Kemelut Cinta (Part 5)


Cerita Sebelumnya:

Amelia yang tidak senang akan hubungan Zizi dan Qahar pun memfitnah Zizi sehingga Zizi dikelurkan dari sekolah. Hubungan Zizi dan Qahar pun memburuk. Kini Zizi tinggal bersama Oma-nya di Bandung. Hingga suatu hari setelah ujian akhir sekolah, Amelia mengakui semua perbuatannya. Qahar sangat menyesal karena tidak mempercayai Zizi. Akhirnya Qahar pun berinisiatif untuk menemui  Zizi dan meminta maaf secara langsung.

Zizi sangat senang akan kedatangan Qahar. Berbalut busana muslimah pemberian Qahar, Zizi menjemput Qahar di bandara. Namun…

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Iklan

Kemelut Cinta (Part 4)


Cerita Sebelumnya:

Karena kesal dengan ketidak-tegasan Qahar, Zizi pun mengirim sebuh puisi untuk pemuda itu. Ternyata Qahar salah sangka dan mengira puisi itu ungkapan perasaan Zizi padanya. Memang tu adalah ungkapan persaan Zizi, namun bukan perasaan meminta Qahar menjadi kekasihnya seperti yang disangka Qahar. Setelah Qahar mengirim surat balasan ke Zizi, suasana semakin memanas dan masing-masing pihak terus bertempur mempertahankan ego-nya. Sampailah saat Zizi mendapat kabar bahwa Qahar mengalami kecelakaan, Zizi pun panik dan tampaklah bagaimana persaan Zizi yang sebenarnya. Begitu juga dengan Qahar yang dapat melihat jelas bagaimana Zizi yang sebenarnya. Setelah berbagai macam proses, akhirnya Zizi dan Qahar berpacaran. Semua orang bahagia, kecuali Amel. Kebencian dan kecemburuan Amel membuat gadis itu menjelma menjadi monster. Amel pun memfitnah Zizi yang mengakibatkan Zizi dikeluarkan dari sekolah. Parahnya lagi hubungan Zizi dan Qahar pun retak.

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 3)


Cerita Sebelumnya:

Zizi tak mengerti mengapa dia bisa digosipkan memiliki hubungan dengan Qahar. Teman-temannya bukan membantu, malah tambah memperkeruh suasana. Teman-teman Zizi dan Qahar bekerja sama untuk mempersatukan Zizi dan Qahar. Hal itu membuat Zizi tida nyaman sehingga mengirimkan sebuah puisi untuk Qahar. Isi puisi itu simpel, hanya meminta Qahar agar lebih tegas menghalau gosip-gosip yang menerpa mereka. Kalau hanya Zizi yang berusaha tidak akan ada artinya, jadi sebaiknya kedua belah pihak bersama-sama membungkam mulut teman-teman yang menggosipi dan mengejek mereka. Di lain pihak, Qahar merasa aneh dengan puisi Zizi. Qahar galau, dan semakin gelisah saat sahabatnya Amad ikut pindah ke Padang bersama orang tuanya.

♥♥♥♥

Baca lebih lanjut

Kemelut Cinta (Part 1)


Mentari pagi mengintip malu-malu dari balik tirai awan, sebentar lagi mentari akan duduk di singgasana mewahnya, menyinari alam semesta. Manusia pun memulai aktivitas mereka. Termasuk di sebuah rumah mewah di kawasan elite di sebelah utara kota Jakarta.

“Zizi… Cepat bangun sayang… ini khan hari pertama di sekolah barumu…” Mama mengetuk daun pintu kamar Zizi yang serba pink.

Tak ada sahutan. “Zizi sayang…” Ucap Mama sabar kepada putri semata wayangnya. Tangan mama hendak meraih handel pintu ketika…

“Met pagi Mama sayang …” Ucap seorang gadis manis yang sudah rapi jali dengan seragam putih abu-abunya. Sebuah tas yang berwarna pink tergantung dibahu kanannya. Zizi memeluk tubuh subur mama yang masih tetap cantik diusianya yang ke-40.

“Ah, sayang … Mengagetkan Mama saja. Mama pikir kamu belum bangun, eh nggak taunya udah rapi gini. Berapa jam nich dandannya?” Mama menatap anak gadisnya yang semakin dewasa, wajah itu tanpa olesan make up sedikitpun. Mama mengerti, Zizi paling malas berhias, meskipun hendak ke pesta.

