Selamat Tinggal Arjuna


Aku bertengkar hebat dengan papi, lebih dahsyat dari sebelumnya. Pertengkaran pun berakhir dengan kepergianku dari rumah tanpa membawa apapun kecuali yang melekat di tubuhku. Untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumah dalam keadaan seperti ini. Otakku berpikir ke mana harusnya kaki ini melangkah. Kalau ke rumah teman-teman, pasti besok pagi orang suruhan papi sudah menjemputku secara paksa. Kalau ke rumah oma atau saudara lain akan lebih parah lagi, baru dua detik langsung dijemput. Jadi, aku harus ke mana malam ini? Motel, ihhh.. Aku takut dengan reputasi tempat itu. Kalau menginap di Hotel, jelas uang 200 ribu di saku-ku tidak cukup.

Aku terus berjalan tak tentu arah. Deg-degan sih, aku berusaha kuat dan berani. Aku tak ingin kalah dari papi, maka harus ku jalani semua ini karena aku yang memutuskan untuk keluar dari rumah. Tiba-tiba hujan turun sangat deras, aku berlari ke emperan sebuah toko. Beberapa orang terlelap dalam tidur sambil meringkuk melawan hawa dingin. Aku meringis melihat orang-orang kurang beruntung itu, bahkan ada seorang anak kira-kira berumur 6 tahun dan seorang balita, miris sekali menghabiskan malam dingin di tempat seperti ini. Tak terasa air mataku menetes dan langsung ku hapus. Seharusnya aku beruntung terlahir dari keluarga yang bergelimpahan harta. Bukannya tidak bersyukur, hanya saja aku muak dengan sikap otoriter papi yang selalu memaksa kehendaknya tanpa memkirkan perasaanku.

“Terpaksa deh tidur di sini…” Aku mengambil kardus yang tergeletak dekat tong sampah, lalu ku cari tempat yang pas untuk melanjutkan malam. Aku berusaha memejamkan mata tapi tak kunjung terpejam jg. Omg… Bagaimana ini? Aku harus tidur supaya punya stamina untuk melanjutkan hari esok. Bahkan aku tak tau apa yang terjadi besok sehingga aku harus punya persiapan. Ku lihat bintang berpijar di langit gelap, seperti binar mata mami setiap menatapku.

“Maafkan Kanya Mi… Kanya telah membuat mami menangis, Kanya merasa sangat berdosa. Tapi Kanya harus bagaimana menghadapi papi? Kanya tidak bisa terus mengikuti semua keinginan papi. Menikah hanya sekali, dan Kanya ingin menikah denga orang yang tepat, bukan anak relasi papi untuk memperbesar perusahaan. Kali ini Kanya tidak mau mematuhi papi, Kanya punya pilihan sendiri untuk masa depan Kanya. Maafkan Kanya…” Aku mengisak, lantas aku tak tau apa yng selanjutnya terjadi karena aku terlelap dalam dekapan malam.

***

“Woi… Bangun! Ngapain lo tidur di tempat gue? Pergi sana!”
Belum sempat aku membuka mata, sepasang tangan kekar menarikku kasar. Aku terjatuh di tanah basah bekas hujan, bajuku basah dan kotor oleh lumpur.

“Sialan tuh orang! Eh, lo punya otak gak sih? Lihat nih baju gue kotor!” Aku menghardik laki-laki itu. Ku tarik tangannya sekuat mungkin.

“Apaan???” Dia mendorongku, namun ditariknya lagi supaya tubuhku tidak mencium lantai. “Lo gak apa-apa? Sorry.” Katanya sopan bercampur khuatir.

Aneh juga meliha perubahan mendadak tadi orang itu. Aku langsung mencak-mencak. “Terlambat! Baju gue basah dan kotor. Sial banget! Mana gue gak punya baju lain.” Kataku marah campur pasrah. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.

Dia mengambil sesuatu dari ranselnya, sebuah kaos yang sama kucel dengan ranselnya. “Pakai saja ini.” Katanya.

