Kemelut Cinta (Part 2)


Cerita Sebelumnya:

Zizi dan Qahar selalu saja bertengkar tiap kali mereka bertemu, bahkan saat mereka berdua bekerja sama menjadi panitia dalam sebuah acara. Qahar yang menjadi ketua panitia dan Zizi sebagai sekretaris mau tak mau harus sering bertemu untuk kelangsungan acara yang di-amanatkan pada mereka. Qahar selalu saja protes mengenai kinerja Zizi, maka Zizi pun tak ingin mengalah dan balik mem-protes Qahar. Ujung-ujungnya mereka kembali cekcok. Meski pun selalu bertengkar, Zizi dan Qahar tetap harus bekerja sama dan itu membuat Amel cemburu. Amel yang menjabat sebagai wakil ketua panitia merasa diabaikan oleh Qahar yang lebih sering berdiskusi dengan Zizi dari pada dengannya. Hal itu membuat hubungan Qahar dengan Amel semakin memanas.

©©©©

Keesokkan harinya, Zizi dan Qahar datang terlambat kesekolah karena mereka sibuk memikirkan dan merencanakan timing acara, sehingga mereka tidur larut malam. Telat bangun dech!

Dengan langkah berdebar Zizi dan Qahar berlari menuju kelas masing-masing. Namun, kali ini mereka lagi tidak beruntung karena seorang guru BP yang super killer memergoki mereka.

“Zizi!!! Qahar!!! Silakan berdiri di lapangan selama satu jam pelajaran!!!”. Titah Pak Aziz tanpa  dapat ditawar.

Dengan amat sangat terpaksa Zizi dan Qahar akhirnya menjalani hukuman berdua di bawah garangnya sinar mentari pagi.

“Bagusan gue dijemur dan mengelilingi lapangan 1000 kali dari pada dihukum berdua sama si cerewet Zizi!”. Ucap Qahar pedas.

Zizi mencibir. “Siapa lagi yang sudi berdiri sejajar ama lo. Udah jelek, galak, egois, pokoknya nyebelin banget dech!”. Balas Zizi yang langsung dibalas balik oleh Qahar. Adu mulut pun terjadi antara dua insan berbeda ini.

Sementara itu di sisi lain, teman-teman sekelas mereka pada heboh melihat kejadian langka tersebut. Bukannya simpati, mereka malah saling menyoraki dan mengejek mereka.

“Har… Apaan tuch?!! Zi… Apaan nih?!! Barengan ya?!! Boleh ikutan ga’…?!!”. Ucap Amad. Qahar dan Zizi melotot marah.

“Ga’ boleh yach… Maaf dech…!!!”. Dengan berani Omar mendekati Qahar. “Har… ?!! Tau ga’ nih apa namanya…?!! Kalo pepatah bilang ‘pucuk dicinta ulam pun tiba’… Dan tampaknya kamu berdua tampak serasi dech!!!”

“Iya nich, kagak usah malu-malu lagi Har, utarakan isi hati lo ama Zizi. Sebelum diambil orang. Ntar lo nyesal…” Ucap seorang siswa teman sekelas Qahar.

Wajah tampan Qahar langsung bersemu merah. Malu, marah, kesal menjadi satu. Kalo boleh disetel, Qahar tidak ingin rona merah menjadi pewarna wajahnya setiap diejek teman-temannya. Hingga masa hukuman berakhir, tak sepatah katapun yang keluar dari bibir pemuda kelahiran desa rambutan tersebut.

“Ah… Teman-teman tak pernah mau memberiku waktu untuk menjelaskan semua…”. Qahar kesal dan marah.

“Gue ingat tuch wajah yang ngeledekin gue tadi, besok-besok akan gue bales mereka. Lebih baik gue pacaran ama si telmi Bugan dari pada ama cowok kaya’ si Qahar. Shitttt!!!”. Zizi kesal bukan kepalang terhadap nasib sialnya.

©©©©

Satu hari pun usai terlewati oleh Qahar di sekolah dengan lidah membisu tanpa satu nada pun terlanturkan sejak awal pelajaran hingga menjelang pulang sekolah.

Dalam perjalanannya menuju rumah, Qahar tetap membisu dan merenung akan kejadian pagi tadi disekolah. Acap kali wajah Zizi hadir dalam renungannya.

“Ah…!!! Kamu koq muncul dalam sinetron khayalanku!!!”. Ucap Qahar di dalam hati. Ketika ia tersadar, wajah Zizilah yang terbayang.

Sesampainya di rumah, tiada pula yang dipikirkan oleh Qahar kecuali semua kejadian yang dialaminya hari ini di sekolah dan kembali wajah Zizi hadir dalam lamunannya.

“Ah…!!! Apa sich yang sedang terjadi denganku?!! Aku ini anak berpendidikan, no girls in my heart!”. Qahar menuju meja makan. Tanpa semangat ia mengunyah nasinya.

“lho… Udah siap makannya Har? Cepat banget?”. Bunda menatap anak sulungnya heran. “Ada apa Qahar, kamu ada masalah…?”.

Qahar menggeleng. “Qahar ke kamar dulu yach ‘nda. Sebentar lagi Amad datang, kami mau belajar bareng …”, Qahar menaiki tangga menuju kamarnya.

“Qahar…”.

“Ada apa ‘nda?”.

“Kalau ada masalah, ceritalah pada Bunda…”.

Qahar mengangguk. Bunda pun sedikit lega.

©©©©

“Assalamu’alaikum…”.

“Wa’alaikum salam. Bagaimana sekolahnya zizi? Baikkan…?”. Mama menyambut zizi dengan semangat. “Bagaimana persiapan kepanitiaannya…?”. Tanya Mama seraya merangkul Zizi menuju meja makan.

