Guruku Sayang, Guruku Malang


Mentari terbit di ufuk timur. Sang jago pun berkokok bersahut-sahutan, membuat irama syahdu untuk menyambut sang mentari. Bergegas aku memakai seragam SMA-ku dan sarapan pagi, setelah terlebih dahulu sholat subuh dan mandi. Alhamdulilah… aku masih diberi kepercayaan oleh Allah untuk menjaga ruh yang IA pinjamkan.

“’Nda, Salwa pergi yach. Assalamu’alaikum…”

“Wa’laikum salam…” Bunda menatapku sampai hilang di bengkolan rumah.

“Wa! Ada kabar baru lhoh…” Yanti menjejari langkahku. Aku ingin cepat-cepat ke kelas, karena ada tugas yang belum ku selesaikan.

“Wa, emang enak dikacangin…” Yanti sewot. Aku pun tertawa melihat bibirnya yang maju beberapa senti meter. “Eh malah ketawa! Dengerin aku dong…” Pelasnya.

Melihat wajah Yanti yang memelas, aku tak tega. Maka kami pun duduk di bangku yang kebetulan tersesat di depan kelasku.

“Hm, aku dengerin kamu, tapi setelah aku selesaikan PR Geografi yach… please…” Aku bernegosiasi.“Ngapain kamu buat PR Geo? Guru killer itu gak akan pernah masuk kelas kita lagi.”

“Apa??? Pak Wahyudi gak masuk kelas kita lagi? Tapi kenapa?” Sumpah! Aku sangat terkejut.

“Karena pak Wahyudi udah dipindahkan ke sekolah lain. Khan biasa tu kalo guru-guru ada mutasinya…”

“Lalu penggantinya siapa?”

“Ya itu yang mau aku ceritakan. Kita kedatangan guru baru, pengganti pak wahyudi. Orangnya ganteng banget lhoh Wa…” Mata Yanti berbinar saat mengatakannya.

“Hus! Muslimah koq gak menjaga panjangan. Ghadul basher ukhti…” Ucapku mengingatkan.

Yanti tersenyum. “Sekali-kali khan gak apa-apa. Siswa kelas 1 seperti kita khan wajar kalo seperti ini…” Kata Yanti tak mau kalah.

“Udah dech yan… bicara sama kamu buat aku pusing. Hehehe…” Aku membuka buku Biologi-ku. “Dari pada bicara tentang guru baru yang entah bagaimana rupanya, lebih baik kamu beristighfar atau membaca buku pelajaran. Lebih berpahala lhoh…”

Lima menit kemudian. Setelah membaca do’a sebelum belajar, seorang pria berwajah tampan dan kira-kira berumur 25 tahun memasuki kelasku. Seketika itu juga kelas yang dihuni oleh 21 siswa dan 21 siswi itu menjadi heboh, membuat wajah sang pria itu memerah. Aku hanya tersenyum di dalam hati seraya menyaksikan secara langsung tingkah teman-teman sekelasku yang langsung overacting.

“Assalamu’alaikum…” Pria itu mengucap salam dengan suara bergetar.

“Ia pasti sangat gugup” Kataku pada Yanti yang ikut-ikutan bersorak seperti yang lainnya. Menyebalkan!

Mendengar salam dari sang guru tampan, kelas pun menjadi hening. “Wa’laikum salam…” Agak lama kami menjawab salam. Aku hanya dapat mendengus kelas.

“Namanya siapa pak?” Tanya Nida to the point.

“Nama saya, Arija Yusuf. Kalian bisa panggil saya pak Yusuf.” Jawabnya gugup.

“Bapak guru tetap atau pengganti?” Kali ini Rizmia yang bertanya.

“Saya guru tetap dan saya yang bertanggung jawab dalam pelajaran Geografi di semester ini.” Agaknya Pak Yusuf sudah dapat mengendalikan emosinya, wajahnya pun tidak pucat lagi.

“Asyik dong! Dengan adanya pak Yusuf, kita gak akan bosan lagi saat pelajaran Geografi…” Celetuk Niaria Hasibuan.

“Memangnya pak Yusuf hiburan!” Aku keberatan.

Kelaspun menjadi ricuh kembali.