Aku ragu-ragu mengambilnya.

“Ayo ambil. Gue gak mau repot kalau lo sakit!”

Aku mengambil kaos itu dan mengucapkan terima kasih.

“Terus?” Dia menatapku.

“Apa?” Aku melotot.

“Kok bengong? Ganti baju sana!”

“Di mana? Depan lo, gitu?”

Dia tersenyum misterius, lalu menarik tanganku.

Aku takut, jangan-jangan dia mau menjahatiku. Ya Tuhan… Lindungilah hamba. Aku memejamkan mata saking takutnya. Langkah kami berhenti di depan sebuah tempat gelap.

“Lo mau ngapain gue? Gue teriak nih kalau lo macam-macam!” ancamku.

Dia terbahak. “Lo pikir gue mau ngapain? Perkosa lo? Males banget! Lagian lo bukan tipe gue!”

“Apa???”

“Tersinggung? Jadi lo mau gue…” Dia mendekatiku.

Aku menjerit sekencang mungkin, biar bangun satu kecamatan.

Otomatis dia membekap mulutku. “Jangan berisik! Nanti orang berpikir gue mau macam-macamin lo..”

Aku semakin takut dan kalut. Oh Tuhan… Kenapa nasibku begini? Apa ini hukumanku yang telah melawan orang tuaku?  Aku pun menangis.

“Hei, jangan menangis. Gue kan gak ngapa-ngapain lo.” Dia melepas bekapannya.

Aku masih mengisak. “Kenapa lo bawa gue ke sini hah? Bokap gue preman, gue pastiin lo mampus kalo berani nyentuh gue!”

Dia menggelengkan kepala. “Alah banyak ngomong lo! Ganti baju di dalam sana.” Dia mendorongku ke dalam ruangan gelap dan pengap.

Baru aku tau kalau tempat ini adalah WC umum, pantesan tempatnya gelap, bau pesing dan menyeramkan. Aku jadi malu karena telah berburuk sangka pada pemuda itu. Beberapa saat kemudian aku keluar.

“Baju lo gak dicuci?”

“Gak perlu, gue buang aja.”

Dahi pemuda itu berkerut. “Segampang itu? Terus besok-besok lo mau pake baju apa? Katanya gak punya baju lain…”

“Baju beginian doang diribetin! Besok gue ganti dengan yang baru.” Kataku sombong.

Dia tertawa. “Memangnya lo punya duit? Kalau punya gak mungkin lo tidur di emperan toko.”

Aku menelan ludah. Pemuda itu benar, aku tak punya uang sehingga di sini lah aku sekarang. Karena malu telah menyombongkan diri, aku jadi menggaruk kepalau yang tak gatal.

Dia tak menghiraukanku, malah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Hm, arloji itu terlalu mewah buat anak jalanan sepertinya. Jangan-jangan hasil mencuri! Aku jadi bergidik berada di dekat kriminal seperti dia.

“Huh! Gara-gara lo gue kehilangan malam yang berharga!” Katanya ketus.

“Maaf…” Kataku menyesal.

Dia mengibaskan tangan dan meninggalkanku.

“Hei tunggu…” Aku terpaksa mengikutinya menuju sebuah gedung tua berlantai 3. “Ke mana kita?” Tanyaku, takutnya dia menjebakku di gedung itu,

Dia menatapku tajam. “Kalau mau ikut jangan berisik!”

“Ya… Ya… Ya… Wowwww… Oh my God… Sunrise!” Aku terkesima melihat pemandangan indah yang terhampar di hadapanku. Mentari merekah dari balik langit yg berwarna merah, indah sekali.

“Suka?”

Aku mengangguk, “Banget!”

“Bagus. Jadi gak sia-sia gue membawa orang asing ke tempat ini.” Ucapnya ketus.

Aku merengut. “Makasih udah bawa gue ke sini.”

Dia tak menjawab, malah mengulurkan tangan. “Gye Juna. Lo?”

