When A Witch Fall In Love (Bagian 2)


Floral_Filigree_by_Qi_lin.jpgss

Cerita Sebelumnya: Bagian 1

Hujan mengguyur tanpa belas kasihan. Membuat pagi indah menjadi abu-abu sehingga sangat pas buat menyambung tidur atau sekedar bermalas-malasan dalam rumah. Tapi hujan deras pagi ini tak membuat Wita malas ke sekolah. Seperti biasa, dua puluh menit sebelum bel masuk kelas berbunyi, Wita sudah duduk manis di dalam kelas. Meski semua orang memusuhi Wita, tetap saja sekolah membuat Wita senang. Sedang serius membaca buku pelajaran, ponsel Wita berdering nyaring. Lagi-lagi mengundang banyak mata ke arahnya.

“Tumben si Witch pakai nada dering! Biasanya paling marah kalau dengar nada dering orang.”  Siswa yang duduk paling belakang berkomentar.

“Iya tuh… nggak konsisten amat tuh orang!” Tambah seorang siswa.

“Dasar penyihir menyebalkan!” Rutuk seseorang. Lalu bla… bla… bla… dan bla… bla… bla…

Wita menutup mata, lalu menetralkan diri dari amarah. Saat membuka ponselnya, senyuman Wita mengembang sedikit, ternyata Rangga si biang kerok penyebab dering ponsel Wita. Biasanya Wita selalu men-silent ponselnya saat berada di kelas atau di tempat-tempat keramaian karena Wita paling benci deringan ponsel yang mengganggu konsentrasi. Tapi kali ini Wita lupa mengubah nada dering ponselnya, yah… namanya juga manusia. Walau di mata orang-orang Wita itu perfect, tetap saja Wita itu manusia yang punya kekurangan.

Kembali ke Rangga! Ternyata Rangga mengirim pesan berupa gambarnya memakai kemeja baru pemberian Wita.

“Dasar anak kecil! Selalu saja buat gue marah…” Meski berkata dia marah, tetap saja Wita tersenyum. Lalu dalam sekejap senyuman itu berubah menjadi wajah tak bersahabat, seperti biasa…

©©©

Beberapa hari yang lalu Wita memarahi Fiona karena tidak sengaja menumpahkan kopi ke laptop Wita, akibatnya semua data dalam laptop hilang dan kerja keras Wita selama beberapa minggu ini lenyap bagaikan buih.

Oh ya, Wita adalah ketua redaksi majalah sekolah TOP TeBe, majalah yang benar-benar TOP di kalangan para siswa SMP dan SMA. Makanya Wita banyak dikenal oleh siswa sekolah lain, Fiona yang merupakan anggota majalah TOP TeBe juga ikutan terkenal semenjak Wita menjadi ketua redaksi. Berhubung Wita sudah kelas 3 dan sebentar lagi akan mengikuti Ujian Akhir Nasional, sudah sepantasnya Wita menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada adik kelas. Dua minggu lagi acara serah terima jabatan dan sebelum acara tersebut majalah harus terbit untuk terakhir kalinya di masa jabatan Wita. Makanya Wita marah besar ke Fiona.

Mungkin bagi para penggemar Princess masalah kopi dan laptop bukan hal besar. Tapi bagi Wita itu adalah kesalahan teramat fatal karena bukan hanya kerja keras Wita yang berantakan, kerja keras semua anggota redaksi majalah TOP TeBe juga hilang. Mau tak mau Wita dan kawan-kawan harus mengulang pekerjaan dari nol dalam waktu kurang dari empat belas hari.

Berita Wita marah besar ke Fiona langsung menyebar luas tanpa batas. Parahnya lagi berita tersebut dibumbui di sana sini. Penyihir yang selalu menjahati putri cantik menjadi perhatian. Orang-orang tidak mau tau akar permasalahan antara Wita dan Fiona, yang mereka mau cuma hasil akhir di mana Wita si penyihir jahat akan selalu jahat dan Fiona sang putri cantik harus diselamatkan dari kejahatan penyihir.

Seperti hari ini, Fiona berdiri sambil menunduk di hadapan Wita. Wajah cantik Fiona dihiasi air mata, suara lembutnya berubah jadi parau, secara keseluruhan Fiona sangat menyedihkan.

