When A Witch Fall In Love (Bagian 2)


Floral_Filigree_by_Qi_lin.jpgss

Cerita Sebelumnya: Bagian 1

Hujan mengguyur tanpa belas kasihan. Membuat pagi indah menjadi abu-abu sehingga sangat pas buat menyambung tidur atau sekedar bermalas-malasan dalam rumah. Tapi hujan deras pagi ini tak membuat Wita malas ke sekolah. Seperti biasa, dua puluh menit sebelum bel masuk kelas berbunyi, Wita sudah duduk manis di dalam kelas. Meski semua orang memusuhi Wita, tetap saja sekolah membuat Wita senang. Sedang serius membaca buku pelajaran, ponsel Wita berdering nyaring. Lagi-lagi mengundang banyak mata ke arahnya. Baca lebih lanjut

When A Witch Fall in Love (Bagian 1)


When-A-Witch-Fall-in-Love-2

SINOPSIS:

Dongeng Putri cantik yang selalu dijahati oleh Penyihir sering diceritakan dan didengar banyak orang. Putri cantik yang menderita selalu membuat prihatin, sedangkan Penyihir yang kejam dan jahat selalu dirutuk oleh orang-orang. Tapi tahukah kamu? Tidak semua penyihir itu jahat dan putri cantik itu baik. Banyak orang memasang wajah penuh senyuman dengan perilaku bak malaikat, namun di hatinya ada kedengkian tiada tara. Banyak juga yang tampak kejam dan anti sosial, namun siapa sangka ternyata hatinya begitu rapuh dan menyimpan banyak luka. Begitulah cerita ini dimulai, Witch Wita yang kejam selalu bersalah karena membuat Princess Fiona menderita. Tak ada yang menyangka bahwa wajah manis Fiona dan sikap kasar Wita menyimpan begitu banyak rahasia.

Penasaran? Ikuti terus ceritanya.

***

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 5)


Cerita Sebelumnya:

Amelia yang tidak senang akan hubungan Zizi dan Qahar pun memfitnah Zizi sehingga Zizi dikelurkan dari sekolah. Hubungan Zizi dan Qahar pun memburuk. Kini Zizi tinggal bersama Oma-nya di Bandung. Hingga suatu hari setelah ujian akhir sekolah, Amelia mengakui semua perbuatannya. Qahar sangat menyesal karena tidak mempercayai Zizi. Akhirnya Qahar pun berinisiatif untuk menemui  Zizi dan meminta maaf secara langsung.

Zizi sangat senang akan kedatangan Qahar. Berbalut busana muslimah pemberian Qahar, Zizi menjemput Qahar di bandara. Namun…

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 4)


Cerita Sebelumnya:

Karena kesal dengan ketidak-tegasan Qahar, Zizi pun mengirim sebuh puisi untuk pemuda itu. Ternyata Qahar salah sangka dan mengira puisi itu ungkapan perasaan Zizi padanya. Memang tu adalah ungkapan persaan Zizi, namun bukan perasaan meminta Qahar menjadi kekasihnya seperti yang disangka Qahar. Setelah Qahar mengirim surat balasan ke Zizi, suasana semakin memanas dan masing-masing pihak terus bertempur mempertahankan ego-nya. Sampailah saat Zizi mendapat kabar bahwa Qahar mengalami kecelakaan, Zizi pun panik dan tampaklah bagaimana persaan Zizi yang sebenarnya. Begitu juga dengan Qahar yang dapat melihat jelas bagaimana Zizi yang sebenarnya. Setelah berbagai macam proses, akhirnya Zizi dan Qahar berpacaran. Semua orang bahagia, kecuali Amel. Kebencian dan kecemburuan Amel membuat gadis itu menjelma menjadi monster. Amel pun memfitnah Zizi yang mengakibatkan Zizi dikeluarkan dari sekolah. Parahnya lagi hubungan Zizi dan Qahar pun retak.

