Kemelut Cinta (Part 3)


Cerita Sebelumnya:

Zizi tak mengerti mengapa dia bisa digosipkan memiliki hubungan dengan Qahar. Teman-temannya bukan membantu, malah tambah memperkeruh suasana. Teman-teman Zizi dan Qahar bekerja sama untuk mempersatukan Zizi dan Qahar. Hal itu membuat Zizi tida nyaman sehingga mengirimkan sebuah puisi untuk Qahar. Isi puisi itu simpel, hanya meminta Qahar agar lebih tegas menghalau gosip-gosip yang menerpa mereka. Kalau hanya Zizi yang berusaha tidak akan ada artinya, jadi sebaiknya kedua belah pihak bersama-sama membungkam mulut teman-teman yang menggosipi dan mengejek mereka. Di lain pihak, Qahar merasa aneh dengan puisi Zizi. Qahar galau, dan semakin gelisah saat sahabatnya Amad ikut pindah ke Padang bersama orang tuanya.

♥♥♥♥

“Har… kamu kenapa sich? Kok murung aja beberapa hari ini?!!” Tanya Omar dua hari kemudian.

“Baca surat ini, dari Zizi untukku….”. Perintah Qahar yang langsung dituruti oleh Omar. Setelah membaca surat tersebut, Omar tersenyum seraya berkata:

“Kamu tahu gak apa maksud dari puisi ini? Zizi itu sepertinya meminta penjelasan yang sebenarnya darimu akan gosip yang menimpa kalian di sekolah.” Omar kelihatan senang karena sahabatnya mulai dapat merasakan yang namanya cinta untuk pertama kalinya. Namun rasa itu tertutupi oleh egonya.

“Mar, kamu harus membantuku untuk memberi pelajaran kepada tu anak.”. Pinta Qahar yang tampak seperti perintah. “Tujuanku di sekolahkan hanya untuk belajar dan belajar, gara-gara cewek sialan itu, semua cita-citaku buyar seketika!”.Ucap Qahar tanpa dapat menutupi kekesalannya terhadp Zizi.

Omar tampak berpikir. ”Ya udah… kalo memang itu keputusanmu, apa boleh buat. Sebagai seorang sahabat aku akan selalu membantumu”. Ucap Omar yang sangat kecewa atas keputusan Qahar yang menutupi kebenaran hati kecilnya.

“Cuma bilang  ‘I love You’ kok payah amat sech!”. Kata-kata itu hanya dapat terucap di benak Omar, kalau ke orangnya langsung… gawat atuh…!!!

♥♥♥♥

Balasan pun mulai lepas landas dari bandara meja tulis Qahar dan landing tepat di meja Zizi. Mulailah pertempuran sengit terjadi melalui jalur udara antara Tomcat Zizi versus Suokoi Qahar. Semua murid di SMUNSA tahu akan pertempuran mereka, terutama murid-murid kelas IIB dan IIC.

“… Aku tak menyalahkanmu jika kamu memiliki ‘rasa’ terhadapku, karena aku tahu itu adalah sunnatullah. Tapi jangan jadikan aku sebagai tempat bersandarmu, karena aku belum memiliki penyangga yang kuat. Dengan tegas kujawab tanda tanyamu, bahwa aku menganggapmu teman biasa seperti teman-teman lainnya…”.

Zizi meremas surat dari Qahar yang berada ditangannya. Amarah Zizi benar-benar meledak, kesabarannya terkuras habis.

“Keterlaluan banget tu cowok!! Dia pikir siapa dia?!!! Kalo cewek lain boleh dia rendahkan karena mereka yang mengejar. Kalo lo Zi…?!! Sok hebat banget sich ?!!”. Manda sangat kesal atas sikap Qahar.

“Gue harus balas dia Zi..?!”. Nugrah hendak berdiri. Apapun yang terjadi, dia harus membela Zizi yang selalu membelanya tatkala ia disudutkan oleh teman-teman. Zizi adalah teman yang paling baik yang selalu setia baik suka maupun duka.