“Ketuanya payah Ma, egois dan galak banget! Yang nyebelin lagi, Zizi dihukum dengan dia tadi pagi. Mana teman-teman pada nyorakin lagi!”. Zizi mayun.

“Jadi anak mama lagi digosipin sama cowok yach….?!!!.

Zizi mengangguk. Dia mengunyah makan siangnya.

“Kasih solusi donk Mamaku sayang….”.

“Saran Mama… sabar, sabar dan sabar….”.

Zizi merengut . “Yach … Mama! Kalau sabar sich… Zizi emang penyabar…”.

“Oh ya… ?!! Bener nich?!!”. Mama duduk di samping Zizi. “Jangan terlalu dipikiri, Mama ga’ mau nilai kamu turun hanya karena masalah ini. Tetaplah menjadi Zizi mama yang berprestasi dan berani. Siap?!!”.

Zizi mengacungkan jempol. Kembali Mama merangkulnya penuh kasih.

©©©©

“Kenapa sich gue digosipin ama Qahar? Ga’ ada lagi apa cowok di dunia ini…?”. Inilah pertanyaan Zizi kepada para sahabatnya yang ke seribu dua ratus lima puluh enam kali.

Nugerah dan Manda menatap Zizi. Ada keseriusan di sana. Geng A4 sedang berkumpul di kantin, markas mereka. Kali ini tanpa Amel, maklum dia sibuk dengan kepanitiaan.

“Eh Zi, lo dicariin tuch ama Qahar!”. Ucap Ranie, teman sekelas Zizi memberi kabar. “Ceille… Baru tiga hari ga’ jumpa, udah rindu. Good luck yach!!!”.

Zizi mengepalkan jari-jarinya. “Gue harus cegah semua ini. Tuch cowok cuma bisa ngebentak gue, tapi dia ga’ bisa ngelarang dan mencegah gosip ini. Tuch cowok otaknya terbuat dari apa sech?!!”.

“Tapi lo suka khan sama dia…?!!”. Tanya Manda ragu.

Zizi memandang Manda sinis. “Gue akan buktikan bahwa gue ga’ suka sama do’i. Gue janji!”. Ditinggalkannya kedua sahabatnya yang terbengong-bengong.

Satu tekad telah bulat, Zizi harus mencari ketegasan Qahar. Harus !!! Sebuah ide muncul di benaknya.

©©©©

“Har…har…!!! Ada panggilan neh!”. Ungkap Amad terengah-engah karena kelelahan.

“Ada apa sich? Koq sepertinya penting banget! Bom di mana yang mau meledak?”. Canda Qahar.

“ Di cari Zizi tuch di mushalla. Agaknya penting buanget dech!”.

“Thanks yach atas informasinya!”. Dengan tanda tanya yang besar Qahar menemui Zizi di mushalla.

“Ada apa ?!!”. Tanya Qahar sesampainya di mushalla. Entah mengapa setiap melihat Zizi, amarah Qahar meledak.

Tanpa sepatah pun kata Zizi memberikan sehelai kertas kepada qahar dan berlalu begitu saja.

“Kenapa tu anak ?!!! Ga’ biasanya jadi pendiam?!!”. Dengan penasaran, Qahar pun membaca tulisan yang tertera di atas kertas yang diberikan oleh Zizi. Ternyata sebuah puisi karya Zizi.

To : muhammad qahar

Aku tak mampu lagi berkata

Karena aku tak punya kata-kata

Karena aku tahu

Aku tak pantas berkata…

Inginku menangis

Menyesali hidup

Karena kutahu…

Kau tak pernah memastikan

Apa salahku, apa dosaku

Kumohon sebuah pengertian

Agar kau mengerti

Hati ini merana, karena…

Aku butuh jawaban

Atas semua yang menimpa

Asa … Jawablah !                                           

“Gue ga’ minta banyak. Gue cuma mau lo lebih tegas!”

Setelah membaca puisi dari Zizi, badan Qahar langsung bergetar, tiba-tiba suhu tubuhnya naik beberapa derajat. Qahar pun demam tanpa dapat dicegah.

“Ya Allah… sebenarnya apa yang telah terjadi padaku??”. Tanya Qahar pada Sang Khalik penuh harapan akan hidayah dan petunjuk atas kejadian yang sedang menimpa. “Bantu Hamba Ya Allah….”. Pinta Qahar penuh harap.

©©©©

Hati Qahar galau, tak mampu ia berkata-kata. Keesokan harinya hati qahar semakin sedih ketika mengantar kepergian Amad dan keluarga yang pindah ke Padang. Kepergian yang begitu tiba-tiba dan tak dapat dicegah.

“Sebenarnya aku masih ingin di Jakarta bersama kalian, tapi apa boleh buat, Padang adalah kampungku dan aku harus kembali kesana bersama ortuku. Jaga diri baik-baik yach Mar. And kamu Har, jangan suka memendam masalah dan jangan sia-siakan Zizi… dia cewek yang baik…”. Setelah puas memeluk kedua sahabatnya, Amad memeluk Manda sepupunya.

“Jaga diri baik-baik . Jangan lupa pulang kampung, oh ya, misi kita harus berhasil lhoh…”

Lima menit kemudian, pesawat Jatayu yang ditumpangi Amad dan keluarga lepas landas meninggalkan Jakarta.

©©©©

(By : Zasackha feat MAA)

BERSAMBUNG…

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 1)

Hati Qahar galau, tak mampu ia berkata-kata. Keesokan harinya hati qahar semakin sedih ketika mengantar kepergian Amad dan keluarga yang pindah ke Padang. Kepergian yang begitu tiba-tiba dan tak dapat dicegah.

2 thoughts on “Kemelut Cinta (Part 2)

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s