When A Witch Fall in Love (Bagian 1)


When-A-Witch-Fall-in-Love-2

SINOPSIS:

Dongeng Putri cantik yang selalu dijahati oleh Penyihir sering diceritakan dan didengar banyak orang. Putri cantik yang menderita selalu membuat prihatin, sedangkan Penyihir yang kejam dan jahat selalu dirutuk oleh orang-orang. Tapi tahukah kamu? Tidak semua penyihir itu jahat dan putri cantik itu baik. Banyak orang memasang wajah penuh senyuman dengan perilaku bak malaikat, namun di hatinya ada kedengkian tiada tara. Banyak juga yang tampak kejam dan anti sosial, namun siapa sangka ternyata hatinya begitu rapuh dan menyimpan banyak luka. Begitulah cerita ini dimulai, Witch Wita yang kejam selalu bersalah karena membuat Princess Fiona menderita. Tak ada yang menyangka bahwa wajah manis Fiona dan sikap kasar Wita menyimpan begitu banyak rahasia.

Penasaran? Ikuti terus ceritanya.

***

Seorang gadis memasuki sebuah café. Dari pakaian yang dikenakan, cara berjalan dan tatapannya bisa dipastikan gadis itu kaya, pintar, dan angkuh.

“Sori, gue telat!” Kata gadis itu saat bertemu dengan orang yang sudah menunggunya. Tanpa rasa bersalah gadis itu duduk di kursi yang telah disediakan, padahal teman-temannya sudah hampir dua jam menunggu tanpa kabar dan kepastian.

“Ini minuman kamu…” Kata seorang gadis seraya memberikan segelas jus kiwi pada gadis yang baru datang itu. Berbeda dari gadis sebelumnya, gadis itu sangat lembut dan manis. Mungkin bukan hanya wajahnya saja yang cantik, hatinya juga cantik. Hal itu terlihat dari wajahnya yang selalu ceria dan dihiasi oleh senyuman manis padahal dia dimarahi oleh gadis sebelumnya. Melihat gadis cantik dan gadis sombong yang duduk bersebelahan itu, seperti melihat potongan gambar film yang biasa menampilkan seorang penyihir dan seorang putri cantik.

“Lihat tuh Princess lagi diomelin sama si Witch.” Bisik seorang gadis yang duduk bersama dua orang temannya di pojokan café.

Tanpa perlu siaran ulang, si teman langsung melihat ke arah yang diberitakan. “Dasar, Witch! Berani-beraninya ngomelin Princess kita yang cantik…”

“Namanya juga penyihir, apalagi kegiatannya kalau bukan mengganggu tuan putri baik hati dan tidak sombong…” Tiba-tiba seorang pemuda menyeletuk dari meja seberang. Membuat teman-temannya, juga teman dari temannya, tetangga temannya, lalu sepupu temannya menatap Witch tajam. Sayangnya gadis yang dipanggil Witch itu tak merasa tengah dihujani oleh tatapan tajam dan hujatan orang-orang yang ada di café juga di luar café. Berhubung saat ini informasi apapun dengan mudah diakses, tak ayal lagi Witch mendapat hujatan dari orang-orang yang berada sangat jauh dari café tersebut.

“Siapa Witch itu? Sepertinya jadi perbincangan heboh buat kamu dan teman-temanmu.” Tanya seorang pemuda kepada seorang siswi yang masih memakai seragam sekolahnya. Siswi tersebut sedang duduk di ruang TV sambil memeluk bantal, di tangannya ada smartphone yang menghubungkannya dengan dunia luar.

Witch? Oh itu… cewek paling nyebelin di sekolah tetangga.”

“Sekolah tetangga? Siapa tuh cewek dan se-nyebalin apa sih?”

“Namanya Wina Thalita. Sekolah di SMU Taman Bahagia, kelas 3. Orangnya cantik, cantik banget malah. Udah gitu pintar, kaya raya pula, cucu konglomerat gitu deh… Tapi sifatnya itu, ya ampun… nggak tau bilang lah! Kalau abang jumpa sama dia, pertama pasti terpesona sama kecantikannya terus nggak sampai satu menit langsung muntah saking kesalnya. Pokoknya jangan sampai abang berurusan sama dia.”

“Terus kenapa dia dipanggil Witch?”

Siswi itu menghela nafas. “Dari mana ya aku jelasinnya? Hm… intinya, dia biasa dipanggil Wita, karena sifat jahatnya itu anak-anak di TB manggil dia Witch. Apalagi dia suka banget ngejahatin Princess. Makanya dia dijulukin Witch.”

“Siapa lagi Princess itu?”

“Oh… Princess itu nama aslinya Fiona. Cewek paling cantik di SMU TB, yang wajah dan sifatnya seperti putri dalam dongeng. Dia itu teman dekatnya si Witch, juga orang yang selalu dijahatinnya. Ah… pokoknya cerita si Wita dan Fiona itu seperti Snow White, Cinderella, dan sejenisnya.”

Pemuda tersebut mengangguk mafhum. Kemudian tangannya mengetik sesuatu di ponsel, dan secepat kilat berita menyebar, kali ini di kalangan para mahasiswa sebuah universitas swasta.

Dalam waktu satu jam, berita tentang Witch yang sedang menjahati sang Princess menyebar ke seluruh kota. Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang menghujat dan memaki Witch. Tapi yang bersangkutan malah santai dan melanjutkan pembicaraan dengan teman-temannya termasuk Princess. Entah telinga gadis itu yang tidak berfungsi, atau karena hatinya yang lebih keras dari pada batu makanya dia tak menghiraukan orang-orang yang memaki dan berbicara buruk tentangnya.