Zizi memegang pergelangan tangan Nugerah. ”Please Nugerah… jangan! Gue punya perhitungan tersendiri untuk dia. Gue yakin, sekeras apapun hatinya akan luluh oleh sinar cinta. Kita hanya menunggu waktu….”.

“Zizi…..”. Nugerah memeluk Zizi, kemudian diikuti oleh Manda dan Amel. Tanpa Zizi sadari, ketiga temannya sangat menyesal. Karena ulah merekalah Zizi menderita. Zizi direndahkan sebagai wanita. Zizi… ah…

“Kalian semua sahabat gue. Kalo gue butuh bantuan, gue akan meminta bantuan pada kalian…”

♥♥♥♥

Akhirnya, perang dingin pun berakhir imbang tanpa kemenangan dan kekalahan di kedua pihak. Meski demikian, perayaan ulang tahun sekolah yang mereka pimpin tetap berjalan dengan lancar.

♥♥♥♥

Hari demi haripun berlalu, bulan demi bulan terlewati, ujian semester dua telah terlewati, begitu juga liburan kenaikan kelas.

Tibalah saatnya murid SMUNSA memasuki sekolah mereka. A4 memulai hari-hari baru mereka di kelas tiga, begitu pula dengan Qahar, Omar dan murid-murid kelas III teman-teman Zizi. Kini merekalah murid tertua di sekolah. Zizi selalu berharap, dengan menempati kelas baru, kehidupannya akan menjadi baru. Semoga…

♥♥♥♥

Hari-hari di SMUNSA berjalan seperti biasa. Anggota majalah ‘BINTANG’ tetap terus berkarya menampilkan tulisan-tulisan yang sedap dibaca. OSIS dan ROHIS tetap berjalan menunaikan tugas-tugas mereka. Hingga suatu hari…

“Apa?!! Qahar kecelakaan?!!”. Bagaikan petir di siang bolong, kabar yang di dengar Zizi dari Omar dan teman-teman lainnya.

Zizi menahan tangis. “Di mana dia dirawat? Kita kesana sekarang juga…!”. Zizi memasukkan buku-bukunya asal. “Ayo…! Tunggu apalagi?!!”. Bentak Zizi yang melihat ketiga sahabatnya masih terpaku di tempat.

“Ke mana Zi?!!”. Tanya Omar.

“Lo bego atau apa sich?!! Ya ke rumah sakit donk! Di rumah sakit  mana dia dirawat?!!”.

Omar melongo bingung. “Aku gak tahu….”.

“Apa..?!! Masak lo gak tahu! Lo kan sahabatnya! Sahabat apaan lo…!”.

“Zi… tenang  Zi… Kita-kita dapat kabar dari orang, jadi kita gak tahu Qahar di mana..”. Ucap Manda lembut. Takut juga khan melihat Zizi marah besar seperti macan kelaparan.

“Kita kerumahnya !”. Ajak Zizi.

“Sekolah kita..?!!” Tanya Nugerah.

“Kita bolos..! Siapa gak ngikuti gue, berarti bukan sahabat gue! Titik!!! Zizi berlari menuju mobilnya.

Dengan enggan ketiga sahabat Zizi beserta Omar mengikuti jejak Zizi, bolos sekolah demi melihat Qahar yang kabarnya kecelakaan semalam.

♥♥♥♥

Sudah lebih tiga kali Omar menekan bel di depan pagar rumah Qahar yang megah. Rumah itu sepertinya tak berpenghuni.

“Gak ada orangnya Zi…”. Ucap Omar lelah.

“Tanya tetangga gih..!”. Perintah Amel.

Omar menggaruk kepalanya. “Tetangga samping rumah jarang di Jakarta, samping kiri… kosong, tanya ama siapa?!! Depan rumah… tu orang sombong banget!”.

“Hei Zi… mau ngapain lo?!!”. Pekik Manda melihat Zizi yang bersiap-siap memanjat pagar. “Gila ne anak, mo jadi tontonan gratis Omar yach?!! Sadar non… lo pake rok pendek!”. Ucap Nugerah.