“Wita… aku minta maaf… Aku nggak sengaja menumpahkan kopi ke laptop kamu. Jangan marah dong, Wita. Aku mohon… Laptop kamu akan aku ganti…” Kata Fiona memelas.

Wita memandang sekeliling, puluhan mata menatatapnya marah. Wita menelan ludah, pahit. “Ini bukan masalah laptop, tapi…”

Fiona memegang tangan Wita, otomatis perkataan Wita terputus apalagi suasana langsung agak ribut akibat banyak bibir yang ingin ikutan bicara. “Maafkan aku… Aku benar-benar menyesal. Tolong jangan marah lagi… Aku minta maaf…”

“Gimana gue bisa maafin lo? Gara-gara lo semua dat…”

Tiba-tiba Fiona pingsan, membuat suasana memanas.

Orang-orang langsung menyerbu Fiona, membuat Wita terdorong lalu terjatuh. Tak ada seorangpun yang mempedulikan Wita sebab semua mata terfokus pada Fiona.

“Apa tadi kata terakhir Fiona sebelum pingsan? Tolong jangan pecat aku? Lo dengar?”

“Iya, gue dengar. Dasar si Wita penyihir jahat!”

“Padahal si Fiona udah minta maaf, tetap aja tuh penyihir marah dan menyiksa Fiona kita sampai pingsan.”

“Gara-gara masalah sepele, ngamuknya sampai kayak gitu…”

“Dasar manusia nggak punya hati!”

“Yah… pantas saja dia dipanggil penyihir…”

Wita hanya menghela nafas mendengar perkataan dan makian orang-orang terhadapnya. Ingin rasanya Wita menjerit dan mengatakan bukan dia yang membuat Fiona pingsan, bahwa korban yang sebenarnya adalah dia bukan Fiona, bahwa saat ini dia juga lelah dan sakit. “Ah… pasti nggak akan ada yang mau mendengarkan walau gue bersimbah darah!” Wita mencoba berdiri, namun terjatuh. Wita mendengus mendapati pergelangan kaki kanannya terasa sakit. Wita mengumpulkan tenaga dan mencoba bangkit, tapi gagal. Merasa tidak punya tenaga lagi, Wita hendak menghubungi Rangga – satu-satunya orang yang akan membantunya. “Ah… benar-benar hari yang buruk!” Wita mencampak ponselnya yang kini menjadi ponsel penyet karena terinjak oleh para penggemar Fiona.

“Perlu bantuan?” Sebuah tangan terulur.

Wita menatap si empunya tangan, seorang pemuda lumayan tampan – menurut standarisasi Wita. Tanpa pikir panjang Wita langsung menyambut uluran tangan pemuda tersebut. Pemuda itu memapah Wita ke ruang UKS. Untungnya perawat sekolah belum pulang, jadi kaki Wita bisa langsung diobati.

“Gue Alfin.”

“Wita.” Kata Wita singkat, lalu meninggalkan Alfin.

Alfin menghadang Wita. ”Apa susahnya sih bilang terima kasih? Atau makasih supaya lebih singkat.”

“Makasih.” Wita langsung pergi.

Melihat keangkuhan Wita, Alfin geleng kepala. Tapi Alfin tak tega melihat Wita yang kesulitan berjalan. Alfin langsung mengejar dan memapah Wita tanpa permisi.

Bukan Wita namanya kalau tidak protes dan marah terhadap kelancangan Alfin. “Lepasin gue!”

“Nanti kalau lo udah sampai rumah. Di mana rumah lo?” Tanya Alfin ketika sebuah taxi berhenti di depan mereka.

“Aduh… kaki gue sakit banget!”

Alfin langsung membuka pintu taxi dan membantu Wita naik. Begitu seluruh badannya masuk ke dalam taxi, secepat kilat Wita menutup pintu. “Jalan, Pak…”

Alfin melongo menatap kepergian Wita. “Gadis aneh…”

Saat taxi menjauh, Wita melihat ke belakang, Alfin masih berada di tempat yang sama sambil menatap ke arah taxi yang dikendarai Wita.