Aku berpikir nama apa yang akan ku lontarkan karena gak mungkin aku memberitahu nama asliku. “Ka… Kay.”

“Kenapa jadi gugup? Gue Cuma nanya nama doang kok. Jadi nama lo Kakai? Aneh. ”

“Eh bukan begitu, gue kedinginan bukannya gugup. Nama gue Kay.”

“Sebaiknya kita turun sebelum pemilik tempat ini datang.”

Aku masih terpelongo dengan mahakarya Tuhan di hadapanku.

\”Gue bilang pemiliknya datang itu ya sekarang!” Dia menarikku, setengah mengangkat tubuhku. Kami menyusuri tangga dengan langkah cepat, berlari dari pemilik gedung yang berusaha mengejar kami. Sumpah serapah pemilik gedung terdengar dari kejauhan.

***

Entah apa yang ada pikirkanku sehingga terus mengikuti Juna ke mana pun dia melangkah. Awalnya dia protes dan beberapa kali menghindariku, lama-lama kelihatannya dia pasrah dan membiarkanku mengekorinya. Aku senang mengikuti Juna soalna dia sangat sopan, selain itu dia lumayan tampan juga. Jadi kalau ada orang yang melihat kami akan menyangka kami pasangan yang sedang jalan pagi. Cuma aku agak kesal dengan kecuekan Juna yang di ambang batas normal. Berkali-kali aku mencoba membuka pembicaraan, selalu tak berhasil.

“Lo pasti gak punya teman dengan keangkuhan lo itu!” Kataku pada Juna saat kami melintasi sebuah balai agak reot. Sepertinya aku mengenali tempat ini, tapi di mana ya?

Belum sempat aku melanjutkan kata-kata, belasan anak-anak mengerubungi Juna. Satu persatu mereka mencium tangan Juna, mereka tampak akrab.

“Gue memang gak punya banyak teman, tapi gue punya banyak anak asuh.”

Perkataan Juna membuatku malu sekaligus takjub. Ternyata masih ada anak muda berjiwa sosial seperti Juna, padahal dia sendiri kekurangan dan tak jelas tinggal di mana. Di saat ada anakmuda yang peduli dengan masa depan anak-anak jalanan seperti Juna, para wakil rakyat yang terormat entah ada di mana. Mereka malah asyik berfoya-foya dengan uang rakyat, alasan studi banding dan pembangunan gedung baru. Bulshit!

Lhoh… mengapa aku jadi memusingkan ulah para wakil rakyat yang terhormat? Mending mikirin diri sendiri! Mungkin itulah yang ada di pikiran mereka, lebih baik mikirin perut sendiri daripada rakyatnya yang kelaparan.

“Kakak cantik temannya bang Juna ya?” Seorang gadis kecil menghampiriku, jalannya pincang.

Aku mengangguk. Gadis itu tersenyum dan mencium tanganku, lalu dia membawaku ke balai. Ada Juna di sana, sedang mengajar membaca anak-anak kurang beruntung itu. Aku sungguh kagum pada Juna, tapi aku tak akan mengatakannya nanti Juna GR lagi! Aku tersenyum melihat mereka…

***

Matahari semakin tajam menghujam raga ini. Sesungguhnya aku sudah tidak kuat lagi mengikuti Juna, tapi rasa gengsi ini terus saja membuatku melangkah menuju sebuah pusat perbelanjaan.

“Lo istirahat saja di sini sambil gue kerja.”

“Kerja apa?” Tanyaku sedikit aneh karena Juna sok misterius.

“Apa saja yang penting halal.”

Aku melirik arloji mahal Juna. Dalam hati aku tidak yakin Juna mencari nafkah halal, apa sih yang bisa dilakukan anak jalanan sepertinya selain nyopet dan malakin orang.

Juna menatapku tajam. “Tenang saja, gue gak bakalan nyopet. Selama ini gue membimbing dan mengajari anak-anak untuk apa? Supaya mereka punya keahlian, jadi gak perlu nyopet.” Kata Juna seperti tau pikiranku.