Zizi mendengus. “Jadi gimana donk?!! Gue khuatir ama do’i!”. Ucapnya tulus.

A4 dan omar saling bertatapan, mereka heran dengan sikap zizi yang berubah 360 derajat terhadap Qahar. Tumben perhatian sama musuh!

“Ya udah… Kalian balik saja ke rumah, biar aku yang nunggu di sini sambil cari informasi ”. Tawar Omar.

“Tapi…”.

“Kamu orang pertama yang akan kuberi tahu kalo aku dapat informasi Zi. Don’t worry…! Semua akan beres, Insya Allah…”.

“Ayolah Zi, kita belum shalat zuhur ne. kalo lo masih khuatir… eng… Nanti sore gue temani lo di sini, ok ?”

Zizi menuruti perkataan Nugerah dengan setengah hati. “Ya Allah… lindungilah Qahar…”

♥♥♥♥

Tiga hari berlalu tanpa kabar dari Qahar. Banyak murid dan guru yang kehilangan, terutama Zizi. Hatinya tak pernah tenang sebelum mendapat kabar dari Qahar. Teringat di pikirannya hari-hari sulit yang di lalui bersama Qahar yang egois, cerewet dan angkuh. Sebenarnya Qahar baik, tapi dia terlalu sombong untuk mengalah. Zizi merindukan Qahar, entah kenapa!

Di hari yang keempat Qahar muncul dengan senyum menawan di sekolah tanpa segores luka di tubuhnya. Semua orang lega, apalagi Zizi yang langsung sujud syukur melihat kehadiran Qahar yang sehat wal afiat.

“Gimana kabar sekolah? Majalah BINTANG? Selama aku absent Mar…?”. Tanya Qahar di mushalla setelah shalat dhuha.

“Baik, kamu ke mana aja sich…? Semua pada khuatir, apalagi …”

Belum sempat omar melanjutkan perkataannya, HP Qahar berbunyi tanda SMS masuk. Beberapa menit kemudian….

“Aku dengar ada kabar kalau aku kecelakaan. Koq bisa sich?!!”.

“Tau tuch kabar dari mana. Omar pun menceritakan apa yang terjadi sejak Qahar absent di sekolah. Tak ada yang tersisa, semua diceritakan panjang lebar oleh Omar.

“Zizi…?!! Zizi Amarha yang paling khuatir ama keadaanku?!! Serius kamu Mar ?!!”. Qahar tak percaya. Satu keajaiban alam kalau Zizi tiba-tiba perhatian padanya.

Omar mengangkat bahu. ”Terserah dech, mau percaya atau gak. Hak asasi kamu koq! Yang terpenting… Zizi itu adalah gadis yang baik dan pengertian. Dia gadis yang tepat untuk mengisi kekosongan hati kamu. Zizi itu… Bla… bla… bla… Walaupun… Bla… Bla… Bla … Bla … Pokoknya  kamu gak akan menyesal kalau jalan dengannya!”. Omar meninggalkannya sahabatnya .

Qahar merenung. Di sela-sela kesedihannya ditinggalkan oleh dua orang yang dikasihinya , sehingga dia tidak masuk sekolah, dan di antara do’a-do’anya ada seorang zizi yang begitu peduli dan mengkhuatirkannya. Qahar pun merasa bahwa Tuhan menurunkan malaikat rahmat pelepas keharuannya selama beberapa hari ini. Kehadiran Zizi kali ini membuat hati Qahar tenang .

“Ya Allah… Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? Kehadiran Zizi yang awalnya penuh kebencian kini berubah menjadi… Entahlah!”.

Qahar pun semakin berkeyakinan pada Tuhannya bahwa inilah salah satu tulang rusuknya yang hilang, yang ia dapatkan sebagai penawar akan dukanya dan pemanis akan sukanya.