“Tok…tok..tok…” Pak Yusuf mengetuk meja dengan penghapus papan tulis. “Anak-anak, tolong jangan ribut. Suara kalian dapat mengganngu konsentrasi belajar murid-murid kelas lain.

“Cerita dong pak, biar kami gak ribut lagi…” Usul Rian yang memakai kaca mata minus dua.

Pak Yusuf pun bercerita tentang keluarga, sekolah dan pengalaman-pengalamannya selama menjadi mahasiswa. Kesan pertama yang kami dapat, Pak Yusuf ramah, easy going dan fun. Pokoknya, belajar dengan Pak Yusuf pasti sangat menyenangkan.

ΩΩΩ

Waktu terus berlalu. Tanpa ku sadari sudah tiga bulan aku dan teman-teman sekelasku belajar Geografi bersama Pak Yusuf. Belajar besama Pak Yusuf adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi Pak Yusuf sungguh piawai dalam menggabungkan proses belajar dan bercanda, sehingga kami tidak bosan dalam proses belajar. Agaknya nilai Geografiku dan teman-teman akan naik, setidaknya memuaskanlah…

“Anak-anak… sekarang buka halaman 36.” Suara Pak Yusuf yang lembut membuayarkan lamunanku.

Dengan semangat kami menuruti perintah sang guru idola. Kami bertekad untuk membuatnya senang apabila beraa di kelas kami. Kami tak ingin beliau kecewa bila ada tingkah laku kami yang kurang menyenangkan atau lain sebagainya. Memang kelas kami, kelas I1 (Satu) adalah kelas yang terkenal karena siswanya yang pintar, rajin dan… nakal.

“Wirda Melati Hasan. Apa yang dimaksud dengan UNESCO?” Tanya Pak Yusuf setelah selesai menerangkan. Ini baru pertama kali dlakukan oleh Pak Yusuf.

“A… apa pak?” Wirda yang duduk di samping Novria Mawaddah tampak gugup, wajahnya pucat. “Sa…saya.. tidak tau pak…” Jawabnya jujur.

Pak Yususf mendesah. “Siapa yang bisa menjawab atau membantu Wirda???” Tak aada yang menyahut. Suasana senyap.

“Saya Pak.” Aku mengangkat tangan. Semua mata tertuju padaku, termasuk Pak Yusuf.

“Oke, apa jawabanmu…”

“Setau saya, bapak belum pernah menerangkan tentang UNESCO kepada kami.” Kataku tegas. Teman-teman langsung membenarkan perkataanku, akibatnya kelas menjadi ricuh tak terkendali.

“Oh ya? Memangnya kalian tidak bisa melihat di buku cetak? Untuk apa kalian membeli buku dengan harga mahal kalau tidak pernah kalian buka, tidak kalian baca. Kalian harus kreatif, jangan hanya mengharap penjelasan dari saya. Contoh kelas I3 (Tiga), mereka selalu dapat menjawab setiap pertanyaan yang saya berikan. Apa kalian tidak malu dengan predikat kelas teladan yang kalian sanding? Untuk menjawab pertanyaan yang paling gampang saja kalian tidak bisa.” Wajah Pak Yusuf yang biasanya ramah itu tampak marah. Mungkin lebih tepatnya kecewa.

“Aku gak nyangka Pak Yusuf bisa semarah itu pada kita.” Tukas Yanti. “Aku sedih Wa…” Yanti menangis di bahuku, Ia memang sangat sensitive. Bagaimana tidak sensi pak Yusuf meninggalkan kelas sebelum waktunya.

“Teman-teman.. mulai saat ini kita harus sering membaca dan memahami buku Geografi kita. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Kita harus buktikan kalau kita bisa dan perkatan Pak Yusuf tentang kelas kita itu tidak benar. Setuju khan???” Rauf, sang ketua kelas berorasi dengan semangat.

“Setuju!” Senyum pun mengembang kembali di kelasku tercinta.

Namun itu hanya tinggal harapan. Karena Pak Yususf selalu ‘panas’ atau ‘marah’ apabila masuk ke kelas kami. Entah apa salah yang kami perbuat sehingga beliau selalu sengaja mencari kesalahan-kesalahan kami. Pak Yusuf yang kami sayang benar-benar berubah. Beiau membuat kami yang awalnya simpati menjadi benci setengah mati, apalagi ketika beliau selalu membandingkan kami dengan kelas I3 (Tiga) yang muridnya cantik dan kaya. Kekesalan kami semakin bertambah tatkala Pak Yusuf memuji murid-murid kelas I3 (Tiga). Pak Yusuf jelas-jelas berat sebelah terhadap murid kelas I3 (Tiga). Beliau begitu menyanjung dan memuja mereka.