Aku terdiam, malu karena sudah berpikiran buruk pada anak-anak jalanan selama ini.

***

Pukul 3 sore. Cacing di perutku semakin aktif memainkan musik keroncong, lidahku pun terasa pahit karena belum menyentuh apapun dari tadi malam. Tadi pagi Juna menawariku nasi bungkus, tapi aku menolaknya habis aku jijik sih dengannasi campr alias nasi kucing seperti itu. Akibatnya saat ini aku lapar setengah mati!

Juna entah ke mana, katanya hanya sebentar ke kamar kecil tapi hampir setengah jam dia tidak kembali. Akhirnya ku putuskan untuk masuk ke dalam mall mencari Juna sembari menyejukkan tubuhku. Namun aku harus hati-hati, mana tau ada orang yang mengenalku.

Aku terus berjalan menyusuri setiap lantai namun Juna tak kunjung ku temui. Langkahku berhenti di depan restauran siap saji kesukaanku. Perutku semakin nyaring berbunyi, maka ku putuskan memasuki restauran itu dari pada air liurku keluar dan aku jatuh pingsan kelaparan. Tak sampai 20 menit di tempat itu, makananku habis beserta uang seratus ribuanku.

***

Ketika keluar mall aku melihat Juna berpelukan dengan wanita setengah baya yang memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan. Wanita itu mencium pipi Juna sebelum meninggalkannya. Aku yang melihat jelas kejadian itu langsung berburuk sangka dan menuduh Juna. Aku yakin wanita itu adalah pacar gelapnya, tak heran bila Juna mempunyai arloji mahal dan mampu mengurus belasan anak jalanan. Ternyata Juna tidak sebaik yang aku kira. Aku kecewa dan langsung jijik padanya!

“Memangnya lo siapa berhak menghakimi gue?!! Terserah dong gue mau lakukan apa, bukan urusan lo!” Kata Juna ketika aku marah padanya.

Ya juna benar, siapa aku sehingga mencaci dan memarahinya. Aku hanya seorang gadis bodoh yang tiba-tiba kagum padanya. Aku bukan siapa-siapa, tidak sepantasnya aku mengaturnya.

“Maaf. Gak sepantasnya gue marah dan mengatur hidup lo. Gue Cuma sedikit kecewa dengan apa yang gue lihat tadi. Wanita itu gak pantas buat lo, dia lebih pantas menjadi nyokap lo dan pastinya dia punya keluarga yang harus dijaga. Tadi lo bilang mau mencari pekerjaan halal, pasti lo sendiri tau kalau menjadi simpanan itu tidak benar. Sekali lagi maaf ya…” Kataku menyesal.

Juna jadi salah tingkah dan sedikit bersalah karena membentakku, apalagi melihat wajahku yang pucat dan ketakutan. “Maaf juga karena marah padamu. Hm, dari pada bete dan diam-diaman lebih baik lo ikut gue ke suatu tempat…”

***

Juna membawaku ke pantai. Tidak ada yang istimewa karena sudah puluhan kali aku ke tempat ini. Sebagai seorang gadis muda yang energik, aku lebih banyak menghabiskan waktu di alam dari pada mall dan saloon kecantikan. Aku lebih suka bermain pasir di pantai dari pada luluran, aku lebih suka naik gunung dari pada hunting pakaian di pusat perbelanjaan. Jadi tidak ada yang istimewa dengan membawaku ke tempat ini kecuali…

“Oh my God… berkali-kali ke sini aku tidak pernah menyadari ada surga secantik ini.” Kataku kagum. Juna benar-benar membuatku kagum pada semua yang dilakukannya, kecuali kasus tante di mall tadi.

“Gimana? Gak nyesal kan diajak ke sini?”