Kemudian Qahar pun mencoba untuk meminta saran dari sahabat karibnya, Omar yang selalu hadir dan siaga dalam suka dan duka. Qahar pun menceritakan semuanya kepada omar tanpa ada sedikit pun celah yang ditutupi .

“Qahar… Cinta itu anugrah Tuhan yang tak dapat kita pungkiri. Apa yang kamu rasakan sekarang adalah klimaks  dari apa yang pernah kamu rasakan dahulu… Meski kamu tutupi dengan baja, rasa itu pasti dapat menghancurkannya!”. Ucap Omar lega karena sahabatnya berterus terang.

“Dan sekarang, lebih baik kamu unggkapkan segalanya, dan satu pesanku… sebagai kaum Adam kita harus siap untuk dikecewakan Hawa, tapi ingat… janganlah pernah kamu coba untuk mengecewakan perasaan kaum Hawa walau hanya sekali, karena itulah letak kemenangan kita sebagai kaum Adam”. Tambah Omar dengan opini jitunya yang kerap membangkitkan semangat Qahar dalam menjalani kehidupan.

♥♥♥♥

Di suatu pagi di penghujung Oktober…..

“Surat untuk siapa ne…?!!!”. Tanya Zizi ketika mendapat sepucuk surat beramplop biru di laci mejanya. Namanya tertera di sudut amplop.

“Buat gue…?!! Dari siapa ?!!”. Zizi melihat kanan-kiri, depan-belakang mana tahu ada ibu peri… mimpi kali ye!!!

Kelas masih sepi, Zizi pun memutuskan untuk membaca surat tersebut tanpa menunggu ketiga sahabatnya. Zizi mengeluarkan kertas dari dalam amplop yang harum semerbak menggelitik indra penciumannya. Kalimat-kalimat indah pun dibaca Zizi dengan seksama.

To : zizi amarha

Assalamu’alaikum  Wr. Wb.

Pagiku dahulu terasa gelap

Tanpa penerang yang melindungiku

Siangku terasa malam tanpa mentari dan rembulan

Tanpa cahaya yang menyinariku

Duniaku kini menjadi sepi, senyap dan hampa

Kupanjat do’a di tengah kesepianku.

Kupinta asa pada NYA, sang pemilik asa.

Ternyata pintaku didengar oleh IA

Sang maha pendengar

Dia turunkan seorang peri kecil pelepas kesedihanku

Teman berbagi didalam kesepian

Teman yang….

Entahlah!  

Bagiku,  kau kini  adalah yang terbaik

Kau adalah tempatku berbagi

Yang Tuhan turunkan atas Hamba-Nya ini.

Zizi… .maafkan sikapku selama ini, yang membuatmu kesal. Kini kusadari bahwa semua yang kusimpan dalam lubuk hati ini tak dapat kubendung, tak dapat  kututup, dan tak dapat lagi kupungkiri. Kau selalu hadir dalam khayal an mimpiku. Aku berkeyakinan pada Tuhan, kehadiranmu adalah taqdir-Nya, dan aku yakin kamu adalah wanita yang terbaik yang diturunkan oleh Allah bagiku. Tidak banyak yang kupinta darimu, hanya tanggapanmu atas ungkapan isi hati ini. Apapun yang akan kau berikan atas isi hati ini akan kuterima dengan penuh keikhlasan, dan satu kejujuran yang sangat kuharapkan darimu. Di akhir tulisan aku sampaikan bahwa aku akan selalu menuggu jawabanmu.

                                                                                                                                                                  Wassalam

                                                                                                        Muhammad Qahar

♥♥♥♥

Antara percaya dan tidak, Zizi melipat surat yang telah dibacanya. “Surat dari Qahar? Kayaknya gak mungkin, tapi… ini tulisan Qahar. Apa dia ngigau yach?!!!”. Belum sempat Zizi memikirkan jawaban dari pertanyaannya…

“Zizi…, dapat salam dari Qahar. Dia tanya tanggapan kamu!”. Ucap Omar semakin memantapkan keyakinan Zizi bahwa surat yang baru saja ia baca berasal dari Qahar.