Pak Yususf menyebalkan!

ΩΩΩ

            Dua minggu kemudian…

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh…” Pak Wahid, wali kelasku mengucap salam. Beliau adalah pria yang kira-kira berumur 45 tahun. Pak arif adalah guru idolaku, beliau sangat arif, penyabar dan bijaksana.

“Wa’alaikum salam wahmatullahi wa barakatuh…” Jawab kami serempak.

“Apa kabar anak-anak?”

“Baik pak…”

“Kita buka pelajaran kita hari ini dengan membaca Basmalah…”

“Bismillahirrahmanirrahim…”

“Buka buku Fiqih kalian, sampai di mana pelajaran kita minggu lalu?”

“Sampai Thoharah pak.” Jawab Nur Zahra Pulungan.

“Sekarang, kita belajar tentang Hukum-hukum berada di masjid…” Pak Wahid menjelaskan materi yang diajarkan sambil sesekali bertanya pada kami, kamipun mendengar penjelasan Pak Wahid dengan cermat.

Teng…teng..teng…

Lonceng tanda pelajaran berganti pun berbunyi. Pak Wahid pun menyudahi pelajaran, lalu meninggalkan kelas setelah mengucap salam.

“Teman-teman… kita harus membalas perbuatan Pak Yusuf yang berat sebelah itu. Teman-teman pasti kesal dengan perbuatannya khan?” Ucap Bayu dengan semangat yang berkobar laksana api.

“Iya sich. Tapi bagaimana caranya?” Yanya Arti.

“Iya. Gimana caranya Bay?” Rina menimpali.

Bayu tampak berpikir, dari aura yang terhampar di wajahnya… pasti dia sedang berpikir keras dan serius. Tiba-tiba Bayu tersenyum dan berkata penuh semangat, “Begini teman-teman… nanti kalau Pak Yusuf menerangkan pelajaran, kita cuekin saja. Untuk apa kita meladeni guru yang berat sebelah seperti Dia.”

“Setuju!!!” Sebenarnya aku kurang setuju dengan usul Bayu. Tapi entah mengapa bibir ini terus mengucap ‘setuju’. Olala…

Tak lama kemudian, orang yang namanya sejak tadi disebut-sebut memasuki kelas dengan senyum menawannya. Tapi senyuman Pak Yusuf kali ini tidak dapat menyihir kami yang sedang sangat kesal padanya. Tak ada yang berbicara dan mengomentari pak Yusuf, kami semua memamerkan wajah masam bin kecut.

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikum salam…” Hanya beberapa murid yang menjawab salama Pak Yusuf, salah satunya ya aku. Walau bagaimana pun, menjawab salam khan wajib hukumnya.

“Kalian kenapa koq pada gak semangat? Sudah sarapan semua khan?” Pak Yusuf sok ramah.

Tak ada yang menjawab. Merasa dicuekin, akhirnya Pak Yusuf memulai pelajaran. Beliau menerangkan dengan semangat, tapi tak ada yang mencermati. Semuanya sibuk, lebih tepatnya pura-pura sibuk dengan urusan masing-masing.

“Aku kasihan melihat Pak Yusuf…” Aku berkata pada angin saat istirahat.

“Kamu kenapa Wa, koq sedih banget? Kayak orang sedang patah hati saja…” Tanya Yanti. Kami berdua duduk di teras Mushalla sekolah.

“Ya ampun Yanti… patah hati itu wajar, gak perlu bersedih.” Ujarku.

“Jadi kenapa? Ada masalah?”. Tanyanya lagi. “Masalah apa Wa?” Tanya Yanti lagi dan lagi setelah aku menjawab dengan anggukan.

