Kemelut Cinta (Part 4)


Cerita Sebelumnya:

Karena kesal dengan ketidak-tegasan Qahar, Zizi pun mengirim sebuh puisi untuk pemuda itu. Ternyata Qahar salah sangka dan mengira puisi itu ungkapan perasaan Zizi padanya. Memang tu adalah ungkapan persaan Zizi, namun bukan perasaan meminta Qahar menjadi kekasihnya seperti yang disangka Qahar. Setelah Qahar mengirim surat balasan ke Zizi, suasana semakin memanas dan masing-masing pihak terus bertempur mempertahankan ego-nya. Sampailah saat Zizi mendapat kabar bahwa Qahar mengalami kecelakaan, Zizi pun panik dan tampaklah bagaimana persaan Zizi yang sebenarnya. Begitu juga dengan Qahar yang dapat melihat jelas bagaimana Zizi yang sebenarnya. Setelah berbagai macam proses, akhirnya Zizi dan Qahar berpacaran. Semua orang bahagia, kecuali Amel. Kebencian dan kecemburuan Amel membuat gadis itu menjelma menjadi monster. Amel pun memfitnah Zizi yang mengakibatkan Zizi dikeluarkan dari sekolah. Parahnya lagi hubungan Zizi dan Qahar pun retak.

♥♥♥♥

“Kak  aku pergi. Maafkan aku! Tak adakah kata perpisahan terakhir untukku?” Tangis Zizi pecah tatkala melihat Qahar yang enggan berbicara dengannya. Pemuda yang berumur 2 tahun lebih tua darinya itu tampak tak bersahabat.

“Gue tahu Kak Qahar kecewa, tapi gue akan buktikan kalo gue gak bersalah. Gue dijebak, dan gue gak akan menceritakan semuanya sekarang. Lo percaya ama gue kan Mar ?” Omar mengangguk ragu. Gadis ceria di depannya tampak lemah tak bersemangat.

“Mar, jaga Kak Qahar baik-baik…”

Zizi memeluk Nugerah dan Manda, tak ada Amel di sana. Zizi heran akan ketidakhadiran Amel, namun… Zizi tak sempat memikirkannya. “Baik-baik ya guys! Seringlah berkirim kabar dengan gue. Salam untuk Amel.” Zizi mendesah. “Gue masih sahabat kalian kan?” Nugerah dan Manda mengangguk. Mereka bertiga saling berpelukan.

Tak lama kemudian, pesawat Garuda yang membawa Zizi lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta menuju kota kelahirannya, Bandung.

“Mar, sebenarnya aku tidak percaya dengan apa yang menimpa Zizi. Tapi… Bukti-bukti itu nyata. Aku gak bisa menyangkal kebenaran, walau itu amat berat bagiku. Mar…kamu percaya dengan semua ini?”.

“Entahlah Har…., maunya sich gak percaya. Tapi bukti-bukti itu…., otakku buntu Har!”. Qahar dan Omar meningglkan bandara tanpa kata.

♥♥♥♥

Semenjak kepergian Zizi, mulailah kemurungan menemani Qahar dalam kesehariannya. Keharmonisan yang mekar kini sedikit demi sedikit menjadi layu. Bunga yang dahulu mengeluarkan semerbak keharumannya kini mulai pudar, karna tak lagi disiram oleh pemiliknya. Tapi Qahar yang merasa dikhianati oleh perbuatan Zizi tetap sabar dan memegang pesan sahabatnya Omar agar siap untuk dikecewakan oleh kaum Hawa, tetapi tidak untuk mengecewakan mereka.

“Mungkin inilah taqdir Adam. Tapi ingat Har, sungguh sebenarnya kamulah orang yang terbaik, sebab masih menjaga kesetiaan akan Hawa”. Doktrin Omar kepada sahabatnya agar tidak putus asa.

Dengan penuh semangat baru, yang menepis segala kekecewaan akan Zizi, Qaharpun bangkit dengan mengharap ridha Allah dan petunjuknya agar dapat menstabilkan dirinya kembali. Qaharpun memutuskan untuk tidak lagi mau berhubungan dengan wanita manapun sampai ia sudah mapan di kemudian hari.

♥♥♥♥

Berbeda dengan Qahar yang sedih. Amelia begitu senang dengan kepergian Zizi. Ia pun mulai mendekati Qahar dengan jurus-jurus barunya. Ia lebih agresif dan berani menunjukkan rasa cintanya kepada Qahar. Sebesar apapun pengorbanan Amelia untuk menarik hati  Qahar, tak sedikit pun Qahar terpengaruh dan terpedaya dengan sikap manis Amelia.