“Zi, Qahar itu pemuda yang baik, kamu tak akan salah pilih… yakin dech…”. Zizi mengangguk mantap. Tekadnya sudah bulat, Insya Allah Qaharlah yang terbaik baginya.

Akhirnya, hubungan Zizi dan Qahar terjalin dengan indah. Meskipun demikian, satu yang tetap mereka jaga bahwa “Cinta yang haqiqi dan sejati hanyalah  cinta kepada sang pemilik cinta, cinta kepada raja pujangga cinta, Allah SWT”.

Dan inilah yang mendasari keharmonisan tali percintaan dan persahabatan mereka. Tolong-menolong, nasehat-menasehati selalu mereka lakukan sebagai penumbuh dan peningkat spiritual mereka akan Tuhan.

Zizi yang manja, egois, cuek dan nakal pun kini mulai berubah sedikit demi sedikit. Pakaiannya tak lagi minim seperti dahulu. Walaupun bergabung dengan ROHIS, Zizi tetap menjaga keharmonisannya bersama ketiga sahaatnya di A4.

♥♥♥♥

“Qahar, aku mau bicara!”.

“Ada apa Mel?!!”.

“Kamu pacaran yach dengan Zizi?”. Tanya Amelia tepat pada sasaran.

Qahar terdiam. “Emang kenapa?!!”.

“Kamu tanya kenapa Har?!! Kamu tega yach! Kamu lebih memilih Zizi yang baru kamu kenal dari pada aku yang sejak SD menunggu jawabanmu. Kamu… kamu keterlaluan!!! Kamu gak adil!!!”. Air mata Amelia menetes.

“Maafkan aku Mel. Tapi Zizilah pilihanku dan selama ini aku hanya menganggapmu teman“. Tegas Qahar.

“Cukup har! Cukup! Kamu belum mengenal Zizi. Aku yakin… Zizi bukan pilihan yang tepat untukmu. Kamu pasti menyesal!”. Amelia mengingatkan pemuda yang sudah dicintai semenjak SD.

Qahar mendesah. ”Maafkan aku Mel. Tapi aku yakin, Zizi adalah pilihan terbaikku…”. Qahar berjalan menuju kelasnya, III IPA 1. Tanpa disadari, sepasang mata melihat kejadian antara Qahar dan Amelia, mata milik Omar.

“Har… kamu harus menceritakan semua ini pada Zizi. Sebelum terjadi peperangan dingin antara kalian”. Saran Omar.

Qahar menggeleng. ”Aku belum siap Har. Zizi pasti terluka jikalau mengetahui bahwa Amel menaruh hati padaku. Zizi pasti sedih”.

Omar tertegun. ”Tapi Har, ini demi kamu dan Zizi. Dia akan semakin sedih kalau Amel yang menceritakan semua. Kamu harus tegas Har!”.

“Hm… baiklah !”. Ucap Qahar berbohong. Mana tega dia melukai hati bidadarinya, Zizi.

“Aku kekelas yach! Good luck Har!”.

Qahar tersenyum hampa.

Bulan demi bulan berlalu. Hubungan Zizi dan Qahar berjalan langgeng, mereka semakin akrab. Mereka belajar bersama, berdiskusi, bertukar pikiran. Zizi akrab dengan keluarga Qahar, sebaliknya  juga Qahar.

Tetapi pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak, tak ada tali yang lapuk”, goncangan pun menggoyang hubungan mereka yang belum begitu kokoh.

“Har…! Har…! Udah dapat kabar belum ?!!”

“Kabar apaan Mar..?”. Tanya Qahar

“Zizi Har… Zizi! Katanya tu anak terlibat sindikat obat-obatan terlarang.” Ucap Omar ragu akan kebenaran berita tersebut.

Qahar menatap Omar tajam.  “Bilang kalau kabar itu bohong!!!”. Ucap Qahar tajam setajam belati.