“Aku gak setuju dengan usul Bayu. Walau bagaimana pun Pak Yusuf itu guru kita. Beliau tidak pantas kita zhalimi…” Aku mengeluarkan uneq-uneq-ku. Leganya…

“Kita gak menzhalimi Pak Yusuf Salwa, kita hanya memberinya peringatan agar Beliau sadar akan khilafnya. Walaupun kita bukan anak kandungnya, tapi kita tidak pantas di-anak tiri-kan oleh Pak Yusuf. Pilih kasih itu sangatlah kejam..” Yanti menjelaskan.

“Tapi bukan seperti itu caranya. Bagaimana kita bisa memperoleh ilmu dari beliau jika setiap beliau masuk kita tak mengubrisnya? Lihat kelas lain, mereka tidak menghakimi Pak Yusuf seperti kita. Allah pasti marah pada kita.” Aku kesal karena Yanti tetap pada pendiriannya.

“Sudahlah Wa, kita bicarakan masalah ini nanti. Aku pusing…” Yanti beranjak dari duduknya, meninggalkanku.

“Yanti! Tunggu…” Ku kejar Yanti yang semakin menjauh. “Walau kita berbeda pendapat, bukan berarti kita bermusuhan khan?” Ucapku lembut.

Yanti tersenyum simpul. “Aku tau sifatmu Salwa…” Yanti menepuk bahuku lembut.

ΩΩΩ

            Burung berkicau menyanyikan lagu yang indah andai bisa kita pahami. Bersamaan dengan detak jarum jam yang terus berjalan, bersamaan dengan itu pula hari-hari berlalu. Kini, sudah hamper dua bulan kami ‘membalas’ perbuatan Pak Yusuf yang pilih kasih. Berbagaimacam cara kami lakukan, tapi Pak Yusuf masih saja menganak tirikan kami. Semakin hari semakin sering Beliau membanding-bandingkan kami dengan kelas favoritnya, kelas I3 (Tiga). Seperti hari ini…

Ketika Pak Yusuf sedang menuliskan beberapa buah soal di papan tulis yang menjadi saksi atas perbuatannya yang berat sebelah, kami melemparinya dengan kertas dan kapur. Tetapi Beliau tetap cuek. Beliau pura-pura tidak mengetahui dan merasakan kejahilan yang telah kami perbuat. Di akhir pertemuan, Ia berkata: “Terima kasih atas perhatian dan kebaikan kalian. Kalian adalahmurid yang sangat baik yang pernah saya temui. Assalamu’alaikum…” Pak Yusuf meninggalkan kelas dengan senyum kemenangan.

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuu….” Kami bersorak kesal.

“Keterlaluan banget tu orang. Perlu diberantas. Huh! Menyebalkan!!!” Ucap Musi kesal.

“Sabar Mus, sabar… orang sabar disayang Tuhan. Kita do’akan saja semoga beliau cepat berubah.” Kataku agar teman-teman tidak bertindak gegabah dengan selalu mengerjai Pak Yusuf. Bukan hanya mereka yang kesal terhadap Pak Yusuf, aku dan murid kelas lainnya juga kesal padanya. Tapi bukan seperti itu caranya, semua harus dihadapi dengan pikiran dingin dan kesabaran. Semua pasti akan indah pada waktunya…

“Tau gak Wa? Aku udah berdoa setiap hari agar Pak Yusuf tidak pilih kasih, tapi tetap saja dia begitu. Pak Yusuf malah semakin benyebalkan. Agaknya Dia harus kita hadapi dengan kekerasan…”

Aku terkejut dengan perkataan Hidayati. Tak ku sangka, gadis cantik dan pendiam itu bisa begitu marah pada Pak Yusuf. Ya Allah… separah itukah kejelekan Pak Yusuf di hadapan kami??? Maafkan Beliau, mungkin Dia khilaf…

“Pilih kasih adalah perbuatan tercela. Maka perbuatan Pak Yusuf harus kita laporkan pada Pak Wahid dan Pak Husairi, kepsek kita. Seandainya perbuatan Pak Yusuf gak merugikan, mungkin kita gak akan peduli dengan semua ini. Tapi Beliau sudah sangat keterlaluan, nilai kita diberinya rendah sedangkan anak kelas I3 (Tiga) tinggi.” Perkataan Tika memancing kemarahan teman-teman, termasuk aku.

