadakan perayaan ulang tahun sekolah yang ke-36, maka dipilihlah siswa-siswi kelas II sebagai panitia pelaksana acara tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, terpilihlah Qahar sebagai ketua panitia dan Amelia sebagai wakilnya. Adapun Zizi, dia menjabat sebagai sekretaris I dan Manda sebagai sekretaris II. Sedangkan Omar, Amad dan Nugerah menjabat sebagai seksi umum.

Usai pemilihan kepanitiaan ultah sekolah yang ke-36, Omar dan Amad serentak menemui Qahar yang sangat jengkel akan terpilihnya Zizi sebagai sekretaris. Otomatis mereka akan sering bertemu dan berdikusi. Apa kata dunia nanti?!!

“Har… Selamat yach, kamu udah terpilih menjadi ketua, hm… And Zizi … Sebagai pendampingnya… Eh, maksudnya … Sebagai sekretaris. Semoga sukses!!!”. Omar menyenggol pinggang Qahar dengan jarinya dan mengkedipkan matanya menggoda Qahar.

“Ah kalian ini bicara apa sich?!!”. Bantah Qahar yang tahu akan maksud Omar terhadap dirinya. Kekesalan Qahar terhadap Zizi bertambah. “Koq ada sich cewek kaya’ si Zizi. Tuch cewek bakal mengganggu kehidupanku. Sebel !!!”. Ucap Qahar dalam hati. Bakalan gawat nich kalau diutarakan, apalagi kepada kedua sahabatnya yang super jahil. Tak lama kemudian…

Dengan langkah berat qahar meninggalkan sahabatnya.

“Har… Har… Mau kemana?!!”. Tanya Amad.

Qahar tidak menghiraukan pertanyaan Amad. Ia hanya ingin menuntaskan masalahnya dengan Zizi. Sebagai ketua, Qahar wajib menemui sekretarisnya, Zizi, untuk membahas tentang kepanitiaan mereka menghadapi perayaan ultah sekolah.

“Zi… !!! Gimana nich acara kita..? Pokoknya tahun ini harus lebih sukses dari tahun-tahun sebelumnya!”. Ucap Qahar dengan suara yang agak tinggi.

“Oh ya, gue udah mempersiapkan dan memprediksikan bentuk acaranya. Besok timingnya akan gue serahkan ama lo. Dan yang terpenting, lo jangan sampai ga’ tahu kerja, ga’ tahu tugas!”. Ucap Qahar dengan dingin dan tak bersahabat.

Zizi menatap Qahar lama, sehingga Qahar salah tingkah. “Kok bisa yach, guru-guru memilih lo menjadi ketua panitia? Cowok macam lo gitu koq jadi ketua. Egois, cerewet dan sok lagi. Sebel tau ga’ ngelihat lo!!!”. Zizi berkata kasar.

“Terserah lo mau bilang apa. Yang terpenting, lo sekarang ada dibawah gue. So… Jangan suka membantah. Kali ini… Nyawa lo ditangan gue. Macam-macam, gue lapor lo ke guru BP”. Ancam Qahar.

Zizi mendengus. “Belagu lo!”.

Qahar menatap kepergian zizi. Kali ini dia berada di atas awan, dia menang! Zizi, anak manja, cerewet dan centil itu harus diberi pelajaran.

Qahar berjalan sambil melafazkan suratAr-Rahman yang baru saja dihafalnya. “Qahar…”. Panggil seseorang.

Qahar berbalik, seorang gadis tersenyum manis menyambutnya. “Ada apa?”. Tanya Qahar enggan.

“Hm… Aku mau berdiskusi masalah kepanitiaan sama kamu…”.

“Oh… Ya udah, kamu mau tanya apa?”. Gadis itu terdiam dan memandang Qahar. Yang dipandang menjadi kikuk.

“Maaf… Aku banyak urusan, kalau mau bicara secepatnya. Ingat, acara sebentar lagi. Kita hanya diberi waktu dua minggu untuk mempersiapkan semuanya. Harap dimengerti!”. Qahar sengaja ber-aku-kamu kepada teman-temannya. Hanya kepada zizilah dia berbicara dengan ucapan  lo-gue.

Gadis itu mendesah. “Ya udah deh, kapan-kapan aja. Toh kamu ga’ perlu bantuanku, kan ada Zizi…”. Gadis itu meninggalkan Qahar dengan kecewa.

“Gadis aneh! Amelia… Dia sahabat dekatnya zizi. Apa teman-temannya tidak mengetahui bahwasanya Amel menaruh hati padaku? Kenapa malah menjodohkanku dengan si manja Zizi?!!”. Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan Qahar. Mungkin belum waktunya… 

 ©©©©

(By : Zasackha feat MAA)

BERSAMBUNG  KEMELUT CINTA (PART 2)

NB:

Sedikit cuap-cuap nih… Hehehhe…

Maaf kalo tulisannya berantakan. Ini cerita udah lama banget, taon 2006 pas tamat SMA. Nulis ini bareng ‘dia’, biasalah orang lagi kasmaran pasti ada aja cara untuk menunjukkannya. Lumayan lah jadi juga sebuah cerita yang mudah-mudahan bermanfaat. Hihihi…

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s