“Hm… Not bad lah.” Kataku sok jaim, padahal aku sangat senang pada bukit kecil dengan hamparan rumput bak permadani. Bunga-bunga liar berwarna-warni membuat tempat ini semakin manis. Di bawahnya desiran ombak memecah karang terdengar merdu diiringi kicauan burung camar dan hembusan angin sepoi-sepoi. Sepertinya aku pernah ke bukit ini, tapi kapan ya? Aku tak ingat. Mungkin tempat lain yang hampir mirip.

“Dari mana kamu tau tempat ini?” Tanyaku tanpa sadar menggunakan kata ‘kamu’.

“Dari seseorang yang special. Ini tempat rahasiaku dan dia. Hampir setiap minggu kami menghabiskan waktu di tempat ini, kami tak pernah bosan karena pasti akan ada hal baru di sini”

“Kamu pasti sangat mencintainya. Ngomong-ngomong di mana dia sekarang? Apa dia tidak keberatan kamu membawaku ke sini?” Kataku tidak enak pada ‘orang special’ Juna.

Juna mengarahkan telunjuknya ke sebuah perbukitan batu karang yang curam di tengah lautan, “Dia terkubur di tempat itu, selamanya…” Juna menangis.

Aku menelan ludah, lalu memberanikan diri menepuk bahu kekar Juna. “Dia pasti sedih bila melihatmu menangis. Aku yakin, di mana pun dia berada cintanya akan selalu menyertaimu.”

Juna tersenyum, matanya masih basah. “Thanks. Aku tidak pernah menceritakannya pada orang lain. Kamu orang pertama yng ku ajak ke tempat ini setelah kepergiannya dan kamu juga orang pertama yang tau betapa dalam cintaku padanya…”

“Terima kasih sudah mempercayaiku rahasia sebesar ini. Kalau boleh tau siapa namanya?”

“Kanya.”

Keningku berkerut. Mungkin kebetulan namaku dan mantan kekasih Juna sama. “Nama yang indah. Orangnya pasti cantik dan menarik sehingga kau begitu mencintainya…”

“Aku selalu mencintainya.” Juna memelukku begitu erat. Aku terjejut! Tapi anehnya aku tidak merasakan apa-apa, tubuh Juna terasa menembusku seperti kapas. “Aku akan terus menunggumu di sini Kanya…” Juna berteriak.

Aku merasa aneh dengan apa yang terjadi. Mengapa Juna memelukku dan seolah-olah tengah berbicara denganku. Aku melihat diriku sendiri ada di seberang bukit, tepatnya di antara karang yang ditunjuk Juna tadi. Bagaikan terhempas oleh gelombang tsunami, tubuhku bergetar dan tiba-tiba aku begitu jauh dari Juna. Aku tersadar ternyata aku sedang menatap Juna dari kejauhan, ternyata aku-lah Kanya yang diceritakan Juna. Dan aku sudah meninggal, mengapa ini terjadi???

Tiga tahun yang lalu aku bertengkar dengan papi karena beliau ingin menjodohkanku dengan anak relasinya, padahal aku sudah mempunyai kekasih. Aku pergi dari rumah dan menghubungi Juna untuk menemuiku di bukit rahasia kami. Saat menunggu Juna, aku melihat serumput anggrek putih di atas karang yang curam. Juna mencegahku menuju karang itu, tapi aku memaksakan diri. Betapa bangganya aku saat berhasil berdiri di batu karang curam itu sambil melambaikan tangan memamerkan keberhasilanku. Di seberang sana Juna tertawa dan mengacungkan jempolnya, lalu tiba-tiba wajah Juna panik dan menyerukan sesuatu. Ada ombak besar sekitar 3 meter tepat di belakangku, ombak itu menghantam dan membenamkanku ke dasar lautan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk berenang ke permukaan, saat aku sampai ke atas ku lihat Juna meraung dan memanggilku. Aku melambaikan tangan dan menyerukan nama Juna, anehnya dia tak melihatku. Dan aku terdasar bahwaanya aku bukan Kanya yang biasa, aku sudah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. Lalu aku melihat Mami, Papi dan tim SAR cemas mencariku, mata mereka bengkak. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis, berharap ada keajaiban sehingga mereka bisa melihatku walau untuk terakhir kalinya.