“Kenapa jantung gue berdebar kencang seperti ini?” Tanya Wita sambil meletakkan tangan di dada kirinya.

©©©

Fiona sedang bercengkrama dengan teman-temannya saat Wita dan Rangga sampai di kantin.

“Eh, si Witch datang…” Seseorang menyikut teman di sebelah Fiona.

Melihat Wita, Fiona langsung menghampiri dan menyapa ramah. “Kaki kamu udah sembuh?”

Wita memasang wajah tak suka, apalagi melihat orang-orang yang mulai berbisik sambil mengarahkan pandangan padanya. “Perasaan tadi pagi lo udah tanya deh!” Jawab Wita ketus.

Raut wajah Fiona berubah, membuat orang-orang simpati dan langsung menuding Wita menjahati Fiona. “Maaf…” Kata Fiona lembut.

“Memangnya lo salah apa?” Tanya Wita.

“Maaf…” Fiona menunduk, lalu berlari meninggalkan Wita. Semenit kemudian beberapa orang mengekor di belakang Fiona.

Wita langsung tak selera makan karena kejadian itu. “Gue heran, kenapa si Fiona selalu meminta maaf? Padahal dia nggak melakukan kesalahan apa-apa. Kesannya kayak gue lagi marahin dia. Perasaan, gue biasa-biasa aja deh…”

“Makanya… elo kalo ngomong jangan blak-blakan gitu. Si Fiona khusus datangin lo buat tanya-in keadaan kaki lo, eh elo nya malah ngejawab ketus.” Kata Rangga.

Wita melotot. “Gue nggak minta pendapat lo!”

“Lhoh… bukannya elo lagi ngomong sama gue barusan?”

“Gue lagi ngomong sama tembok!” Wita meninggalkan Rangga. “Perkataan tuh anak kecil betul juga sih…” Kata Wita dalam hati. “Eh anak kecil… nanti pulang seko…” Wita melihat ke belakang, Rangga sudah tak ada. Wita mendengus, kesal dan kecewa.

“Hai cewek sombong!” Alfin tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Wita.

“Ya, hai…”

“Gimana kaki lo, udah baikan?”

“Udah. Permisi ya… gue mau balik ke kelas.” Wita meninggalkan Alfin.

“Kelas lo di mana?” Alfin mengikuti Wita.

“Bukan urusan lo!” Kata Wita galak.

Alfin menelan ludah saat Wita melotot dan bersikap tak bersahabat. “Oke… sip…” Alfin langsung berbalik arah menjauhi Wita.

Wita setengah berlari menuju kelas, entah kenapa jantungnya kembali berdebar kencang.

“Habis diapain lo sama si penyihir itu?” Tanya seorang siswa.

“Hah?” Alfin melongo, “penyihir mana?”

“Si Wita…”

Kening Alfin mengerut, “Wita? Penyihir? Kok bisa?”

“Lo beneran nggak tau atau pura-pura sih?”

“Serius… gue nggak ngerti maksud lo…”

Siswa teman Alfin geleng kepala. “Oh iya, gue lupa elo murid pindahan. Si Wita itu penyihir yang sering digosipin sama anak-anak…”

“Oh jadi sebutan Witch itu buat si Wita? Nggak cocok soalnya…”

Giliran kening teman Alfin yang mengerut. “Nggak cocok? Dia itu cewek paling nyebelin dan paling jahat yang pernah gue kenal. Witch, ibu tiri, nenek lampir… rasanya terlalu bagus buat dia.”

Alfin tertawa, “dia bukan gadis seperti itu… Gue yakin dia itu sebenarnya baik…”

Si teman menghela nafas. “Lo belum liat sifat Witch yang sebenarnya. Nanti pikiran lo juga bakalan berubah kalau udah kenal sama tuh penyihir…”

Alfin diam, tak mau memperpanjang pembicaraan. “Tatapan mata sehangat itu nggak mungkin milik seorang penyihir…” Kata Alfin dalam hati.

©©©

BERSAMBUNG…

Terbit Setiap SABTU.

05B774A8523FF6D3A8F7A4EC091FE9FA

Iklan

Hello... jangan lupa coment ya! Gumawo...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s