“Astaghfirullah al’azim…” Aku beristighfar. Jangan sampai syaitan-syaitan yang terkutuk merasuki kalbuku. “Teman-teman… kita selesaikan masalah ini besok. Yang terpenting, jangan sampai ada satu orang guru pun yang mengetahui masalah ini. Ini aib bagi Pak Yusuf. Tolong ya teman-teman…”

ΩΩΩ

Hingga keesokan harinya…

“Kawan-kawan, aku dapat kabar ne dari tetangga…” Arti berdiri di depan papan tulis layaknya seorang guru.

“Tentang apa?” Tanya Dwi ingin tau.

“Pak Yusuf. Aku dapat kabar dari temanku yang di kelas I4 (Empat)… ternyata Pak Yusuf lebih menyukai anak kelas I3 (Tiga) karena mereka lebih dewasa dan sangat perhatian pada Pak Yusuf. Setiap hari mereka membuat makanan dan memberikannya pada Pak Yusuf. Yach, mana kita tau kalo Pak Yusuf maunya digitukan… hm, sedangkan kita ini kayak anak-anak, gak dewasa!”

“Ya ampun! Hanya karena masalah kedewasaan seorang guru pilih kasih? Keterlaluan sekali dia! Lagi pula kita khan masih kelas 1 SMA, bukan anak kuliahan atau ibu-ibu…” Novi geram.

“Kamu yakin Ti, hanya karena itu? Mungkin ada factor lain…” Aku tak percaya. Terlukis di mataku seraut wajah tampan nan ramah sedang mengajarkan ilmu pengetahuan di hadapan murid-muridnya.

“Cuma itu. Pak Yusuf selalu membahas itu kalo masuk ke kelas lainnya.” Arti meyakinkanku.

“Aku tidak menyangka Pak Yusuf akan sejahat itu pada kita…” Ucap Nahana. Ada bening di sudut mata indahnya, ia pun menangis. Selama ini, Nahana tidak pernah berkomentar apapun tentang Pak Yusuf. Ia selalu diam di bangkunya dan memperhatikan kami dari kejauhan. Ia menganggap Pak Yusuf itu seperti sosok abang kandungnya yang telah meninggal beberapa tahun lalu. “Aku kecewa pada Pak Yusuf. Ternyata dia tidak seperti yang aku banggakan selama ini…” Nahana tersedu, air mata membasahi kerudung putihnya.

“Naha, jangan mengangis. Semua akan kembali seperti semula. Bersabarlah…” Ku hapus air mata Nahana yang semakin mengalir kencang.

“Pak Yusuf harus bertanggung jawab atas semua ini. Kalau dia tidak menyukai kita, ya ngomong langsung dong supaya kita bisa instropeksi diri. Jangan mengumbar kejelekan-kejelekan kita pada orang lain, apalagi kepada para guru… ops! Keceplos!” Bayu nyengir saat aku mempelototinya.

“Aduh… koq dibilang sich! Teman-teman pasti bertambah marah. Bisa runyam ne masalahnya.” Kataku di dalam hati. Aku gelisah karena Bayu mengatakan apa yang seharusnya tidak didengar oleh teman-teman. Walah-walah…

“Maksud kamu apa Bay? Jangan main rahasia-rahasiaan dech! Masalah ini milik kita bersama.” Kata Aldi penasaran.

“Iya. Ngomong aja Bay…” Tambah Novi.

Bayu menatapku, meminta persetujuan. Aku pun mengangguk. Dari pada dari pada…

“Hm, selama ini Pak Yusuf selalu melaporkan perbuatan dan kelakuan kita kepada para guru. Yang parahnya lagi, beliau selalu melaporkan yang jelek-jeleknya saja… seperti kita pemalas lah, kita bodoh, tidak sopan dan entah apa lagi…” Kata Bayu.

“Hah! Pak Yusuf bilang kayak gitu? Kamu tau dari mana?” Tanya Nida sangsi.

Bayu mengangguk lemah. “Kalian ingat waktu Bu Mala menyruh aku dan Salwa mengambil Torso di ruangan Guru? Waktu pelajaran Biologi…”

“Oh itu, aku ingat!” Jawab Nida.

“Saat itulah kami mendengar keluhan Pak Yusuf kepada Guru-guru…” Kata Bayu.