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 3)


Cerita Sebelumnya:

Zizi tak mengerti mengapa dia bisa digosipkan memiliki hubungan dengan Qahar. Teman-temannya bukan membantu, malah tambah memperkeruh suasana. Teman-teman Zizi dan Qahar bekerja sama untuk mempersatukan Zizi dan Qahar. Hal itu membuat Zizi tida nyaman sehingga mengirimkan sebuah puisi untuk Qahar. Isi puisi itu simpel, hanya meminta Qahar agar lebih tegas menghalau gosip-gosip yang menerpa mereka. Kalau hanya Zizi yang berusaha tidak akan ada artinya, jadi sebaiknya kedua belah pihak bersama-sama membungkam mulut teman-teman yang menggosipi dan mengejek mereka. Di lain pihak, Qahar merasa aneh dengan puisi Zizi. Qahar galau, dan semakin gelisah saat sahabatnya Amad ikut pindah ke Padang bersama orang tuanya.

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 1)


Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai awan, sebentar lagi mentari akan duduk di singgasana mewahnya, menyinari alam semesta. Manusia pun memulai aktivitas mereka. Termasuk di sebuah rumah mewah di kawasan elite di sebelah utara kota Jakarta.

“Zizi… Cepat bangun sayang… ini khan hari pertama di sekolah barumu…” Mama mengetuk daun pintu kamar Zizi yang serba pink.

Tak ada sahutan. “Zizi sayang…” Ucap Mama sabar kepada putri semata wayangnya. Tangan mama hendak meraih handel pintu ketika…

“Met pagi Mama sayang …” Ucap seorang gadis manis yang sudah rapi jali dengan seragam putih abu-abunya. Sebuah tas yang berwarna pink tergantung dibahu kanannya. Zizi memeluk tubuh subur mama yang masih tetap cantik diusianya yang ke-40.

“Ah, sayang … Mengagetkan Mama saja. Mama pikir kamu belum bangun, eh nggak taunya udah rapi gini. Berapa jam nich dandannya?” Mama menatap anak gadisnya yang semakin dewasa, wajah itu tanpa olesan make up sedikitpun. Mama mengerti, Zizi paling malas berhias, meskipun hendak ke pesta.

“Makan yuk ma, laper nich,” Zizi merangkul Mama.

“Wah, wah, wah… Anak gadis Papa, udah rapi rupanya. Tumben cepat, biasanya…“ Goda Papa yang sudah rapi dengan jas donkernya.

Baca lebih lanjut

Bara di Hari Qhisya (Part 2)


Hari-hari Qhisya di sekolah barunya sangat menyenangkan. Apalagi teman-teman di kelas barunya itu sangat baik dan ramah padanya. Baru sehari di sekolah itu, Qhisya telah mendapatkan seorang teman yang asyik, namanya Icha. Langsung saja Qhisya merasa betah tinggal di Jakarta walaupun harus berpisah ribuan kilometer dari neneknya.

“Hai Qhisya! Lagi apa?” Sapa seseorang di seberang telepon.

Pasti Icha. “Lagi golek-golek di kamar. Btw kok kamu tau nomor telepon rumahku?”

Icha tertawa. “Icha gitu lhoh… apa sich yang gak bisa aku lakukan? Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, gak ada. Kenapa Cha?”

“Aku mau ngajak kamu ke pameran lukisan di gedung depan sekolah. Bisa?”

“Pameran lukisan? Wah… aku suka banget! Jam berapa?”

“Jam 5. Ketemuan di sana ya Sya…”

“Oke,” Qhisya menutup gagang telepon dan tersenyum. Mengingat pameran lukisan, Qhisya jadi teringat hobby melukisnya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Qhisya jadi ingin melukis lagi seperti dulu saat kedua orang tuanya masih hidup. Tak terasa air mata Qhisya menetes. “Kangen Ayah-Bunda…” Isaknya pelan.

∞∞∞

Baca lebih lanjut