“Mel, lebih baik kamu rubah saja sikapmu padaku. Meski kau poles wajahmu dengan ribuan kosmetik yang dapat merubah wajahmu secantik primadona, aku tak tertarik. Hatiku ini sudah tertutup unuk semua wanita, walau Zizi tinggal kenangan, tapi bagiku ia tetap yang terbaik sampai aku mendapatkan penggantinya dari Tuhan. Dan biarkan Tuhan yang menentukan semuanya!”. Ungkap Qahar tenang menanggapi sikap Amelia yang sangat memuakkan.

“Satu lagi Mel… lebih baik sekarang kita memperbanyak ibadah. Tanda-tanda kiamat sudah jelas tuch! Dan kita hanya hidup sekali, hiduplah penuh arti… jangan susahkan orang lain. Kalau bisa, senangkan hati orang lain dengan segala kejujuran. Karena, bila nyawa sudah di penghujung, tak ada lagi guna kejujuran dan kebaikan kita”. Qahar meningalkan Amelia yang tertegun meresapi perkataan demi perkataan yang dilontarkan Qahar. Ada sesal dalam hatinya.

♥♥♥♥

Nugerah dan Manda menarik Amel ke halaman belakang sekolah. Mereka menghempaskan tubuh Amel ke tanah.

“Apa-apaan sich kalian ?!!”. Bentak Amel.

Manda menarik kerah baju Amel. “Dasar munafiq! Pengkhianat! Tega-teganya lo mengkhianati persahabatan kita hanya gara-gara cowok?!! Bajingan lo!!!”.

“Maksud kalian apa?!! Gue gak ngerti!”. Tantang Amel.

“Gak usah belagak belo’on dech! Kami udah tahu belang lo. Ingat yach…, walaupun lo berhasil menyingkirkan Zizi dari Qahar, dia gak akan tertarik ama cewek murahan kayak lo! Apalagi kalau Qahar tahu siapa orang yang memfitnah Zizi…”. Ucap Nugerah.

“Lo tuch ya…., Udah miskin, sadar kek sama derajat! Lo itu punya banyak hutang ama Zizi, dua tahun juga uang SPP lo dia lunasi. Lo gak tahu balas budi ama orang yach?!! Siapa yang ngebiyai perawatan nyokap lo selama dua bulan di rumah sakit?!! Siapa yang udah memberi modal untuk usaha abang lo yang sering bangkrut?!! Ingat mel, semua yang lo miliki adalah pemberian Zizi. Ingat mel, semua Zizi berikan untuk lo! Uang jajannya ludes untuk melunasi utang-utang bokap lo ama reintenir. Ingat mel! Ingat!!! Zizi nggak pernah ngecewakan elo! Tapi lo?!! Lo menfitnah dewi fortuna lo! Itu balasan lo untuk Zizi yang baik? Itu?!!!”. Manda mengungkapkan kekesalannya.

Amelia tertunduk, air mata mengalir menganak sungai di pipinya yang terpoles kosmetik murahan semenjak kepergian Zizi. Teringat olehnya semua bantuan dan kebaikan Zizi yang tak mungkin terbalas. Amelia menangis tersedu-sedu.

“Mel, hanya demi cinta lo tega nyakitin teman-teman lo. Mel, Zizi itu sayang banget ama lo. Kalau lo menyukai Qahar, kenapa gak bilang dari awal sama kita-kita. Kami pasti akan membantu lo. Tapi lo gak mau jujur. Lo malahan menjadi tim sukses untuk mempersatukan Zizi dan Qahar. Setelah mereka bersatu, lo malah menjadi bumerang bagi mereka. Mel, Zizi gadis berhati mulia. Demi sahabat dia rela melakukan semuanya. Ingat mel, zizi yang selalu ngebantu lo di saat lo kesusahan. Zizi yang meringankan beban lo. Zizi yang…”.

Amelia memeluk Nugerah. Ia semakin tersedu di pelukan Nugerah. “Gue   salah! Gue jahat ! Gue…, gue nyesal! Maafin gue! Maaf!!!”. Amelia menjatuhkan diri dan bersujud memohon maaf pada Nugerah.

Manda mengajak Amelia berdiri, mereka berpelukan dalam tangis.

“Minta maaflah kepada Allah dan Zizi. Dia yang merasakan. Jangan lupa, Jelaskan semuanya pada Qahar dan Omar. Sebentar lagi ujian nasional Mel, tepat di hari ketiga, jelaskan semuanya pada gue, Nugrah, Qahar dan Omar. Mereka pasti mengerti. Lo mau khan ?!!”.

Amel mengangguk. Hatinya lega karena teman-temannya tidak memusuhinya. Satu lagi tugasnya, menjelaskan pada Qahar dan Omar, serta  meminta maaf kepada Zizi. Untuk pertama kalinya Amel dapat tersenyum bahagia semenjak kepergian Zizi.

♥♥♥♥

Setelah UN hari ketiga berlangsung. Qahar, Omar, Amel, Manda dan Nugerah berkumpul di sebuah kafe. Amel pun menceritakan segala kejadian yang sebenarnya secara kronologis, sehingga membuat Qahar  merasa bersalah, sebab ia tak mempercayai ketulusan Zizi semenjak ia terbukti terlibat sindikat obat-obatan terlarang.