“Makan yuk ma, laper nich,” Zizi merangkul Mama.

“Wah, wah, wah… Anak gadis Papa, udah rapi rupanya. Tumben cepat, biasanya…“ Goda Papa yang sudah rapi dengan jas donkernya.

Baca lebih lanjut

Bara di Hari Qhisya (Part 2)


Hari-hari Qhisya di sekolah barunya sangat menyenangkan. Apalagi teman-teman di kelas barunya itu sangat baik dan ramah padanya. Baru sehari di sekolah itu, Qhisya telah mendapatkan seorang teman yang asyik, namanya Icha. Langsung saja Qhisya merasa betah tinggal di Jakarta walaupun harus berpisah ribuan kilometer dari neneknya.

“Hai Qhisya! Lagi apa?” Sapa seseorang di seberang telepon.

Pasti Icha. “Lagi golek-golek di kamar. Btw kok kamu tau nomor telepon rumahku?”

Icha tertawa. “Icha gitu lhoh… apa sich yang gak bisa aku lakukan? Kamu ada acara sore ini?”

“Hm, gak ada. Kenapa Cha?”

“Aku mau ngajak kamu ke pameran lukisan di gedung depan sekolah. Bisa?”

“Pameran lukisan? Wah… aku suka banget! Jam berapa?”

“Jam 5. Ketemuan di sana ya Sya…”

“Oke,” Qhisya menutup gagang telepon dan tersenyum. Mengingat pameran lukisan, Qhisya jadi teringat hobby melukisnya yang sudah bertahun-tahun ditinggalkan. Qhisya jadi ingin melukis lagi seperti dulu saat kedua orang tuanya masih hidup. Tak terasa air mata Qhisya menetes. “Kangen Ayah-Bunda…” Isaknya pelan.

∞∞∞

Baca lebih lanjut

Bara di Hari Qhisya (Part 1)


Prolog :

Qhisya menatap nanar sepasang gundukan bertanah merah basah di hadapannya. Tak dapat dibayangkan oleh gadis berumur 9 tahun itu, ayah dan bundanya berbaring kaku di dalam tanah. Baru kemarin Qhisya merasakan hangatnya kasih sayang kedua orang tua, kini semua terasa hampa, ayah bundanya telah tiada. Tanpa sepatah kata pun mereka meninggalkan Qhisya, untuk selamanya…

Qhisya mengusap air mata yang tiada henti mencurahkan sebuah tangisan menyanyat kalbu. Tak kuasa menahan tangis sedihnya, Qhisya pun tergelak pingsan di pusara Bundanya.

“Sayang… bangun nak…”

Sayup-sayup Qhisya mendengar sebuah suara bernada khuatir, tepat di sampingnya. “Bunda… Qhisya mimpi buruk…”

“Sayang, ikhlaskan semuanya. Bunda sudah meninggalkan kita semua, begitu juga ayah. Mereka sudah tenang di sana…”

Baca lebih lanjut

End-Dhita (Part 2)


Cerita Sebelumnya:

Dhita masuk ke kelas barunya dengan kesan yang tidak baik, apalagi ada Kelana yang selalu mengganggunya. Untung ada seorang pemuda bernama Leo yang selalu melindungi Dhita dari keusilan Kelana dan teman-teman.

Diam-diam Dhita mulai menyukai Leo karna pemuda itu memberikan perhatian dan kasih sayang yang selama ini jarang Dhita dapatkan dari orang lain kecuali ibunya.

Keusilan Kelana semakin parah, dia datang ke rumah Dhita dan tampak akrab dengan Mama. Kelana juga mulai mencampuri urusan pribadi Dhita dan Leo. Itu karena Kelana tidak suka perubahan Dhita semenjak dekat dengan Leo. Dhita bukan seperti dirinya lagi, dia berubah menjadi orang lain yang palsu dan malah mempermalukan dirinya sendiri.

Akhirnya impian Dhita terwujud, Leo mengutarakan perasaannya. Kini Dhita resmi menjadi kekasih orang nomor satu di sekolah, yaitu Leo…

***

Baca lebih lanjut