©©©

“Eh si Witch datang tuh…” Teriak seseorang, dan hap… seperti magic, kelas yang tadinya riuh seperti pasar tradisional langsung sunyi senyap seperti kuburan.

“Wita… ini laporan yang kamu minta kemarin.” Fiona berdiri di depan meja Wita, seperti biasa tersenyum dan berbicara lembut.

Secara kasar Wita mengambil buku yang diberikan Fiona, lalu membuka dan membaca buku tersebut. Tak sampai lima menit kemudian… buku tak bersalah itu mendarat ke atas lantai yang dingin. Langsung saja semua mata menatap tajam ke arah Wita.

“Ke… kenapa, Wita? Apa ada yang salah?” Tanya Fiona takut.

“Lo pura-pura bego atau memang idiot sih?!!” Bentak Wita.

Fiona menelan ludah yang terasa bagaikan menelan kulit durian, “Maaf… Memangnya apa yang salah?”

“Semua. Harus berapa kali gue ingatin lo gimana format penulisan laporan, hah? Otak lo ditaro di mana sih?!!” Wita menatap Fiona marah. “Ulangin!” Perintah Wita sebelum pergi entah ke mana.

Fiona terpaku dengan wajah pucat, jantung berdebar kencang, dan tangan yang gemetar. Teman-teman langsung mendekati Fiona. Ada yang memeluknya, ada yang memegang tangan dan mengusap punggungnya, ada pula yang menyemangati Fiona dengan kata-kata penyemangat.

“Sabar ya, Fiona…”

“Jangan sedih, Fiona. Ayo semangat!”

“Dasar Penyihir jahat!”

“Semangat ya, Princess…”

Fiona hanya tersenyum mendengar bermacam-macam perkataan teman sekelasnya. “Aku nggak apa-apa kok… Aku sudah biasa dimarahi Wita. Kalian jangan khuatir, juga jangan marah ke Wita soalnya memang aku yang salah. Plis…” Kata Fiona membuat teman-teman semakin iba juga kagum terhadap kebaikan hati Fiona. Panggilan Princess memang tepat disandang oleh Fiona.

“Mudah-mudahan si Witch kesandung batu waktu balik ke kelas.” Kata seseorang tak menggubris permintaan Fiona.

Again and again… do’a teman-teman Fiona tak terkabul, Wita masuk ke kelas tanpa terluka sedikit pun. Pastinya membuat semua orang kecewa…

Melihat Wita memasuki kelas, diikuti oleh guru matematika, Fiona dan teman-teman sekelas langsung kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Yang sabar ya, Princess…” Kata siswa yang duduk di belakang Fiona.

“Dijahatin setiap hari seperti itu, kenapa kamu masih mau berteman sama si Wita?” Kata Naura teman se-meja Fiona.

Fiona menghela nafas berat. “Kalau bukan aku yang berteman dengannya, siapa lagi yang mau?”

Mata Naura membesar mendengar jawaban Fiona. Jawaban Fiona terkesan ambigu, antara positif dan negatif.

Fiona tertawa pelan, “Aku bercanda. Wita memang seperti itu, tapi sebenarnya dia baik kok. Dia marah karena memang aku yang salah…”

Naura menatap Fiona kagum. Untuk kesekian kalinya dia salut pada kebaikan hati Fiona.

©©©

          Selain Fiona, ada seorang lagi yang mau berteman dengan Wita, namanya Rangga. Semenjak mengenal Wita lima tahun lalu, Rangga selalu mengekor ke mana saja Wita pergi. Terkadang Rangga bolos sekolah hanya untuk mengikuti Wita. Walau Wita suka marah ke Rangga, tetap saja pemuda itu mendekati Wita.

“Kenapa sih elo selalu ngikutin gue? Memangnya lo nggak ada kelas hari ini?” Tanya Wita kasar.

Rangga cengengesan. ”Siapa lagi yang akan menjaga lo kalau bukan gue…”

Wita melotot.

Rangga tambah cengengesan. “Udah… lo fokus aja sama kerjaan lo. Bukannya lo ke sini buat mewawancarai Walikota?”

Wita mendengus dan meninggalkan Rangga. Tak menunggu lama, Rangga langsung mengikuti Wita.

“Lo mau ngikutin gue ke situ?!!” Tanya Wita marah. Matanya menunjuk ke papan bertuliskan ‘Toilet Wanita’.

Rangga salah tinggah, lalu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal karena malu.

“Dasar anak kecil nggak ada kerjaan!” Wita membanting tasnya ke atas meja di depan cermin toilet. Dia membuka sedikit pintu toilet dan mengintip keluar, dugaannya benar… Rangga berdiri sekitar empat langkah dari toilet tempat Wita sekarang berada. “Perasaan seminggu lalu dia nggak sekurus itu…” Diam-diam Wita memperhatikan Rangga. Celana panjang abu-abu, baju kemeja putih lengan pendek yang sedikit agak kekuningan, rambut lurus berantakan, tak lupa Wita melihat sepatu yang dikenakan Rangga. Wita pun tersenyum simpul. “Kemejanya benar-benar buruk!” Senyum Wita memudar berganti wajah kejam dan tak bersahabat seperti biasa.

©©©

BERSAMBUNG ke Bagian 2

Terbit Setiap SABTU.

05B774A8523FF6D3A8F7A4EC091FE9FA

Iklan

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s