“Aku m’cintaimu Kanya!!!” Jerit Juna. Dia membentangkan kedua tangan, kakinya tepat di pinggir bukit.

“Juna, jangan!” Aku berusaha menarik tangannya.

“Sampai kapan aku akan menunggumu Kanya? Kita sudah berjnji untuk sehidup semati. Jemput aku Kanya! Aku ingin bersamamu selamanya…”

“Mana mungkin aku membiarkanmu mati Juna. Aku mohon, ikhlaskanlah aku supaya kau bisa melanjutkan hidupmu. Dunia kita berbeda Juna, jangan kau campur adukkan perbedaan ini. Aku berjanji, di kehidupan selanjutnya aku akan terus mendampingi dan tidak aakn pernah meninggalkanmu sedetik pun.”

“Kanya!!! Aku ingin ikut denganmu. Jangan tinggalkan aku kanya!!!” Jerit Juna lagi.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya ada di tempat berbeda denganmu. Yakinlah hati kita akan bersama selamanya…”

“Juna!” Seorang wanita yang ku lihat di mall tadi memeluk Juna, ibu Juna ternyata.”Sayang, tolong jangan seperti ini. Ikhlaskanlah Kanya. Kalau kamu seperti ini hanya akan membuat Kanya semakin terluka. Mama mohon sadarlah…”

“Mamamu benar Juna…” Kataku.

Juna mengisak di pelukan mamanya seperti anak kecil yang kehilangan boneka. “Aku mau Kanya mama…”

Aku menangis melihat Juna yang ringkih dan lemah. Aku tidak menyadari betapa pucat dan kurusnya Juna. “Maafkan aku Juna. Seandainya waktu itu aku mendengarkan perkataanmu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.”

“Sayang, kita pulang ya? Sudah cukup lama kamu berkeliaran seperti ini. Besok kita kembali lagi untuk menjemput Kanya.” Bujuk mama Juna.

Mata Juna berbinar. “Yang benar ma? Aku boleh ke sini lagi? Mama tidak akan mengurungku di kamar lagi kan?”

Mama Juna menangis memeluk putranya, Juna pun mematuhi mamanya untuk pulang. Juna sudah pergi dan aku yakin inilah pertemuan terakhir kami.

Aku teringat awal pertemuanku dengan Juna 4 tahun yang lalu di emperan toko, lalu kami sempat bertengkar karena salah paham. Juna mengajakku melihat sunrise sebagai tnda permintaan maaf dan aku mengajaknya ke bukit ini ketika aku yakin dia-lah cinta sejatiku. Setiap hari aku bertemu Juna di rumah singgah anak jalanan yang kami bentuk bersama, kami membina anak-anak malang itu. Rasanya saat indah itu baru kemarin ku rasakan.

“Maafkan aku Juna karena telah meninggalkanmu seorang diri. Aku akan selamanya mencintaimu ARJUNA-KU!!!”

Aku melihat sekeliling, hanya tinggal aku dan pecahan ombak memecah karang tempat jasadku tak pernah ditemukan. Andai saja waktu itu aku lebih sabar menghadapi papi. Andai saja aku mau mendengar nasehat mami untuk tidak meninggalkan rumah. Andai hari itu aku menuruti larangan Juna untuk tidak ke batu karang di saat laut sedang pasang. Andai sekarang aku tidak berandai-andai, mungkin saat ini aku sudah bahagia bersama Arjuna-ku. Karena dia-lah orang yang papi jodohkan kepadaku. Seharusnya kisah cintaku bersama Juna tidak setragis ini, dan aku tidak akan kedinginan berteman sepi bersama jasadku di tempat tak bertuan ini. Ah… Penyesalan selalu datang terlambat!

“Selamat tinggal Arjuna! Kau di hatiku selamanya.”

***

“Gue, yang selalu berandai-andai”

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s