Dari penjelasan Amellah teman-teman Zizi mengetahui bahwa Zizi tidak bersalah. Dia dijebak oleh Amel tanpa disadarinya. Beberapa bulan sebelum kasus tersebut, Amel meminta tolong kepada Zizi untuk memberikan beberapa amplop yang Zizi pun tidak tahu isinya kepada orang-orang tertentu. Hal itu terjadi selama beberapa kali dan selalu diabadikan oleh Amel sebagai barang bukti untuk menjatuhkan zizi.

Dan sehari sebelum Zizi dikeluarkan dari sekolah, Amel meminta tolong zizi untuk memberikan amplop seperti biasa kepada seorang pemuda di depan sekolah. Kemudian Amel pulalah yang melaporkan hal itu kepada kepala sekolah. Amel juga meletakkan obat-obatan berupa Ekstasi di dalam tas Zizi. Demi persahabatannya dengan Amel, zizi pun mengakui kalau dialah yang bersalah. Zizi tak pernah menyadari kalu Amellah biang semua ini. Yang Zizi ketahui bahwa ia dan Amel sama-sama dijebak oleh seseorang yang tidak menyukai mereka.

“Gue Menyesal! Gue minta maaf…”. Ucap Amel di akhir ceritanya.

“Aku harus ke Bandung menemui Zizi!”. Ucap Qahar tegas. “Kalau bisa, kalian menyusullah besok!”. Qahar berlari meninggalkan sahabat-sahabatnya.

♥♥♥♥

Sementara itu di kota Bandung…

Zizi sedang menulis surat di atas kertas bernuansa merah jambu yang akan diberikannya kepada Qahar. Zizi merasa amat sangat lelah, ia ingin mengakhiri semua kesedihan dan kegalauannya. Zizi merasa akan berpisah jauh dari Qahar. Entah kapan mereka dipertemukan kembali.

Tepat selesai Zizi menulis suratnya, SMS dari ponselnya berbunyi.

“Nomor siapa ini….?”. Tanya Zizi seraya membaca pesan yang tertera di layar HP.

Masih terbukakah pintu hatimu untuk menerimaku beserta maafku? Jemput aku di bandara, sebentar lagi aku sampai. Jangan terlambat!    —Qahar—

“Qahar?!!”. Pekik Zizi terkejut. “Masih ingatkah Kak Qahar pada seorang Zizi sang pengkhianat?” Bergegas zizi memakai kerudungnya dan keluar kamar.

“Oh, tidak! Gue harus memakai busana muslimah kesukaan Kak Qahar yang diberikan untuk gue…” Gadis mans yang baru empat bulan mengenakan busana muslimah itu berlari ke dalam kamar. Diambilnya sepasang pakaian berwarna pink dari lemarinya. Zizi mencium pakaian tersebut penuh cinta. Tak lama kemudian Zizi sudah rapi dengan busana muslimah serba pink pemberian Qahar.

“Oma…” Zizi memanggil neneknya, mereka tinggal berdua di Bandung. Sedangkan Papa dan Mama Zizi  tetap tinggal di Jakarta.

“Ada apa sayang….? Koq teriak-teriak…?”

“Oma, Zizi mau ke bandara….”

“lhoh… Mama–Papamu kan baru berangkat besok, apa dipercepat keberangkatannya?” Oma heran.

Zizi menggeleng. “Zizi mau menjemput Kak Qahar. Itu lhoh ma, cowok yang sering Zizi ceritakan…”

Oma manggut-mangut. Dirinya sangat senang melihat pancaran wajah Zizi yang yang bahagia. Selama kembali ke Bandung, Zizi menjadi pendiam. Zizi tak punya semangat untuk hidup.

“Jadi?” Tanya Oma penasaran.

“Zizi titip ini…”  Zizi memberikan amplop pink kepada Oma. “Berikan kepada Kak Qahar, Zizi takut gak bisa berbicara dengannya.” Zizi memeluk dan mencium Oma dengan khidmat.

“Zizi sayang Oma, Mama, Papa dan Kak Qahar. Ikhlaskan Zizi pergi. Assalamu’alaikum…”

Wa’alaikum salam…” Walaupun merasa aneh dengan perkataan Zizi, Oma tetap mengizinkan Zizi pergi. Oma merasa akan kehilangan zizi untuk selama-lamanya. Lambaian tangan Zizi sepertinya adalah lambaian terakhir yang akan dilihat oleh Oma. Tapi Oma tak sanggup berkata-kata. Hatinya pilu.

♥♥♥♥

(By : Zasackha feat MAA)

BERSAMBUNG KEMELUT CINTA (PART 5 -END)

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 1)

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 2)

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 3)

em

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s