“Keterlaluan sekali si Yusuf itu! Kita harus protes! Dia sudah memfitnah kita…” Iqbal menggeram. “Kita harus lawan guru yang seperti itu! Dia tidak mencerminkan seorang panutan yang baik.” Perkataan Iqbal yang menggebu itupun langsun disetujui oleh teman-teman. Aku dan Bayu hanya bisa pasrah. Mau gimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur.

“Lusa Pak Yusuf masuk. Kita protes dan sampaikan semua uneq-uneq kita. Setuju?” Semua murid kelas I1 (Satu)  bersorak meng’iya’kan.

ΩΩΩ

Selasa. Hari yang dinanti-nanti tiba!

Pelajaran pertama Fisiki diisi oleh Bu Azniar. Pelajaran kedua adalah… Geografi! Teman-teman sekelasku telah mempersiapakan kata-kata untuk memprotes Pak Yusuf, serta melomtarkan kekecewaan dan uneq-uneq mereka. Bahkan Aldi dan Iqbal membubuhi obat merah di kursi Pak Yusuf yang empuk, mereka juga menaruh permen karet yang telah mereka kunyah di kursi Pak Yusuf tersebut.

Hatiku miris melhat tingkah laku teman-temanku yang brutal dan tak kenal belas kasihan. Sungguh malang nasib Pak Yusuf yang mungkin tidak pernah tau kalau kami membencinya saat ini. Dalam hati aku bertanya-tanya, “Apakah kelas lain membalas Pak Yusuf dengan perbuatan seperti ini juga? Atau mereka hanya diam sambil mendo’akan? Entahlah…” Aku pusing memikirkannya.

Menit-menit dalam masa menanti Pak Yusuf bagaikan seribu menit. Kami bosan dan gelisah. Satu menit serasa 1 tahun. Tepat jam 09.00, Pak Yusuf memasuki kelas. Ada mendung di wajah tampannya, membuat kami enggan menyampaikan protes dan uneq-uneq kami yang sudah lama dipendam dan siap meledak.

Ada apa dengan Pak Yusuf? Apa beliau sudah tau akan rencana jahat kami? Ah… sulit ditebak!

“Anak-anak… hari ini adalah hari terberat yang pernah Saya rasakan selama mengajar di sekolah ini? Kalian tau mengapa?” Tak ada yang menjawab pertanyaan Pak Yusuf. “Karena hari ini adalah hari terakhir saya mengajar di sekolah ini…” Kata Pak Yusuf seraya menatap wajah tegang kami satu persatu. Wajah kami dihiasi oleh keterkjutan dan ketidak-mengetian.

“Kenapa Pak?” Hanya itulah kata-kata yang dapat terlontar dari bibirku. Terus terang, aku sebenarnya sedih dengan pernyataan Pak Yusuf.

“Besok saya akan berangkat ke Belanda untuk meneruskan studi S2 saya. Sebelum kepergian saya, saya mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekhilafan selama mengajar di kelas ini. Semua kesalahan kalian telah saya maafkan dengan sepenuh hati, karena saya menganggap kalian tidak pernah berbuat salah pada saya. Apa kalian mau memaafkan saya?” Pak Yusuf menunggu jawaban kami.

Seperti dihipnotis, kami semua mengangguk. Kekesalan dan kemarahan atas kelakuan Pak Yusuf terhadap kami seperti tersapu oleh wajah menawan dan polos Pak Yusuf.

“Terima kasih atas maaf dan perhatian kalian kepada saya selama ini. Kalian sangat special buat saya dan saya berjanji tidak akan pernah melupakan murid-murid baik dan pengertian seperti kalian, apalagi kamu Naha…”

Wajah Naha memerah mendengar pengakuan Pak Yusuf, ada gurat bahagia di wajahnya yang selalu murung dalam beberapa hari ini.

Teng…teng…teng…

Lonceng tanda istirahat berbunyi. Pak Yusuf pun menyudahi perkataannya. Sebelum beliau keluar dari kelas kami, beliau meminta kami berpose untuk diabadikan olehnya di dalam camera.

Selamat jalan Pak Yusuf. Semoga sukses dan bahagia. Semoga Engkau semakin dewasa setelah menimba ilmu di negeri orang. Tak ku sangka, seorang guru yang awalnya menyenangkan bisa berubah jadi menyebalkan dalam beberapa saat saja. Bye Pak Yusuf… Guruku sayang, Guruku malang…

ΩΩΩ

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s