Omar tergagap. “Aku juga gak percaya Har, tapi… zizi memang tertangkap basah sedang melakukan transaksi di depan sekolah. Di dalam tasnya juga di dapatkan Ekstasi yang siap dijual. Sekarang zizi sedang diintrogasi di kantor BP”. Jelas Omar.

“Aku akan kesana!”. Qahar berlari, diikuti Omar. Di depan kantor kepala sekolah banyak siswa berkerumun sambil bertanya-tanya. Ada yang terkejut, marah, tak percaya dan adapula yang tak peduli.

“Har… gue gak percaya kalau Zizi…”.

“Aku juga gak percaya Man…, tapi… Siapa yang tega memfitnah Zizi?!!”.

“Sudah kukatakan, Zizi bukan cewek baik-baik. Aku mengenalnya, dia sudah lama terjaring dalam sindikat obat-obatan terlarang”. Ucap Amelia yang datang tiba-tiba.

Semua mata sahabat Zizi menatapnya tak percaya. “Maaf… karena aku menutupinya…”. Amelia menyesal.

Plakkkkk!!!

Sebuah tamparan mendarat di pipi Amelia.

“Lo gak usah ngarang dech Mel! Lo udah memfitnah sahabat lo sendiri. Tega banget lo ya?!!”. Bentak Qahar.

“Mel… apa-apaan sich lo?!! Masa’ lo tega menuduh Zizi yang selalu ngebantu lo! Lo kenapa sich?!!”. Ucap Nugerah marah.

“Awas lo mel! Jangan sampai fitnah ini menyebar! Gue yakin Zizi gak bersalah! Lo pasti penyebab segalanya! Lo pasti yang…”.

“Cukup Har!!! Gue gak bohong! Terserah kalian mau percaya atau gak. Yang pasti Zizi bukan cewek baik-baik!”. Amel mengeluarkan sesuatu dari saku rok abu-abnya. “Ini buktinya!”. Ucapnya seraya menyerahkan sebuah amplop kepada Qahar. Qahar membukanya dengan bergetar.

“Astaghfirullah!”. Amplop di tangan Qahar terjatuh, isinya berserakan di atas tanah. Foto-foto berposekan Zizi yang sedang bertransaksi di beberapa diskotik terpampang di depan Qahar, Omar dan A4.

“Puas kalian?!!”. Amelia pergi tanpa basa-basi.

Manda mengutip foto-foto yang berserakan. “Kamu harus tegar Har…, kalau benar Zizi bersalah, kamu harus memberi dukungan padanya….”

Qahar kehabisan kata-kata. Dia kecewa akan Zizi. Tanpa sepatah katapun, Qahar meninggalkan teman-temannya.

“Biarkan dia sendiri mar..”. Larang Nugerah ketika Omar hendak menyusul Qahar.

Omar, Manda, Nugerah dan Qahar berkabung. Apalagi saat dewan guru memutuskan bahwasanya Zizi bersalah, dan dia dikeluarkan dari SMUNSA.

“Tidak!!!”. Nugerah dan Manda menjerit histeris. Omar terdiam, Qahar menahan tangis. Amelia tertawa senang.

♥♥♥♥

(By : Zasackha feat MAA)

BERSAMBUNG KEMELUT CINTA (PART 4)

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 1)

Baca juga KEMELUT CINTA (PART 2)

“Kamu orang pertama yang akan kuberi tahu kalo aku dapat informasi Zi. Don’t worry…! Semua akan beres, Insya Allah…”. /p

10 thoughts on “Kemelut Cinta (Part 3)

  1. suka kata-kata qahar “… Aku tak menyalahkanmu jika kamu memiliki ‘rasa’ terhadapku, karena aku tahu itu adalah sunnatullah. Tapi jangan jadikan aku sebagai tempat bersandarmu, karena aku belum memiliki penyangga yang kuat. Dengan tegas kujawab tanda tanyamu, bahwa aku menganggapmu teman biasa seperti teman-teman lainnya…”.

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s